You are on page 1of 17

ANALISIS JURNAL

DISUSUSUN OLEH :
KELOMPOK 4
Ahmad Fadli Adi S 17160104
Aprilia Dewi Nurlitasari 17160007

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Neonatus merupakan kelompok usia dengan risiko tinggi
mengalami masalah kesehatan. Masalah yang sering dialami neonatus
dimulai dari proses adaptasi awal neonatus dari lingkungan intra uterin ke
ekstra uterin. Perubahan fisiologis terberat bagi neonatus adalah ketika
terjadi perubahan dari sirkulasi janin atau plasenta ke respirasi bayi secara
mandiri. Bayi prematur tentunya mengalami kesulitan besar dalam
adaptasi karena imaturitas organ tubuhnya. Masalah yang dialami setiap
neonatus baik matur maupun prematur menyebabkan kebutuhan
hospitalisasi dan berbagai bantuuan tindakan untuk mempertahankan
kehidupannya. Kebutuhan akan tindakan invasif baik dalam pemenuhan
kebutuhan nutrisi atau cairan serta pemeriksaan penunjang pun menjadi
hal yang pasti dialami oleh bayi (Hockenberry & Wilson, 2009).
Hospitalisasi merupakan pengalaman yang traumatik yang
menimbulkan ketidaknyamanan bagi bayi. Bayi dan anak dengan
hospitalisasi di ruang rawat intensif beresiko terhadap gangguan perilaku
saat dewasa (Peebles kleiger, 2000). Dalam proses perawatan di rumah
sakit neonatus secara rutin mendapatkan tindakan invasif yang
menimbulkan nyeri (Agarwal, Hegedorn, & Gardner, 2006). Anand (2001)
menjelaskan bahwa nyeri bisa disebabkan oleh beberapa prosedur
diagnostik seperti pungsi arteri, bronkoskopi, endoskopi, penusukan
tumit, lumbal pungsi, Retinopaty of Prematurity (ROP), dan vena
pungsi. Nyeri juga diakibatkan efek terapeutik seperti insersi atau
pelepasan akses sentral, intubasi, ekstubasi selang dada, injeksi
intramuskuler, pemasangan kateter vena, ventilasi mekanik, postural
drainase, dan suction endotrakeal. Pengkajian dan penatalaksanaan nyeri
pada neonatus yang dirawat penting dilakukan untuk meningkatkan
kualitas hidup neonatus dimasa yang akan datang (American Academy of
Pediatrics, 2000). Hal ini karena sekarang telah diyakini bahwa neonatus
meskipun prematur, secara anatomi dan fisiologi telah mampu merasakan,
mempersepsikan dan bereaksi terhadap nyeri secara fisiologis dan
psikologis (Sahoo, Rao, Nesargi et al. Nyeri pada neonatus dapat
mengakibatkan perilaku, fisiologi dan respon metabolik yang negatif
(Anand & Carr, 1989 dalam Sahoo, Rao, Nesargi et al., 2013).
Perubahan fisiologis yang ekstrim bisa menjadi faktor yang
berpengaruh terhadap kejadian hipoksia, hiperkarbia, asidosis, ventilator
asinkron, pneumothorak, trauma reperfusi, kongesti vena, dan
intraventrikular hemoragik. Paparan nyeri merupakan suatu stimulus yang
dapat merusak perkembangan otak bayi dan berkontribusi terhadap
gangguan belajar dan perilaku di masa anakanak (Bard, Abdallah, Hawari
et al., 2010). Nyeri pada neonatus sulit untuk dievaluasi secara subyektif
karena ketidakmampuan neonatus mengekspresikan secara verbal. Respon
neonatus terhadap nyeri dapat dinilai melalui perubahan respon tubuh,
perubahan perilaku, perubahan hormonal, perubahan anatomis dan
pergerakan tubuh (Mackenzie, Acworth, Norden et al., 2005), menangis,
meringis, perubahan denyut jantung, peningkatan tekanan darah (Tsao,
Evans, Meldrum, Altman, & Zeltzer, 2007). Menurut Stevens, Johnston,
Petryshen, dan Taddio (1996), alat untuk mengkaji nyeri bayi secara
umum dan sudah tervalidasi untuk bayi premature dan matur selama
dilakukan tindakan yang menyebabkan nyeri adalah premature infants
pain profile (PIPP).
Penatalaksanaan nyeri pada neonatus adalah dengan farmakologis
dan non farmakologis. Penatalaksanaan nonfarmakologis salah satunya
adalah pemberian ASI. Shah, Herbozo, Aliwalas, dan Shah (2012) dalam
Systematic reviews dengan judul breastfeeding or breastmilk for
procedural pain in neonates merekomendasikan pemberian ASI untuk
mengurangi nyeri pada neonatus yang dilakukan tindakan yang
menimbulkan nyeri. Neonatus yang diberikan ASI saat dilakukan tindakan
yang menimbulkan nyeri mempunyai peningkatan frekuensi detak jantung
lebih rendah, penurunan durasi menangis yang lebih rendah dibandingkan
dengan plasebo (air), empeng atau massage. Air susu ibu sebaiknya
digunakan pada prosedur tindakan untuk mengurangi nyeri pada neonatus
daripada plasebo, empeng, posisi atau tidak diberikan intervensi.
Penelitian yang dilakukan oleh Sahoo, Rao, Nesargi et al. (2013) juga
menunjukkan bahwa pemberian ASI secara signifikan juga dapat
mengurangi nyeri pada neonatus yang sedang dilakukan venapungsi,
meskipun kekuatannya lebih rendah dibandingkan dengan dextrose 25%.
Selain ASI dengan Pemijatan pada bayi akan merangsang nervus vagus,
dimana saraf ini akan meningkatkan peristaltik usus sehingga
pengosongan lambung meningkat dengan demikian akan merangsang
nafsu makan bayi untuk makan lebih lahap dalam jumlah yang cukup.
Selain itu nervus vagus juga dapat memacu produksi enzim pencernaan
sehingga penyerapan makanan maksimal. Disisi lain pijat juga dapat
memperlancar peredaran darah dan meningkatkan metabolisme sel, dari
rangkaian tersebut berat badan bayi akan meningkat (Hady, 2014)
Berdasarkan di ruang NICU terdapat 6 bayi yang menjalani
perawatan, dan semuanya menjalani proses pengambilan sampel darah
rutin untuk proses pengecekan hasil lab. Melihat dari fenomena tersebut
terjadi penurunan saturasi oksigen hingga 50% pada bayi yang dilakukan
pengambilan sampel darah vena. Hal ini menunjukkan respon
ketidaknyamanan bayi terhadap prosedur yang dilakukan. Oleh karena itu
kami merasa yakin bahwa pemberian ASI dan memijat untuk mengurangi
nyeri pada neonatus yang sedang dilakukan tindakan yang menimbulkan
nyeri bisa efektif diterapkan.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami analisa jurnal keperawatan medikal
bedah tentang “perawatan luka secara modern”
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu menganalisa judul, tujuan, nama peneliti,
tempat dan waktu penelitian
b. Mahasiswa mampu menganalisa metode, populasi, dampel, dan
teknik sampling yang digunakan serta hasil penelitian
c. Mahasiswa mampu menganalisa kelebihan dan kekurangan jurnal
dengan analisa SWOT
d. Mahasiswa mampu menjelaskan korelasi jurnal dengan teori
e. Mahasiswa mampu menjelaskan korelasi isi jurnal dengan
penerapan dilapangan
f. Mahasisa mampu mengetahui implikasi keperawatan

