You are on page 1of 9

METODE MATRIKS

OLEH :

ENDRO SUSWANTORO

DISAMPAIKAN PADA KURSUS PENYUSUN AMDAL ANGKATAN I,


LBLL UNIVERSITAS TRISAKTI BEKERJA SAMA DENGAN PSML
UNIVERSITAS INDONESIA, TANGGAL 16 PEBUARI 2006
METODE MATRIKS

Lingkup Studi AMDAL mencakup aspek yang sangat luas sehinggga permasalahan
pokok kemungkinan menjadi tidak jelas, tetapi juga terlalu sempit yang berakibat kurang
mencakup seluruh permasalahan. Oleh karena itu perlu dilakukan pelingkupan studi
sehingga lingkup studi menjadi representative sesuai dengan tujuan pengelolaan
lingkungan yang akan dilaksanakan.

Identifikasi Dampak
Proses pelingkupan diawali dengan identifikasi dampak dengan maksud agar dapat
mengetahui dampak yang mungkin ditimbulkan oleh kegiatan.Metode yang dapat
digunakan adalah Matriks Interaksi dan bagan jaringan.

Matriks Interaksi
Dengan menilai hubungan antara rencana kegiatan dengan komponen lingkungan, maka
dapat diklasifikasikan adanya dampak yang mungkin bersifat potensial tersebut
kemungkinan memiliki potensi sebagai dampak penting.

Evaluasi terhadap besaran dampak lingkungan adalah urutan langkah dalam Studi
AMDAL untuk menilai tingkat pentingnya derajad lingkungan yang intensitasnya telah
diberikan pada tahapperkiraan dampak dalam analisis dampak.

Dalam evaluasi ini dimaksudkan untuk menentukan skala prioritas atau urutan
pelaksanaan pengelolaan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana kegiatan.
Fungsi penentuan dampak penting pada saat AMDAL akan menentukan studi tersebut.

Penentuan dampak penting telah diarahkan dalam KepMen LH No.


Kep.....................................agar menjadi pedoman bagi setiap penyusun AMDAL dalam
penyusunan Dokumen AMDAL. Hal-hal yang menentukan dampak penting suatu
kegiatan adalah sesuai dengan PP No. 27 tahun 1999 tentang kriteria dampak penting
sebagai berikut:
a. Jumlah manusia yang terkena dampak
b. Luas wilayah persebaran dampak
c. Intensitas dampak
d. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak
e. Sifat kumulatif dampak
f. Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak tersebut.

1. PENDEKATAN EVALUASI (YANG BERARTI) DAMPAK

Pendekatan yang biasa digunakan dalam melaksanakan penulis adalah dengan :


- Teknik ”Rangking” : cara numerik dan verbal
- Teknik ”Rating” : cara verbal dan skala atau kombinasi keduanya.
Penguraian kedalam bentuk tanpa dimensi, kadang-kadang diperlukan karena alasan :
a. karena sifatnya, kadang-kadang besarnya dampak lingkungan tidak dapat diukur
dengan cara matematik sehingga pengukuran berdasarkan interprestasi ahli yang
kadang-kadang subjektif yang dicoba untuk dikuantitaskan.
b. Karena kebutuhan ”Proponen”/ Pengambil keputusan untuk memakai format,
Matriks Evaluasi. Hal ini dimaksudkan agar memudahkan dalam proses penilaian
dan pengambilan keputusan. Sebagai penjelasan dan penyederhanaan penilaian
dampak penting, pedoman penentuan dampak penting seperti diarahkan dalam
KepMen KLH No. 49/MNKLH/6/1987, berikut diberikan rangkuman Kriteria
Penentuan Derajat Dampak Penting Tabel 1.

