You are on page 1of 7

JAWABAN SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER

MATA KULIAH
PENGANTAR FILSAFAT ILMU (PPS 702)

Dosen :
Prof. Dr. Ir. Sri Supraptini Mansjoer

OLEH :
Mumuh Mulyana H463140021

PROGRAM STUDI ILMU EKONOMI PERTANIAN


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014
Pertanyaan 1 : Kata filsafat bersumber dari bahasa Yunani Philo dan Sophos yang berarti cinta
akan kebijaksanaan. Apakah hakikat filsafat itu sebenarnya dan apakah hakekat filsafat ilmu itu?
Jawaban :
Filsafat memiliki makna cinta kebijaksanaan. Cinta diartikan hasrat yang besar, atau yang
berkobar-kobar, atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya kebenaran sejati atau
kebenaran yang sesungguhnya. Jadi filsafat artinya hasrat atau keinginan yang sungguh akan
kebenaran sejati. Pengertian umum filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat
segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang hakikat.
Ilmu pengetahuan tentang hakikat menanyakan tentang apa hakikat atau sari atau inti atau esensi
segala sesuatu. Dengan cara ini, jawaban yang akan diberikan berupa kebenaran yang hakiki. Ini
sesuai dengan arti filsafat menurut kata-katanya.
Sementara itu pengertian khusus filsafat telah mengalami perkembangan yang cukup lama
dan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang kompleks sehingga menimbulkan berbagai pendapat
tentang arti filsafat dengan kekhususan masing-masing. Berbagai pendapat khusus tentang filsafat
anatara lain:
a. Rasionalisme yang mengagungkan akal
b. Materialisme yang mengagungkan materi
c. Idealisme yang mengagungkan idea
d. Hedolisme yang mengagungkan kesenangan
e. Stoikisme yang mengagungkan tabiat saleh
Filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu yang ada di alam semesta dan
merupakan induk dari ilmu pengetahuan. Serta membahas 3 hal penting yaitu: Tuhan (Teologi),
Manusia (Humanologi) dan Alam (Kosmologi). Filsafat ilmu, merurut Benjamin, merupakan
cabang dari filsafat yang secara sistematis menelaah sifat dasar ilmu, khususnya mengenai metoda,
konsep-konsep, dan pra-anggapan, serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang-cabang
pengetahuan intelektual. Filsafat ilmu pada dasarnya adalah ilmu yang berbicara tentang ilmu
pengetahuan yang kedudukannya di atas ilmu lainnya (Conny Semiawan et al, 1998).
Karakteristik filsafat ilmu sebagai berikut. 1) Filsafat ilmu merupakan cabang dari filsafat.
2) Filsafat ilmu berusaha menelaah ilmu secara filosofis dari sudut pandang ontologis,
epistemologis, dan aksiologis
Pertanyaan 2 : Obyek filsafat ilmu terdiri dari obyek material dan obyek forma, dalam
pengembangan filsafat ilmu kedua obyek tersebut sangat berperan dan mempunyai makna yang
penting dalam kehidupan manusia dari zaman ke zaman. Jelaskan dan berikan contohnya.
Jawaban
Ilmu filsafat memiliki obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah apa yang
dipelajari dan dikupas sebagai bahan (materi) pembicaraan. Objek material adalah objek yang di
jadikan sasaran menyelidiki oleh suatu ilmu, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Objek
material filsafat illmu adalah pengetahuan itu sendiri, yakni pengetahuan ilmiah (scientific
knowledge) pengetahuan yang telah di susun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu,
sehingga dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya secara umum.
Obyek formal adalah cara pendekatan yang dipakai atas obyek material, yang sedemikian
khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan bidang kegiatan yang bersangkutan. Jika cara
pendekatan itu logis, konsisten dan efisien, maka dihasilkanlah sistem filsafat ilmu. Filsafat
berangkat dari pengalaman konkret manusia dalam dunianya. Pengalaman manusia yang sungguh
kaya dengan segala sesuatu yang tersirat ingin dinyatakan secara tersurat. Dalam proses itu intuisi
(merupakan hal yang ada dalam setiap pengalaman) menjadi basis bagi proses abstraksi, sehingga
yang tersirat dapat diungkapkan menjadi tersurat.
Dalam filsafat, ada filsafat pengetahuan. “Segala manusia ingin mengetahui”, itu kalimat
pertama Aristoteles dalam Metaphysica. Obyek materialnya adalah gejala “manusia tahu”. Tugas
filsafat ini adalah menyoroti gejala itu berdasarkan sebab-musabab pertamanya. Filsafat menggali
“kebenaran” (versus “kepalsuan”), “kepastian” (versus “ketidakpastian”), “obyektivitas” (versus
“subyektivitas”), “abstraksi”, “intuisi”, dari mana asal pengetahuan dan kemana arah pengetahuan.
