You are on page 1of 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Motor induksi merupakan motor listrik arus bolak balik (AC) yang paling
luas digunakan. Penamaannya berasal dari kenyataan bahwa motor ini bekerja
berdasarkan induksi medan magnet stator ke statornya, dimana arus rotor motor
ini bukan diperoleh dari sumber tertentu, tetapi merupakan arus yang terinduksi
sebagai akibat adanya perbedaan relatif antara putaran rotor dengan medan putar
(rotating magnetic field) yang dihasilkan oleh arus stator. Motor induksi ini terdiri
dari dua jenis, yaitu: motor induksi satu fasa, dan motor induksi tiga fasa. Motor
induksi sangat banyak digunakan di dalam kehidupan sehari-hari baik di industri
maupun di rumah tangga. Hal ini disebabkan karena motor induksi memiliki
berbagai keunggulan dibanding dengan motor listrik yang lain, yaitu diantaranya
karena harganya yang relatif murah, konstruksinya yang sederhana dan kuat serta
karakteristik kerja yang baik.

Motor induksi tiga fasa merupakan jenis motor yang paling banyak
digunakan pada perindustrian, motor inilah yang akan digunakan untuk memutar
beban yang ada diperindustrian. motor induksi tiga fasa keluaran besarannya
berupa torsi untuk menggerakkan beban. Jika torsi beban yang dipikul motor
induksi tiga fasa lebih besar, maka motor induksi tiga fasa tidak akan berputar.
Dan jika torsi beban yang dipikul motor induksi tiga fasa terlalu kecil, maka ini
dianggap suatu hal yang berlebihan.

Motor induksi tiga fasa yang mempunyai efisiensi tinggi biasanya memiliki
tahanan rotor yang kecil. Akibatnya motor ini akan menghasilkan torsi awal yang
kecil dan menarik arus awal yang besar. Namun terkadang batangan yang rusak
pada cangkang rotor dapat menyebabkan belitan motor yang tidak seimbang, yang
memberikan pengaruh terhadap torsi dan putarannya.

Oleh karena itu semua kita perlu mengetahui dan mempelajari konsep serta
melakukan analisa hal-hal yang berkaitan dengan motor induksi tiga phasa ini.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan motor induksi tiga phasa?


2. Bagaimana konstruksi dari motor induksi tiga phasa?
3. Bagaimana prinsip kerja dari motor induksi tiga phasa?
4. Apa keuntungan dan kerugian dari motor induksi tiga fasa ini?
5. Bagaimana cara perawatan motor induksi tiga fasa ?
6. Apa contoh aplikasi dari motor tiga fasa ini?

1|Page
1.3 Tujuan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :


1. Memenuhi tugas mata kuliah ‘mesin listrik arus bolak balik’.
2. Memberikan pengetahuan tentang motor induksi tiga fasa kepada
pembaca.
3. Memberikan pengetahuan mengenai komponen-komponen utama pada
motor induksi tiga fasa.
4. Memberikan pengetahuan mengenai prinsip kerja dari motor induksi tiga
fasa ini.
5. Agar dapat mengetahui keuntungan dan kerugian dari motor listrik tiga
fasa ini.
6. Memberikan pengetahuan mengenai perawatan motor induksi tiga phasa
ini.
7. Mengetahui contoh-contoh aplikasi dari motor tiga phasa.

1.4 Manfaat
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara
teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis makalah ini berguna sebagai
pengembangan konsep tentang motor listrik induksi tiga phasa . Secara praktis
makalah ini diharapkan bermanfaat bagi:
1. Penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan
khusunya tentang konsep motor listrik tiga phasa.
2. Pembaca, sebagai media informasi tentang konsep motor listrik tiga fasa.

2|Page
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kajian Teoritis
Motor induksi didefinisikan sebagai motor yang bekerja berdasarkan
induksi medan magnet stator ke rotornya. Arus rotor motor ini bukan diperoleh
dari sumber tertentu, tetapi merupakan arus yang terinduksi sebagai akibat adanya
perbedaan relatif antara putaran rotor dengan medan putar (rotating magnetic
field) yang dihasilkan oleh arus stator.
Menurut sudjoto (1984.107), motor induksi sering disebut motor tidak
serempak. Disebut demikian karena jumlah putaran rotor tidak sama dengan
putaran medan magnit stator.
Menurut Robert Rosenberg (1985. 91) mengemukakan bahwa motor
berfasa banyak adalah motor arus bolak-balik (AC) yang direncanakan baik untuk
tiga fasa maupun yang lainnya.
Jadi pengertian motor induksi tiga fasa adalah suatu mesin listrik yang
merubah energi listrik menjadi energi gerak dengan menggunakan gandengan
medan listrik dan mempunyai slip antara medan stator dan medan rotor yang
dioperasikan pada sistem tenaga tiga fasa.

