You are on page 1of 4

Meningitis (Radang Otak) Ancaman Fatal bagi Bayi

Oleh : Kurnia Elka Vidyarni

Meningitis merupakan ancaman fatal bagi bayi karena angka kematian tinggi dan
dapat menyebabkan kecacatan berupa kelumpuhan, tuli, kurang kemampuan belajar,
keterbelakangan mental, dan epilepsi. Pencegahan terhadap meningitis dapat
menurunkan angka kematian pada bayi dengan signifikan, demikian yang terungkap
dalam peringatan “Hari Meningitis Seduni”a yaitu pada tanggal 22 April.

Seberapa besar kasus di Dunia dan di Indonesia ?


Menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO, pada bayi sekitar 300 kasus /100.00
pertahun dan pada bayi adalah usia puncak untuk terjadinya meningitis. Penyakit ini
juga menyumbang angka kematian yang cukup tinggi yaitu sebesar 5-10%. Menurut
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI, 2010), dari angka kasus tersebut 40% diantara
pasien meningitis mengalami gejala sisa berupa kelumpuhan, tuli, kurang kemampuan
belajar, keterbelakangan mental, dan epilepsi. Di Indonesia sendiri meningitis
menduduki urutan ke-9 dari 10 penyakit anak di 8 RS Pendidikan.

Apa itu meningitis ?


Meningitis berasal dar kata meningen yang berarti kulit atau selaput yang menutupi otak
dan itis yang berarti radang, jadi meningitis adalah penyakit radang yang mengenai
selaput otak. Penyakit ini sebagian besar disebabkan oleh adanya infeksi virus dan
bakteri (kuman) dan bisa juga disebabkan oleh fungi (jamur) dan protozoa. Penyakit ini
bisa juga disebabkan oleh berbagai penyebab non-infeksi seperti trauma kepala terbuka,
penyakit kronik (gagal jantung kongestif), maupun keganasan. Radang selaput otak ini
dapat menyebar lewat kontak jarak dekat dan dapat menimbulkan dampak kerusakan
otak parah, kehilangan pendengaran, sampai menimbulkan infeksi pada darah
septikemia yang berakhir dengan kematian.

Bagaimana bisa terjadi meningitis ?


Penyakit radang selaput otak (meningitis) disebabkan bakteri Haemophilus influenza
tipe B atau yang disebut bakteri Hib merupakan penyebab tersering menimbulkan
meningitis. Penyakit ini berisiko tinggi, menimbulkan kematian pada bayi. Bila sembuh
pun, tidak sedikit yang menyebabkan cacat. Penyakit radang otak, disebabkan adanya
bakteri/kuman. Bakteri/kuman masuk dari gigi yang membusuk atau dari makanan dan
daya tahan tubuh yang kurang, sehingga menyerang otak dan menyebabkan infeksi,
infeksi menyebabkan radang (pembengkakan) otak. Meningitis terjadi apabila bakteri
yang menyerang menjadi ganas ditambah pula dengan kondisi daya tahan tubuh yang
tidak baik, kemudian ia masuk ke aliran darah, berlanjut ke selaput otak. Nah, bila
sudah menyerang selaput otak (meningen) dan terjadi infeksi maka disebutlah sebagai
meningitis. Meningitis menyerang selaput otak. Perlu dicatat, sel-sel otak berbeda
dengan sel-sel yang terdapat pada bagian tubuh lainnya. Kalau sel kulit misalnya,
apabila tergores hingga menimbulkan luka sekalipun, lama-lama akan membentuk sel-
sel baru dan dalam beberapa hari sudah dapat pulih. Tidak demikian dengan sel otak.
Apabila sel otak rusak, ia tidak dapat tidak dapat membentuk sel baru atau
berekontruksi. Sebaliknya, sel otak tersebut akan mati, padahal otak adalah pusat
penglihatan, pendengaran, pergerakan,dll.

Bagaimana tanda-tanda meningitis ?


Ada 3 gejala awal meningitis yang harus diwaspadai yaitu awitan gejala akut (<24
jam) meliputi demam, kejang, dan penurunan kesadaran. Pada bayi biasanya ditandai
dengan bayi malas minum, lemah, tidak mau digendong, menangis tanpa alasan,
demam, muntah, pucat, muncul bintik-bintik merah, ubun-ubun menonjol, kejang,
sampai penurunan kesadaran. Menurut Darto dan Saharso, pada bayi mungkin didapat
riwayat infeksi maternal, kelahiran prematur, persalinan lama, ketuban pecah dini.

