You are on page 1of 2

Menikah tanpa pacaran, Bisa Kok!

BAGI orang awam pacaran setelah nikah mungkin ungkapan yang membingungkan. Logikanya,
bagaimana bisa padahal menurut kamus bahasa Indonesia pacaran lazimnya dilakukan sebelum
menikah atau secara spesifik pacaran adalah proses penjajakan menuju jenjang pernikahan.
Pacaran setelah menikah sebenarnya sangat erat kaitannya dengan ajaran Islam. Seperti yang kita
tahu dalam Islam tidak mengenal istilah pacaran atau proses penjajakan atau pengenalan apapun.
Justru sebaliknya dalam Islam pacaran adalah sesuatu yang dilarang karena termasuk perbuatan
zina.

Lalu bagaimana jika menikah tanpa melalui pacaran? Bukankah kita memerlukan masa
perkenalan terlebih dahulu sebelum pernikahan? Jika saling mengenal merupakan sesuatu yang
penting, itu tidak berarti pacaran menjadi boleh. Bahkan pacaran dengan sejumlah bahaya dosa
jelas merupakan perbuatan yang harus dihindari sebab mengandung ancaman dosa besar. Maka
dari itu, Islam mengenalkan istilah Taaruf sebelum pernikahan.

Yang penting dari ta’aruf adalah saling mengenal antara kedua belah pihak, saling memberitahu
keadaan keluarga masing-masing, saling memberi tahu harapan dan prinsip hidup, saling
mengungkapkan apa yang disukai dan tidak disukai, dan seterusnya. Kaidah-kaidah yang perlu
dijaga dalam proses ini intinya adalah saling menghormati apa yang disampaikan lawan bicara,
mengikuti aturan pergaulan Islami, tak berkhalwat, tak mengumbar pandangan.

Setelah melalui proses taaruf, langkah selanjutnya adalah khitbah. Dalam Islam Khitbah adalah
jalan pembuka menuju pernikahan. Boleh dibilang, khitbah merupakan jenjang yang
memisahkan antara pemberitahuan persetujuan seorang gadis yang sedang dipinang oleh seorang
pemuda dan pernikahannya. Keduanya sepakat untuk menikah. Tapi, ini hanya sekadar janji
untuk menikah yang tidak mengandung akad nikah.

Batasan Khitbah :

1. Khitbah biasanya, peminangan seorang pria kepada wanita (tentunya kepada wali wanita
tersebut). seorang wanita juga bisa meminta kepada pria untuk dinikiahi.

Rasulullah bersabda yang di riwayatkan oleh imam bukhari dan muslim. Yang artinya: telah
datang seorang prempuan kepada Rasulullah yang mana prempuan tersevut meminta kepada nabi
untuk menikahinya,sehingga nabi berdiri di sampingnya lama sekali, ketika itu salah satu dari
sahabat melihatnya dan beranggapan bahwa beliau tidak berkehendak untuk menikahinya, maka
sahabat tersebut berkata: nikahkan saya ya Rasullah jikalau kamu tidak ada hajah(berkehendak)
untuk menginginkannya, maka berkata Rasulullah : apakah kamu punya punya sesuatu? dia
berkata tidak!, dan beliau berkata lagi buatlah cicin walaupun dari besi, kemudian sahabat
tersebut mencarinya dan tidak mendapatkan nya, kemudian beliau bersabda : apakah kamu hafal
beberapa surat dari alquran ? Dia menjawab iya!surat ini dan ini, maka beliau bersabda : Saya
nikahkan kamu dengan nya dengan apa yang kamu hafal dari alquran.”

Dari kontek hadist di atas sudah jelas sekali bahwa diperbolehkan bagi perempuan untuk
meminta kepada seorang lelaki soleh yang bertaqwa dan berpegang teguh terhadap Dinnya untuk
meminangnya, jika lelaki tersebut ingin maka nikahi dan jikalau tidak maka tolaklah, akan tetapi
tidak di anjurkan untuk menolaknya secara terang-terangan cukup diam dengan memberikan
isyarat, untuk menjaga kehormatan hati prempuan tersebut .

2. Khitbah bukan menghalalkan segalanya Khitbah (tunangan) bukanlah syarat sahnya nikah,
akad nikah tanpa khitbah tetap sah, akan tetapi khitbah suatu wasilah untuk menuju ke jenjang
pernikahan yang di perbolehkan .

3. Jangan berlama dalam masa khitbah Meski tidak ada nash khusus tentang batas waktu masa
khitbah, tapi dianjurkan menikah dan khitbah tidak terlalu lama. Untuk menghindarkan fitnah
dan berbagai potensi terjadinya kerusakan. Sesudah khitbah (permohonan menikah) disetujui,
sebaiknya keluarga kedua pihak bermusyawarah mengenai kapan dan bagaimana walimah
dilangsungkan.

“Dan sesuatu yang mengantarkan kepada keharaman, haram pula hukumnya”

4. Haram meminang pinangan saudaranya diriwayatkan oleh al-Bukhari bahwa Ibnu ‘Umar
Radhiyallahu ‘anhuma menuturkan: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sebagian
kalian membeli apa yang dibeli saudaranya, dan tidak boleh pula seseorang meminang atas
pinangan saudaranya hingga peminang sebelumnya meninggalkannya atau peminang
mengizinkan kepadanya”

Setelah proses khitbah dilalui, maka proses selanjutnya adalah melangsungkan pernikahan
dengan akad nikah dan walimahan.

Sumber : https://www.islampos.com/menikah-tanpa-pacaran-bisa-kok-209540/