You are on page 1of 10

1.

Artikel ilmiah Hasil Penelitian


Penulisan artikel ilmiah menggunakan sistematika tanpa angka atau abjad
dan isi artikel ilmiah disusun mengikuti urutan sebagai berikut:

JUDUL

Judul artikel ilmiah hendaknya ringkas, informatif, lengkap dengan jumlah


kata maksimum 20 kata. Judul artikel memuat peubah yang diteliti atau
kata kunci yang menggambarkan masalah yang diteliti

Nama Penulis

Nama penulis artikel ditulis tanpa disertai gelar akademik atau gelar lain
apapun. Alamat penulis dan lembaga tempat bekerja ditulis langsung di
bawah nama penulis.

ABSTRAK

Abstrak berisi pernyataan ringkas dan padat tentang ide yang paling
penting.Abstrak memuat tujuan dan hasil penelitian yang paling menonjol
serta jika dianggap perlu,kesimpulan dan implikasinya. Abstrak ditulis
dalam bahasa Indonesia dan Inggris dengan panjang maksimum 250 kata
dan ditulis dalam satu paragraf.

Kata Kunci

Kata kunci ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris,Kata kunci ini
merupakan istilah dasar pemikiran gagasan dalam laporan asli berupa kata
tunggal atau gabungan kata dengan jumlah 3-5 buah.

PENDAHULUAN

Uraian dalam pendahuluan memuat latar belakang,pokok-pokok pemikiran


pentingnya penelitian atau hipotesis (jika ada) serta tujuan dan manfaat
penelitian.Bagian ini dapat disertai acuan pustaka,disajikan secara ringkas,
padat dan langsung mengena pada masalah yang diteliti.

METODE

Metode menguraikan cara pengumpulan, sumber dan analisis data. Dalam


bagian ini dapat dijelaskan perihal lokasi dan lama penelitian, rancangan,
model yang digunakan, peubah serta cara penafsiran dan penyimpulan
hasil penelitian. Penelitian yang menggunakan alat dan bahan perlu ditulis
spesifik.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dan pembahasan disajikan secara ringkas dan jelas serta dapat
dibantu dengan tabel, gambar dan grafik atau foto yang diberi komentar.
Bagian ini memuat hasil analisis data bukan data mentah atau analisis
ragamnya, sedangkan proses analisisnya tidak disajikan. Pembahasan
bertujuan untuk menjelaskan dan menjawab masalah penelitian atau
menunjukkan tujuan yang sesuai dengan permasalahan penelitian.Bagian
ini dapat pula memuat penafsiran temuan-temuan untuk memadukan
temuan penelitian ke dalam kumpulamn pengetahuan yang
mapan.Pembahasan selalu mengacu kepada pustaka yang terkait.

KESIMPULAN

Kesimpulan bukan sekedar hasil penelitian yang ditulis ulang tetapi


merupakan makna yang dapat ditarik dari hasil penelitian.Kesimpulan
menyajikan ringkasan dari uraian pada bagian hasil dan pembahasan dan
disajikan dalam bentuk essai bukan bentuk numerik.Kesimpulan yang baik
merupakan jawaban dari tujuan penelitian.

UCAPAN TERIMA KASIH

Uraian ucapan terima kasih biasanya ditujukan kepada sumber dana dan
kelembagaan sponsor, serta pihak lain khususnya yang membantu jalannya
penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Daftar pustaka harus lengkap, sesuai dengan acuan dan harus sudah
disebut di dalam batang tubuh artikel ilmiah.

LAMPIRAN (bagi yang memerlukan)

Lampiran biasanya memuat bermacam hal yang dapat membantu


memperjelas isi naskah ilmiah tetapi jika dimasukkan ke dalam naskah
akan mengganggu kejelasan isinya.
HUBUNGAN KEBIASAAN MEMBACA DEKAT DENGAN KEJADIAN
MIOPIA PADA ANAK USIA SEKOLAH YANG BEROBAT KE KLINIK
MATA RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO

Oleh:

Syukron Chalim

G1A008023

Fakultas Kedokteran Unsoed

ABSTRAK

Prevalensi miopia di seluruh dunia mengalami peningkatan dalam beberapa


dekade, terutama pada anak usia sekolah. Membaca merupakan kegiatan yang
sering dilakukan oleh para pelajar. Namun, kegiatan membaca jarak dekat (jarak
baca kurang dari 30 cm) berhubungan dengan kejadian miopia akibat akomodasi
mata yang terus menerus. Penelitian ini menggunakan rencangan penelitian case
control dengan jumlah masing-masing sampel kasus dan kontrol 31 pasien. Hasil
analisis bivariat uji Chi Square (X2) menunjukkan bahwa terdapat hubungan
antara kebiasaan membaca dekat dengan kejadian miopia dengan nilai p=0,000;
CC- 0,460 dan OR= 10,185. Didapatkan kesimpulan bahwa terdapat hubungan
kebiasaan membaca dekat dengan kejadian miopia pada anak usia sekolah yang
berobat ke Klinik Mata RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dengan
kekuatan hubungan sedang. Anak dengan kebiasaan membaca dekat memiliki
risiko 10,185 kali lebih besar untuk menderita miopia dibanding anak dengan
kebiasaan membaca normal.

PENDAHULUAN

Kelainan refraksi mata, seperti miopia, hipermetropia, dan astigmat merupakan


penyebab tersering penurunan tajam penglihatan dan menurut WHO (2009),
akibat kelainan refraksi yang tidak dikoreksi tersebut, sekitar 153 juta orang di
seluruh dunia mengalami gangguan penglihatan seperti ambliopia hingga
kebutaan. Kelainan refraksi yang paling banyak dijumpai adalah miopia yang
prevalensinya meningkat terutama pada anak usia sekolah (6-18 tahun). Hasil
penelitian. 10% dari 66 juta anak sekolah di Indonesi mengalami kelainan
refraksi, penelitian di Yogya sekitar 6,39%. Membaca merupakan kegiatan
kegiatan yang dilakukan sehari-hari oleh anak sekolah. Pernah dilakukan
penelitian oleh Ip et al. (2008) tentang kegiatan membaca dekat (<30 cm) secara
terus menerus (lebih dari 30 menit) berhubungan secara bermakna (p=0,0003)
dengan kejadian miopia. Ketika seseorang melakukan kegiatan membaca jarak
dekat dalam waktu yang lama akan menyebabkan mata melakukan akomodasi
agar bayangan benda dapat difokuskan tepat di makula lutea, kondisi tersebut
menyebabkan spasme muskulus siliaris yang berkepanjangan (kronik) sehingga
lensa bertambah cembung dan peregangan jaringan sekeliling corpus vitreous
yang kronik dan irreversible sehingga terjadi pemanjangan aksial mata. Banyak
terjadi pada anak-anak karena sklera relatif lebih tipis dan elastis daripada orang
dewasa.

Penelitian tentang kelainan refraksi masih jarang dilakukan di Indonesia dan


belum pernah ada penelitian mengenai hubungan kebiasaan membaca dekat
dengan kejadian miopia pada anak usia sekolah yang berobat ke Klinik Mata
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

METODE

Desain penelitian ini adalah case control dengan 31 pasien kasus (miopia) dan 31
pasien kontrol (non miopia) pada populasi anak usia sekolah yang berobat ke
Klinik Mata RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo. kriteria inklusi dan eksklusi.

Jumlah sampel didapat berdasarkan teknik consecutive sampling, kriteria inklusi


kasus adalah pasien yang didiagnosis miopia oleh dokter spesialis mata RSMS
periode Juli 2012 berusia 6-18 tahun, bersedia bekerjasama, memenuhi kriteria
adjustment: jarak menonton televisi > 2m, lama menonton televisi < 2jam/hari,
jarak menggunakan komputer > 60 cm, lama men

Data dikumpulkan dari rekam medis hasil diagnosis dokter spesialis mata,
kemudian informed consent diberikan dengan mengunjungi rumah pasien. Jika
pasien menyetujui, maka pasien diminta ke klinik mata. Peneliti juga mengambil
data dari pasien baru yang didiagnosis miopia di klinik mata RS Margono
Soekarjo. Setelah responden memberikan persetujuan, kemudian dilakukan
wawancara untuk mengetahui identitas lengkap, kriteria inklusi, dan eksklusi.
Sedangkan data primer tentang jarak membaca, lamanya membaca, posisi
membaca, lamanya menggunakan komputer, jarak menggunakan komputer,
lamanya bermain video games, jarak bermain video games dan miopia parental,
dikumpulkan melalui kuesioner.

Pengukuran tekanan intraokuler menggunakan tonometer non kontak. Pengukuran


keratokonus dan makroftalmus dilakukan dengan menggunakan keratometer
untuk mengetahui kelengkungan dan kekuatan kornea. Glukosa darah puasa juga
diukur dengan cara mengambil darah kapiler pada ujung jari responden, kemudian
dibaca pada Strip Test GCU Multi Check.

