You are on page 1of 17

DITERBITKAN OLEH

YAYASAN TANAH MERDEKA (YTM)


Jl. Tg. Manimbaya No. 111 B Palu 94113
Sulawesi Tengah Indonesia
Telp/Fax. 0451- 425892
www.ytm.or.id
ytm@ytm.or.id

© 2006

2
KETIKA PETANI ANGKAT BICARA,
DENGAN SUARA DAN MASSA:
Belajar dari Sejarah Gerakan Petani di
Indonesia dan Amerika Selatan

Oleh : George Junus Aditjondro

1. GERAKAN KELAS-KELAS petani – baik gerakan petani gurem


TERTINDAS (subaltern classes), (peasant movement ) maupun
menurut pemikir dan aktivis radikal gerakan bangsa-bangsa pribumi
Italia, Antonio Gramsci (Sardar & Van (indigenous peoples movement ).
Loon 1999: 79) tidak dapat
disepelekan, dan tidak dapat 2. Lihatlah saja dua kasus berikut di
dianggap kurang penting Bolivia dan Brazil, Amerika Selatan.
dibandingkan dengan gerakan kelas Juan Evo Morales Ayma (46),
menengah dan gerakan kaum muda pemimpin Movimiento al Socialismo
terpelajar, yang terlalu dielu-elukan (MAS, Gerakan Menuju Sosialisme),
dalam tradisi liberal. Juga tidak dapat dilantik menjadi Presiden di La Paz,
disepelekan dibandingkan dengan ibukota Bolivia, hari Minggu, 22
gerakan kaum buruh, yang selalu Januari lalu. Tulang punggung
menjadi idola kaum Kiri. Dewasa ini, aliansi MAS, yang didirikan oleh
justru sinerji di antara berbagai Morales tahun 1995, adalah gerakan
gerakan kemasyarakatan (social petani koka (cocaleros). Morales
movements) yang perlu dilihat dan sendiri adalah seorang petani koka
diperjuangkan, untuk memperkuat yang berasal dari satu di antara
dampak politik transformatif gerakan empat kelompok etno-linguistik

3
pribumi, yakni Quechua, Aymara,
Inacio “Lula” da Silva. “Lula” (=
Guarani dan Chiquitano, yang
Gurita) – yang dipanggil sebagai
meliputi 65% penduduk Bolivia.
“abangku” oleh Evo Morales —
Dengan demikian, Morales, seorang
tadinya ketua Partido Trabalhadores
Aymara dan bekas penggembala (PT), Partai Buruh Brazil yang
llama yang telah menyaksikan empat
didirikan tahun 1969. Orator
saudaranya meninggal karena
berjenggot putih kelahiran tahun
kemiskinan, telah mematahkan
1945 di kawasan Brazil Timur Laut
dominasi kulit putih selama 500
yang miskin bermula sebagai bocah
tahun di negara di Pegunungan tukang semir sepatu yang kemudian
Andes itu. Patut juga dicatat bahwa
menjadi buruh industri logam di Sao
sejak 2003, gerakan bangsa-bangsa
Paulo, dan sempat menjadi ketua
pribumi (indigenous peoples ) yang
serikat buruhnya. Walaupun
dipimpin oleh Morales sudah
didirikan oleh Lula dan kawan-
menjatuhkan dua orang presiden kawan aktivis buruhnya di Sao
Bolivia, Gonzalo Sanchez de Lozada
Paulo, tapi dengan cepat PT
dan Carlos Mesa.
berkembang menjadi kendaraan
3. Kemunculan tokoh bangsa pribumi politik dari gerakan buruh tani,
penantang hegemoni AS dengan buruh industri di kota, cendekiawan
politik neo-liberalismenya serta dan rohaniwan. Lula sendiri aktif
merta dicatat oleh media di dalam bermuhibah ke daerah pedesaan,
dan luar negeri (lihat Newsweek, 12 termasuk ke kawasan hutan Amazon
Des. 2005: 47-48; Kompas, 22 Des. di awal 1980-an (Revkin 1990: 153).
2005; BBC News, 19 Des. 2005;
Seputar Indonesia, 21 Des. 2005;
5. Gerakan tani pendukung PT adalah
International Herald Tribune, 23 Jan.
Movimento dos Trabalhadores Rurais
2006; Fortune, 23 Jan. 2006: 24-25;
Sem Terra atau MST (Gerakan
The Economist, 17 Des. 2005: 35-37,
Pekerja Pedesaan Tak Bertanah), satu
21 Jan. 2006: 42-43, 28 Jan. 2006: organisasi kiri yang paling keras
38). Namun yang paling menarik
memperjuangkan reformasi agraria
perhatian pers di Indonesia, bukan
di Brazil (Rotella 1997; Wolford
perlawanannya terhadap rezim
2005). Sebelumnya, di kawasan
George W. Bush Jr, melainkan
Amazon cabang-cabang PT sudah
tekadnya untuk memangkas gaji merangkul para petani penyadap
presiden dan seluruh kabinetnya
karet (seringalistas), termasuk
sebesar 50%, pada saat rezim SBY-
seorang tokoh penyadap karet
MJK, yang 1 Oktober lalu justru
(seringal ), Francisco “Chico” Alves
menaikkan anggaran kepresidenan
Mendes Filho, yang akrab dipanggil
dan berbagai lembaga-lembaga Chico Mendes, yang ikut mendirikan
pemerintahan rata-rata 40%
cabang PT di Acre, kampung
(Kristianawati 2006; Fajar, 29 Des.
halamannya. Kesuksesannya
2005).
memimpin gerakan penyadap karet,
yang berkepentingan atas pelestarian
4. Sebelumnya, Brazil, tetangga hutan Amazon, membawa Chico
sebelah timur laut Bolivia, negara Mendes ke pentas internasional,
terbesar di Amerika Selatan yang lewat muhibah-muhibah bersama
berpenduduk 135 juta jiwa, sejak para aktivis lingkungan dari Dunia
Oktober 2002 dipimpin oleh Luiz Ketiga ke pusat-pusat ekonomi dunia

