You are on page 1of 14

5

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Air
2.1.1 Pengertian air
Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan oleh semua makhluk

hidup. Oleh karena itu, sumber daya air harus dilindungi agar tetap dapat

dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta makhluk hidup yang lain. Masalah

yang banyak dihadapi oleh sumber daya air meliputi kuantitas air yang sudah tidak

mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat dan kualitas air untuk

keperluan domestik yang semakin menurun (Effendi, Hefni. 2003).


2.1.2 Karakteristik air
Air menutupi sekitar 70% permukaan bumi, dengan jumlah sekitar 1.368

juta km3 (Angel dan Wolseley, 1992). Air terdapat dalam berbagai bentuk ,

misalnya uap air, es, cairan dan salju. Air tawar terutama terdapat di sungai, danau,

air tanah dan gunung es (Suripin, 2002).


Menurut Hefni Effendi (2003), air memiliki karakteristik khas yang tidak

dimiliki oleh senyawa kimia lain. Karakteristik air adalah sebagai berikut :
a. Pada kisaran suhu yang sesuai untuk kehidupan, yakni 0oC – 100oC, dan air

berwujud cair.
b. Perubahan suhu air berlangsung lambat sehingga air memiliki sifat sebagai

penyimpan panas yang sangat baik.


c. Air memerlukan panas yang tinggi dalam proses penguapan.
d. Air merupakan pelarut yang baik.
e. Air memiliki tegangan permukaan yang tinggi.
f. Air merupakan satu-satunya senyawa yang merenggang ketika membeku.
2.1.3 Ciri-ciri air bersih

Pengertian air bersih menurut Permenkes RI No 416/Menkes/PER/IX/1990

adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan dapat diminum setelah

dimasak. Menurut Herawati (2007), Standar kualitas air pada hakekatnya dibuat

untuk memberikan petunjuk tentang konsentrasi berbagai parameter yang


6

sebaiknya diperbolehkan ada dalam air, khususnya untuk air minum, yaitu antara

lain:

a. Jumlah zat padat terlarut (Total Dissolved Solid / TDS), biasanya terdiri zat

organik, garam anorganik dan gas terlarut.


b. Kekeruhan (Total Suspended Solid /TSS), disebabkan oleh zat padat yang

tersuspensi, baik yang bersifat anorganik maupun yang organic.


c. Tidak berwarna
2.1.4 Air minum
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002, Air minum

adalah air yang digunakan untuk konsumsi manusia. Menurut departemen

kesehatan, syarat-syarat air minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak

berwarna, tidak mengandung mikroorganisme yang berbahaya, dan tidak

mengandung logam berat. Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan

ataupun tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat

langsung di minum.
2.2 Formalin
2.2.1 Pengertian formalin
Formalin merupakan larutan komersial dengan konsentrasi 10-40% dari

formaldehid. Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk sudah diencerkan

yaitu dengan kadar formaldehidnya 40, 30, 20 dan 10 persen serta dalam bentuk

tablet yang beratnya masing-masing sekitar 5 gram (Handayani, 2006).


Menurut Wisnu Cahyadi (2006), formalin adalah cairan jernih yang tidak

berwarna atau hampir tidak berwarna dengan bau yang menusuk, uapnya

merangsang selaput lendir hidung dan tenggorokan. Pada umumnya, formalin

terbentuk akibat reaksi oksidasi katalik pada methanol. Oleh sebab itu formalin

dapat dihasilkan dari pembakaran bahan yang mengandung karbon dan terkandung

dalam asap pada kebakaran hutan, knalpot mobil, dan asap tembakau.
Penggunaan formalin menurut Nurheti Yuliarti (2007), yang sebenarnya bukan

untuk makanan, melainkan sebagai antiseptik, germisida, dan pengawet


7

nonmakanan. Formalin mempunyai banyak nama kimia yang biasa didengar

dimasyarakat, diantaranya :
a. Formol
b. Methylene aldehyde
c. Paraforin
d. Morbicid
e. Oxomethane
f. Polyoxymethylene glycols
g. Methanal
h. Formoform
i. Superlysoform
j. Formic aldehyde
k. Formalith
l. Tetraoxymethylene
m. Methyl oxide
n. Karsan
o. Trioxane
p. Oxymethylene
q. Methylene glycol
2.2.2 Fungsi formalin
Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila

digunakan secara benar, formalin akan banyak manfaatnya, misalnya sebagai

antibakteri atau pembunuh kuman dalam berbagai jenis keperluan industri, yakni

pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian, pembasmi lalat maupun berbagai

serangga lainnya. Dalam dunia fotografi biasanya digunakan sebagai pengeras

lapisan gelatin dan kertas (Yuliarti, Nurheti. 2007).


