You are on page 1of 14

ETIKA MAHASISWA DI KAMPUS

MAKALAH
Disusun sebagai tugas tugas
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu : Fahrudin Eko H. S.Pd., M.Pd

Disusun oleh :
Nama : Weni Silvia
NIM : 2014001108

STIE MUHAMMADIYAH
PEKALONGAN
2014
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Universitas adalah intitusi pendidikan yang didalamnya kita tidak hanya
disuguhkan dengan berbagai macam mata kuliah yang dikhususkan dalam
golongan fakultas tertentu. Kita sering menyebut tempat dimana kita berkuliah ini
dengan sebutan kampus. Disana kita belajar untuk bersosialisasi dan menjadi
calon – calon intelek yang santun dan dewasa. Namun sering kali karna mungkin
terbawa oleh kebiasaan atau pengaruh dari pergaulan dan ketidak mampuan untuk
mengendalikan diri dalam bergaul dengan teman teman dikampus kita menjadi
tidak cukup pintar dalam menempatkan diri dengan etika bergaul yang baik.
Sebut saja kondisi seperti ini dengan sebutan “cuek”.
Memang setiap orang memiliki kebebasan untuk melakukan hal sesuka
hatinya tapi perlu diingat bahwa dalam menjalani hidup, kita tidak hanya hidup
seorang diri, kita hidup berdampingan dengan orang lain dimana kita pun secara
tidak langsung berkewajiban menjaga perasaan orang, dan membuat orang
lain menjadi nyaman dengan tingkah laku kita. Hal semacam inilah yang
dinamakan etika bergaul.
Etika sendiri berasal dari bahasa Yunani adalah "Ethos", yang berarti watak
kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan
perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu "Mos" dan dalam
bentuk jamaknya "Mores", yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup
seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari
kita dari hal-hal dan tindakan yang buruk.
Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan
sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian
perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-
nilai yang berlaku.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Apakah pengertian etika dan etika macam apakah yang ada di lingkungan
kampus?
2. Bagaimanakah sikap kebiasaan mahasiswa di kampus?
3. Bagaimanakah etika kesopanan mahasiswa di kampus?
4. Apakah terjadi demoralisasi sikap dan etika mahasiswa pada saat ini?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah :
5. Untuk mengetahui pengertian etika dan etika macam apakah yang ada di
lingkungan kampus
6. Untuk mengetahui bagaimanakah sikap kebiasaan mahasiswa di kampus
7. Untuk mengetahui bagaimanakah etika kesopanan mahasiswa di kampus
8. Untuk mengetahui apakah terjadi demoralisasi sikap dan etika mahasiswa
pada saat ini
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Etika dan Macam Etika Secara Umum di Kampus


Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup
tingkat internasional di perlukan suatu system yang mengatur bagaimana
seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling
menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan
lain-lain. Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan
masing-masing yang terlibat agar mereka senang, tenang, tentram, terlindung
tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah
dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan
dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya
etika di masyarakat kita. Untuk itu perlu kiranya bagi kita mengetahui tentang
pengertian etika serta macam-macam etika dalam kehidupan bermasyarakat.
Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”,
yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya
berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin,
yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat
kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik
(kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk.Etika dan moral lebih
kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan,
yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan
etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.
Istilah lain yang identik dengan etika, yaitu: usila (Sanskerta), lebih
menunjukkan kepada dasar-dasar, prinsip, aturan hidup (sila) yang lebih baik (su).
Dan yang kedua adalah Akhlak (Arab), berarti moral, dan etika berarti ilmu
akhlak.
Menurut para ahli, etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan
manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan
mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata
Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-
ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik
1. Etika Pergaulan Kampus
Etika pergaulan merupakan seperangkat nilai yang diharapkan menjadi
acuan bagi mahasiswa dalam berinteraksi dengan sesama warga sivitas
akademika dan masyarakat sekitarnya. Dalam pergaulan antar warga sivitas
akademika, mahasiswa mengembangkan kepribadian, sopan santun, nilai-nilai
budaya dan agama, sebgai landasan utamanya. Mahasiswa mampu bergaul
secara baik dengan sesama mahasiswa, dosen, karyawan, dan masyarakat
sekitar kampus sebagai langkah awal untuk menciptakan iklim kerjasama yang
kondusif.
Dalam pergaulan mahasiswa saling menghormati satu sama lain, yang
tercermin dalam acara memanggil, berbicara, menegur, meminta dan
berdiskusi. Dalam bergaul mahasiswa tidak membedakan suku, ras, latar
belakang sosial ekonomi, dan agama. Mahasiswa dalam pergaulan senantiasa
menunjukkan kepekaan, kepedulian, serta rasa kesetiakawanan sosial.
2. Etika Berkreasi
Etika berkreasi merupakan seperangkat nilai yang diharapkan menjadi
acuan bagi mahasiswa dalam penciptaan karya dalam bentuk tulisan, gambar,
poster, leaflet, tarian, puisi, dan sebagainya. Mahasiswa pada dasarnya harus
memiliki sikap kreatif sebagai insane akademis.
Sikap kreatif sebagaimana dimaksud dilandasi oleh kejujuran sikap,
kritis dan rasional. Sikap kreatif mahasiswa terutama ditunjukkan untuk
kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta
menjunjung tinggi nama baik almamater, dengna menekankan pada upaya
mewujudkan hasil karya yang langka dan orisinil.
Sikap kreatif dikembangkan dengan tetap menjunjung tinggi harkat dan
martabat kemanusiaan serta nilai-nilai moral keagamaan.
3. Etika Berekspresi
Etika berekspresi merupakan seperangkat nilai yang diharapkan menjadi
acuan bagi mahasiswa dalam berekspresi, yakni mengemukakan pendapat,
pandangan, ide, atau gagasan, serta konsep, baik secara lisan maupun tertulis,
sebagai bagian dari upaya pengkajian ilmu pengetahuan sesuai dengan
bidangnya, serta dalam fungsi sebagi kontrol sosial.
Sebagai bagian dari insane akademik mahasiswa mempunyai kebebasan
akademik. Mahasiswa bebas dalam mengungkapkan pendapat, pandangan, ide
atau gagasan, konsep dan semacamnya di lingkungan kampus, baik di dalam
maupun di luar forum perkuliahan. Kebebasan sebagaimana dimaksud didasari
motif yang baik dan konstruktif, serta dilakukan dengan cara-cara yang santun,
bertanggung jawab, dengan memperhatikan norma/kaidah keilmuan, nilai-nilai
kepribadian bangsa, dan segala ketentuan yang berlaku.
Dalam rangka ini maka ungkapan-ungkapan yang bersifat penghinaan,
pelecehan, fitnah, dan pencemaran nama baik terhadap pihak-pihak tertentu
merupakan sesuatu yang layaknya dihindarkan.
4. Etika Berbusana
Etika berbusana merupakan seperangkat nilai yang diharapkan menjadi
acuan bagi mahasiswa dalam berpakaian dan/atau berdandan. Mahasiswa
sebagai insane akademik hendaknya membiasakan berbusana yang
mencerminkan nilai-nilai etis, estetis, dan religius, sehingga menampakkan
keberadaannya sebagai warga sivitas akademika yang sopan dan berbudaya.
Berbusana yang tidak mencerminkan nilai0nilai sebagaimna disebutkan
diatas justru akan menrendahkan martabatnya sebagai insane cendekia. Ketika
mahasiswa mengikuti kuliah atau berurusan dengan birokrasi dikampus dengan
berpakaian rapi, bersih dan sopan, dapat mencerminkan penampilan sebagai
insan akademis.

