You are on page 1of 8

Mata merupakan organ yang peka dan penting dalam kehidupan, terletak dalam

lingkaran bertulang berfungsi untuk member perlindungan maksimal dan sebagai


pertahanan yang baik dan kokoh. Penyakit mata dapat dibagi menjadi 4 yaitu, infeksi
mata, iritasi mata, mata memar dan glaucoma. Mata mempunyai pertahanan terhadap
infeksi karena secret mata mengandung enzim lisozim yang menyebabkan lisis pada
bakteri dan dapat membantu mengeleminasi organism dari mata. Obat mata dikenal
terdiri atas beberapa bentuk sediaan dan mempunyai mekanisme kerja tertentu. Obat mata
dibuat khusus. Salah satu sediaan mata adalah obat tetes mata. Obat tetes mata ini
merupakan obat yang berupa larutan atau suspensi steril yang digunakan secara local pada
mata.
Karena mata merupakan organ yang paling peka dari manusiamaka pembuatan
larutan obat mata membutuhkan perhatian khusus dalam hal toksisitas bahan obat, nilai
isotonisitas, kebutuhan akan dapar, kebutuhan akan pengawet, sterilisasi dan kemasan
yang tepat. Hal-hal yang berkaitan dengan syarat tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam
makalah ini.

Obat tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspense, digunakan untuk
mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola
mata. Sediaan ini diteteskan kedalam mata sebagai antibacterial, anastetik, midriatik, miotik,
dan antiinflamasi.
Untuk membuat sediaan yang tersatukan, maka kita perlu memperhatikan beberapa faktor
persyaratan berikut :
1. Harus steril atau bebas dari mikroorganisme
Pemakaian tetes mata yang terkontaminasi mikroorganisme dapat terjadi rangsangan
berat yang dapat menyebabkan hilangnya daya penglihatan atau terlukanya mata sehingga
sebaiknya dilakukan sterilisasi atau menyaring larutan dengan filter pembebas bakteri.
2. Sedapat mungkin harus jernih
Persyaratan ini dimaksudkan untuk menghindari rangsangan akibat bahan
padat. Filtrasi dengan kertas saring atau kain wol tidak dapat menghasilkan larutan bebas
partikel melayang. Oleh karena itu, sebagai material penyaring kita menggunakan leburan
gelas, misalnya Jenaer Fritten dengan ukuran pori G 3 – G 5.
3. Harus mempunyai aktivitas terapi yang optimal
Harga pH mata sama dengan darah, yaitu 7,4. Pada pemakaian tetesan biasa, larutan
yang nyaris tanpa rasa nyeri adalah larutan dengan pH 7,3-9,7. Namun, daerah pH 5.5-11.,4,
masih dapat diterima. Pengaturan pH sangat berguna untuk mencapai rasa bebas nyeri,
meskipun kita sangat sulit merealisasikannya.
Pendaparan merupakan salah satu cara untuk mempertahankan pH larutan
tetes mata. Penambahan dapar dalam pembuatan obat mata harus didasarkan pada
beberapa pertimbangan tertentu. Air mata normal memiliki pH lebih kurang 7,4 dan
mempunyai kapasitas dapar tertentu. Secara ideal obat tetes mata harus mempunyai
pH yang sama dengan larutan mata, tetapi hal ini tidak selalu dapat dilakukan karena
pada pH 7,4 banyak obat yang tidak cukup larut ataupun tidak stabil pada pH 7,4.
Oleh karena itu system dapar harus dipilih sedekat mungkin dengan pH fisiologis
yaitu 7,4 dan tidak menyebabkan pengendapan atau mempercepat kerusakan obat.
Jika harga pH yang di tetapkan atas dasar stabilitas berada diluar daerah yang dapat di
terima secara fisiologis, maka kita wajib menambahkan larutan dapar dan melakukan
pengaturan pH melalui penambahan asam atau basa.
Pembuatan obat mata dengan system dapar mendekati ph fisiologis dapat dilakukan
dengan mencampurkan secara aseptik larutan obat steril dengan larutan dapar steril.
Walaupun demikian, perlu diperhatikan mengenai kemungkinan berkurangnya kestabilan
obat pada pH yang lebih tinggi, pencapaian dan pemeliharaan sterilitas selama proses
pembuatan. Berbagai obat, bila didapar pada pH yang dapat digunakan secara terapeutik,
tidak akan stabil dalam larutan untuk jangka waktu yang lama sehingga sediaan ini dibuat
dalam bentuk sediaan akan direkonstitusikan segera sebelum digunakan. Tujuan pendaparan
obat tetes mata adalah :
a. Mengurangi rasa sakit
b. Menjaga stabilitas obat dala larutan
c. Control aktivitas terapetik
4. Harus tidak mengiritasi dan tidak menimbulkan rasa sakit pada mata, maka dikehendaki
sedapat mungkin harus isotonis.
Karena kandungan elektrolit dan koloid di dalamnya, cairan air mata memiliki
tekanan osmotik, yang nilainya sama dengan darah dan cairan jaringan. Besarnya adalah
0,65-0,8 M Pa (6,5-8 atmosfir), penurunan titik bekunya terhadap air 0,520K atau
konsentrasinya sesuai dengan larutan natrium klorida 0,9% dalam air.
Cairan mata isotonis dengan darah dan mempunyai nilai isotonis sesuai dengan
larutan NaCl P 0,9%. Sediaan tetes mata sebaiknya dibuat mendekati isotonis agar dapat
diterima tanpa rasa nyeri dan tidak dapat menyebabkan keluarnya air mata, yang dapat
mencuci keluar bahan obatnya. Larutan hipertonis relatif lebih dapat diterima dari pada
hipotonis.
Beberapa larutan obat mata perlu hipertonik untuk meningkatkan daya serap dan
