Вы находитесь на странице: 1из 19

AL HIJAZ Depok Bersemi 165 Media In… telusuri

22nd May 2016 KITAB MANAQIB SYEIKH ABDUL QODIR AL


JAILANI QS

[https://4.bp.blogspot.com/-
c8fWb4P qxWg/V0GC9GfKSRI/AAAAAAAAA zY/VJk80vxRnPE5A UDBrjcolsWly ofZM58z gCLcB/s1600
/caver%2B1.jpg]
KITAB MANAQIB SYEIKH 'ABDUL QODIR AL JAILANI QS.
https://drive.google.com/file/d/0B50Bkr3twWF9bTkzVXAxbWpXZEk/view?usp=sharing
[https://drive.google.com/file/d/0B50Bkr3tw WF9bTkzVXAxbWpXZEk/view?usp=sharing]
http://depokbersemi165.blogspot.co.id/2014/12/kitab-manaqib-syeikh-abdul-qodir-al.html
[http://depokbersemi165.blogspot.co.id/201 4/12/kitab-manaqib-sy eikh-abdul-qodir-al.htm l]

(PEMBUKAAN MANAQIB)

‫ِﺑ ْﺴ ِﻢ ا ِ اﻟﺮ ْﺣ ٰﻤ ِﻦ اﻟﺮ ِﺣ ْﻴ ِﻢ‬


‫ﺂء ا ِ َﻻ َﺧ ْﻮ ٌف َﻋﻠَ ْﻴ ِﻬ ْﻢ َو َﻻ ُﻫ ْﻢ َﻳ ْﺤ َﺰ ُﻧ ْﻮ ۚ َن‬ َ ‫َا َﻵ ِان َا ْو ِﻟ َﻴ‬
‫۞ َاﻟ ِﺬ ْﻳ َﻦ ٰا َﻣﻨ ُْﻮا َوﻛَﺎ ُﻧﻮا َﻳﺘ ُﻘ ْﻮ ۗ َن ۞ ﻟَ ُﻬ ُﻢ ْاﻟ ُﺒ ْﺸ ٰﺮى ِﻓﻲ‬
ِۗ ‫ﻮة اﻟﺪ ْﻧ َﻴﺎ َو ِﻓﻲ ْاﻵ ِﺧ َﺮ ِۗة َﻻ َﺗ ْﺒ ِﺪ ْﻳ َﻞ ِﻟﻜ َ ِﻠ ٰﻤ ِﺖ ا‬ َ ‫ْاﻟ‬
ِ ‫ـﺤ ٰﻴ‬
‫ٰذ ِﻟ َﻚ ُﻫ َﻮ ْاﻟ َﻔ ْﻮ ُز ْاﻟ َﻌ ِﻈ ْﻴ ُﻢ‬
Bismillaahir rohmaanir roohim.
Alaa inna Auliyaa'alloohi laa khoufun ‘alaihim wa laahum yahzanuun.
Alladziina aamanuu wakaanuu yattaquun.
Lahumul busyroo fil hayaatid dunyaa wa fiil aakhiroh,  laa tabdiila likalimaatillaah, dzaalika
huwal fauzul ‘azhiim.

‫ِﺑ ْﺴ ِﻢ ا ِ اﻟﺮ ْﺣ ٰﻤ ِﻦ اﻟﺮ ِﺣ ْﻴ ِﻢ‬


‫ َو َﻻ‬، ‫ﺎﻗ َﺒ ُﺔ ِﻟ ْﻠ ُﻤﺘ ِﻘ ْﻴ َﻦ‬
ِ ‫ َو ْاﻟ َﻌ‬، ‫َا ْﻟ َﺤ ْﻤﺪُ ِ ِ َرب ْاﻟ َﻌﺎﻟَ ِﻤ ْﻴ َﻦ‬
‫ َواﻟﺼ َﻼ ُة َواﻟﺴ َﻼ ُم َﻋ ٰﻠﻰ‬، ‫ان ِاﻻ َﻋﻠَﻰ اﻟﻈﺎ ِﻟ ِﻤ ْﻴ َﻦ‬ َ ‫ﻋُ ﺪْ َو‬
ُ‫ َاﻣﺎ َﺑ ْﻌﺪ‬، ‫َﺳﻴ ِﺪ َﻧﺎ ُﻣ َﺤﻤ ٍﺪ َو َﻋ ٰﻠﻰ ٰا ِﻟ ٖﻪ َو َﺻ ْﺤ ِﺒ ٖﻪ َا ْﺟ َﻤ ِﻌ ْﻴ َﻦ‬
:
Bismillaahir rohmaanir roohim.
Alhamdulillaahi Robbil ‘aalamin, wal ‘aaqibatu lill Muttaqiin, walaa ‘udwaana illaa 'alazh
zhoolimiin, wash sholaatu was salaamu ‘alaa Sayidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihii wa
shohbihii ajma’iin,
Ammaa ba’du:
Dengan menyebut Nama Alloh Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Puji bagi Alloh
pencipta Semesta alam. Sholawat serta salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita
Nabi Muhammad Sholallohu Alaihi Wa sallam berserta keluarganya, sahabatnya serta 'Awliya
Alloh dan para pengikutnya sampai hari akhir.
Ini sekelumit manaqib Sulthon Awliya' Syaikh Abdul Qodir Al Jailani, kutipan dari
kitab "Uquudul La Aali Fii Manaaqibil Jayli" dan
kitab "Tafriihul Khootir Fii Manaaqibisy Syaikhi Abdul Qodir"
Semoga dengan dibacakan manaqib ini, Alloh  Subhanahu Wa Ta’ala melimpahkan
keberkahannya kepada kita sekalian, terutama kepada Shohibul Hajat
(…....................................................................................................…)

Dimudahkan rizki yang halal, dijauhkan dari malapetaka dunia dan akhirat, diterima segala
niat dan maksud kita, dimudahkan urusan kita yang berhubungan dengan dunia dan akhirat,
Amiin Yaa Robbal ‘aalamiin.
Adapun diantara manaqib Syaikh Abdul Qodir Al Jailani sebagai berikut :

(MUHARROM)
Manqobah Ke-39 :
Setiap Datang Tahun Baru, Memberitahu Kepada Syaikh Abdul Qodir Peristiwa Yang Akan
Terjadi Pada Tahun Itu
Diriwayatkan di dalam kitab "Bahjatul Asror" bahwa Syaikh ‘Abdul Qodir pada suatu saat
terbang melayang-layang diatas ribuan manusia di majlis pengajian yang beliau pimpin,
beliau Bersabda:
"Tiada terbit matahari melainkan mengucapkan salam kepadaku, pada setiap datang tahun
selalu memberi salam kepadaku, dan memberitahukan yang akan terjadi pada tahun itu. Pada
setiap datang bulan, memberi salam kepadaku dan Menceritakan apa yang terjadi pada bulan
itu. Demikian Pula setiap datang minggu dan hari, minggu dan hari itu memberi salam
kepadaku dan memberitahukan yang akan terjadi pada minggu dan hari itu. Demi Dzat Alloh
Yang Maha Mulia, orang-orang yang suka dan duka semuanya itu diberitahukan kepadaku.
Pandangan mataku selalu di Lauhil Mahfud dan aku tenggelam dalam lautan Ilmu Alloh dan
lautan musyahadah, akulah yang menjadi Hujjah Alloh, akulah yang menjadi pengganti
Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam. Akulah yang menjadi pewarisnya dibumi. Manusia ada
gurunya, malaikat ada gurunya, jin ada gurunya, aku guru semuanya.”
َ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠ‬
ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬
‫ار ِه ِﻓﻰ‬ َِ ‫ﻮ‬
َ ‫ﺿ‬ْ ‫اﻟﺮ‬‫و‬
ْ
َ ‫ﺎت‬
ِ ‫ﺤ‬َ َ
‫اﻟﻨﻔ‬ ‫ﻪ‬
ِ ‫ﻴ‬
ْ
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
‫ﺎن‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
Manqobah Ke-40 :
‘Abdul Qodir Diberi Buku Untuk Mencatat Murid-Muridnya Sampai Hari Qiamat
Diriwayatkan di dalam kitab "Bahjatul Asror", Syaikh ‘Abdul Qodir pernah berkata : “Aku diberi
sebuah buku yang luasnya sejauh mata memandang untuk menuliskan nama-nama muridku
sampai hari kiamat. Semua murid itu telah Alloh berikan Kepadaku dan telah menjadi milikku.
Aku pernah bertanya Kepada malakul Malik, “Apakah ada dalam neraka, muridku dan sahabat-
ku ?” Malakul Malik menjawab: “tidak ada.”
Syaikh berkata : "Aku bersumpah, demi kemuliaan Tuhanku. Tanganku atas murid-muridku
seperti langit menutup bumi. Andaikan murid-muridku itu buruk, maka akulah yang baik. Dan
aku bersumpah, demi Ke-Agungan dan Kemuliaan Tuhanku, dua telapak kakiku tidak akan
bergeser dihadapan Tuhan kecuali sudah mendapat keputusan bahwa aku bersama-sama
muridku yang masuk surga”
Lebih lanjut beliau bersabda : “Tanganku tidak akan lepas dari kepala murid-muridku,
walaupun aku sedang ada di timur dan muridku ada di barat, lalu muridku itu tersingkap
auratnya, maka tanganku akan segera menutupinya. Demi Keagungan dan Kemuliaan Tuhanku,
pada hari qiamat aku akan berdiri tegak di hadapan gerbang pintu neraka, sekali lagi aku tidak
akan bergeser sebelum muridku masuk surga karena Alloh Yang Maha Kuasa telah
menjanjikanku bahwa murid-muridku tidak akan dimasukan ke dalam neraka.  Barang siapa
yang berguru serta mahabbah kepadaku, pasti aku menghadap kepadanya, bahwa mereka dan
Malaikat Munkar Nakir telah berjanji kepadaku, bahwa mereka tidak akan menakut-nakuti
murid-muridku.”

ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬


‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ َ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ‬ َ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ‬
ِ ‫اﻟﻨﻔ َﺤ‬
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.