B. Sikap Kebiasaan Mahasiswa di Kampus


Kebiasaan merupakan hak yang dimiliki oleh setiap individu, dalam
bergaul seringkali kita menggunakan kebiasaan kita sebagai identitas diri kita
dalam lingkungan pergaulan, begitu pun dengan lingkungan pergaulan kita, ada
begitu banyak kebiasaan-kebiasaan yang diperkenalkan oleh teman teman kita,
entah itu kebiasaan baik, buruk atau terburuk diperkenalkan dalam lingkungan
pergaulan kita sebagai mahasiswa. Yang menjadi masalah dalam kebiasaan-
kebiasan tersebut adalah, apakah kebiasaan tersebut baik untuk kita atau justru
akan balik meneror kita. Dalam kehidupan sehari-hari kita tau bahwa banyak dari
teman-teman mahasiswa kita yang tidak bisa menjaga dirinya, mereka lebih
mengikuti kebiasaan yang buruk dari teman mereka dengan alasan untuk diterima
dalam lingkungan pergaulannya. Kebiasaan yang buruk itu akhirnya
menimbulakan suasana yang kurang nyaman untuk lingkungan perkuliahan.
Contoh kebiasaan yang tidak baik antara lain:
1. Kebiasaan Tawuran antar mahasiswa
Mereka yang terbawa arus pergaulan yang kurang sehat lebih cenderung tidak
berfikir panjang dalam mengolah emosi mereka. Mereka lebih mementingkan
solidaritas kelompok dari pada kepentingan umum yang lain, tawuran antar
mahasiswa saat ini sangat mudah sekali terjadi dengan masalah-masalah kecil
sebagai pemicunya.
2. Menitip absensin kehadiran pada teman
Satu lagi masalah kebiasaan buruk berlandaskan solidaritas, mereka merasa
jika mereka dititipkan absen oleh temannya yang tidak bisa hadir karna malas
kuliah adalah suatu tindakan yang mulia dengan alasan menolong teman dan
ia mengharapkan apabila ia ingin membolos kuliah suatu saat nanti dapat
menitipkan absen pada temannya itu.
3. Menyontek tugas teman
Melihat banyaknya teman yang menyontek seorang mahasiswa menjadi malas
mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan dirumah, ataupun saat
dirumah ia tidak ada niatan sama sekali mengerjakan tugasnya karna
disibukan dengan kegiatan-kegiatan yang menghibur diri
Dalam penjelasan mengenai kebiasaan-kebiasaan diatas dapat disimpulkan
bahwa suatu kebiasaan yang diterapkan oleh individu menjadi modal bagi dirinya
untuk bisa masuk dalam lingkungan pergaulan, khususnya lingkungan pergaulan
mahasiswa.
D. Etika Kesopanan Mahasiswa di Kampus
Kesopanan menjadi hal yang mutlak ketika seseorang masuk dalam suatu
lingkungan dimana ia beraktifitas. Didalam keluargalah etika kesopanan
seseoarang dibentuk, dalam aktifitas sehari-hari seorang anak dituntut oleh orang
tua mereka untuk berlaku sopan, contohnya, kesopanan dapat diterapkan
keluarga pada saat makan bersama, pada saat makan anggota keluarga tidak boleh
berbicara satu sama lain, tidak menimbulkan bunyi-bunyian dari sendok dan
garpu yang beradu juga masuk dalam kesopanan di meja makan, dan berdoa
sebelum makan sebagai bentuk kesopanan dan rasa syukur pada Tuhan. Tentu
pada setiap keluarga terdapat aturan-aturan yang berbeda tergantung pada adat
dan kebiasaan yang diterapkan dalam masing-masing keluarga.
Selain dikeluarga, etika kesopanan juga harus dilakukan ditempat kerja dan
bagi para mahasiswa di tempat mereka berkuliah.
Sangat disayangkan, gaya hidup mahasiswa masa kini seringkali
mengesampingkan etika kesopanan, Gaya hidup mahasiswa yang lebih suka
bersenang-senang daripada mereka harus berkuliah menjadikan mereka acuh
terhadap orang lain, mereka menganggap orang lain yang tidak mengikuti gaya
hidup mereka adalah orang yang norak dan kurang pergaulan, bahkan hal itu juga
mereka lakukan pada dosen-dosen mereka sendiri yang menurut mereka, para
dosen hanya memberikan tugas-tugas tanpa memberi mereka nilai yang pantas,
mereka tidak sadar bahwa mereka sendiri lah yang membuat nilai itu. Berikut
merupakan hal-hal yang menyangkut tentang masalah etika kesopanan mahasiswa
di lingkungan kampus mereka:
1. Etika kesopanan dalam hal Menyapa
Seringkali kita sebagai mahasiswa sering melewati hal ini, menyapa
merupakan suatu bentuk penghormatan pada orang yang kita sapa, saat ada
dosen melintas dihadapan kita, sebaiknya kita menyapa beliau, karna walau
bagaimana pun mereka semua(dosen) merupakan orang-orang yang
mendorong kita untuk maju dan mendidik kita menjadi lebih baik, seringkali
kita merasa untuk apa kita menyapa karna kita kuliah sudah membayar, dan
uang yang kita bayar adalah untuk membayar dosen-dosen kita. Mindset yang
seperti inilah yang harus dihilang dari dalam diri kita sebagai mahasiswa.
Namun menyapa juga tidak hanya sebatas untuk dosen saja, para pekerja lain
di kampus kita juga perlu kita beri penghargaan, siapaun dia; satpam,tukang
sapu,ataupun pesuruh dan tukang kebun kampus kita perlu menyapa mereka
sebagai wujud terima kasih atas setiap pelayanan yang meraka berikan untuk
semuaorang yang ada di kampus
2. Etika kesopanan dalam hal berprilaku
Setiap orang diberi hak dalam berprilaku namun ada batasan dalam
menggunakan hak tersebut, hak berprilaku boleh saja dilakukan selagi tidak
mengganggu kepentingan umum, didalam kampus seorang mahasiswa juga
diberik hak yang sama dan diberi batasan yang sama, banyak prilaku yang
menyimpang yang dilakukan oleh mahasiswa yang kurang bisa menjaga
prilaku mereka, seperti mengganggu teman-teman lain yang sedang belajar
dengan membuat kegaduhan di lorong-lorong kelas, mengotori kelas dengan
membuang sampah dikelas, merusak fasilitas kampus yang disediakan, hal ini
sangat tidak mencerminkan mahasiswa sebagai seoarang belajar etika.
Seharusnya kita sebagai mahasiswa yang beretika lebih menjaga prilaku kita
dengan melakukan hal-hal yang positif, seperti saat ada jam kosong sebaiknya
kita menggunakan waktu itu untuk mengulang materi yang sebelumnya
diajarkan agar kita lebih siap jika dosen memberikan pertanyaan.
Dalam penjelasan diatas, kami menyimpulkan bahwa seorang mahasiswa
yang beretika,dan sebagai orang yang terpelajar haruslah menerapkan etika
kesopanan tersebut dalam kampus maupun diluar kampus, kesopanan merupakan
hal yang mutlak dan tidak ada kompromi bagi setiap kita untuk berlaku tidak
sopan.