Formalin juga sering digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk urea, bahan

pembuatan produk parfum, pengawet produk kosmetika, pengeras kuku dan bahan

untuk insulasi busa. Formalin juga dipakai sebagai pencegah korosi untuk sumur

minyak (Yuliarti, Nurheti. 2007).


Di bidang industri kayu, formalin digunakan sebagai bahan perekat untuk

produk kayu lapis (plywood). Dalam konsentrasi yang sangat kecil (<1 persen)

digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih

rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil,

lilin dan karpet.


8

Di dalam industri perikanan, formalin digunakan untuk meghilangkan bakteri

yang biasa hidup di sisik ikan. Formalin sering digunakan dan efektif dalam

pengobatan penyakit ikan akibat ektoparasit seperti fluke dan kulit berlendir.

Meskipun demikian, bahan ini juga sangat beracun bagi ikan. Ambang batas

amannya sangat rendah sehingga terkadang ikan yang diobati mati akibat formalin

daripada akibat penyakitnya. Formalin banyak digunakan dalam pengawetan

sampel ikan untuk keperluan penelitian dan identifikasi. Didunia kedokteran

formalin digunakan dalam pengawetan mayat. Untuk pengawetan mayat, biasanya

digunakan formalin dengan kosentrasi 10% (Yuliarti, Nurheti. 2007).


2.2.3 Bahaya formalin
Formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia.

Jika kandungannya dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir

semua zat di dalam sel sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian

sel yang berujung pada kerusakan organ tubuh. Selain itu, kandungan formalin

yang tinggi dalam tubuh juga dapat menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat

karsinogenik, serta orang yang mengonsumsinya akan muntah, diare bercampur

darah (Effendi, Supli. 2009).


Formalin banyak disalahgunakan pemakaiannya dikarenakan harganya yang

sangat murah dan mudah didapatkan. Formalin juga tidak dapat hilang dengan

pemanasan. Oleh karena itu, penggunaan formalin dalam makanan tidak dapat

ditoleransi dalam jumlah sekecil apapun (Yuliarti, Nurheti. 2007).


2.2.4 Dampak formalin bagi kesehatan
Formalin tidak hanya berbahaya jika dikonsumsi, melainkan juga berbahaya

bila melakukan kontak terhadap formalin. Formalin masuk ke dalam tubuh

manusia melalui 2 jalan, yaitu melalui mulut dan saluran pernafasan. Gangguan

kesehatan yang terjadi tergantung pada cara masuk zat ini ke dalam tubuh

(Cahyadi,Wisnu.2006).
9

Kontak dengan formalin bisa mengakibatkan luka bakar jika mengenai kulit,

iritasi pada saluran pernafasan bila menghirup uapnya dalam konsentrasi tinggi,

maupun reaksi alergi dan bahaya kanker pada manusia (Yuliarti, Nurheti. 2007).
Formalin merupakan zat yang bersifat karsinogenik atau bisa menyebabkan

kanker. Dalam jumlah sedikit, formalin akan larut dalam air dan akan dibuang

keluar bersama cairan tubuh sehingga keberadaan formalin dalam darah sulit

terdeteksi. Imunitas tubuh sangat berperan dalam berdampak tidaknya formalin di

dalam tubuh. Jika imunitas rendah atau mekanisme pertahanan tubuh rendah,

sangat mungkin formalin dengan kadar rendah pun bisa berdampak buruk terhadap

kesehatan (Effendi,Supli. 2009).


Menurut IPCS (International Programme on Chemical Safety), secara umum

ambang batas aman di dalam tubuh adalah 1 ppm. Bila formalin masuk kedalam

tubuh melebihi ambang batas tersebut maka dapat mengakibatkan gangguan pada

organ dan sistem tubuh manusia. Akibat yang ditimbulkan tersebut dapat terjadi

dalam waktu singkat atau jangka pendek dan dalam jangka panjang, bisa melalui

hirupan, kontak langsung, atau tertelan (Yuliarti, Nurheti. 2007).


