You are on page 1of 7

PERBEDAAN TINGKAT KELELAHAN TENAGA

KERJA YANG MENGALAMI KECEMASAN


AKIBAT KEBISINGAN PADA BAGIAN
WEAVING, RICHING, DAN ADMINISTRASI
DI PT. ISKANDAR INDAH PRINTING TEXTILE
SURAKARTA
1
Eka Rosanti, 2Hartono dan 3Sri Budiastuti
Magister Ilmu Lingkungan Program PASCASARJANA UNS

Abstrak
Kebisingan sebagai aspek terpenting dalam higiene industri yang direspon oleh
tenaga kerja sebagai suatu gangguan akan memberikan peringatan kepada tubuh melalui
reaksi berupa kecemasan. Kecemasan dapat mempengaruhi kekebalan tubuh yang bera-
kibat terjadinya kelelahan kerja melalui peran hormon dari poros (axis) Hyphotalamic
Pituitary Adrenal dan poros (axis) Sympathetic Adrenal Medullary. Penelitian ini bertuju-
an untuk membedakan tingkat kelelahan tenaga kerja yang mengalami kecemasan akibat
kebisingan pada bagian weaving, riching, dan administrasi.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan
cross sectional. Populasi ditentukan dengan kriteria untuk mendapatkan populasi sasa-
ran. Sampel ditentukan dengan teknik sampling menggunakan random sampling acak
sederhana. Uji Hubungan ketiga variabel menggunakan uji spearman rho dan uji beda
menggunakan uji kruskal wallis.
Kebisingan di ruang weaving 99,12 dB dengan tingkat kecemasan sedang dan
tingkat kelelahan sedang, kebisingan di ruang riching 68,23 dB dengan tingkat kecema-
san sedang dan tingkat kelelahan ringan, dan kebisingan di ruang administrasi 67,4 dB
dengan tingkat kecemasan ringan dan tingkat kelelahan ringan. Hasil uji kruskal wallis
menunjukkan ada perbedaan dari ketiga variabel (0,000), hasil uji spearman rho menun-
jukkan ada hubungan antara kebisingan dengan kecemasan (0,000) dengan r = 0,367
namun tidak terdapat hubungan antara kecemasan dengan kelelahan (0,233) dengan r =
0,095.
Terdapat perbedaan tingkat kelelahan tenaga kerja yang mengalami kecemasan
akibat kebisingan pada bagian weaving, riching, dan administrasi di PT. Iskandar Indah
Printing Textile Surakarta. Upaya pengendalian kebisingan yang dapat diterapkan di PT.
Iskandar Indah Printing Textile Surakarta adalah penggunaaan alat pelindung diri berupa
Ear Plug dan Ear Muff.

Kata kunci : Kebisingan, kecemasan, kelelahan

Email: e_roz_sevia@yahoo.com
Jurnal EKOSAINS | Vol. VI | No. 2 | Juli 2014 39
Perbedaan Tingkat Kelelahan Tenaga Kerja Eka Rosanti, Hartono
Yang Mengalami Kecemasan Akibat Kebisingan Dan Sri Budiastuti

Pendahuluan kerja, dan 4) Gangguan kesehatan.