2.2 Pengenalan Motor Induksi/ asinkron Tiga Fasa


Motor induksi adalah suatu mesin listrik yang merubah energi listrik
menjadi energi gerak dengan menggunakan gandengan medan listrik dan
mempunyai slip antara medan stator dan medan rotor. Motor induksi tiga fasa
dioperasikan pada sistem tenaga tiga fasa dan banyak digunakan di dalam
berbagai bidang industri dengan kapasitas yang besar. Bentuk gambaran motor
induksi 3 fasa diperlihatkan padagambar 2.1, dan contoh penerapan motor induksi
ini di industri diperlihatkan pada gambar 2.2.

a) bentuk fisik b) motor induksi dilihat ke dalam

Gambar 2.1 Motor induksi tiga fasa

3|Page
Gambar 2.2 Penerapan motor induksi di dunia industry

Data-data motor induksi mengenai daya, tegangan dan data lain yang
berhubungan dengan kerja motor induksi dibuatkan pada plat nama (name plate)
motor induksi. Contoh data yang ditampilkan pada plat nama motor induksi ini
diperlihatkan pada gambar 2.3

Gambar 2.3 Contoh data yang ada di plat nama motor induksi

Motor induksi tiga fasa memiliki keunggulan diantaranya handal, tidak ada
kontak antara stator dan rotor kecuali bearing, tenaga yang besar, daya listrik
rendah dan hampir tidak ada perawatan. Akan tetapi motor induksi tiga fasa
memiliki kelemahan pada pengontrolan kecepatan. Kecepatan putar motor induksi
bergantung pada frekuensi input, sedangkan sumber listrik memiliki frekuensi
konstan. Untuk mengubah frekuensi input lebih sulit daripada mengatur tegangan
input. Dengan ditemukannya teknologi inverter maka hal tersebut menjadi lebih
mudah dan mungkin dilakukan.

Dalam beberapa tahun yang lalu F. Blaschke telah mempublikasikan


mengenai field oriented control (FOC) untuk motor induksi. Teori ini telah
lengkap dikembangkan dan banyak digunakan dalam proses industri. Kemudian
teknik baru telah dikembangkan yaitu teknik kontrol torsi dari motor induksi oleh
Takahashi yang dikenal dengan Direct Torque Control (DTC). Dengan DTC
dimungkinkan mengontrol torsi dengan performi yang baik tanpa menggunakan

4|Page
tranduser mekanik pada poros motor, sehingga DTC dapat dikatakan sebagai
teknik kontrol “type sensorless” . Dengan menggunakan sensor putaran rotor
motor akan mengakibatkan stabilitas yang rendah dan ada noise, sehingga dalam
pengemudian motor induksi dengan pemakaian khusus menggunakan sensor
mekanik akan menyulitkan. Untuk mengontrol kecepatan motor induksi 3 fasa
menggunakan metode Direct Torque Control memiliki beberapa kelebihan
diantaranya adalah :

1. Tidak membutuhkan transformasi koordinat.


2. Tidak membutuhkan pembangkit pulsa PWM.
3. Tidak membutuhkan regulator arus.
4. Kurang bergantung pada parameter mesin.

Metode Direct Torque Control merupakan tipe kontrol close loop. Kontrol
close loop umum digunakan di dalam pengaturan kecepatan motor induksi karena
memberikan respon kecepatan yang lebih baik dari pada open loop. Kontrol close
loop disebut juga kontrol umpan balik yang menjadikan output sebagai
perbandingan dengan input (referensi) untuk memperoleh suatu error. Didalam
suatu sistem yang handal, adanya error merupakan suatu kerugian. Oleh karena
itu, digunakan control PI yang diharapkan dapat menekan error sampai nilai
minimal. Namun hal ini membutuhkan perhitungan matematik yang rumit dan
komplek dalam menentukan Kp dan Ki yang sesuai, agar diperoleh kinerja motor
yang bagus.

