You are on page 1of 25

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang maha kuasa, atas kasih dan
karunia dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyusun Asuhan Keperawatan Pada Klien
Anak N. T. Dengan Gangguan Sistem Pencernaan “Gastroenteritis” di Ruangan Debora RSU
Bethesda Tomohon.

Penulis menyadari bahwa penyusunan Asuhan Keperawatan ini masih jauh dari
sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan masukan-masukan juga kritikan yang sifatnya
membangun sehingga Asuhan keperawatan ini dapat tersusun dengan lebih baik lagi.

Demikian Asuhan Keperawatan ini, kiranya dapat bermanfaat bagi siapa saja yang
membacanya. Terima kasih, semoga Tuhan memberkati kita semua.

Tomohon, April 2012

Penulis

1
Daftar isi

Kata pengantar …………………………………………………………………...1


Daftar isi ………………………………………………………………………... 2
Landasan teori ………………………………………………………………….. 3
Konsep dasar …………………………………………………………………… 3
a. Definisi …………………………………………………………………. 3
b. Etiologi ………………………………………………………………..... 3
c. Anatomi fisiologi ………………………………………………………...4
d. Pastofisiologi ………………………………………………………….... 6
Bagan patofisiologi dan penyimpangan KDM ………………………………......8
Asuhan Keperawatan …………………………………………………………….9
- Pengkajian.……………………………………………………………………9
- Analisa data ………………………………………………………………....16
- Diagnosa keperawatan ………………………………………………………17
- Tabel rencana, tindakan, dan evaluasi keperawatan ………………………...18
- Catatan perkembangan ……………………………………………………....21
Daftar pustaka …………………………………………………………………...25

2
LANDASAN TEORI
GASTROENTERITIS

A. Konsep Dasar
1. Definisi
Gastroenteritis adalah kumpulan sindroma yang terdiri dari diare dan muntah
yang dapat juga sebagai manifestasi dari inflamasi mukosa lambung dan usus halus, dan
juga dapat diartikan sebagai buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih
banyak dari biasanya (normal 100-200 ml) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah
cair (setengah padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi yang meningkat (Mansjoer.
A. dkk, 1999).
Menurut WHO (1980), Gastroenteritis adalah BAB encer atau cair lebih dari 3
kali dengan atau tanpa darah atau tanpa lendir dalam tinja. Gastroenteritis atau diare akut
adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat dalam beberapa jam
sampai 7 atau 14 hari. (www.wikipedia.com/gastroenteritis, 2010)
2. Etiologi
a. Faktor Infeksi
- Bakteri : Salmonella, Shigella, Escherichia coli, Yersinia
Enterocolitica
- Virus : Rotavirus, Enteric adenoviruses, Norwalk agent
- Parasit : Entamoeba Histolytica, Giardia lamblia, Cryptosporidium
b. Bukan faktor infeksi
- Alergi makanan : susu, protein
- Gangguan metabolic atau malabsorbsi
- Iritasi langsung pada saluran pencernaan
- Obat-obatan : antibiotik
- Penyakit usus : Colitis Ulcerative, Chron disease, Enterocolitis.
- Psikologis : Emosional atau stress. (Mansjoer A. 1999)

3
3. Anotomi Sistem Pencernaan

Gambar Anatomi Sistem Pencernaan


http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/27/
Digestive_system_diagram_numbered.svg/343px-
Digestive_system_diagram_numbered.svg.png, 2010.

4
4. Patofisologi
Gastroenteritis terutama disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri secara
langsung atau efek dari neurotoxin yang diproduksi oleh bakteri. Gastroenteritis akibat
infeksi terutama ditularkan secara vekal oral. Ini disebabkan masukan makanan atau
minuman yang terkontaminasi. Mikroorganisme pathogen masuk dimana
mikroorganisme ini membawa toksin sehingga menimbulkan kerusakan pada dinding
usus dan mukosa lambung yang mengakibatkan terjadinya infeksi.
Infeksi ini menimbulkan peningkatan produksi air dan garam kedalam lumen usus dan
juga peningkatan mortilitas yang menyebabkan sejumlah besar makanan yang tidak
dicerna dan cairan dikeluarkan, dan terjadi peningkatan frekuensi defekasi (diare).
Faktor penentu terjadinya diare adalah faktor penyebab dan penjamu (host). Faktor host
adalah kemampuan pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme yaitu faktor daya tahan
tubuh atau linngkungan lumen saluran cerna seperti keasaman lambung, mortilitas
lambung. Faktor penyebab yang mempengaruhi antara lain daya penetrasi yang merusak
sel mukosa lambung. Kemampuan memprodukso toksin yang mempengaruhi sekresi
cairan diusus serta daya lekat kuman, kuman tersebut membentuk koloni-koloni yang
dapat merangsang diare. Dengan diare yang hebat, sejumlah besar cairan dan elektrolit
dapat hilang dan menimbulkan dehidrasi, hiponatremi dan hipokalemi.(Sylvia A. Price
& Lorraine M. Wilson, 2006)