Dampak formalin bagi kesehatan, yaitu:

a. Bahaya jangka pendek (akut)

a). Bila terhirup

iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, rasa terbakar

pada hidung dan tenggorokan, batuk-batuk. Kerusakan jaringan dan luka

pada saluran pernafasan seperti radang paru, pembengakakan paru. Pada

konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian.

b). Bila terkena kulit

Apabila terkena kulit maka akan menimbulkan perubahan warna, yakni kulit

menjadi merah, mengeras, mati rasa dan ada rasa terbakar.


10

c). Bila terkena mata

Dapat menimbulkan iritasi mata sehingga mata merah, rasanya sakit, gatal-

gatal, penglihatan kabur dan mengeluarkan air mata. Bila bahan

berkonsetrasi tinggi maka dapat menyebabkan pengeluaran air mata yang

hebat dan terjadi kerusakan apada lensa mata.

d). Bila tertelan

Menyebabkan mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan,

mual, muntah, diare, sakit kepala. Dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak,

limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal.

b. Bahaya jangka panjang (kronis)

1. Bila terhirup

Menimbulkan radang selaput lendir, luka pada ginjal. Menimbulkan Efek

neuropsikologis meliputi keseimbangan tubuh terganggu, kehilangan

konsentrasi dan daya ingat berkurang. Gangguan haid dan kemandulan pada

perempuan. Dapat menyebabkan Kanker pada hidung, mulut, tenggorokan,

paru dan otak.

2. Bila terkena kulit

Kerusakan pada jari tangan, pengerasan kulit dan kepekaan kulit dan terjadi

radang kulit yang menimbulkan gelembung.

3. Bila terkena mata

Menimbulkan radang selaput mata.

4. Bila tertelan

Rasa gatal di dada, penurunan suhu badan.


11

(Wicaksana,Widya.http://supermilan.wordpress.com/2009/05/11/mengenal-

formalin -dan-bahayanya/).

2.2.5 Penanganan bila terpapar formalin

Penanganan bila terpapar formaldehid dapat dilakukan berdasarkan jalur

masuk formaldehid tersebut kedalam tubuh :

1. Bila terhirup

Tindakan awal yang harus dilakukan adalah menghindarkan penderita dari

daerah paparan ke tempat yang aman. Bila penderita terkena sesak berat, kalau

perlu gunakan masker berkatup atau peralatan sejenis untuk melakukan

pernafasan buatan

2. Bila terkena kulit

Lepaskan pakaian, perhiasan dan sepatu yang terkena formaldehid. Cuci kulit

selama 15 – 20 menit dengan sabun atau deterjen lunak dan air yang banyak

dan dipastikan tidak ada lagi bahan yang tersisa di kulit. Pada bagian yang

terbakar, lindungi luka dengan pakaian yang kering, steril dan longgar.

3. Bila terkena mata

Bilas mata dengan air mengalir yang cukup banyak sambil mata dikedip-

kedipkan. Pastikan tidak ada lagi sisa formaldehid di mata. Aliri mata dengan

larutan garam dapur 0,9 % secara terus menerus sampai penderita siap dibawa

ke rumah sakit atau dokter.

4. Bila tertelan

Segera minum susu atau norit untuk mengurangi penyerapan zat berbahaya

tersebut. Bila diperlukan segera hubungi dokter atau dibawa ke rumah sakit

(Wicaksana,Widya.http://supermilan.wordpress.com/2009/05/11/mengenal-

formalin -dan-bahayanya/).
12

2.3 Tahu
2.3.1 Pengertian tahu
Tahu berasal dari bahasa Cina, yakni tao-hu atau teu-hu. Kata tao atau teu

berarti kacang kedelai. Sedangkan hu berarti hancur menjadi bubur. Jadi, secara

harfiah, tahu adalah makanan yang bahan bakunya dari kedelai yang dihancurkan

menjadi bubur (Ismiatun, 2000).


Tahu merupakan hasil dari ekstraksi protein kedelai menjadi gumpalan dan

pencetakannya melalui proses pengendapan protein. Dasar pembuatan tahu adalah

melarutkan protein yang terkandung dalam kedelai dengan menggunakan air

sebagai pelarutnya (Sadimin, 2007).