4
di Britania Raya dan Amerika setia mendukung Lula, walaupun
Serikat. Termasuk ke Washington, jumlah kaum tergusur yang tinggal
DC, untuk memprotes di tepi jalan-jalan raya, telah
pembangunan jalan raya dan bertambah 40 ribu keluarga di
proyek-proyek lain dari pemerintah samping 200 ribu keluarga (2005).
Brazil dan Bank Dunia yang
merusak kelestarian hutan Amazon. 7. Di Indonesia, gerakan tani hanya
Ketenaran Chico Mendes sebagai berhasil menjadi kekuatan nasional
“pahlawan pembela lingkungan di masa jayanya Barisan Tani
Amazon” ini meningkatkan Indonesia (BTI), yang di tahun 1964
kebencian dan kemarahan para mengklaim punya antara lima dan
rancheiros, pemilik-pemilik delapan juta anggota, atau 25% dari
peternakan besar di kawasan penduduk pedesaan yang dewasa
Amazon kepadanya. Pada malam (lihat Turnquist 1984: 133; Sulistyo
tanggal 22 Desember 1988, tiga hari 2000: 31; Cribb 2003: 76). Waktu itu,
sebelum perayaan Natal, Chico aksi-aksi pendudukan tanah yang
Mendes ditembak mati oleh melebihi ketentuan maksimal UU
pembunuh-pembunuh bayaran Land Reform 1960, yang dikenal
keluarga Darly Alves da Silva, tuan dengan istilah ‘aksi sefihak’ atau
tanah dan raja ternak di daerah itu aksef, sangat ditakuti oleh para tuan
(Revkin 1990). Makanya, tanah besar. BTI juga menganjurkan
kemenangan Lula sedikit banyak pembangkangan pembayaran bagi
mengobati kesedihan akibat hasil pada para pemilik tanah guntai
kematian Chico Mendes dan banyak (absentee landlord ) dan para pemilik
penyadap karet lain, serta 19 pekerja tanah luas (Edman 1987; Sulistyo
pedesaan yang dibunuh polisi militer 2000: 153). Sehingga dalam kudeta
Brazil tahun 1996 (Fauzi 2005: 34). berdarah tahun 1965, yang paling
banyak gugur di Jawa, Bali dan
Sumatera Utara adalah pimpinan
6. Lula kini dikecam oleh MST karena dan anggota organisasi tani itu yang
kurang serius memperjuangkan bernaung di bawah Partai Komunis
reforma agraria dan sering Indonesia (PKI). Di Sumatera Utara,
berkompromi dengan para investor misalnya, sekitar 20 persen buruh
asing. Para aktivis petani mengeluh perkebunan dibunuh atas perintah
atas lambatnya proses reforma komandan militer waktu itu, Kemal
agrarian. Tahun 2005, popularitas Idris, atas perintah Soeharto
Lula juga merosot karena kasus (Mortimer 1972; Turnquist 1984:
korupsi sebagian anggota parlemen 234).
dari PT, yang membeli suara dari
rakyat, sehingga Lula sampai
meminta maaf kepada rakyat Brazil 8. Gerakan tani yang gagal di Indonesia
lewat televisi (Landim 1993: 225; dan gerakan petani yang berhasil di
Fauzi 2005: 35; BBC News, 5 & 17 Brazil, ada perbedaan dan ada
Nov. 2005). Baik Lula maupun persamaannya. Perbedaannya adalah
gerakan petani tak bertanah (MST), bahwa kehancuran BTI di Indonesia
dikecam keras oleh James Petras, terjadi sebagai tumbak gebrakan
sosiolog ahli Amerika Latin. Petras tentara untuk mengambil alih
menunjukkan ironi yang kekuasaan. Sedangkan keberhasilan
menyedihkan, bagaimana MST tetap gerakan petani di Brazil terjadi
setelah tentara meninggalkan pentas

5
politik, dan supremasi sipil telah tersebut. Di Jawa, masyarakat petani
terwujud di negara itu. Proses yang terlibat dalam konflik-konflik
abertura di Brazil sangat berbeda itu kebanyakan merupakan peasant
ketimbang transisi pasca-Soeharto di society, masyarakat petani yang
Indonesia, di mana perjuangan ke belum banyak bergeser dari
arah supremasi sipil mengalami set stratifikasi sosial sebagaimana yang
back setelah ledakan bom Bali II, 1 ditemukan oleh BTI/PKI dalam
Oktober lalu, di mana komando penelitiannya, yakni (a) kelas tuan
teritorial TNI/AD mengalami tanah; (b) petani kaya; (c) petani
konsolidasi, dengan dalih menengah; (d) petani gurem dan
melindungi rakyat dari ancaman buruh tani (Mortimer 1972: 3-4).
terorisme. Konflik-konflik agraris yang mereka
alami lebih banyak bersifat konflik
kelas antara petani kecil versus tuan
9. Adapun persamaan di antara tanah besar, yang kebanyakan juga
gerakan BTI di Indonesia dan MST merupakan tuan tanah guntai, serta
di Brazil adalah: keduanya punya konflik dengan perkebunan sedang.
tujuan atau sasaran aksi yang sama, Sesudah Orde Baru, mereka mulai
yakni reforma agraria. Tujuan sering berkonflik dengan
reforma agraria adalah memperbaiki Departemen PU serta PLN yang
hubungan antara petani sebagai menggusur para petani untuk
penggarap tanah dengan kekuatan- pembangunan proyek-proyek irigasi
kekuatan yang mengeksploitir tanah dan PLTA (lihat Aditjondro 2001),
itu untuk kepentingan akumulasi serta dengan Dinas Kehutanan dan
kekayaan. Kekuatan-kekuatan itu badan-badan usaha milik negara di
dapat berupa petani kaya, baik yang bawah Departemen Kehutanan
tinggal di desa maupun yang berada (Bachriadi dan Lucas 2002).
di luar desa (tuan tanah guntai, atau
absentee landlord ), korporasi yang
bergerak di bidang agribisnis dan 11. Setelah Soeharto turun takhta,
kehutanan, maupun perusahaan sejumlah aktivis PMII (Persatuan
pemborong proyek-proyek Mahasiswa Islam Indonesia)
infrastruktur yang sama sekali tidak bersama Sekretariat Bina Desa dan
menginginkan keberadaan petani beberapa ornop lain berhasil
setempat yang hidup dari mendampingi petani kawasan hutan
penggarapan tanah itu atau yang jati di Kabupaten Wonosobo, Jawa
hidup dari pengumpulan hasil hutan Tengah, untuk menuntut hak
dan penggembalaan tanah itu mereka bertani di kawasan Perum
berdasarkan hukum adat. Konflik Perhutani. Setelah serentetan
antara petani dan kekuatan-kekuatan perundingan yang didukung aksi
itulah yang tercakup di bawah istilah massa petani, disepakati bahwa para
kolektif, “konflik-konflik agraria” petani kawasan hutan yang sudah
atau konflik-konflik agraris. terorganisasi di Kabupaten
Wonosobo, diizinkan bertani di
kawasan hutan jati, dengan sistem
10. Secara garis besar, sifat konflik bagi hasil fifty-fifty (Wahono dkk
agraris antara petani dan kekuatan- 2005). Tidak jelas apakah bagi hasil
kekuatan kapitalis banyak ditentukan itu dilakukan dengan institusi, atau
oleh sifat masyarakat petani yang
terlibat dalam konflik-konflik