BAB II

JURNAL ASLI

(Terlampirl)
BAB III

PEMBAHASAN
A. Nama Peneliti
Penelitian ini dilakukan oleh 8 orang yang meliputi peneliti asli,
korespondensi dan kontributor, yaitu:

1. Majid Mohammadizadeh : Sebagai Peneliti asli dan Koresponden


2. Azamolmolouk Elsagh : Kontributor
3. Ali Zargham-Boroujeni: Koresponden
Kontributor yang dimaksud adalah orang yang menyumbang,
menyokong dana, informasi dan sebagainya pada suatu hal (KBBI
Online, 2015). Peneliti asli yang dimaksud adalah orang yang melakukan
penelitian langsung terhadap masalah yang akan diteliti
Analisis:
1. Penelitian ini sudah dilakukan oleh orang yang ahli
dibidangnya yang mewakili institusi pendidikan dan juga klinis
seperti yang dijelaskan di rincian peneliti bahwa penelitinya
berasal dari:
a. Ali Zargham-Boroujeni (Nursing and Midwifery Care
Research Center, Faculty of Nursing and Midwifery,
Isfahan University of Medical Sciences, Isfahan, Iran)
b. Azamolmolouk Elsagh (Faculty of Nursing and Midwifery,
Alborz University of Medical Science, Alborz, Iran)
c. Majid Mohammadizadeh (School of Medicine, Isfahan
University of Medical Sciences, Isfahan, Iran)
2. Pembagian tugas pada penelitian ini sangatlah bagus karena
yaitu ada peneliti asli, koresponden (orang yang mencari data),
kontributor (orang yang menyumbang/berkontribusi disegala hal),
sehingga untuk data yang ditampilkan menjadi lebih valid.
3. Penulisan nama peneliti pada jurnal ini sudah memenuhi kriteria
penulisan yaitu penulis tidak mencantumkan gelar di jurnal ini
namun penulis menjelaskannya dalam bentuk nama institusi asal
penulis.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di NICU Rumah Sakit terpilih yang
berafiliasi dengan Universitas Ilmu Pengetahuan Isfahan
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan bulan November 2112 sampai Februari
2013
Analisis
1. Penelitian ini bisa dikategorikan baik karena penelitian ini, karena
penelitian ini membandingkan kelompok intervensi terhada kelompok
kontrol, dan subjek penelitian dipilih secara acak dan memperhatikan
kriteria inklusi/ eksklusi penelitian, dan etika penelitian.
2. Waktu penelitian pada penelitian ini sangatlah baik karena
melakukan intervensi dan melakukan observasi dalam satu waktu.

