Вы находитесь на странице: 1из 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit menular seksual (PMS) sudah lama dikenal dan seiring dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban masyarakat istilah PMS
berubah menjadi infeksi menular seksual (IMS) pada tahun 1998 agar dapat
menjangkau penderita yang asimtomatik salah satunya HIV-AIDS.
Peningkatan insidens dan penyebaran IMS di seluruh dunia belum bisa
diperkirakan secara tepat. Akan tetapi insidensnya relatif tinggi di sebagian
besar negara. Perkembangan di bidang sosial, demografik, meningkatnya
migrasi penduduk serta perilaku berisiko tinggi menyebabkan populasi yang
tertular IMS termasuk AIDS terus bertambah utamanya di negara
berkembang seperti Indonesia. Menurut data epidemiologis, IMS menempati
posisi 10 besar alasan berobat di banyak negara berkembang.1,2

Menurut perkiraan World Health Organization (WHO) morbiditas IMS


di seluruh dunia sebesar ± 250 juta orang tiap tahun. Penderita IMS terus
bertambah di seluruh dunia dan sebagian besar berada di Asia Selatan dan
Asia Tenggara yaitu sebanyak 151 juta, diikuti Afrika sebanyak 70 juta, dan
yang terendah yaitu Australia dan Selandia Baru sebanyak 1 juta. Kasus-
kasus IMS yang terdeteksi hanya menggambarkan 50-80% dari semua kasus
IMS yang ada di Amerika. Ini mencerminkan keterbatasan skrining dan
rendahnya pemberitaan IMS. Data epidemiologis HIV-AIDS secara khusus
banyak dilaporkan di seluruh dunia dan menjadi momok yang menakutkan.
Pada tahun 2004, dari semua kasus HIV yang dilaporkan, 43,3 % kasus
disebabkan oleh hubungan heteroseksual dan 44,1 % kasus akibat IDU.
Sepanjang tahun 2006, di Indonesia terdapat 6.987 kasus HIV-AIDS, tapi
estimasi sementara jumlah tersebut bisa mencapai 193.000 kasus atau pada
kisaran 169.000 hingga 216.000 orang. Ini karena kemungkinan besar banyak
dari penderita yang tidak tahu kalau mereka sudah terjangkit virus HIV.

1
Prevalensi HIV-AIDS di Indonesia pun meningkat tajam di beberapa wilayah,
khusunya di Jakarta dan Papua. Jakarta masih mendominasi jumlah kasus
HIV/AIDS di Indonesia sejak Januari hingga September 2006. Data Depkes
menunjukkan bahwa dari 6.987 kasus di 32 provinsi, Jakarta mendominasi
dengan 2.394 kasus.1,2,3
IMS cukup erat kaitannya dengan kejadian HIV-AIDS. Keberadaan
IMS memudahkan seseorang terinfeksi HIV sehingga dianggap sebagai
kofaktor infeksi HIV. Namun demikian, selama 20 tahun belakangan ini
pengetahuan tentang dinamika penularan IMS semakin berkembang sebagai
dampak pandemi HIV dan meningkatnya upaya pengendalian infeksi lainnya
sehingga rancangan strategi pencegahan dan pengendaliannya juga semakin
baik mengikuti perkembangan teknologidan ilmu pengetahuan. Negara-
negara berkembang dewasa ini terus berusaha menghadapi masalah kesehatan
yang memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi dengan segala
keterbatasan yang ada tidak terkecuali upaya pencegahan dan pengendalian
IMS termasuk di dalamnya adalah HIV-AIDS. Mengingat dampak negatif
yang besar dari IMS utamanya HIV-AIDS yang tidak hanya terbatas pada
masalah kesehatan tetapi juga ikut mempengaruhi sosial ekonomi bangsa
sehingga diperlukan peningkatan dalam hal upaya pencegahan dan
pengendalian penyakit tersebut.1,2

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang tersebut, maka rumusan masalah
dalam penyusunan makalah ini dibagi menjadi dua bagian besar yaitu sebagai
berikut :
1. Rumusan masalah IMS
Rumusan masalah IMS yang diangkat dalam surveilans ini yaitu
sebagai berikut :
a. Bagaimana epidemiologi IMS?
b. Bagaimana konsep surveilans IMS?
c. Bagaimana pedoman surveilans IMS?

