You are on page 1of 12

MANAJEMEN SUMBER DAYA ALAM

PENGUKURAN ANASIR IKLIM DALAM MANAJEMEN


SUMBER DAYA ALAM DI BIDANG PERTANIAN

PAPER

Disusun Oleh:
Anjas Rizaldi Putra
20160210074

PRODI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Iklim adalah suatu keseluruhan dari keadaan atmosfir dalam jangka waktu panjang dan
tempat yang berlainan. Seringkali iklim dikemukakan sebagai keadaan rata-rata dari cuaca, bahkan
lebih luas lagi iklim meliputi keadaan-keadaan ekstrim dari tiap - tiap unsur cuaca seperti suhu
maksimum dan minimum, kelembaban maksimum dan minimum dan sebagainya. Di dalam
pertanian hal ini sangat penting karena keadaan-keadaan ekstrim itu efeknya lebih nyata, sebagai
contoh yaitu kerusakan embun upas (frost) yang juga dikemukakan sebagai kerusakan akibat -
akibat suhu minimum yang sangat rendah. Jenis-jenis dan sifat-sifat iklim bisa menentukkan jenis
tanaman yg tumbuh pada suatu daerah serta produksinya. Unsur iklim yang mempengaruhi
produksi pertanian adalah radiasi matahari, angin, dan curah hujan (Ir. Urip Mohammad, 2012).

Tujuan

Tujuan dibuatnya paper ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh peranan iklim
dalam manajemen sumber daya alam di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
Unsur iklim yang mempengaruhi produksi pertanian

Faktor iklim mempunyai peranan yang sangat penting dalam perencanaan dan system
produksi pertanian karena seluruh unsur iklim berpengaruh terhadap berbagai proses pertumbuhan
dan produktivitas tanaman yaitu keadaan ketersediaan air sangat ditentukan oleh curah hujan,
intensitas cahaya matahri,dan pergerakan udara. Oleh karena itu pendekatan yang paling baik
dalam rangka pembangunan pertanian adalah menyesuaikan system usaha tani dengan keadaan
iklim setempat.

Suhu udara dan tanah mempengaruhi proses poertumbuhan tanaman. Setiap jenis tanaman
mempunyai batas suhu minimum dan minimum untuk setiap tingkat pertumbuhannya. Suhu tinggi
tidak megkhawatirkan dibandingkan suhu rendah dalam menahan pertumbuhan tanaman asalkan
persediaan air memadai dan tanaman dapat beradaptasi terhadap daerah iklim. Tanaman dapat
mengubah fluktuasi suhu dari iklim mikro. Bunga dan daun dapat menangkap insolasi pada lapisan
atas sehingga suhu maksimumnya terletak sekitar puncak tanaman. Unsur iklim yang
memepengaruhi produksi pertanian :

1. Radiasi matahari
Merupakan faktor penting dalam metabolisme tanaman karena itu produksi tanaman
dipengaruhi oleh tersedianya sinar matahari. Dalam hubungan pemanfaatan radiasi
matahari secara efisien, selain intensitas radiasi matahari yang diterima daun, juga jenis
tanaman turut menentukan pengaruhnya terhadap produksi pangan.
2. Angin
Secara tidak langsung mempunyai efek sangat penting pada produksi tanaman pangan
melalui pengangkutan air dan suhu udara. Angin dapat membantu dalam menyediakan
karbon dioksida untuk pertumbuhan tanaman. Angin juga merupakan salah satu faktor
penting dalam kerusakan tanaman dan erosi. Angin memegang peranan penting dalam
penyebaran spora dan menjadi penyebab dari berbagai penyakit tanaman. Dengan demikan
angin yang terlau kencang dan kering akan mempengaruhi produksi tanaman pangan.
3. Curah hujan

membantu dalam menentukan pembagian jenis tanaman : hutan, semak, padang rumput
atau gurun. Setiap tanaman membutuhkan air yang berbeda-beda.

1. Radiasi Matahari
Bila berbicara mengenai Radiasi Matahari, terdapat satu bagian didalamnya yang disebut
Cahaya Tampak. Berbicara mengrnai pengukuran, pengukuran radiasi matahari dengan cahaya
tampak (penerangan) satu dengan lain saling membatasi diri (terpisah) meskipun bersumbar sama.
Ini disebabkan daerah panjang gelobang yang diamati berbeda.