6
dengan perorangan pejabat pengusaha swasta, serta kapitalis-
Perhutani di Wonosobo. kapitalis birokrat yang dekat dengan
Istana. Seperti halnya di Sumatera,
masyarakat petani di Kalimantan
12. Di Sumatera Utara, masyarakat bervariasi antara peasant society yang
petani lebih banyak terdiri dari berasal dari transmigran dari Jawa
buruh perkebunan. Mereka lebih dan Madura, serta masyarakat suku
banyak terlibat dalam konflik-konflik (tribal society ) atau masyarakat
dengan perusahaan-perusahaan pribumi (indigenous communities ),
perkebunan besar, karena dengan sistim pertanian ladang,
menghendaki bahwa tanah-tanah perkebunan dan peramuan hasil
perkebunan yang sudah habis masa hutan. Konflik agraris yang sering
HGU (Hak Guna Usaha)nya selama meletus di Kalimantan Barat (Kalbar)
25 tahun sejak keluarnya UU Pokok dan Kalimantan Tengah (Kalteng)
Agraria tahun 1960, dibagikan umumnya merupakan konflik antar-
kepada para buruh taninya. Konflik- komunitas, memperebutkan lahan
konflik itu semakin menajam yang sama, yang melibatkan
sesudah Orde Baru, ketika kelapa komunitas penduduk asli (Melayu
sawit dan jenis-jenis kayu untuk dan Dayak) versus komunitas migran
hutan tanaman industri, khususnya Madura. Kedua komunitas itu
ekaliptus, mulai digalakkan memiliki pola pertanian dan etos
penanamannya di seantero Pulau kerja yang berbeda. Orang Madura
Sumatera dan di banyak tempat di berpola pertanian sawah dan
Kalimantan, untuk mendongkrak menetap, dan sangat agresif dalam
devisa ekspor Indonesia. Maka merebut kekuasaan atas wilayah
meletuslah konflik-konflik usaha mereka, dengan cara legal
berkepanjangan antara rakyat maupun tidak. Kalau perlu,
pedesaan, yang mayoritas berprofesi menggunakan clurit untuk
sebagai petani padi, petani tanaman menghantam lawan debat.
perkebunan, dan peramu hasil Sedangkan orang Dayak dan orang
hutan, dengan korporasi-korporasi Melayu di Kalbar (yang pada
besar yang dilindungi oleh polisi, hakekatnya adalah orang Dayak
militer, serta preman. Dalam konteks yang masuk Islam) punya pola
itulah, gerakan sosial rakyat Porsea pertanian berladang, berkebun
melawan PT Inti Indorayon Utama, pohon buah dan pohon karet, serta
yang kini berganti nama menjadi PT meramu hasil hutan. Bertolak
Toba Pulp Lestari, merupakan belakang dari stereotip tentang
gerakan tani yang telah berlangsung keagresifan orang Dayak dengan
selama lebih dari dua dasawarsa tradisi pengayauannya, orang Dayak
(Down to Earth 1991; Anto dan lebih sering mengalah terhadap
Silitonga 2004; Silaen 2006; Wakker, orang Madura. Sampai saat
de Rozario dan Sawit Watch kesabaran mereka habis dan ruang
Indonesia 2004). hidup (lebensraum ) mereka di daerah
hilir sungai semakin sempit. Pada
saat itulah mereka melawan, dengan
13. Seperti disinggung di atas,
mandau terhunus (lihat Alqadrie
Kalimantan merupakan pulau di
2004; Bamba 2005).
mana perkebunan kelapa sawit dan
ekaliptus sudah digalakkan oleh
korporasi-korporasi milik militer,

7
14. Apa yang terjadi di Kalbar dan orang taipan kayu yang dekat
Kalteng di tahun 1999-2000, mirip dengan keluarga Soeharto, yakni
kejadian di Kalbar tidak lama Prajogo Pangestu (Barito Pacific
sesudah tentara berkuasa di awal era Group) dan Burhan Uray (Djajanti
Orde Baru. Dari bulan Oktober s/d Group), berasal dari Kalbar (lihat
Desember 1967, Kodam Tirtosudarmo 2002: 347; Aditjondro
Tanjungpura yang berkedudukan di 2002a: 36).
Pontianak memobilisasi kelompok
etnis Dayak untuk “menghabisi”
kelompok etnis Tionghoa yang 15. Seperti peristiwa tahun 1967 yang
tinggal di sekitar wilayah perbatasan menggusur orang Tionghoa dari
dengan Sarawak (Malaysia Timur) pedalaman Kalbar, konflik Dayak-
yang dianggap menjadi sarang Madura di Kalbar dan Kalteng tahun
gerilyawan PGRS/PARAKU 1999-2001, menggusur orang
(Pergerakan Gerilya Rakyat Sarawak/ Madura secara besar-besaran dari
Partai Rakyat Kalimantan Utara). Kalimantan ke Jawa Timur dan
Mereka kebanyakan orang Tionghoa Madura. Seperti dikemukakan John
Sarawak yang sebelumnya dilatih Bamba, Direktur Pelaksana Institut
oleh RPKAD (sekarang, Kopassus) Dayakologi di Pontianak, Kalbar:
dalam rangka kampanye Ganyang
“Konflik di Sanggau Ledo dan
Malaysia, melalui peristiwa
Sambas [Kalimantan Barat], dan
“Mangkok Merah”2 . Alasan rekayasa
Sampit (Kalimantan Tengah) telah
politik fihak militer adalah untuk
menelan korban 1.388 korban jiwa,
memudahkan mengendalikan
9.649 rumah rusak dan memaksa
penduduk keturunan Tionghoa agar
167.000 orang Madura
tidak mendukung PGRS/PARAKU.
meninggalkan rumah mereka. Sejak
Selama tiga bulan, sedikitnya 300
akhir konflik Sambas pada bulan
orang Tionghoa terbunuh oleh orang
April [2001], kebanyakan orang
Dayak dan 55 ribu orang lain
Madura telah meninggalkan kawasan
mengungsi ke pantai Barat,
itu, demikian pula, kebanyakan telah
khususnya di Pontianak dan
meninggalkan Sampit di Kalimantan
Singkawang, tanpa obat-obatan dan
Tengah pada 2001” (2005: 59).
bahan makanan yang memadai,
sehingga banyak lagi pengungsi 16. Exodus orang Madura dari
yang meninggal dunia. Selanjutnya, Kalimantan ternyata melicinkan jalan
bersamaan dengan semakin bagi invasi perusahaan perkebunan
kukuhnya kekuasaan militer di dan pertambangan ke pulau itu. Para
Kalbar, penguasa Orde Baru dan petani Madura meninggalkan ribuan
kroni-kroninya mulai melakukan hektar ex-kawasan hutan yang telah
eksploitasi besar-besaran terhadap dibuka dan dimatangkan
kekayaan hutan tropis Kalbar. menjadi tanah pertanian menetap,
Undang-Undang No. 5/1967 tentang yang menarik pertanian pisang ke
Kehutanan segera disahkan, yang Kalbar dan pisang ke Kalteng.
memberikan legitimasi bahwa hutan Kelompok Medco punya rencana
adalah milik Negara. Sejak saat membuka 100 ribu hektar
itulah Negara berhak memberikan perkebunan kelapa sawit di
HPH kepada pihak-pihak yang Kotawaringin Barat, Kalteng, dan
“dekat” dengan elit yang berkuasa. masih banyak lagi perkebunan
Makanya tidak kebetulan bahwa dua kelapa sawit yang rencananya akan

