You are on page 1of 3

Volume 4 No.

2 Warta Tumbuhan Obat Indonesia 17

2. Ekstrak batang brotowali tidak menunjukkan daya anti jamur 2. Hargono Djoko. Tumbuhan obat yang potensial dikembangkan
dalam fitofarmaka. Simposium Penelitian Tumbuhan
terhadap Candida albicans. Obat V den Expo Jamu 1986;2.
3. Ekstrak batang brotowali 0,7 g/mL belum menunjukkan efek 3. Heyne K. Tumbuhan Berguna lndonesia 1. Badan Penelitian dan
terhadap Trichophyton ajelloi dan mulai menunjukkan efek Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan,
1987;775-756.
fungistatik pada konsentrasi 0,9 f'-T
4. Backer CA. Bakhuizen van den Brink Jr, RC Flora of Java Vol. II, NVP
Noordhoff Groningen, The Nedherlands, 1965;157-158.
SARA 5. Mardisiswojo, Sudarman dan Rajakmangunsudarso, Harsono. Cabe
Perlu ditel~tlmengenai kandungan zat bermastat tanaman Puyang Warisan Nenek Moyang. PT Karya Wreda, Jakarta,
brotowali yang mempunyai daya antimikrobaselain berberin yang 1971:15.
6. Bailey W, Robert & Scott. Elvyn G. Diagnostic Microbiology, a
telah diketahui
Textbook for Isolation and Identification of Pathogenic Micro-
DAFTAR PUSTAKA organism. 4th Ed. St. Louis, The CV Mosby, 1974; 400-401.
7. Departemen Kesehatan RI. Farmakope lndonesia Edisi Ill.
1. Departemen Kesehatan RI. Materia Medika lndonesia 11, 1977; 1979;32-33.
91-95.

PENGARUH BROTOWALI [TINOSPORA CRISPA (L.) MIERS] TERHADAP


METABOLISME GLUKOSA PADA KELINCI

PENDAHULUAN dengan melakukan pemantauan terhadap I4C dalam udara


ekspirasi serta dalam plasma. Teknik perunutan radioisotop
B ROTOWALI [7incxporacrispa (L.) Miers] mempunyai berbagai
nama daerah antara lain patanvali, akar sertin, panamar
gantung (Kalimantan Tengah), macabuhai (Filipina) dan
memberikan hasil yang bersifat lebih kuantitatifdan akurat dalam
menggambarkan hail katabolisme oksidatif1 I

seluruh glukosa yang ada dalam tubuh.