a. Direct Torque Control (DTC)


Direct Torque Control (DTC) adalah kontrol berdasarkan fluks stator dalam
kerangka seferensi stator menggunakan kontrol langsung dari switching inverter.
Ide dasar dari DTC adalah perubahan torsi sebanding dengan slip antara fluk
stator dan fluk rotor pada kondisi fluk bocor stator tetap. Hal ini banyak dikenali
untuk pengaturan torsi dan fluk cepat dan robust. Pada motor induksi dengan rotor
sangkar untuk waktu tetap rotor menjadi sangat besar, fluk bocor rotor berubah
perlahan dibanding dengan perubahan fluk bocor stator. Oleh karena itu, pada
keadaan perubahan yang cepat fluk rotor cenderung tidak berubah. Perubahan
cepat dari torsi elektromagnetik dapat dihasilkan dari putaran fluk stator, sebagai
arah torsi. Dengan kata lain fluk stator dapat seketika mempercepat atau
memperlambat dengan menggunakan vektor tegangan stator yang sesuai. Torsi
dan fluk kontrol bersama-sama dan decouple dicapai dengan pengaturan langsung
dari tegangan stator, dari error respon torsi dan fluk. DTC biasanya digunakan
sesuai vektor tegangan dalam hal ini untuk memelihara torsi dan fluk stator
dengan dua daerah histerisis, yang menghasilkan perilaku bang bang dan variasi
prosedur frekuensi pensaklaran dan ripple fluk, torsi dan arus yang penting.

5|Page
b. Kontrol PI
Kontrol PI merupakan salah satu jenis pengatur yang banyak digunakan pada
kontrol loop tertutup. Selain itu sistem ini mudah digabungkan dengan metoda
pengaturan yang lain seperti Fuzzy dan Robust, Sehingga akan menjadi suatu
sistem pengatur yang semakin baik. Kontrol PI terdiri dari 2 jenis cara pengaturan
yang saling dikombinasikan, yaitu Kontrol P (Proportional) dan Kontrol I
(Integral). Masing-masing memiliki parameter tertentu yang harus diset untuk
dapat beroperasi dengan baik, yang disebut sebagai konstanta. Setiap jenis,
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

2.3 Konstruksi Motor Induksi Tiga Fasa

Sebagaimana mesin pada umumnya menunjukkan bahwa motor induksi


juga memiliki konstruksi yang sama baik motor DC maupun AC. Konstruksi
dimaksud terdiri dari 2 bagian utama yaitu stator dan rotor. Secara lengkap dan
detail dari kedua konstruksi dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 2. 4. Kostruksi utama Stator dan Rotor

A. Stator

Stator pada motor induksi adalah sama dengan yang dimiliki oleh motor
sinkron dan generator sinkron. Konstruksi stator terbuat dari laminasi-laminasi
dari bahan besi silikon dengan ketebalan (4 s/d 5) mm dengan dibuat alur sebagai
tempat meletakan belitan/kumparan.

6|Page
secara detail ditunjukan pada gambar berikut:

Gambar 2. 5. Konstruksi stator dengan alur-alurnya.

Dalam alur-alur stator diletakkan belitan stator yang posisinya saling


berbeda satu dengan lainnya, sesuai dengan fase derajat listrik yaitu 120° antar
fase (motor 3 fase). Jumlah gulungan pada stator dibuat sesuai dengan jumlah
kutub dan jumlah putaran yang diinginkan atau ditentukan. Khusus untuk Stator
pada motor-motor listrik dengan ukuran kecil dibentuk dalam potongan utuh.
Sedangkan untuk motor-motor dengan ukuran besar adalah tersusun dari sejumlah
besar segmen-segmen laminasi.

B. Rotor

Rator Ini adalah bagian yang berputar dari motor. Seperti dengan stator
atas, rotor terdiri dari satu set laminasi baja beralur ditekan bersama dalam bentuk
jalur magnetik silinder dan sirkuit listrik. Rangkaian listrik dari rotor dapat
berupa:

Menurut jenis rotor pada motor induksi dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu

a. Rotor Sangkar Tupai (Squirrel Cage Rotor)

Rotor yang terdiri dari sejumlah lilitan yang berbentuk Batang tembaga yang
dihubungkan singkat pada setiap ujungnya kemudian disatukan (di cor) menjadi
satu kesatuan sebagaimana gambar 2.6.