Oleh karena radiasi matahari dan cahaya tampak bersumber sama. Sangat beralasan bahwa
bila radiasi matahari diketahui maka penerangan alami siang hari dapat pula diketahui. Disadari
atau tidak, pemanfatanRadiasi Matahari sangat luas dalam kebidupan sehari-hari. Bila ditinjau dari
pengelompokan energi, energi radiasi matahari termasuk kepada energi terbarukan (renewable
energy).

Radiasi Matahari adalah pancaran energi yang berasal dari proses thermonuklir yang terjadi
di matahari. Energi radiasi matahari berbentuk sinar dan gelombang elektromagnetik. Spektrum
radiasi matahari sendiri terdiri dari dua yaitu, sinar bergelombang pendek dan sinar bergelombang
panjang. Sinar yang termasuk gelombang pendek adalah sinar x, sinar gamma, sinar ultra violet,
sedangkan sinar gelombang panjang adalah sinar infra merah.

Jumlah total radiasi yang diterima di permukaan bumi tergantung 4 (empat) faktor. Jarak
matahari, Intensitas radiasi matahari, yaitu besar kecilnya sudut datang sinar matahari pada
permukaan bumi. Jumlah yang diterima berbanding lurus dengan sudut besarnya sudut datang.
Sinar dengan sudut datang yang miring kurang memberikan energi pada permukaan bumi
disebabkan karena energinya tersebar pada permukaan yang luas dan juga karena sinar tersebut
harus menempuh lapisan atmosphir yang lebih jauh ketimbang jika sinar dengan sudut datang yang
tegak lurus, Panjang hari (sun duration), yaitu jarak dan lamanya antara matahari terbit dan
matahari terbenam, Pengaruh atmosfer. Sinar yang melalui atmosfer sebagian akan diadsorbsi oleh
gas-gas, debu dan uap air, dipantulkan kembali, dipancarkan dan sisanya diteruskan ke permukaan
bumi.
Radiasi matahari merupakan salah satu komponen iklim yang cukup berpengaruh dalam
menentukan pertumbuhan tanaman ataupun keseluruhan aktivitas mahluk hidup yang ada diatas
permukaan bumi. Radiasi matahari membantu tanaman untuk melakukan fotosintesis. Adapun
radiasi yang digunakan untuk proses fotosintesis dikenal dengan sebutan PAR (Photosynthetic
Acid Radiation).

Cahaya matahari membantu tanaman untuk melakukan fotosintesis. Yang mana


fotosintesis adalah suatu proses pembentukan energi oleh tanaman tersebut. Besar kecilnya radiasi
matahari sangat berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Hal ini dikarenakan proses fotosintesis
merupakn proses pembentukan makanan yang dapat digunakan untuk menunjang pertumbuhan
dan juga perkembangan tanaman

Gambar 1. Alat Pengukur Intensitas Cahaya


2. Kecepatan Angin

Angin dapat disefinisikan sebagai massa udara yang bergerak. Angin dapat bergerak
secara vertikal maupun horizontal dengan kecepatan yang bervariasi dan berfruktuasi secara
dinamis. Faktor pendorong bergeraknya massa udara adalah perbedaan tekanan udara antara
satu tempat dengan tempat lain. Angin selalu bertiup dari tempat dengan tekanan udara tinggi
ke tempat dengan tekanan udara yang lebih rendah. Jika tidak ada gaya lain yang
mempengaruhi, maka angin akan bergerak secara langsung dari udara bertekanan tinggi ke
udara bertekanan rendah. Akan etapi perputaran bumi pada sumbunya akan menimbulkan gaya
yang akan mempengaruhi arah pergerakan angin. Pengaruh perputaran bumi terhadap arah
angin disebut pengaruh Coriolis (coriolis effect). Pengaruh coriolis menyebabkan angin
bergerak searah jarum jam mengitari daerah bertekanan rendah di belahan bumi selatan dan
sebaliknya bergerak dengan arah yang berlawanan dengan arah jarum jam mengitari daerah
bertekan rendah di belahan bumi utara.