E. Demoralisasi Sikap dan Etika Mahasiswa Saat Ini


Era modern ditandai dengan berbagai macam perubahan dalam
masyarakat. Perubahan ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: perkembangan
ilmu pengetahuan dan tekhnologi (iptek), mental manusia, teknik dan
penggunaannya dalam masyarakat, komunikasi dan transportasi, urbanisasi,
perubahan-perubahan pertambahan harapan dan tuntutan manusia . Semuanya ini
mempunyai pengaruh bersama dan mempunyai akibat bersama dalam masyarakat,
dan inilah yang kemudian menimbulkan perubahan masyarakat.
Perubahan ini sampai mengarah kepada perubahan mentalitas (moral).
Khususnya, di kalangan generasi muda (dalam hal ini mahasiswa) telah terlihat
adanya pergeseran nilai dan kecendrungan-kecendrungan pada aspek tertentu.
Sangat disayangkan, era modern hanya ditandai dengan gaya hidup yang serba
hedonistis (keduniawian) dan budaya glamour (just for having fun). Perilaku
moral generasi muda telah melampaui batas-batas norma. Potret buram generasi
muda hari ini: mabuk-mabukkan, berlagak preman (premanisme), penganut seks
bebas (free sex), tawuran antar pelajar, terlibat narkoba, dan lain sebagainya.
Kondisi inilah yang disebut demoralisasi, yaitu proses kehancuran moral generasi
muda.
Akhir-akhir ini permasalahan seks bebas di kalangan mahasiswa semakin
memprihatinkan, terutama yang kurang baik taraf penanaman keimanan dan
ketaqwaannya. Beberapa kasus video porno pasangan mahasiswa yang merebak
di internet membuktikan bahwa moral adalah sebuah hal yang tidak cukup
penting untuk dipahami dan dilaksanakan oleh sebagian mahasiswa.
Kemudian kasus pencurian telepon genggam oleh mahasiswa yang ketika
ditanya, ia mengaku butuh uang untuk membeli narkoba. Kemudian kasus lainnya
beberapa mahasiswa di salah satu universitas negeri di Semarang tertangkap
basah sedang mesum di lingkungan kampus. Dan banyak contoh kasus lain
perilaku amoral mahasiswa yang kerap terjadi di Indonesia ini.
Sebuah kasus yang menunjukan begitu rentannya pelajar dan mahasiswa
mengalami kerusakan moral adalah di Yogyakarta yang dikenal sebagai kota
pelajar. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa sekitar 80% mahasiswi di sana
telah kehilangan keperawanan. Dari hal ini, kita mengetahui bahwa hampir tidak
dapat dipisahkan antara kaum muda intelek dengan pergaulan bebas.
Kondisi ini juga berimbas terhadap down-nya mental generasi muda.
Gejalanya bisa dilihat dari pesimisme generasi muda baik dalam mengeluarkan
ide/gagasan ataupun dalam menyikapi perkembangan. Tidak jarang ditemukan
mahasiswa yang minder sendiri karena ketidakmampuannya mengoperasikan
teknologi informasi, seperti: komputer ataupun internet atau juga mahasiswa yang
terganggu mentalitas kejiwaannya karena tidak sanggup berhadapan dengan
kompleksitas persoalan hidup.
Telah terjadi pergeseran nilai hidup dari sebagian mahasiswa dari
menuntut ilmu dan berkarya ke menikmati hidup dan menikmati karya. Dengan
kata lain kurangnya internalisasi Tri Dharma Perguruan Tinggi di kalangan
mahasiswa. Imbasnya, mahasiswa lebih suka berdemo menuntut pemerintah
membatalkan kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat daripada berkarya
untuk mengatasi tantangan yang dapat berguna bagi rakyat. Seharusnya
mahasiswa yang kreatif dan bermoral tinggi memiliki kepekaan yang lebih berupa
tindakan nyata dan langsung sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Demonstrasi yang akhir-akhhir ini kerap terjadi hampir selalu berakhir
dengan bentrokan. Bentrokan juga merupakan suatu bentuk dari tindakan amoral