Apa yang harus dilakukan ibu ?


Sebaiknya segera rujuk ke dokter apabila menjumpai ciri-ciri seperti diatas. Dan dipusat
pelayanan kesehatan yang memadai akan di lakukan CT scan kepala sehingga tahu letak
kelainannya.

Bagaimanakah terapinya ?
Terapi bisa dalam bentuk medikamentosa ataupun pembedahan. Medikamentosa yang
pertama adalah pemberian antibiotik. Terapi empirik antibiotik untuk usia 1-3 bulan
yaitu (1) Ampisilin 200-400 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis ditambah Sefotaksim
200-300 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis, atau (2) Seftriakson 100 mg/kgBB/hari
IV dibagi dalam 2 dosis. Untuk usia >3 bulan yaitu (1) Sefotaksim 200-300
mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 3-4 dosis, atau (2) Seftriakson 100 mg/kgBB/haru IV
dibagi dalam 2 dosis, atau (3) Ampisilin 200-400 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4
dosis ditambah Kloramfenikol 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis. Jika sudah
terdapat hasil kultur, pemberian antibiotik disesuaikan dengan hasil kultur dan resistensi
(IDAI, 2010).
Terapi medikamentosa yang kedua adalah pemberian kortikosteroid. Pemberian
deksametason 0,6 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis selama 4 hari. Injeksi
deksametason diberikan 15-30 menit sebelum atau pada saat pemberian antibiotik.
Lama pengobatan tergantung pada kuman penyebab, umumnya 10-14 hari (IDAI,
2010).
Dan yang terakhir adalah pengobatan suportif diberikan apabila kejang, dapat diberikan
Diazepam 0,2-0,5 mg/kgBB/dosis IV atau 0,3-0,5 mg/kgBB/dosis rektal suppositoria,
kemudiam dilanjutkan dengan dosis rumatan (1) Fenitoin 5-7 mg/kgBB/hari dibagi
dalam 2 dosis, atau (3) Phenobarbital 4-5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis. Selain
kejang apabila pasien demam dapat diberikan antipiretik yaitu Paracetamol 10
mg/kgBB/ dosis PO 4-6 kali sehari atau Ibuprofen 5-10 mg/kgBB/dosis PO diberikan 3-
4 kali sehari dan kompres air hangat.
Pada meningitis bakterial terdapat periode kritis yaitu hari ke 3 dan hari ke 4. Tanda
vital dan evaluasi neurologis harus dilakukan secara teratur. Guna untuk mencegah
muntah dan aspirasi sebaiknya pasien dipuasakan terlebih dahulu pada awal masuk
rumah sakit. Lingkar kepala juga dimonitor setiap hari pada anak dengan ubun-ubun
besar yang masih terbuka.

Bagaimanakah pencegahannya ?
Penyakit ini dapat dicegah dengan cara : (1) Vaksinasi, Lima imunisasi wajib yang
merupakan program pemerintahan wajib berikan untuk semua bayi dan anak-anak, dan
untuk vaksin khusus meningitis yaitu vaksin Hib (Haemophilus Influenza Tipe B) tidak
hanya mencegah radang otak (meningitis), tetapi juga mencegah radang paru
(pneumonia), infeksi telinga (otitis media) dan lain-lain, 2) Hindari gigitan nyamuk,
mulai dengan membasmi sarang nyamuk, membersihkan selokan dan menyemprot
bagian-bagian rumah yang rawan ditinggali nyamuk. (3) Cuci tangan, menjaga
kebersihan diri sendiri bisa dimulai dengan membiasakan cuci tangan hingga bersih
dengan sabun atau air hangat agar terhindar dari bakteri dan virus penyakit seperti
batuk, pilek, diare, dan tidak terkecuali meningitis, (4) Disinfektan, bersinggungan
dengan penderita meningitis bisa memberikan risiko besar tertular meningitis. Untuk
itu, mencuci baju dengan bersih dan merendam dalam air hangat serta pembersihan
dengan disinfektan bisa menjadi cara yang bisa dilakukan.

Penyakit ini dapat dicegah dan dikenali tanda-tandanya sedini mungkin, oleh karena itu
sebagai ibu harus tetap waspada karena penyakit ini sangat fatal apabila menyerang bayi
atau anak-anak...