enyediakan kadar vahan aktif yang cukup tinggi untuk menghasilkan efek obat yang cepat
dan efektif. Apabila larutan obat seperti ini digunakan dalam jumlah kecil, pengenceran
dengan air mata cepat terjadi sehingga rasa perih akibat hipertonisnya hanya sementara.
Tetapi penyesuaian isotonisitas oleh pengenceran dengan air mata tidak berarti, jika
digunakan larutan hipertonik dalam jumlah besar untuk membasahi mata. Jadi yang penting
adalah larutan obat mata sebisa mungkin harus endekati isotonik. Untuk membuat larutan
mendekati isotonis, dapat digunakan medium isotonis atau sedikit hipotonis, umumnya
digunakan natrium-klorida (0,7-0,9%) atau asam borat (1,5-1,9%) steril.
5. Zat pengawet dala larutan tetes mata
Syarat zat pengawet bagi larutan obat tetes mata:
1. Harus bersifat bakteriostatik dan fungistatik. Terutaa sifat bakteriostatik
terhadap pseudomonas aeruginosa, karena sangat berbahaya pada mata yang
terinfeksi.
2. Harus tidak mengiritasi jaringan mata, kornea, dan konjungtiva
3. Harus kompatibel dengan bahan obat
4. Tidak menimbulkan alergi
5. Dapat mempertahankan aktivitasnya dalam kondisi normal
Tipe zat pengawet yang dianjurkan untuk larutan obat tetes mata ada 4 macam :
a. Esters dari p-hidroksi as.benzoat, terutama nipagin dan nipasol
b. Senyawa merkuri organic, seperti fenil merkuri nitrat, timerosol
c. Zat pembasah kationik seperti, benzalkonium khlorid dan setil peridinium
klorid
d. Derivate alcohol seperti, klorbutanol, fenil etil alcohol
6. Viskositas dalam larutan mata
Tetes mata dalam air mempunyai kekurangan karena dapat ditekan keluar dari saluran
konjungtiva oleh gerakan pelupuk mata. Namun, melalui peningkatan viskositas tetes mata
dapat mencapai distribusi bahan aktif yang lebih baik didalam cairan dan waktu kontak yag
lebih panjang. Viskositas diperlukan agar larutan obat tidak cepat dihilangkan oleh air mata
serta dapat memperpanjang lama kontak dengan kornea, dengan demikian dapat mencapai
hasil terapi yang besar. Biasanya yang digunakan untuk enaikkan viskositas ialah CMC
dengan kadar 0,25-1%.
Viskositas sebaiknya tidak melampaui 49-50 mPa detik (40-50 cP) sebab jika tidak,
maka akan terjadi penyumbatan saluran air mata. Kita memakai larutan dengan harga
viskositas 5-15 mPa detik (5-15 cP).
7. Surfaktan dalam pengobatan mata
Surfaktan sering digunakan dala larutan mata karena mempunyai fungsi sebagai zat
pembasah atau zat penambah penetrasi.
Efek surfaktan adalah :
a. Menaikkan kelarutan, hingga menaikkan kadar dari obat kontak dengan mata.
b. Menaikkan penetrasi ke dalam kornea dan jaringan lain
c. Memperlama tetapnya obat dalam konjungtiva, pada pengenceran obat oleh
air mata.
Surfaktan yang sering digunakan adalah benzalkonium-klorid 1 : 50.000
jangan lebih dari 1 : 3000. Surfaktan lain juga yang dipakai adalah benzalkonium
klorid, duponal M.E dan aerosol OT atau OS. Pemakaian surfaktan jangan lebih dari
0,1%. Lebih encer lebih baik.
8. Pewadahan
Wadah untuk larutan mata, larutan mata sebaiknya dibuat dalam unit kecil, tidak
pernah lebih besar dari 15 ml dan lebih disukai yang lebih kecil. A botol 7,5 ml adalah
ukuran yang menyenangkan untuk penggunaan larutan mata. Penggunaan wadah kecil
memperpendek waktu pengobatan akan dijaga oleh pasien dan meminimalkan jumlah
pemaparan kontaminan.
Suspensi obat mata
Pembuatan suspensi dapat dilakukan jika obat tidak larut dalam peyangga yang cocok.
Misalnya kortikosteroid. Syarat utama suspensi air atau minyak adalah ukuran partikel yang
sangat dibatasi. Pada dasarnya, suspensi menggunakan serbuk yang telah dimikronisasi untuk
menghindari terjadinya rangsangan pada mata. Ukuran partikel pada mata <30 nm. Untuk
menstabilkan suspensi, kita tambahkan viskositas. Suspense obat ata tidak boleh digunakan
bila terjadi massa yang mengeras atau penggumpalan.
Penggolongan obat mata berdasarkan farmakologi
1. Obat mata sebagai anti-infektif dan antiseptik
Contohnya :
Albucetine eye drop 5 ml, 10 ml, 15 ml, dan oint 3,5 g
2. Obat mata mengandung corticosteroid
Contohnya :
Celestone eye drop 5 ml
3. Obat mata sebagai antiseptik dengam corticosteroid
Contohnya :
Cendo Xitrol 5 ml dan 10 ml
4. Obat mata mempunyai efek midriatik
Contohnya :
Cendo Tropine 5 ml, 10 ml dan 15 ml
5. Obat mata mempunyai efek miotik
Contohnya :
Cendo Carpine 5 ml, 10 ml dan 15 ml
6. Obat mata mempunyai efek glaukoma
Contohnya :
Isotic Adretor 5 ml
7. Obat mata mempunyai efek lain
Contohnya :
Catarlent eye drop 15 ml
Keuntungan obat tetes mata :
1. Larutan mata memiliki kelebihan dalam hal homogeny, bioavailabilitas, dan kemudahan
penanganan.
2. Suspense mata memiliki kelebihan dimana adanya partikel zat aktif dapat memperpanjang
waktu tinggal pada mata sehingga meningkatkan waktu terdisolusinya oleh air mata, sehingga
terjadi peningkatan bioavailabilitas dan efek terapinya.
3. Tidak menganggu penglihatan ketika digunakan
Kerugian obat tetes mata :
Kerugian yang prinsipil dari larutan mata adalah waktu kontak yang relatif singkat
antara obat dan permukaan yang terabsorsi.