(SHOFAR)
Manqobah Ke-24 :
Masyarakat Yang Menderita Penyakit Tho’un, Sembuh Dengan Rumput Dan Air Madrosah
Syaikh ‘Abdul Qodir
Para Ulama meriwayatkan, pernah terjadi pada jaman Syaikh ‘Abdul Qodir bangkit wabah
penyakit tho’un sehingga berjuta orang meninggal dunia. Masyarakat beduyun-duyun datang
meminta pertolongan kepada Syaikh, beliau mengumumkan kepada mereka : "Barangsiapa
makan rerumputan Madrosahku, Alloh akan menyembuhkan penyakit yang dideritanya.”
Karena terlalu banyak yang sakit, rerumputan itu habis, Syaikh mengumumkan lagi :
“Barangsiapa yang meminum air Madrosahku akan segera disembuhkan Alloh Subhanahu Wa
Ta’ala.” Mendengar Pengumuman itu, para penderita penyakit beramai-ramai minum air
madrosah Syaikh, seketika itu juga mereka menjadi sembuh kembali dan penyakit tho’un pun
lenyap.

ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬


‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ َ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ‬ َ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ‬
ِ ‫اﻟﻨﻔ َﺤ‬
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
Manqodah Ke-27 :
Syaikh ‘Abdul Qodir Membeli Empat Puluh Ekor Kuda Untuk Orang Sakit
Diriwayatkan, ada ada seseorang yang bertempat tinggal agak jauh dari kota Baghdad.
Terdengar berita tentang kemasyhuran Syaikh ‘Abdul Qodir, ia pun bermaksud akan berziarah
kepada Syaikh karena terdorong rasa Mahabbah. Setibanya dilokasi kediaman Syaikh, ia
keheranan melihat istal kudanya megah Sekali, lantai istalnya dibuat dari emas dan perak,
pelananya dibuat dari sutra dewangga, kudanya empat puluh ekor, semuanya bagus-bagus
dan mulus-mulus, tiada bandinganya.
Terlintas dalam hatinya prasangka yang kurang baik : “Katanya ia seorang Wali, tetapi
mengapa kenyataannya seorang pecinta dunia. Mana ada seorang wali mencintai dunia ? tidak
pantas diberi gelar Waliyulloh.” Niat semula untuk bertemu  dengan Syaikh, seketika itu juga
dibatalkan, lalu ia bertamu kepada orang lain dikota itu.
Beberapa hari kemudian ia jatuh sakit sangat parah, tidak ada seorang dokter pun dikota itu
yang mampu mengobatinya. Ada seorang paranormal beragama Nasroni yang memberi
petunjuk, “Penyakitnya itu tidak bisa sembuh kecuali dengan hati kuda, dengan syarat kudanya
harus seperti yang dimiliki oleh Syaikh Abdul Qodir, beliau seorang yang sangat dermawan,
pasti mau menolong”
Setiap hari disembelih seekor untuk diambil hatinya selama empat puluh hari, sehingga
empat puluh kuda habis semuanya. Dengan empat puluh kuda itu, sembuhlah orang itu
seperti sedia kala. Dengan rasa syukur yang tiada terhingga diiringi rasa malu, ia datang
menghadap Syaikh mohon ampunan. Syaikh Berkata : “Untuk kamu ketahui, sejumlah kuda
yang ku beli itu sebenarnya untukmu, karena aku tahu kamu akan mendapat musibah,
menderita penyakit yang tidak ada obatnya kecuali harus dengan empat puluh hati kuda. Aku
tahu maksudmu semula, kamu datang mau berziarah kepadaku semata-mata didorong rasa
cinta kepadaku, namun kamu berprasangka buruk kepadaku sehingga kamu bertamu kepada
orang lain”. Setelah mendengar penjelasan itu, ia merasa bersalah dan segera bertobat, lalu
Syaikh meluruskan niatnya dan memantapkan keyakinannya. Dan paranormal itu masuk
Islam.

ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬


‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ َ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ‬ َ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ‬
ِ ‫اﻟﻨﻔ َﺤ‬
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
(ROBI’UL AWAL)
Manqobah Ke-3 :
Kecerdasan Syaikh Abdul Qodir Waktu Menuntut Ilmu
Dalam menuntut ilmu, Syaikh ‘Abdul Qodir berusaha memilih guru-guru yang ahli dalam
bidangnya, beliau mempelajari dan memperdalam bermacam-macam disiplin ilmu.
Seluruh gurunya mengungkapkan tentang kecerdasannya. Beliau belajar Ilmu Fiqih dari Abil
Wafa ‘Ali bin ‘Aqil, Abi ‘Ali Khothob al-Kalwadani dan Abi Husein Muhammad ibnil Qodli. Ilmu
adab dari Abi Zakaria at-Tabrizi. Ilmu Thoriqot dari Syaikh Abil Khoir Hammad bin Muslim bin
Darwatid Dibas. Shufiahnya dari Abi Said Al Mubarok.
Sejak itu beliau terus-menerus meraih pangkat yang sempurna berkat Rohmat Alloh Yang
Maha Esa, sehingga beliau menduduki pangkat tertinggi dalam kewalian. Dengan semangat
juang yang tinggi disertai tekad yang kuat beliau berusaha mengekang serta mengendalikan
hawa nafsu. Beliau berkholwat di Irak dua puluh lima Tahun lamanya tidak berjumpa dengan
orang.

ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬


‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ َ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ‬ َ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ‬
ِ ‫اﻟﻨﻔ َﺤ‬
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
Manqobah Ke-4 :
Budi Pekerti Syaikh Abdul Qodir
Syaikh Abdul Qodir Al Jailani sangat takut kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala, oleh karena itu
beliau mudah terharu serta mudah mengeluarkan air mata. Doanya di Qobul Alloh. Beliau
seorang dermawan, jauh dari keburukan dan selalu dekat dengan kebaikan. Berani dan kokoh
dalam mempertahankan hak, tegas dalam menghadapi kemungkaran. Pantang menolak
orang yang meminta-minta walupun yang dimintanya pakaian yang sedang beliau pakai.
Tidak marah karena hawa nafsu, tidak memberi  pertolongan yang bukan karena Alloh.
Beliau diwarisi Akhlak Nabi Muhammad Sholallohu alaihi wa sallam, Tampan Nabi Yusuf
‘Alaihis sallam, Benar Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq Rodliyalloohu 'anhu, Adil Umar bin
Khothob Rodliyalloohu 'anhu, Hilim Sayyidina Utsman bin Affan Rodliyalloohu 'anhu,
Kegagahan serta keberanian sayidina Ali bin Abi Tholib karromallohu Wajhah.

ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬


‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ َ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ‬ َ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ‬
ِ ‫اﻟﻨﻔ َﺤ‬
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
(ROBI’UTS TSANI)
Manqobah Ke-51 :
Wasiat Syaikh Abdul Qodir Kepada Putranya Abdul Rozak
Syaikh Abdul Qodir telah berwasiat kepada putranya yang bernama Abdul Rozak dengan
beberapa wasiat, diantaranya :
“Wahai anakku, semoga Alloh melimpahkan Taufiq dan Hidayah-Nya kepadamu dan kepada
segenap kaum muslimin. Wahai anakku, bertawakallah kepada Alloh, pegang syara’ dan
laksanakan, dan pelihara batas-batasnya. Ketahui bahwa Thoriqotku dibangun berdasarkan
Al Qur’an dan Sunnah Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam. Hendaknya kamu berjiwa
bersih, dermawan, murah hati dan suka memberi pertolongan kepada orang lain dengan jalan
kebaikan. Jangan keras hati atau berlaku tidak sopan. Sebaiknya kamu bersikap sabar dan
tabah menghadapi segala ujian dan cobaan. Hendaknya kamu mengampuni kesalahan orang
lain dan bersikap hormat pada sesama ikhwan dan semua fakir miskin.
Perihara olehmu kehormatan guru-guru, dan berbuat baiklah kepada orang lain, beri nasihat
yang baik kepada orang-orang besar tingkat kedudukanya, demikian pula bagi masyarakat
kecil. Jangan suka berbantah-bantahan dengan orang lain kecuali dalam masalah agama.
Ketahuilah bahwa hakikat kemiskinan adalah perlu kepada orang lain, dan hakikat tidak perlu
kepada orang lain. Tashowwuf dicapai dengan jalan lapar dan pantangan dari hal-hal yang
disukai dan dihalalkan, dan tidak banyak bicara, jika kamu berhadapan dengan orang faqir,
jangan dimulaii dengan ilmu, sebab akan menjauh denganmu. Sebaiknya, hendaklah dimulai
dengan kasih sayang, bersikap lembutlah terhadapnya, membuatnya lebih dekat padamu.
Tashowwuf dibangun diatas delapan hal yakni : 1. Dermawan, 2. Ridlo,  3. Sabar,  4.  ‘Isyaroh,  
5.  Mengembara, 6. Berbusana Bulu, 7. Pecinta Alam, dan Faqir.  Dermawan Nabi Ibrohim
‘Alaihis sallam,Ridlo Nabi Ishaq ‘Alaihis sallam, Sabar Nabi Ayyub ‘Alaihis sallam, Isyarohnya
Nabi Zakaria ‘Alaihis sallam, Mengembara seperti Nabi Yusuf ‘Alaihis sallam, Berbusana wool
seperti Nabi Yahya ‘Alaihis sallam, Pecinta Alam Nabi Isa ‘Alaihis sallam, dan kefakiran Nabi 
Muhammad Sholallohu alaihi wa sallam.
Bila kamu berkumpul bersama orang kaya, perlihatkan kegagahanmu, kerendahan hati bila
berkumpul dengan orang miskin. Hendaknya kamu ikhlas dalam setiap perbuatan.
Seharusnya selalu mengingat Alloh. Jangan berprasangka buruk Kepada Alloh. Harusnya
berserah diri kepada Alloh dalam segala perbuatan. Jangan menggantungkan diri kepada
orang lain, walaupun keluarga walaupun teman sejawat. Layani faqir miskin dengan Tiga hal :
pertama, Tawadlu’, kedua, Budi Pekerti, dan ketiga, Kebeningan Hati.
Perhatikan olehmu bahwa yang paling dekat kepada Alloh ialah orang yang paling baik budi
pekertinya. Dan amal yang paling utama ialah memelihara hati dari melirik kepada selain
Alloh.
Bila bergaul dengan orang miskin, berwasiatlah dengan  kebenaran dan kesabaran. Cukup
bagimu dari dunia itu dua hal : pertama, bergaul dengan orang miskin, kedua menghormati
wali. Selain dari pada Alloh, segala sesuatu itu jangan dipandang cukup, gagah kepada yang
dibawahmu adalah pengecut, gagah terhadap sesuatu adalah lemah dan gagah kepada
orang yang lebih tinggi kedudukanya adalah sombong. Ketahuilah bahwa Tashowwuf dan
fakir merupakan Dwi Tunggall kebenaran yang hakiki, bukan main-main, oleh karena itu
jangan dicampur dengan main-main".
Demikian wasiat ayah, semoga Alloh melimpahkan Taufiq dan hidayahnya kepadamu dan
kepada murid-murid, atau kepada siapapun yang mendengar wasiat ini, semoga dapat
mengamalkanya dengan syafa’at junjungan kita Nabi Muhammad Sholallohu Alaihi Wa
sallam,
amin ya Robbal ‘alamin.

ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬


‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ َ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ‬ َ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ‬
ِ ‫اﻟﻨﻔ َﺤ‬
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
Manqobah Ke-53 :
Syaikh Abdul Qodir Wafat
Menjelang akhir hayatnya, Malakul Ajro’il datang mengunjungi Syaikh dikala matahari akan
terbenam membawa surat dari Alloh Subhanahu Wa Ta’ala untuk Syaikh dengan alamat
sebagai berikut :

‫َﻳ ِﺼ ُﻞ َﻫ َﺬا ْاﻟ َﻤﻜْﺘُ ْﻮ ُب ِﻣ َﻦ ْاﻟ ُﻤ ِﺤﺐ ا ٰﻟﻰ ْاﻟ َﻤ ْﺤ ُﺒ ْﻮ ِب‬


"Yashilu hadzal maktubi minal muhibbi ilal mahbubi"
(Surat ini dari Dzat Yang Maha Pengasih disampaikan kepada Wali yang dikasihi).
Kemudian surat tersebut diterima oleh  putranya yang bernama Sayyid Abdul Wahhab.
Setelah diterima, masuklah ia bersama Malakul Ajro’il. Sebelum surat dihanturkan kepada
Syaikh, beliau sudah mengerti bahwa beliau akan berpindah ke alam ‘uluwi, alam tinggi yakni
meninggal Dunia.
Syaikh bersabda kepada putra-putranya : “Jangan mendekat, karena lahiriyahku bersama-
sama dengan kamu, sedang bathiniyahku bersama selain kamu, dan perluas ruangan ini
karena hadir selain dari padamu, tunjukan sopan santunmu”.
Siang dan malam, tak henti-hentinya beliau mengucapkan :

َ ‫ﻼ ُم َو َر ْﺣ َﻤ ُﺔ ا ِ َو َﺑ َﺮﻛَﺎ ُﺗ ُﻪ َﻏ َﻔ َﺮا ُ ِﻟﻰ َوﻟَﻜُ ْﻢ َﺗ‬


‫ﺎب‬ َ ‫َو َﻋﻠَ ْﻴﻜُ ُﻢ اﻟﺴ‬
‫ا ُ َﻋﻠَﻲ َو َﻋﻠَ ْﻴﻜُ ُﻢ ِﺑ ْﺴ ِﻢ ا ِ َﻏ ْﻴ ِﺮ ُﻣ ْﻮ ِد ِﻋ ْﻴ َﻦ َو ادْ ُﺧ ُﻠ ْﻮا ِﻓﻰ َﺻﻒ‬
‫ﻼ ُم َا ِﺟ ْﻲ ُء‬
َ ‫ال ا ًذ َا ِﺟ ْﻲ ُء ِاﻟَ ْﻴﻜُ ْﻢ ِر ْﻓ ًﻘﺎ ِر ْﻓ ًﻘﺎ َو َﻋﻠَ ْﻴﻜُ ُﻢ اﻟﺴ‬‫و‬‫اﻻ‬ ْ
ِ
‫ِاﻟَ ْﻴﻜُ ْﻢ‬
‫ِﻗ ُﻔ ْﻮا َا َﺗﺎ ُه ْاﻟ َﺤﻖ َو َﺳﻜ َ َﺮ ُة ْاﻟ َﻤ ْﻮ ِت‬
"Wa’alaikumus salaam wa rohmatullohi wa barokatuh. Ghofarolloohu lii walakum, taaballohu
‘alayya wa ‘alaikum, Bismillahi ghoyri muudiina. Wadkhulu fi shoffil awwali, idzan ajii’u ilaykum,
rifqon rifqon wa ‘alaikumus salaamu ajii’u ilaykum, Qifuu ataahul haqqu wa sakarotul mawti.
Beliau berpesan : “Jangan ada yang menanyakan apapun kepadaku setelah aku bolak-balik
dalam lautan Ilmu Alloh”, lalu membaca :

َ‫ـﺤﻲ اﻟ ِﺬ ْي ﻻ‬ َ ‫ﺎﻟﻰ َو ْاﻟ‬


ٰ ‫ـﻪ ِاﻻ ا ُ ُﺳ ْﺒ َﺤﺎ َﻧ ُﻪ َو َﺗ َﻌ‬ َ ‫ْﺖ ِﺑ َﻼ ِا ٰﻟ‬
ُ ‫ِا ْﺳﺘَ َﻌﻨ‬
‫ﺎن َﻣ ْﻦ َﺗ َﻌﺰ َز ِﺑ ْﺎﻟ ُﻘﺪْ َر ِة َو َﻗﻬ َﺮ ِﻋ َﺒﺎدَ ُه ِب‬ ُ ‫ﻳ ْﺨ َﺶ ْاﻟ َﻔ ْﻮ ُت‬ َ
َ ‫ﺳ ْﺒ َﺤ‬ 
،‫ َﺗ َﻌﺰ َز‬  ‫ َﺗ َﻌﺰ َز‬  ِ ‫ـﻪ ِاﻻ ا ُ ُﻣ َﺤﻤﺪٌ ر ُﺳ ْﻮ ُل ا‬ َ ‫ْاﻟ َﻤ ْﻮ ِت َﻻ ِا ٰﻟ‬
، ُ ‫ ا‬، ُ ‫ َا‬، ُ ‫ا‬ َ
Ista’antu bilaa ilaaha illallohu, Subhaanahu wa ta’aala wal hayyil ladzi laa yakhsal fawtu,
Subhana man ta’azzaza bil qudroti waqoharo ibaadahu bil mawti laa ilalaha illallohu
Muhammadur Rosulullahi, ta’azzaza, ta ‘azzaza Allohu Allohu Allohu.
Terdengar suara nyaring, lalu suaranya lembut tidak terdengar lagi, dan meninggallah
Ridwanullohu 'alaihi.
Syaikh wafat pada malam Senin ba’da ‘Isya, tanggal 11 Robi’ul Akhir, Tahun 561 Hiriyah (1166
Masehi) pada usia 91 Tahun.

ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬


‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ َ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ‬ َ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ‬
ِ ‫اﻟﻨﻔ َﺤ‬
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
(JUMADIL ULA)

Manqobah Ke-35 :
Syaikh Ahmad Kanji Menjadi Murid Syaikh Abdul Qodir  Atas Petunjuk Gurunya
Diriwayatkan, pada suatu hari Syaikh Ahmad kanji sedang mengambil wudlu, terlintas dalam
hatinya bahwa thoriqot Syaikh Abdul Qodir itu lebih disukai dari pada thoriqot-thoriqot
lainnya. Gurunya yaitu Syaikh Abi Ishak Maghribi mengetahui pula apa yang terlintas dalam
hati muridnya, lalu beliau bertanya : “Apakah kamu mengetahui kedudukan Syaikh Abdul Qodir
?” Dijawab oleh Syaikh Ahmad Kanji : “Saya tidak tahu”. Lalu gurunya menjelaskan : “Syaikh
Abdul Qodir itu memiliki dua belas sifat. Kalau lautan dijadikan tintanya dan pepohonan
dijadikan penanya, manusia, malaikat dan jin sebagai penulisnya, maka tidak akan mampu
menulis satu sifat pun”.
Mendengar penjelasan dari gurunya itu, ia makin bertambah mahabbah kepada Syaikh Abdul
Qodir, hatinya berbisik : “Satu harapanku, tidak meninggal dunia sebelum aku menjadi
muridnya”.
Kemudian dengan kemauan yang keras berangkatlah ia menuju kota Baghdad. Setibanya
disebuah gunung di wilayah Ajmir yang dibawahnya mengalir sungai, ia mengambil air wudlu
untuk sholat. Didalam keadaan antara tidur dan tidak, ia dikunjungi Syaikh Abdul Qodir, beliau
membawa mahkota merah dan sorban hijau. Syaikh Ahmad Kanji berdiri menghormati
kedatangannya : “Mari kesini lebih dekat”, kata beliau sambil mengenakan mahkota merah
dan sorban hijau diatas kepalaku, lalu bersabda : "Wahai Ahmad Kanji, sekarang kamu sudah
menjadi muridku dan menjadi anakku dan menjadi Rijalulloh (laki-laki Alloh)”. Lalu beliau
menghilang, mahkota dan sorban sudah melekat terpakai diatas kepalaku, lalu ia sujud
syukur atas nikmat Alloh yang telah diterimanya.
Kemudian ia pulang kegurunya sambil memperlihatkan mahkota merah dan sorban hijau
hadiah dari Syaikh Abdul Qodir dan menceritakan peristiwa yang di alaminya. Gurunya
berkata : “Wahai Ahmad Kanji, mahkota dan sorban itu adalah khirqoh bagimu, kamu sangat
dikasihi Syaikh Abdul Qodir, sekarang berdirilah dengan tegak, kamu telah menjadi wali yang
utama". Dengan mengharap keberkahannya, Syaikh Abi Ishak Maghribi memakai mahkota
dan sorban itu dikepalanya, lalu diserahkan kembali kepada Syaikh Ahmad Kanji.

