You are on page 1of 3

Tugas jaga 16.3.2017 – Tim Jaga: dr. Anthony, dr. Wisnuardhy, dr. Michael, dr.

Febrianto, dr. Ricky, dr. Ahmad, dr. Putri

Infeksi Luka Operasi


Infeksi Luka Operasi (ILO) atau Infeksi Tempat Pembedahan (ITP)/ Surgical Site Infection
(SSI) adalah infeksi pada luka operasi atau organ/ruang yang terjadi dalam 30 hari paska
operasi atau dalam kurun 1 tahun apabila terdapat implant. Sumber bakteri pada ILO dapat
berasal dari pasien, dokter dan tim, lingkungan, dan termasuk juga instrumentasi (Hidayat
NN, 2009).

Klasifikasi
Klasifikasi SSI menurut The National Nosocomial Surveillence Infection (NNIS) terbagi
menjadi dua jenis yaitu insisional dibagi menjadi superficial incision SSI yang melibatkan
kulit dan subkutan dan yang melibatkan jaringan yang lebih dalam yaitu, deep incisional SSI.

Superficial Incision SSI (ITP Superfisial)


Merupakan infeksi yang terjadi pada kurun waktu 30 hari paska operasi dan infeksi tersebut
hanya melibatkan kulit dan jaringan subkutan pada tempat insisi dengan setidaknya
ditemukan salah satu tanda sebagai berikut :
1. Terdapat cairan purulen dan tanda infeksi terjadi setelah prosedur operasi
2. Ditemukan kuman dari cairan atau tanda dari jaringan superfisial (kulit dan jaringan
subkutan pada tempat insisi) yang diambil secara aseptic
3. Terdapat minimal satu dari tanda-tanda inflammasi (nyeri atau nyeri tekan, bengkak
terlokalisir, kemerahan, hangat)
4. Dinyatakan oleh ahli bedah atau dokter yang merawat.
Deep Insicional SSI ( ITP Dalam )
Merupakan infeksi yang terjadi dalam kurun waktu 30 hari paska operasi jika tidak
menggunakan implan atau dalam kurun waktu 1 tahun jika terdapat implan dan infeksi
tersebut memang tampak berhubungan dengan operasi dan melibatkan jaringan yang lebih
dalam (contoh, jaringan otot atau fasia ) pada tempat insisi dengan setidaknya terdapat salah
satu tanda :
1. drainase purulen dari insisi profunda tetapi bukan berasal dari komponen organ/
rongga dari daerah pembedahan;
2. Dehisensi dari fasia secara spontan
3. Ditemukannya adanya abses atau bukti lain operasi pada reoperasi, PA atau
radiologis.
4. Dinyatakan infeksi oleh ahli bedah atau dokter yang merawat
Organ/ Space SSI ( ITP organ dalam)
Merupakan infeksi yang terjadi dalam kurun waktu 30 hari paska operasi jika tidak
menggunakan implan atau dalam kurun waktu 1 tahun jika terdapat implan dan infeksi
tersebut memang tampak berhubungan dengan operasi dan melibatkan suatu bagian anotomi
tertentu (contoh, organ atau rongga) pada tempat insisi yang dibuka atau dimanipulasi pada
saat operasi dengan setidaknya terdapat salah satu tanda :
1. Keluar cairan purulen dari drain organ dalam.
2. Didapat isolasi bakteri yang berasal dari organ dalam.
3. Ditemukan abses dari organ atau rongga di sekitar tempat insisi
4. Dinyatakan infeksi oleh ahli bedah atau dokter.
Santoso, 2009. Penyembuhan Luka. (Online),
http://www.Dr.Budhi.Santoso@ho.otsuka.co.id/2009/10/28/penyembuhan-luka.html/diakses
tanggal, 30-10-2010, jam 15.40WIB)