C. Tujuan Penelitian
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil perbedaan
Efek Pijat dan Menyusui pada Respon terhadap Nyeri Venipuncture di
antara Neonatus Rawat Inap
Analisis:
Tujuan penelitian ini sudah sesuai dengan judul yang diambil dan isi
dari jurnal ini sudah saling berkaitan dengan judul dan tujuannya. Peneliti
juga sudah menyampaikan tujuan yang lebih spesifik atau dengan kata
lain tujuan khususnya sehingga pada tujuan yang dituliskan apabila
dibaca secara sekilas tanpa membaca isinya, pembaca dapat
mengetahui sasaran dari tujuan penelitian ini dilakukan kepada siapa.
D. Metode Penelitian
1. Jenis penelitian
Jenis penelitian pada penelitian adalah eksperimen.
2. Populasi, sampel, teknik pengambilan sampel, dan instrumen penelitian
a. Populasi
Populasi dalam penelitian jurnal yaitu sebanyak 75 pasien.
Responden pada penelitian berusia diatas 18 tahun. Kriteria inklusi
kriteria inklusi yang merupakan neonatus sadar, usia bayi baru lahir
> 34 minggu, neonatus jangka pendek dan jangka pendek, tidak ada
batasan untuk menyusui, menyusui susu ibu, memiliki pengalaman
diberi makan oleh payudara ibu, tidak ada kelumpuhan pada anggota
badan, dan kelainan kongenital utama seperti sindroma Down dan
sesak napas, rileks , tidak menangis sebelum venipuncture dan
kebutuhan untuk venipuncture. Sedangkan Kriteria eksklusi adalah
aspirasi susu selama penelitian, atau apnea yang dapat mengganggu
intervensi
b. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Sampel pada penelitian ini menggunakan double blind dimana
terdapat 3 kelompok, yaitu kelompok pijat, kelompok menyusui, dan
kelompok kontrol masing masing kelompok berjumlah 25
pasien.Analisa pada penelitian ini menggunakan Tes ANOVA dan
statistik post-hoc. Sedangkan teknik pengambilan sampel pada
penelitian ini menggunakan sistem random atau acak.
c. Intrumen Penelitian
1. NIPS
NIPS digunakan untuk merekam tingkat nyeri pada pasien
neonatus skor dari 0-7
2. Video Dokumentasi
Untuk diobservasi ulang skor nyeri pada responden
Analisis
1. Jenis penelitian yang diambil pada penelitian ini sudah sesuai
dengan teori yaitu penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen
adalah penelitian dimana peneliti memberikan intervensi pada
variabel yang akan diteliti. Pada penelitian ini sudah sangat sesuai
dengan pengertian dari penelitian eksperimen yaitu bahwa peneliti
di sisni hanya melakukan intervensi kepada sampel penelitian
menggunakan instrumen yang sudah ditetapkan.
2. Populasi pada penelitian ini juga sudah sesuai yaitu dimana peneliti
melihat semua pasien menerima informed consent, melakukan
koordinasi dan pendeteksian dan seleksi yang diperlukan untuk
neonatus yang berkualitas (bayi berusia lebih dari 34 minggu dan
neonatus jangka pendek dan dekat), tujuan penelitian dijelaskan
kepada orang tua mereka. Populasi adalah wilayah generalisasi
yang terdiri atas : objek/subjek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2014). Melihat
dari definisi populasi, maka peneliti pada penelitian ini sudah
memenuhi kriteria tersebut dalam melakukan penelitiannya.
3. Sampel penelitian pada penelitian ini juga sudah sesuai, yaitu
peneliti memikirkan azas keadilan dan yang bersedia mengisi
informed consent. Sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2014).
4. Teknik pengambilan sampling pada penelitian ini juga sudah
sesuai. Random Sampling merupakan teknik yang paling bagus
dalam sebuah penelitian karena sampel yang diambil dengan
subjektivitas.
5. Instrumen penelitian pada penelitian ini sangat baik sekali karena
peneliti menggunakan instrumen yang sudah dibakukan
menggunakan NIPS yaitu diigunakan untuk merekam tingkat nyeri
pasien Neonatus, serta menggunakan observasi dan
pendokumentasian.