Pada gilirannya gejala ilmu-ilmu pengetahuan menjadi obyek material juga, dan kegiatan
berfikir itu (sejauh dilakukan menurut sebab-musabab pertama) menghasilkan filsafat ilmu
pengetahuan. Kekhususan gejala ilmu pengetahuan terhadap gejala pengetahuan dicermati dengan
teliti. Kekhususan itu terletak dalam cara kerja atau metode yang terdapat dalam ilmu-ilmu
pengetahuan.
Jadi, dapat dikatakan bahwa Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek
menelaah objek materialnya. Yang menyangkut asal usul, struktur, metode, dan validitas ilmu .
Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan artinya filsafat ilmu lebih
menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu
pengetahuan, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fungsi ilmu itu bagi manusia.
Pertanyaan 3 : Apakah problema filsafat ilmu serta problem di dalam substansinya?
Jawaban :
Cornelius Benjamin menyebutkan Problem adalah “Suatu situasi praktis atau teoritis yang
untuk itu tidak ada jawaban lazim atau otomatis yang memadai, dan oleh sebab itu memerlukan
proses-proses. Lebih lanjut Benjamin merinci aneka ragam problem ke dalam tiga bagian :
a. Persoalan mengenai hubungan-hubungan teoritis antara ilmu yang satu dengan yang lain dan
antara ilmu-ilmu dengan usaha-usaha manusia yang lain untuk memahami, menilai, dan
mengendalikan dunia.
b. Persoalan yang bersangkutan dengan implikasi-implikasi teoritis dari kebenaran-kebenaran
tertentu dalam ilmu sejauh ini mengubah pertimbangan-pertimbangan kita dalambidang-bidang
lain dari pengalaman kita.
c. Persoalan yang bertalian dengan efek-efek praktis, yakni efek-efek dari penemuan-penemuan
ilmiah terhadap misalnya bentuk pemerintahan, cara hidup, kesehatan dan rasa senang.
Problema Substansi Filsafat Ilmu terdiri dari : 1. fakta/kenyataan, 2. kebenaran (truth), 3.
konfirmasi dan 4. logika inferensi.
Problem Filsafat Ilmu, disejajarkan dengan diskusi yang berkaitan dengan landasan
pengembangan Ilmu Pengetahuan (landasan Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis)
a. Problem ontologi ilmu: perkembangan dan kebenaran ilmu yang bertumpu pada landasan
ontologis (apa yang terjadi-eksistensi suatu entitas).
b. Problem epistemologi: bahasan asal muasal, sifat alami, batasan/konsep, asumsi landasan
berfikir, validitas, reabilitas, metode menghasilkan kebenaran.
c. Problema aksiologi: - implikasi etis, aspek estetis, pemaparan, penafsiran peranan ilmu dalam
peradaban dunia.
Pertanyaan 4 : Dalam perkembangan ilmu pengetahuan pernah terjadi revolusi. Apa penyebabnya
dan jelaskan dengan singkat pendapat Anda?
Beberapa referensi menyebutkan revolusi ilmu pengetahuan terjadi di Eropa sekitar Abad XVII
ketika sedang dilanda krisis kehidupan yang cukup berat. Kehidupan ekonomi yang tidak
menguntungkan sebagian rakyat jelata dan kehidupan kenegaraan feodalisme yang sangat
matrealistis kapitalis menyebabkan gejolak pada bangsa Eropa.
Revolusi ilmu pengetahuan merupakan suatu revolusi yang menandakan bangkitnya kelompok
intelektual bangsa Eropa mengenai cara berpikir keilmiahan, yaitu cara berpikir serta persepsi
manusia dalam mendapatkan pengetahuan bagi dirinya. Perubahan persepsi manusia tersebut adalah
perubahan dari cara berpikir yang ontologis ke cara berpikir matematis mekanistis. Cara berpikir
ontologis adalah warisan yang ditinggalkan bangsa Eropa ketika Abad Pertengahan diberlakukan
hukum agama bagi segala-galanya, termasuk kegiatan ilmu pengetahuan. Saat Abad Renaissance
manusia tidak lagi menjadi citra tuhan, tetapi manusia juga memiliki rasio atau kesadaran manusia
serta kreativitas keinginan untuk maju, memperbaiki kebudayaan manusia. Pengetahuan
dilandaskan rasionalitas dan empiristis yang berkembang pesat dengan pendekatan matematis yang
diterapkan dalam kajiannya.
Cara berpikir matematis mekanistis dalam revolusi ilmu pengetahuan yang dipelopori oleh Newton
menjadi semacam gaya para intelektual untuk membuat analisis dalam penelitiannya. Pendekatan
yang bersifat kausalitas yang didukung dengan percobaan atau eksperimen melalui usaha uji coba
model tiruan dari objek yang sesungguhnya membuat para peneliti dapat mengembangkan
penelitiannya dengan lebih sempurna. Akibat dari perjalanan proses revolusi ilmu pengetahuan,
memunculkan adanya nilai-nilai dasar yang tampil dalam perubahan cara berpikir manusia. Nilai-
nilai dasar itu adalah nilai alam, budaya dan ekonomi.
Thomas Kuhn menggambarkan tahapan revolusi ilmu pengetahuan dengan alur sebagai berikut :