Tabel 1.
Rangkuman Kriteria Penentuan Derajat Dampak Penting

No Faktor Penentu Derajat Dampak Penting


Dampak Penting Kurang Cukup Penting Skala Lebih Penting Sangat
(Simbol) Penting Penting 3 Skala 4 Penting
Skala 1 Skala 2 Skala 5
A. Perbandingan Jumlah < 10 % 10 % - 20 % 21 % - 30 % 31 % - 50 % > 50 %
Manusia Terkena
Dampak dengan
Tidak Terkena
(P = P1/P2)
B. Perbandingan Luas < 50 % 50 % - 100 - ≥ 100 % - ≥ 100 % - ≥ 100 %
Sebaran Dampak % - < Wilayah - Dari - Batas
dengan Luas Tapak Kabupaten Wilayah Wilayah
Kegiatan Kabupaten Negara
(A = ADL/ARK)
C. Intensitas Dampak - Sa - Rin - Seda - Berat - Sa
Terhadap Baku Mutu ngat gan ng - Popul ngat
atau Ketetapan Lain Ringan - Pop - Popu asi Terkena Berat
(I = IDL/WAB) - Po ulasi lasi Terkena DAL - Po
pulasi Terkena DAL Terpengaruh pulasi
Terkena DAL Terpengaruh 50% - 75% Terkena
DAL ”Mulai” Tetapi DAL
”Tidak” Terpengaru < 50% Terpengar
Terpengar h uh 75%
uh
D. Banyaknya - J = - J > - J > - J > - J=
komponen Lain yang 20% 20% 50% 70% 100%
Terkena Dampak - AD J ≤ 50% J < 70% J ≤ 100% - A
(J=KM/JKM) L/ARK = - AD - ADL - ADL/ DL/ARK
1 L/ARK = 2 /ARK = 2 ARK = 4 =5
- TD - TD - TDL/ - TDL/ - T
L/TRK = L/TRK = 2 TRK = 3 TRK = 4 DL/TRK
2 =5
E. Sifat Kumulatif - Ku - Ku - Kumt - Kumt - Ku
Dampak msir mtasir asir asir mtasir
(Kumsir/Kumtasir) - TD - TD - TDL/ - TDL/ - T
L/TRK = L/TRK = 4 TRK = 3 TRK = 2 DL/TRK
5 - AD - ADL - ADL/ =1
- AD L/ARK = 2 /ARK = 3 ARK = 4 - A
L/ARK = DL/ARK
1 =5
F. Berbalik atau Tak - Dat - Dat - Datal - Datali - Da
Berbalik Dampak alik alik ik k talik
(Dalik/Datalik) - IDL - IDL/ - IDL/ - ID
/NAB = 2 NAB = 3 NAB = 4 L/NAB =
- Tidak 5
Ada - Ad
Majemuk a Efek
Majemuk

1.1. Jumlah Manusia yang terkena Dampak :

Faktor ini didefinisikan sebagai perbandingan antara penduduk yang menerima manfaat
dan penduduk yang terkena dampak negatif tetapi tidak menerima manfaat. Simbolnya
ditetapkan sebagai P=P1/P2.
Penduduk yang dimaksud disini dapat ditetapkan sebagai penduduk lokal atau didalam
batas wilayah administratif dan ekologis.

1.2. Luas Wilayah Sebaran Dampak

Faktor ini didefinisikan sebagai perbandingan antara luas sebaran dampak dan luas tapak
rencana kegiatan. Simbolnya ditetapkan sebagai A = ADL/ARK.
a. Sangat sempit bila A < 50% dari luas tapak kegiatan atau A = ADL/ARK < 0,5
b. Sempit bila A antara 50 % sampai dengan 100 % dari luas tapak kegiatan atau 0,5
< A < 1,0

1.3. Intensitas Dampak

Faktor ini Didefiniskan sebagai perbandingan antara intensitas yang dihitung dengan nilai
ambang batas baku mutu dan/atau ketentuan-ketentuan lain yang terkait dengan besaran
atau ukuran untuk menilai dampak. Simbolnya ditetapkan sebagai I = IDL/NAB.
Kriteria sangat ringan, ringan, sedang, berat dan sangat berat, ditetapkan dengan menilai
”Daya Toleransi yang terkena dampak” sebagai berikut :
a. Sangat ringan bila daya toleransinya tetap tinggi.
b. Ringan bila daya toleransinya relatif masih tinggi.
c. Sedang bila daya toleransinya sudah turun.
d. Berat bila daya toleransinya menurun dengan nyata.
e. Sangat berat bila daya toleransinya menurun dengan drastis.