8
dibuka di berbagai kabupaten di Sampit, bulan Februari 2001.
Kalteng dan Kalbar, sampai ke Dalihnya adalah mempersiapkan
perbatasan dengan Sarawak, masyarakat setempat untuk
Malaysia Timur, dengan melibatkan mengantisipasi merembetnya konflik
kelompok-kelompok perkebunan Sambas dari Kalbar ke Kalteng.
besar, seperi Astra Agro Lestari.
Belum lagi pertambangan batubara, 18. Tahu-tahu, satu konflik antara orang
bijih besi, dan emas. Tidak hanya Dayak dan orang Madura di kota
melibatkan korporasi nasional, tapi Sampit, di mana seorang Dayak
juga korporasi asing, seperti menjadi korban clurit orang Madura,
kelompok BHP Billiton, yang serta merta direspons dengan
mendapat konsesi batubara di perlawanan besar-besaran dan
kawasan hutan lindung. Masuknya seolah-olah spontan oleh orang
perusahaan bermodal Australia itu Dayak terhadap orang Madura,
difasilitasi oleh seorang bekas tanpa dicegah oleh aparat keamanan
Gubernur Kalteng serta seorang yang bertugas di sana. Anggota
bupati di daerah itu. Kedua-duanya Kopassus tadi serta seorang kolonel
tokoh Dayak asli (Marut 2003; kom. juga datang ke Kalteng, pasca
pribadi dengan sumber-sumber di kerusuhan tersebut. Pembantaian
Jakarta dan Palangkaraya, 2005- dan penggusuran orang Madura
2006). Dengan demikian, dari Kalteng segera disusul dengan
pencetusan, atau pemeliharaan dan munculnya kelompok-kelompok
eskalasi konflik komunal di antara milisi pemuda Dayak, konon untuk
berbagai komunitas petani dengan menjaga keamanan di kampung-
pola pertanian yang berbeda, dapat kampung Dayak dari kembalinya
dilihat sebagai strategi ekspansi preman-preman Madura. Kehadiran
modal ke- dan di daerah-daerah kelompok-kelompok paramiliter
konflik. Dayak, yang populer dengan
17. Modal tidak bergerak sendiri. Karena sebutan passus itu dibiarkan oleh
ada kaitan dengan pencetusan dan aparat keamanan resmi di Kalteng.
pelanggengan konflik antar Kelompok-kelompok passus itu kini
komunitas, aparat bersenjata – polisi, direkrut menjadi ‘PAM Swakarsa’ di
khususnya Brimob, militer, dan perkebunan-perkebunan
kelompok-kelompok milisi – ikut pertambangan dan kehutanan (kom.
mengfasilitasi ekspansi korporasi- pribadi dengan sumber-sumber di
korporasi besar untuk merebut Jakarta dan Palangkaraya, 2005-
penguasaan sumber daya alam 2006). Dengan demikian, kita bisa
setempat dari tangan penduduk berbicara tentang kolusi antara
setempat, atau memperkenalkan modal, militer dan paramiliter,
komoditi baru yang lebih laku di sebagai pembuka jalan bagi ekspansi
pasaran dunia. Dalam kasus Sampit, korporasi-korporasi besar.
seorang anggota Kopassus yang
berasal dari Kalteng dan pernah
termasuk tim counter-insurgency di 19. Seperti halnya di Kalimantan,
bawah komando Mayjen Prabowo konflik Ambon dan Poso juga
Subianto, sudah berada di sana disusul dengan ekspansi korporasi-
untuk mengumpulkan kepala adat korporasi besar di kedua daerah itu.
Dayak dari tujuh hulu sungai, Di Kepulauan Maluku, konflik antar
sebulan sebelum meletusnya konflik komunitas di Halmahera dan

