You are on page 1of 11

Kota Pontianak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Kota Pontianak (bahasa Tionghoa: 坤甸, Khek: Khuntîen) adalah ibukota provinsi Kalimantan
Barat, Indonesia. Kota ini dikenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis khatulistiwa. Di
utara kota Pontianak, tepatnya Siantan, terdapat Tugu Khatulistiwayang dibangun pada tempat
yang dilalui garis khatulistiwa. Selain itu, Kota Pontianak dilalui oleh Sungai Kapuas dan Sungai
Landak. Kedua sungai itu diabadaikan dalam lambang Kota Pontianak. Kota ini memiliki luas
wilayah 107,82 kilometer persegi.

Etimologi[sunting | sunting sumber]


Nama Pontianak yang berasal dari bahasa Melayu yang beraini dipercaya ada kaitannya dengan
kisah Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu Kuntilanak ketika dia menyusuri
Sungai Kapuas. Menurut ceritanya, Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan
tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan di mana meriam itu jatuh,
maka di sanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu jatuh di dekat persimpang
Sungai Kapuas dan Sungai Landak, yang kini dikenal dengan nama Kampung Beting.[3]

Sejarah[sunting | sunting sumber]


Masa pendirian[sunting | sunting sumber]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kesultanan Pontianak
Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14
Rajab 1185 H) yang ditandai dengan membuka hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai
Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat
tinggal. Pada tahun 1778 (1192 H), Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan Pontianak.
Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Masjid Jami' (kini bernama Masjid Sultan
Syarif Abdurrahman) dan Istana Kadariah yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis,
Kecamatan Pontianak Timur.[4]
Sejarah pendirian menurut V.J. Verth[sunting | sunting sumber]
Sejarah pendirian kota Pontianak yang dituliskan oleh seorang sejarawan Belanda, V.J.
Verth dalam bukunya Borneos Wester Afdeling, yang isinya sedikit berbeda dari versi cerita yang
beredar di kalangan masyarakat saat ini.
Menurutnya, Belanda mulai masuk ke Pontianak tahun 1194 Hijriah (1773 Masehi) dari Batavia.
Verth menulis bahwa Syarif Abdurrahman, putra ulama Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie (atau
dalam versi lain disebut sebagai Al Habib Husin), meninggalkan Kerajaan Mempawah dan mulai
merantau. Di wilayah Banjarmasin, ia menikah dengan adik sultan Banjar Sunan Nata Alam dan
dilantik sebagai Pangeran. Ia berhasil dalam perniagaan dan mengumpulkan cukup modal untuk
mempersenjatai kapal pencalang dan perahu lancangnya, kemudian ia mulai melakukan
perlawanan terhadap penjajahan Belanda.
Dengan bantuan Sultan Pasir, Syarif Abdurrahman kemudian berhasil membajak kapal Belanda
di dekat Bangka, juga kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Pasir. Abdurrahman menjadi
seorang kaya dan kemudian mencoba mendirikan pemukiman di sebuah pulau di Sungai
Kapuas. Ia menemukan percabangan Sungai Landak dan kemudian mengembangkan daerah itu
menjadi pusat perdagangan yang makmur. Wilayah inilah yang kini bernama Pontianak.

Kolonialisme Belanda dan Jepang[sunting | sunting sumber]


Pada tahun 1778, kolonialis Belanda dari Batavia memasuki Pontianak dengan dipimpin
oleh Willem Ardinpola. Belanda saat itu menempati daerah di seberang istana kesultanan yang
kini dikenal dengan daerah Tanah Seribu atau Verkendepaal.[4]
Pada tanggal 5 Juli 1779, Belanda membuat perjanjian dengan Sultan mengenai penduduk
Tanah Seribu agar dapat dijadikan daerah kegiatan bangsa Belanda yang kemudian menjadi
kedudukan pemerintahan Resident het Hoofd Westeraffieling van Borneo (Kepala Daerah
Keresidenan Borneo Barat) dan Asistent Resident het Hoofd der Affleeling van
Pontianak (Asisten Residen Kepala Daerah Kabupaten Pontianak). Area ini selanjutnya
menjadi Controleur het Hoofd Onderafdeeling van Pontianak atau Hoofd Plaatselijk Bestuur van
Pontianak.[4]
Assistent Resident het Hoofd der Afdeeling van Pontianak (semacam Bupati Pontianak)
mendirikan Plaatselijk Fonds. Badan ini mengelola eigendom atau kekayaan Pemerintah dan
mengurus dana pajak. Plaatselijk Fonds kemudian berganti nama menjadi Shintjo pada masa
kependudukan Jepang di Pontianak.[4]

