You are on page 1of 2

BAB IV

PEMBAHASAN

Pasien merasa keluar air-air sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit, bening tidak
berwarna. Keluar air air dirasakan sangat banyak sampai membasahi celana. Pasien datang ke
RSUP Persahabatan mengaku hamil 9 bulan, HPHT 3/1/2017, taksiran persalinan 10/10/2017 ~
38 minggu. Berdasarkan anamnesis pasien sedang hamil dan mengeluhkan keluarnya air-air.
Keluarnya air-air dapat dicurigai akibat ketuban pecah. Karena pasien belum masuk waktu
persalinan maka pasien dikatakan mengalami ketuban pecah dini. Pasien juga mengatakan
memiliki riwayat keputihan yang tidak diobati. Keputihan merupakan salah satu factor yang
menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini. Anamnesis didukung dengan pemeriksaan fisik
status obstetric pada pasien yaitu pada inspekulo ditemukan adanya pooling (genangan air
ketuban) dan tes valsava positif. Temuan tersebut menunjukkan pasien mengalami ketuban pecah
dini.

Pasien mengatakan gerak janin aktif, pasien merasa mules namun jarang, lendir darah (+).
Anamnesis menunjukkan pasien belum masuk dalam keadaan inpartu dimana mules juga masih
jarang serta belum ada pembukaan. Ketuban pecah dini dapat menyebabkan resiko infeksi
intrauterin karena ketuban merupakan barrier yang melindungi janin dari infeksi. Selain itu
ketuban pecah dini juga dapat menyebabkan partus prematur yang meningkatkan angka
morbiditas neonatal.

Berdasarkan HPHT dan hasil USG, usia kehamilan pasien sudah masuk aterm yaitu 38
minggu. Tatalaksana ketuban pecah dini pada usia kehamilan lebih dari 37 minggu adalah
dengan induksi persalinan. Pasien diinduksi karena belum terlihat tanda inpartu dimana pada
pemeriksaan fisik belum ada pembukaan, portio masih kenyal dan ketebalan 3 cm. Pasien
dilakukan induksi berdasarkan kategori CTG. CTG masuk dalam kategori 1 maka dapat
dilakukan induksi dengan misoprostol. Kategori 1 merupakan kategori normal pada CTG dimana
frekuensi dan variabilitasnya dalam batas normal dan tidak ada deslerasi.

Indikasi dilakukan induksi salah satunya adalah ketiban pecah dini seperti yang dialami
pasien. Pada pasien tidak ditemukan adanya resiko CPD dan tidak ada malpresentasi pada janin
sehingga induksi untuk persalinan pervaginam dapat dilakukan. Misoprostol merupakan PGE1
sintetik dimana memiliki fungsi dalam pematangan serviks dan meningkatkan kontraksi uterus.
Misoprostol termasuk jenis induksi secara farmakologi. Pasien diberikan misoprostol
pervaginam dengan dosis 25 mcg per 6 jam sambil dinilai kemajuan persalinan dan kondisi
janin. Pasien diberikan misprostol pukul 10.00 dan pemberian selanjutnya akan diberikan pukul
16.00. Pukul 14.40 pasien pasien merasa mules mules ingin mengejan, saat dilakukan
pemeriksaan dalam sudah tampak bloody shaw dan pembukaan sudah lengkap siap untuk
dilakukan pimpinan partus pervaginam. Lahir bayi laki-laki 2950 gram, panjang 50 cm AS: 9/10,
ruptur perineum grade II, kontraksi uterus baik.