9
Haruku disusul dengan masuknya 21. Berbagai jenis konflik agraris itu,
atau ekspansi maskapai-maskapai merupakan pupuk penyubur
pertambangan bermodal asing, pertumbuhan gerakan petani di
yakni Newcrest yang bermodal Indonesia. Di Jawa, berbagai serikat
Australia di Teluk Kao, Halmahera, tani yang muncul ke permukaan
dan Ingold yang bermodal Kanada, sesudah Soeharto dipaksa turun dari
di Pulau Haruku (Aditjondro 2004a: takhtanya, terutama berjuang untuk
53-4). Sedangkan di Sulteng, konflik menghidupkan kembali program
Poso memuluskan jalan bagi land reform yang macet selama masa
masuknya tiga korporasi domestik kediktatoran Soeharto. Termasuk
yang dekat dengan partai penguasa, land reform tanah Kehutanan
yakni kelompok Medco milik (Bachriadi & Lucas 2002). Di
keluarga Arifin Panigoro; kelompok Sumatera Utara, fokus berbagai
Artha Graha, perusahaan kongsi gerakan tani adalah
antara Yayasan Kartika Eka Paksi memperjuangkan pengembalian
milik TNI/Angkatan Darat dengan tanah rakyat suku Melayu yang telah
dua pengusaha keturunan Tionghoa, diambil alih oleh berbagai Perseroan
Tomy Winata dan Sugianto Kusuma; Terbatas Perkebunan Negara
serta kelompok Hadji Kalla, Bukaka (PTPN) (Agustono 2002).
dan Bosowa milik keluarga Wakil
Presiden M. Jusuf Kalla (Aditjondro
2004a: 54-5; Aditjondro 2005). 22. Dilihat dari sasaran yang hendak
dicapai oleh berbagai aksi petani itu,
aksi-aksi petani itu dapat dibedakan
20. Seiring dengan konflik agraris yang berdasarkan jenis konflik agrarisnya,
bercorak komunal, yang lazim yang dapat dibedakan antara konflik
disebut “konflik horizontal”, yang bersifat restoratif dan konflik
“konflik vertikal” antara masyarakat yang bersifat reformatif atau
adat atau “bangsa-bangsa pribumi” transformatif. Aksi petani yang
melawan korporasi-korporasi yang bersifat restoratif adalah “di mana
menyerobot hak-hak ulayat orang para aktor dari kalangan tani
Dayak di pedalaman, dengan berusaha merebut kembali hak-hak
dukungan aparat keamanan, juga tanah serta hak-hak atas sumber
terus terjadi. Itu lebih sering terjadi daya alam yang hilang atau terancam
di Kalimantan Timur (Kaltim), di hilang. Hak-hak tanah itu berkisar
lokasi HPH, HTI dan HGU milik dari hak milik, hak menguasai tanah,
korporasi-korporasi yang bergerak sampai dengan hak memanen
dalam bisnis kayu lapis, pulp, dan sumber daya alam di ekosistem-
kelapa sawit, di bawah payung ekosistem tertentu. Hak-hak itu
konglomerat milik kroni-kroni dapat hilang karena dirampas oleh
Soeharto seperti Bob Hasan, dan negara, oleh kelompok masyarakat
lain-lain. Namun sesungguhnya, lain, atau oleh perusahaan-
konflik-konflik serupa juga terjadi di perusahaan bermodal besar” (lihat
Kalteng dan Kalbar, walaupun tidak Aditjondro 2002b: 293).
spektakuler seperti konflik-konflik
masyarakat adat versus HPH di
Kaltim (Rini 2005). 23. Berbeda dari konflik yang bersifat
restoratif adalah konflik tanah yang
bersifat transformatif, di mana para
aktor utama yang terlibat dalam

10
konflik itu memperjuangkan hak- dimulai dengan perlawanan rakyat
hak yang dulu belum mereka miliki. di dataran Seseba seluas 400 hektar
Misalnya, hak memiliki tanah, hak di Kabupaten Banggai, menghadapi
untuk menggarap bidang-bidang gelombang-gelombang penggusuran
tanah tertentu, atau hak untuk mereka oleh berbagai perusahaan
mengumpulkan hasil bumi dari yang datang ke dataran itu.
tanah itu, misalnya hak untuk Masyarakat Seseba sejak dulu
mengumpulkan rotan dan hasil mengenal klasifikasi lahan dataran
hutan ikutan lain. Transformasi itu itu sesuai dengan fungsinya masing-
dapat bersifat ‘politis’, di mana para masing, yakni hutan rakyat yang
petani tak bertanah dimiliki secara komunal; tanah adat,
memperjuangkan hak untuk yang difungsikan masyarakat untuk
memiliki atau menguasai sebidang menanam palawija (milik komunal,
tanah atau alat produksi lain, tetapi di mana warga masyarakat secara
dapat juga bersifat ‘kultural’, di bergantian menanam dan memanen
mana ketentuan pengelolaan sumber hasil) dan tanaman tahunan (milik
daya alam tertentu berdasarkan perorangan); serta perkebunan
hukum adat yang lama ditafsirkan masyarakat yang digunakan warga
kembali dan direkonstruksi masyarakat untuk menanam
(Aditjondro 2002b: 293). tanaman tahunan dalam skala besar,
seperti kelapa, coklat, kemiri, dan
kopi.
24. Berbagai jenis konflik dan aksi
agraris itu, dapat kita lihat terjadi
pula di Sulawesi Tengah (Sulteng). 26. Sejak 1982, rakyat Seseba silih
Ada konflik agraris yang lebih berganti ‘dirayu’ dan diancam untuk
bersifat pertentangan kelas, menyerahkan lahannya oleh PT
walaupun terbungkus dalam konflik Delta Subur Permai, dengan
SARA (suku, agama, ras, antar melibatkan militer dari Koramil
golongan). Ada konflik agraris antara Batui, serta dengan mengeksploitasi
masyarakat petani dan Taman wibawa tradisional Raja Banggai,
Nasional Lore Lindu tentang hak Hideo Amir. Rakyat Seseba tetap
bertani dan mengumpul hasil hutan melawan dengan merebut kembali
di wilayah Taman Nasional itu. Lalu tanah mereka dan menanaminya
ada konflik agraris antara masyarakat dengan padi ladang dan palawija.
desa melawan korporasi-korporasi Perlawanan mereka diorganisir oleh
besar di bidang perkebunan kelapa Forum Persaudaraan Petani Miskin,
sawit, HPH, pertambangan nikel yang lima pimpinannya sempat
(Sangaji 2002), pertambangan migas dihukum penjara di tahun 2003
(minyak bumi dan gas alam) (Gogali selama lima bulan. Sedikitnya
t.t.), dan lain-lain. Juga ada konflik sampai pertengahan 2004 rakyat
agraris antara masyarakat desa dan Seseba terus melawan, walaupun
pembangunan proyek-proyek tekanan semakin berat. Tampaknya,
pembangkit listrik tenaga air (PLTA) daerah mereka diincar oleh
(Sangaji 2000 dan Aditjondro 2005). kelompok Medco yang sedang
melakukan eksplorasi minyak bumi
di daratan dan lepas pantai Banggai,
25. Sejarah perlawanan rakyat pedesaan untuk dijadikan pusat pemukiman
Sulteng terhadap kebijakan kayawan PT Medco E & P Tomori
pemerintah yang memihak investor,