Lianequinine (Perancis), dengan rasa yang sangat pahit. Brotowali
hampir selalu ditemukan pada pedagang obat tradisional dan
disebutkan mempunyai khasiat untukmengobati beberapapenyakit BAHANDAN CAR'
antara lain kudis, infeksi cacing kremi, radang usus buntu, penyakit Penelitian ini dilakukan di laboratori um Jurusan FisiologiI
rajasinga, cacar air, penyakit kuning, kholera, trakhomadan diabe- Farmakologi FKH-IPB Bogor pada tahun 1992. Baha.n u.i i utamaL
tes (I). Bahkan di India, brotowali digunakan sebagai tonikum, diure- . .. .. .
adalah ekstrak batang brotowali, dan sebagai pembandlng dlgunaKan
tikum dan afrodisiak (2,3). Kulit batangnyamengandung alkaloid euglucon (glibenklamid) tablet, serta AM sebagai penginduksi
berberindankolumbin, pati,glikosida, palmitin dan mt pahit pikroretin terjadinya DM, dan gluk~sa-U-'~C sebagai perunut metabolisme
serta harsa (4). Penggunaan brotowali sebagai obat tradisional oksidatifglukosa. Dilakukan percobaan pendahuluan untukmencari
terhadap diabetes dilakukan sejak awal abad ke-20 ini, dimana dosis optimal brotowali maupun AM, menggunakan tikus putilijantan
batangnya diolah men.jadi bentuk tepung yang dijual dalam
usia 2 (dua) bulan dari Lembaga Makanan Rakyat FK-Ul,
bungkusan "cachet" (ouwels), dengan nama Ouwel Antidiabetik,
Jakarta.
untuk pemberian secara oral.
Penelitian tentang kemungkinan digunakannya brotowali sebagai Pengukuran parameter metabolisme glukosa dalam percobaan
obat alternatif untuk mengendalikan diabetes mellitus tipe I1 (Non- utama dilakukan dengan menggunakan kelinci putih jantan usia3-
Insulin Dependent Diabetes Mellitus), telah dilakukan di Malaysia 5 bulan, strain California dari Balai Pembibitan Ternakdan Hijauan
Makanan Ternak. Direktorat Jenderal Peternakan Departemen
oleh Noor et al. (5), yang melaporkan bahwa efek hipoglikemik
dari brotowali terjadi karena adanya kenaikan kadar insulin plasma Pertanian, Cisarua, Bogor.
akibat pemberian brotowali pada hewan percobaan. Penelitian ini
Parameter metabolisme yang diukur adalah.
dilanjutkan di Inggris oleh Bambang Kiranadi (6), yangmempelajari
elektrofisiologi membran sel-sel B, dan melaporkan bahwa efek I. Kadar glukosa darah (GD), yaitu banyaknya glukosa dalam
insulinotropik dari brotowali adalah terjadi karena brotowali 100 mL plasma. Nilai normal GD tikus berkisar 50-135 mg%
mengadakan blokade pada saluran C a t t di membran sel B Langer- dan kelinci berkisar 50-150 mg%(7).
hans, sehingga C a w menumpuk dalam ruang intraseluler, sehingga 2. 'Pool glukosa (P), seluruh massa glukosa tubuh yang ter-
instdin disekre!ji. distribusi dalam cairan ekstraseluler (plasma dan cairan
Makalah itT i melaporkan hasil penelitian tentang sejauh mana interstitial).
" .. .
mantaat orotowali dalam mempengaruhi metabolisme oksidatif 3. Secara teoritis nilai P dapat dihitung berdasarkan anggapan
glukosa in vivo. Percobaan ini meng,gunakan kc:linci yang dibuat bahwaglukosadalamtubuh terdapat menyebar secara homogen
diabetes mellitus (DM) oleh induks i dengan allloxan monohidrat dalam seluruh cairan ekstraseluler, dan dalam keadaan normal
,. :I,
(AM). dan nendekatan dengan teklllh rLlu,,utan radioisotop
o
.
mengambil ruang sebesar 20-25% dari bobot massa tubuh.
glu sebagai suntikan tunggal intraka~rdialyang diikuti
1 Dengan mengetahui nilai (jD maka Ililai P dapat dihitung
- sebagai berikut:
*Bagian Farmakologi,FK-UKf, Jakarta
,
:--",
1"
r . . _ < _
IS Warta Tumbuhan Obat Indonesia 1998

