You are on page 1of 19

KOPERASI, UKM, DAN ENTERPRENEUSHIP

“Analisis Koperasi Beserta Teorinya”

Disusun Oleh :

Monica Sari Pertiwi 12.60.0297


Yohanes Rexy Adhi 12.60.0279
Ryianto Silalahi 14.G1.0190
Rendy Hadi P 15.G1.0055
Vijja Mukti 15.G1.0079
Oey, Favian Reinaldo 15.G1.0094
Go, Fannny Natalia H 15.G1.0112

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS KATHOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2017
 Peranan koperasi dalam pemasaran
A. Peranan Koperasi dalam perekonomian indonesia
Peran koperasi dalam perekonomian indonesia paling tidak dapat dilihat dari:
1) Kedudukannya sebagai pemain utama dalam kegiatan ekonomi di berbagai sektor,
2) Penyedia lapangan kerja yang terbesar,
3) Pemain penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi lokal dan pemberdayaan
masyarakat,
4) Pencipta pasar baru dan sumber inovasi, serta
5) Sumbangannya dalam menjaga neraca pembayaran melalui kegiatan ekspor.

Peran koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah sangat strategis dalam
perekonomian nasional, sehingga perlu menjadi fokus pembangunan ekonomi nasional pada
masa mendatang. Pemberdayaan koperasi secara tersktuktur dan berkelanjutan diharapkan
akan mampu menyelaraskan struktur perekonomian nasional, mempercepat pertumbuhan
ekonomi nasional, mengurangi tingkat pengangguran terbuka, menurunkan tingkat
kemiskinan, mendinamisasi sektor riil, dan memperbaiki pemerataan pendapatan masyarakat.
Pemberdayaan koperasi juga akan meningkatkan pencapaian sasaran di bidang pendidikan,
kesehatan, dan indikator kesejahteraan masyarakat Indonesia lainnya.
Sulit mewujudkan keamanan yang sejati, jika masyarakat hidup dalam kemiskinan dan
tingkat pengangguran yang tinggi. Sulit mewujudkan demokrasi yang sejati, jika terjadi
ketimpangan ekonomi di masyarakat, serta sulit mewujudkan keadilan hukum jika
ketimpangan penguasaan sumberdaya produktif masih sangat nyata. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa peran koperasi antara lain :
1) Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada
khusunya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi
dan sosialnya.
2) Berperan serta aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan
masyarakat.
3) Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian
nasional.
4) Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang
merupakan usaha bersama atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.
Pada masa ini pembangunan koperasi kurang mendapat perhatian karena koperasi
kurang memperlihatkan kinerja dan citra yang lebih baik dari masa sebelumnya.Keadaan ini
merupakan salah satu bukti bahwa komitmen pemerintah masih kurang dalam pembangunan
koperasi. Pembangunan adalah suatu proses yang harus berkelanjutan dan tersistem.
Pertanyaan berikutnya bagaimana prospek koperasi pada masa datang.Jawabannya adalah
sangat prospektif jika koperasi yang mempunyai jatidiri . Koperasi yang mempraktekkan
prinsip-prinsip koperasi dalam organisasi dan usahanya. Koperasi sebagai badan usaha,
organisasi dan kegiatan usahanya harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip koperasi.
Karena prinsip koperasi merupakan garis-garis penuntun yang digunakan oleh koperasi
untuk melaksanakan nilai-nilai dalam praktek seperti
(1) Keanggotaan yang bersifat sukarela dan terbuka,
(2) Pengendalian oleh anggota secara demokratis,
(3) Partisipasi anggota dalam ekonomi,
(4) Pengembangan pendidikan,pelatihan dan informasi ,
(5) kerjasama diantara koperasi dan
(6) Kebebasan dan otonomi

