You are on page 1of 6
Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia The Indonesian Association of Forensic Medicine Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Proceeding

Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia

The Indonesian Association of Forensic Medicine

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017

Proceeding Annual Scientific Meeting 2017

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA PADA PRIA (LAPORAN KASUS)

Liya Suwarni 1 , Julia Ike Haryanto 2

Abstrak

Kekerasan dalam rumah tangga terhadap pria berkaitan dengan kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh pria atau anak laki-laki dalam hubungan intim seperti pernikahan, hidup bersama, atau dalam keluarga. Seperti kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan, kekerasan terhadap pria mungkin merupakan kejahatan, namun hukum bervariasi di antara wilayah hukum. Norma sosial budaya mengenai perlakuan pria dengan wanita, dan wanita oleh pria, berbeda tergantung pada wilayah geografis, dan perilaku kasar secara fisik oleh salah satu pasangan terhadap yang lain dianggap berbeda sebagai kejahatan serius untuk masalah yang lebih pribadi. Prevalensi dan frekuensi KPI terhadap pria sangat diperdebatkan, dengan studi yang berbeda menghasilkan kesimpulan yang berbeda untuk negara yang berbeda, dan banyak negara tidak memiliki data sama sekali. Beberapa peneliti percaya bahwa sebenarnya jumlah korban pria cenderung lebih besar dari statistik yang dinyatakan oleh penegakan hukum, karena tingginya jumlah pria yang tidak melaporkan kekerasan terhadap mereka. Sebuah laporan kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan istri terhadap suami. Seorang pria berusia 33 tahun mengalami kekerasan dalam rumah tangga akibat dianiaya oleh istrinya, korban dicakar pada bagian pipi kanan dan pipi kiri, dipukul dengan tangan kosong pada bagian wajah, digigit pada lengan atas kanan dan ditendang pada lutut kanan. Korban mengalami luka memar dan luka lecet di beberapa bagian tubuh. Kekerasan dalam rumah tangga dapat terjadi baik pada pria maupun wanita. Namun pria sangat jarang melaporkan kekerasan yang dialami dengan berbagai alasan. Kata Kunci: kekerasan dalam rumah tangga,pria, traumatologi

Afiliasi Penulis: 1. PPDS Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang 2. Staf Pengajar IlmuKedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/ RSUP Dr. Kariadi Jl. Dr. Sutomo no.16 Semarang. Korespondensi: Liya Suwarni

PENDAHULUAN

Kekerasan Dalam Rumah Tangga menjadi kasus yang tak pernah habis dibahas karena meskipun berbagai instrumen

hukum, mulai dari internasional sampai pada tingkat nasional belum mampu menekan angka kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang terjadi. Dengan jumlah kasus yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, hal ini menimbulkan keprihatinan tersendiri karena memicu tingginya angka korban yang mengalami perlukaan akibat kekerasan dan juga meningkatnya angka

perceraian. Kekerasan dalam rumah tangga dapat terjadi baik pada pria maupun wanita.

Namun pria sangat jarang melaporkan kekerasan yang dialami dengan berbagai

alasan. Tujuan untuk mengetahui pengertian kekerasan dalam rumah tangga, untuk mengetahui bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga, untuk mengetahui jenis luka apa saja yang terjadi pada kekerasan dalam rumah tangga.

METODE

Metode

penelitian

yang

dilakukan

adalah laporan kasus. Dengan kronologis sebagai berikut : Kurang lebih dua hari sebelum korban datang ke RSUP dr.Kariadi Semarang, korban bertengkar dengan istri korban, kemudian korban dicakar di pipi kanan dan kiri lalu dipukul di wajah dengan tangan kosong, korban pun digigit di lengan atas kanan dan ditendang di lutut kanan.

Sebelumnya korban pernah mengalami kejadian yang sama sebanyak dua kali.

175 |

I S B N

978-602-50127-0-9

Pekanbaru, 15-16 Juli 2017

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017

Korban

adalah seorang pria berusia 33

tahun, dengan berat badan 90 kg dan tinggi

badan

160

cm,

didapatkan indeks massa

tubuh 34,7 kg/m 2 . Dari pemeriksaan fisik tubuh bagian luar,

didapatkan

tanda

–tanda

vital sebagai

berikut:

Kesadaran

: sadar penuh

Tekanan darah

: 140/100 mmHg

Nadi Suhu Pernafasan

: 102 x/menit : 34,6 0 C : 20 x/menit

Pada pemeriksaan fisik luar didapatkan :

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Korban adalah seorang pria berusia 33 tahun, dengan berat badan 90
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Korban adalah seorang pria berusia 33 tahun, dengan berat badan 90

Liya Suwarni, Kekerasan Dalam.....