PT. Iskandar Indah Printing Textile emosi yang terletak di sistem saraf pusat.
Surakarta merupakan salah satu perusahaan Dari pusat emosi yaitu kelenjar HPA akan
textile yang mengolah kain mentah (grey) meningkatkan aktifitas hormon kortisol
menjadi kain bercorak atau lebih yang yang kemudian akan merusak sel-sel
menimbulkan suara bising yang tinggi yang neuron di hipotalamus sehingga terjadi
melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) yaitu atrofi hipotalamus, dan akibatnya dapat
98,6 dB, dan finishing. Lingkungan kerja muncul gangguan kognitif salah satunya
yang bising dapat menyebabkan tenaga yaitu kecemasan. Kortisol yang meningkat
kerja mengalami gangguan konsentrasi, terus dapat mempengaruhi kekebalan tubuh
gangguan komunikasi, gangguan berfikir, dengan menggangu metabolisme tubuh.
penurunan kemampuan kerja, emosi Aktivasi sumbu SAM dimulai
meningkat, otot menjadi tegang dan dengan pengolahan yang terkait dengan
metabolisme tubuh menjadi meningkat, stres sinyal sensorik di coeruleus lokus
serta kelelahan (Suma’mur, 2009). pons. Pelepasan CRH dari hipotalamus
Menurut ilmu psychoneuroimmu- lebih memberikan kontribusi untuk
nology kecemasan dapat mempengaruhi aktivasi dari sumbu SAM. Serabut saraf
kekebalan tubuh (sistem imun tubuh) yang simpatis memicu pelepasan katekolamin
berakibat pada terjadinya kelelahan kerja (norepinefrin dan epinefrin) ke dalam
melalui peran hormon dari poros (axis) aliran darah oleh medula adrenal, dan
Hyphotalamic Pituitary Adrenal (HPA) perifer serabut saraf simpatis melepaskan
dan poros (axis) Sympathetic Adrenal norepinephrine tambahan. Sumbu ini
Medullary (SAM) (Ader, 2000; Padget and menghasilkan "melawan atau lari" klasik
Glaser, 2003 dalam Wibowo dan Hartono, respon, ditandai dengan peningkatan
2010). denyut jantung, pernapasan dan pengalihan
Menurut Peraturan Menteri Tenaga aliran darah dari organ-organ pencernaan ke
Kerja dan Transimgrasi Republik Indonesia otot rangka. Katekolamin yang meningkat
Nomor PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai dapat mempengaruhi sistem kekebalan
Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor tubuh dengan mengganggu metabolisme
Kimia Di Tempat Kerja, Kebisingan adalah tubuh (Thomton L.M dan Andersen B.L,
semua suara yang tidak dikehendaki yang 2006).
bersumber dari alat-alat proses produksi Metabolisme tubuh yang
dan/atau alat-alat kerja yang pada tingkat terganggu akibat kecemasan ini dapat
tertentu dapat menimbulkan gangguan menimbulkan terjadinya kelelahan
pendengaran (Sasongko, 2000). kerja. Dalam sistemnya makanan yang
Metode pengukuran tingkat mengandung glikogen mengalir dalam
paparan kebisingan atau Time Weighted tubuh melalui peredaran darah. Setiap
Average (TWA) dilakukan sesuai dengan kontraksi dari otot selalu diikuti reaksi
standar OSHA (Occupational Safety and kimia (oksidasi glukosa) yang merubah
Health Act) yaitu menggunakan alat Sound glikogen tersebut menjadi tenaga, panas
Level Meter (SLM) (Health and Safety dan asam laktat (produk sisa). Dalam tubuh
Protection, 2012). dikenal fase pemulihan dimana kelelahan
Beberapa bentuk gangguan yang dapat timbul karena terakumulasinya
diakibatkan oleh kebisingan menurut produk sisa dalam otot atau peredaran
Sasongko (2000) adalah : 1) Gangguan darah (metabolisme tubuh terganggu) yang
pendengaran, 2) Gangguan percakapan atau disebabkan tidak seimbangnya antara kerja
komunikasi, 3) Gangguan produktivitas dan proses pemulihan (Rosanti, 2011).

40 Jurnal EKOSAINS | Vol. VI | No. 2 | Juli 2014


Perbedaan Tingkat Kelelahan Tenaga Kerja Eka Rosanti, Hartono
Yang Mengalami Kecemasan Akibat Kebisingan Dan Sri Budiastuti

