You are on page 1of 7

PENDIDIKAN

TAWURAN PELAJAR DALAM PERSPEKTIF KRIMINOLOGIS,


HUKUM PIDANA, DAN PENDIDIKAN

Warih Anjari
FH. Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

ABSTRACT
The phenomenon of student disturb should be paid fully attention from all parties and society . Students will be the next generation
to decide the nation’s future. The students are in the education process which their mind set should contain morality and knowledge.
The purpose of this paper is to find out: (1) the students disturb causes, (2) the law effect, (3) the perspective of education. The method
used library research and the data analyzed descriptively. It is concluded that: (1) the violence was caused of direct effect from disturbs,
with the subject and certain motive which the target subject are students and the certain motive is the admission. (2) The student’s
case is applied to “Pasal 170 KUHP”, (3) It is needed to work on the process of education from all parties and society to make a
conducive situation. (4) The student’s case must be handles comprehensively from the sociology, psychology and cultural point of
view.

PENDAHULUAN Diharapkan generasi mudaini memiliki sikap antara


Indonesia mengalami masa reformasi yang terjadi lain: kritis, tidak bersikap acuh, berperilaku baik dan
dengan tujuan agar demokrasi dapat berjalan seperti benar sehingga dapat dipercaya, bergerak terus dan
yang dikehendaki rakyat. Demokrasi bertujuan untuk tidak berhenti dalam perjuangan Bangsa dan Negara,
mensejahterakan rakyat, termasuk generasi muda. Untuk dan berjuang terus untuk membangun Indonesia dalam
itu dibutuhkan tekad yang keras untuk mencapai tujuan konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
demokrasi tersebut. Generasi muda saat ini, secara (Soenarko Setyodarmodj,2008:183-184). Namun
sosiologis banyak menghadapi tantangan dalam menatap berdasarkan fakta yang terjadi belakangan ini, kondisi
masa depannya, baik tantangan situasi dan kondisi dan sikap-sikap tersebut sangat sulit didapatkan dari
negara masing-masing, juga tantangan globalisasi yang generasi muda, misalnya sebagai bukti dengan adanya
bersifat mendunia. Generasi muda merupakan centered fenomena tawuran yang terjadi di kalangan pelajar.
attention bagi suatu Negara, dan juga akan mewarisi Kenyataan ini mengindikasikan sekolah yang merupakan
keberlanjutan sejarah suatu Negara. Oleh karena itu agent of change harus bertindak lebih progressive dalam
pembinaan generasi muda sangat penting untuk mendidik generasi muda. Demikian pula diperlukan peran
menyokong keberadaan Negara. Pembinaan dapat keluarga dan lingkungan yang sangat signifikan dalam
dilakukan baik secara formal maupun informal. membentuk karakter generasi muda.
Pembinaan secara formal dilakukan di sekolah-sekolah Fenomena tawuran antarpelajar tersebut memiliki
dengan mendasarkan pada kebijakan yang ketat, kompleksitas dalam kehidupan bermasyarakat, tidak
sedangkan pendidikan non formal dapat dilakukan di hanya berkaitan dengan pelajar sebagai generasi penerus
masyarakat dan keluarga. Pembinaan di sekolah akan tetapi berkaitan pula dengan kondisi keamanan
dilakukan dengan bimbingan guru di sekolah, mulai dari Negara. Hal ini karena tawuran antarpelajar terutama
jenjang Pendidikan Dasar (SD/SMP) 9 tahun dan terjadi di Jakarta sebagai ibukota Negara, menjadi
pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK) serta standarisasi keamanan di Indonesia. Lebih lanjut lagi
di Perguruan Tinggi (PT). Pada masa ini generasi muda hal ini akan mempengaruhi iklim investasi, sehingga
harus ditempa karakter dan knowledgenya agar dapat akan berdampak pula terhadap perekonomian Negara.
melanjutkan kepemimpinan mendatang. Permasalahan dalam tulisan ini adalah: (1) Mengapa