Masa Stadsgemeente[sunting | sunting sumber]


Berdasarkan besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 14 Agustus 1946 No. 24/1/1940 PK
yang disahkan menetapkan status Pontianak sebagai stadsgemeente. R. Soepardan ditunjuk
menjadi syahkota atau pemimpin kota saat itu. Jabatan Soepardan berakhir pada awal
tahun 1948 dan kemudian digantikan oleh Ads. Hidayat.[4]
Kemudian, pusat PPD ini dipindahkan ke Pontianak yang awalnya berasal dari Sanggau pada 1
November 1945[5] dan menjadi suatu wadah kebangkitan Dayak pada 3 November 1945, sekitar
74 hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Masa pemerintahan kota[sunting | sunting sumber]


Pembentukan stadsgerneente bersifat sementara, maka Besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak
diubah dan digantikan dengan Undang-undang Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 16
September 1949 No. 40/1949/KP. Dalam undang-undang ini disebut Peraturan Pemerintah
Pontianak dan membentuk Pemerintah kota Pontianak, sedangkan perwakilan rakyat disebut
Dewan Perwakilan Penduduk Kota Pontianak. Walikota pertama ditetapkan oleh Pemerintah
Kerajaan Pontianak adalah Rohana Muthalib. Ia adalah seorang wanita pertama yang menjadi
walikota Pontianak.[4]

Masa kota praja[sunting | sunting sumber]


Sesuai dengan perkembangan tata pemerintahan, maka dengan Undang-undang Darurat Nomor
3 Tahun 1953, bentuk Pemerintahan Landschap Gemeente, ditingkatkan menjadi kota
praja Pontianak. Pada masa ini urusan pemerintahan terdiri dari Urusan Pemerintahan Umum
dan Urusan Pemerintahan Daerah.[4]

Masa kotamadya dan kota[sunting | sunting sumber]


Pemerintah Kota Praja Pontianak diubah dengan berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun
1957, Penetapan Presiden No.6 Tahun 1959 dan Penetapan Presiden No.5 Tahun 1960,
Instruksi Menteri Dalam Negeri No.9 Tahun 1964 dan Undang-undang No. 18 Tahun 1965, maka
berdasarkan Surat Keputusan DPRD-GR Kota Praja Pontianak No. 021/KPTS/DPRD-GR/65
tanggal 31 Desember 1965, nama Kota Praja Pontianak diganti menjadi Kotamadya Pontianak,
kemudian dengan Undang-undang No.5 Tahun 1974, nama Kotamadya Pontianak berubah
menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak.[4]
Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah di Daerah mengubah
sebutan untuk Pemerintah Tingkat II Pontianak menjadi sebutan Pemerintah Kota Pontianak,
sebutan Kotamadya Potianak diubah kemudian menjadi Kota Pontianak.[4]

Geografi dan Administrasi[sunting | sunting sumber]


Kota Pontianak terletak pada Lintasan Garis Khatulistiwa dengan ketinggian berkisar antara 0,1
sampai 1,5 meter di atas permukaan laut. Kota dipisahkan oleh Sungai Kapuas Besar, Sungai
Kapuas Kecil, dan Sungai Landak. Dengan demikian Kota Pontianak terbagi atas tiga belahan.
Zona Waktu[sunting | sunting sumber]
Pada tahun 1963 berdasarkan Keppres No. 243 Tahun 1963, Kota Pontianak dimasukkan ke
zona Waktu Indonesia Tengah (WITA)
Pada tanggal 1 Januari 1988 berdasarkan Keppres RI No. 41 Tahun 1987. Bersama-sama
dengan Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat yang sebelumnya masuk zona Waktu Indonesia
Tengah (WITA) beralih menjadi zona Waktu Indonesia Barat (WIB). Sehingga pada tahun 1988
Kota Pontianak merayakan tahun baru sebanyak dua kali yaitu pada pukul 00.00 WITA (23.00
WIB) dan 00.00 WIB.