karena bertujuan untuk menyakiti musuhnya. Di lain waktu juga terlihat
amoralitas mahasiswa dimana mahasiswa tidak memiliki rasa hormat terhadap
orang lain ketika membakar foto Presiden.
Ini adalah potret buram betapa negeri ini masih perlu untuk belajar
berdemokrasi dengan bijak. Tidak semata-mata atas nama hak asasi manusia
setiap orang boleh melakukan apa saja yang ia ingin ia lakukan. Nilai-nilai
Pancasila yang luhur merupakan ajaran moral yang mendasar dalam seluruh
aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Tetapi pada kenyataannya saat ini
Pancasila justru banyak dipertanyakan relevansinya dalam era moderenitas-
globalisasi.
Pada hakikatnya ajaran moral Pancasila meliputi segala bidang, dari
agama, sosial-budaya, politik, hankam, pendidikan serta ekonomi. Namun,
jauhnya relasi antara warga dengan Pancasila ini telah menimbulkan masalah
moral yang juga begitu kompleks di segala bidang. Dalam hal ini, yang penulis
soroti adalah bidang pendidikan. Kondisi pendidikan kita saat ini jauh dari upaya
untuk menjaga atau memperbaiki moral. Di dunia sekolah pada kurikulum 1984,
terdapat mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang memiliki esensi
sebagai peljaran moral yang berdasar Pancasila. Namun, pada kurikulum 1994
pelajaran ini dihapuskan dan diganti dengan Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan (PPKn) dengan maksud untuk menumbuhkan rasa cinta tanah
air, sementara itu pendidikan tentang moral masuk ke dalam Pendidikan Agama
yang pada penerapannya lebih pada kehidupan beragama itu sendiri. Dan setelah
itu, pada kurikulum 2004 PPKn juga diganti dengan Pendidikan
Kewarganegaraan saja tanpa Pancasila. Secara otomatis nilai-nilai moral yang ada
dalam Pancasila tidak lagi dipelajari dan ditanamkan pada diri siswa.
Di dunia perguruan tinggi moral bahkan tidak pernah disosialisasikan
kepada mahasiswa secara formal atau masuk ke dalam mata kuliah secara khusus.
Moral tersubstansi dalam MPK yaitu mata kuliah pengembangan kepribadian
meliputi Pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan
Agama. Hal ini cenderung membuat mahasiswa kurang memahami pentingnya
moral dalam kehidupan akademis mereka maupun sebagai aplikasi di masyarakat
kelak
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Menurut para ahli, etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan
manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar
dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal
dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah
dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik.
2. Suatu kebiasaan yang diterapkan oleh individu menjadi modal bagi dirinya
untuk bisa masuk dalam lingkungan pergaulan, khususnya lingkungan
pergaulan mahasiswa.
3. Sangat disayangkan, gaya hidup mahasiswa masa kini seringkali
mengesampingkan etika kesopanan, Gaya hidup mahasiswa yang lebih suka
bersenang-senang daripada mereka harus berkuliah menjadikan mereka acuh
terhadap orang lain, mereka menganggap orang lain yang tidak mengikuti
gaya hidup mereka adalah orang yang norak dan kurang pergaulan.

B. Saran
Sebagai seorang mahasiwa akan sangat baik apabila segala tingkah laku
dan sikap kita sesuai dengan etika-etika yang telah ada dan sesuai dalam
lingkungan kampus.
DAFTAR PUSTAKA

http://susantiningrum.staff.fkip.uns.ac.id/etika-pergaulan-mahasiswa.html
http://bagasseto.blogspot.com/
http://chibinyanko.blogspot.com/2013/01/sikap-dan-perilaku-mahasiswa.html
http://www.gunadarma.ac.id/en/page/etika-pergaulan-mahasiswa-2.html
http://etika-mahasiswa.blogspot.com/