WIDYA 34 Tahun 29 Nomor 324 September - Oktober 2012


PENDIDIKAN
fenomena tawuran antarpelajar terjadi? (2) Apakah Bogor tanggal 30 Agustus 2012.
11. Ahmad Yani (16 tahun) siswa SMK Negeri 39 Jakarta Timur
akibat hukum pidana bagi pelaku tawuran antarpelajar? tanggal 30 Agustus 2012.
(3) Bagaimana fenomena tawuran antarpelajar dalam 12. Dedy Triyuda (17 tahun) siswa SMK Baskara Depok tanggal
12 September 2012.
perspektif pendidikan? Tujuan dari penulisan karya ilmiah
13. Alawy Yusianto Putra (15 tahun) siswa SMA Negeri 6 Jakarta
ini adalah untuk mengetahui sebab-sebab terjadinya Selatan tanggal 24 September 2012. (Kompas,Rabu 26 September
tawuran antarpelajar, untuk mengetahui akibat hukum 2012:1).

tawuran antarpelajar, dan untuk mengetahui fenomena Tawuran yang terjadi di Manggarai Jakarta pada tanggal 26
September 2012 antara siswa SMA Yayasan Karya 66 dan Satya
tawuran antarpelajar dalam perspektif pendidikan. Metode Bhakti yang juga menelan penganiayaan bernama Deni Januar
yang digunakan adalah studi pustaka (library research), siswa SMA Yayasan Karya 66 (Kompas,28 September 2012:1).
dimana digambarkan secara deskriptif kondisi fenomena Pada tingkat perguruan tinggi juga terjadi kekerasan. misalnya,
yang melibatkan mahasiswa Universitas Pamulang dengan polisi
tawuran dikaitkan dengan teori atau konsep yang sesuai
di Tangerang Selatan, korbannya meliputi 4 mahasiswa, 5 polisi,
dengan masalah. Data dianalisis dengan metode kualitatif, wartawan dan pedagang terluka (Kompas,Jumat,19 Oktober
yaitu suatu analisis yang dilakukan dengan menggunakan 2012:1).
kalimat atau kata-kata, tidak dengan menggunakan Berdasarkan hasil penelitian tentang tawuran yang
rumus statistik atau matematik. telah dilakukan sejak tahun1980 bahwa pada umumnya
tawuran dianggap sebagai kenakalan remaja. Beberapa
PEMBAHASAN penelitian lain melihat tawuran pelajar antara lain sebagai:
Tawuran Pelajar 1. Frustasi agresi (Retnowati Widyati,1983).
Fenomena tawuran pelajar yang merupakan bagian 2. Perilaku bermasalah dan deprivasi sosial (Djojonegoro,
dari kekerasan di masyarakat dan telah berulang terjadi. 1996).
Nampak fenomena ini berkelanjutan, dimana obyeknya 3. Kondisi anomi dan kerenggangan ikatan sosial (Hadi
sama namun pelakunya yang beralih dari dan ke generasi Suprapto,1994,1997).