E. Hasil Penelitian
Skor nyeri rata-rata terendah dicatat pada kelompok pijat (0,92)
sedangkan 4,84 pada kelompok menyusui dan 6,16 pada kelompok
kontrol. Pada kelompok pijat, kontrol, dan kelompok menyusui, yang
menunjukkan perbedaan skor nyeri yang signifikan (F = 437,50, P <0,01).
Uji post hoc Dunken, pada tingkat signifikansi 0,05, menunjukkan
perbedaan skor nyeri yang signifikan antara masing-masing kelompok dan
kelompok lainnya. Skor nyeri terendah terjadi pada kelompok pijat,
kemudian pada kelompok menyusui dan kelompok kontrol. Mengingat
fakta bahwa pijat dan menyusui adalah intervensi alami, berguna, dan
bebas biaya dan tidak memerlukan fasilitas khusus, metode ini disarankan
dalam manajemen nyeri dan pengendalian nyeri selama prosedur yang
menyakitkan yang diadministrasikan untuk bayi.
Analisisa:
Hasil penelitian pada penelitian ini sudah ditampilkan dengan jelas
dan mudah dimengerti. Penulisannya sudah memenuhi kriteria
penulisan hasil dalam sebuah penelitian yaitu mencantumkan sampel dan
p-value. Perbedaan berarti dalam NIPS antara masing masing kelompok.
F. Korelasi antara Isi Jurnal dengan Teori
Pada jurnal ini menjelaskan bahwa metode pemberian pijat bayi efektif
dalam menurunkan nyeri pengambilan darah vena, kemudian baru diikuti
menyusui efektif dalam menurunkan nyeri pengambilan darah vena. Hasil
pada jurnal sesuai dengan teori dimana.
Klodia Maria (2008) menyatakan bahwa sukrosa efisien dalam
pengurangan nyeri tapi menyebabkan mual, muntah dan mengasapi pada
neonatus dan neonatus prematur. Emine Effe (2010), menyatakan tentang
efek menyusui terhadap pengurangan nyeri vaksinasi, menyimpulkan
bahwa pemberian ASI secara signifikan mengurangi rasa sakit vaksinasi
dan memperpendek durasi tangisan neonatus. Selain itu, 9 neonatus dari
33 tidak menangis sama sekali dan sisanya menunjukkan penurunan yang
signifikan dalam durasi jeritan mereka.
Razak dkk., Dalam sebuah studi tentang pengaruh pemberian ASI pada
nyeri vaksinasi, menunjukkan bahwa menyusui mengurangi rasa sakit
pada 30% neonatus pada kelompok intervensi. Sementara itu, vaksinasi
sangat menyakitkan pada 95% neonatus pada kelompok kontrol.
Cheek (2012) menyatakan bahwa pijat tungkai atas bisa menjadi
teknik yang efisien dalam mengurangi nyeri venipuncture karena
mengurangi perilaku manifestasi rasa sakit. Miller (2009), pijat adalah
metode yang tepat untuk menghidupkan kembali rasa sakit dan diterapkan
di klinik dan pusat perawatan medis untuk menghilangkan rasa sakit
kronis, sakit kepala migrain, sakit persalinan, dan rheumatoid arthritis,
namun penelitian yang memadai mengenai pencegahan penumpukan rasa
sakit melalui pijat. . Kontrol gerbang adalah mekanisme, yang
menjelaskan pengurangan nyeri akibat terapi pijat. Field (2011),
mengatakan pijat meningkatkan serotonin, yang merupakan
pembunuh rasa sakit tubuh alami dan menekan rasa sakit.
G. Korelasi antara Isi Jurnal dengan Realitas Klinis ( lahan praktek)
Isi jurnal ini juga memiliki korelasi yang erat dengan realita
klinis di Rumah Sakit RSUD Dr Moewardi yang dalam proses
melakukan tindakan pengurangan nyeri saat melakukan pengambilan
darah vena. Dimana khususnya diruangan NICU saat masih belum
dilakukannya pengurangan nyeri pengambilan darah vena dengan tindakan
pemijatan atau menyusui. Dilapangan hanya dilakukan pemberian ASI
lewat Botol, pemberian itu dilapangan bukan ditujukan untuk menurunkan
nyeri melainkan hanya untuk asupan nutrisi bayi. Dan untuk pemijatan
belum dilakukan untuk mengurangi nyeri saat melakukan pengambilan
darah vena.
Pada jurnal pemijatan dengan tehnik membelai efektif menurunkan
nyeri pengambilan datah vena, kemudian baru di ikuti menyusui efektif
menurunkan nyeri tindakan pengambilan darah vena.