Gambar 2.6. Rotor sangkar Tupai

7|Page
Jenis rotor sangkar tupai, yang terdiri dari satu set tembaga atau potongan
aluminium yang dipasang ke dalam slot, yang terhubung ke sebuah akhir-cincin
pada setiap akhir rotor. Konstruksi gulungan rotor ini menyerupai 'kandang tupai'.
Potongan aluminium rotor biasanya dicor mati ke dalam slot rotor, yang membuat
konstruksinya sangat kasar. Meskipun potongan rotor aluminium berada dalam
kontak langsung dengan laminasi baja, hampir semua arus rotor melalui jeruji
aluminium dan tidak di laminasi. Sejumlah motor induksi yang beredar dipasaran
maupun yang banyak digunakan sekitar 90% adalah motor induksi dengan ”Rotor
Sangkar”. Alasan umum yang diperoleh adalah karena konstruksi yang sederhana
dan juga lebih murah harganya. Konstruksi rotor sebagaimana gambar 2.7. berikut
ini, menunjukkan konstruksi batang-batang konduktor dari bahan tembaga atau
alumunium yang dihubungkan singkat.

Gambar 2.7. Konstruksi dan bagian dari rotor sangkar.

Sejumlah batang-batang konduktor tersebut dimasukkan ke dalam laminasi-


laminasi yang terbuat dari bahan besi silikon serta menjadi satu dengan poros
rotor. Sebagaimana konstruksi tersebut di atas terutama batang-batang konduktor
yang terhubung singkat, maka tidak dimungkinkan untuk menambah ”Tahanan
Luar” (yang dipasang secara seri) dengan rotor guna keperluan ”Pengasutan”.
Selain itu pula posisi dari batang-batang konduktor/tembaga posisinya dibuat
tidak paralel (tidak segaris) dengan poros rotor. Posisi batang konduktor agak
dimiringkan sebagaimana terlihat pada gambar di atas.

Alasan diletakan posisi miring dari konduktor terhadap poros adalah :

 Memperhalus suara pada saat motor berputar (memperkecil dengungan


magnetis/suara bising).
 Menghilangkan kecenderungan ”Lock atau mengunci” yang disebabkan
karena interaksi langsung antara medan magnit stator dan rotor.

Pada motor-motor dengan kapasitas kecil, batang-batang konduktor di cor


menjadi satu bagian dengan alumunium alloy. Selain itu pula contoh lainnya

8|Page
adalah ada juga yang rotornya hanya berupa besi masip tanpa satupun konduktor.
Jenis seperti ini biasanya disebut sebagai ”Motor Arus Eddy”.

b. Rotor Belitan (Wound Rotor)

Rotor yang terbuat dari laminasi-laminasi besi dengan alur-alur sebagai


tempat meletakkan belitan (kumparan) dengan ujung-ujung belitan yang juga
terhubung singkat seperti gambar 2.8.

Gambar 2.8. Rotor belitan

Motor dengan jenis rotor belitan biasanya diperlukan pada saat pengasutan
atau pengaturan kecepatan dimana dikehendaki torsi asut yang tinggi

Gambar 2.9. Jenis rotor sangkar dan belitan pada motor induksi 3 fasa

Belitan-belitan yang terpasang pada rotor telah diisolasi sebagaimana belitan


yang terdapat pada stator. Belitan yang ada pada rotor diletakkan juga pada alur-
alur rotor dan pada setiap ujungnya dihubungkan secara langsung pada cincin
(slipring) yang posisinya dibagian depan dari rotor serta menjadi satu dengan
poros (gambar 2.6.). Belitan rotor ini di desain sama dengan kutub yang dimiliki
belitan statornya dan selalu dalam bentuk belitan 3 fasa sekalipun statornya hanya
2 fasa. Pengaturan belitan/gulungan/kumparan dilakukan untuk masing-masing
fasa adalah sama. Sedangkan pada ujung-ujung dari masing kumparan/fasa yang
keluar dihubungkan ke 3 buah cincin (slipring) berdasarkan jumlah fasenya.

9|Page
Konstruksi slip ring terhubung secara langsung dengan masing-masing sikat.
Dengan demikian, maka pada jenis ini dapat dihubungkan secara langsung ke
”Tahanan luar” guna keperluan pengasutan. Pada gambar 2.10 dan 2.11 di bawah
ini menunjukkan detail dari konstruksi motor induksi dengan rotor sangkar dan
rotor belitan termasuk bagian-bagiannya.