P = GD x 20% bb (kg) Perlakuan E: Kelinci DM-alloxan, dan mendapat Euglucon


P =pool glukosa (mg/kg bb) Perlakuan K: Kelinci non-DM (sehat).
GD = kadar glukosa darah (mg%) Menginduksi DM pada kelinci tersebut dilakukan dengan
20%= volume cairan ekstraseluler menyuntikan secara iv AM lo%, 75 mg/kg bblkali, 2 hari 1 kali,
bb =bobot badan (kg) sampai terjadi hiperglikemia (GD antara250-350 mg%) yang stabil
selama minimal 3 hari berturut-turut. Untuk perlakuan B dan E,
Dengan metode perunutan radioisotop, nilai P dapat dihitung
setelah tejadi hiperglikemia yangstabil, untuk kelompok B diberikan
sebagai berikut (8).
ekstrak batang brotowali secara oral dosis 1 g/kg bb/h dan pada
D
kelompokE diberikan Euglucon 0,15 mgkg bbh, masing-masing
p=-
selama 7 (tujuh) hari berturut-turut. Pelaksanaan pengukuran pa-
Co rameter metabolisme glukosa padaperlakuan B dan E dilakukan
P = pool glukosa (mg/ekor) 2-4jam setelah pemberian terakhir bahan u.ji atau obat pembanding,
D = dosis gl~kosa-U-'~C yaitu dengan suntikan intrakardial, dosis tunggal isotop glukosa-U-
Co = aktivitasjenis glukosa I4C, sebanyak 10 uCi per ekor kelinci. Perubahan aktivitas jenis
I4C-glukosadan I4C-CO, diikuti selama 2 jam setelah suntikan
3. Derajat oksidasi glukosa (DOG), yaitu banyaknya CO, yang isotop, masing-masingmelaluipengambilan sarnpel plasmadengan
ditemukan dalam udara ekspirasi, yang merupakan hasil selang waktu 20 menit dan penarnpungan udara ekspirasi total,
katabolisme oksidatif dari glukosa, yang digambarkan dengan dengan selang waktu 15 menit.
reaksi kimia berikut: glukosa+ 6 0,-> 6 CO, + 6 H,O
Teknik pengukuran parameter
Respirasi adalah proses penguraian glukosa dengan mengguna-
Penentuan GD dilakukan menggunakan alat khusus yang
kan O,, menghasilkan CO, dan H,O dan energi yang melibatkan
jalan metabolisme glikolisis daur Krebs dan fosforilasi oksidatif. disebut Reflolux-S (PT. BoehringerMannheim Indonesia);setelah
dua (2) menit hasil akan tertera pada monitor.
Dalam keadaan normal sekitar 50% glukosa yang diperoleh dari
makanan akan mengalami metabolisme menjadi CO, dan H,O, Aktivitas jenis (specific activity) 14C-glukosasetiap sampel
30-40% berubah menjadi lemak serta 5% menjadi glikogen, plasma, ditentukan melalui pembentukan ester glukosapentaasetat
selebihnyadimetabolisir oleh otot dan jaringan lain (9). (GPA, kristal putih), yang kemudian dicacah dengan AlokaLiquid
Scintillation Counter tipe 753, dengan sebelumnya menambahkan
Persiapan percobaan 4 mL cairan sintilasi yang terdiri dari PPO 5 g, POPOP 0,5 g,
Pembuatan ekstrak batang brotowali, yaitu stek batang dipo- Toluen 1 L (8).
tong-potongkecil kemudian dihaluskan dengan blender, selanjutnya Aktivitasjenis '4CC-0, masing-masing sampel udaraekspirasi
direbus di atas tangas air dalam panci yangdirendam dalam parafin ditentukan melalui pembentukan endapan BaCO, dan dicacah
cair sampai semua bahan hancur (lo-12jam). Kemudian disaring dengan alat yang sama, dengan terlebih dahulu menambahkan 5
dengan kain flanel dan serat kasar dibuang, filtrat diuapkan di atas mL cairan sintilasi, yaitu PPO 4 g, POPOP 0,4 g, Cab-o-sil34 g,
tangas air sampai kental. Setelah dingin dimasukkan ke dalam Xylene 1 L (10).
eksikator yang diisi dengan gel silika sampai kering (sekurang- Nilai parameter metabolisme glukosa yang diperoleh sebagai
kurangnya selama 10 hari). Ketika akan diberikan pada hewan hail akhir, dianalisisdengan Analisis Ragam dan dilanjutkan dengan
percobaan ekstrak ini dilarutkan dengan akuades sampai mencapai uji lanjutmenggunakan ujijarakDuncan(11,12,13,14).
konsentrasi 10%. Adaptasi hewan percobaan terhadap lingkungan
maupun makanan dilakukan selarna lebih kurang 1 (satu) minggu. HASIL DAN PEMBAHASAN
Percobaan pendahuluan Percobaan pendrhuluan
Hewan percobaan yang dikelompokkan menurut rancangan 1. Pemberian brotowali dalam berbagai dosis pada tikus sehat
acak lengkap dengan 5 ulangan, diberi ekstrak batang brotowali selama7 (tujuh) hari berturut-turut ternyata tidak menunjukkan
secara oral dalam berbagai dosis pada tikus normal. Dilanjutkan perubahan GD.
dengan menginduksi terjadinyaDM dengan suntikan intravena(iv) 2. Perubahan GD tikus yang diberi berbagai dosis AM mem-
larutan AM 10% dalam akuades, pada berbagai dosis. Diteruskan perlihatkan hasil, yaitu dosis yang AM untuk tujuan induksi
dengan memberikan brotowali dalam berbagai dosis pada tikus DM- DM adalah 75 mg/kg bb/2 h, sebab pada dosis tersebut
alloxan, untuk menentukan dosis optimal dalam mengendalikan GD, hiperglikemi a mulai terlihat pad;1 hari ke t ujuh, bers ifat
serta pemberian obat pembanding dalam berbagai dosis terapeutik irreversible tc:tapi non-p rogresi f.
padakelinci DM-alloxan. 3. Pemberian brc3towali padlatikus DMl-alloxan de:ngan berba ~gai
.-