َ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠ‬


ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬
‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ ‫ﻮ‬َ ْ
‫ﺿ‬ ‫اﻟﺮ‬‫و‬َ ‫ﺎت‬
ِ ‫ﺤ‬َ َ
‫اﻟﻨﻔ‬ ‫ﻪ‬
ِ ‫ﻴ‬
ْ
ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬
‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ َ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ‬ َ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ‬
ِ ‫اﻟﻨﻔ َﺤ‬
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
Manqobah ke-36 :
Syaikh Ahmad Kanji Menjunjung Kayu Bakar Di Atas Kepalanya
Pekerjaan Syaikh Ahmad kanji adalah mencari kayu bakar untuk memasak roti bagi para
faqir. Setelah mengenakan mahkota dari Sayyid Abdul Qodir, gurunya bekata : “Sekarang
engkau tidak layak mencari kayu bakar sebab kepalamu sudah dimahkotai dengan mahkota
yang mulia”. Namun Syaikh Ahmad  Kanji memohon izin dari gurunya untuk mencari kayu
bakar. Ujar gurunya: “Ya kalau begitu, terserah kamu". Ia pun berangkat ke gunung
mengumpulkan kayu bakar lalu diikat.
Waktu akan dipikul, kayu bakar itu melayang diatas kepala Syaikh Ahmad Kanji kira-kira
sehasta dari kepalanya. Lantas Syaikh Ahmad Kanji pulang ke gurunya. Kayu bakar terus
melayang mengikuti Syaikh Ahmad.
Setibanya ditempat Syaikh Abi Ishak Maghribi, gurunya itu berkata : “Nah Syaikh Ahmad, apa
kataku, kamu tidak pantas lagi memikul kayu bakar, sebab sudah ditempati mahkota dan
sorban mulia. Mulai sekarang, sudahlah jangan mencari kayu bakar. Engkau oleh Sayyid Abdul
Qodir sudah ditunjuk ke pangkat Rijalulloh”.

ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬


‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ َ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ‬ َ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ‬
ِ ‫اﻟﻨﻔ َﺤ‬
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
(JUMADITS TSANIYAH)
Manqobah Ke-15 :
Nama Syaikh Abdul Qodir Seperti Ismul A’zhom
Diriwayatkan di dalam kitab Haqo’iqul Haqo’iq, ada seorang perempuan datang menghadap
Syaikh Abdul Qodir mengadukan hal anaknya, “Saya mempunyai seorang anak, kini ia hilang
tenggelam ke dalam laut, saya yakin tuan Syaikh bisa mengembalikan anak saya hidup
kembali, saya mohon pertolongan Tuan”. Mendengar perempun itu, Syaikh berkata : “Sekarang
kamu pulang, anakmu sudah ada di rumahmu”. Perempuan itu pulang dengan tergesa-gesa,
setibanya dirumah, anaknya itu belum ada.
Segera ia menghadap lagi kepada Syaikh sambil menangis melaporkan bahwa anaknya itu
belum ada. Syaikh berkata : “Sekarang anakmu sudah ada di rumahmu, sebaiknya kamu
segera pulang". Perasaan rindu pada anaknya menggebu-gebu, namun setibanya di rumah,
anaknya belum ada juga.
Dengan penuh keyakinan ia datang lagi menghadap Syaikh sambil menangis mohon anaknya
hidup kembali. Kemudian Syaikh menundukkan kepalanya dan tegak kembali sambil berkata
: “Sekarang tidak akan salah lagi, pasti anakmu sudah ada dirumah“. Dengan penuh harapan ia
pulang menuju rumahnya, anaknya sudah ada berkat karomah Syaikh Abdul Qodir.
Mengenai peristiwa ini Syaikh munajat kepada Alloh : “Yaa Alloh, Engkau Maha Kuasa
menciptakan mahluk dengan mudah, demikian pula halnya pada waktu mengumpulkan mahluk
dipadang mahsyar hanya dalam tempo yang singkat sudah berkumpul, mengapa hanya
menghidupkan seorang saja sampai Tiga kali, hamba malu oleh perempuan itu. Dan apa
hikmahnya?”.  Alloh Subhanahu wa ta’ala menjawab : “Semua ucapanmu kepada perempuan
itu tidak salah, pertama kali kamu mengatakan kepada perempuan itu anaknya sudah ada
dirumah, malaikat baru mengumpulkan tulang belulangnya yang berserakan, dan yang kedua
kalinya seluruh anggota tubuhnya baru utuh kembali dan dihidupkan, ketiga kalinya si anak di
angkat dari dasar laut dikembalikan kerumahnya”.
Alloh berfirman : "Wahai Abdul Qodir! Kamu jangan kecewa. Sekarang silahkan kamu minta,
pasti kuberi”.   Spontan Syaikh merebahkan kepalanya bersujud sambil berkata : “Engkau
Kholiq, apa saja yang Engkau berikan akan kuterima". Lalu Alloh memberi hadiah kepada
Syaikh dan berfirman : “Barang siapa melihatmu pada hari Jum’at, ia akan kujadikan wali, dan
kalau kamu melihat tanah tentu akan menjadi emas”. Syaikh berkata : “Ya Alloh, semua
pemberian-Mu kurang begitu manfaat bagiku, aku mohon karuniamu yang lebih bermanfaat
dan lebih mulia setelah aku tiada". Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman : “Namamu dibuat
seperti nama-Ku, barang siapa menyebut namamu, pahalanya sama dengan yang menyebut
nama-Ku”.

ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬


‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ َ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ‬ َ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ‬
ِ ‫اﻟﻨﻔ َﺤ‬
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
Manqobah Ke-16 :
Syaikh Abdul Qodir Menghidupkan Orang Yang Sudah Mati.
Diriwayatkan di dalam kitab Asrorut Tholibin, Syaikh Abdul Qodir pada waktu melewati suatu
tempat, bertemu dengan seorang umat Islam sedang berdebat dengan seorang umat
Nasroni. Beliau menyikapi dengan seksama dan menanyakan apa yang menjadi sebab
perdebatan itu, kata orang Muslim : "Kami sedang membangga-banggakan Nabi kami masing-
masing, dan saya berkata padanya, Nabi Muhammad-lah yang paling utama". Kata orang
Nasrani : "Nabi Isa-lah yamg paling sempurna". Lalu Syekh bertanya kepada orang Nasroni :
"Apa yang menjadi dasar kamu mengatakan bahwa Nabi Isa-lah lebih sempurna daripada Nabi
Muhammad ?". Orang Nasrani menjawab : "Nabi Isa bisa menghidupkan orang yang sudah
mati". Syekh berkata lagi : "Kamu tahu aku bukan Nabi, aku hanya pengikut Nabi Muhammad
sholallohu alaihi wa sallam ? Kalau aku bisa menghidupkan orang yang sudah mati, kamu
bersedia untuk beriman kepada Nabi Muhammad sholallohu alahi wa sallam ?". "Baik, saya
mau beriman dan masuk agama Islam", jawab orang Nasroni itu. "Kalau begitu, mari kita
mencari kuburan". Lanjut Syaikh.
Setelah mereka menemukan sebuah kuburan tua, sudah berusia lima ratus tahun, lalu Syaikh
mengulangi lagi pertanyaannya : "Nabi Isa kalau menghidupkan orang yang sudah mati
bagaimana caranya?". Orang Nasroni menjawab : "Beliau cukup dengan mengucapkan QUM
BIIDZNILLAH (Bangunlah dengan Izin Alloh)". "Nah sekarang kamu perhatikan dan dengarkan
baik-baik !", kata Syekh, lalu beliau menghadap ke kuburan tadi sambil mengucapkan : "QUM
BIIDZNII (Bangunlah dengan izinku)". Kuburan terbelah dua, keluarlah mayat itu sambil
bernyanyi. Konon pada waktu hidupnya ia seorang penyanyi. Melihat dan menyaksikan
peristiwa tersebut, orang Nasroni itu berubah keyakinan menjadi beriman kepada Nabi
Muhammad Sholallohu alaihi wa sallam dan masuk agama Islam.

ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬


‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ َ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ‬ َ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ‬
ِ ‫اﻟﻨﻔ َﺤ‬
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
Manqobah Ke-17 :
Syekh Abdul Qodir Merebut Ruh Dari Malakul Maut
Abu Abbas Ahmad Rifa'i meriwayatkan : Ada seorang pelayan Syaikh Abdul Qodir yang
meninggal dunia, kemudian isterinya datang menghadap beliau mengadukan halnya sambil
menangis. Karena ratapnya itu, Syaikh menundukkan kepala bertawajjuh kepada Alloh, ketika
itulah beliau melihat malakul maut sedang kelangit membawa keranjang maknawi penuh
dengan ruh-ruh manusia yang baru selesai dicabut pada hari itu. Kemudian beliau meminta
kepada malakul maut supaya menyerahkan nyawa muridnya. Permintaan itu ditolak oleh
malakul maut. Lalu beliau merebut keranjang maknawi itu, dan tumpahlah semua nyawa
yang ada di dalamnya dan kembali ke jasadnya masing-masing.
Menghadapi kejadian ini malakul maut unjuk pihatur kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala : "Ya
Alloh, Engkau Maha Mengetahui tentang kekasih-Mu dan wali-Mu Abdul Qodir". Alloh berfirman
: "Memang benar, Abdul Qodir itu kekasih-Ku, karena tadi nyawa pelayannya tidak kamu
berikan, akibatnya seluruh ruh itu terlepas, dan sekarang kamu menyesal karena kamu tidak
memberikannya".

ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬


‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ َ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ‬ َ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ‬
ِ ‫اﻟﻨﻔ َﺤ‬
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
(ROJAB)
Manqobah Ke-11 :
Telapak Kaki Nabi Muhammad Sholallohu Alaihi Wa sallam Memijak Pundak Syaikh Abdul
Qodir Pada Malam Mi'roj
Syaikh Rosyid Al-Junaidi meriwayatkan, pada malam Mi'roj, malaikat datang menghadap
Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam membawa Buroq. Kakinya bercahaya laksana bulan
dan paku telapak kakinya bersinar seperti sinar bintang.
Dikala Buroq itu dihadapkan kepada Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam ia tidak bisa
berdiam dan kakinya bergoyang-goyang seperti. Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam.
bertanya "Mengapa kamu tidak diam? Apa kamu tidak mau kukendarai ?". Buroq menjawab:
"Demi nyawa hamba yang menjadi penebusnya, hamba tidak menolak, namun ada satu
permohonan, yaitu ketika engkau, Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam akan masuk surga,
tidak menunggangi yang lain". Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam. menjawab: "Baik,
permintaanmu akan kukabulkan".
Buroq itu masih mengajukan permohonannya: "Hendaknya tangan yang mulia memegang
pundak hamba sebagai tanda bukti nanti pada hari kiamat". Lalu dipegangnya pundak Buroq
itu oleh Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam. Karena gejolak rasa gembira, jasad Buroq itu
tidak cukup untuk menampung ruhnya, badannya menjadi empat puluh hasta tingginya.
Rosululloh terpaku sebentar melihat badan Buroq itu menjadi tinggi, terpaksa Rosululloh
Sholallohu alaihi wa sallam memerlukan tangga.
Saat itu juga, datanglah Ghoutsul A'zhom Syaikh ‘Abdul Qodir Al Jailani bertekuk lutut di
hadapan Roasululloh Sholallohu alaihi wa sallam sambil berkata : "Silahkan pundak hamba
dijadikan tangga". Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam memijakkan kakinya pada pundak
Syaikh, dan lalu Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam naik buroq. Di saat itu Rosululloh
sholallohu alaihi wa sallam bersabda : "Sebagaimana telapak kakiku menginjak pundakmu,
maka telapak kakimu akan menginjak pundak para waliyulloh".

َ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠ‬


ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬
‫ار ِه ِﻓﻰ‬ َِ ‫ﻮ‬َ ‫ﺿ‬ ْ ‫اﻟﺮ‬‫و‬َ ‫ﺎت‬
ِ ‫ﺤ‬َ َ
‫اﻟﻨﻔ‬ ‫ﻪ‬
ِ ‫ﻴ‬
ْ
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َو ْﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
(SYA'BAN)
Manqobah Ke-7 :
Kebiasaan Syaikh Abdul Qodir Setiap Malam Digunakan Untuk Ibadah Sholat Dan Dzikir
Syaikh Abu Abdillah Muhammad al-Hirowi meriwayatkan : "Aku berkhidmat mendampingi
Syaikh Abdul Qodir selama empat puluh Tahun. Selama itu aku menyaksikan beliau sholat
Shubuh dengan wudlu 'Isya, Seusai sholat lalu Syaikh masuk kholwat sampai waktu sholat
Shubuh. Para pejabat pemerintah banyak yang datang untuk bersilaturrahmi, tapi kalau
datangnya malam hari tidak bisa bertemu dengan beliau, terpaksa mereka menunggu sampai
waktu Shubuh.
Pada suatu malam saya mendampingi beliau, sekejap pun aku tidak tidur, aku menyaksikan
sejak sore harinya beliau melaksanakan sholat-sholat dan pada malam harinya dilanjutkan
dengan berzikir melewati sepertiga malam lalu beliau membaca :

َ ‫ـﺨﻼ ُق َا ْﻟ‬
‫ـﺨﺎ ِﻟ ُﻖ‬ ُ ‫َا ْﻟ ُﻤ ِﺤ ْﻴ ُﻂ َاﻟﺮب َاﻟﺸﻬ ْﻴﺪُ َا ْﻟ َﺤ ِﺴ ْﻴ ُﺐ َا ْﻟ َﻔﻌ‬
َ ‫ﺎل َا ْﻟ‬ ِ
‫ئ َا ْﻟ ُﻤ َﺼﻮ ُر‬ ُ ‫ﺎر‬
ِ ‫اﻟ َﺒ‬
َْ
Al Muhiithu, Ar Robbu, Asy Syahiidu, Al Hasibu, Al Fa’aalu, Al Khollaaqu, Al Khooliqu, Al
Baari’u, Al Mushowwiru,
Tampak badannya mengecil sampai kecil sekali, lalu badannya membesar lagi dan meninggi
sampai tinggi sekali hingga tidak nampak dari pandanganku. Kemudian beliau muncul lagi
berdiri melakukan sholat dan sujudnya lama sekali.
Demikianlah beliau beribadah semalam suntuk, setelah dua pertiga malam beliau menghadap
kiblat sambil membaca doa-doa, tiba-tiba terpancar sinar menyoroti beliau sehingga badannya
diliputi sinar dan tidak henti-hentinya terdengar suara yang mengucapkan salam sampai terbit
fajar.

ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬


‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ َ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ‬ َ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ‬
ِ ‫اﻟﻨﻔ َﺤ‬
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
(ROMADLON)
Manqobah Ke-2:
Beberapa Macam Tanda Kemuliaan Pada Waktu Syaikh Abdul Qodir Dilahirkan
Sayid Abu Muhammad Abdul Qodir Jaelani dilahirkan di Naif Jailan Irak pada tanggal 1
Romadlon 470 Hijriyah, bertepatan dengan 1077 Masehi. Beliau wafat pada tanggal 11
Rabiul Akhir 561 Hijriyah, bertepatan dengan 1166 Masehi, pada usia 91 tahun. Beliau
dikebumikan di Baghdad, Irak.
Pada malam Syaikh di lahirkan ada lima karomah :
1.        Ayahnya, yaitu Abi Sholih Musa Janaki, pada malam hari bermimpi dikunjungi Rosululloh
Sholallohu alaihi wa sallam diiringi para Sahabat dan Imam Mujtahidin dan para wali.
Rosululloh bersabda kepada Abi Sholih Musa Janaki : "Wahai Abi Sholih, engkau akan diberi
putra oleh Alloh. Putramu akan mendapat kedudukan yang tinggi di atas para wali
sebagaimana kedudukanku diatas para nabi, dan anakmu itu termasuk anakku juga,
kesayanganku dan kesayangan Alloh".
2.              Setelah Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam, para Nabi yang lainpun datang
menghibur ayah Syaikh Abdul Qodir : "Engkau akan mempunyai putra yang akan menjadi
Sulthonul Auliya, seluruh wali Alloh selain Imam Ma'shum, di bawah pimpinannya".
3.              Syaikh Abdul Qodir sejak dilahirkan pada siang hari bulan Romadlon menolak untuk
menyusu. Menyusunya setelah waktu berbuka puasa.
4.              Di belakang pundak Syaikh Abdul Qodir nampak bekas telapak kaki Rosululloh
Sholallohu alaihi wa sallam ketika beliau akan menunggangi Buroq pada malam Mi'raj.
5.        Beliau diliputi cahaya sehingga tidak seorang pun yang mampu melihatnya. Sedang usia
ibunya waktu itu 60 tahun, ini juga sesuatu hal yang luar biasa.

ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬


‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ َ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ‬ َ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ‬
ِ ‫اﻟﻨﻔ َﺤ‬
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
Manqobah Ke-32 :
Syaikh Abdul Qodir Berbuka Puasa Di Rumah Murid-Muridnya Pada Satu Waktu Yang
Bersamaan
Diriwayatkan, pada suatu hari pada bulan Romadlon, Syaikh ‘Abdul Qodir diundang berbuka
puasa oleh murid-muridnya sebanyak tujuh puluh orang di rumahnya masing-masing. Mereka
berkeinginan agar Syaikh berbuka puasa di rumahnya. Mereka tidak mengetahui bahwa
masing-masing dari mereka mengundang Syaikh untuk berbuka puasa pada waktu yang
bersamaan.
Tiba waktunya berbuka puasa, Syaikh berbuka puasa di rumah beliau, detik itu pula rumah
muridnya yang tujuh puluh orang itu masing-masing dikunjunginya dan berbuka puasa tepat
pada waktu yang sama.
Peristiwa ini di kota Baghdad sudah masyhur di kalangan masyarakat dan sudah menjadi
buah bibir masyarakat dalam setiap pembicaraan dan pertemuan.

ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬


‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ َ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ‬ َ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ‬
ِ ‫اﻟﻨﻔ َﺤ‬
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
(SYAWAL)
Manqobah Ke-22 :
Syaikh Abdul Qodir Setiap Tahun Membebaskan Hamba Sahaya Dari Perbudakan, Serta
Nilai Busana Yang Beliau Pakai
Sebagian kitab manaqib meriwayatkan, sudah menjadi tradisi bahwa setiap Hari Raya Syaikh
‘Abdul Qodir membeli beberapa hamba sahaya untu dimerdekakan dari belenggu
perbudakan. Kemudian Syaikh mengantarkan mereka agar wushul kepada Alloh Subhanahu
wa ta’ala.
Dan apabila Syaikh Abdul Qodir berpakaian, beliau memakai pakaian yang serba indah, bagus
dan mahal harganya. Nilai kainnya seharga seharga 10(Sepuluh) dinar per elonya (0,688 m),
dan tutup kepalanya seharga 70(Tujuh puluh) ribu dinar. Terompahnya diteratas intan berlian
dan jamrud. Paku terompahnya terbuat dari perak.
Namun pakaian yang serba mewah itu bila ada orang yang memerlukannya, saat itu juga
beliau berikan.

ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬


‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ َ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ‬ َ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ‬
ِ ‫اﻟﻨﻔ َﺤ‬
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
Manqobah Ke-33:
Syaikh Abdul Qodir Menyelamatkan Muridnya, Seorang Wanita Dari Pengkhianatan Lelaki
Jahat
Diriwayatkan, di kota Baghdad ada seorang wanita cantik. Sebelum ia menjadi murid Syaikh
‘Abdul Qodir, ada seorang lelaki fasik, hidung belang, dan tuna susila menaruh perhatian pada
wanita itu, namun cintanya tidak dibalas. Lelaki itu pun tak henti-hentinya berusaha mencari
jalan untuk melakukan niat jahatnya.
Pada suatu hari, wanita itu berangkat menuju sebuah gua di suatu gunung untuk berkholwat
dengan tujuan ibadah. Tanpa ia ketahui bahwa ia sedang diintai oleh lelaki tadi. Ketika wanita
itu tiba di dalam gua, si lelaki jahat itu masuk, dengan sekuat tenaga ia mau memperkosa
wanita itu, wanita itu pun berusaha menghindar dari kejahatan lelaki tersebut sambil
berteriak memanggil-manggil Syaikh Abdul Qodir : "Ya Syaikh Tsaqolain, Ya Ghoutsal A'zhom,
Ya Syaikh Abdul Qodir, tolonglah saya!", demikianlah wanita itu bertawassul dan
beristighotsah.
Waktu itu Syaikh sedang mengambil air wudlu untuk melaksanakan sholat di madrosahnya,
lalu dilepasnya sepasang bakiak Syaikh, dilemparkan kearah gua dan tepat mengenai kepala
lelaki jahat itu. Di kala laki-laki jahat itu akan melakukan aksinya, bertubi-tubi sepasang
bakiak memukul, menampar lelaki itu dengan pukulan-pukulan yang mematikan dan seketika
itu juga ia mati. Wanita itu segera mengambil sepasang bakiak milik Syaikh, lalu
diserahkannya kepada Syaikh. Kemudian ia mengucapkan terima kasih atas pertolongannya.

َ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠ‬


ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬
‫ار ِه ِﻓﻰ‬ َِ ‫ﻮ‬َ ‫ﺿ‬ ْ ‫اﻟﺮ‬‫و‬َ ‫ﺎت‬
ِ ‫ﺤ‬َ َ
‫اﻟﻨﻔ‬ ‫ﻪ‬
ِ ‫ﻴ‬
ْ
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َو ْﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
(DZULQO'DAH)
Manqobah Ke-31:
Syaikh Abdul Qodir Berziarah Ke Makam Rosululloh Saw Dan Mencium Tangan Beliau
Pada waktu Syaikh Abdul Qodir berziarah ke makam Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam di
Madinah Munawwaroh, setibanya di sana beliau langsung masuk ke makam Rosululloh
Sholallohu alaihi wa sallam yaitu Hujroh Syarifah. Selama empat puluh hari beliau bermukim
di hadapan makam Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam, kedua tangannya diletakkan pada
dadanya sambil bermunajat mengharap Rohmat Alloh, menumpahkan isi hati nuraninya
dengan makna dari bait dibawah ini :

‫ﺎل اﻟﺸﺎم َﺑ ْﻞ‬ ْ َ ْ ْ


ِ ‫ُذ ُﻧ ْﻮ ِﺑﻲ ﻛ َ َﻤ ْﻮ ِج اﻟ َﺒ ْﺤ ِﺮ َﺑﻞ ِﻫ َﻲ اﻛْ َﺜ ُﺮ ۞ ﻛ َ ِﻤ ْﺜ ِﻞ اﻟ ِﺠ َﺒ‬
‫ِﻫ َﻲ َاﻛْ َﺒ ُﺮ‬
‫َﺎح ِﻣ َﻦ ْاﻟ ُﺒﻌُ ْﻮ ِض َﺑ ْﻞ ِﻫ َﻲ‬ٌ ‫َوﻟَ ِﻜﻨﻬَ ﺎ ِﻋﻨْﺪَ ْاﻟﻜ َ ِﺮ ْﻳ ِﻢ ِا َذا َﻋ َﻔﺎ ۞ ُﺟﻨ‬
‫َا ْﺻ َﻐ ُﺮ‬
dzunubi kamaujil bahri bal hiya aktsaru # kamitslil jibalis Syummi bal hiya akbaru
walakinnaha 'indal karimi idza 'afaa # janahum minal bu'uudhi bal hiya ashghoru
Artinya: "Besar dosaku, seperti gulungan ombak dilaut, bahkan lebih besar;
Tinggi, setinggi puncak gunung Syam, bahkan lebih tinggi lagi.
Namun bila daku Kau ampuni ringan dosaku; Seringan sayap nyamuk, kecil bahkan sekecil
amat sangat".
Lalu beliau meneruskan munajat pengharapannya dengan bait dibawah ini:

‫ْﺖ ُا ْر ِﺳ ُﻠﻬَ ﺎ ۞ ُﺗ َﻘﺒ ُﻞ ْاﻻ ْر َض َﻋﻨﻲ‬ ُ ‫ِﻓﻲ َﺣ َﺎ ِﻟﺔ ْاﻟ ُﺒ ْﻌ ِﺪ ُر ْو ِﺣﻲ ﻛُﻨ‬
‫َو ِﻫ َﻲ َﻧﺎ ِﺋ َﺒ ِﺘﻲ‬
‫َﻚ ﻛَﻲ‬ ْ ‫ﺎح َﻗﺪْ َﺣ َﻀ َﺮ ْت ۞ َﻓ‬
َ ‫ﺎﻣﺪُ دْ َﻳ ِﻤ ْﻴﻨ‬ ‫ﺒ‬
َ ‫ﺷ‬ْ ْ ‫َو َﻫ ِﺬ ِه َﻧ ْﻮ َﺑ ُﺔ‬
‫اﻻ‬
ِ
‫َﺗ ْﺤ َﻈﻰ ِﺑﻬَ ﺎ َﺷ َﻔ ِﺘﻲ‬
fii halatil bu'di ruuhii kuntu ursiluhaa # tuqobbilul ardho 'anni wahya naibaatii
Wahadzihi naubatul asybaahi qod hadhorot # Famdud yamiinaka kai tahzho bihaa syafatii
Artinya: "Kala jauh dari kekasih, ku utus roh pengganti diri, Ulurkan tanganmu kini kasih,
Kan kukecup sepuas hati, untuk terima syafaat kekasih".
Selesai beliau meluapkan isi hati nuraninya, tangan Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam
yang mulia terulur keluar lalu dipegang, diciumnya sepuas hati dan diletakkan pada ubun-
ubun Syaikh.

ِ ‫ َوا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ‬، ‫ان‬


‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ِ َ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ‬ َ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ‬
ِ ‫اﻟﻨﻔ َﺤ‬
‫ﺎن‬
ِ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi
Fii kulli Waqti Wa makaan.
(DZULHIJJAH)
Manqobah Ke-8 :
Berlaku Benar Adalah Dasar Hidup Syaikh Abdul Qodir
Suatu hari Syaikh Abdul Qodir ditanya oleh seorang muridnya, "Apakah pedoman hidup tuan?".

‫َﻋﻠَﻰ اﻟﺼﺪْ ِق َو َﻣﺎ ﻛ َ ِﺬ ْﺑ ُﺖ َﻗﻂ‬


'Alas shidqi wa maa kadzibtu qoth-thu
Artinya : "Benar pantang dusta."
Diriwayatkan waktu Syaikh sampai usia delapan belas Tahun, beliau pergi ke padang rumput
mau menggembalakan seekor unta. Ditengah perjalanan, unta tersebut menoleh ke belakang
dan berkata kepadanya : "Bukan begini tujuan hidupmu dilahirkan ke dunia ini".
Dengan kata-kata unta ini, Syaikh kembali ke rumahnya, beliau naik ke loteng menjumpai
ibunya. lalu Syaikh memohon kepada ibunya agar mengirimkannya ke Baghdad untut
menuntut ilmu. Ketika ibunya mendengar permohonan putranya itu, ia sangat setuju dan
mengijinkan Syaikh berangkat ke Baghdad. Dengan uang bekal empat puluh dinar,
dimasukkan ke dalam baju putranya persis di bawah ketiak lalu dijahit agar tidak hilang.
Kemudian Syaikh Abdul Qodir disuruh menggabungkan diri bersama suatu kafilah yang akan
berangkat ke Baghdad. Ibunya berpesan kepada Syaikh agar jangan berdusta dalam keadaan
bagaimana pun.
Setelah kafilah berangkat dan Syaikh Abdul Qodir di dalamnya, tatkala kafilah itu hampir
memasuki kota Baghdad, di suatu tempat, Hamdan namanya, tiba-tiba datang enam puluh
orang penyamun berkuda merampok kafilah itu habis-habisan. Semua perampok itu tidak
ada yang memperdulikan Syaikh Abdul Qodir karena beliau tampak begitu sederhana.
Mereka mengira pemuda itu tidak mempunyai apa-apa.
Namun ada seorang dari perampok itu bertanya kepanya, apa yang ia punya. Dijawabnya
bahwa ia punya uang empat puluh dinar dijahit di bawah ketiak. Penyamun tidak percaya, lalu
lapor kepada pimpinannya apa yang telah ia dengar dari pemuda itu. Lalu diperintahkan
kepada penyamun tadi supaya pemuda itu dihadapkan kepadanya. Setelah Syaikh
menghadap, beliau ditanya oleh kepala perampok itu, "Benar apa yang kamu katakan tadi ?",
dijawab oleh Syaikh, "Benar".
Lalu kepala penyamun itu menyuruh mengiris jahitan bajunya. Dan keluarlah uang empat
puluh dinar. Melihat uang itu, kepala penyamun menjadi keheran-heranan, kemudian
menanyakan lagi kepada Syaikh Abdul Qodir, apa sebabnya dia berkata yang sebenarnya.
Dengan tenang dijawab oleh Syaikh bahwa beliau berjanji kepada ibunya tidak akan berkata
dusta kepada siapa pun dan dalam keadaan bagaimana pun.
Mendengar jawaban itu, kepala penyamun tadi menangis tersedu-sedu karena ia merasa
dalam hati kecilnya bahwa ia selama hidupnya terus menerus telah melanggar perintah
Tuhannya, sedang seorang pemuda ini tidak berani melanggar janji terhadap ibunya.
Lalu sang kepala perampok jatuh terduduk di kaki Syaikh ‘Abdul Qodir dan menyesali dosa
yang pernah dilakukannya. Dia berjanji dengan sungguh-sungguh akan berhenti dari
pekerjaan merampok yang diakuinya sendiri sebagai perbuatan yang hina dan jahat.
‫‪Kemudian kepala perampok tadi dan anak buahnya mengembalikan semua barang rampokan‬‬
‫‪tadi dan anak buahnya mengembalikan semua barang rampokan kepada kafilah, perjalanan‬‬
‫‪pun dilanjutkan dengan selamat sampai ke Baghdad.‬‬
‫‪Anak buah perampok itu seluruhnya mengikuti jejak langkah pemimpinnya dan kembalilah‬‬
‫‪mereka dalam masyarakat biasa mencari nafkah dengan halal dan jujur. Diriwayatkan bahwa‬‬
‫‪ke enam  puluh perampok ini menjadi murid pertama Syaikh Abdul Qodir.‬‬

