You are on page 1of 2

"Artificial Intelligent", Kecerdasan Buatan

yang Ramah Lingkungan


11 Januari 2018 10:36 Diperbarui: 11 Januari 2018 10:40 67 0 0

Fotografi adalah hobi saya yang memang baru ditekuni baru-baru ini semenjak pekerjaan saya
yang dulu mengharuskan saya untuk belajar fotografi. Akan tetapi, sebagai seorang yang awam
di bidang tersebut, saya harus membeli beberapa peralatan fotografi. Peralatan tersebut saya beli
dari teman saya. Akan tetapi, pada saat saya akan pergi hunting, saya lupa mengisi kamera saya
dengan kartu memori. Kartu memori adalah bagian terpenting dalam sebuah fotografi.
Sementara itu hunting akan dilakukan esokan harinya dengan sahabat saya sewaktu masih
kuliah.

Pekerjaan di kantor tidak memungkinkan saya keluar sebentar untuk membeli kartu memori.
Akhirnya saya mau tidak mau mencari di google toko mana yang menjual karut memori di dekat
kantor saya. Kemudian hasil pencarian di halaman pertama google hampir semuanya adalah toko
online . Dengan kondisi yang terpepet akhirnya saya pun membuat akun di beberapa toko online
dan melihat lihat jenis kartu memori dari harga yang paling sesuai dengan dompet sampai yang
tidak terjangkau dengan dompet.

Setelah melihat barang yang cocok dengan isi dompet, saya pun mengklik barang tersebut dan
membelinya. Biaya saya transfer melalui m-banking. Tidak lama kemudian, datanglah sebuah
barang yang dialamatkan kepada saya. Sungguh luar biasa, si kartu memori tersebut telah sampai
ke tangan saya tanpa saya berpindah tempat sama sekali dari kursi kantor. Dari mulai proses
pencarian barang, pembelian, pembayaran, kemudian pengantaran semua saya proses
melalui online atau dunia maya.

Perpindahan Manusia Ke Dunia Maya.

Semenjak kejadian tersebut, saya langsung teringat dengan film Artificial Intelligence (2001)
karya Steven Spielberg . Film yang dibintangi oleh Haley Joel Osment tersebut menceritakan
tentang dunia masa depan dimana semua menggunakan kecerdasan buatan, termasuk robot.
Bisnis ritel online menggunakan kecerdasan logika dimana kita bisa memilih barang sesuai
dengan budget dan pilihan kita sendiri. Usaha kita untuk membeli barang tersebut sedikit
berkurang, kita tidak perlu menggunakan kendaraan bermotor untuk mencari barang tersebut.

Baru-baru ini Indonesia dihebohkan oleh tutupnya beberapa perusahaan ritel seperti Matahari,
Seven Eleven, Lotus, dan Debenhams. Perusahaan tersebut menurut beberapa ahli ekonomi,
tergurus oleh bisnis online. Hampir semua jenis sektor dilakukan secara online. Dari mulai
memesan ojek, memasukan dokumen untuk tender, ujian nasional, ujian masuk kerja,
sampai bidding untuk projek kantor, semua dilakukan di dunia maya. Bahkan mencari
penghasilan bisa dilakukan di dunia maya seperti jadi youtubers yang sekarang digemari oleh
kawula muda. Hal tersebut membuat manusia seakan-akan pindah ke dunia maya, dunia tidak
nyata, unrealistic world untuk melakukan aktivitasnya.

Perpindahan tersebut,bukan tidak mungkin dunia nyata akan kita tinggalkan. Apakah di dunia
maya ada pohon? Apakah di dunia maya terdapat tanah? Apakah di dunia maya terdapat air?
Apakah di dunia maya terdapat kupu-kupu? Apakah di dunia maya terdapat udara? Akankah itu
semua kita tinggalkan?

Dengan saya mengurangi usaha saya untuk membeli kartu memori, setidaknya membuat saya
mengurangi polusi dengan tidak menggunakan kendaraan saya. Dengan tutupnya toko ritel
setidaknya membuat listrik yang digunakan menjadi berkurang. Dengan adanya ujian online,
setidaknya mengurangi penggunaan kertas. Dengan tutupnya beberapa toko di dunia nyata,
setidaknya mengurangi pemakaian air tanah dan lahan. Dengan adanya grup Whatsapp,
setidaknya mengurangi produksi kertas untuk undangan pernikahan ataupun sunatan karena bisa
disebar di grup WA dan dapat mengurangi polusi dari kendaraan bermotor yang mengirim
undangan tersebut. Penggunaan Tapcashdan e-money mengurangi produksi uang tanpa
mengurangi nilai dari mata uang tersebut. Pohon yang digunakan juga berkurang. Hal tersebut
mungkin mampu mengurangi tekanan kepada lingkungan hidup.

Akan tetapi, apakah itu semua bisa dilakukan secara berkelanjutan dengan memenuhi kebutuhan
dari sisi sosial, ekonomi, dan lingkungan?

–– ADVERTISEMENT ––