http://pharmaciststreet.blogspot.co.id/2013/01/obat-tetes-mata.html
Untuk membuat sediaan yang tersatukan, maka faktor-faktor berikut hendaknya diperhatikan :

a. Steril atau miskin kuman

Pemakaian tetes mata yang terkontaminasi mikroorganisme dapat terjadi rangsangan berat yang
dapat menyebabkan hilangnya daya penglihatan atau tetap terlukanya mata sehingga sebaiknya
dilakukan sterilisasi akhir (sterilisasi uap) atau menyaring larutan dengan filter pembebas
bakteri.

b. Kejernihan (bebas atau miskin bahan melayang)

Persyaratan ini dimaksudkan untuk menghindari rangsangan akibat bahan padat. Sebagai
material penyaring digunakan leburan gelas, misalnya Jenaer Fritten dengan ukuran pori G 3 – G
5.

c. Pengawetan

Dengan pengecualian sediaan yang digunakan pada mata luka atau untuk tujuan pembedahan,
dan dapat dibuat sebagai obat bertakaran tunggal, maka obat tetes mata harus diawetkan.
Pengawet yang sering digunakan adalah thiomersal (0.002%), garam fenil merkuri (0,002%),
garam alkonium dan garam benzalkonium (0,002-0,01%), dalam kombinasinya dengan natrium
edetat (0,1%), klorheksidin (0,005-0,01%), klorbutanol (0,5%), dan benzilalkohol (0,5-1%).

d. Tonisitas

Sediaan tetes mata sebaiknya dibuat mendekati isotonis agar dapat diterima tanpa rasa nyeri dan
tidak dapat menyebabkan keluarnya air mata, yang dapat mencuci keluar bahan obatnya. Untuk
membuat larutan mendekati isotonis, dapat digunakan medium isotonis atau sedikit hipotonis,
umumnya digunakan natrium-klorida (0,7-0,9%) atau asam borat (1,5-1,9%) steril.