Peranan Koperasi Unit Desa


Peranan koperasi dalam pembangunan masyarakat desa menurut Muslimin Nasution:
a. Peranan primer antara lain
• Meningkatkan efisiensi sektor pertanian sehingga memiliki daya tampung yang besar bagi
lapangan kerja di pedesaan
• Mengurangi kebocoran nilai tambah sector pertanian, dimana kelemahan sistem
kelembagaan pertanian dapat diminimisasi
• Menghimpun semua daya masyarakat berpendapatan rendah agar mampu terjun ke dalam
bisnis yang bersekala lebih besar
• Menghimpun semua daya masyarakat berpendapatan rendah agar mampu terjun ke dalam
bisnis yang bersekala lebih besar
• Memberi jaminan terhadap risiko yang dihadapi oleh anggota masyarakat berpendaptan
rendah
b. Peranan sekunder antara lain
• Koperasi berfungsi sebagai penghubung atau sebagai lembaga yang menapung kegiatan
antar sektoral di pedesaan yang dimiliki oleh pengusaha kecil
• Koperasi bertujuan sebagai perangkat penyampaian informasi kepada masyarakat sampai ke
tingkat yang paling bawah
Kanggotaan Koperasi Unit Desa. Menurut Sri Weolan Azis dalam bukunya Pandji Anaroga
dan Ninik W. (1998:33) keanggotaan koperasi Unit Desa sebagai berikut:
• Kelompok ekonomi, yaitu anggotanya dikelompokkan sesuai dengan kegiatan usahanya
untuk kepentingan pelayanan dan pembinaan teknis.
• Kelompok organisasi, yaitu para anggotanya dikelompokkan menurut tempat tinggalnya
yang dimaksudkan untuk kepentingan organisasi dan pembinaan keanggotaan
Dalam pelaksanaannya keanggotan KUD Mina Lestari terdiri dari seluruh warga yang
bertempat tinggal di daerah Kecamatan Glagah kabupaten Lamongan. Tetapi tidak menutup
kemungkinan bagi warga daerah lain juga untuk ikut bergabung menjadi anggota dengan
cacatan memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam Anggaran Dasar.

 Penanganan hasil produksi anggota


MASALAH KOPERASI DAN BAGAIMANA CARA MENGATASINYA
Dewasa ini koperasi jauh dari koperasi yang kita harapkan,banyak faktor yang menyebabkan
hal tersebut, diantaranya perkembangan koperasi yang selalu dipengaruhi oleh kepentingan
politis,peran pemerintah yang terlalu mengintervensi pertumbuhan dan pergerakan
koperasi,sehingga kurangnya dukungan dan kepedulian terhadap koperasi baik dari instansi
pemerintah maupun swasta. Pengelolaan yang kurang baik sering menyebabkan anggota
tidak lagi percaya akan koperasi,dalam hal ini permasalahan koperasi seperti :
Tidak jelasnya konsep koperasi mana yang akan dibangun diindonesia.
1) Adanya pergeseran konsep dan strategi pembangunan ekonomi.
2) Koperasi tidak diberikan fasilitas yang sama dalam hal perkembangan permodalan.
3) Minimumnya kesadaran berkoperasi dikalangan masyarakat Indonesia.
4) Pengelolaan dan pengawasan koperasi yang masih sangat melemah.
5) Kekurangmampuan manajeman koperasi mengorganisasi dan mengelola anggota-anggota
koperasi secara efektif.
6) Korupsi dan salah urus masih sering terjadi di usaha sector koperasi.
7) Dibidang kegiatan koperasi tidak ditopang oleh sumber daya, kemampuan,dan
pengembangan kelembagaan yang memadai sehingga koperasi sulit untuk dijalankan.