2
d. Bagaimana indikator surveilans IMS?
e. Bagaimana prosedur dan ketentuan surveilans IMS?
f. Bagaimana kelemahan sistem surveilans IMS?
g. Bagaimana kelebihan sistem surveilans IMS?
2. Rumusan masalah HIV-AIDS
Rumusan masalah HIV-AIDS yang diangkat dalam surveilans ini
yaitu sebagai berikut :
a. Bagaimana epidemiologi HIV-AIDS?
b. Bagaimana konsep surveilans HIV-AIDS?
c. Bagaimana pedoman surveilans HIV-AIDS?
d. Bagaimana indikator surveilans HIV-AIDS?
e. Bagaimana prosedur dan ketentuan surveilans HIV-AIDS?
f. Bagaimana kelemahan sistem surveilans HIV-AIDS?
g. Bagaimana kelebihan sistem surveilans HIV-AIDS?
C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka tujuan dalam


penyusunan makalah ini dibagi menjadi dua bagian besar yaitu sebagai
berikut :

1. Tujuan surveilans IMS


a. Mengetahui epidemiologi IMS?
b. Mengetahui konsep surveilans IMS?
c. Mengetahui pedoman surveilans IMS?
d. Mengetahui indikator surveilans IMS?
e. Mengetahui prosedur dan ketentuan surveilans IMS?
f. Mengetahui kelemahan sistem surveilans IMS?
g. Mengetahui kelebihan sistem surveilans IMS?
2. Tujuan surveilans HIV-AIDS
a. Mengetahui epidemiologi HIV-AIDS?
b. Mengetahui konsep surveilans HIV-AIDS?
c. Mengetahui pedoman surveilans HIV-AIDS?

3
d. Mengetahui indikator surveilans HIV-AIDS?
e. Mengetahui prosedur dan ketentuan surveilans HIV-AIDS?
f. Mengetahui kelemahan sistem surveilans HIV-AIDS?
g. Mengetahui kelebihan sistem surveilans HIV-AIDS?
D. Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari penyusunan makalah surveilans ini yaitu
sebagai berikut :
1. Mengetahui surveilans IMS
2. Mengetahui surveilans HIV-AIDS
3. Memfasilitasi program perencanaan kesehatan

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. IMS
1. Epidemiologi IMS

Berdasarkan data epidemiologis, dalam semua masyarakat IMS


merupakan penyakit yang paling sering dari semua infeksi. Penularan
IMS terutama melalui hubungan seksual. Menurut WHO (2009), terdapat
±30 jenis mikroba (bakteri, virus, dan parasit) yang dapat ditularkan
melalui hubungan seksual. Kondisi yang paling sering ditemukan adalah
infeksi gonore, klamidia, sifilis, trikomoniasis, chancroid,herpes
genitalis, infeksi HIV dan hepatitis B. Penyakit ini tersebar di seluruh
dunia, dan angka kejadian paling tinggi tercatat di Asia Selatan dan Asia
Tenggara, diikuti Afrika bagian Sahara, Amerika Latin, dan Karibean.
Sumber lain menyebutkan bahwa IMS merupakan salah satu dari sepuluh
penyebab pertama penyakit yang tidak menyenangkan pada dewasa
muda laki-laki dan penyebab terbesar kedua pada dewasa muda
perempuan di negara berkembang. Dewasa dan remaja dengan rentang
usia antara 15-24 tahun merupakan 25% dari semua populasi yang aktif
secara seksual, tetapi memberikan kontribusi hampir 50% dari semua
kasus IMS baru yang didapat. Diperkirakan lebih dari 340 juta kasus baru
dari IMS yang dapat disembuhkan (sifilis, gonore, infeksi klamidia, dan
infeksi trikomonas) terjadi setiap tahunnya pada laki-laki dan perempuan
usia 15-49 tahun.

Prevalensi IMS di Amerika menunjukkan bahwa jumlah wanita


yang menderita infeksi klamidial 3 kali lebih tinggi dari laki-laki. Dari
seluruh wanita yang menderita infeksi klamidial, golongan umur yang
memberikan kontribusi yang besar ialah umur 15-24 tahun. Mengenai
IMS di Indonesia sendiri, telah banyak laporan yang masuk. Beberapa
diantaranya ada dari sejumlah lokasi antara tahun 1999-2001

5
menunjukkan prevalensi Gonore dan Klamidia yang tertinggi antara 20-
35%. Jutaan IMS oleh virus juga terjadi setiap tahunnya, diantaranya
ialah HIV, virus Herpes, HPV, dan virus Hepatitis B.

2. Konsep Surveilans IMS

Konsep surveilans IMS tidak jauh berbeda dari konsep surveilans


secara umum dimana dilakukan studi eidemiologi terhadap perjalanan
dinamis suatu penyakit dengan berdasar pada sumber data yang
diperoleh. Berikut secara garis besar konsep dari tahapan surveilans :

a. Prosedur pemeriksaan duh tubuh untuk penderita IMS adalah yang


pertama harus mengisi informed consent yang artinya kebersediaan
subjek untuk diambil sampel duh tubuhnya kemudian diberikan
konseling sebelum dan sesudah tes terhadap subjek dan yang
terpenting harus bersifat rahasia agar subjek merasa nyaman dan
tidak timbul rasa khawatir misalnya tidak di beri nama bisa atau
langsung nama kota atau inisial nama saja.
b. Cara pencatatan kasus surveilans IMS yaitu yang pertama
malakukan pemeriksaan fisik terhadap penderita yang mencurigakan
terkena IMS, kedua yaitu pemeriksaan laboratorium untuk
menguatkan dugaan terhadap penderita, selanjutnya pemeriksaan
laboratorium akan menghasilkan data apakah penderita positif IMS
atau tidak.
c. Pelaporan kasus surveilans IMS yaitu dengan menggunakan formulir
dari laporan penderita positif IMS yang kemudian laporan kasus ini
dikirim secepatnya tanpa menunggu suatu periode waktu dan harus
dilaporkan pada saat menemukan penderita positif IMS bisa
melalui fax atau email untuk sementara tetapi kemudian disusul
dengan data secara tertulis.

