You are on page 1of 3

BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN

A. Penjelasan QS. An Nahl (16) : 97


1. Redaksi Ayat
      
   
   
    
2. Terjemah
97. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam
Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan
yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan
pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
3. Makna Mufrodat
Kata ‫ َمن‬/ man, siapa, merujuk pada persamaan antar manusia baik laki-laki maupun
perempuan tanpa pengecualian.
Kata ‫ع َِم ََل‬/’amila, perbuatan, digunakan untuk menggambarkan penggunaan daya manusia
(piker, fisik, kalbu dan daya hidup) yang dilakukan dengan sadar.
Kata َ‫صَا ِلحا‬/sholihan, saleh, terambil dari akar kata sholuha, yang berarti kebaikan, yakni
lawan fasad yang berarti rusak. Dengan demikian kata sholihan, saleh diartikan sebagai
baik, serasi, dan bermanfaat, bermanfaat dan sesuai yakni tiadanya kerusakan.
Amal sholih adalah pekerjaan yang apabila dilakukan terhenti atau menjadi tiadanya
kemudaratan. Atau dengan dikerjakanya suatu perbuatan diberi manfaat dan kesesuaian.
Jadi amal shalih adalah segala perbuatan yang berguna bagi pribadi, keluarga, kelompok
dan manusia secara keseluruhan. Dan jika perbuatan itu merujuk pada adanya perubahan
kearah perbaikan nilai-nilai dan fungsi yang telah tiada, perbaikan itu diistilahkan dengan
ishlah. Dalam ayat ini (sebagaimana pada QS. Al Ahsr) pelakunya adalah manusia yang
beriman dengan mantap yang ditunjuk dengan ungkapan َ‫َوه َُوَ ُمؤْ ِمن‬
Kata ‫ َحيَوة َ َطيِبَة‬/hayaatan thoyyibah, kehidupan yang baik, adalah kehidupan yang diliputi
oleh rasa lega, rela serta sabar dalam menerima cobaan dengan dibarengi dengan rasa
syukur atas limpahan nikmat Allah. Keadaan kehidupan tersebut bukan berarti mewah
yang luput dari ujian dan cobaan.
Kata ‫أَجْ ر‬/ajr, balasan, artinya balasan, manfaat yang sering diartikan sebagai : ganjaran,
upah atau mahar (mas kawin). Balasan terbaik dinyatakan dengan Ajran hasanan (akan
mendapat pembalasan yang baik) yaitu surga dan segala kenikmatan yang terdapat di
dalamnya. Al Qur’an menggunakan kata ini untuk memberi balasan baik yang bersifat
duniawi dan ukrawi. Seperti pada QS. Al A’raf (7) ; 113 dan Al Ankabut (29); 27.

131
Kata ‫سن‬ َ ْ‫أَح‬/ahsan, lebih baik, terambil dari akar kata husn, yakni mencakup segala sesuatu
yang menggembirakan dan disenangi karena perolehan nikmat, menyangkut diri, jasmani,
dan keadaanya.
Kata ahsan, digunakan untuk dua hal yakni, memberi nikmat pada pihak lain dan
perbuatan yang dinilai baik. Makna ini cakupanya lebih luas dari kata ‘adl, karena adil
adalah memperlakukan orang lain sama dengan perlakuanya kepada Anda. Sedang ihsan
adalah memperlakukan lebih baik dari perlakuanya terhadap Anda. Adil juga dapat
berarti mengambil semua hak anda dan atau memberi semua hak kepada orang lain.
Sedang ihsan adalah memberi lebih banyak dari pada yang harus Anda berikan dan
mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya Anda ambil.
Jika kata ahsan dikaitkan dengan balasan Allah, tentu apa yang diberikan (balasan) itu
akan jauh lebih baik dibanding perbuatan baik yang Anda lakukan, menyangkut balasan
di dunia dan kelak di akhirat.
4. Analisa Kandungan Ayat
a. Iman
Kata îmãn (‫ )إِيْماَن‬adalah masdhar dari kata kerja bentuk lampau (fi’il mãdhi) ãmana
(‫)أَ َمن‬, yang mempunyai konotasi arti: aman, tenteram, selamat, jujur, lurus, dsb. Iman
--dari segi bahasa-- bisa diartikan dengan pembenaran. Ada sebagian pakar yang
mengartikan iman sebagai pembenaran hati terhadap hal yang didengar oleh
telinga. Pembenaran akal saja tidak cukup karena yang penting adalah pembenaran
hati.
Dalam dimensinya yang lebih mendalam, iman tidak cukup hanya dengan sikap batin
yang percaya atau mempercayai sesuatu belaka, tapi menuntut perwujudan lahiriah
atau eksternalisasinya dalam tindakan-tindakan. Dalam pengertian inilah kita
memahami sabda Nabi bahwa iman mempunyai lebih dari tujuh puluh tingkat,
yang paling tinggi ialah ucapan Tiada Tuhan selain Allah dan yang paling rendah
menyingkirkan bahaya di jalanan.
b. Amal Shalih
Kata 'amal (pekerjaan) digunakan oleh Al Qur’an untuk menggambarkan perbuatan
yang disadari oleh manusia dan jin. Kiranya menarik untuk mengemukakan
pendapat beberapa pakar bahasa yang menyatakan bahwa kata 'amal dalam Al Qur’an
tidak semuanya mengandung arti berwujudnya suatu pekerjaan di alam nyata. Niat
untuk melakukan sesuatu yang baik juga dinamai 'amal. Rasul Saw. menilai
bahwa niat baik seseorang memperoleh ganjaran di sisi Allah, dan inilah maksud QS.
Al Zalzalah ayat 7: Dan barang siapa yang mengamalkan kebajikan walaupun
sebesar biji sawi niscaya ia akan mendapatkan (ganjaran)-nya.
Kata shalih terambil dari akar kata shaluha yang dalam kamus-kamus bahasa Al
Qur’an dijelaskan maknanya sebagai antonim (lawan) kata fasid (rusak). Dengan
demikian kata "saleh" diartikan sebagai tiadanya atau terhentinya kerusakan.