11
Sulawesi (d/h PT Exspan Tomori 28. Berbagai aksi petani itu, yang
Sulawesi), anak perusahaan bergema sampai ke kota Palu saat
kelompok Medco. Selain itu, lokasi delegasi-delegasi petani ke DPRD
Seseba juga relatif dekat dengan Provinsi Sulteng, ikut meradikalisasi
rencana pelabuhan Pertamina dan gerakan mahasiswa yang berbasis di
rencana pelabuhan samudera untuk Univesitas Tadulako dan STAIN.
Kawasan Pengembangan Ekonomi Sebelumnya, gerakan mahasiswa di
Terpadu (KAPET) Batui (Gogali t.t.). Palu sudah turun ke jalan di era
kediktatoran Soeharto, untuk
membela kepentingan rakyat seputar
27. Perlawanan rakyat Seseba, segera Danau Lindu, yang menolak
disusul perlawanan rakyat desa di pembendungan danau mereka (lihat
daerah Bungku (dulu di Kabupaten Sangaji 2000). Dialektika antara
Poso, kini masuk Kabupaten gerakan kampus dan gerakan
Morowali) , menghadapi PT Tamaco kampung itu mendorong proses
Graha Krida, yang mendapat konsesi radikalisasi berbagai komponen
kelapa sawit seluas 13.230 hektar, gerakan pro-demokrasi di Sulawesi
sehingga 1743 orang petani Tengah, yang semula terhimpun
kehilangan lahan. Mereka kemudian dalam Forum Rakyat Miskin
mengorganisasi diri menjadi Forum Sulawesi Tengah (FRM-ST) dan kini
Petani Plasma Kelapa Sawit. Tahun sudah menjelma menjadi Persatuan
1999, sebanyak 5000 orang anggota Rakyat Miskin Sulawesi Tengah
Forum itu mendatangi kantor pusat (PRM-ST).
perusahaan perkebunan tersebut.
Mereka memprotes kebijakan 29. Mendahului terbentuknya FRM-ST,
perusahaan dalam pembagian lokasi di akhir 1990-an telah muncul
plasma, memprotes luas Lahan Inti embrio gerakan tani yang cukup
Plasma yang melebihi 40% dari luas militan di Sulteng, yang tergabung
plasma, serta memprotes perusahaan dalam Serikat Tani Nasional (STN)
yang memprioritaskan transmigran wilayah Sulteng. Kebetulan, kader-
dari NTT, NTB dan Jawa. Aksi kader STN di Desa-Desa Sepe,
anggota Forum itu dibalas dengan Silanca dan Tongko di Kecamatan
demo tandingan oleh para petani Lage, Kabupaten Poso, sedang
transmigran peserta plasma, yang menyiapkan perlawanan terhadap
diorganisasi oleh perusahaan dan PT Inhutani, berupa pendudukan
pemerintah setempat. Aksi massa kembali (reclaiming) tanah mereka,
para anggota Forum itu dilanjutkan yang telah diduduki perusahaan
dengan aksi massa besar di Poso, kehutanan negara itu untuk kebun
ibukota Kabupaten Poso yang waktu pembibitan kayu hitam (ebony ).
itu masih meliputi Kabupaten Bermodal militansi kader-kader STN
Morowali. Akibat demo besar di wilayah ini, ornop tani ini
tersebut, ketua Forum, Guntur menyelenggarakan konferensi tani
Lemangga, diteror melalui telepon se-Sulteng di Palu, tanggal 28 s/d 30
oleh orang tak dikenal. Teror telpon November 1999, yang diikuti 14
ini diadukan oleh Guntur kepada orang dari Kabupaten Poso, 14 orang
Dirjen Perkebunan dan Komisi dari Kabupaten Buol-Toli-Toli, dan
HAM (Gogali t.t.). sembilan orang dari Kabupaten
Donggala. Selain meresmikan
berdirinya STN Cabang Poso dan
Anak Cabang Sindue, dalam

12
konferensi itu para peserta peserta Waktu itu, Agfar Patanga, adik dari
bersepakat mendeklarasikan sang Bupati, sedang diadili karena
berdirinya STN Wilayah Sulteng di terlibat dalam pembuatan selebaran
gedung DPRD Tingkat I Sulteng yang provokatif.3 Makanya,
(Aditjondro 2002b: 405-6). pembiaran terhadap eskalasi konflik
komunal di Kabupaten Poso, dapat
dilihat sebagai respons militer
30. Deklarasi yang dibacakan oleh
seorang petani dari Desa Betania di terhadap tuntutan STN Wilayah
Sulteng untuk penghapusan
Kabupaten Poso itu berisi enam
tuntutan: Pertama, menuntut kepada dwifungsi TNI dan pengusutan
pemerintah untuk segera penyalahgunaan dana KUT. Yang
jelas, gelombang demi gelombang
menyelesaikan kasus-kasus tanah
yang ada, baik konflik antara petani kerusuhan dan pengungsian telah
menghancurkan jaringan organisasi
dengan pemerintah, petani dengan
pemilk modal, serta kasus-kasus STN di Kabupaten Poso. Sementara
tanah yang lain. Kedua, menuntut rencana reclaiming tanah penduduk
ketiga desa di Kecamatan Lage yang
penyelesaian kasus-kasus Kredit
Usaha Tani (KUT) yang ada di telah diduduki oleh Perum
Perhutani, belum pernah terwujud
wilayah Sulteng. Ketiga, menuntut
penghentian praktek-praktek (Aditjondro 2002b: 406-7;
militerisme dalam penyelesaian Aditjondro 2003: xxxiii).
konflik-konflik tanah, untuk itu STN
Wilayah Sulteng menyerukan 32. Belakangan ini, di desa-desa di
pencabutan dwifungsi TNI. Kecamatan Biromaru, Kabupaten
Keempat, menuntut penurunan Donggala, Sulteng, semakin sering
harga sarana produksi pertanian tercetus konflik berdarah antara
(sarprotan), penaikan harga produk orang Bugis dan kedua suku asli
pertanian dan penaikan upah buruh. Kabupaten Donggala, yakni orang
Kelima, menuntut pengusutan Kaili Ledo yang menghuni dataran
praktek-praktek korupsi-kolusi-dan rendah dan orang Kaili Da’a yang
nepotisme di dalam tubuh habitat aslinya berada di
pemerintah. Dan keenam, menuntut pegunungan. Untuk mengurangi
pembangunan sarana penunjang tekanan penduduk di daerah
untuk penguatan ekonomi petani di pegunungan, banyak orang Kaili
pedesaan (Aditjondro 2002b: 406). Da’a dimukimkan kembali oleh
Pemerintah Daerah ke dataran
31. Tuntutan-tuntutan itu cukup radikal, rendah untuk menggarap tanah
khususnya tuntutan No. 3 yang pertanian di sana. Namun kedua
menukik ke tuntutan pencabutan suku asli Kabupaten Donggala itu
dwifungsi TNI. Namun tuntutan sangat berat menghadapi persaingan
dengan para migran Bugis, yang
No. 2, yakni penyelesaian kasus-
kasus manipulasi KUT, juga cukup lebih tinggi tingkat
aktual waktu itu, mengingat bahwa kewiraswastaannya dan dengan
beberapa orang tokoh pencetus cepat telah memperoleh sertifikat
kerusuhan Poso ‘jilid 2’ yang buat tanah persawahan dan
perkebunan di dataran rendah.
dimulai tanggal 16 April 2000,
sedang diusut karena keterlibatannya Sementara itu, orang Kaili Da’a
dalam penyalahgunaan dana KUT. dengan sistem hak adat mereka yang