selanjutnya. Berbagai segmen masyarakat berusaha 4. Gejala yuridis ( Haris dan Rais,1998).
mencari penyebabnya dan berbagai pemikiran para ahli 5. Menyoroti kelemahan penelitian sebelumnya, dimana
dikemukakan sebagai bentuk usaha mencari solusi ketidakberhasilan argumentasi teoretis peneliti karena
penyelesaiannya, namun fenomena kekerasan model penelaahan tidak memperhitungkan tawuran sebagai
pelajar ini terus saja terjadi. Korban tewas akibat tawuran gejala tingkah laku kelompok yang berbeda dengan
antarpelajar dalam kurun waktu Juli 2011 sampai dengan penyimpangan tingkah laku individu (Muhammad Mustafa
September 2012 sesuai data berikut: dan Winarni Wilman,1998).
6. Budaya premanisme, yaitu ketangguhan dan
1. Nur Arifin (17 tahun) siswa SMK Satya Bhakti Jakarta Selatan,
tanggal 27 Juli 2011. keberanian (TB.Ronny Rahman Nitibaskara, Kompas,
2. Aldino Tukul Utama (14 tahun) siswa SMP Negeri 79 Jakarta 2 Oktober 2012:6).
Pusat tanggal 12 September 2011.
3. Intan Pratiwi siswi SMA Negeri 10 Jakarta Pusat tanggal 3 Tawuran Pelajar Dalam Aspek Kriminologis
November 2011.
4. Rizal Adrian siswa SMK Budi Utomo Jakarta Pusat tanggal Tawuran antarpelajar merupakan kejahatan
24 November 2011. kekerasan terhadap orang lain. Kadish dalam Romli
5. Ahmad Rois (15 tahun) siswa SMP Negeri 60 Jakarta Pusat
tanggal 9 Februari 2012. Atmasasmita (2007:66), mengkategorikan kekerasan
6. Muhammad Ramdani (17 tahun) siswa SMK Bina Cipta Insani adalah:.............
Kabupaten Bogor tanggal 10 Maret 2012.
7. Bayu Dwi Kurniawan (16 tahun) siswa SMK Ristek Kikin “All types of illegal behavior, either threatened or actual that result
Jakarta Timur tanggal 3 Mei 2012. in the damage or destruction of property or in jury or death of an
individual.”
8. Jeremy Hasibuan (16 tahun) siswa SMA Kartika Jakarta
Jakarta Timur tanggal 3 Mei 2012.
8. Jeremy Hasibuan (16 tahun) siswa SMA Kartika Jakarta Selatan Crime of violence terdiri dari kejahatan kekerasan
tanggal 6 Agustus 2012. individual, misalnya: murder (pembunuhan), rape
9. Jasuli (15 tahun) siswa SMP Negeri 6 Jakarta Timur tanggal
29 Agustus 2012. (perkosaan), aggravated assault (penganiayaan berat),
10. Rudi Nouval Ashari (16 tahun) siswa SMK Muhammadiyah armed robbery (perampokan bersenjata), kidnapping

