You are on page 1of 3

Mengenal Lebih Dini Epilepsi pada Anak

Oleh : Ghuiranda Syabannur Ramadhan 122011101043

Setiap tahunnya, pada tanggal 26 Maret seluruh masyarakat dunia memperingati


World Purple Day. Ya, Purple Day merupakan suatu gerakan dimana masyarakat dunia
ramai-ramai menggalang kampanye kesehatan yang dimaksudkan untuk membangkitkan
kepedulian terhadap penyandang epilepsi di seluruh dunia dengan mengenakan warna ungu
dalam pelaksanaan kegiatannya. Purple Day pertama kali dicetuskan oleh Cassidy Megan,
seorang anak berusia 9 tahun asal Nova Scotia,Kanada pada tahun 2008. Cassidy Megan
mencetuskan gagasannya melalui Asosiasi Epilepsi Nova Scotia (EANS). Kenapa disebut
Purple Day? Ini berawal dari pemilihan warna ungu pada bunga lavender sebagai warna
internasional untuk epilepsi. Bunga lavender ini diasosiasikan sebagai lambang kesendirian
dan kesepian dimana perasaan inilah yang sering menghinggapi para penyandang epilepsi.
Maka dari itu, salah satu tujuan Cassidy mencetuskan Purple Day adalah untuk
mengkampanyekan kepada seluruh penyandang epilepsi di seluruh dunia bahwa mereka
tidaklah sendiri.
Kesadaran untuk meningkatkan kepedulian terhadap epilepsi pada anak menjadi
sangat penting karena epilepsi sangat berpotensi menyebabkan gangguan tumbuh kembang
anak. Untuk itu berbagai kampanye seperti promosi kesehatan, deteksi dini, dan penanganan
awal terus digalakkan untuk mencegah terjadinya epilepsi pada stadium lebih berat.
Epilepsi merupakan salah satu penyakit yang berpotensi mengganggu tumbuh
kembang anak. World Health Organization menyebutkan insidensi epilepsi pada anak di
Negara Berkembang terdapat 100 kasus per 100.000 anak per tahunnya, termasuk Indonesia
didalamnya. Di Indonesia, insidensi epilepsi sekitar 1-4 juta. Menurut Departemen Ilmu
Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Cipto Mangunkusumo dalam
kurun waktu 2009 sampai 2010 terdapat 218 pasien baru dengan epilepsi umum dan 71
dengan epilepsi fokal dari 1700 pasien baru per tahunnya. Epilepsi merupakan diagnosis
terbanyak pada pasien yang mengunjungi poliklinik RSUPN Cipto Mangunkusumo. Pada
RSU dr. Soetomo didapatkan insidensi 86 kasus pada anak dalam rentan waktu satu bulan.
Epilepsi adalah suatu kejang/’ayan’ yang diakibatkan karena aktifitas listrik yang
tidak normal di dalam otak dimana penyebabnya tidak jelas (bukan karena demam). Epilepsi
secara garis besar dibagi menjadi 2, yaitu epilepsi umum dan epilepsi fokal (sebagian). Gejala
biasanya kejang/’ayan’ terjadi secara tiba-tiba berlangsung beberapa detik sampai menit dan
biasanya anak tidak sadar akan kejadian kejang tersebut. Kemudian setelah kejang anak
beraktifitas seperti biasanya kembali.
Dalam perjalanannya memang sebagian besar epilepsi tidak diketahui faktor
penyebabnya, tetapi terdapat beberapa faktor resiko yang dapat memicu terjadinya epilepsi.
Dimulai dari faktor ibu saat mengandung, melahirkan sampai setelah melahirkan sang anak.
Jadi dapat kita lihat kualitas kehamilan ibu dari usia ibu saat hamil, adanya hipertensi saat
hamil (eklampsia), dan pemakaian obat-obatan yang tidak perlu. Kemudian saat melahirkan
seperti gangguan pernafasan pada bayi, berat bayi lahir rendah (BBLR) <2500 gr, kurang
bulan/lebih bulan (preterm/postterm), dan persalinan dengan alat. Setelah melahirkan apakah