Iklim dan Topografi[sunting | sunting sumber]


Struktur tanah kota Pontianak berupa lapisan tanah gambut bekas endapan lumpur Sungai
Kapuas. Lapisan tanah liat baru dicapai pada kedalaman 2,4 meter dari permukaan laut. Kota
Pontianak termasuk beriklim tropis dengan suhu tinggi (28-32 °C dan siang hari 30 °C).
Rata–rata kelembaban nisbi dalam daerah Kota Pontianak maksimum 99,58% dan minimum
53% dengan rata–rata penyinaran matahari minimum 53% dan maksimum 73%.[6]
Besarnya curah hujan di Kota Pontianak berkisar antara 3.000–4.000 mm per tahun. Curah
hujan terbesar (bulan basah) jatuh pada bulan Mei dan Oktober, sedangkan curah hujan terkecil
(bulan kering) jatuh pada bulan Juli. Jumlah hari hujan rata-rata per bulan berkisar 15 hari.[6]

[sembunyikan]Data iklim Pontianak


Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt
32.4 32.7 32.9 33.2 33.0 33.2 32.9 33.4
Rata-rata tertinggi °C (°F)
(90.3) (90.9) (91.2) (91.8) (91.4) (91.8) (91.2) (92.1)
27.6 27.7 28.0 28.2 28.2 28.2 27.7 27.9
Rata-rata harian °C (°F)
(81.7) (81.9) (82.4) (82.8) (82.8) (82.8) (81.9) (82.2)
22.7 22.6 23.0 23.2 23.4 23.1 22.5 22.3
Rata-rata terendah °C (°F)
(72.9) (72.7) (73.4) (73.8) (74.1) (73.6) (72.5) (72.1)
260 215 254 292 256 212 201 180
Presipitasi mm (inci)
(10.24) (8.46) (10) (11.5) (10.08) (8.35) (7.91) (7.09)
Rata-rata hari hujan atau bersalju (≥ 0.1 mm) 15 13 21 22 20 18 16 25
[7]
Sumber: World Meteorological Organization (UN)

Batas-batas Administrasi[sunting | sunting sumber]


Utara Siantan, Mempawah

Selatan Sungai Raya, Kubu Raya dan Siantan, Mempawah

Barat Sungai Kakap, Kubu Raya

Timur Sungai Ambawang, Kubu Raya

Pembagian Administratif[sunting | sunting sumber]


Pembagian administratif Kota Pontianak

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar kecamatan dan kelurahan di Kota Pontianak
Secara administratif, wilayah Kota Pontianak dibagi menjadi 6 kecamatan dan 29 kelurahan.

 Pontianak Barat
 Pontianak Kota
 Pontianak Selatan
 Pontianak Tenggara
 Pontianak Timur
 Pontianak Utara

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar Wali Kota Pontianak
Kota Pontianak dipimpin oleh seorang wali kota. Saat ini Wali kota Pontianak dijabat oleh H.
Sutarmidji, S.H., M.Hum. dengan Ir. H. Edi Rusdi Kamtono, M.M., M.T. sebagai wakilnya.
Keduanya dilantik pada 23 Desember 2013 setelah, dengan dukungan lima partai politik (PDI-
P, PKS, PPP, PAN, dan PKPB), memenangkan 52,7% suara pada Pemilukada 2013 lalu,
mengalahkan lima pasangan kandidat lainnya.[8]

Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Gedung DPRD Kota Pontianak

DPRD Kota Pontianak terdiri atas 45 anggota. Berdasarkan Pemilihan Umum 2014, DPRD Kota
Pontianak terdiri dari 45 anggota yang enam di antaranya merupakan perempuan. Ke-45
anggota itu berasal dari sebelas partai yang tergabung ke dalam sembilan fraksi. Saat ini, DPRD
Kota Pontianak diketuai oleh Satarudin yang berasal dari PDI Perjuangan.[9][10]
DPRD Kota Pontianak 2014-2019[9]