WIDYA 35 Tahun 29 Nomor 324 September - Oktober 2012


PENDIDIKAN
(penculikan); dan kejahatan kekerasan kolektif, misalnya: disitu, tetapi karena adanya proses imitasi tersebut,
perkelahian antar geng remaja yang menimbulkan siswa berusaha pula menciptakan keadaan keos untuk
kerusakan harta benda atau luka-luka berat atau kematian menunjukkan ketangguhan yang ada pada budaya
(Clinard & Quinney,2007:67). Berdasarkan pada jenis premanisme. Kondisi keos terjadi pula di dunia hukum
kekerasan tersebut di atas, fenomena tawuran yang mengalami perubahan, bahkan mengalami
antarpelajar merupakan bentuk kekerasan kolektif, lompatan. Perubahan yang melompat tersebut adalah
dengan spesifikasi yang berbeda dengan kekerasan perubahan revolusioner, yang sudah masuk ke dalam
lainnya berkaitan dengan subyeknya maupun motifnya kategori perubahan paradigmatic. Perubahan tersebut
Dalam kejahatan kekerasan terdapat karakteristik menepiskan urutan logis yang runtut, karena tiba-tiba
yang spesifik yaitu agresivitas. Menurut Gibbon dalam mengambil suatu titik tolak dan titik pandang yang baru
Romli Atmasasmita (2007:67), agresivitas yang disebut serta beda dengan yang digunakan sebelumnya (Satjipto
assaultive conduct, ada 2 macam yaitu (1) situational or Rahardjo,2009:61). Hal ini ditunjukkan dengan beberapa
sub-cultural in character dan (2) individualistic or peristiwa hukum yang prosesnya tidak sesuai dengan
psychogenic in character. Pada realita tawuran jalurnya, bahkan sama sekali tidak sesuai dengan
antarpelajar yang terjadi antara SMA 70 dan SMA 6 yang harapan masyarakat. Misalnya beberapa kasus bidang
sangat fenomenal, kedua macam agresivitas tersebut agraria yang penyelesaiannya tidak prorakyat, kasus
di atas ada pada pelaku. Situasional or sub cultural korupsi yang melibatkan elit politik, penegak hukum,
character ditunjukkan pada situasi rasa permusuhan di maupun eksekutif baik di tingkat daerah maupun pusat.
antara sekolah yang terjadi turun menurun mendominasi Menurut Satjipto Rahardjo (2009:21) pada tataran
penyebab tawuran antarpelajar. Persoalan individu di konsep hukum dianggap sebagai panacea, obat mujarab
antara siswa yang terlibat tawuran tidak ada, begitu pula bagi semua persoalan atau peristiwa hukum, dengan
persoalan yang nyata di antara sekolah yang terlibat catatan hukumnya merupakan supremasi. (2009:67).
(Winarini Wilman, Kompas, 26 September 2012:15). Di Namun dalam das seinnya nampak sekali perbedaan
samping itu lingkungan sekolah dan di luar sekolah atau seperti yang diharapkan. Demikian pula dalam kondisi
masyarakat ikut pula menyumbang agresivitas siswa keos, hukum yang bersifat legal formalism digunakan
untuk melakukan tawuran. Hal tersebut sesuai dengan sebagai social control guna menjamin kepastian hukum
apa yang dikemukakan oleh Ali Mustofa Yaqub, bahwa agar perilaku selalu tetap dan dapat diprediksikan (to
pendidikan dapat meliputi 3 unsur yaitu: (1) pendidikan regulate). Pada tataran konsepsi tersebut tidak dapat
keluarga, (2) pendidikan sekolah, dan (3) pendidikan diterapkan seperti idealnya dalam faktanya. Hal ini
lingkungan (Kompas,Jumat 19 Oktober 2012:6). melahirkan pemikiran negatif, yang berdampak pada
Pada posisi masyarakat atau sosial, keadaan yang perilaku para siswa, yang berakibat lanjut pada
keos mempengaruhi cara pandang tentang sesuatu pemutusan sikap untuk melakukan tawuran antarpelajar
dan akhirnya mempengaruhi perilaku. Menurut Yusraf dan bentuk-bentuk agresivitas lainnya. Menurut fakta
Amir Piliang dalam Otje Salmans & Anthony F. Susanto bahwa bentuk agresivitas yang ada pada siswa yang
(2009:101-102), bahwa kondisi keos dianggap berkenaan terlibat tawuran saling mempengaruhi. Agresivitas
dengan ketidakberaturan, dimana ada situasi kekacauan situasional dapat mempengaruhi bentuk agresivitas
(ekonomi, sosial, politik) yang tidak dapat diprediksikan individual. situasi lingkungan yang keos dapat diimitasi
polanya. Siswa mengetahui tentang keadaan-keadaan oleh pelaku tawuran. Kemudian keputusan untuk
di sekitar lingkungannya baik bersifat lokal, nasional melakukan tawuran dipengaruhi pula oleh pola pikir yang
maupun internasional yang keos, sehingga tumbuh dan berkembang akibat dari fenomena yang
mempengaruhi cara pandang dan perilakunya. Melalui diimitasi tersebut.
proses imitasi kondisi keos dan cara penyelesaiannya Situasional sebagai bentuk agresivitas pada pelaku
akan ditiru oleh siswa dan diterapkan pada saat mereka tawuran antarpelajar, disebabkan pula oleh kondisi
menghadapi situasi yang sama. Tidak hanya sampai keluarga yang tidak harmonis. Hal ini merupakan hasil