Kecepatan angin

Atmosfer ikut berotasi dengan bumi. Molekul-molekul udara mempunyai kecepatan


gerak ke arah timur, sesuai dengan arah rotasi bumi. Kecepatan gerak tersebut disebut kecepatan
linier. Bentuk bumi yng bulat ini menyebabkan kecepatan linier makin kecil jika makin dekat
kearah kutub. Alat yang digunakan untuk mengukur kecepatanangin disebut anemometer.
Kecepatan angin dapat berubah-ubah setiap saat yang salah satu faktornya disebabkan oleh
adanya perbedaan tekanan udara pada suatu wilayah. Gelombang dan arus dilautan terjadi
akibat adanya angin yang berhembus diatas permukaan laut. Angin dengan kekuatan yang
sangat besar sangat ditakuti karena dapat menyebabkan kerusakan yang besar dan dapat
berakhir dengan bencana. Badai-badai yang terjadi di bumi melibatkan angin sebagai
sumbernya. Angin yang sangat terkenal dan sangat ditakuti adalah Tornado. Sebagaimana
sering terjadi Negara bagian Texas,Amerika Serikat. Kecepatannya bisa mencapai 512 km/jam
(318 mph).
Gambar 2. Alat Pengukur Kecepatan Angin
3. Curah Hujan

Curah hujan merupakan jumlah air yang jatuh di permukaan tanah datar selama
periode tertentu yang diukur dengan satuan tinggi (mm) di atas permukaan horizontal bila tidak
terjadi evaporasi, runoff dan infiltrasi. ). Jadi, jumlah curah hujan yang diukur, sebenarnya
adalah tebalnya atau tingginya permukaan air hujan yang menutupi suatu daerah luasan di
permukaan bumi/tanah. Satuan curah hujan yang umumnya dipakai oleh BMKG adalah
milimeter (mm). Curah hujan 1 (satu) milimeter, artinya dalam luasan satu meter persegi pada
tempat yang datar tertampung air setinggi 1 (satu) milimeter atau tertampung air sebanyak 1
(satu) liter atau 1000 ml.

Curah hujan di suatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim, keadaan
orografi dan perputaran pertemuan arus udara. Faktor iklim sangat menentukan pertumbuhan
dan produksi tanaman. Apabila tanaman ditanam di luar daerah iklimnya, maka
produktivitasnya sering kali tidak sesuai dengan yang diharapkan.Menurut Sutarno at all (1997)
Studi tentang perilaku kejadian tiap organisme atau tumbuhan dalam hubungannya dengan
perubahan-perubahan iklim disebut dengan fenologi. Untuk faktor iklim yang dipergunakan
dalam penelitian fenologi pada umumnya adalah curah hujan hal ini adalah karena curah hujan
secara langsung atau tidak langsung penting untuk pengaturan waktu dan ruang dalam
pembentukan bunga dan buah pada tumbuhan tropis.

Gambar 4. Alat Pengukur Curah Hujan


Ombrometer
Selain unsur iklim di atas, menurut Guslim (2007) Produksi tanaman juga dipengaruhi
oleh Radiasi Matahari dan Suhu. Pertumbuhan tanaman dapat dipengaruhi dalam berbagai cara
oleh lingkungan. Kondisi lingkungan yang sesuai selama pertumbuhan akan merangsang
tanaman untuk berbunga dan menghasilkan benih. Kebanyakan speises tidak akan memasuki
masa reproduktif jika pertumbuhan vegetatifnya belum selesai dan belum mencapai tahapan
yang matang untuk berbunga, sehubungan dengan ini terdapat dua rangsangan. Yang
menyebabkan perubahan itu terjadi, yaitu suhu dan panjang hari (Mugnisjah dan Setiawan,
1995).

Diwilayah dengan empat musim, pengaruh suhu berlaku ganda. Pada waktu awal
pertumbuhan suhu harus cukup tinggi agar pertumbuhan tidak terhambat. Tetapi bagi
kebanyakan tanaman terutama tanaman tahunan, suhu sebelum perubahan fase pertumbuhan
itu terjadi sangat penting. Cekaman (stress) air yang diikuti oleh hujan sering merangsang
pembungaan tanaman tahunan tropika. Faktor lain yang memicu pembungaan adalah panjang
hari, atau panjang periode selama setiap 24 jam. Tanaman berhari pnjang tidak akan berbunga
jika ditanam di wilayah tropika (Mugnisjah dan Setiawan,1995).

Jika bunga telah berkembang tahap berikutnya adalah menjamin sedapat mungkin agar
penyerbukan berlangsung dengan baik. Cuaca pada saat penyerbukan adalah penting.
Umumnya serbuk sari tidak dapat tahan hidup jika hujan lebat, dan suhu yang terlalu dapat
menyebabkan penyerbukan yang jelek. Serangga terutama lebah, tidak akan bekerja dengan
baik dalam kondisi cuaca yang sangat basah.