Faktor-faktor yang mempengaruhi 109 tenaga kerja, di bagian Riching adalah


kelelahan kerja adalah Faktor Internal dan 28 tenaga kerja, dan di bagian administrasi
Eksternal. Faktor Internal yaitu : 1) Usia, adalah 24 tenaga kerja. Data penelitian
2) Jenis Kelamin, 3) Psikis, 4)Kesehatan, Kebisingan, Kecemasan, dan Kelelahan
5) Status Gizi, dan 6) Sikap Kerja. Faktor menggunakan skala data ordinal
Eksternal yaitu : 1) Beban Kerja, 2) Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap
Penerangan, 3) Kebisingan, 4) Masa Kerja, yaitu :
5) Monotoni, dan 6) Shift Kerja. 1. Tahap Persiapan
Menurut Grandjean (1993) dalam Peneliti melakukan izin penelitian
Tarwaka, dkk (2004) metode pengukuran dan survey awal atau survey pendahuluan
tingkat kelelahan kerja ada beberapa cara, ke tempat penelitian untuk melihat
antara lain : 1) Kualitas dan kuantitas kerja kondisi tempat kerja, proses kerja, kondisi
yang dilakukan, 2) Uji Psiko-motor, 3) Uji tenaga kerja serta melakukan pengukuran
Fliker Fusion, 4) Perasaan kelelahan secara kebisingan dan wawancara dengan tenaga
subjektif, 5) Uji mental, dan 6) Waktu kerja tentang keluhan yang dialami.
reaksi. Selanjutnya mempersiapkan lembar isian
data subjek penelitian dan peralatan Sound
Metode Penelitian level meter, kuesioner HRSA, dan Reaction
Lokasi penelitian ini di PT. Iskandar Timer.
Indah Prnting Textile Surakarta dengan 2. Tahap Pelaksanaan
konsentrasi penelitian di bagian weaving Peneliti mengisi lembar data
dengan bagian riching dan administrasi meliputi nama, umur, dan masa kerja dan
sebagai kelompok pembanding. mengukur berat badan dan tinggi badan
Penelitian ini menggunakan untuk menghitung status gizi/IMT.
jenis penelitian observasional analitik Mengukur kebisingan dengan
dengan pendekatan cross sectional, dengan menggunakan Sound level meter,
populasi 205 orang tenaga kerja yang kecemasan dengan kuesioner HRSA dan
memenuhi kriteria simple random sampling kelelahan dengan menggunakan Reaction
dengan populasi di bagian weaving adalah Timer. Kelelahan diukur pada subjek
150 tenaga kerja, di bagian Riching adalah penelitian setelah selesai kerja.
30 tenaga kerja, dan di bagian administrasi 3. Tahap Penyelesaian
adalah 25 tenaga kerja. Peneliti mengumpulkan semua
Populasi dalam penelitian ini data, mengolah, menganalisa, dan
ditentukan berdasarkan kriteria sebagai menyimpulkan.
berikut : Data yang didapatkan diolah
1. Tenaga kerja di bagian mesin tenun melalui beberapa tahapan yaitu editing,
2. Jenis kelamin wanita koding, data entry, tabulating, dan
3. Usia antara 20 – 50 tahun cleaning.
4. Status gizi normal yaitu IMT = 18,5 Teknik analisis data menggunakan
– 25,0 uji statistik kruskal wallis dilanjutkan uji
5. Masa kerja lebih dari 1 tahun hubungan dengan uji statistik Spearman
6. Beban kerja ringan Rho.
7. Bersedia menjadi subjek penelitian
Jumlah sampel ditentukan dengan Hasil Penelitian Dan Pembahasan
menggunakan rumus pengambilan sampel Dalam penelitian ini peneliti
umum menurut Notoatmodjo (2002), mengukur dan menganalisa karakteristik
didapatkan sampel bagian weaving adalah subjek pneleitian dan faktor lingkungan

Jurnal EKOSAINS | Vol. VI | No. 2 | Juli 2014 41


Perbedaan Tingkat Kelelahan Tenaga Kerja Eka Rosanti, Hartono
Yang Mengalami Kecemasan Akibat Kebisingan Dan Sri Budiastuti