Gambar 2.10. Konstruksi detail motor induksi dengan ”rotor sangkar”

Gambar 2.11. Konstruksi detail motor induksi dengan ”rotor belitan”

C. Parts lainnya

Bagian lain, yang dibutuhkan untuk melengkapi motor induksi adalah:

 Dua flensa di ujung untuk mendukung dua bantalan, satu di drive-end (DE)
dan yang lainnya di non drive-end (NDE).
 Dua bantalan untuk mendukung berputarnya poros, pada DE dan NDE.
 Poros baja untuk transmisi torsi ke beban.
 Kipas pendingin yang terletak di NDE untuk memberi pendinginan yang
kuat untuk stator dan rotor.
 Kotak terminal di atas atau kedua sisi untuk menerima sambungan listrik
eksternal.

10 | P a g e
Gambar 2.12. Komponen lainnya pada motor induksi.

2.4 Prinsip Kerja Motor Induksi Tiga Fasa


Nugraha (2011) mengemukakan bahwa motor induksi bekerja berdasarkan
induksi elektromagnetik dari kumparan stator kepada kumparan rotornya. Garis-
garis gaya fluks yang diinduksikan dari kumparan stator akan memotong
kumparan rotornya sehingga timbul emf (ggl) atau tegangan induksi dan karena
penghantar (kumparan) rotor merupakan rangkaian yang tertutup, maka akan
mengalir arus pada kumparan rotor.
Penghantar (kumparan) rotor yang dialiri arus ini berada dalam garis gaya
fluks yang berasal dari kumparan stator sehingga kumparan rotor akan mengalami
gaya Lorentz yang menimbulkan torsi yang cenderung menggerakkan rotor sesuai
dengan arah pergerakan medan induksi stator. Pada rangka stator terdapat
kumparan stator yang ditempatkan pada slot-slotnya yang dililitkan pada sejumlah
kutub tertentu. Jumlah kutub ini menentukan kecepatan berputarnya medan stator
yang terjadi yang diinduksikan ke rotornya. Makin besar jumlah kutub akan
mengakibatkan makin kecilnya kecepatan putar medan stator dan sebaliknya.
Kecepatan berputarnya medan putar ini disebut kecepatan sinkron. Menurut
Azhary (2011) jika dijelaskan secara sistematis maka prinsip kerja motor induksi
itu sebagai berikut:
a) Pada keadaan beban nol ketiga phasa stator yang dihubungkan dengan
sumber tegangan tiga phasa yang setimbang menghasilkan arus pada tiap
belitan phasa.
b) Arus pada tiap fasa menghasilkan fluks bolak-balik yang berubah-ubah.
c) Amplitudo fluksi yang dihasilkan berubah secara sinusoidal dan arahnya
tegak lurus terhadap belitan phasa.
d) Akibat fluks yang berputar timbul ggl pada stator motor yang besarnya
adalah e1 = -N d Ф / dt ( Volt ) atau 4,44FN1 Ф (Volt ).
e) Penjumlahan ketiga fluks bolak-balik tersebut disebut medan putar yang
berputar dengan kecepatan sinkron ns, besarnya nilai ns ditentukan oleh
jumlah kutub p dan frekuensi stator f yang dirumuskan dengan Ns = 120 F / P
( rpm ).

11 | P a g e
f) Fluksi yang berputar tersebut akan memotong batang konduktor pada rotor.
Akibatnya pada kumparan rotor timbul tegangan induksi (ggl) sebesar E2
yang besarnya 4,44FN2 Ф ( Volt ).
dimana :
E2 = Tegangan induksi pada rotor saat rotor dalam keadaan diam (Volt).
N2 = Jumlah lilitan kumparan rotor.
Фm = Fluksi maksimum(Wb).
g) Karena kumparan rotor merupakan rangkaian tertutup, maka ggl tersebut
akan menghasilkan arus I2.
h) Adanya arus I2 di dalam medan magnet akan menimbulkan gaya F pada
rotor.
i) Bila kopel mula yang dihasilkan oleh gaya F cukup besar untuk memikul
kopel beban, rotor akan berputar searah medan putar stator.
j) Perputaran rotor akan semakin meningkat hingga mendekati kecepatan
sinkron. Perbedaan kecepatan medan stator (ns) dan kecepatan rotor (nr)
disebut slip (s) dan dinyatakan dengan S = Ns - Nr / Ns.
k) Pada saat rotor dalam keadaan berputar, besarnya tegangan yang terinduksi
pada kumparan rotor akan bervariasi tergantung besarnya slip.