didapatkan sang anak memiliki kejang karena demam, ada benturan pada kepalanya, dan
infeksi pada otak. Selain itu faktor keturunan juga dapat menjadi pemicu epilepsi. Apakah
terjadinya epilepsi ini dapat dicegah? Ya, kita dapat melakukan pencegahan dini dengan
menghindari seminimal mungkin dari faktor-faktor resiko epilepsi diatas.
Apakah ini termasuk suatu epilepsi atau bukan? Kita harus mengetahui dulu apakah
terdapat kejang berulang yang tidak disebabkan oleh apapun (Unprovoked) contohnya
demam sebagai faktor pencetus pada kejang demam. Pemeriksaan standart pada kasus
kejang/’ayan’ adalah dengan Elektroensefalografi (EEG) atau rekam otak untuk mengetahui
fokus bangkitan kejang terletak di daerah mana serta sebagai pemantau keberhasilan dari
pengobatan epilepsi yang sudah di berikan. Jika terdapat defisit neurologis menetap (seperti
penurunan kesadaran) dapat kita lakukan pemeriksaan pencitraan seperti CT-Scan atau
Magnetic Resonance Imaging (MRI).
Berbicara tentang Elektroensefalografi perlu kita ulas sedikit sejarah penemuan dari
EEG. Ya, jadi EEG ini pertama kali ditemukan oleh seorang profesor psikiater dan fisiolog
berkebangsaan Jerman, yaitu Hans Berger pada tahun 1920. Berger mengembangkan
penelitian tentang aktivitas listrik di otak yang dilakukan oleh Richard Caton. Hans Berger
mengatakan bahwa sangatlah mungkin untuk merekam arus listrik lemah yang dihasilkan
oleh otak tanpa membuka tengkorak yang hasilnya dapat dilihat di sebuah kertas. Kemudian
Hans menamakan format perekam penemuannya dengan elektroensefalografi (EEG) seperti
yang kita kenal saat ini.
Bila anda sebagai orang tua menemukan anak kejang, apa yang harus dilakukan?
Jangan panik! Pindahkan anak pada tempat yang aman untuk menghindari trauma pada
epilepsi, longgarkan pakaian anak dan miringkan kepala anak untuk menghindari lidah yang
menutupi jalan napas anak. Karena hal tersebut dapat menjadi penyebab kematian anak pada
epilepsi. Setelah itu segeralah bawa anak ke fasilitas kesehatan primer terderkat untuk
dilakukan penanganan lebih lanjut oleh dokter.
Epilepsi bukanlah suatu penyakit yang menyebabkan kematian, tetapi dalam
pengobatannya diperlukan kerjasama antara dokter, keluarga pasien, pasien itu sendiri, dan
pihak sekolah pasien. Karena obat-obatan epilepsi harus dikonsumsi rutin sampai anak sudah
tidak kejang selama 2 tahun. Jadi amat sangat diperlukan kesdaran dari pasien dan keluarga
pasien dalam pengobatannya.
Epilepsi yang dibiarkan terjadi terus meneru dan tidak ditangai dengan baik dapat
menyebabkan berbagai komplikasi dan beberapa diantaranya dapat menyebabkan kematian.
Sejumlah komplikasi yang berpotensi muncul meliputi :
 Gangguan tumbuh kembang pada anak
 Status epileptikus (kejang terus-menerus)
 Trauma karena keadaan yang berbahaya saat kejang
Apakah epilepsi dapat menular?? Epilepsi ini tidaklah menular, jadi tidak perlu takut ketika
anda kontak dengan penyandang epilepsi karena penyebabnya murni karena aktivitas listrik
yang abnormal di otak.
Jika mempunyai tanda-tanda yang mengarah ke epilepsi seperti diatas keluarga harus
segera memeriksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat sehingga tidak
terjadi komplikasi-komplikasi yang lebih parah sampai terjadi kematian.