6
3. Pedoman Surveilans IMS
Pedoman yang digunakan dalam melakukan surveilans IMS sama
dengan proses surveilans secara umum yang meliputi pengumpulan data
sampai dengan evaluasi.
a. Pengumpulan Data
Data kasus IMS dapat diperoleh melalui laporan hasil
pemeriksaan sampel duh tubuh pasien terduga IMS oleh
laboratorium yang meliputi kode spesimen yaitu : Kabupaten/ Kota,
sub-populasi sasaran, golongan umur, jenis kelamin, bulan dan tahun
pemeriksaan. Laporan Balai Laboratorium Kesehatan ini akan
dikirimkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan
tembusan ke Dinas Kesehatan Provinsi dan Ditjen PPM & PL-Dit
P2ML minat Subdit AIDS& PMS di Jakarta. Laporan hasil
pemeriksaan dikirim dengan memakai formulir yang sudah
disediakan. Kemudian Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
mengirimkan laporan tersebut dari kepada Kepala Dinas Kesehatan
Provinsi dengan tembusan ke Ditjen PPM & PL minat Subdit AIDS
& IMS langsung setelah menerima hasil laboratorium. Dinas
Kesehatan Provinsi akan memakai Laporan Surveilans IMS tersebut
sebagai data dasar untuk dimasukkan kedalam program komputer
yang menjadi pusat pengolahan data surveilans IMS di provinsi.
b. Kompilasi Data
Semua data yang dikumpulkan dari lapangan (dari masing-
masing sub- populasi sentinel) diolah oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/ Kota dan Provinsi, selanjutnya Dinas Kesehatan Provinsi
akan melakukan kompilasi hasil pengumpulan data dari lapangan
dan dari Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi di tingkat Provinsi.
Hasil olahan ini akan dikirimkan ke Ditjen PPM& PL - Dit P2ML,
cq Subdit AIDS& IMS untuk dilakukan analisis di tingkat nasional.

7
c. Analisis Data
Kabupaten/Kota dan Provinsi pengelola program IMS dan
HIV/AIDS melakukan analisis sederhana supaya bisa menunjukkan
tren/kecenderungan prevalensi IMS pada setiap populasi menurut
waktu dan tempat dengan menggunakan grafik-grafik sederhana.
Pada tingkat pusat, data yang terkumpul dari semua daerah akan
disimpan di Subdit AIDS & IMS Ditjen PPM & PL DepKes RI. Data
tersebut akan dianalisis untuk melihat tren/ kecenderungan
prevalensi infeksi IMS berdasarkan orang, waktu dan tempat dalam
bentuk grafik dan ditambahkan penjelasan.
d. Interprestasi Data
Data surveilans IMS harus diinterpretasikan untuk menilai
seberapa cepat peningkatan atau penurunan prevalensi IMS pada
berbagai populasi sasaran di daerah masing-masing.
e. Umpan Balik Data
Direktorat P2ML cq. Subdit AIDS & IMS akan memantau
pelaporan pelaksanaan kegiatan surveilans IMS di seluruh wilayah
yang melaksanakan kegiatan surveilans IMS. Selanjutnya mereka
akan membuat laporan singkat hasil surveilans. Laporan singkat
tersebut akan dikirimkan kepada semua pihak yang terkait baik di
tingkat nasional maupun di tingkat provinsi/kabupaten/kota yang
terkait. Dinas Kesehatan Provinsi juga perlu membuat laporan
singkat yang berasal dari kabupaten/ kota setempat, dan
mengirimkannya kepada semua pihak yang terkait di provinsi
tersebut.
f. Monitoring
Monitoring merupakan pengawasan rutin terhadap informasi
penting dari kegiatan surveilans sentinel yang sedang dilaksanakan
dan hasil-hasil program yang harus dicapai. Pada pelaksanaan
surveilans sentinel, monitoring dilakukan pada prosesnya melalui
sistem pencatatan dan pelaporan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh

8
petugas Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan
Provinsi, BLK dan Subdit AIDS& IMS sesuai dengan protap.
g. Evaluasi
Evaluasi kegiatan surveilans sentinel dilakukan pada tahap
input, proses pelaksanaan dan output.
1) Pada evaluasi input pemegang program IMS dari semua tingkat
admisnistratif perlu mengevaluasi berbagai kebutuhan. Petugas
tersebut perlu melaksanakan kerangka sampel yang benar dan
pelaksanaan pemetaan lokasi sentinel. Hal lain yang perlu
diperhatikan adalah jumlah petugas kesehatan yang bermutu,
materi dan peralatan serta biaya yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan lapangan. Selain itu perlu diantisipasi masalah-
masalah yang mungkin timbul dalam pelaksanaan di lapangan.
2) Evaluasi proses pelaksanaan perlu dilakukan untuk mengetahui
efektifitas pelaksanaan kegiatan. Pada tahap ini evaluasi
dilakukan terhadap “siapa melakukan apa dan bagaimana
caranya”. Evaluasi ini dilakukan untuk semua petugas yang
dilibatkan, seperti misalnya petugas pencatatan dan pelaporan,
petugas laboratorium. Misalnya apakah petugas pengambil
spesimen darah telah menggunakan prosedur yang benar dan
telah melakukan pengkodean pada setiap sampel.
3) Evaluasi output mencerminkan evaluasi terhadap kegunaan
data, kualitas data dan cakupan surveilans sentinel. Evaluasi
terhadap kegunaan hasil surveilans dilakukan oleh setiap tingkat
administrasi. Evaluasi ini dilakukan dengan mengintrepretasikan
tren/kecenderungan prevelansi IMS pada populasi yang diamati.
Sedangkan evaluasi terhadap kualitas surveilans sentinel ini
dilakukan untuk mengetahui seberapa valid data yang dihasilkan
kegiatan sentinel tersebut. Evaluasi tahap ini lebih dititik
beratkan pada proses pelaksanaan kegiatan. Evaluasi terhadap
cakupan surveilans ini meliputi hal-hal yang menghambat

9
pelaksanaan sentinel seperti jarak antara petugas kesehatan dan
sentinel site, jadwal pelaksanaan, biaya pelaksanaan dan sosial
budaya setempat.
4. Indikator Surveilans IMS
Indikator yang digunakan dalam proses surveilans IMS yaitu
meliputi indikator proses dan output.
a. Indikator proses yaitu semua kegiatan yang tercantum daalam protap
harus dimasukkan ke dalam daftar tilik ketika dilakukan pengawasan
b. Indikator output yaitu meliputi pencapaian populasi sesuai rencana,
ketepatan waktu pelaksanaan kegiatan dan ketepatan waktu
pelaporan hasil kegiatan tersebut.
5. Prosedur dan Ketentuan Surveilans IMS
Prosedur pelaksaan surveilans IMS sudah memiliki ketentuan
sebagai berikut.
a. Menentukan populasi sesuai dengan sasaran dan lokasi tertentu
b. Menentukan jumlah sampel yang akan diperiksa
c. Tes dilakukan tanpa nama untuk mengurangi bias partisipasi
sehingga hasilnya berupa jumlah yang positif, bukan siapa yang
positif
d. Surveilans dilakukan pada beberapa lokasi yang telah ditentukan dan
dapat dikembangkan sesuai kebutuhan
e. Surveilans tidak dapat dan tidak boleh digunakan untuk mencari
kasus IMS
f. Surveilans harus menjamin kerahasiaan identitas sampel dengan
tidak mencantumkan identitas pada spesimen yang diambil untuk
pemeriksaan.
6. Kelemahan Sistem Surveilans IMS
Kelemahan yang ditemukan dalam sistem surveilans IMS meliputi
hal-hal sebagai berikut.

a. Tenaga profesional serta sarana dan prasarana yang belum memadai


untuk pelaksanaan kegiatan surveilans epidemiologi IMS.

10
b. Kesalahan pada sumber daya manusia yang ada seperti
kader/petugas surveilans belum memasukkan data tepat waktu,
ketepatan pelaporan masih kurang, data sudah diolah tapi tidak
dianalisis, petugas Puskesmas mengalami hambatan menyebarkan
informasi dalam pencegahan dan penanggulangan IMS.
c. Penyajian hanya dibuat dalam bentuk table dan grafik.
d. Penyebaran informasi hanya dalam bentuk laporan tahunan dan
penyuluhan, belum pernah dibuat buletin epidemiologi.
e. Pelaksanaan atribut sistem belum sederhana.
f. Fleksibilitas, sensitivitas, nilai prediktif positif dan kerepresentatifan
belum diukur.
g. Kurangnya dukungan dari pemerintah dan masyarakat dalam
program pencegahan penyakit IMS.
h. Jumlah kasus yang dilaporkan semu (fenomena gunung es), lebih
banyak yang ditutupi atau tertutupi karena stigma yang timbul di
masyarakat terhadap penderita IMS.
7. Kelebihan Sistem Surveilans IMS
Kelebihan yang sudah dimiliki sistem surveilans IMS yaitu sebagai
berikut.
a. Sudah memantau prevalensi IMS pada suatu subpopulasi tertentu.
b. Sudah memantau tren/kecenderungan infeksi IMS berdasarkan
waktu dan tempat.
c. Sudah memantau dampak program, menyediakan data untuk
estimasi dan proyeksi kasus IMS di Indonesia, menggunakan data
prevalensi untuk advokasi, menyelaraskan program pencegahan
dengan perencanaan pelayanan kesehatan.
d. Telah mendapat dukungan dari pemerintah baik dalam kebijakan
maupun komitmen politik, bentuk penerimaan sosial, maupun bentuk
dukungan sistem.
e. Para petugas surveilans IMS sudah mendapatkan pelatihan dalam
melakukan kegiatan survailens tersebut baik petugas provinsi,
kabupaten/kota, laboratorium,dan supervisi.