Tegangan induksi ini dinyatakan dengan E2s yang besarnya E2s = 4,44FN2
Фm ( Volt ).

Dimana:

E2s = tegangan induksi pada rotor dalam keadaan berputar (Volt).

f2 = s.f = frekuensi rotor (frekuensi tegangan induksi pada rotor dalam


keadaan berputar).

1) Bila ns = nr, tegangan tidak akan terinduksi dan arus tidak akan mengalir pada
kumparan rotor, karenanya tidak dihasilkan kopel. Kopel ditimbulkan jika nr <
ns.
 Rangkaian Ekivalen Motor Induksi.

Gambar 2.13 Analogi dan rangkaian ekivalen motor induksi

12 | P a g e
Dari analogi diatas, pengoperasian motor induksi pasti menghasilkan power
loss. Power loss tersebut dapat berasal dari daya mekanik motor, rugi-rugi
tembaga rotor, dan rugi-rugi tembaga stator.

2.5 Keuntungan dan kerugian motor induksi 3 fasa


a. Keuntungan penggunaan motor induksi tiga phasa
 Konstruksi sangat kuat dan sederhana terutama bila motor dengan rotor
sangkar.
 Harganya relatif murah dan kehandalannya tinggi.
 Effesiensi relatif tinggi pada keadaan normal, tidak ada sikat sehingga
rugi gesekan kecil.
 Biaya pemeliharaan rendah karena pemeliharaan motor hampir tidak
diperlukan.
b. Kerugian penggunaan motor induksi 3 fasa.
 Kecepatan tidak mudah dikontrol.
 Power faktor rendah pada beban ringan.
 Arus start biasanya 5 sampai 7 kali dari arus nominal.

2.6 Perawatan
Hampir semua inti motor dibuat dari baja silikon atau baja gulung dingin
yang dihilangkan karbonnya, sifat-sifat listriknya tidak berubah dengan usia.
Walau begitu, perawatan yang buruk dapat memperburuk efisiensi motor karena
umur motor dan operasi yang tidak handal. Sebagai contoh, pelumasan yang tidak
benar dapat menyebabkan meningkatnya gesekan pada motor dan penggerak
transmisi peralatan. Kehilangan resistansi pada motor, yang meningkat dengan
kenaikan suhu. Kondisi ambien dapat juga memiliki pengaruh yang merusak pada
kinerja motor. Sebagai contoh, suhu ekstrim, kadar debu yang tinggi, atmosfir
yang korosif, dan kelembaban dapat merusak sifat-sifat bahan isolasi; tekanan
mekanis karena siklus pembebanan dapat mengakibatkan kesalahan
penggabungan. Perawatan yang tepat diperlukan untuk menjaga kinerja motor.
Sebuah daftar periksa praktek perawatan yang baik akan meliputi sebagai berikut:
1. Pemeriksaan motor secara teratur untuk pemakaian bearings dan rumahnya
(untuk mengurangi kehilangan karena gesekan) dan untuk kotoran/debu
pada saluran ventilasi motor (untuk menjamin pendinginan motor).
2. Pemeriksaan kondisi beban untuk meyakinkan bahwa motor tidak kelebihan
atau kekurangan beban. Perubahan pada beban motor dari pengujian terakhir
mengindikasikan suatu perubahan pada beban yang digerakkan,
penyebabnya yang harus diketahui.
3. Pemberian pelumas secara teratur. Fihak pembuat biasanya memberi
rekomendasi untuk cara dan waktu pelumasan motor. Pelumasan yang tidak