e. Pendaparan

Mirip seperti darah. Cairan mata menunjukan kapasitas dapar tertentu. Yang sedikit lebih rendah
oleh karena system yang terdapat pada darah seperti asam karbonat, plasma, protein amfoter dan
fosfat primer – sekunder, juga dimilikinya kecuali system – hemoglobin – oksi hemoglobin.
Harga pHnya juga seperti darah 7,4 akan tetapi hilangnya karbondioksida dapat
meningkatkannya smapai harga pH 8 – 9. pada pemakain tetes biasa yang nyari tanpa rasa nyeri
adalah larutan dengan harga pH 7,3 – 9,7. daerah pH dari 5,5 – 11,4 masih dapat diterima. Tetes
mata didapar atas dasar beberapa alasan yang sangat berbeda. Misalnya untuk memperbaiki daya
tahan (penisilina), untuk mengoptimasikan kerja (misalnya oksitetrasiklin) atau untuk mencapai
kelarutan yang memuaskan (misalnya kloromfenikol). Pengaturan larutan pada kondisi isohidri
(pH = 7,4) adalah sangat berguna untuk mencapai rasa bebas nyeri yang sempurna, meskipun hal
ini sangat sulit direalisasikan. Oleh karena kelarutan dan stabilitas bahan obat dan sebagian
bahan pembantu juga kerja optimum disamping aspek fisiologis (tersatukan) turut berpengaruh.

Aspek-aspek tersebut sangat jarang dalam kondisi optimal pada harga pH fisiologis. Harga pH yang
tepat yang dimiliki larutan, merupakan harga kompromis antara faktor-faktor yang telah disebutkan
tadi. Harga itu disebut sebagai harga euhidris misalnya garam alkaloida yang umumnya dipakai
sebagai tetes mata memiliki stabilitas maksimal dalam daerah pH 2 – 4, yang jelas sangat tidak
fisiologis. Hal yang sama terjadi pada anestetikal lokal untuk terapi mata (stabilitas maksimumnya
pada harga pH 2,3 -5,4). Yang terakhir ini dengan menaiknya harga ph juga menunjukanpeningkatan
efektifitas atas dasar membaiknya penettrasi pada kornea. Dengan mempertimbangkan
keseimbangan fisiologisnya, larutan ini dieuhidritkan sampai pada harga pH 5, 5 – 6,5.
Penyeimbangan pH pada umumnya dilakukan dengan larutan dapar isotonis. Larutan dapar berikut
digunakan secara internasional:

- Dapar natrium asetat – asam borat, kapasitas daparnya tinggi dalam daerah asam.

- Dapar fospat, kapasitas daparnya tinggi dalam daerah alkalis.

Jika harga pH yang ditetapkan atas dasar stabilitas berada diluar daerah yang dapat diterima secara
fisiologis, diwajibkan untuk menambahkan dapar dan melakukan pengaturan pH melalui
penambahan asam atau basa. Larutan yang dibuat seperti itu praktis tidak menunjukan kapasitas
dapar sehingga oleh cairan air mata lebih mudah diseimbangkan pada harga fisiologis dari pada
larutan yang didapar. Antara isotonis dan euhidri terdapat kaitan yang terbatas dalam hal
tersatukannya secara fisiologis. Yakni jika satu larutan mendekati kondisi isotonis, meskipun tidak
berada pada harga pH yang cocok masih dapat tersatukan tanpa rasa nyeri.

f. Viskositas dan aktivitas permukaan

Tetes mata dalam air mempunyai kerugian, oleh karena mereka dapat ditekan keluar dari saluran
konjunktival oleh gerakan pelupuk mata. Oleh karena itu waktu kontaknya pada mata menurun.
Melalui peningkatan viskositas dapat dicapai distribusi bahan aktif yang lebih baik didalam cairan
dan waktu kontak yang lebih panjang. Lagi pula sediaan tersebut memiliki sifat lunak dan licin
sehingga dapat mengurangi rasa nyeri. Oleh Karena itu sediaan ini sering dipakai pada
pengobatan keratokonjunktifitis. Sebagai peningkat viskositas digunakan metal selulosa dan
polivinilpiroridon (PVP).

http://formulasisteril.blogspot.co.id/2008/05/pendahuluan-obat-tetes-mata-steril.html
Yang perlu diperhatikan dalam proses pembuatan sediaan Kecermatan dan kebersihan selama
pembuatan Pembuatan dikerjakan seaseptis mungkin Formula yang tepat Teknologi
pembuatan dan peralatan yang menunjang
https://dhadhang.files.wordpress.com/2013/10/sediaan-mata.pdf