Fraksi Partai Kursi

Fraksi PDI-P 6
PDI Perjuangan

Fraksi NasDem 6
Partai NasDem

Fraksi Golkar Partai Golkar 5

Fraksi PAN 5
PAN

Fraksi PKB 5
PKB

Fraksi Gerindra 4
Partai Gerindra

Fraksi PPP PPP 4

Partai Hanura 3

Fraksi Kebangkitan Hati Nurani

2
PBB

Partai Demokrat 3

Fraksi Demokrat Perubahan

PKPI 2
Jumlah 45

Kependudukan[sunting | sunting sumber]


Demografi[sunting | sunting sumber]
Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000, penduduk Kota Pontianak berjumlah 554.764 jiwa,
terdiri dari 277.971 (50,1%) laki-laki dan 276.793 (49,9%) perempuan.[11]

Suku bangsa[sunting | sunting sumber]


Penduduk kota Pontianak didominasi etnis Melayu dan Tionghoa. Selain itu terdapat pula
etnis Dayak, Jawa, Bugis, Madura, Arab, Sunda, Banjar, Batak, Minangkabau dan lain-lain. Suku
bangsa penduduk Kota Pontianak terdiri
dari Tionghoa (31,2%), Melayu (26,1%), Bugis (13,1%), Jawa (11,7%), Madura (6,4%), Dayak,
dan lainnya.[2]

Agama[sunting | sunting sumber]


Sebagian besar penduduk beragama Islam (75,4%), sisanya memeluk
agama Buddha (12%), Katolik (6,1%), Protestan (5%), Konghucu (1,3%), Hindu (0,1%), dan
lainnya (0,1%).[1]

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Tanaman lidah buaya yang kini gencar diproduksi di Kota Pontianak

Matahari Mal, mal pertama di Kota Pontianak

Sebagian besar perekonomian kota Pontianak bertumpu pada industri, pertanian,


dan perdagangan.

Perindustrian[sunting | sunting sumber]


Jumlah perusahaan industri besar dan sedang di Kota Pontianak yang telah terdata selama
tahun 2005 adalah 34 perusahaan. Tenaga kerja yang diserap oleh perusahaan industri tersebut
berjumlah 3.300 orang yang terdiri dari pekerja produksi 2.700 orang dan pekerja lainnya atau
administrasi 600 orang. Perusahaan industri besar atau sedang yang terletak di Kecamatan
Pontianak Utara menyerap tenaga kerja terbesar, yaitu 2.952 orang.
Nilai keluaran yang dihasilkan dari perusahaan industri besar atau sedang adalah sebesar 1,51
triliun rupiah, di mana perusahaan industri besar atau sedang yang berada di Kecamatan
Pontianak Utara yang didominasi oleh perusahaan industri karet, sedangkan nilai keluaran yang
terkecil berasal dari perusahaan yang terdapat di Kecamatan Pontianak Kota, senilai 2,85 miliar
Rupiah.
Untuk Nilai Tambah Bruto (NTB) yang diperoleh dari seluruh perusahaan industri besar /sedang
di Kota Pontianak selama tahun 2005 adalah sebesar 217,57 miliar Rupiah dan pajak tak
langsung yang diperoleh adalah sebesar 462,78 juta Rupiah, sedangkan NTB atas Biaya Faktor
yang diperoleh adalah sebesar 217,10 miliar Rupiah.
Jumlah unit usaha industri, tenaga kerja, besarnya nilai investasi dan nilai penjualan dari sentra
industri kecil jenis Industri Hasil Pertanian dan Kehutanan (IHPK) terlihat bahwa sentra industri
kecil jenis IHPK terbanyak adalah usaha industri makanan ringan yang terpusat di Kelurahan
Sungai Bangkong dengan tenaga kerja yang diserap sebanyak 329 orang, nilai investasinya
mencapai 249,50 juta rupiah dan nilai penjualannya sebesar 780,50 juta rupiah. Sedangkan
industri anyaman keladi air pada tahun 2005 ini hanya memiliki 16 unit usaha dengan nilai
investasi 17,5 juta Rupiah dan nilai penjualan 110 juta Rupiah yang terletak di Tanjung Hulu,
Pontianak Timur.