Seperti contohnya Jagung dapat tumbuh dengan baik di daerah yang kering, namun
cukup air. Sehingga tanaman Jagung kurang baik jika ditanam di daerah yang terlalu lembab.
Berbeda dengan tanaman padi yang membutuhkan jumlah air yang lebih banyak sehingga harus
ditanam di daerah yang airnya banyak. Oleh karena itu perlu adanya pengukuran anasir iklim
yang tepat agar daerah tersebut saat ditanami dapat memilih tanaman yang sesuai, serta tanaman
juga dapat tumbuh dengan baik di daerah yang sesuai dengan kebutuhannya, sehingga pada
akhirnya didapat hasil pertanian yang tinggi.
Secara lebih spesifik pengaruh pengukuran anasir iklim terhadap bidang pertanian
yaitu dijelaskan sebagai berikut

1. Pola tanam dan irigasi

Dengan mengetahui bulan basah dan bulan kering sepanjang tahun, juga mengetahui curah
hujan sepanjang tahun maka kita dapat menentukan pola tanam seperti yang akan kita terapkan
pada tahun itu, juga dengan itu kita dapat dengan mudah mengatur keperluan irigasi, seberapa
besar air yang dibutuhkan. Karena setiap tanaman memiliki kebutuhan air yang berbeda-beda.

2. Pertumbuhan tanaman

Pengaruh langsung cuaca terhadap pertumbuhan tanaman yang paling utama adalah
pengaruh radiasi dan suhu terhadap proses fotosintesis, respirasi, transpirasi, dan proses
metabolisme di dalam sel tanaman. Anasir iklim yang sangat berpengaruh dalam proses ini
adalah kelembaban, suhu dan cahaya matahari. Dengan adanya pengukuran anasir iklim maka
dapat diperkirakan bagaimana tingkat pertumbuhan yang dialami oleh tanaman yang ditanam,
maka jika ada hal yang kurang sesuai atau dapat menghambat pertumbuhan tanaman lebih
mudah diantisipasi untuk mengambil tindakan, supaya dapat tumbuh lebih baik.

3. Pengendalian hama dan penyakit

Populasi hama, gulma, dan munculnya penyakit juga dipengaruhi oleh kondisi iklim.
Misalnya pada daerah yang beriklim tropika serangan hama akan meningkat pada musim
kemarau, namun pada saat musim hujan akan meningkat bakteri dan jamur yang akan
menimbulkan penyakit pada tanaman. Dengan mengetahui pengukuran anasir iklim, maka para
petani dapat memperkirakan seberapa besar hama atau penyakit yang akan menyerang tanaman
yang akan ditanam, dengan itu para petani akan lebih mempersiapkan supaya tanamannya tidak
rusak fatal akibat terserang hama atau penyakit, maka kemungkinan gagal panen pun dapat
dihindarkan.

4. Penanganan Pasca Panen

Pada umumnya dalam penanganan pasca panen para petani masih bergantung secara
alamiah misalnya proses pengeringan dilakukan melalui pengangingan, penjemuran dengan
cahaya matahari, dan pemeraman pada atmosfer terbuka. Dengan adanya pengukuran anasir
iklim, maka dapat ditentukan bagaimana intensitas cahaya, kecepatan angin, suhu udara,
kelembaban, dan curah hujan pada suatu waktu, maka jika suatu waktu terjadi anasir iklim
yang kurang sesuai, dengan mudah para petani dapat mengambil langkah tertentu dalam
penanganan pasca panen. Oleh sebab itu pengukuran anasir iklim sangat berpengaruh terhadap
bidang pertanian, karena dapat menentukan kualitas dan kuantitas hasil pertanian.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Iklim. http://id.wikipedia.org/wiki/Iklim. Diakses tanggal 22 November 2013


Dewa, P. 2011. Iklim. http://pepradewa.blogspot.com/2012/02/iklim.html. Diakses tanggal 22
November 2013.

Guslim. 2007. Agroklimatologi. USU Press. Medan.

Mugnisjah, W.Q dan A. Setiawan. 1994. Pengantar Produksi Benih. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Wirastuti, Dini Natalia. 2008. Geografi SMP/MTs Kelas VII. Grasindo. Jakarta.