WIDYA 36 Tahun 29 Nomor 324 September - Oktober 2012


PENDIDIKAN
penelitian Winarni yang dibantah dengan adanya fakta seks. Demikian pula penelitian yang dilakukan Snell
bahwa siswa yang terlibat tawuran memiliki hubungan dan kawan-kawan dalam Soerjono Soekanto (2011:173),
dekat dengan orang tuanya (Ronny R. Nitibaskara, menemukan bahwa pemukulan istri oleh suami
Kompas,2 Oktober 2012:6). Namun lingkungan yang merupakan penunjukkan bentuk kejantanan suami. Dalam
menunjukkan ketidakharmonisan dapat diimitasi oleh kasus tawuran antarpelajar dimungkinkan ada ciri
orang-orang yang terkena dampak, bahkan dengan kepribadian dalam bentuk kekerasan berasal dari
mengetahui dan melihat saja, dapat mempengaruhi pola kebiasaan anggota yang terlibat tawuran yang
pikirnya. Selanjutnya digunakan sebagai pijakan untuk berkontribusi dalam terjadinya tawuran.
melakukan tindakan terhadap fenomena lainnya, terutama Tawuran Dalam Perspektif Hukum Pidana
pada kasus yang mirip. Hukum pidana atau criminal law merupakan salah
Individual or psycogonic character ditunjukkan oleh satu dari bagian hukum suatu Negara yang mengancam
kecerdasan siswa dalam melihat situasi dan kondisi. setiap orang dengan pidana apabila tidak mematuhi
Biasanya anak yang cerdas di sekolah yang ditunjukkan aturan yang telah ditetapkan oleh lembaga yang
oleh prestasi belajar yang tinggi, akan cerdas pula di berwenang. Sanksi yang diterapkan pada jenis hukum
lapangan. Kecerdasan ini diperlukan dalam mengatur ini bersifat strict dan memaksa. Oleh karena itu terhadap
strategi tawuran dan proses penyelamatan pada saat perbuatan tertentu hukum pidana diterapkan dengan
atau setelah terjadi tawuran (Ronny R. Nitibaskara, ultimum remidium. Artinya hukum pidana diterapkan
Kompas,2 Oktober 2012:6). Demikian pula kondisi sebagai sanksi yang terakhir, apabila ada sanksi lain
kejiwaan yang labil karena pengaruh di luar dirinya yang lebih memadai, dipersilahkan menerapkan sanksi
(lingkungan sekitar), akan berpengaruh terhadap tersebut.
keputusan untuk tawuran atau tidak. Anak yang berasal Hukum pidana terdiri dari: hukum pidana substantive
dari lingkungan yang tidak sehat, dapat melakukan (materiil) dan hukum acara pidana (hukum pidana formal).
penyimpangan perilaku, bahkan dapat menjadi psikopat. 1. Hukum pidana substantive memuat perbuatan pidana
Dengan demikian karakteristik individual dari siswa yang atau tindak pidana, syarat pemidanaan dan sanksi pidana.
terlibat tawuran dapat berpengaruh terhadap terjadinya 2. Hukum acara pidana berfungsi untuk menjalankan
fenomena tawuran tersebut. hukum pidana substantive sehingga disebut hukum
Fenomena tawuran antarpelajar berkaitan pula formal (Andi Hamzah,2008:4).
dengan perkembangan moral anak. Dalam hal ini, Seorang pelaku tindak pidana, dan dapat dijatuhi
mengikuti konsepsi perkembangan moral yang pidana memenuhi syarat sebagai berikut :......................
dikemukakan oleh Kohberg dalam Wulandari (2011:16), 1. Perbuatan: perbuatan pelaku memenuhi rumusan
bahwa terdapat 3 sikap perkembangan moral, yaitu: undang-undang, bersifat melawan hukum, dan tidak ada
(1) tahap pra konvensional, (2) tahap konvensional, (3) alasan pembenar.
tahap pra konvensional. Pada tahap konvensional 2. Orang: orang atau pelaku melakukan kesalahan,
perkembangan moral meliputi: orientasi anak manis dan mempunyai kemampuan bertanggung jawab, adanya
ketertiban hukum dan peraturan. Siswa SMA adalah bentuk kesalahan yang berupa kesengajaan (dolus) dan
anak yang ada dalam tahap konvensional.................... kealpaan (culpa), dan tidak ada alasan pemaaf (Sudarto
Individual or psycogonic character, berkaitan pula dalam Guse Prayudi, 2008:58).
dengan agresivitas yang disebabkan oleh ciri-ciri Setelah syarat penjatuhan pidana tersebut terpenuhi,
kepribadian atau etnik. Penelitian terhadap agresivitas maka pelaku akan dikenai sanksi pidana. Pidana
yang disebabkan karena kepribadian atau etnik dilakukan adalah penderitaan yang sengaja dibebankan kepada
oleh Ronald M. Berndt (1962) dalam Soerjono Soekanto orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat
(2011:173), terhadap penduduk Irian Timur dimana tertentu (Sudarto dalam Guse Prayudi,2008:59).
diketahui masyarakat tersebut mengagumi kekuasaan, Menurut Barda Nawawi Arief dalam Erdianto Effendi
kekuatan fisik, dan sifat agresif yang dihubungkan dengan (2011:12),