Langkah-langkah perumusannya adalah sebagai berikut :


a. Dapatkan informasi tentang kondisi ideal dari indikator/parameter dampak yang
ditinjau yaitu dari penelitian yang telah dilakukan para pakar dibidangnya, baku
mutu lingkungan yang telah ditetapkan maupun yang masih konsep dan lain-lain
informasi yang terkait.
b. Dapatkan informasi tentang kecenderungan kondisi indikator/parameter dampak
pada saat studi dilakukan yaitu kecenderungan sebelum proyek dimulai.
c. Gunakan informasi yang diperoleh pada (a) dan (b) tersebut untuk mendukung
upaya parameter yang dilakukan.
d. Gunakan logika perubahan daya toleransi untuk merumuskan dan menetapkan
kesepakatan kriteria penilaian intensitas dampak lingkungan yang akan dipakai
pedoman penilaian selanjutnya.
Tabel-2 adalah beberapa contoh hasil perumusan tentang kriteria penilaian intensitas
dampak yang disepakati untuk digunakan dalam proses penilaian.

Tabel 2
Kriteria Evaluasi (Penilaian) Intensitas Dampak

Jenis Dampak Kategori Skala


No. Penjelasan (Kriteria) Penilaian Dampak
Lingkungan Dampak Nilai
(1) (2) (3) (4)
Sangat 100 % Penduduk Daerah Genangan Bersedia Dipindahkan
1
Ringan Ke Lokasi yang Akan Ditetapkan
80 % Penduduk Bersedia dipindahkan ke Lokasi Baru dan
Ringan 2
Sisanya di Lokasi Lama yang Ditetapkan
50 % Penduduk Bersedia dipindahkan ke Lokasi Baru dan
1 Keresahan Sedang 3
Sisanya di Lokasi Lama yang Ditetapkan
30 % Penduduk Bersedia dipindahkan ke Lokasi Baru dan
Berat 4
Sisanya di Lokasi Sekitar Waduk
Sangat 100 % Penduduk Daerah Genangan Menolak Mengikuti
5
Berat Program Pemindahan Penduduk
Sangat Meningkat Sampai 5 % Tetapi Erosi Potensial Rata-rata
1
Ringan (ER) di DAS Masih Dibawah 10 Ton/Ha/Tahun
Meningkat Sampai 5 % Tetapi Erosi di DAS yang Ditinjau
Ringan 2
sudah Berada Diantara 10-20 Ton/Ha/Tahun
Meningkat Sampai 5 % (ER) = 10-20 Ton/Ha/Tahun Tetapi
2 Peningkatan Sedang 3
Dapat Diatasi Dengan Teknologi Standar
Meningkat Sampai 10 %, (ER) = 20-60 Ton/Ha/Tahun dan
Berat 4
Harus Diatasi Dengan Teknis Khusus
Sangat
5 Meningkat Sampai 10 % Diatas 60 Ton/Ha/Tahun
Berat
Sangat Kekeruhan Meningkat Sampai 10 % Tetapi Kadar Total
1
Ringan Solid dalam Air Masih Dibawah 1,5 Mg/l
Kekeruhan Meningkat Sampai 10 % Tetapi Kadar Total
Ringan 2
Solid dalam Air Berada Diantara 1,5 – 2 Mg/l
Peningkatan
Kekeruhan Meningkat Sampai 10 % Tetapi Kadar Total
3 Kekeruhan Sedang 3
Solid dalam Air Berada Diantara 2,1 – 2,75 Mg/l
Air
Kekeruhan Meningkat Sampai 10 % Tetapi Kadar Total
Berat 4
Solid dalam Air Berada Diantara 2,76 – 3,5 Mg/l
Sangat Kekeruhan Meningkat Sampai 10 % Tetapi Kadar Total
5
Berat Solid dalam Air Berada Lebih Besar Daripada 3,5 Mg/l