11
f. Syarat populasi survailens sudah ditentukan meliputi : dapat
diidentifikasi, dapat dijangkau untuk survei, terjaminnya
kesinambungan survei pada populasi tersebut, jumlah anggota
populasi tersebut cukup memadai.
g. Standarisasi waktu pengumpulan data sudah ditetapkan tergantung
dari kebutuhan.
h. Manajemen data dilakukan pada setiap tingkat administratif
kesehatan untuk advokasi dan perencanaan program selanjutnya
dimana prosesnya menggunakan software yang telah disiapkan untuk
mempermudah tugas pencatatan dan pelaporan, maupun analisis,
interpretasi, dan data tersebut digunakan untuk menentukan
intervensi selanjutnya.
i. Indikator dalam kegiatan survailens IMS sudah ditentukan yaitu
berupa indikator proses dan indikator output.
j. Hasil survailens IMS akan dievaluasi ulang oleh pihak terkait dan
apabila sudah memenuhi standar maka akan disebarluaskan ke
publik.
B. HIV-AIDS
1. Epidemiologi HIV-AIDS

Menurut International Labour Organization (ILO), HIV-AIDS


merupakan krisis global dan tantangan yang berat bagi pembangunan dan
kemajuan sosial. Pada tahun 2008, seluruh dunia diperkirakan 33 juta
orang hidup dengan HIV. Setiap harinya terdapat 7.400 infeksi baru HIV
dan 96% dari jumlah tersebut berada di negara dengan pendapatan
menengah ke bawah. Daerah subsahara di Afrika merupakan daerah
dengan prevalensi HIV terbesar, mencakup 67% dari jumlah keseluruhan
orang yang hidup dengan HIV. Daerah Asia Tenggara termasuk di
dalamnya Asia Selatan, merupakan daerah nomor dua terbanyak kasus
HIV dengan jumlah penderita 3,6 juta orang, 37% dari jumlah tersebut
merupakan wanita. Indonesia merupakan satu dari lima negara dengan

12
jumlah penderita HIV yang besar selain Thailand, Myanmar, Nepal, dan
India.4,5
Kasus AIDS pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 1987, yang
menimpa seorang warga negara asing di Bali. Tahun berikutnya mulai
dilaporkan adanya kasus di beberapa provinsi. Hingga saat ini kasus
HIV-AIDS terus bertambah. Tercatat bahwa pada tahun 2016 laporan
kasus infeksi HIV sebanyak 7.146 dan AIDS sebanyak 305. Pola
penyebaran infeksi yang umum terjadi adalah melalui hubungan seksual,
kemudian diikuti dengan penularan melalui penggunaan napza suntik.
Berdasarkan data dari Ditjen PP & PL Depkes RI (2009), terdapat 19.973
jumlah kumulatif kasus AIDS dengan 49,07% terdapat pada kelompok
umur 20-29 tahun, 30,14% pada kelompok umur 30-39 tahun, 8,82%
pada kelompok umur 40-49 tahun, 3,05% pada kelompok umur 15-19
tahun, 2,49% pada kelompok umur 50-59 tahun, 0,51% pada kelompok
umur > 60 tahun, 2,65% pada kelompok umur < 15 tahun dan 3,27%
tidak diketahui. Rasio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah
3:1 dan kebanyakan penderita adalah ibu rumah tangga. Sebanyak 40,2%
penderita AIDS terdapat pada kelompok pengguna napza suntik, Faktor
4,5
risiko penularan terbanyak adalah heteroseksual sebanyak 66%.

2. Konsep Surveilans HIV-AIDS

Konsep surveilans HIV-AIDS mengikuti konsep surveilans secara


umum dimana dilakukan studi eidemiologi terhadap perjalanan dinamis
suatu penyakit dengan berdasar pada sumber data yang diperoleh.
Berikut secara garis besar konsep dari tahapan surveilans :

a. Prosedur pemeriksaan darah untuk penderita HIV-AIDS yang


pertama adalah harus mengisi informed consent yang artinya
kebersediaan subjek untuk diambil sampel duh tubuhnya kemudian
diberikan konseling sebelum dan sesudah tes terhadap subjek dan
yang terpenting harus bersifat rahasia agar subjek merasa nyaman