Referensi lain menggelompokan revolusi ilmu pengetahuan tersebut menjadi dua kelompok, yaitu
revolusi intelektual yang terjadi di Dunia Islam yang terjadi abad ke 10 sampai abad 14 yang
mengalami masa keemasan pada abad ke 13 sampai abad 14 dan di Dunia Barat yang terjadi pada
abad ke 15 sampai abad 20 yaitu pada saat periode Copernicus hingga Einstein.
Pertanyaan 5 :
Apakah manfaat filsafat ilmu bagi ilmuwan yang ingin disebut bermartabat
Bila dilihat dari aktivitasnya filsafat merupakan suatu cara berfikir yang mempunyai
karakteristik tertentu. Menurut Sutan Takdir Alisjahbana syarat-syarat berfikir yang disebut
berfilsafat yaitu : a) Berfikir dengan teliti, dan b) Berfikir menurut aturan yang pasti. Dua ciri
tersebut menandakan berfikir yang insaf. Dengan demikian berfikir filsafat bukanlah sembarang
berfikir tapi berfikir dengan mengacu pada kaidah-kaidah tertentu secara disiplin dan mendalam.
Filsafat Ilmu mengembangkan kemampuan kita dalam: (a) menalar secara jelas, (b)
membedakan argumen yang baik dan yang buruk, (c) menyampaikan pendapat (lesan dan tertulis)
secara jelas, (d) melihat sesuatu melalui kacamata yang lebih luas, dan (e) melihat dan
mempertimbangkan pendapat dan pandangan yang berbeda.
Sumber lain menyatakan bahwa filsafat memberi bekal dan kemampuan pada kita untuk
memperhatikan pandangan kita sendiri dan pandangan orang lain dengan kritis. Kadang ini memang
bisa mendorong kita menolak pendapat-pendapat yang telah ditanamkan pada kita, tetapi filsafat
juga memberikan kita cara-cara berfikir baru dan yang lebih kreatif dalam mengahadapi masalah
yang mungkin tidak dapat dipecahkan dengan cara lain.Kemampuan berfikir secara jernih, menalar
secara logis, dan mengajukan dan menilai argumen, menolak asumsi yang diterima begitu saja, dan
pencarian akan prinsip-prinsip pemikiran dan tindakan yang koheren semuanya ini merupakan ciri
dari hasil latihan dalam ilmu filsafat.
Filsafat ilmu memberikan kebiasaan dan kebijaksanaan untuk memandang dan memecahkan
persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Filsafat ilmu bermanfaat untuk menjelaskan
keberadaan manusia di dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan
alat untuk membuat hidup menjadi lebih baik. Filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap
metode keilmuan. Filsafat ilmu mengarahkan para ilmuwan untuk memiliki pemahaman yang utuh
mengenai ilmu dan pengetahuan yang akan berguna saat ilmuwan melakukan penelitian ilmiah.
selain itu, Filsafat Ilmu mengajarkan cara berpikir yang cermat dan tidak kenal lelah.
Singkatnya, Filsafat ilmu sangat penting bagi ilmuwan karena untuk membiasakan diri
bersikap kritis, logis dan rasional serta menumbuhkan rasa toleransi dalam perbedaan pandangan.
Filsafat Ilmu mengajarkan dan menekankan kepada ilmuwan untuk berpikir menggunakan konsep
AKAL yaitu berpikir secara ber-Akhlak, berpikir secara Kritis, berpikir secara Analitis serta
berpikir secara Logis.
Referensi
Anshari, Endang Saifuddin, 1985. Ilmu, Filsafat dan Agama. Surabaya : Bina Ilmu.
Kuhn, Thomas S, 1970. The Structure of Scientific Revolutions . Chicago : The University of
Chicago Press
Poedjiadi, Anna, 1987. Sejarah dan Filsafat Sains. Jakarta : P2LPTK-Ditjen Dikti Depdikbud
Supraptini, Sri, 2014. Materi Kuliah Falsafah Sain pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor.
Suriasumantri, Jujun S., 1987. Filsafat llmu : Sebuah Pengantar Populer . Jakarta : Sinar Harapan.
Yudi Latif., 2005. Inteligensia Muslim dan Kuasa. Bandung: Mizan.