a. Manifestasi Klinis
Pasien dengan diare akut akibat infeksi sering mengalami nausea, muntah, nyeri
perut sampai kejang perut, demam dan diare. Terjadinya renjatan hipovolemik harus
dihindari. Kekurangan cairan menyebabkan pasien merasa haus, lidah kering, tulang pipi
menonjol, turgor kulit menurun, serta suara menjadi serak. Gangguan biokimiawi seperti
asidosis metabolik akan menyebabkan frekuensi hipovelemik berat maka denyut nadi
cepat (lebih dari 120 kali/menit), tekanan darah menurun sampai tak terukur, pasien
gelisah, muka pucat, ujung-ujung ekstremitas dingin dan kadang sianosis. Kekurangan
kalium dapat menimbulkan aritmia jantung. Perfusi ginjal dapat menurun sehingga

5
timbul anuria, sehingga bila kekurangan cairan tak segera diatasi dapat timbul penyulit
berupa nekrosis tubular akut.
Secara klinis diare karena infeksi akut dibagi menjadi dua golongan. Pertama,
koleriform, dengan diare yang terutama terdiri atas cairan saja. Kedua, disentriform,
pada diare didapatkan lendir kental dan kadang-kadang darah.

b. Test Diagnostik (Mansjoer A. 1999)


Pemeriksaan laboratorium
- Urine
- Analisis gas darah
- Elektrolit
- Tinja

c. Penatalaksanaan
Pada orang dewasa, penatalaksanaan gastroenteritis terdiri atas :
1. Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan.
Empat hal penting yang perlu diperhatikan adalah :
a. Jenis cairan
Pada gastroenteritis dapat diberikan noralit. Diberikan cairan Ringer laktat,
bila tak tersedia dapat diberikan cairan NaCl isotonik ditambah satu ampul
Na bikarbonat 7,5 % 50 ml.
b. Jumlah cairan
Jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang
dikeluarkan.
c. Jalan masuk cairan atau cara pemberian cairan
Rute pemberian cairan pada orang dewasa dapat dipilih oral atau IV
d. Jadwal pemberian cairan
Rehidrasi dengan perhitungan kebutuhan cairan berdasarkan metode
Daldiyono diberikan pada 2 jam pertama. Selanjutnya dilakukan kembali

6
status hidrasi untuk memperhitungkan kebutuhan caiaran. Rehidrasi
diharapkan terpenuhi lengkap pada akhir jam ke-3.
2. Identifikasi penyebab gastroenteritis karena infeksi
Secara klinis, tentukan jenis diare koleriform atau disentriform. Selanjutnya
dilakukan pemeriksaan penunjang yang terarah.
3. Terapi simtomatik
Obat antidiare bersifat simtomatik dan diberikan sangat hati-hati atas
pertimbangan yang rasional.
4. Terapi definitif
Pemberian edukasi yang jelas sanagt penting sebagai langkah pencegahan.
Higiene perorangan, sanitasi lingkungan, dan imunisasi melalui vaksinasi sangat
berarti.

d. Komplikasi
a. Dehidrasi berat, ketidakseimbangan elektrolit.
b. Syok hipovolemik yang terdekompensasi (hipotensi, asidosis metabolic,
perfusi sistemik buruk).
c. Kejang demam.
d. Bakteremia.

e. Diagnosa Banding
i. Gastritis
ii. Tukak peptik
iii. Tumor lambung
iv. Collitis ulserative
v. Collitis Granulomatus (Crohn’s Disease)
vi. Carcinoma Colon