2.3.2 Kandungan gizi tahu
Kedelai merupakan bahan utama pembuatan tahu yang memiliki kandungan

nilai gizi yang relatif tinggi dan lengkap. Kedelai mengandung protein 35%,

bahkan pada varietas unggul kadar proteinnya dapat mencapai 40%-45%. Kedelai

memiliki kandungan protein yang lebih setara dengan kadar protein pada susu

(Sadimin,2007). Sedangkan menurut Ismiatun (2001), setiap satu kilogram biji

kedelai mengandung kurang lebih protein 40%, lemak 20%, magnesium 0,5%,

fosfat (P2O5) 1,7%, kalium 2,3%, kapur 0,5% serta karbohidrat 35%.
Menurut Direktorat Gizi Departemen Kesehatan Republik Indonesia,

komposisi zat gizi dalam 100 gram tahu mengandung energi 63 kal, air 86.7 gr,

protein 7.9 gr, lemak 4.1 gr, karbohidrat 0.4 gr, serat 0.1 gr, abu 0.9 gr, kalsium

150.0 mg, besi 2.2 mg, niacin 0.4 mg, vitamin B10.04 mg.

Kandungan unsur gizi dan kalori dalam kedelai dan tahu, yaitu sebagai berikut
Tabel 2.1 kandungan unsur gizi dan kalori dalam kedelai dan tahu.

No. Unsur gizi Kedelai / 100 gr Tahu / 100 gr


1. Energi (kal) 442 kal 79 kal
2. Air 7.5 g 84.8 g
13

3. Protein 34.9 g 7.8 g


4. Lemak 18.1 g 4.6 g
5. Karbohidrat 34.8 g 1.6 g
6. Mineral 4.7 g 1.2 g
7. Kalsium 227 mg 124 mg
8. Fosfor 585 mg 63 mg
Sumber : Sadimin, 2007
2.3.3 Proses membuat tahu
Berikut ini merupakan tahapan pembuatan tahu yang umum dilakukan oleh para

pembuat tahu, yaitu :


a. Mencuci kedelai dengan air bersih untuk membuang kotoran yang masih

tercampur dengan kedelai. Batu-batuan dan biji lain yang bukan kedelai juga

dibuang.
b. Merendam kedelai dengan air bersih selama 3-4 jam. Perendaman kedelai ini

sebaiknya menggunakan air bersih agar tidak mengurangi cita rasa tahu yang

dihasilkan.
c. Kedelai yang sudah direndam, selanjutnya digiling dengan mesin penggiling

sampai halus. Sewaktu digiling sebaiknya kedelai dicampur dengan air.


d. Kedelai yang sudah digiling halus selanjutnya direbus hingga matang.

Perebusan dilakukan selama 20-30 menit atau hingga air mendidih.


e. Bubur kedelai yang sudah direbus dan matang kemudian diambil sari tahunya.

Caranya, bubur kedelai dibungkus dengan menggunakan kain saringan tahu.

Kemudian, bubur tahu ini diberi pemberat, baik berupa batu atau balok.

Tujuannya agar sari tahu keluar dan menyisakan ampasnya.


f. Sari tahu hasil penyaringan selanjutnya diendapkan ke dalam wadah yang

umumnya berupa bak semen bundar atau drum. Ini dilakukan agar sarinya

mengendap dan keras menjadi tahu.


g. Setelah sari tahu mengendap, sebaiknya air dipisahkan dari endapan.
h. Endapan yang tersisa kemudian dicetak dalam blabak yang sudah dialasi dengn

kain saringan tahu.


i. Setelah endapan dituang dan tingginya hampir rata dengan bibir kotak

pembatas, kain saringan tahu yang tersisa dilipat ke atas. Kemudian didiamkan

selama 15 menit.
14

j. Setelah dicetak, tahu dibuka dan dipindahkan ke blabak lain yang diletakkan

diatas rak. Tujuannya untuk menghilangkan kadar airnya. Lima menit

kemudian, tahu siap dipotong-potong sesuai selera.


k. Setelah dipotong-potong tahu siap dijual.
(Dahlia,Mutiara dan Rusilanti, 2007)
2.3.4 Ciri-ciri tahu yang berformalin
1. Semakin tinggi kandungan formalin, maka tercium bau obat yang semakin

menyengat ; sedangkan tahu tidak berformalin akan tercium bau protein

kedelai yang khas.