13 | P a g e
cukup dapat menimbulkan masalah, seperti yang telah diterangkan diatas.
Pelumasan yang berlebihan dapat juga menimbulkan masalah, misalnya 90
minyak atau gemuk yang berlebihan dari bearing motor dapat masuk ke
motor dan menjenuhkan bahan isolasi motor, menyebabkan kegagalan dini
atau mengakibatkan resiko kebakaran.
4. Pemeriksaan secara berkala untuk sambungan motor yang benar dan
peralatan yang digerakkan. Sambungan yang tidak benar dapat
mengakibatkan sumbu as dan bearings lebih cepat aus, mengakibatkan
kerusakan terhadap motor dan peralatan yang digerakkan.
5. Dipastikan bahwa kawat pemasok dan ukuran kotak terminal dan
pemasangannya benar. Sambungan-sambungan pada motor dan starter harus
diperiksa untuk meyakinkan kebersihan dan kekencangnya.
6. Penyediaan ventilasi yang cukup dan menjaga agar saluran pendingin motor
bersih untuk membantu penghilangan panas untuk mengurangi kehilangan
yang berlebihan. Umur isolasi pada motor akan lebih lama: untuk setiap
kenaikan suhu operasi motor 10oC diatas suhu puncak yang
direkomendasikan, waktu pegulungan ulang akan lebih cepat, diperkirakan
separuhnya.

2.7 Aplikasi Motor Induksi Pada Elevator atau Lift


Salah satu jenis pesawat pengangkat yang berfungsi untuk membawa
barang maupun penumpang dari suatu tempat yang rendah ketempat yang lebih
tinggi ataupun sebaliknya. Adapun jenis mesin lift dibagi menjadi dua yaitu mesin
lift penumpang dan lift barang. Gerak kerja dari mesin lift ini adalah dengan cara
menaik turunkansangkar pada sebuah lorong lift dimana gerakannya berasal dari
putaran motor listrik. Konstuksi umum mesin lift/elevator berupa sebuah sangkar
yang dinaik turunkan oleh mesin pengangkat, dimana yang akan direncanakan
disini adalah dua sangkar tanpa penyeimbang(Counter Weight) yang mana apabila
salah satu sangkar naik maka sangkar yang satu lagi harus turun begitu pula untuk
sebaliknya. Sangkar tersebut dijalankan pada rel-rel dengan menggunakan alat
penuntun sangkar yang terpasang tetap, hal ini dimaksudkan agar lift tersebut
tidak bergoyang pada saat berjalan.

14 | P a g e
Gambar 2.14. Bagian- bagian elevator
Keterangan:
1. Control System
2. Geared Machine.
3. Primary Velocity Tranducer.
4. Governor.
5. Hoisting Ropes.
6. Roller Guide/ Guide Shoe.
7. SecondaryPossition Tranducer.
8. Door Operator.
9. Entrance Protection System.
10. Load Weighing Tranducers.
11. Car Safety Device.
12. Traveling Cable.
13. Elevator Rail.
14. Counterweight.
15. Compesation Ropes.
16. Governor Tension Sheave.
17. Counterweight Buffer.
18. Car Buffer.

Bagian-bagian diatas belum termasuk system control pada rangkaian


elecktro penggatur arus listrik pada elevator. Bagian-bagian rangkaian elektro
pengatur arus listriknya adalah:

15 | P a g e
1. Motor Penggerak.

Gambar 2.15 Motor penggerak.

Mesin penggerak ini menggunakan motor listrik tiga fasa yang putarannya
diteruskan dengan transmisi roda gigi. Motor penggerak ini dilengkapi dengan
rem magnet (magnetic brake) yang berfungsi menahan motor ketika kereta
elevator telah sampai pada lantai yang dituju, pergerakan cepat atau lambatnya
elevator diatur oleh PLC (Programable Logic Control) . Motor penggerak dalam
menarik dan menurunkan elevator menggunakan tali baja ( rope ) yang melingkar
pada puli mesin ( sheave ).

2. Pulley.

Sistem pulley dalam konstruksi mesin lift terdiri atas sistem tunggal dan
majemuk.

3. Tali Baja.

Tali baja berfungsi untuk meneruskan gerakan dari putaran puli ke gerakan
naik turun sangkar pertama dan sangkar kedua. Jumlah dan diameter tali baja
ditentukan dari besarnya beban yang akan diangkat.