WIDYA 37 Tahun 29 Nomor 324 September - Oktober 2012


PENDIDIKAN
hukum pidana merupakan suatu jenis hukum yang 1. Pidana Pokok, meliputi pidana mati, penjara,
mengacu pada 3 persoalan sentral, yaitu: (1) masalah kurungan, dan pidana tutupan.
tindak pidana,(2) masalah kesalahan atau pertangung 2. Pidana Tambahan, meliputi pidana perampasan
jawaban pidana,dan (3) masalah pidana dan pemidanaan. barang tertentu, pencabutan hak-hak tertentu, dan
Berkaitan dengan proses dalam pemidanaan, pengumuman keputusan hakim.
mendasarkan pada Undang-undang Nomor 8 Tahun Sanksi tersebut tidak dapat dapat dibagi merata
1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara (to share) pada para pelaku. Di samping itu sistem
Pidana, setiap perkara melalui beberapa tahap, yaitu: pertanggungjawaban didasarkan pada kesalahan pelaku.
(1) tahap penyelidikan dan penyidikan, (2) tahap Untuk dapat dipertanggungjawabkan, seorang pelaku
penuntutan, (3) tahap pemeriksaan di sidang pengadilan, pidana harus melakukan tindak pidana dan memiliki
dan (4) tahap pelaksanaan putusan di lembaga kesalahan, yang berbentuk kesengajaan dan kealpaan.
pemasyarakat (LP). Pada setiap tahapan tersebut kecuali Bentuk kesalahan ini bersifat individu tidak mungkin
pada pelaksanaan putusan di LP, pelaku atau terdakwa bersifat kolektif.
harus mendapatkan bantuan hukum melalui penasehat Penerapan pemidanaan harus didasarkan atas
hukum. Bantuan hukum adalah upaya untuk membantu adanya alat bukti. Hukum acara pidana mengharuskan
orang yang tidak mampu dalam bidang hukum (A. Eday minimum 2 alat bukti untuk dapat seseorang dijatuhi
Kristianto dan A. Patra M.Zen,2009:33). pidana. Dalam suatu kasus keberadaan alat bukti kadang-
Dalam hukum pidana Indonesia perbuatan tawuran kadang sulit ditemukan. Fenomena tawuran antarpelajar,
antarpelajar, dimana pelaku bersifat kelompok merupakan dilakukan secara kolektif, sehingga tidak mungkin
tindak pidana yang dilakukan lebih dari satu orang disebut dipertanggungjawabkan secara individu. Para siswa
dengan bentuk penyertaan (deelneming), yang meliputi: melakukan tawuran yang berakibat kekerasan tidak
1. Pembuat, terdiri dari: pelaku (pleger), menyuruhlakukan dengan sengaja untuk melakukan hal tersebut. Banyak
(doen pleger), turut serta (mede pleger), dan penganjuran para siswa hanya sekedar ikut-ikutan, tanpa mengetahui
(uitlokker). tujuan yang sebenarnya. Pada siswa tertentu terkadang
2. Pembantu, terdiri dari: pembantuan pada saat tidak tahu menahu, bahkan kadang-kadang sedang
kejahatan dilakukan dan pembantuan sebelum kejahatan melintas saja. Korbanpun mungkin bukan kelompok
dilakukan (Erdianto Effendi, 2011:75). yang biasa ikut tawuran.
Namun ada jenis tindak pidana yang dilakukan oleh Berdasarkan gambaran tersebut, fenomena tawuran
beberapa orang, diterapkan tidak dengan bentuk antarpelajar sangat kompleks. Dalam perspektif hukum
penyertaan seperti tersebut di atas, yaitu pengeroyokan pidana terjadi bias, baik dalam penerapan pasal
yang bentuk pertanggungjawabannya kolektif, diatur maupun dalam sistem pertanggungjawabannya dan
dalam Pasal 170 Kitab Undang-undang Hukum Pidana kesulitan dalam pembuktiannya. Kalaupun secara formil
(KUHP). Pasal tersebut berbunyi: terdapat alat bukti dan pelaku dapat dijatuhi pidana,
“Barang siapa terang-terangan dan dengan tenaga bersama muncul pertanyaan apakah memang benar dia
menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang diancam
pelakunya. Jika diterapkan Pasal 170 KUHP, harus
dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.”
diperhatikan faktor lain yang mempengaruhi terjadinya
Jika kekerasan dipandang sebagai bentuk pertangung tawuran, baik yang bersifat sosiologis, psikologis maupun
jawaban individu maka dapat diterapkan pasal 351, budaya.
Pasal 338 atau Pasal 340 KUHP. Tawuran Dalam Perspektif Pendidikan
Hukum pidana Indonesia menganut bentuk Pendidikan adalah suatu proses panjang untuk
pertangungjawaban pidana bersifat individual, dan menjadikan manusia Indonesia memiliki intelektualitas
memiliki sanksi yang mengacu pada sifat individu yang tinggi, beradab dan berkarakter Indonesia. Melalui proses
dapat mempertangungjawabkannya. Berdasarkan Pasal pendidikan terjadi pengintegrasian keilmuan dan karakter
10 KUHP, jenis sanksi yaitu: yang yang akan menghasilkan generasi yang diharapkan.