7
Patofisiologi Dan Penyimpangan KDM

Microorganisme patogen masuk


kedalam sistem pencernaan

Peningkatan produksi air dan garam


Peningkatan asam Peradangan pada lambung kedalam lumen usus dsan juga
lambung dan usus penigkatan motibilitasa

Merangsang serabut Sejumlah makanan tidak


saraf dicerna dan cairan
dikeluarkan
Diteruskan ke Peningkatan frekuensi
thalamus defeksi

Mual, muntah Diare


anoreksia

Perubahan pola
Perubahan pola eliminasi
Nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

8
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK N. T DENGAN
GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN ”BRONKITIS”
DI RUANGAN DEBORA RSU BETHESDA
TOMOHON

1. PENGKAJIAN
A. Identitas Klien
Nama anak : G. D
Umur : 1 tahun 1 bulan
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Kristen Protestan
Alamat : Wianlapi, Kec. Tareran
Suku/Bangsa : Minahasa / Indonesia
No RM : 191345
Tanggal masuk RS : 19 April 2012
Tanggal pengkajian : 24 April 2012
Diagnosa Medis : Bronkitis

B. Identitas Orang Tua


Ayah : Tn. H. D
Umur : 30 tahun
Agama : Kristen Protestan
Pendidikan : S1
Pekerjaan : Swasta
Ibu : Ny. L. R
Umur : 29 tahun
Agama : Kristen Protestan
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT

9
C. Keluhan Utama
Panas dan batuk

D. Riwayat kesehatan
1. Riwayat Penyakit Sekarang
Ibu klien mengatakan pada hari rabu 18 April 2012 badan klien teraba panas, kemudian
ibu klien memberi obat sanmol dan mengompres klien. Klien dibawa ke rumah sakit
pada hari kamis 19 April 2012 pada sore harinya. Kliem masuk melalui UGD, dan oleh
dokter dianjurkan untuk rawat inap di ruangan perawatan anak RSU Bethesda Tomohon.
Saat perawatan di RS, ibu klien mengatakan anak mulai batuk.
2. Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien pernah sakit batuk dan beringus sebelumnya, tapi klien belum pernah dirawat inap
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu klien mengatakan dalam keluarga ada penyakit hipertensi ( HPT )
4. Riwayat Alergi
Klien tidak ada alergi makanan, maupun obat-obatan.

E. Imunisasi
Umur Jenis Imunisasi
7 hari Hepatitis B 0
1 bulan BCG , Polio 0
2 bulan DPT , Polio 1
3 bulan DPT , Polio 2
4 bulan DPT , Polio 3
9 bulan Campak

10
F. Riwayat Tumbuh Kembang
1. Pertumbuhan Fisik
Lahir pada kehamilan : bulan ke 7 (prematur)
Berat badan waktu lahir : 1,8 kg
Panjang badan waktu lahir : 44 cm
Berat badan sekarang : 6,8 kg
2. Perkembangan tiap tahap
Berguling : 5 bulan
Merangkak : 8 bulan
Duduk : 9 bulan
Berbicara : 8 bulan
Makan sendiri : belum
Berdiri : belum
Berjalan : belum

G. Riwayat Spiritual
Klien sering dibawa ke ibadah-ibadah, baik mingguan ataupun ibadah lainnya.

I. Riwayat Psikososial
a. Keadaan Emosaional : Respon sedih dan takut : menangis
Respon gembira : tertawa
b. Interaksi sosial : Hubungan dengan keluarga : baik
Hubungan dengan orang lain : kurang baik
J. Reaksi Hospitalisasi
1. Pemahaman keluarga tentang sakit dan rawat inap
Orang tua membawa anaknya ke RS karena anaknya butuh pertolongan segara, dan
dokter menceritakan keadaan klien saat ini, dengan demikian kondisi klien dapat
diketahui lebih jelas oleh keluarga.
2. Pemahaman anak tentang sakit dan rawat inap

11
Dalam ruang perawatan, klien lebih sering menangis daripada di rumah
K. Pola Kebiasaa Sehari-hari
1. Nutrisi dan Cairan
Saat di rumah : Makan : 3 x sehari, jenis : bubur nasi, ikan, sayur
Nafsu makan baik.
Minum : ASI sesuai kebutuhan dan air putih 3x sehari
Saat dikaji : Makan : Klien sudah makan siang, pola makan 3x sehari
Minum : Sering diberi ASI sesuai kebutuhan
2. Eliminasi
Saat di rumah : BAB frekwensi 1 x / hari, konsistensi lembek, warna
kuning.
BAK : Di rumah menggunakan pempers
Saat dikaji : Klien sudah BAB 1x dengan konsisten lembek kuning
BAK : Klien menggunakan pempers