1.4. Jumlah Komponen lain yang akan Terkena Dampak

Faktor ini didefinisikan sebagai perbandingan antara banyaknya komponen lain yang
terkena dampak dengan jumlah komponen lingkungan yang potensial terkena dampak.
Faktor ini dapat pula dikaitkan dengan efek ganda atau pengaruh terhadap komponen
lingkungan lainnya. Simbol untuk faktor ini ditetapkan sebagai J = KM/JKM atau KOM-
N, dimana N = kelipatan/nilai tambah suatu dampak penting terhadap lingkungan.

1.5. Sifat Kumulatif Dampak

Faktor ini biasanya dikaitkan dengan dapat atau tidaknya bahan pencemar diturunkan
atau dinetralisir intensitasnya dan/atau konsentrasinya dengan teknologi tertentu yang
dapat diterima secara ekonomis maupun kelembagaan. Kajian sifat-sifat kumulatif
dampak penting diberi simbol KUMSIR bila dapat dinetralisir atau KUMTASIR bila
tidak dapat dinetralisir.
Pengaruh dari pada sifat kumulatif dampak terkait dengan waktu dan penyebarannya.

1.6. Berbalik akan tidak berbaliknya dampak

Faktor ini dikaitkan dengan intensitas dan akibat dampak tersebut terhadap lingkungan.
Kajian terhadap kondisi lingkungan yang menerima dampak penting dalam hal ini diberi
simbol DALIK bila dampak berperbalikan atau DATALIK bila dampak tak terperbalikan
atau tidak dapat direhabilitasi.

2. PELAKSANAAN EVALUASI DAMPAK PENTING

Berdasarkan kriteria evaluasi derajat dampak penting yang telah dirumuskan, maka
penilaian dapat dilaksanakan secara sederhana dengan langkah sebagai berikut :
a. Gunakan tabel-1 untuk menilai dampak lingkungan yang intensitasnya telah
dihitung terhadap seluruh faktor penentu dampak penting yang telah ditetapkan
dengan cara memberi skala nilai kepada setiap faktor terkait yang dinilai.
b. Bila bobot setiap faktor ditetapkan sama, maka jumlahkan nilai yang diperoleh
dan dibagi banyaknya faktor yang terkait.
c. Dalam hal ini tertentu sering dimasukkan pertimbangan tambahan yaitu dengan
memberi bobot tambahan kepada faktor penentu derajat dampak dan/atau
indikator dampak tertentu yang dipandang lebih strategis. Dalam keadaan
demikian, maka sebelum dilakukan penjumlahan, setiap nilai yang diperoleh
dikalikan terlebih dahulu dengan besarnya bobot yang ditetapkan.
Indikator dampak yang memperoleh nilai terbesar tentunya perlu memperoleh perhatian
lebih besar dibandingkan dengan indikator dampak yang lebih kecil. Tetapi bukan berarti
bahwa indikator dampak yang nilai pentingnya lebih kecil tidak perlu ditangani.
Penting atau tidak pentingnya indikator dampak lingkungan yang diperoleh dari hasil
evaluasi mencerminkan besar kecilnya upaya penanganan dampak yang dilakukan dan
sekaligus memberi indikasi besar kecilnya biaya penanganan dampak yang diperlukan
disediakan.
Hasil evaluasi dampak penting seperti disinggung dimuka dapat dilakukan dengan
berbagai cara. Hal ini tergantung kepada metoda (alat) apa yang disepakati untuk dipakai
menyajikan hasil evaluasi tersebut.
Salah satu contoh penyajian dengan menggunakan matriks yang perhitungan nilai
pentingnya dilakukan dengan cara Leopold dan Lohani/thanh disajikan pada tabel-3.
3. ANALISIS DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN

Dalam mengevaluasi dampak lingkungan diperlukan analisis ANDAL disertai dengan


sintesis.
Hal ini kadang-kadang diperlukan Proponen ”Serta” bagaimana mengelola dampak” yang
terjadi terhadap komponen lingkungan berdasarkan urutan prioritas atau bagaimana
kualitas lingkungan yang berubah tersebut dikelola.
Berikut matriks evaluasi yang menunjukkan tingkat perubahan dan derajat kualitas
lingkungan serta dampak total.

Tabel-3
Perhitungan Perubahan Kualitas Lingkungan Karena Kegiatan Proyek Dinyatakan
dengan Skala

Perubahan
% Selisih Skala
Skala Keadaan Awal Skala Karena
Rona Awal Jumla Nilai Terhad Keadaan Selisih
Priori Kegiatan
Lingkungan h Maks ap Keadaan x
tas Ska
% Skala A B C Maks % Prioritas
la
1. Kimia Fisik 4 60 3 - 2 2 4 10 40 -20 -1 -4
2. Hayati 3 80 4 3 2 - 5 10 50 -30 -2 -6
3. Sosial Ekonomi 5 30 2 4 4 3 11 15 73 -43 +3 +15
4. Sosial Budaya 3 35 2 4 - 5 9 10 90 -55 +3 +9
Rata-rata 3,75 51,25 63,25
Jumlah - - - 11 8 10
Nilai Maks - - 15 15 15
% Terhadap Maks 73 53 67
+1
Selisih %
2
Keadaan
Skala +1
Skala Selisih
Keadaan x +3,75
Prioritas
Keterangan :
1 = Kurang Penting
5 = Penting

- Pada kolom terakhir terlihat derajat paling jelek adalah angka -6. indikasi
ini menunjukkan bahwa kualitas lingkungan pada komponen ini memerlukan prioritas
pertama dalam pengelolaan lingkungan, selanjutnya pada kualitas yang lebih baik.
- Sedangkan pada indikasi yang menunjukkan kualitas lingkungan sudah
baik dalam pengelolaannya masih diperlukan pengelolaan lebih baik lagi.

Pengukuran nilai evaluasi dampak penting dapat terlihat keterangan berikut :

I. Air

1. Warna
1) Hitam coklat
2) Agak coklat
3) Kuning
4) Agak kuning
5) Terang

2. Rasa
1) Asin
2) Payau
3) Asam
4) Agak Asam
5) Tawar

3. Bau
1) Sangat berbau
2) Berbau tanpa dicium langsung
3) Berbau kalau dicium langsung
4) Agak berbau kalau dicium langsung
5) Tidak berbau

4. Kekeruhan
1) Keruh berlumpur
2) Keruh
3) Agak Keruh
4) Bening berwarna
5) Bening tak berwarna

5. Kelangsungan
1) Musim kemarau perairan kering
2) Musim kemarau panjang menjadi kering
3) Musim kemarau ada perubahan tapi tak sampai kering
4) Musim kemarau perairan lebih sedikit
5) Sepanjang tahun tak ada perubahan volume air

6. Eutrofikasi
1) Sudah ada pendaratan; sudah ada rumput-rumput
2) Ada tumbuhan air timbul di permukaan; hampir penuh; air hujan
3) Air hijau; ada tumbuhan air baik terendam maupun di permukaan
4) Air jernih; ada beberapa tumbuhan air
5) Oligotraf; air jernih; sedikit tumbuhan air