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Korban adalah seorang pria berusia 33 tahun, dengan berat badan 90
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017 Korban adalah seorang pria berusia 33 tahun, dengan berat badan 90
HASIL Dari laporan kasus tersebut didapatkan
HASIL
Dari
laporan
kasus
tersebut
didapatkan

kesimpulan visum sebagai berikut :

Berdasarkan temuan-temuan yang di dapatkan dari pemeriksaan atas korban tersebut maka saya simpulkan bahwa

176 |

I S B N

978-602-50127-0-9

Pekanbaru, 15-16 Juli 2017

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017

korban adalah seorang laki-laki, umur tiga puluh tiga tahun dua bulan empat belas hari, kesan gizi lebih. Dari pemeriksaan luar didapatkan luka akibat kekerasan tumpul berupa luka memar pada anggota gerak bawah kanan; Luka lecet pada beberapa bagian tubuh. Akibat hal tersebut tidak menimbulkan gangguan dan halangan dalam menjalankan aktivitas dan pekerjaan untuk sementara waktu.

PEMBAHASAN

Pada Pasal 1 Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, bahwa yang dimaksud dengan kekerasan dalam rumah tangga adalah: “setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan, atau penderitaan secara fisik, seksual psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga”. 3 Ruang lingkup rumah tangga diatur dalam Pasal 356 KUHP, juga diatur dalam pasal 2 ayat 1 dan 2 UUPKDRT, yaitu:

  • 1. 1. Lingkup rumah tangga dalam Undang Undang ini meliputi:

a. Suami, istri, anak b. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud pada huruf a karena hubungan darah, perkawinan, yang menetap dalam rumah tangga, dan/atau. c. Orang yang bekerja membantu

rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut. 2. Orang yang sebagaimana dimaksud dalam huruf c dipandang sebagai anggota keluarga dalam jangka waktu selama

Liya Suwarni, Kekerasan Dalam.....

berada dalam rumah tangga yang bersangkutan. Kekerasan dalam rumah tangga pada pria dilaporkan ada 10 kasus di RSUP Kariadi Semarang dengan rentang waktu Maret 2015 sampai dengan Maret 2017, sedangkan kekerasan dalam rumah tangga pada wanita dilaporkan ada 125 kasus dengan rentang waktu yang sama.

Kasus kekerasan dalam rumah tangga periode Maret 2015 - Maret 2017 di RSUP dr.Kariadi Semarang 00
Kasus kekerasan dalam
rumah tangga periode Maret
2015 - Maret 2017 di RSUP
dr.Kariadi Semarang
00
7%
pri
93%
a
Salah
satu
faktor
risiko
kekerasan
dalam

rumah tangga terjadi pada usia dewasa muda yaitu berkisar antara 18 tahun hingga

29 tahun. 4 Bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004:

Kekerasan fisik (Pasal 6 UU PKDRT). Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit

atau Iuka

berat

Kekerasan psikis (Pasal 7 UU PKDRT). Kekerasan psikis adalah perbuatan

yang mengakibatkan

ketakutan, hilangnya

rasa

percaya diri, hilangnya kemampuan

untuk bertindak, rasa tidak berdaya,

dan/atau

penderitaan psikis berat pada

seseorang. Kekerasan seksual (Pasal 8 UU PKDRT). Kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang berupa pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak

177 |

I S B N

978-602-50127-0-9

Pekanbaru, 15-16 Juli 2017

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017

wajar dan atau tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersial dan atau tujuan tertentu. Kekerasan ekonomi Berupa tidak diberikannya nafkah selama perkawinan atau membatasi nafkah secara sewenang-wenang, membiarkan atau bahkan memaksa istri bekerja keras, juga tidak memberi nafkah setelah terjadi perceraian meskipun pengadilan memutuskan.

Penelantaran Rumah Tangga (Pasal 9 UU PKDRT).

  • a) Setiap orang dilarang menelantarkan

orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut. b) Penelantaran yang dimaksud sebelumnya juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut. Menurut Mansour Fakih, kekerasan adalah seseorang atau invasi terhadap fisik maupun integritas mental psikologi sesorang. Kekerasan terhadap sesama manusia pada dasarnya berasal dari berbagai sumber, namun salah satu kekerasan terhadap salah satu jenis kelamin tertentu yang disebabkan oleh anggapan gender. Kekerasan yang disebabkan bias gender ini di sebuat gender relatedviolence.

Pada dasarnya kekerasan gender disebabkan oleh ketidak setaraan kekuatan yang ada dalam masyarakat. 5 Jenis kekerasan yang terjadi pada kekerasan dalam rumah tangga

Liya Suwarni, Kekerasan Dalam.....

baik pada pria dan wanita yang paling sering ditemukan adalah kekerasan fisik.