3. Pola istirahat dan tidur


Saat di rumah : Tidur malam : 10 - 12 jam/sehari
Tidut siang 3 - 4 jam/hari
Saat dikaji : Klin belum tidur

4. Personal hygiene
Saat di rumah : Klien dibersihkan oleh ibunya dengan menggunakan kain
basah
Saat sakit : Klien belum dilakukan personal hygiene.
5. Aktivitas bermain
Saat di rumah : Klien sering bermain dengan anggota keluarga lainnya
Saat dikaji : Klien terbaring di tempat tidur

12
J. Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan umum
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang, klien juga tampak lemah
Kesadaran : Compos Mentis
Antropometri : BB : 6,8 kg
Lingkar lengan : 13 cm
Lingkar badan : 44 cm
Lingkar kepala : 42 cm
2. Tanda-tanda vital
Vital Sign : R : 32 x SB : 36,90 C N : 128 x/mnt

3. Pemeriksaan Persistem
a. Sistem Kardiovaskuler
Inspeksi : Klien tidak sianosis
Auskultasi : Terdengar bunyi jantung S1 lup dan S2 dup
Palpasi : Tidak ada kardiomegali, dan tidak ada nyeri tekan
Frekuensi nadi cepat tapi lemah
b. Sistem Pernapasan
Inspeksi : Hidung kebersihan cukup dan tak ada polip. Pergerakan dada
normal saat bernapas, pola napas teratur. Tampak pernapasan
perut. Klien sering batuk
Auskultasi : Tidak terdengar suara napas yang abnormal, seperti wheezing
Saat auskultasi dengan stetoskop terdengar ronchi
c. Sistem Pencernaan
Inspeksi : Mulut lembab dan kebersihan cukup, tak ada karies atau
kelainan lain pada mulut. Perut datar dan lemas, tidak tampak
pembengkakan
Palpasi : Tidak teraba massa yang abnormal dan tak ada nyeri tekan
Perkusi : Terdengar bunyi timpani

13
d. Sistem Muskuloskeletal
Inspeksi : Postur tubuh normal. Ekstremitas atas dan bawah simetris kiri
dan kanan, pergerakan ekstremitas baik walau agak lemah.
Kekuatan otot 3. Terpasang IVFD D5 – 1/4 NS di kaki kanan.
Jari-jari tidak clabing finger, waktu pengisian kapiler < 3 detik
e. Sistem Endokrin
Inspeksi : Pigmentasi kulit, rambut, dan kuku normal
Palpasi : Tekstur kulit halus. Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar
tirod
f. Sistem Integumen
Inspeksi : Warna kulit normal, tidak sianosis. Tidak ada kelainan kulit
Palpasi : Suhu di kulit teraba hangat. Tekstur kulit baik.
Turgor kulit dalam batas normal < 3 detik. Tidak ada kelainan
dan odema
g. Sistem Persarafan
Inspeksi : Respon terhadap lingkungan baik. Klien tidak kejang dan tremor
h. Sistem Pengindraan
Inspeksi : Mata simetris kiri dan kanan, konjungtiva merah muda, sklera
tidak ikterus. Telinga simetris kiri dan kanan, dan tidak ada
kelainan, pendengaran baik. Hidung kebersihan cukup, tak ada
polip.

F. Pemeriksaan Laboratorium
Laboratorium tanggal 12-04-2012
Malaria : (-) negatif
LED : 105
Hb : 9,9 gr %
Leukosit : 40.500 / mm3
HJL : N. Segmen : 81 %

14
Limfosit : 19 %
Trombost : 516.000 / mm3

G. Terapi medik
Taximax :
Paracetamol :
Luminal :
Inj. Dexametasol :

Pengelompokan data
DS :
- Orang tua mengatakan badan anak teraba panas

DO :
- Kesadaran compos mentis
- Klien batuk
- SB : 36,90 C R : 32x / mnt N : 128 x / mnt