H. Analisis SWOT
1. Strength (Kekuatan)
Jurnal ini memiliki banyak kekuatan yaitu diantaranya: Peneliti
dalam penelitian ini merupakan orang yang sesuai dengan bidangnya.
pada jurnal ini sudah menggunakan alat ukur yang jelas yaitu
instrumen penilai nyeri menggunakan NIPS dan video recorder. Pada
jurnal juga mengguanakan metode penelitian Random clinical trial
dimana metode ini sangat cocok untuk penelitian eksperimen dalam
bidang medis. Intivensi keduanya dapat diterapkan mengingat fakta
bahwa pijat dan menyusui adalah intervensi alami, berguna, dan bebas
biaya dan tidak memerlukan fasilitas khusus dalam mengaplikasikan.
2. Weaknes (Kelemahan)
Ada juga beberapa keterbatasan khususnya dalam tindakan pijat bayi
yaitu dalam penerapannya dibutuhkan perawat yang sudah dibekali
pelatihan u
3. Opportunity (Peluang)
Apabila intervensi mampu untuk diterapkan dengan baik oleh
tenaga medis, maka peluang terbesarnya adalah menurunnya angka
nyeri yang dialami neonatus di ruang NICU. Dengan menurunnya
nyeri karena disebabkan tindakan pengambilan darah vena maka
pelayanan perawatan bayi di ruangan NICU menjadi semakin baik.
Dan Klien merasa puas terhadap pelayanan RSUD Dr. Moewardi, dan
sehingga lebih banyak pasien yang datang dan tentunya akan
berdampak pada meningkatnya pendapatan rumah sakit tersebut.
4. Threated (Ancaman)
Melihat hasil penelitian ini tidak menutup kemungkinan akan
menjadi ancaman untuk rumah sakit terkait. Apabila hal ini tidak
segera dirubah, maka kemungkinan besar keberlangsungan dari rumah
sakit-rumah sakit ini akan segera tergantikan oleh rumah swasta atau
rumah sakit lain yang menerapkan pelayanan yang baik termasuk
memberikan terapi pijat bayi dan menyusui untuk menurunkan nyeri
pengambilan darah vena. Pada kenyataannya walaupun pada rumah
sakit pemerintah memiliki banyak kendala yaitu diantara mungkin
SDM yang belum terbekali oleh pelatihan dalam melaksanakan terapi.

J. Implikasi Keperawatan
Berdasarkan hasil penelitian jurnal ini skor nyeri terendah ada pada
kelompok pijat. Skor kelompok menyusui juga lebih rendah dari kelompok
kontrol. Perlu kita ketahui pijat dan memberikan penerapan menyusui
adalah sebuah tindakan kemandirian keperawatan, berguna dan bebas dan
tidak memerlukan fasilitas khusus, metode ini disarankan untuk
penanganan dan pengendalian nyeri selama prosedur yang menyakitkan
untuk bayi.