Pertanian[sunting | sunting sumber]


Pada tahun 2006, jenis tanaman pangan yang hasilnya paling besar adalah ubi kayu, padi, ubi
rambat. Penduduk juga bertani sayurandan lidah buaya. Tanaman buah-buahan yang banyak
ada di Kota Pontianak adalah nangka, pisang, serta nanas.
Perternakan di kota Pontianak terdiri dari sapi (potong dan perah), kambing, babi, dan ayam (ras
dan buras).

Perdagangan[sunting | sunting sumber]


Perdagangan merupakan salah satu usaha yang berkembang pesat di Kota Pontianak.
Perdagangan modern mulai berkembang pada tahun 2001 dengan berdirinya Mal Matahari
Pontianak di Pontianak Kota. Pusat perbelanjaan modern mulai dibangun di berbagai sudut kota,
seperti Mal Pontianak dan Ayani Mega Mall Pontianak (Pontianak Selatan). Berbagai
perusahaan retail nasional mulai mendirikan usahanya di Pontianak.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]


Sekolah dasar[sunting | sunting sumber]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar sekolah dasar negeri di Indonesia#Pontianak

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar sekolah dasar swasta di Indonesia#Pontianak

Sekolah menengah pertama[sunting | sunting sumber]


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar sekolah menengah pertama negeri di
Kalimantan Barat

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar sekolah menengah pertama swasta di
Kalimantan Barat

Sekolah menengah atas[sunting | sunting sumber]


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar sekolah menengah atas negeri di Kalimantan
Barat

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar sekolah menengah atas swasta di Kalimantan
Barat

Perguruan tinggi[sunting | sunting sumber]


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar perguruan tinggi negeri di Kalimantan Barat

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar perguruan tinggi swasta di Kalimantan Barat

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Waterfront Kota Pontianak

Aksi Naga dan Barongsai saat Imlek di Kota Pontianak

Pariwisata Kota Pontianak didukung oleh keanekaragaman budaya penduduk Pontianak,


yaitu Dayak, Melayu, dan Tionghoa. Suku Dayak memiliki pesta syukur atas kelimpahan panen
yang disebut Gawai dan masyarakat Tionghoa memiliki kegiatan pesta tahun baru Imlek, Cap
Go Meh, dan perayaan sembahyang kubur (Cheng Beng atau Kuo Ciet) yang memiliki nilai
atraktif turis.
Kota Pontianak juga dilintasi oleh garis khatulistiwa yang ditandai dengan Tugu Khatulistiwa di
Pontianak Utara. Selain itu kota Pontianak juga memiliki visi menjadikan Pontianak sebagai kota
dengan pariwisata sungai.

Kuliner[sunting | sunting sumber]


Pontianak juga dikenal sebagai tempat wisata kuliner. Keanekaragaman makanan menjadikan
Pontianak sebagai surga kuliner. Makanan yang terkenal antara lain:

 Air Tahu dan Kembang Tahu


 Bakcang
 Bakpao
 Bubur Pedas
 Chai Kwe
 Hekeng
 Hu Ju
 Ie atau Jan atau onde-onde
 Ikan asam pedas (ikan asam pedas rata2 memakai ikan sungai)
 Kaloci atau kue mochi
 Keladi
 Kengci Kwetiau
 Ki Cang
 Kuan Chiang
 Kue Bulan atau Gwek Pia
 Kwe Cap
 Kwe Kia Theng
 Kwetiau
 Lemang
 Lempok Durian
 Minuman Lidah Buaya
 Nasi Kari
 Nasi Ayam
 Nasi Capcai
 Pacri Nanas
 Pekasam
 Peng Kang
 Pindang
 Pwe Ki Mue atau bubur pesawat
 Sambal Goreng Tempoyak
 Tau Swan
 Sio Bi
 Sotong Pangkong
 Tun Koi
 Yam Mi

Infrastruktur[sunting | sunting sumber]