Variabel bebas pada penelitian ini adalah membaca dekat, variabel tergantung
adalah miopia, sedangkan variabel perancu adalah lama membaca. Analisis
univariat dilakukan untuk mendeskripsikan tiap variabel dan hasil penelitian,
kemudian dihitung frekuensi dan presentasenya. Analisis bivariat melalui
penentuan OR dengan interval kepercayaan 95%, untuk mengetahui hubungan
antara dua variabel dilakukan uji Chi Square dan untuk menilai kekuatan korelasi
antara dua variabel dilakukan uji Koefisien Kontingensi.

HASIL

Total sampel sebanyak 62 didapatkan dengan perhitungan rumus consecutive


sampling pada rancangan penelitian case-control yang memenuhi kriteria inklusi
dan eksklusi.

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

Jenis Kelamin Miopia Non Miopia


Pria 7 (22,6%) 15 (48,4%)
Wanita 24 (77,4%) 16 (51,6%)
Total (N) 31 (100%) 31 (100%)
Jumlah responden wanita lebih banyak daripada jumlah responden pria, baik pada
kelompok miopia maupun kelompok non miopia.

Karakteristik responden berdasarkan usia,

Usia Miopia Non Miopia


6-12 7 (22,58%) 6 (19,36%)
13-18 24 (77,42%) 25 (80, 64%)
Rerata Usia 14,81 15,26
Minimum 6 7
Maksimum 18 18
Standar Deviasi 3,619 3,109
Data distribusi usia terbanyak adalah kelompok usia 13-18 tahun pada kedua
kelompok. Rerata usia kelompok miopia adalah 14,81 sedangkan kelompok non
miopia adalah usia 15,26.

Karakteristik responden berdasarkan jarak baca

Jarak Baca Miopia Non Miopia


< 30 cm 25 (80,6%) 9 (29,0%)
≥ 30 cm 6 (19,4%) 22 (71,0%)
Total (N) 31 (100%) 31 (100%)
Jarak baca yang sering digunakan kelompok miopia adalah < 30 cm (80,6%)
sedangkan kelompok non miopia lebih banyak menggunakan jarak baca ≥ 30 cm
22 (71,0%).

Karakteristik responden berdasarkan lama membaca

Lama Membaca Miopia Non Miopia


< 30 menit 9 (29,0%) 12 (38,7%)
≥ 30 menit 22 (71,0%) 19 (61,3%)
Total (N) 31 (100%) 31 (100%)
Responden pada masing-masing kelompok menghabiskan waktu untuk membaca
secara kontinu selama ≥ 30 menit per hari. Sebesar 71% pada kelompok miopia
dan 61,3% pada kelompok non miopia
Karakteristik responden berdasarkan posisi membaca

Posisi Membaca Miopia Non Miopia


Duduk Membungkuk 9 (29,0%) 16 (51,6%)
Tidur Terlentang 7 (22,6%) 6 (19,4%)
Tidur Tengkurap 11 (35,5%) 3 (9,7%)
Duduk Tegak 4 (12,9%) 6 (19,4%)
Total (N) 31 (100%) 31 (100%)
Responden pada kelompok miopia sebagian besar membaca dalam posisi tidur
tengkurap (35,5%), pada kelompok non miopia sebagian besar membca dalam
posisi duduk membungkuk (51,6%).

Analisis bivariat hubungan jarak baca dengan miopia

Jarak Miopia Non Jumlah p OR CC 95% CI


Baca Miopia
< 30 25 9 34
cm (80,6%) (29,0%) (54,83%)
≥ 30 6 22 28 3,126-
0,000 10,185 0,460
cm (19,4%) (71,0%) (45,17%) 33,188
31 31 62
(100%) (100%) (100%)

Analisis bivariat hubungan lama membaca dengan miopia

Jarak Miopia Non Jumlah p CC 95% CI


Baca Miopia
< 30 9 12 21
menit (29,0%) (38,7%) (33,9%)
≥ 30 22 19 41 0,535-
0,421 0,460
menit (71,0%) (61,3%) (66,1%) 4,456
31 31 62 (100%)
(100%) (100%)
DISKUSI

Hasil pada tabel 1 sesuai dengan hasil penelitian Mutti (2002), Khader et al.
(2006), Rose et al. (2008) dan Lu et al. (2009) yang menunjukan bahwa wanita
lebih banyak menderita miopia daripada pria. Hal ini dapat disebabkan oleh
kurangnya aktivitas di luar ruangan, seperti olahraga dan daya akomodasi yang
dibutuhkan lebih sedikit (Mutti, 2002). Menurut Rose et al. (2008), aktivitas di
luar rangan juga dapat memberikan intensitas cahaya yang tinggi sehinga terjadi
pelepasan dopamin oleh retina yang berfungsi sebagai penghambat pertumbuhan
atau elongasi mata.