Analiasa data

15
No Data Penyebab Masalah
1. DS : Masuknya mikroorganisme ke Perubahan pola
dalam sistem pencernaan
- Orang tua mengatakan eliminasi BAB
anak BAB cair 3x
Mikroorganisme berkembang
DO :
dalam usus
- Klien BAB dengan
konsistensi cair
Hypersekresi air dan elektrolit

Pergeseran air dan elektrolit ke


rongga usus

Diare

Perubahan pola eliminasi BAB

2. DS : Diare Nutrisi kurang dari


- Orang tua mengatakan kebutuhan tubuh
anak muntah ± 5x Distensi abdomen
DO :
- Klien mual dan muntah Mual dan muntah
- Klien tampak lemah
- Nyeri tekan ulu hati Nafsu makan kurang
- BB 12 kg
Nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh

Diagnosa keperawatan

16
1. Perubahan pola eliminasi BAB b.d adanya proses infeksi di saluran cerna, yang ditandai
dengan
- Orang tua mengatakan anak BAB cair 3x
- Klien BAB dengan konsistensi cair

2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d absorbsi nutrisi yang kurang adekuat, yang
ditandai dengan
- Orang tua mengatakan anak muntah ± 5x
- Klien mual dan muntah
- Klien tampak lemah
- BB : 12 kg

17
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANAK N. T. DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN
“GASTROENTIRITIS” DI RUANGAN ANAK DEBORA RSU BETHESDA TOMOHON

Perencanaan Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional Implementasi Evaluasi

12-04-2012 Tgl: 12-04-2012 12-04-20121

1. Perubahan pola eliminasi BAB Pola eliminasi kembali - Beri banyak minum - Menjaga Memberikan anak S:
berhubungan dengan adanya normal dengan kriteria air setiap kali BAB keseimbangan cairan minum air hangat ± Orang tua klien
proses infeksi, ditandai dengan hasil : dalam tubuh, 300cc mengatakan pola
DS : - Pola eliminasi 1x / sehubungan dengan eliminasi BAB
- Orang tua mengatakan hari, konsistensi proses penyakit sudah berkurang,
anak BAB cair 3x lembek - Beri makanan - Memudahkan proses Memberi klien tapi konsistensinya
DO : rendah serat dan absorbsi nutrisi di makanan lunak masih cair
halus
- Klien BAB dengan dalam usus O:
konsistensi cair - Observasi tanda- - Untuk mengetahui Mengobservasi Klien masih BAB
tanda dehidrasi kondisi cairan tubuh tanda-tanda dehidrasi cair, dan masih
klien sehubungan mengeluh nyeri
dengan proses apabila ditekan di
penyakit bagian ulu hati
- Motivasi pada - Agar klien tidak asal Memotivasi pada A:
orang tua untuk mengkonsumsi anak dan orang tua Masalah belum
pemberian jenis

18
makanan makanan, apalagi untuk mengurangi teratasi.
yang banyak konsumsi makanan / P:
mengandung gula minuman yang Lanjutkan intervensi
banyak mengandung keperawatan
gula
- Observasi frekuensi - Untuk memantau Mengobservasi
BAB kestabilan pola frekuensi BAB
eliminasi
- Kolaborasi dengan - Kolaborasi dengan Berkolaborasi
dokter untuk dokter untuk dengan dokter untuk
pemberian obat menentukan pemberian
pengobatan yang pengobatan
tepat
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan Pola nutrisi terpenuhi - Kaji makanan apa - Dapat menetukan Menanyakan S:
tubuh b.d absorbsi nutrisi yang dengan kriteria hasil: yang diberi pemberian jenis makanan apa yang Orang tua klien
kurang adekuat, ditandai - Klien tidak lagi makanan yang tepat ingin dimakan mengatakan klien
dengan mual dan muntah - Berikan makanan - Menenangkan Memberikan klien masih muntah
DS : - Kondisi klien sedikit tapi sering peristaltik usus, makan dan minum O:
- Orang tua mengatakan kembali fit meningkatkan sedikit-sedikit tapi Klien masih mual