2. Tahu yang berformalin akan tahan lama, sedangkan yang tidak berformalin

paling tahan hanya satu/dua hari.


3. Tahu yang berformalin mempunyai sifat membal (jika ditekan terasa sangat

kenyal), sedangkan tahu tak berformalin jika ditekan akan hancur.


(Yuliarti, Nurheti. 2007).
2.4 Spektrofotometri

Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang

digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan

kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahaya. Peralatan yang

digunakan dalam spektrofotometri disebut spektrofotometer (Wikipedia).

Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari

spectrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan

panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang

di transmisikan atau yang di absorpsi (Aisyah, 2008).

Berdasarkan serapan yang terjadi, spektrofotometer dapat dibagi menjadi :

a. Serapan atom ( Jenis: Spektrofotometer serapan atom/AAS )


b. Serapan Molekul ( Jenis: Spektrofotometer UV-Vis )
2.4.1 Spektrofotometri UV-VIS

Spektrofotometri ini merupakan gabungan antara spektrofotometri UV

dan Visible. Menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda, sumber cahaya UV

dan sumber cahaya visible Untuk sistem spektrofotometri, UV-Vis paling banyak
15

tersedia dan paling populer digunakan. Kemudahan metode ini adalah dapat

digunakan baik untuk sample berwarna juga untuk sample tak berwarna

(Riyadi,Wahyu.2009).

Menurut Suharman (1995) Spektrofotometri UV-Vis adalah teknik analisis

spektroskopik yang memakai sumber radiasi elektromagnetik UV dekat (190-380

nm) dan sinar tampak (380-780 nm) dengan memakai instrumen

spektrofotometer. Radiasi UV jauh (100-190nm) tidak dipakai, sebab pada daerah

radiasi tersebut diabsorpsi oleh udara (Sukmawati,2011).

Prinsip kerja dari spektrofotometri ini adalah adanya interaksi antara materi

dengan cahaya yang memiliki panjang gelombang tertentu

Pada dasarnya spektrofotometer tersusun dari beberapa bagian yaitu

a. Sumber cahaya

Sumber cahaya polikromatis berfungsi sebagai sumber sinar polikromatis

dengan berbagai macam rentang panjang gelombang. Untuk sepktrofotometer

UV-VIS menggunakan photodiode yang telah dilengkapi monokromator.

b. Monokromator

Monokromator berfungsi sebagai penyeleksi panjang gelombang yaitu

mengubah cahaya yang berasal dari sumber sinar polikromatis menjadi cahaya

monaokromatis. Jenis monokromator yang saat ini banyak digunakan adalan

gratting atau lensa prisma dan filter optik.

c. Tempat sampel,

UV-VIS menggunakan kuvet sebagai tempat sampel. Kuvet biasanya terbuat

dari kuarsa atau gelas, namun kuvet dari kuarsa yang terbuat dari silika

memiliki kualitas yang lebih baik.


16

d. Detektor/ Sensor cahaya,

berfungsi menangkap cahaya yang diteruskan dari sampel dan mengubahnya

menjadi arus listrik (Sopyan,Iis.2002).

Faktor-faktor yang sering menyebabkan kesalahan dalam menggunakan

spektrofotometer dalam mengukur konsentrasi suatu analit:

a. Adanya serapan oleh pelarut. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan

blangko, yaitu larutan yang berisi selain komponen yang akan dianalisis

termasuk zat pembentuk warna.

b. Serapan oleh kuvet. Kuvet yang ada biasanya dari bahan gelas atau kuarsa,

namun kuvet dari kuarsa memiliki kualitas yang lebih baik.

c. Kesalahan fotometrik normal pada pengukuran dengan absorbansi sangat

rendah atau sangat tinggi, hal ini dapat diatur dengan pengaturan konsentrasi,

sesuai dengan kisaran sensitivitas dari alat yang digunakan (melalui

pengenceran atau pemekatan)

(Seran,Emel.2011.http://wanibesak.wordpress.com/2011/07/04/pengertian-

dasar-spektrofotometer-vis-uv-uv-vis/).