WIDYA 38 Tahun 29 Nomor 324 September - Oktober 2012


PENDIDIKAN
Pendidikan yang diterapkan adalah pendidikan (3) agama, (4) budaya, (5) jender, (6) status sosial
berkarakter, karena digunakan untuk membentengi kelompok, (7) kemampuan menghadapi konflik, (8)
moralitas pelajar agar tidak terpengaruh oleh hal-hal menghindari kekerasan, (9) memberi maaf, dan (10)
negatif , (http://www.hulukepri.com/opini-/28453-pe..) memaafkan (Irfan Amalee, Kompas, Jumat 19 Oktober
sehingga dapat membangun manusia Indonesia 2012 : 1 dan 15). Tawuran antarpelajar yang terjadi saat
(http://www.setgab.go.id/artikel.5257html). Namun proses ini disebabkan oleh kegagalan sistem pendidikan (http://
pendidikan akan dipengaruhi oleh banyak hal, misalnya megapolitan.kompas.com/read/2012/10).
budaya, sosial, biaya, sumber daya manusia, dan lain- Lingkungan sekitar harus mendukung proses
lain. pendidikan dengan memberikan contoh atau tauladan
Tawuran pelajar tidak dapat terlepas dari tanggung yang baik, sehingga dapat menciptakan suasana yang
jawab dunia pendidikan, karena siswa yang terlibat kondusif bagi proses pendidikan. Namun sekarang ini,
tawuran berada pada masa pendidikan. Pendidikan tidak tauladan yang baik sangat minim, seperti maraknya
hanya dilakukan di lingkungan sekolah, tetapi dilakukan korupsi di tingkat eksekutif, legislatif dan yudikatif, yang
pula di lingkungan keluarga dan masyarakat. Sehingga dapat dicontoh oleh siswa. Demikian pula kasus narkoba,
pendidikan merupakan tangung jawab bersama, dimana kekerasan dan sebagainya, dapat mempengaruhi perilaku
di lingkungan sekolah merupakan tanggung jawab guru; siswa. Peran guru disekolah, mass media, keluarga, dan
di lingkungan keluarga merupakan tanggung jawab semua pihak sangat membantu dalam keberhasilan
keluarga; dan di lingkungan masyarakat tanggung jawab proses pendidikan siswa.
masyarakat.
PENUTUP
Fenomena tawuran antarpelajar, di kalangan
Kesimpulan
pendidikan sekolah merupakan pukulan yang sangat
1. Dalam perspektif kriminologis, kasus tawuran
berat, sehingga sangat memprihatinkan dunia pendidikan
merupakan bentuk kekerasan yang bersifat khusus yaitu
(http://www.kpai.go.id>publikasi>artikel). Pendidikan
berkaitan dengan subyeknya adalah siswa dan motifnya
merupakan pragmatisme yang berjiwa hedonis. Demikian
yang berupa pengakuan.
pula terdapat pengelompokan pendidikan, dimana ada
2. Dalam perspektif hukum pidana, terhadap kasus
kelas-kelas tertentu yang penghuninya juga dari kalangan
tawuran diterapkan Pasal 170 KUHP dengan
tertentu. Terdapat pencitraan dan kastanisasi pendidikan
memperhatikan faktor sosiologis, psikologis maupun
(Sidharta Susila, Kompas,Senin 29 Oktober 2012:6),
budaya.
yang dapat mempengaruhi kondisi dan situasi proses
3. Dalam perspektif pendidikan, dibutuhkan kerjasama
pembelajaran bagi siswa. Siswa merasa dipilih-pilih untuk
dari semua pihak dalam menciptakan suasana yang
menduduki kelas tertentu. Akibatnya terdapat
kondusif untuk berlangsungnya proses pendidikan.
penggolongan antara siswa, yang akan melahirkan gab
di antara mereka, sehingga muncul preman-preman di Saran-saran
sekolah yang terkastanisasi. Di sekolah sebaiknya Untuk meraih cita-cita bangsa, masyarakat Indonesia
diciptakan tanpa kastanisasi dan generasi yang cinta harus merubah mind set, dari masyarakat tradisional
damai. statis ke masyarakat yang kritis; merubah moral perilaku
Peran guru dan pemerintah sebagi penentu dan produktifitasnya.
kebijakan sangat signifikan. Guru sebagai implementor
dari kebijakan yang diciptakan oleh eksekutif, peran guru DAFTAR PUSTAKA
Atmasasmita Romli. Kapita Selekta Kriminologi. Refika Aditama.
tidak hanya sekedar transfer of knowledge, namun lebih Bandung.2007.
dari itu yaitu mendidik moral bangsa. Selain melalui Ball Nicolle. Reformasi di Persimpangan. Tim Imparsial.
Jakarta.2008.
pendidikan berkarakter, moral bangsa dapat dibentuk Effendi Ardianto. Hukum Pidana Indonesia Suatu Pengantar. Refika
Aditama. Bandung.2011.
melalui modul pendidikan yang berisi nilai dasar Hamzah Andi. Azas-azas Hukum Pidana. Rineka Cipta.
perdamaian, yaitu: (1) mengenal diri, (2) perbedaan suku, Jakarta.2008.