13
bersifat kolektif, tidak terbiasa aksi lokal, sekaligus melakukan
mengurus sertifikat tanah. Begitu advokasi pendukung aksi-aksi lokal
pula orang Kaili Ledo, yang merasa di tingkat provinsi, bahkan di tingkat
“tuan tanah” secara adat di dataran nasional.
rendah. Akibat kesenjangan ekonomi
dan perbedaan persepsi tentang
pemilikan tanah di sana, sering 34. Sekretariat bersama itu perlu
terjadi apa yang dianggap oleh dilengkapi dengan suatu pusat data
petani Bugis sebagai “pencurian” yang punya perhatian yang
tanaman mereka. Reaksi mereka representatif bagi semua kelompok
paling keras, misalnya dengan aksi petani di seluruh provinsi
membunuh para “pencuri”, apabila Sulteng. Selain representatif secara
yang “dicuri” adalah tanaman geografis, juga representatif dalam
coklat, komoditi primadona di variasi konflik agraris yang sudah
Sulawesi Tengah. Di bulan Oktober atau akan terjadi. Berarti, selain aksi-
2004, terjadi dua kali pembunuhan di aksi yang bercorak “konflik vertikal”,
Kecamatan Biromaru, yakni di Desa aksi-aksi memecahkan “konflik-
Jono-oge dan di desa Sidondo, konflik horizontal” juga perlu
yang diduga berlatarbelakang konflik didukung, sebab konflik demikian
agraris begini, yakni awal Oktober seringkali berakar pada konflik kelas
dan tanggal 31 Oktober (Aditjondro antara berbagai komunitas petani.
2004b). Juga, perhatian yang seimbang
diperlukan bagi aksi-aksi petani yang
bersifat “restoratif” atau “defensif”,
33. Mudah-mudahan para aktivis petani dengan aksi-aksi petani yang bersifat
dan pendamping petani di Sulteng reformatif atau transformatif (lihat
dapat memetik pelajaran dari sejarah Butir 22 dan 23).
konflik agraria dan gerakan petani di
Indonesia, baik di Sulteng maupun
nun jauh di Amerika Latin, anak 35. Satu hal yang juga harus difikirkan
benua yang telah menyaksikan adalah bagaimana gerakan tani di
kebangkitan gerakan kiri ke tampuk Sulteng bersinerji dengan gerakan-
pemerintahan di mayoritas negara di gerakan kemasyarakatan (social
sana. Melihat keragaman konflik movements) lain yang berlingkup
agraria yang tengah dihadapi oleh nasional, bahkan internasional,
kelompok-kelompok tani di berbagai khususnya gerakan lingkungan,
pelosok Sulteng, barangkali suatu gerakan masyarakat adat atau
jaringan organisasi tani yang bersifat ‘bangsa-bangsa pribumi’ (indigenous
federatif, di mana setiap kelompok peoples’ movement), serta gerakan
dapat melakukan aksi secara advokasi pertambangan. Makanya
otonom, tanpa harus menunggu sebaiknya sekretariat bersama
instruksi dari pengurus pusat atau gerakan tani Sulteng, memelihara
pengurus wilayah yang hubungan yang mesra dengan
berkedudukan di Palu. Namun itu simpul-simpul gerakan lingkungan
tidak berarti, solidaritas dan nasional yang didampingi WALHI,
dukungan lintas lokasi tidak gerakan masyarakat adat yang
diperlukan. Mungkin suatu didampingi AMAN, dan gerakan
sekretariat bersama dapat advokasi pertambangan yang
menjalankan fungsi penopang aksi- didampingi oleh JATAM.

14
36. Last but not least, di samping
menjadi “palang merah” bagi
korban-korban pembangunan,
gerakan tani di Sulteng perlu
menjadi “palang pintu” untuk
mencegah jatuhnya korban-korban
baru. Termasuk di sini, memikirkan
cara-cara bertani yang tidak
tergantung pada produk pabrik,
seperti pupuk sintetis dan pestisida
sintetis, dan mempertahankan,
sekaligus mengembangkan bentuk-
bentuk pertanian komunal dan
kolektif, dengan menggali hikmah
dari cara-cara bertani tradisional
yang perlu diteliti dan
dikembangkan secara ilmiah.
Misalnya, integrasi antara pertanian
dan peternakan kerbau di ketiga
lembah Lore, Bada, Besoa dan
Napu, yang kini terancam hilang
setelah tokoh-tokoh masyarakatnya
sendiri lebih tertarik menjual
kawanan kerbaunya dan membeli
traktor kecil yang tergantung pada
BBM yang kini makin mahal dan
membuat petani semakin tergantung
pada Negara dengan bisnis BBM
dan industri petrokimianya.

Jakarta, 22-23 Februari 2006.

15
Referensi:
Aditjondro, George Junus (2001). Go with the Flow: The Fluctuating and
Meandering Nature of Indonesia’s Anti-Large Dam Movement. Makalah untuk
Lokakarya dalam rangka Jubileum KITLV dengan tema “Air sebagai Pemberi
Kehidupan dan Kekuatan Yang Mematikan serta Hubungannya dengan Negara,
Dulu dan Sekarang” di Leiden, Negeri Belanda.

——————— (2002a). “Suharto has Gone, but the Regime has not Changed:
Presidential Corruption in the Orde Baru.” Dalam Richard Holloway (peny.). Stealing
from the People: 16 Studies on Corruption in Indonesia. Book 1. Jakarta: Aksara
Foundation, hal. 1-65.

——————— (2002b). “Aksi Petani, Represi Militer, dan Sosialisme Marga:


Memperluas Wacana Permasalahan Tanah di Indonesia”. Epilog dalam Anu Lounela
dan R. Yando Zakaria (peny.). Berebut Tanah: Beberapa Kajian Berperspektif
Kampus dan Kampung. Yogyakarta: INSIST Press, hal. 391-411.

————————(2003). “Renungan buat Papa Nanda, Anak Domba Paskah dari


Tentena”. Prolog dalam Rinaldy Damanik, Tragedi Kemanusiaan Poso: Menggapai
Surya Pagi melalui Kegelapan Malam. Jakarta & Yogyakarta: PBHI, Yakoma PGI &
CD Bethesda, hal. Xviii-lii.