Penanganan pasien infeksi Intra Abdominal


Evaluasi Diagnosa Awal
1. Anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium dapat digunakan untuk
mendiagnosa mayoritas pasien dengan curiga infeksi intra abdomen.
2. Beberapa pasien dengan temuan pemeriksaan fisik yang masih meragukan untuk
diagnosa infeksi intra abdomen, contohnya pada pasien dengan gangguan kesadaran,
cedera medulla spinalis. pasien dengan immunocompromised, infeksi intra abdomen
harus dipikirkan bila pasien didapatkan gejala infeksi namun belum jelas sumber
infeksinya.
3. Pemeriksaan penunjang tidak diperlukan pada pasien dengan gejala yang jelas adanya
peritonitis generalisata dan pada pasien yang harus segera dilakukan tindakan operasi.
4. Pada pasien dewasa yang tidak perlu dilakukan tindakan laparotomy darurat, CT Scan
adalah modalitas piihan untuk menentukan adanya infeksi intra abdomen dan sumbernya.
Resusitasi cairan
5. Pasien harus segera mendapat resusitasi untuk mengembalikan volume intravascular dan
monitoring hemodinamik hingga stabil
6. Pasien dengan shock sepsis, resusitasi harus segera dimulai sesegera mungkin ketika
teridentifikasi
7. Pasien tanpa gejala kekurangan volume intravascular, terapi cairan intravena harus
dimulai ketika diagnosa infeksi intra abdomen dicurigai
Terapi Antibiotika
8. Terapi antibiotika harus segera diberika begitu pasien di diagnosa didapatkan infeksi
intra abdomen atau bila infeksi intra abdomen kemungkinan besar terjadi
9. Pasien tanpa shock sepsis, terapi antibiotika harus diberikan sejak di IGD
10. Kadar antibiotika yang mencukup harus tercapai dan dipertahankan selama melakukan
tindakan operasi dan source control, dimana mungkin diperlukan diberkan pemberian
dosis tambahan sebelum dimulai operasi
Infeksi pada pasien anak Infeksi pada pasien dewasa
Regimen - Tingkat keparahan ringan- Tingkat keparahan
sedang : perforasi atau berat: gangguan
abses appendisitis fisiologis berat, usia
tua, atau keadaan
immunocompromise
d
Single Ertapenem, meropenem, Cefoxitin, ertapenem, Imipenem-cilastatin,
agent imipenem-cilastatin, moxifloxacin, tigecycline, meropenem,
ticarcilin-clavunate dan dan ticarcilin-clavulanic doripenem, dan
piperacillin-tazobactam acid piperacilin-
tazobactam
Kombinas Ceftriaxone- Cefazolin,metronidazole, Cefepime-
i metronidazole, cefotaxime- cefuroxime,metronidazole metronidazole
metronidazole, cefepime- , ceftazidime-
metronidazole atau ceftriaxone,metronidazole metronidazole,
ceftazidime- , cefotaxime- ciprofloxacin-
metronidazole, gentamicin- metronidazole, metronidazole, atau
metronidazole/clindamycin ciprofloxacin- levofloxacin-
, tobramycin- metronidazole, metronidazole
metronidazole/clindamycin levofloxacin-
dan dengan atau tanpa metronidazole
ampicillin.

11. Tindakan Source control yang baik untuk menghilangkan fokal infeksi, dengan
melakukan reseksi, diversi, mengembalikan fungsi anatomi dan fisiologis normal
direkomendasikan untuk semua pasien dengan infeksi abdomen
12. Pasien dengan peritonitis generalisata harus segera dilakukan tindakan operasi segera
sedini mungkin meskipun tindakan resusitasi masih harus dilakukan selama tindakan
operasi tersebut
13. Drainase abses dan tindakan drainase cairan yang lain lebih baik dilakukan secara
perkutan terlebih dahulu sampai kondisi pasien stabil
14. Untuk pasien dengan hemodinamik stabil tanpa ada tanda adanya kegagalan organ,
pendekatan darurat harus dilakukan. Tindakan operasi dapat ditunda paling lambat 24
jam bila pemberian terapi antibiotic yang tepat sudah diberikan dan dilakukan
monitoring ketat tanda vital pasien
15. Pada pasien dengan peritonitis berat, tindaka relaparotomi tidak direkomendasikan
bila tidak didapatkan tanda adanya tanda didapatkan perforasi intestinal atau
hipertensi intra abdominal.
Solomkin, et al. Diagnosis and Management of Complicated Intra-abdominal Infection
in Adults and Children: Guidelines by the Surgical Infection Society and the Infectious
Diseases Society of America. 2016. IDSA GUIDELINES. USA.
Downloaded from http://cid.oxfordjournals.org/ by guest on August 10, 2016