dosis ternyata dapat menurunkan GD, tetapi nilai relatifnya


Percobaan utama
hampir tidak ada perbedaan antara masing-masing dosis.
Pengukuran parameter metabolisme glukosa dengan Berdasarkan ha1 tersebut maka dosis brotowali yang akan
menggunakan kelincijantan putih, dalam dosis dan carapemberian digunakan dalarn percobaan utarnaadalah 1g/kg bblh, diberikan
mengikuti hasil yang telah diperoleh padapercobaan pendahuluan selama 7 hari berturut-turut.
(tikus), baikuntuk tujuan induksi DB maupun pemberian bahan uji. 4. Pemberian Euglucon dalam berbagai dosis terapeutik padatikus
Kelinci tersebut dikelompokkan menurut perlakuan, dan masing- DM-alloxan: berbagai dosis terapeutik menggambarkan
masing perlakuan mendapat 3 (tiga) ulangan sebagai berikut: penurunan GD, tetapi tidak adaperbedaan yang bermaknadi
Perlakuan A: Kelinci DM-alloxan, tanpa brotowali antaramasing-masing dosis, sehinggadalam percobaan utama,
Perlakuan B: Kelinci DM-alloxan, dan mendapat brotowali digunakan dosis 0,15 mgikg bblh.
Volume 4 No. 2 Warta Tumbuhan Obat Indonesia 19

Percobaan utama hasil penelitian yang ada, yang menyatakan bahwa hiperglikemia
Percobaan utama menggunakan kelinci DM-alloxan memper- pada anjing yang diberikan alloxan secara iv adalah 65 mg/kg bb,
oleh data hasil sebagai berikut (Tabel 1 dan Tabel 2). dimana hiperglikemia mulai terjadi antara minggu pertama sampai
1. Pool glukosa (P) minggu ketiga
Nilai rata-rataP perlakuan A lebih tinggi dari perlakuan lainnya Karena pemberian brotowali dalam berbagai dosis pada
Uji statistik terhadap nilai P menunjukkan perbedaan pengaruh percobaan pendahuluan tidak memperlihatkan perbedaan yang
perlakuan yang sangat bermakna (p<0,01) antara nilai P bermakna antara tiap-tiap dosis, maka dosis yang dipilih untuk
perlakuan A dengan perlakuan lainnya, tetapi nilai P antara percobaan utama adalah 1 glkg bblh yang dilarutkan dengan
perlakuan B, E dan K berbedasecara tak bermakna(p>0,05). akuades dengan konsentrasi 10%. Demikian pula pemberian
2. Derajat oksidasi glukosa (DOG) Euglucon dalam berbagai dosis terapeutik tidak memperlihatkan
pengaruh yang berbeda, maka dosis yang ditetapkan untuk
Nilai rata-rata DOG perlakuan A paling kecil dari ketiga
percobaan utama adalah O,15 mg/kg bbh.
perlakuan lainnya Uji statistik lanjut nilai DOG, menunjukkan
pengaruh perlakuan yang berbeda sangat bermakna (p<O,Ol) Menurut Turner (IS), hewan yang menderita DM eksperimental
antara perlakuan K dengan ketiga perlakuan lainnya Demikian oleh alloxan, akan menderita defisiensi insulin yang relatif dalam
pula nilai DOG perlakuan A dengan perlakuan B dan E plasmanya, sebab pada dosis tertentu alloxan merusak secara
mempunyai perbedaan yang sangat bermakna (p<O,Ol). selektif sel-sel B pulau Langerhans pankreas. Pemberian bahan
yang berkhasiat meningkatkan sekresi oleh sel-sel B pada
Tabel 1. Nilai parameter metabolisme glukosa kelinci pada berbagai
individu yang menderita DM-alloxan akan terjadi sekresi
perlakuan insulin oleh sel-sel B yang sehat, sehingga terjadi perbaikan
metabolisme.
Perlakuan bb (g) P DOG GD Adanya penurunan pool glukosa pada kelinci DM-alloxan
(mglkg bb) (%) (mg %)
(sampai mencapai nilai P pada kelompok K) yang mendapat
A-I brotowali, seperti ha1 yang terjadi pada kelinci yang mendapat
A-2 Euglucon, didukung adanya kenaikan produksi CO, dalam udara
A-3 ekspirasi (peningkatan katabolisme oksidatif) pada kelinci yang
B-I mendapat brotowali dan Euglucon, walaupun tidakdapat menyamai
8-2 nilai DOG pada kelinci, memberikan petunjuk bahwa brotowali dapat
8-3 memperbaiki metabolisme glukosa pada kelinci yang menderita
E-I DM-alloxan, walaupun tidak dapat menyamai nilai DOG pada
E-2 kelinci sehat (K).
E-3