———————— (2004a). “Tigabelas Tesis tentang Kerusuhan dan Konflik Sosial


Pasca-Soeharto di Indonesia.” Dalam Dicky Mailoa, Jeirry Sumampouw dan Teddy
Weohau (peny.). Gereja-Gereja Menggumuli Konflik dan Kekerasan dalam Era
Transisi menuju Demokrasi di Indonesia. Jakarta: Crisis Center PGI, hal. 46-60.

———————— (2004b). Bergerilya di tengah-tengah Kawanan Serigala:


Tantangan bagi Gerakan Pro-Demokrasi di Indonesia. Makalah di depan Pemuda
Gereja GPID di Jono-oge, Kab. Donggala, Sulawesi Tengah.

———————— (2005). Setelah Gemuruh Wera Sulewana Dibungkam: Dampak


Pembangunan PLTA Poso & Jaringan SUTET di Sulawesi. Kertas Posisi Yayasan
Tanah Merdeka, Palu.

Agustono, Budi (2002). “Orang Melayu versus Pendatang, Sengketa Tanah di


Sumatera Utara”. Dalam Lounela dan Zakaria, op. cit., hal. 159-84.

Alqadrie, Syarif Ibrahim (2004). “Pola Pertikaian di Kalimantan dan Faktor-Faktor


Sosial, Budaya, Ekonomi dan Politik yang Mempengaruhi Mereka”. Dalam
Lambang Trijono dkk (peny.). Potret Retak Nusantara: Studi Kasus Konflik di
Indonesia. Yogyakarta: Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah
Mada, hal, 171-234.

Anto, J. & Benget Silitonga (2004). Menolak Menjadi Miskin: Gerakan Rakyat Porsea
Melawan Konspirasi Gurita Indorayon. Medan: BAKUMSU (Lembaga Bantuan
Hukum & Advokasi Rakyat Sumatera Utara).

16
Bachriadi, Dianto dan Anton Lucas (2002). “Hutan Milik Siapa? Upaya-upaya
Mewujudkan Forestry Land Reform di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah”. Dalam
Lounela dan Zakaria, op. cit. , hal. 79-158.

Bamba, John (2005). “Kalimantan: Kesatuan atau Keragaman?” dalam Irfan


Abubakar dan Chaider S. Bamualim (peny.). Transisi Politik dan Konflik Kekerasan:
Meretas Jalan Perdamaian di Indonesia, Timor Timur, Filipina dan Papua New
Guinea. Jakarta & Utrecht: Pusat Bahasa dan Budaya (PBB) Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah & European Centre for Conflict Prevention (ECCP), hal. 53-78.

Cribb, Robert (peny.). The Indonesian Killings: Pembantaian PKI di Jawa dan Bali
1965-1966. Yogyakarta: Matabangsa & Syarikat Indonesia.

Down to Earth (1991). Pulping the Rainforest: The Rise of Indonesia’s Paper and
Pulp Industry. London: Down to Earth, International Campaign for Ecological
Justice in Indonesia.

Edman, Peter (1987). “Communism a la Aidit”: The Indonesian Communist Party


under D.N. Aidit, 1950-1965. Townsville: Centre for Southeast Asian Studies, James
Cook University of North Queensland.

Fuentes, Marta & Andre Gunder Frank (1989). “Ten Theses on Social Movements,”
World Development, No. 12/Vol. 17, hal. 179-91.

Gogali, Nerlian (t.t.). Marmer, Migas, dan Militer di Ketiak Sulawesi Timur: Antara
Kedaulatan Rakyat dan Kedaulatan Investor. Naskah yang belum diterbitkan.

Kristianawati, Ari (2006). “Membandingkan Evo Morales dengan Pemerintahan


SBY-JK”, Sinar Harapan, 12 Januari.

Landim, Leilah (1993). “Brazilian Crossroads: People’s Groups, Walls and Bridges.”
Dalam Ponna Wignaraja (peny.). New Social Movements in the South: Empowering
the People. London: Zed Books, hal. 218-29.

Marut, Donatus K. (2003). Globalization and Conflicts among the Poor in Indonesia.
Ceramah umum dalam Konferensi Partai Kiri-Hijau di Groningen, Negeri Belanda,
tanggal 25 Oktober.

Mortimer, Rex (1972). The Indonesian Communist Party and Land Reform 1959-
1965. Melbourne: Centre of Southeast Asian Studies, Monash University.

Petras, James (2005). “Lula’s “Workers’ Regime” Plummets in Stew of Corruption,”


Counterpunch, 30 Juli.

Revkin, Andrew (1990). The Burning Season: The Murder of Chico Mendes and the
Fight for the Amazon Rain Forest. London: Collins.

Rini, Kartika (2005). Tempun Petak Nana Sare : Kisah Dayak Kadori, Komunitas
Peladang di Pinggiran. Yogyakarta: INSIST Press.

17
Rotella, Sebastian (1997). “Brazil’s Machete-and-Sickle Movement,” Sydney Morning
Herald, 19 April.

Sangaji, Arianto (2000). PLTA Lore Lindu: Orang Lindu Menolak Pindah.
Yogyakarta & Palu: Pustaka Pelajar, bekerjasama dengan Yayasan Tanah Merdeka &
WALHI Sulawesi Tengah.

—————— (2002). Buruk Inco, Rakyat Digusur: Ekonomi Politik Pertambangan


Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Sardar, Ziauddin & Borin Van Loon (1999). Introducing Cultural Studies.
Cambridge: Icon Books.

Silaen, Victor (2006). Gerakan Sosial Baru di Toba Samosir: Studi Kasus Gerakan
Perlawanan Rakyat Terhadap Indorayon. Yogyakarta: IRE Press.

Sulistyo, Hermawan (2000). Palu Arit di Ladang Tebu: Sejarah Pembantaian Massal
Yang Terlupakan (1965-1966). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Tirtosudarmo, Riwanto (2002). “Migrasi dan Konfik Etnis: Belajar dari Konflik di
Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah”. Analisa CSIS, No. 3/Tahun 31, hal. 340-
52.

Turnquist, Olle (1984). Dilemmas of Third World Communism: The Destruction of


the PKI in Indonesia. London: Zed Books.

Wahono, Francis, Anu Lounela, Ion Subagyo, Agustinus Alibatha (2005). Indonesia’s
Peasant Movement. Laporan untuk studi Asian Social Movements yang sedang
diselenggarakan oleh INSIST, Yogyakarta.

Wakker, Eric, Joanna de Rozario dan Sawit Watch Indonesia (2004). Licinnya Minyak
Sawit: Dampak Pengembangan Perkebunan Besar Kelapa Sawit terhadap Aspek
Sosial dan Ekologi di Asia Tenggara. Jakarta: Wahana Lingkungan Hidup Indonesia
(WALHI).

18