132
Shalih juga diartikan sebagai bermanfaat dan sesuai. Amal saleh adalah pekerjaan
yang apabila dilakukan tidak menyebabkan dan mengakibatkan madharrat
(kerusakan), atau bila pekerjaan tersebut dilakukan akan diperoleh manfaat dan
kesesuaian.
c. Kaitan Iman dan Amal
Keterpaduan antara iman dan perbuatan yang baik juga dicerminkan dengan
jelas dalam sabda Nabi bahwa orang yang berzina, tidaklah beriman ketika ia
berzina, dan orang yang meminum arak tidaklah beriman ketika ia meminum arak,
dan orang yang mencuri tidaklah beriman ketika ia mencuri, dan seseorang tidak
akan membuat teriakan menakutkan yang mengejutkan perhatian orang banyak
jika memang ia beriman."
Berdasarkan itu, maka sesunggahnya makna iman dapat berarti sejajar dengan
kebaikan atau perbuatan baik. Rasulullah saw. menegaskan dengan sabdanya:
Iman itu bukanlah angan-angan tapi sesuatu yang ditetapkan dalam kalbu, (yang
lahir menjadi) ikrar lisan, serta didukung dengan tindakan. (Hadits Riwayat Ibnu
Najjar).
Dalam QS. Al Ashr disebutkan empat hal yang dapat menyelamatkan manusia dari
kerugian dan kecelakaan besar dan beraneka ragam. Yaitu, (a) yang beriman, (b)
yang beramal saleh, (c) yang saling berwasiat dengan kebenaran, dan (d) yang saling
berwasiat dengan kesabaran.
5. Hikmah Kandungan Ayat
a. Allah akan membalas dengan kebaikan yang berlebih kadar dan manfaatnya bagi siapa
saja yang melakukanya baik laki-laki maupun peremuan, karena Allah memandang
persamaan derajat dan martabat kemanusiaan.
b. Syarat yang harus dipenuhi agar manusia mendapat ganjaran Allah, baik di dunia dan
di akhirat adalah dengan menancakan iman di dada dengan penuh keyakinan yakni
melalui peembenaran dalam hati dan diikuti dengan melakukan kegiatan yang dinilai
oleh ajaran agama sebagai yang bernilai baik dan benar.
c. Betapapun baik budi dan karya manusia tetapi tidak dilandasi dengan keimanan yang
mantap kepada Allah, maka perbuatan mereka dinilai sia-sia. Demikian sebaliknya,
jika manusia hanya mengandalkan iman saja tanpa melakukan amal kebaikan dinilai
sebagai kerugian.
d. Iman dan amal kebaikan seseorang walau sedikit/ kecil tidak akan di sia-siakan begitu
saja oleh Allah, karena Dia adalah Dzat yang terbaik dalam memberi balasan.

133