13
dan tidak timbul rasa khawatir misalnya tidak di beri nama bisa atau
langsung nama kota atau inisial nama saja.
b. Cara pencatatan kasus surveilans HIV-AIDS yaitu yang pertama
malakukan pemeriksaan fisik terhadap penderita yang mencurigakan
terkena HIV-AIDS , kedua yaitu pemeriksaan laboratorium untuk
menguatkan dugaan terhadap penderita, selanjutnya pemeriksaan
laboratorium akan menghasilkan data apakah penderita positif HIV-
AIDS atau tidak.
c. Pelaporan kasus surveilans HIV-AIDS yaitu dengan menggunakan
formulir dari laporan penderita positif HIV-AIDS yang kemudian
laporan kasus ini dikirim secepatnya tanpa menunggu suatu periode
waktu dan harus dilaporkan pada saat menemukan penderita positif
HIV-AIDS bisa melalui fax atau email untuk sementara tetapi
kemudian disusul dengan data secara tertulis.
3. Pedoman Surveilans HIV-AIDS
Pedoman yang digunakan dalam melakukan surveilans HIV-AIDS
sama dengan proses surveilans secara umum yang meliputi pengumpulan
data sampai dengan evaluasi.
a. Pengumpulan Data
Data kasus HIV-AIDS dapat diperoleh melalui laporan hasil
pemeriksaan sampel darah pasien terduga HIV-AIDS oleh
laboratorium yang meliputi kode spesimen yaitu : Kabupaten/ Kota,
sub-populasi sasaran, golongan umur, jenis kelamin, bulan dan tahun
pemeriksaan. Laporan Balai Laboratorium Kesehatan ini akan
dikirimkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan
tembusan ke Dinas Kesehatan Provinsi dan Ditjen PPM & PL-Dit
P2ML minat Subdit AIDS& IMS di Jakarta. Laporan hasil
pemeriksaan dikirim dengan memakai formulir yang sudah
disediakan. Kemudian Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
mengirimkan laporan tersebut dari kepada Kepala Dinas Kesehatan
Provinsi dengan tembusan ke Ditjen PPM & PL minat Subdit AIDS

14
& IMS langsung setelah menerima hasil laboratorium. Dinas
Kesehatan Provinsi akan memakai Laporan Surveilans HIV-AIDS
tersebut sebagai data dasar untuk dimasukkan kedalam program
komputer yang menjadi pusat pengolahan data surveilans HIV-AIDS
di provinsi.
b. Kompilasi Data
Semua data yang dikumpulkan dari lapangan (dari masing-
masing sub- populasi sentinel) diolah oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/ Kota dan Provinsi, selanjutnya Dinas Kesehatan Provinsi
akan melakukan kompilasi hasil pengumpulan data dari lapangan
dan dari Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi di tingkat Provinsi.
Hasil olahan ini akan dikirimkan ke Ditjen PPM& PL - Dit P2ML,
cq Subdit AIDS& IMS untuk dilakukan analisis di tingkat nasional.
c. Analisis Data
Kabupaten/Kota dan Provinsi pengelola program IMS dan
HIV-AIDS melakukan analisis sederhana supaya bisa menunjukkan
tren/kecenderungan prevalensi HIV-AIDS pada setiap populasi
menurut waktu dan tempat dengan menggunakan grafik-grafik
sederhana. Pada tingkat pusat, data yang terkumpul dari semua
daerah akan disimpan di Subdit AIDS & IMS Ditjen PPM & PL
DepKes RI. Data tersebut akan dianalisis untuk melihat tren/
kecenderungan prevalensi infeksi HIV-AIDS berdasarkan orang,
waktu dan tempat dalam bentuk grafik dan ditambahkan penjelasan.
d. Interprestasi Data
Data surveilans HIV-AIDS harus diinterpretasikan untuk
menilai seberapa cepat peningkatan atau penurunan prevalensi HIV-
AIDS pada berbagai populasi sasaran di daerah masing-masing.
e. Umpan Balik Data
Direktorat P2ML cq. Subdit AIDS & IMS akan memantau
pelaporan pelaksanaan kegiatan surveilans HIV-AIDS di seluruh
wilayah yang melaksanakan kegiatan surveilans HIV-AIDS.