K-I KESIMPULAN
K-2 1. Pemberian brotowali pada kelinci DM-alloxan menyebabkan:
a. Penurunan seluruh glukosa yang ada dalam tubuh
Keterangan:
bb = bobot badan (g) (penurunan pool glukosa= P), dimana nilai P ~ a dperlakuan
a
P = pool glukosa (mglkg bb) A B; p<0,01.
DOG = derajat oksidasi glukosa (%)
b. Pe tabolisme oksidatif, dimana nilai DOG pada
GD kadar glukosa darah (mg%)
PC <B<E<K;p<O,Ol.
Tabel 2. Nilai rata-rata parameter dan hasil uji statistik 2. Alloxan monohidrat sebagai penginduksi DM dapat
menimbulkan efek negatif berupa:
Parameter Perlakuan Uii a. Kerusakan pembuluh vena pada tempat penyuntikan, berupa
indurasi dan penyempitan lumen, abses serta nekrosis
(tromboflebitis).
P 500,217 234,710 278,465 312,947 S b. Abses dan nekrosis padajaringan di tempat penyuntikan
(mglkg bb) +79,709 +33,701 +43,995 +19,357 maupun jaringan sekitarnya
DOG 11,347 14,337 10,092 23,130 S
(%) +3,323 +0,406 + I ,542 +0,010 SARAN
Dari hasil penelitian ini ada beberapa ha1 yang dirasakan perlu
Keterangan:
S = significant untuk diteliti lebih lanjut, antara lain seberapa jauh brotowali
berpengaruh pada individu yangmenderita DM-idiopathik ataupun
AM ternyata sangat iritatif, dimana tejadi abses dan nekrosis DM-nonalloxan, serta melengkapi pemeriksaan patologi klinik
pada jaringan tempat penyuntikan dan sekitarnya, serta terlihat terhadap insulin, glukagon plasmadan kadar glukosa, badan keton
tanda-tanda tromboflebitis padavena yang bersangkutan. Dari data serta CO, dalam urine, selarna pengukuran parameter glukosa.
dalam percobaan pendahuluan diketahui bahwadosis optimal AM Dari aspek patologi anatomi dan histokimia, melakukan diagnosa
untukmaksud induksi hiperglikemiaadalah 75 mgkg bbl2 h, dimana banding antara kelainan vaskuler akibat efek iritatif A.M dengan
hiperglikemia mulai terjadi pada hari ke tujuh. Data ini mendekati kelainan vaskuler akibat hiperglikemia itu sendiri.