19
anak muntah ± 5x - Pola makan dan kemampuan untuk sering dan muntah, tapi
DO : minum kembali makan kondisinya sudah
- Klien mual dan muntah normal - Libatkan orang tua - Agar pemberian Memberikan lebih baik dari
- BB saat sakit : 12 kg - Berat badan dalam pemberian makanan yang telah makanan oral secara sebelumnya
- Nyeri tekan pada ulu hati meningkat makanan ditetapkan dapat bertahap, serta A:
- Makan minum kurang berjalan dengan baik memotivasi orang Masalah belum
dan diketahui oleh tua untuk pemberian teratasi
keluarga makanan secara P:
bertahap Lanjutkan intervensi
- Observasi intake - Dapat memantau Menanyakan apakah keperawatan
dan output cairan kondisi cairan tubuh klien masih sering
sehubungan dengan muntah
proses penyakit
- Observasi TTV - Memantau kondisi TTV : R : 24x/mnt
umum klien N : 130x/mnt
SB: 37,70 C
- Kolaborasi dengan - Untuk menentukam Berkolaborasi
dokter untuk pemberian obat yang dengan dokter untuk
pemberian terapi tepat pengobatan

20
CATATAN PERKEMBANGAN

Tanggal No. DX Implementasi Evaluasi

13-04- 1. Jam : 16.00 Jam : 20.08


Memberi anak minum air hangat ± S:
2012
300cc Orang tua mengatakan pola
BAB klien sudah normal, dan
Jam: 16.15 tidak lagi cair
Memberikan klien makanan lunak O:
Klien BAB 1x dalam sehari,
Jam: 16.16 kosnsitensinya lembek
Mengobservasi tanda-tanda dehidrasi A:
- Masalah teratasi
Jam: 16.20
Memotivasi pada klien dan orang tua P:
agar mengurangi konsumsi makanan -
yang manis

Jam: 16. 40
Mengobservasi frekuensi BAB

Jam: 18.00
Melayani terapi oral

2. Jam: 15.40 Jam : 20.09


Mengkaji makanan apa yang diberi S:
- Klien masih mengeluh mual dan
Jam 15.45 muntah
Menimbang berat badan klien O:
BB : 12,5 kg - Nafsu makan sudah meningkat,
tapi klien masih mual dan

21
Jam: 17.30 muntah
Melayani makanan sedikit tapi sering - BB mulai meningkat : 12,5 kg
A:
- Masalah teratasi sebagian
Jam : 17.35 P:
Memotivasi pada orang tuan untuk - Lanjutkan intervensi
memberi makan klien sedikit-sedikit keperawatan
tapi sering

Jam : 17. 51
Menanyakan apakah klien masih
muntah

Jam : 16.17
Mengobservasi TTV :
SB : 37,60 C N : 128x/mnt
R : 24x/mnt

Jam 18.00
Melayani terapi oral

22
14-04- 1. Jam : 16.00 Jam : 20.12
2012 Memberi anak minum air hangat ± S:
300cc Orang tua mengatakan pola
BAB klien sudah normal, dan
Jam: 16.15 tidak lagi cair
Memberikan klien makanan lunak O:
Klien BAB 1x dalam sehari,
Jam: 16.16 kosnsitensinya lembek
Mengobservasi tanda-tanda dehidrasi A:
- Masalah teratasi
Jam: 16.20
Memotivasi pada klien dan orang tua P:
agar mengurangi konsumsi makanan -
yang manis

Jam: 16. 40
Mengobservasi frekuensi BAB

Jam: 18.00
Melayani terapi oral

2. Jam: 15.40 Jam : 20.20


Mengkaji makanan apa yang diberi S:
Orang tua mengatakan klien
Jam 15.45 sudah tidak lagi muntah
Menimbang berat badan klien O:
BB : 13,5 kg - Klien sudah tidak muntah
- Nafsu makan sudah normal
Jam: 17.30 - BB : 13,5 kg

23
Melayani makanan sedikit tapi sering A:
- Masalah teratasi
Jam : 17.35 P:
Memotivasi pada orang tuan untuk -
memberi makan klien sedikit-sedikit
tapi sering

Jam : 17. 51
Menanyakan apakah klien masih
muntah

Jam : 16.17
Mengobservasi TTV :
SB : 37,60 C N : 128x/mnt
R : 24x/mnt

Jam 18.00
Melayani terapi oral

24
Daftar pustaka

Cecil L. Betz. Linda A Sowden. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik.


RGC: Jakarta

Doenges. E. Marilynn, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medical


Bedah. EGC : Jakarta

Suzanne C Smeltzer. 2001. Keperawatan Medical Bedah Brunner dan


Suddarth. EGC : Jakarta

25