Penetapan kadar secara kuantitatif dilakukan dengan mengukur serapan larutan

zat dalam suatu pelarut pada panjang gelombang tertentu. Pengukuran serapan biasanya

dilakukan pada panjang gelombang serapan maksimum. Oleh karena serapan dapat

berbeda jika digunakan alat yang berbeda, maka sebaiknya pengukuran dilakukan pada

panjang gelombang serapan maksimum yang diperoleh dengan alat yang digunakan

(Ditjen POM, 1995).

2.5 Pemeriksaan formalin


2.5.1 Uji kualitatif
a. Metode asam kromatropat
17

Metode yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya formalin dalam

bahan makanan.

Metode asam kromatropat ini, dilakukan dengan cara sebagai berikut

Mencampurkan 10 gram sampel dengan 50 ml air dengan cara

menggerusnya dalam mortir. Campuran dipindahkan kedalam labu destilat dan

diasamkan dengan H3PO4. Labu destilat dihubungkan dengan pendingin dan

didestilasi. Hasil destilasi ditampung.

Larutan pereaksi asam kromatofat 0,5% dalam H 2SO4 72% (asam 1,8

dihidroksinaftalen 3,6 disulfonat) sebanyak 5 ml dimasukkan dalam tabung

reaksi, ditambahkan 1 ml larutan hasil destilasi sambil diaduk. Tabung reaksi

dimasukkan dalam penangas air yang mendidih selama 15 menit dan amati

perubahan warna yang terjadi. Adanya HCOH ditunjukkan dengan adanya

warna ungu terang sampai ungu tua (Cahyadi, Wisnu. 2008).

b. Uji dengan Ferri klorida (untuk contoh susu dan olahannya)


Dengan penambahan pereaksi asam asetat 4N dan etil eter, bila terdapat

formaldehid maka akan terbentuk warna merah lembayung (Cahyadi, Wisnu.

2008).
c. Test KMnO4

Awalnya sampel dihancurkan menggunakan blender, kemudian

ditambahkan 30 ml aquadest lalu disaring dengan kapas. Ambil 2 ml filtrat lalu

tambahkan 1 tetes KMnO4. Adanya formalin ditunjukkan oleh hilangnya warna

pink dari KMnO4 (http://adhillamark.blogspot.com/2009/07/cara-cepat-deteksi-

formalin.html).

2.5.2 Uji kuantitatif


a. Metode Spektrofotometri
Dilakukan dengan cara membuat larutan baku induk dari konsentrasi 1000 ppm

dari formalin 37%, kemudian diencerkan dalam labu ukur 100 ml dengan
18

aquadest sampai tanda batas, kemudian larutan tersebut dibuat larutan baku

standart. Larutan pereaksi asam kromatofat 5 ml dimasukkan kedalam tabung

reaksi kemudian ditambahkan 1 ml larutan standart formalin sambil diaduk.

Tabung reaksi dimasukkan kedalam penangas air yang mendidih selama 15

menit, angkat dan dinginkan kemudian masukkan kedalam cuvet dan ukur

absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 560 nm.

Penetapan kadar formalin pada sampel, mancampurkan 10 gram sampel dengan

50 ml air dengan cara menggerusnya dalam lumpang. Campuran dipindahkan ke

dalam labu destilat dan diasamkan dengan H3PO4. Labu destilat dihubungkan

dengan pendingin dan disuling. Hasil sulingan ditampung dan ditambahkan

pereaksi asam kromatrofat sebanyak 5 ml, diencerkan dengan labu ukur 50 ml

sampai tanda batas. Kemudian sampel tersebut diukur absorbansinya dengan

spektrofotometer (Cahyadi, Wisnu. 2008).


b. Metode Acidi-Alkali

Dilakukan dengan cara menimbang dengan seksama 3gr bahan, kemudian

ditambah dengan campuran 25 ml hidrogen peroksida encer dan 50 ml natrium

hidroksida 0,1 N. Kemudian dipanaskan di atas penangas air hingga pembuihan

berhenti, dan dititrasi dengan asam klorida 0,1 N menggunakan indikator larutan

fenolftalein. Dilakukan penetapan blanko, memipet 50 ml NaOH 0,1 N dan 25

ml H2O2 ditambah 2 -3 tetes indikator fenolftalein (Anonim,1979).