WIDYA 39 Tahun 29 Nomor 324 September - Oktober 2012


PENDIDIKAN
Kristianto Eday Agustinus & M. Zen A. Patra. Panduan Bantuan http://www.hulukepri.com/opini-/28453-pe..,3 Mei 2012.
Hukum di Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.2009. http://www.setgab.go.id/artikel.5257.html, 3 April2012.
Prayudi Guse. Seluk Beluk Hukum Pidana Yang Perlu Untuk http://megapolitan.kompas.com/read/2012/10..., 2 Oktober 2012.
Diketahui. Boya Book. Yogyakarta.2008. http://www.kpai.go.id>publikasi.>artikel.
Rahardjo Satjipto. Hukum Progresif Sebuah Sintesa Hukum Kompas, 26 September 2012.
Indonesia. Genta. Yogyakarta.2009. Kompas, 28 September 2012.
Salmans Otje & Susanto Anthon. Teori Hukum, Mengingat, Kompas, 2 Oktober 2012.
Mengumpulkan dan Membuka Kembali. Refika Aditama. Kompas, 19 Oktober 2012.
Bandung.2009. Kompas, 29 Oktober 2012
Soekanto Soerjono. Pokok-Pokok Sosiologi Hukum. Rajawali Pers. Undang-undang No, 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-undang
Jakarta.2011. Hukum Pidana.
Setyodarmodjo Soenarko. Analisa Dasar tentang Politik, Public Undang-undang No.8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang
Relations dan Budaya.Prestasi Pustaka. Jakarta. 2008. Hukum Acara Pidana
Wulandari. Handout Perkembangan Peserta Didik. STKIP-PGRI
Sukabumi. Sukabumi.2011.

PENDIDIKAN KARAKTER
DIPERLUKAN UNTUK
MENGANTISIPASI TAWURAN
PELAJAR DAN MEMBEKALI ANAK
DIDIK SEBAGAI GENERASI
PENERUS BANGSA
YANG MEMILIKI
INTELEKTUALITAS TINGGI,
BERADAB DAN BERKARAKTER
INDONESIA

WIDYA 40 Tahun 29 Nomor 324 September - Oktober 2012