15
Selanjutnya mereka akan membuat laporan singkat hasil surveilans.
Laporan singkat tersebut akan dikirimkan kepada semua pihak yang
terkait baik di tingkat nasional maupun di tingkat
provinsi/kabupaten/kota yang terkait. Dinas Kesehatan Provinsi juga
perlu membuat laporan singkat yang berasal dari kabupaten/ kota
setempat, dan mengirimkannya kepada semua pihak yang terkait di
provinsi tersebut.
f. Monitoring
Monitoring merupakan pengawasan rutin terhadap informasi
penting dari kegiatan surveilans sentinel yang sedang dilaksanakan
dan hasil-hasil program yang harus dicapai. Pada pelaksanaan
surveilans sentinel, monitoring dilakukan pada prosesnya melalui
sistem pencatatan dan pelaporan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh
petugas Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan
Provinsi, BLK dan Subdit AIDS& IMS sesuai dengan protap.
g. Evaluasi
Evaluasi kegiatan surveilans sentinel dilakukan pada tahap
input, proses pelaksanaan dan output.
1) Pada evaluasi input pemegang program HIV-AIDS dari semua
tingkat admisnistratif perlu mengevaluasi berbagai kebutuhan.
Petugas tersebut perlu melaksanakan kerangka sampel yang
benar dan pelaksanaan pemetaan lokasi sentinel. Hal lain yang
perlu diperhatikan adalah jumlah petugas kesehatan yang
bermutu, materi dan peralatan serta biaya yang dibutuhkan
dalam pelaksanaan lapangan. Selain itu perlu diantisipasi
masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pelaksanaan di
lapangan.
2) Evaluasi proses pelaksanaan perlu dilakukan untuk mengetahui
efektifitas pelaksanaan kegiatan. Pada tahap ini evaluasi
dilakukan terhadap “siapa melakukan apa dan bagaimana
caranya”. Evaluasi ini dilakukan untuk semua petugas yang

16
dilibatkan, seperti misalnya petugas pencatatan dan pelaporan,
petugas laboratorium. Misalnya apakah petugas pengambil
spesimen darah telah menggunakan prosedur yang benar dan
telah melakukan pengkodean pada setiap sampel.
3) Evaluasi output mencerminkan evaluasi terhadap kegunaan
data, kualitas data dan cakupan surveilans sentinel. Evaluasi
terhadap kegunaan hasil surveilans dilakukan oleh setiap tingkat
administrasi. Evaluasi ini dilakukan dengan mengintrepretasikan
tren/kecenderungan prevelansi HIV-AIDS pada populasi yang
diamati. Sedangkan evaluasi terhadap kualitas surveilans
sentinel ini dilakukan untuk mengetahui seberapa valid data
yang dihasilkan kegiatan sentinel tersebut. Evaluasi tahap ini
lebih dititik beratkan pada proses pelaksanaan kegiatan.
Evaluasi terhadap cakupan surveilans ini meliputi hal-hal yang
menghambat pelaksanaan sentinel seperti jarak antara petugas
kesehatan dan sentinel site, jadwal pelaksanaan, biaya
pelaksanaan dan sosial budaya setempat.
4. Indikator Surveilans HIV-AIDS
Indikator yang digunakan dalam proses surveilans HIV-AIDS yaitu
meliputi indikator proses dan output.
a. Indikator proses yaitu semua kegiatan yang tercantum daalam protap
harus dimasukkan ke dalam daftar tilik ketika dilakukan pengawasan
b. Indikator output yaitu meliputi pencapaian populasi sesuai rencana,
ketepatan waktu pelaksanaan kegiatan dan ketepatan waktu
pelaporan hasil kegiatan tersebut.
5. Prosedur dan Ketentuan Surveilans HIV-AIDS
Prosedur pelaksaan surveilans HIV-AIDS sudah memiliki
ketentuan sebagai berikut.
a. Menentukan populasi sesuai dengan sasaran dan lokasi tertentu
b. Menentukan jumlah sampel yang akan diperiksa

17
c. Tes dilakukan tanpa nama untuk mengurangi bias partisipasi
sehingga hasilnya berupa jumlah yang positif, bukan siapa yang
positif
d. Surveilans dilakukan pada beberapa lokasi yang telah ditentukan dan
dapat dikembangkan sesuai kebutuhan
e. Surveilans tidak dapat dan tidak boleh digunakan untuk mencari
kasus HIV-AIDS
f. Surveilans harus menjamin kerahasiaan identitas sampel dengan
tidak mencantumkan identitas pada spesimen yang diambil untuk
pemeriksaan.
6. Kelemahan Sistem Surveilans HIV-AIDS
Kelemahan yang ditemukan dalam sistem surveilans HIV-AIDS
meliputi hal-hal sebagai berikut.

a. Tenaga profesional serta sarana dan prasarana yang belum memadai


untuk pelaksanaan kegiatan surveilans epidemiologi HIV-AIDS.
b. Kesalahan pada sumber daya manusia yang ada seperti
kader/petugas surveilans belum memasukkan data tepat waktu,
ketepatan pelaporan masih kurang, data sudah diolah tapi tidak
dianalisis, petugas Puskesmas mengalami hambatan menyebarkan
informasi dalam pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS.
c. Penyajian hanya dibuat dalam bentuk table dan grafik.
d. Penyebaran informasi hanya dalam bentuk laporan tahunan dan
penyuluhan, belum pernah dibuat buletin epidemiologi.
e. Pelaksanaan atribut sistem belum sederhana.
f. Fleksibilitas, sensitivitas, nilai prediktif positif dan kerepresentatifan
belum diukur.
g. Kurangnya dukungan dari pemerintah dan masyarakat dalam
program pencegahan penyakit HIV-AIDS.
h. Jumlah kasus yang dilaporkan semu (fenomena gunung es), lebih
banyak yang ditutupi atau tertutupi karena stigma yang timbul di
masyarakat terhadap penderita HIV-AIDS.