‫ان ‪َ ،‬وا ِﻣﺪ َﻧﺎ ِﺑﺎ ْﺳ َﺮ ِ‬


‫ار ِه ِﻓﻰ‬ ‫ﺎت َ ْواﻟﺮ ْﺿ َﻮ َ ِ‬ ‫اﻟﻠ ُﻬﻢ ا ْﻧ ُﺜ ْـﺮ َﻋﻠَ ْﻴ ِﻪ َ‬
‫اﻟﻨﻔ َﺤ ِ‬
‫ﺎن‬
‫ِ‬ ‫ﻛُﻞ َوﻗ ِﺖ َو َﻣﻜ‬
‫‪Allohumman Tsur ‘alaihin Nafahaati war ridl waan, W a-Amiddanaa bi As roorihi‬‬
‫‪Fii kulli Waqti Wa makaan.‬‬

‫)‪(DOA MANAQIB‬‬

‫ِﺑ ْﺴ ِﻢ ا ِ اﻟﺮ ْﺣﻤٰ ِﻦ اﻟﺮ ِﺣ ْﻴ ِﻢ‬


‫ﺎء َو ُﻗﺪْ َو ِة ْاﻻ ْﺻ ِﻔ َﻴ ِ‬
‫ﺎء ُﻗ ْﻄ ِﺐ اﻟﺮﺑﺎ ِﻧﻲ‬ ‫ﺎن ْاﻻ ْو ِﻟ َﻴ ِ‬ ‫ْ‬ ‫ٰ‬
‫ِاﻟﻰ َﺣ ْﻀ َﺮ ِة ُﺳﻠ َﻄ ِ‬
‫ﺎد ِر ْاﻟ َ‬
‫ـﺠ ْﻴ َﻼ ِﻧﻲ َﻗﺪ َس‬ ‫َو ْاﻟ َﻐ ْﻮ ِث اﻟﺼ َﻤ ِﺪي اﻟﺴ ْﻴ ِﺪ اﻟﺸ ْﻴ ِﺦ َﻋ ْﺒ ِﺪ ْاﻟ َﻘ ِ‬
‫ا ُ ِﺳﺮ ُه‪َ ،‬ا ْﻟ َـﻔﺎﺗ ِـ َﺤ ْﺔ ‪...‬‬
‫َاﻟﻠ ُﻬﻢ َﺻﻞ َﻋ ٰﻠﻰ َﺳﻴ ِﺪ َﻧﺎ ُﻣ َﺤﻤ ٍﺪ َو َﻋ ٰﻠﻰ ٰا ِل َﺳﻴ ِﺪ َﻧﺎ ُﻣ َﺤﻤ ٍﺪ ‪َ .‬اﻟﻠ ُﻬﻢ‬
‫ﺎء َو ِﻟﻴ َﻚ‬ ‫ﺎء َﻧ ِﺒﻴ َﻚ ْاﻟ ُﻤ ْﺼ َﻄ َﻔﻰ َو ِﺑﺎ ْﺳ َﻤ ِ‬ ‫ِﺑﺎ ْﺳ َﻤﺎ ِﺋ َﻚ ْاﻟ ُﺤ ْﺴﻨَﻰ َو ِﺑﺎ ْﺳ َﻤ ِ‬
‫ﺎﻋﺪُ َﻧﺎ‬ ‫ـﻤ ْﺠﺘَ َﺒﻰ ‪َ ،‬ﻃﻬ ْﺮ ُﻗ ُﻠ ْﻮ َﺑﻨَﺎ ِﻣ ْﻦ ﻛُﻞ َو ْﺻ ٍﻒ ﻳُ َﺒ ِ‬ ‫ﺎد ِر ْاﻟ ُ‬
‫َﻋ ْﺒ ِﺪ ْاﻟ َﻘ ِ‬
‫ﺎﻋ ِﺔ ‪،‬‬ ‫ـﺠ َﻤ َ‬ ‫ﻨﺔ َو ْاﻟ َ‬ ‫ﻠﻰ اﻟﺴ ِ‬ ‫َ‬
‫ـﺤﺒ ِﺘ َﻚ َوا ِﻣﺘْ ﻨَﺎ َﻋ َ‬ ‫َﻋ ْﻦ ُﻣ َﺸﺎ َﻫﺪَ ِﺗ َﻚ َو َﻣ َ‬
‫َو َﺷﺮ ْح ِﺑﻬَ ﺎ ُﺻﺪُ ْو َر َﻧﺎ َو َﻳﺴ ْﺮ ِﺑﻬَ ﺎ ا ُﻣ ْﻮ َر َﻧﺎ َو َﻓﺮ ْج ِﺑﻬَ ﺎ ُﻫ ُﻤ ْﻮ َﻣﻨَﺎ‬
‫اﻗ ِﺾ ِﺑﻬَ ﺎ دُ ﻳُ ْﻮ َﻧﻨَﺎ‬ ‫اﻏ ِﻔ ْﺮ ِﺑﻬَ ﺎ ُذ ُﻧ ْﻮ َﺑﻨَﺎ َو ْ‬ ‫َواﻛْ ِﺸ ْﻒ ِﺑﻬَ ﺎ ُﻏ ُﻤ ْﻮ َﻣﻨَﺎ َو ْ‬
‫اﻏ ِﺴ ْﻞ‬ ‫آﻣﺎﻟَﻨَﺎ َو َﺗ َﻘﺒ ْﻞ ِﺑﻬَ ﺎ َﺗ ْﻮﺑَﺘَ ﻨَﺎ َو ْ‬ ‫اﺻ ِﻠ ْﺢ ِﺑﻬَ ﺎ َا ْﺣ َﻮاﻟَﻨَﺎ َو َﺑﻠ ْﻎ ِﺑﻬَ ﺎ َ‬ ‫َو ْ‬
‫اﺟ َﻌ ْﻠﻨَﺎ ِﺑﻬَ ﺎ ِﻣ َﻦ ْاﻟ ُﻤﺘ ِﺒ ِﻌ ْﻴ َﻦ‬ ‫ِﺑﻬَ ﺎ َﺣ ْﻮﺑَﺘَ ﻨَﺎ َوا ْﻧ ُﺼ ْﺮ ِﺑﻬَ ﺎ ُﺣﺠﺘَ ﻨَﺎ َو ْ‬
‫ـﺤﺒ ِﺘ ِﻪ ْاﻟ ُﻤﻬْ ﺘَ ِﺪ ْﻳ َﻦ ِﺑﻬَ ﺪْ ِﻳ ِﻪ َو ِﺳ ْﻴ َﺮ ِﺗ ِﻪ‬ ‫ِﻟ َﺸ ِﺮ ْﻳ َﻌ ِﺔ َﻧ ِﺒﻴ َﻚ ْاﻟ ُﻤﺘ ِﺼ ِﻔ ْﻴ َﻦ ِﺑ َﻤ َ‬
‫اﺣ ُﺸ ْﺮ َﻧﺎ‬ ‫ﺎﻋ ِﺘ ِﻪ َو ْ‬ ‫ﻨﺘ ِﻪ َو َﻻ َﺗ ْﺤ ِﺮ ْﻣﻨَﺎ َﻓ ْﻀ َﻞ َﺷ َﻔ َ‬ ‫َو َﺗ َﻮﻓﻨَﺎ ِﺑﻬَ ﺎ َﻋﻠَﻰ ُﺳ ِ‬
‫ﺎﻋ ِﻪ اﻟﺴ ِﺎﺑ ِﻘ ْﻴ َﻦ‬ ‫ـﻤ َﺤﺠ ِﻠ ْﻴ َﻦ َو َا ْﺷ َﻴ ِ‬ ‫ﺎﻋ ِﻪ ْاﻟ ُﻐﺮ ْاﻟ ُ‬ ‫ِﻓﻲ ُز ْﻣ َﺮ ِﺗ ِﻪ َو َا ْﺗ َﺒ ِ‬
‫ﺎب ْاﻟ َﻴ ِﻤ ْﻴ ِﻦ َﻳﺎ َا ْر َﺣ َﻢ اﻟﺮ ِ‬
‫اﺣ ِﻤ ْﻴ َﻦ‬ ‫َو َا ْﺻ َﺤ ِ‬
Ilaa hadlroti Sulthoonil Auliyaa'i wa qudwatil ashfiyaa'i quthbir robbaanì wal ghoutsush
shomadaanii Sayyidis Sayyid Abdul Qodir Al Jailani, AL FAATIHAH …

Alloohumma sholli 'ala Sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa aali Sayyidina Muhammad. Amin.
Alloohumma bi Asmaa'i-Kal Husnaa wa bi asmaa'i nabiyyi-Kal Mushthofa wa bi asma'i
waliyyika Abdul Qodiril Mujtaba, thohhir quluubanaa min kulli washfiy yubaa'idunaa 'an
musyaahadati-Ka wa mahabbati-Ka wa amitnaa 'alas sunnati wal jamaa'ati, wa syarrih bihaa
shuduuronaa wa yassir bihaa umuuronaa wa farij bihaa humuumanaa waksyif bihaa
ghumuumanaa waghfir bihaa dzunuubanaa waqdli bihaa duyuunana wa ashlih bihaa
ahwaalanaa wa balligh bihaa aamalana wa taqobbal bihaa taubatanaa waghshil bihaa
haubatanaa wanshur bihaa hujjatanaa waj 'alnaa bihaa minal muttabi'iina lisyarii'ati nabiyyi-
Kal muttashifìna bi mahabbatihil muhtadiina bihadyihii wa siirotihhii wa taffanaa bihaa 'ala
sunnatihii wa laa tahrimnaa fadlla syafaa 'atihì wahsyurnaa fì zumrotihi wa atbaa'ihil ghurril
muhajjaliina wa asy yaa'ihhis saabiqiina wa ash haabihil yamiini yaa Arhamar Roohimiina.