Transportasi Darat[sunting | sunting sumber]
Sistem transportasi darat Kota Pontianak dilayani oleh minibus angkutan kota yang biasa disebut
oplet, taksi, dan beberapa rute dilayani oleh bus kota. Sebagian besar rute dalam kota dilayani
oleh oplet yang menghubungkan beberapa terminal. Untuk keberangkatan jalan darat ke luar
kota dilayani di Terminal Batulayang.
Melalui jalan darat pula dilayani bus antar negara, yakni ke Kuching dan ke Brunei. Bus ini
disediakan oleh berbagai penyedia layanan, termasuk DAMRI. Transportasi darat ke Malaysia
menjadi mungkin melalui Jalan Lintas Kalimantan. Layanan imigrasi Indonesia-Malaysia
dilaksanakan di Entikong, Kabupaten Sanggau.

Transportasi Udara[sunting | sunting sumber]


Transportasi udara dari Kota Pontianak menggunakan Bandar Udara Supadio yang terletak di
Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Bandara ini menghubungkan Pontianak
dengan beberapa kota di Indonesia,
seperti Jakarta, Batam, Medan, Ranai, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Palangka
Raya dan Balikpapan. Selain itu bandara ini juga mempunyai penerbangan internasional
langsung ke Kuching, dan Kuala Lumpur. Dari Pontianak juga dapat dilayani penerbangan
perintis ke kota kabupaten di Kalimantan Barat seperti Ketapang, Sintang dan Putussibau.
Transportasi Air[sunting | sunting sumber]
Pelabuhan Pontianak melayani kapal barang maupun penumpang. Beberapa rute kapal
penumpang yang tersedia ː Pontianak-Semarang (KM Leuser), Pontianak-Surabaya (KM Bukit
Raya), Pontianak-Serasan (KM Bukit Raya)

Layanan Publik[sunting | sunting sumber]


Rumah Sakit[sunting | sunting sumber]
Berikut rumah sakit yang ada di Kota Pontianakː[12]

 RSUD Sultan Syarif Muhammad Alkadrie


 RSUD Dr. Sudarso
 RS St. Antonius
 RSI Yarsi Pontianak
 RS Pro Medika
 RS Bhayangkara Pontianak
 RS Jiwa Daerah Sungai Bangkong
 RSIA Anugerah Bunda Khatulistiwa
 RS Bersalin Jeumpa
 RS Bersalin Nabasa
 RS Universitas Tanjungpura
 RS Kharitas Bhakti
 Rs Mitra Medika
Hotel[sunting | sunting sumber]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar hotel di Kota Pontianak
Kota Pontianak memiliki sejumlah penginapan dari hotel bintang 4 hingga hotel melati.

Kepolisian[sunting | sunting sumber]


Berikut markas kepolisian di Kota Pontianakː

 Kepolisian Resort Kota Pontianak


 Kepolisian Sektor Pontianak Kota
 Kepolisian Sektor Pontianak Barat
̈Kepolisian Sektor Pontianak Selatan

 Kepolisian Sektor Pontianak Utara


 Kepolisian Sektor Pontianak Timur
Pemadam Kebakaran[sunting | sunting sumber]
Wali kota Pontianak mengklaim bahwa kota ini memiliki pemadam kebakaran terbanyak di
Indonesia.[13]. Berikut beberapa yayasan pemadam kebakaran yang ada di kota Pontianakː

 Dinas Kebakaran Kota


 Bintang Timur
 Budi Pekerti
 BPAS
 UPKGR
 PMK Panca Bhakti
 PMK Bhakti Raya
 PMK Sungai Raya
 PMK Mitra Jawi
 PMK Merdeka
 PNMK Mitra Bhakti
 YPK Khatulistiwa

Budaya[sunting | sunting sumber]


Bahasa[sunting | sunting sumber]
Hampir seluruh penduduk Kota Pontianak memahami dan menggunakan Bahasa
Indonesia dalam berkomunikasi. Namun bahasa ibu masing-masing juga umum digunakan,
antara lain Bahasa Melayu Pontianak, Bahasa Tiociu, Bahasa Khek, Bahasa Dayak yang terdiri
dari Dayak Kanayatn, Dayak Bukit, Dayak Salako, Dayak Kantu, Dayak Iban, Dayak jangkang