18
7. Kelebihan Sistem Surveilans HIV-AIDS
Kelebihan yang sudah dimiliki sistem surveilans HIV-AIDS
menurut Depkes RI 2006 yaitu sebagai berikut.
a. Sudah memantau prevalensi HIV-AIDS pada suatu subpopulasi
tertentu.
b. Sudah memantau tren/kecenderungan infeksi HIV-AIDS
berdasarkan waktu dan tempat.
c. Sudah memantau dampak program, menyediakan data untuk
estimasi dan proyeksi kasus HIV-AIDS di Indonesia, menggunakan
data prevalensi untuk advokasi, menyelaraskan program pencegahan
dengan perencanaan pelayanan kesehatan.
d. Telah mendapat dukungan dari pemerintah baik dalam kebijakan
maupun komitmen politik, bentuk penerimaan sosial, maupun bentuk
dukungan sistem.
e. Para petugas surveilans HIV-AIDS sudah mendapatkan pelatihan
dalam melakukan kegiatan survailens tersebut baik petugas provinsi,
kabupaten/kota, laboratorium,dan supervisi.
f. Syarat populasi survailens sudah ditentukan meliputi : dapat
diidentifikasi, dapat dijangkau untuk survei, terjaminnya
kesinambungan survei pada populasi tersebut, jumlah anggota
populasi tersebut cukup memadai.
g. Standarisasi waktu pengumpulan data sudah ditetapkan tergantung
dari kebutuhan.
h. Manajemen data dilakukan pada setiap tingkat administratif
kesehatan untuk advokasi dan perencanaan program selanjutnya
dimana prosesnya menggunakan software yang telah disiapkan untuk
mempermudah tugas pencatatan dan pelaporan, maupun analisis,
interpretasi, dan data tersebut digunakan untuk menentukan
intervensi selanjutnya.
i. Indikator dalam kegiatan survailens HIV-AIDS sudah ditentukan
yaitu berupa indikator proses dan indikator output.

19
j. Hasil survailens HIV-AIDS akan dievaluasi ulang oleh pihak terkait
dan apabila sudah memenuhi standar maka akan disebarluaskan ke
publik.

20
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa :
1. Epidemiologi IMS dan HIV-AIDS masih menjadi tantangan yang berat
di negara yang memiliki angka kejadian yang tinggi khususnya di
Indonesia.
2. Konsep surveilans IMS dan HIV-AIDS sudah cukup baik dan memiliki
protap yang sudah ditentukan.
3. Pedoman surveilans IMS dan HIV-AIDS sudah baku dan dilengkapi
dengan format pelaporan sampai aplikasi software untuk memudahkan
proses pengolahan data
4. Indikator surveilans IMS dan HIV-AIDS sebagai pegangan sudah ada
sehingga diharapkan diperoleh hasil survei yang baik dan efektif
5. Kelemahan sistem surveilans IMS dan HIV-AIDS masih ada sehingga
diperlukan perhatian dan perbaikan dari semua pihak terkait, khususnya
pelaksana teknis yang langsung terlibat di lapangan.
6. Kelebihan sistem surveilans IMS dan HIV-AIDS sudah terprogram dan
memiliki protap yang terstruktur dan terstandarisasi.
B. SARAN
1. Diharapkan agar kekurangan yang ada pada sistem surveilans IMS dan
HIV-AIDS dapat segera diperbaiki khususnya keterampilan dan
komitmen dari sumber daya manusia yang langsung terlibat di lapangan
sehingga dapat diperoleh hasil survei yang akurat
2. Diharapkan hasil surveilans IMS dan HIV-AIDS dapat ditindaklanjuti
untuk mencapai tujuan dari surveilans itu sendiri sehingga angka
kejadian penyakit dapat ditekan melalui pengembangan program
pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.

21
DAFTAR PUSTAKA
1. Hakim,Lukman. 2011. Epidemiologi Infeksi Menular Seksual. dari Infeksi
Menular Seksual. Ed. 4. Sjaiful Fahmi Daili dkk. Jakarta : Badan Penerbit
FKUI
2. Suwandani, Resti. 2015. Pengetahuan dan Sikap Berisiko Waria dengan
Kejadian Infeksi Menular Seksual di Sidoarjo. Jurnal Berkala Epidemiologi.
Vol. 3 No. 1Januari 2015. 35-44
3. Pedoman Bersama ILO/WHO Tentang Pelayanan Kesehatan dan HIV-AIDS.
2005. Direktorat Pengawasan Kesehatan Kerja Departemen Tenaga Kerja dan
Transmigrasi RI
4. Pusat Data dan Informasi Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. 2006. Situasi HIV/AIDS di Indonesia Tahun 1987-
2006. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Departemen Kesehatan Republik
Indonesia
5. Laporan Situasi Perkembangan HIV-AIDS di Indonesia Januari-Maret 2016.
2016. Ditjen P2P Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

22