kerja fisik. Berdasarkan uji statistik perusahaan tertentu telah mempunyai


diperoleh hasil penelitian sebagai berikut : berbagai pengalaman yang berkaitan
Tabel 1. Hasil Statistik Responden Bagian di PT. Iskandar Indah Printing
Textile Surakarta
W e a v in g R i c h in g A d m i n i s tr a s i N i lai p
U s ia (T a h u n ) 3 6 ,3 8 ± 6 ,7 9 2 a 3 7 ,0 7 ± 5 ,4 0 2 a 3 7 ± 3 ,4 2 6 a 0 ,8 2 1
S t a tu s G iz i 2 0 ,5 1 ± 1 ,5 2 a 2 0 ,0 1 ± 1 ,1 2 4 a 1 9 ,6 7 ± 0 ,7 8 a 0 ,0 6 2
( IM T )
M a sa K erja 1 5 ,6 4 ± 5 ,9 2 6 a 1 6 ,1 8 ± 3 ,6 7 2 a 1 6 ,4 6 ± 4 ,3 5 4 a 0 ,7 5 2
(T a h u n )
B e b a n K e rj a 7 7 ,3 0 ± 1 ,6 4 7 a
7 7 ,8 2 ± 2 ,3 4 2 a
7 7 ,7 1 ± 2 ,1 1 6 a
0 ,3 2 4
P e n e r an ga n 2 0 7 ± 7 ,9 2 9 a 2 0 6 ,8 3 ± 3 ,6 5 6 a 2 1 3 ,9 3 ± 1 2 ,6 4 0 a 0 ,0 7 8
(L u x )
Ik l i m K e r ja 3 0 ,2 5 ± 1 ,2 5 8 a 3 1 ± 1 ,1 5 5 b 2 5 ,5 0 ± 0 ,5 5 7 c 0 ,0 0 0
K e b is in g a n 9 9 ,1 2 6 8 ,2 3 6 7 ,4
(d B )

Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak
nyata berdasarkan uji Anova dengan taraf signifikansi 0,05.

Berdasarkan tabel 1 bahwa secara statistik dengan bidangnya. Hal tersebut sesuai
dengan uji beda ANOVA diperoleh hasil dengan penelitian yang dilakukan oleh
sebagai berikut : Devi (2010) yang menyatakan tidak
1. Usia tidak berpengaruh terhadap ada hubungan antara masa kerja dengan
kelelahan kerja. Hal tersebut sesuai dengan kelelahan kerja (p value = 0,726).
penelitian yang dilakukan oleh Devi (2010) 4. Tidak terdapat perbedaan beban kerja
yang menyatakan tidak ada hubungan yang signifikan antara ketiga kelompok
antara usia dengan kelelahan kerja (p value dengan nilai p (Asymp.Sig) > 0,05.
= 0,612). Berdasarkan
2. Tidak terdapat perbedaan IMT yang 7. Terdapat intensitas kebisingan yang
signifikan antara ketiga kelompok (p berbeda antara bagian weaving (99,12),
Asymp.Sig > 0,05). Dalam penelitian ini riching (68,23), dan administrasi (67,4).
mengambil responden dengan status gizi Intensitas kebisingan memberi pengaruh
baik yaitu IMT > 18,5 - < 25, menurut yang berbeda terhadap kecemasan dan
Cicih (1996) status gizi yang kurang atau kelelahan tenaga kerja pada tenaga kerja di
berlebihan dan asupan kalori yang tidak tiga kelompok tersebut. Menurut Lestyanto
sesuai dengan jumlah maupun waktu dalam jurnal kesehatan masyarakat 2013
menyebabkan rendahnya ketahanan kerja kebisingan merupakan salah satu beban
ataupun perlambatan gerak sehingga tambahan yang berasal dari lingkungan
menjadi hambatan bagi tenaga kerja dalam kerja yang dapat menyebabkan kelelahan,
melaksanakan aktivitasnya. Hal tersebut karena hasil pengukuran didapatkan
sesuai dengan penelitian yang dilakukan rata-rata beban kerja ringan pada ketiga
oleh Devi (2010) yang menyatakan tidak kelompok, hal ini berarti tidak ada perbedaan
ada hubungan antara status gizi dengan beban kerja diantara ketiga kelompok. Hal
kelelahan kerja (p value = 0,133). tersebut sesuai dengan Lestyanto (2013)
3. Tidak terdapat perbedaan masa kerja dalam jurnal kesehatan masyarakat 2013
yang signifikan antara ketiga kelompok yang menyatakan berdasarkan hasil uji
(p Asymp.Sig > 0,05). Masa kerja yang korelasi pearson nilai signifikansi antara
digunakan untuk penelitian ini adalah > 1 beban kerja dengan kelelahan kerja adalah
tahun karena menurut Nitisemito (1996) sebesar 0,244 (p > 0,05).
karyawan yang telah lama bekerja pada 5. Tidak ada perbedaan intensitas
42 Jurnal EKOSAINS | Vol. VI | No. 2 | Juli 2014
Perbedaan Tingkat Kelelahan Tenaga Kerja Eka Rosanti, Hartono
Yang Mengalami Kecemasan Akibat Kebisingan Dan Sri Budiastuti