Tabel 1. Jenis kekerasan dalam rumah tangga pada pria dan wanita

Jenis

Kasus

Kasus

kekerasan

pada

pada

pria

wanita

Kekerasan

fisik

Kekerasan

-

seksual

Kekerasan

psikis

Kekerasan

-

ekonomi

Penelantaran

-

rumah tangga

Pada kekerasan fisik dapat berupa pemukulan, pencakaran hingga kekerasan seksual. Sedangkan kekerasan fisik secara tidak langsung biasanya berupa memukul meja, membanting pintu, memecahkan piring, gelas, tempat bunga dan lain – lain, serta berlaku kasar. 6 Penyebab kekerasan fisik yang terjadi pada kasus KDRT kemungkinan karena saat kejadian berlangsung, pelaku sedang mengalami tekanan atau dibawah pengaruh alkohol sehingga hilang kendali dan kemudian dengan mudah menggunakan kekuatan fisik. 7,8

Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya luka memar, luka gores, dan luka lecet. Luka memar adalah suatu perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah kapiler dan vena dalam jaringan bawah kulit atau kutis yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul, perdarahan yang terjadi menyebabkan darah meresap ke jaringan sekitarnya. Luka lecet terjadi akibat cedera

178 |

I S B N

978-602-50127-0-9

Pekanbaru, 15-16 Juli 2017

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017

pada epidermis yang bersentuhan dengan benda yang memiliki permukaan kasar atau runcing. Luka gores dan luka lecet diakibatkan oleh benda runcing (misalnya kuku jari yang menggores kulit) yang menggeser lapisan tersebut terangkat sehingga dapat menunjukkan arah kekerasan yang terjadi atau terjadi akibat benda tumpul yang digunakan pelaku saat melakukan kekerasan terhadap korban. 9 Benda tumpul yang umumnya sering digunakan adalah peralatan rumahtangga, seperti panci, gayung, penggiling adonan, gantungan baju, dan lain –lain. 10

Tabel 2. Jenis luka pada kekerasan dalam rumah tangga pada pria dan wanita

Jenis luka

Korban

Korban

pria

wanita

Memar

Luka lecet

Luka gores

-

Jenis

cedera

yang

paling

sering

terjadi pada kekerasan dalam rumah tangga pada pria adalah luka lecet. Hal ini terjadi karena sebagian besar pelaku KDRT pada pria lebih mudah menggunakan kuku sebagai senjata untuk melukai pasangannya.

Liya Suwarni, Kekerasan Dalam.....

Tabel 3. Lokasi luka pada kekerasan dalam rumah tangga pria dan wanita

Lokasi luka

Korban

Korban

pria

wanita

Kepala

&

wajah

Ekstremitas

 

atas

Ekstremitas

 

bawah

Punggung

Lokasi

luka

yang

paling sering

ditemukan pada kekerasan dalam rumah tangga pada pria yaitu di daerah kepala - wajah dan ekstremitas atas dikarenakan lokasi tersebut mudah dijangkau oleh tangan

pelaku.

SIMPULAN

  • 1. Jenis kekerasan yang sering terjadi pada kekerasan dalam rumah tangga baik pria maupun wanita ialah kekerasan fisik.

  • 2. Korban yang mengalami KDRT sebagian besar mengalami kekerasan yang berulang.

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Canadian Centre for Justice Statistics, Family Violence in Canada : A Statistical Profile 2000 ( Ottawa : Statistical Canada; Catalogue no. 85-224-XIE,2000) : 9

  • 3. Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

  • 4. Baker RB, Sommers MS. Physical injury from

  • 2. Richard

Gelles,

J.

The

Missing

Persons

in

intimate partner

violence: measurement

Domestic

Violence

:

Male

Victims.

strategies and

challenges. JOGNN.

[online].[accessed

February

5,2002].

2008;37:228-33.

Available

on

Internet

:

<http/tsw.odyssey.on.ca/~balancebeam/Dom estic Violence/gelles.htm>

  • 5. Mansour Fakih, Analisis Gender

dan

Transformasi Sosial (Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), 16.

179 |

I S B N

978-602-50127-0-9

Pekanbaru, 15-16 Juli 2017

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan 2017

  • 6. Sheridan DJ, Nash KR. Acute injury patterns of intimate partner violence victims. Trauma Violence Abuse. 2007;8:281-9.

Liya Suwarni, Kekerasan Dalam.....

  • 9. M.B Brinherhoff and E. Lupri, “ Interspousal Violence,” Canadian Journal of Sociology,13,4 (Fall 1988): 423-24

  • 7. Nur

Aziz

Muslim,

Jurnal

Studi

Gender

10. K.D.O’Leary,

”Are

Women

Relly

more

Indonesia, Pusat Studi Gender IAIN Sunan

Aggressive Than men in Intimate

Ampel Surabaya, 2012, 70.

 

Relationships?” Psychological Bulletin, 5(2000) : 685-689

126,

  • 8. Cook, Philip W. Abused Men. The Hidden Side of Domestic Violence. Watport, Connecticut: Praeger, 1997

180 |

I S B N

978-602-50127-0-9

Pekanbaru, 15-16 Juli 2017