4. Sangkar / Kereta

Sangkar adalah suatu tempat yang digunakan untuk mengangkut


penumpang maupun barang. sangkar elevator beroperasi pada ruang luncur dan
menapak pada rail di kedua sisinya, pada sisi kanan dan kiri terdapat pemandu rail
( sliding guide ) yang berfungsi memandu atau menapaki rail. Selain pemandu rail
( sliding guide ) juga terdapat karet peredam ( silencer rubber ) yang berfungsi
untuk mengurangi kejutan ketika elevator berhenti maupun mulai start, selain itu
pula terdapat pendeteksi beban ( switch overload ) yang terdapat dibawah kereta
elevator. Pada pintu kereta elevator juga terdapat sensor gerak ( safety ray ) dan
sensor sentuh (safety shoe) yang terpasang pada pintu kereta dan berfungsi supaya
untuk penumpang elevator tidak terjepit pintu elevator, didalam kereta elevator
juga terdapat tombol-tombol pemesanan lantai ( floor button ) yang akan dituju
oleh pengguna elevator. Kereta elevator memiliki pintu otomatis yang digerakkan

16 | P a g e
oleh motor stepper yang bekerja berdasarkan sinyal digital yang asalnya dari
sensor kedekatan ( proximity ) yang berfungsi menentukan level atau tidaknya
lantai, setelah lantai dinyatakan level atau rata maka motor stepper akan membuka
pintu secara otomatis.

5. Bobot Penyeimbang (Counter Weight)

Penyeimbang (Counter Weight) dimaksudkan untuk mengimbangi dari


berat sangkar sehingga mesin tidak menahan beban yang tinggi. Pada umumnya
berat penyeimbang sama dengan berat maksimum sangkar ditambah 40% - 50% .

6. Rem

Mesin lift dilengkapi dengan rel elektromagnetik tertutup. Yang paling


umum adalah rem lift terdiri dari perakitan kompresi pegas , sepatu rem dengan
lapisan, dan perakitan sebuah solenoida . Bila solenoida tidak berenergi, kekuatan
pegas sepatu rem untuk mencengkeram drum rem yang menimbulkan torsiatau
tekanan pengereman. Magnet dapat mengerahkan gaya horizontal untuk menahan
rem terbuka dan kembali menutup saat tidak digunakan. Hal ini dapat dilakukan
secara langsung di salah satu lengan operasi atau melalui sistem linkage. Dalam
kedua kasus, hasilnya adalah sama. Saat diaktifkan pegas sepatu rem ditarik
magnet menjauh dari poros drum rem bersamaan dengan putaran mesin elevator
tersebut.

7. Governor.

Governor ini dihubungkan ke kereta dengan menggunakan tali baja


pengaman. Tali pengaman ini meneruskan gerakan dari kereta ke governer dan
memutar roda governor. Apabila kecepatan kereta melebihi kecepaan aman yang
diijinkan, maka governor akan bekerja dengan cara sebagai berikut :
a. Memutus jalur kontrol melalui saklar pembatas kecepatan.
b. Menjepit tali governor dan membuat rem pengaman bekerja.

17 | P a g e
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Motor induksi tiga fasa merupakan motor yg paling banyak di gunakan
dalam bidang industri, karena memiliki keunggulan yaitu: efisiensi tinggi,
memiliki tahanan rotor yang kecil, sehingga tidak ada kontak antara rotor dan
stator kecuali bearing, tenaga yang besar, daya listrik yang rendah dan perawatan
yang minim.selain itu kontruksinya sangat sederhana sehingga tidak terlalu sulit
dalam perbaikannya apabila terjadi kerusakan pada motor sehingga tidak
menggangu jalannya produksi pada industri. Tetapi motor ini akan menghasilkan
torsi awal yang kecil dan menarik arus awal yang besar.

3.1 Saran
1. Penulis mengharapkan pembaca untuk bisa membuat sebuah penelitian
tentang motor induksi tiga fasa.
2. Walaupun perawatan motor induksi tiga fasa ini minim, diharapkan
pembaca tidak menyepelehkan masalah perawatan tersebut.
3. Diharapkan bagi pembaca dapat menemukan solusi untuk memperbaiki
kekurangan atau kelemahan pada motor induksi tiga fasa ini.

18 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

Kusumah, Inu.H. ( 2008 ). Diktat ( Bahan Ajar ) Teknik Listrik dan Elektronika.
Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.PUSAT PENGEMBANGAN
BAHAN AJAR-UMB Ismail Muchsin, ST, MT

https://www.google image motor tiga phasa

https://www.academia.edu/8900519/MAKALAH_MESIN_INDUKSI_3-PHASA

https://www.digilib.unimus.ac.id/download.php?id=3841

19 | P a g e