penerangan dari ketiga kelompok dan karena kebisingan dapat menyebabkan


intensitas penerangan memberikan detak jantung semakin cepat, meningkatnya
pengaruh yang sama dalam penelitian tekanan darah dan penyempitan nadi yang
ini dengan p value > 0,05. Berdasarkan menunjukkan adanya perubahan fungsi
hasil pengukuran didapatkan intensitas faal sebagai indikator adanya beban kerja
penerangan yang masih sesuai dengan bagi pekerja yang dapat menjadi penyebab
Nilai Ambang Batas (NAB). kelelahan.
6. Terdapat perbedaan iklim kerja yang Tabel 2 adalah hasil pengukuran
signifikan antara ketiga kelompok intensitas kebisingan, kecemasan, dan
dengan p (Asymp.Sig) < 0,05. Namun kelelahan dengan hasil uji beda dengan
tenaga kerja di ketiga bagian memiliki menggunakan uji kruskal wallis.
masa kerja lebih dari 1 tahun atau telah Berdasarkan tabel 2 diperoleh
bekerja dalam kurun waktu yang sama. hasil uji perbedaan kecemasan akibat
Hal tersebut menyebabkan pekerja sudah kebisingan nilai p (Asymp.Sig) <
terbiasa dengan iklim tersebut karena 0,05 yang artinya terdapat perbedaan
telah beraklimatisasi dengan iklim dengan kecemasan yang signifikan antara ketiga
baik. Hasil penelitian ini sejalan dengan kelompok. Tingkat kecemasan yang
penelitian yang dilakukan oleh Adi Heru berbeda pada ketiga kelompok disebabkan
Sutomo dalam jurnal kesehatan masyarakat oleh karena intensitas kebisingan yang
2013 yang menyatakan bahwa tidak ada berbeda. Hal tersebut sesuai dengan
efek langsung antara iklim kerja panas Sasongko (2000) yang menyatakan bahwa
terhadap kelelahan kerja dengan nilai gangguan psikologis akibat kebisingan
p-value 0,216 dimana p > 0,05. Didalamnya perioda, saat dan lama kejadian,
juga dicantumkan hasil penelitian yang kompleksitas spektrum atau kegaduhan
dilakukan oleh Ratu yang mendapatkan dan ketidakteraturan kebisingan, dan hasil
hasil pengukuran iklim kerja sebesar uji perbedaan kelelahan akibat kecemasan
30,5oC – 34,38oC dimana nilai p-value dengan menggunakan diperoleh nilai p
0,587 yang berarti tidak terdapat hubungan (Asymp.Sig) < 0,05 yang artinya terdapat
antara iklim kerja dengan kelelahan kerja. perbedaan kelelahan yang signifikan
7. Terdapat intensitas kebisingan yang antara ketiga kelompok. Berdasarkan hasil
berbeda antara bagian weaving (99,12), perhitungan diketahui bahwa tenaga kerja
riching (68,23), dan administrasi (67,4). di bagian weaving rata-rata mengalami
Intensitas kebisingan memberi pengaruh tingkat kelelahan sedang dan tenaga kerja
yang berbeda terhadap kecemasan dan bagaian riching dan administrasi rata-rata
kelelahan tenaga kerja pada tenaga kerja di mengalami menyatakan bahwa secara
tiga kelompok tersebut. Menurut Lestyanto keseluruhan, 50 - 75% pasien dengan
dalam jurnal kesehatan masyarakat 2013 sindrom kelelahan didefinisikan dengan
kebisingan merupakan salah satu beban berbagai cara memiliki suasana hati atau
tambahan yang berasal dari lingkungan komorbiditas gangguan kecemasan.
kerja yang dapat menyebabkan kelelahan, Pengendalian kebisingan dapat
Tabel 2. Hasil pengukuran intensitas kebisingan, kecemasan, dan kelelahan
dengan hasil uji beda dengan menggunakan uji kruskal wallis di PT. Iskandar
Indah Printing Textile Surakarta
W e a vin g R i c h in g A d m i n i s tr a s i P v a lu e
K e b is in g a n > NAB < NA B < NAB
K e cem a sa n Sedan g Sedang R in ga n < 0 ,0 5
K e le la h a n Sedan g R in g a n R in ga n < 0 ,0 5