J. Manfaat Jurnal
1. Bagi Mahasiswa
Sebagai mahasiswa generasi penerus tenaga medis di rumah sakit
khusunya di NICU, agar setelah membaca analisis jurnal ini bisa
menerapkan pijat bayi dan penerapan menyusui untuk penanganan dan
pengendalian nyeri selama prosedur yang menyakitkan untuk bayi.
2. Bagi Institusi Rumah Sakit
Dapat menjadi pertimbangan untuk melakukan penerapkan pijat bayi
dan penerapan menyusui untuk penanganan dan pengendalian nyeri
selama prosedur yang menyakitkan untuk bayi, dengan mengadakan
pelatihan sebelum diterapkan.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Intervensi pijat bayi dan penerapan menyusui efektif untuk penanganan
dan pengendalian nyeri selama prosedur yang menyakitkan untuk bayi.

B. Saran
1. Bagi Institusi Kesehatan
Bagi Institusi kesehatan yaitu rumah sakit dapat menerapkan intervensi
pijat bayi dan penerapan menyusui efektif untuk penanganan dan
pengendalian nyeri selama prosedur yang menyakitkan untuk bayi.

2. Bagi Mahasiswa Keperawatan


Diharapkan bagi mahasiswa kesehatan yang berada di NICU dapat
menerapkan penelitian ini kepada pasien yang akan dilakukan prosedur
yang menyakitkan
Daftar Pustaka
1. Agustina, H. R. (2009). Perawatan Luka Modern. Dalam http://www.-fkep.
unpad. ac. id/2009/01/perawatan-luka-modern/rsitas Padja-djaran.
2. Bredow, J., Oppermann, J., Hoffmann, K., Hellmich, M., Wenk, B.,
Simons, M., ... & Zarghooni, K. (2015). Clinical trial to evaluate the
performance of a flexible self-adherent absorbent dressing coated with a
soft silicone layer compared to a standard wound dressing after orthopedic
or spinal surgery: study protocol for a randomized controlled
trial. Trials, 16(1), 81.
3. Widyastuti, Y. (2016). Hubungan Antara Index Masa Tubuh (Imt) Dan
Kadar Hemoglobin Dengan Proses Penyembuhan Luka Post Operasi
Laparatomi. IJMS-Indonesian Journal on Medical Science, 3(2).
4. Morison, M., Ovington, L. G., & Wilkie, K. (Eds.). (2004). Chronic
wound care: a problem-based learning approach. Mosby Incorporated.
5. Maryunani, A. (2013). Perawatan Luka Modern (Modern Woundcare)
Sebagai Bentuk Tindakan Keperawatan Mandiri.
6. Potter, P. A., Perry, A. G., Stockert, P., Hall, A., & Peterson, V.
(2006). Clinical Companion for Fundamentals of Nursing. Elsevier Health
Sciences.
7. Sugiyono. (2014). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
8. Pelet SCM, Denault A, Provost J. Reduction of tape blisters after hip
surgery- a prospective evaluation of three kinds of bandges. J Bone Joint
Surg (Br). 2012; 94-B: no. SUPP XXXVIII 164.

9. Wilson, D., & Hockenberry, M. J. (2012). Wong’s clinical manual of


pediatric nursing. St. Louis Missouri: Mosby Elsevier

10. American Academy of Pediatrics. (2000). Prevention and management of


pain and stress in the neonate. Pediatrics, 105, 454-61.

11. Agarwal, R., Hogedom, M.L., & Gardner, S.L. (2006). Pain and pain
relief: Handbook of neonatal care (pp. 191-218). St. Louis: Mosby

12. Sahoo, J.P., Rao, S., Nesargi, S., Ranjit T., Ashok, C., & Bhat, S. (2013).
Expressed breastmilk vs 25% dextrose in procedural pain in neonates,
a double blind randomized controlled trial. Indian Pediatr, 50(2), 194-5

13. Anand, K.J., & The International EvidenceBased Group for neonatal Pain.
(2001). Consensus statement for the prevention and management of
pain innewborn. Arch Pediatr Adolesc Med, 155.

14. Badr, L. K., Abdallah, B., Hawari, M., Sidani, S., Kassar, M., & Nakad, P.
(2010). Determinans of premature infants pain responses to
heelsticks. Pediatrics Nursing, 36(3), 129-136.

15. Tsao, J. C. I., Evans, S., Meldrum, M., Altman, T., & Zeltzer, L. K.
(2007). A review of CAM for procedural pain in infancy: Part I. Sucrose
and non nutritive sucking. Adance Acces Publication, 5(4), 371-381.

16. Shah, P. S., Herbozo, C., Aliwalas, L. L., &Shah, V. S. (2012).


Breastfeeding or breast milk forprocedural pain in neonates. Cochrane
Database of Systematic Reviews. Issue 12.
Lampiran