Hasil pada tabel 2 sesuai dengan hasil penelitian Khader et al. (2006) yang
menyatakan bahwa usia 14 tahun merupakan usia optimal perkembangan miopia.
Penelitian lain mengatakan anak dengan usia lebih dari 12 tahun lebih berisiko
terkena miopia sebesar 14 kali lipat dibandingkan golongan umur di bawah 12
tahun (Fan et al., 2004). Hal tersebut terjadi karena sklera pada anak usia ini
masih elastis. Sklera akan meregang apabila diberi tekanan yang tinggi
berlangsung secara terus menerus sehingga mudah terjadi pemanjangan aksis bola
mata.

Hasil pada tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besar responden penelitian pada
kelompok miopia dan non miopia terbiasa membaca dalam posisi tidak benar. Hal
ini dapat menyebabkan tekanan pada bola mata meningka akibat tahanan vena-
vena di mata sehingga polus posterior mata memanjang (Khurana, 2007). Akan
tetapi, tekanan intraokuler pada seluruh responden masih dalam batas normal.. hal
tersebut diperkirakan karena posisi membaca responden belum menimbulkan
peningkatan tahanan vena di mata.

Hasil pada tabel... sejalan dengan beberapa penelitian, seperti penelitian Ip et al.
(2008), anak yang mempunyai kebiasan membaca dekat mempunyai risiko
terjadinya miopia 2,5 kali lebih besar daripada anak yang tidak mempunyai
kebiasaan membaca dekat. Sedangkan penelitian lainnya yang dilakukan oleh
Winanti (2008) dan Abiseka (2011) menyatakan bahwa anak yang mempunyai
kebiasan membaca dekat berisiko masing-masing 5,342 kali dan 6,2 kali untuk
terkena miopia. Hasil tersebut membuktikan teori yang sudah dipaparkan
sebelumnya. Kondisi membaca atau bekerja jarak dekat dalam waktu yang lama
dapat menyebabkan akomodasi (mata memfokuskan penglihatan pada benda
dekat) yang mengakibatkan spasme muskulus siliaris secara berkepanjangan
(kronik), sehingga terjadi peregangan jaringan sekeliling corpus vitreum dan
peningkatan ukuran ruang tersebut, sehingga terjadi pemanjangan aksis bola mata
yang menyebabkan miopia (Donald, 2004). Selain itu, miopia juga dapat
dipengaruhi oleh otot-otot ekstrinsik bola mata. Ketika anak membaca terlalu
dekat, muskulus rektus eksternus berkontraksi berlebihan untuk konvergensi
sehingga bola mata terjepit oleh otot-otot tersebut yang menyebabkan polus
posterior mata (tempat yang paling lemah dari bola mata) memanjang karena
sklera pada anak-anak relatif lebih elastis daripada orang dewasa (Prafitasari,
2011).

Hasil penelitian masih terbatas pada populasi penelitian, sehingga perlu dilakukan
penelitian kembali pada ruang lingkup yang lebih luas dengan karakteristik yang
berbeda agar dapat mengungkap hasil yang lebih komprehensif

Peneliti sudah, Belum dilakukan matching pada karakteristik usia, jenis kelamin,
dan posisi membaca.

Data-data yang dikumpulkan merupakan jawaban dari responden yang dijawab


dengan subyektifitas masing-masing. Melakukan pendampingan pada pengisian
kuesioner dan dikonfirmasikan data tersebut kepada orangtuanya juga.

Variabel-variabel yang belum diikutsertakan seperti: pencahayaan ruangan dan


penggunaan handphone.

KESIMPULAN

Terdapat hubungan keiasaan membaca dekat dengan kejadian miopia pada anak
usia seolah yang berobat ke Klinik Mata RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo
Purwokerto dengan kekuatan hubungan sedang. Anak dengan kebiasaan membaca
dekat (<30 cm) memiliki risiko 10,185 kali lebih besar untuk menderita miopia
dibanding anak dengan kebiasaan membaca normal (≥ 30).
UCAPAN TERIMA KASIH

DAFTAR PUSTAKA