Jurnal EKOSAINS | Vol. VI | No. 2 | Juli 2014 43


Perbedaan Tingkat Kelelahan Tenaga Kerja Eka Rosanti, Hartono
Yang Mengalami Kecemasan Akibat Kebisingan Dan Sri Budiastuti

dilakukan dengan mengacu pada teori yang langsung terhadap hipotalamus untuk
dikemukakan oleh Tarwaka bahwa hirarki menurunkan CRF, dan kelenjar hipofisis
pengendalian risiko tergantung pada anterior untuk menurunkan ACTH bersifat
intensitas, frekuensi bahaya di tempat kerja normal dan tidak merusak sel-sel neuron
adalah sebagai berikut : 1) Eliminasi, 2) di hipotalamus yang dapat mengakibatkan
Substitusi, 3) Rekayasa teknik (Engineering gangguan kognitif yaitu kecemasan.
Control), 4) Isolasi (Isolation), 5) Stressor kebisingan merangsang
Pengendalian administrasi (Administrative pengeluaran hormon adrenalin yang
Control), dan 6) Alat Pelindung Diri atau menyebabkan meningkatnya denyut nadi,
APD (Personal Protective Equipment) pernapasan, memperbaiki tonus otot dan
yang terdiri dari Sumbat Telinga (Ear Plug) rangsangan kesadaran yang kesemuanya
dan Tutup Telinga (Ear Muff). Hal ini akan meningkatkan kewaspadaan dan siap
sesuai dengan pernyataan upaya terakhir akan kecemasan dan antisipasi yang akan
dengan penggunaan alat pelindung diri di hadapi. Sehingga kelelahan yang dialami
untuk mengurangi kebisingan seperti oleh tenaga kerja masih berada pada tingkat
penyumbat telinga dan pelindung telinga kelelahan ringan dan sedang.
(Environmental Pollution Control Center, Berdasarkan hasil uji statistik
Osaka Prefecture Japan, 2004). hubungan antara kecemasan dengan
Berikut ini adalah hasil statistik uji kelelahan didapatkan hasil yang tidak
hubungan dengan menggunakan spearman signifikan (p>0,05), namun didapatkan
rho : tingkat kelelahan kerja ringan dan sedang.
Tabel 3. Hasil Statistik uji hubungan dengan menggunakan spearman rho
P v a lu e r
K e b i s in g a n > 0 ,0 5 0 ,3 6 7
dengan
K e c e m a s an
K e c e m a s an < 0 ,0 5 0 ,0 9 5
dengan
K e le la h a n

Berdasarkan tabel 3 terdapat hubungan Hal ini dapat dikarenakan adanya faktor
antara antara kebisingan dengan yang tidak terkendali dalam penelitian ini
kecemasan dengan p = 0,000 (p < 0,05) yaitu faktor lingkungan fisik iklim kerja
dan korelasi yang lemah dengan r = 0,367. yang melebihi Nilai Ambang Batas atau
Arah korelasi antara kebisingan dengan melebihi suhu nikmat bekerja.
kecemasan positif (searah) artinya semakin
tinggi intensitas kebisingan maka semakin Kesimpulan Dan Saran
tinggi pula tingkat kecemasan. Hasil Berdasarkan hasil penelitian
tersebut sesuai aktivitas aksis HPA. dapat disimpulkan bahwa terdapat
Namun dalam penelitian ini tenaga kerja perbedaan tingkat kelelahan kerja dapat
mampu melakukan mekanisme koping dikarenakan mekanisme coping dari
dikarenakan stressor masih dirasakan tenaga kerja berhasil dalam merespon
dibawah ambang batas dan tenaga kerja kecemasan. Terutama untuk kecemasan
sudah terbiasa dengan stressor tersebut. ringan yang direspon tanpa pemikiran
Sehingga dengan stressor yang terus sadar dikarenakan sudah merasa terbiasa
menerus tetapi masih dapat diatasi oleh dengan mulai dapat beradaptasi terhadap
tenaga kerja menyebabkan kortisol yang stressor berupa kebisingan.
memiliki efek umpan balik yang sifatnya Stressor berupa kebisingan
44 Jurnal EKOSAINS | Vol. VI | No. 2 | Juli 2014
Perbedaan Tingkat Kelelahan Tenaga Kerja Eka Rosanti, Hartono
Yang Mengalami Kecemasan Akibat Kebisingan Dan Sri Budiastuti