Artinya : Ya Alloh semoga disampaikan pahala bacaaan Al Fatihah ini kehadapan sang
pimpinan para Wali, panutan para Shufi, Soko guru Ketuhanan Penolong siapa saja yang
bergantung kepada yang Maha kaya, Tuannya Tuan, Abdul Qodir Al Jailani, AL FAATIHAH …
Ya Alloh, limpahkan Rahmat serta Salam-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad serta
keluarganya. Ya Alloh, dengan semua nama-nama-Mu yang baik dan dengan semua nama
Nabimu yang terpilih, dan dengan semua nama Walimu Abdul Qodir yang terpilih dari para
wali pilihan, semoga Engkau membersihkan hati kami dari semua sifat yang menjauhkan
kami dari mushyahadah ke pada-MU dan Mahabbah kepada-Mu dan wafatkanlah kami di
dalam menetapi Ahlussunnah wal Jamaah dan semoga Engkau melapangkan dada kami dan
memudahkan semuah urusan kami dan semoga Engkau menghilangkan semua penderitaan
kami dan semoga engkau melenyapkan semua kesedihan kami dan semoga Engkau
mengampuni semua dosa kami dan semoga engkau membayar hutang-hutang kami dan
semoga engkau memperbaiki gerak-gerik kami dan semoga Engkau menyampaikan cita-cita
kami dan semoga Engkau menerima taubat kami dan semoga Engkau memandikan kaum
keluarga kami dan semoga Engkau menjadikan kami dengan Nama-Nama Mulia itu termasuk
orang-orang yang mengikuti syariat Nabi-Mu yang memiliki sifat-sifat cinta kepadanya yang
mendapatkan petunjuknya serta perjalanannya dan semoga Engkau wafatkan kami sedang
dalam melaksanakan sunnahnya dan semoga engkau tidak menghalangi kami untuk
memperoleh keunggulan pertolongannya dan semoga Engkau mengumpulkan kami bersama
rombongannya serta semua pengikutnya yang cemerlang serta golongannya yang terdahulu
serta Ashabul Yamin, Wahai Zat Yang Maha pengasih orang-orang yang mengasihi.

000

( ilaa hadrotin Syeikh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad Ra, Al Fatihah : )

TANBIH
‫ـﻦ اﻟﺮ ِﺣ ْـﻴ ِﻢ‬
ِ ٰ‫ــﻢ ا ِ اﻟﺮ ْﺣﻤ‬
ِ ‫ِﺑ ْﺴ‬
Bismillahir rohmaanir rohiim.

Tanbih ini dari Syaikhuna Almarhum Syeikh Abdulloh Mubarok bin Nur
Muhammad, yang bersemayam di Patapan Suryalaya Kejambaran Rohmaniyyah.
Sabda Beliau kepada khususnya segenap murid-murid pria, wanita, tua, muda.
Semoga ada dalam kebahagiaan, dikaruniai Alloh subhanahu wa ta’ala,
kebahagiaan yang kekal dan abadi, dan semoga tak akan timbul keretakan dalam
lingkungan kita sekalian. Pun pula semoga pimpinan Negara bertambah kemulian
dan keagungannya supaya dapat melindungi dan membimbing seluruh rakyat dalam
keadaan aman, adil, makmur, zhohir dan bathin.
Pun kami tempat orang bertanya tentang Thoriqoh Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah
Pondok Pesantren Suryalaya menghaturkan dengan tulus ikhlas.
Wasiat kepada segenap murid-murid, berhati-hatilah dalam segala hal, jangan
sampai berbuat yang bertentangan dengan peraturan Agama dan Negara.
Ta’atilah kedua-duanya tadi sepantasnya, demikian sikap manusia yang tetap
dalam keimanan, tegasnya dapat mewujudkan kerelaan terhadap Agama dan Negara,
ta’at kahadirat Ilahi yang membuktikan perintah Agama dan Negara.
Insyafilah, hai murid-murid sekalian, janganlah terpaut oleh bujukan nafsu,
terpengaruh oleh godaan syetan, waspadalah akan jalan penyelewengan terhadap
perintah Agama dan Negara, agar dapat meneliti diri kalau-kalau tertarik oleh bisikan
iblis yang selalu meyelinap dalam hati sanubari kita semua.
Lebih baik buktikan kebajikan yang timbul dari kesucian :
1.          Terhadap orang-orang yang lebih tinggi daripada kita, baik zhohir maupun
bathin harus kita hormati, begitulah seharusnya hidup rukun saling harga
menghargai.

2.          Terhadap sesama yang sederajat dengan kita dalam segala-galanya, jangan
sampai terjadi persengketaan, sebaliknya harus bersikap rendah hati,
bergotongroyong dalam melaksanakan perintah Agama dan Negara, jangan
sampai terjadi perselisihan dan persengketaan, jangan sampai kita terkena
Firman-Nya : “ADZABUN ALIM” yang berarti duka nestapa untuk selama-lamanya
dari dunia sampai akhirat ‘badan payah hati susah’.

3.          Terhadap orang-orang   yang keadaannya dibawah kita, janganlah hendak


menghinakan atau berbuat tidak senonoh, bersikap angkuh, sebaliknya harus
belas kasihan dengan kesadaran agar meraka merasa senang dan gembira
hatinya, jangan sampai merasa takut dan liar, bagaikan tersayat hatinya,
sebaliknya harus dituntun, dibimbing dengan nasihat yang lemah lembut yang
akan memberikan keinsyafan dalam menginjak jalan kebajikan.

4.          Terhadap faqir miskin harus kasih sayang, ramah tamah, serta bermanis budi,
bersikap murah tangan mencerminkan bahwa hati kita sadar, coba rasakan diri
kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan,  oleh karena itu
janganlah acuh tak acuh hanya diri sendiri lah yang senang, karena mereka jadi
fakir miskin itu bukan kehendaknya sendiri, namun itulah Kudrat Tuhan.

Demikianlah sesungguhnya sikap manusia yang penuh kesadaran meskipun


terhadap orang asing karena mereka itu masih keturunan Nabi Adam As, mengingat
ayat 70 Suroh Al Isro yang artinya : “Sangat Kami muliakan keturunan Adam As dan
kami sebarkan segala yang berada di darat dan di lautan, dan Kami beri mereka rizki
yang ada di darat dan di lautan, juga Kami mengutamakan meraka lebih utama dari
makhluk lainnya”.
Kesimpulan dari ayat ini bahwa kita sekalian seharusnya saling harga
menghargai jangan timbul kekecewaan mengingat Suroh Al Maidah yang artinya :
“Hendaklah tolong menolong dengan sesama dalam melaksanakan kebajikan dan
ketaqwaan dengan sungguh-sungguh terhadap Agama dan Negara, sebaliknya jangan
tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan terhadap perintah Agama dan
Negara”.
Adapun soal keagamaan itu terserah agamanya masing-masing mengingat
suroh Al Kafirun ayat 6 : “Agamamu untuk kamu, agamaku untuk aku”. Maksudnya
jangan terjadi perselisihan, wajiblah kita hidup rukun saling harga menghargai tetapi
janganlah ikut campur”.
Cobalah renungkan pepatah leluhur kita : “Hendaklah kita bersikap budiman
tertib dan damai andaikan tidak demikian pasti sesal dahulu pendapatan sesal
kemudian tak berguna, karena yang menyebabkan penderitaan diri peribadi itu adalah
akibat dari amal perbuatan diri sendiri”.
Dalam suroh An Nahl ayat 112 diterangkan bahwa : “Tuhan Yang Maha Esa
telah memberikan beberapa contoh yakni tempat maupun kampung, desa maupun
Negara yang dahulu aman dan tentram gemah lipah loh jinawi, namum penduduknya
/penghuninya mengingkari ni’mat-ni’mat Alloh maka lalu berkecambuklah bencana
kelaparan penderitaan dan ketakutan yang disebabkan sikap dan perbuatan mereka
sendiri.
Oleh karena demikian hendaklah segenap murid-murid bertindak teliti dalam
segala jalan yang ditempuh guna kebaikkan zhohir dan bathin, dunia dan akhirat,
supaya hati tentram jasad nyaman jangan sekali-kali timbul persengketaan tidak lain
tujuannya Budi Utama Jasmani Sempurna (Cageur Bageur).
Tiada lain amalan kita Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyah Pondok
Pesantren Suryalaya amalkan sebaik-baiknya guna mencapai segala kebaikan
menjauhi segala kejahatan zhohir bathin yang bertalian dengan jasmani dan rohani
yang selalu diselimbuti bujukan nafsu digoda oleh perdaya syetan.
Wasiat ini harus dilaksanakan dengan seksama oleh segenap murid-murid agar
mencapai keselamatan dunia dan akhirat, aamiin.

Patapan Suryalaya, 13 februari 1956.


Wasiat ini disampaikan kepada sekalian ikhwan.

Tertanda

Syeikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul’Arifin Qs.

(  ilaa hadrotin Syeikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul’Arifin Qs, Al Fatihah : )

  
Untaian Mutiar a :

1.                Jangan Benci K epada Ulama Y ang Sezaman.

2.                Jangan Men yalahkan K epada Pengajar an Orang Lain.

3.                Jangan Memeriksa Murid Or ang Lain.

4.                Jangan Berubah Sikap Meskipun Disakiti Or ang Lain.

5.                Harus Men yayangi Orang Yang Membenci K epadamu.

( Bibarokati Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Al Qodiri An Naqsyabandi


Al Kamil Mukamil Al Muwaffak  Qs, Al fatihah : )

Diposkan 22nd May 2016 oleh surachman rauf


Label: KITAB MANAQIB SYEIKH ABDUL QODIR AL JAILANI QS

0 Tambahkan komentar

Masukkan komentar Anda...

Beri komentar sebagai: Kang Dopas (Google) Keluar

Publikasikan Pratinjau Beri tahu saya