pertama kali ditampung oleh panca indera PT.X, Kabupaten Kendal. Jurnal
yaitu telinga dan diteruskan ke pusat Kesehatan Masyarakat 2013.
emosi yang terletak di sistem saraf pusat Volume 2, Nomor 2. Universitas
yaitu HPA. Ketika pada tenaga kerja yang Diponegoro. http://ejournals1.
mengalami kecemasan akibat kebisingan di undip.ac.id/index.php/jkm.
bagian weaving, riching, dan administrasi Nitisemito. A. S. 1996. Manajemen
di PT. Iskandar Indah Printing Textile Personalia. Jakarta : Ghalia.
Surakarta, terdapat hubungan antara Notoatmodjo, Soekidjo. 2002. Metodologi
kebisingan dengan kecemasan namun Penelitian Kesehatan. Jakarta :
tidak terdapat hubungan antara kecemasan Rineka Cipta. Pp : 162:167.
dengan kelelahan. Saran yang dapat Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
diberikan yaitu mengendalikan faktor- Transimgrasi Republik Indonesia
faktor yang tidak terkendali, melakukan Nomor PER.13/MEN/X/2011
jenis penelitian eksperimen terutama tentang Nilai Ambang Batas Faktor
pengendalian secara rekaya teknik, dan Fisika dan Faktor Kimia Di Tempat
melakukan hirarki teknik pengendalian Kerja.
kebisingan di ruang weaving dengan Peter Roy-Byrne, MD, Niloofar Afari,
memberikan Alat Pelindung Diri (APD) PhD, dkk. 2002. Chronic fatigue
berupa ear plug dan ear muff kepada tenaga and anxiety/depression : a twin
kerja. Study. Jurnal. USA
Pratiwi, R.P. 2010. Pengertian Kecemasan.
Daftar Pustaka http://psikologi.or.id. Diakses pada
Anonim. 2004. “Kebisingan dan Getaran”. tanggal 09 September 2012.
Environmental Pollution Control Rosanti, Eka. 2011. Perbedaan Tingkat
Center, , Osaka Prefecture,Japan. Kelelahan Kerja Tenaga Kerja
Jurnal. www.menlh.go.id/apec_vc/ Wanita antar Shift Pagi, Shift Sore,
osaka/eastjava/noise_id/index.html dan Shift Malam di Bagian Winding
Atina I.I dan Winarsih Nur A. 2008. PT. Iskandar Indah Printing Textile
Hubungan Tingkat Kecemasan Surakarta. Skripsi. Surakarta :
dengan Mekanisme Koping pada Universitas Sebelas Maret.
Pasien Gagal Jantung Kongestif Sasongko, D.P. dkk, 2000. Kebisingan
Di RSU Pandan Arang Boyolali. Lingkungan. Semarang : Badan
Jurnal. Berita Ilmu Keperawatan Penerbit Universitas Diponegoro
ISSN 199-2697, Vol. 1, No.4, pp Semarang.
163 – 168. Suma’mur, P.K. 2009. Higiene Perusahaan
Cicih, Dewi. 1996. Kebutuhan Asupan dan Kesehatan Kerja. Jakarta :
Kalori Pekerja. Jakarta : UI Press. Sagung Seto.
Dewa Putu Gunasastra Septian Adi1, Dr. Tarwaka, Sholichul HA, Lilik Sudiajeng.
dr. Ari Suwondo, MPH, dr. Daru 2004. Ergonomi Untuk Keselamatan,
Lestyanto, M.Si. 2013. Hubungan Kesehatan Kerja dan Produktivitas.
antara Iklim Kerja, Asupan Gizi Surakarta : UNIBA PRESS.
Sebelum Bekerja, dan Beban Kerja Tarwaka. 2010. Ergonomi Industri.
terhadap Tingkat Kelelahan pada Surakarta : Harapan Press
Pekerja Shift Pagi Bagian Packing

Jurnal EKOSAINS | Vol. VI | No. 2 | Juli 2014 45