1. Permasalahan Makroekonomi (Ekonomi Politik)


Tidak banyak negara yang memiliki “Departemen Koperasi” (Depkop). Indonesia adalah satu
dari sedikit negara tersebut.
Hal itu terjadi karena adanya kontradiksi akut dalam pemahaman koperasi. Secara substansial
koperasi adalah gerakan rakyat untuk memberdayakan dirinya. Sebagai gerakan rakyat, maka
koperasi tumbuh dari bawah (bottom-up) sesuai dengan kebutuhan anggotanya. Hal itu sangat
kontradiktif dengan eksistensi Depkop. Sebagai departemen, tentu Depkop tidak tumbuh dari
bawah, ia adalah alat politik yang dibentuk oleh pemerintah. Jadi, Depkop adalah datang
“dari atas” (top-down). Karena itu, lantas dalam menjalankan operasinya, Depkop tetap
dalam kerangka berpikir top-down. Misalnya dalam pembentukan koperasi-koperasi unit desa
(KUD) oleh pemerintah. Padahal, rakyat sendiri belum paham akan gunanya KUD bagi
mereka, sehingga akhirnya KUD itu tidak berkembang dan hanya menjadi justifikasi politik
dari pemerintah agar timbul kesan bahwa pemerintah telah peduli pada perekonomian rakyat,
atau dalam hal ini khususnya koperasi.
Hal lain yang menandakan kontradiksi akut itu, adalah pada usaha Depkop (dan tampaknya
masih terus dilanjutkan sampai saat ini oleh kantor menteri negara koperasi) untuk
“membina” gerakan koperasi. Penulis sungguh tidak mengerti mengapa istilah “membina”
tersebut sangat digemari oleh para pejabat pemerintahan. Sekali lagi, koperasi adalah gerakan
rakyat yang tumbuh karena kesadaran kolektif untuk memperbaiki taraf hidupnya. Karena itu
penggunaan kata (atau malah paradigma) “membina” sangatlah tidak tepat dan rancu.
Koperasi tidak perlu “dibina”, apalagi dengan fakta bahwa “pembinaan” pemerintah selama
ini tidak efektif. Yang diperlukan koperasi adalah keleluasaan untuk berusaha; untuk akses
memperoleh modal, pangsa pasar, dan input (bahan baku).

2. Permasalahan Mikroekonomi.
a). Masalah Input.
Dalam menjalankan kegiatan usahanya koperasi sering mengalami kesulitan untuk
memperoleh bahan baku. Salah satu bahan baku pokok yang sulit diperoleh adalah modal.
Yang harus dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah permodalan ini adalah dengan
memberikan keleluasaan bagi koperasi dalam akses memperoleh modal. Jangan dipersuli-
sulit dengan bermacam regulasi. Biarkan koperasi tumbuh dengan alami (bukan direkayasa),
belajar menjadi efisien dan selanjutnya dapat bertahan dalam kompetisi.
Pada sisi input sumber daya manusia, koperasi mengalami kesulitan untuk memperoleh
kualitas manajer yang baik. Di sinilah campur tangan pemerintah diperlukan untuk
memberikan mutu modal manusia yang baik bagi koperasi.

b). Masalah Output, Distribusi dan Bisnis


# Kualitas output.
Dalam hal kualitas, output koperasi tidak distandardisasikan, sehingga secara relatif kalah
dengan output industri besar. Hal ini sebenarnya sangat berkaitan dengan permasalahan input
(modal dan sumberdaya manusia).

# Mapping Product
Koperasi (dan usaha kecil serta menengah/UKM) dalam menentukan output tidak didahului
riset perihal sumber daya dan permintaan potensial (potential demand) daerah tempat
usahanya. Sehingga, dalam banyak kasus, output koperasi (dan UKM) tidak memiliki
keunggulan komparatif sehingga sulit untuk dipasarkan.
# Distribusi, Pemasaran dan Promosi (Bisnis)
Koperasi mengalami kesulitan dalam menjalankan bisnisnya. Output yang dihasilkannya
tidak memiliki jalur distribusi yang established, serta tidak memiliki kemampuan untuk
memasarkan dan melakukan promosi. Sehingga, produknya tidak mampu untuk meraih
pangsa pasar yang cukup untuk dapat tetap eksis menjalankan kegiatan usahanya.
Peranan pemerintah sekali lagi, diperlukan untuk menyediakan sarana distribusi yang
memadai. Sarana yang dibentuk pemerintah itu, sekali lagi, tetap harus dalam pemahaman
koperasi sebagai gerakan rakyat, sehingga jangan melakukan upaya-upaya “pengharusan”
bagi koperasi untuk memakan sarana bentukan pemerintah itu. dalam aspek bisnis, koperasi –
karena keterbatasan input modal—sulit untuk melakukan pemasaran (marketing) dan promosi
(promotion). Karena itu, selaras dengan mapping product seperti diuraikan diatas, pemerintah
melanjutkannya dengan memperkenalkan produk-produk yang menjadi unggulan dari daerah
itu. Dengan demikian, output koperasi dapat dikenal dan permintaan potensial (potential
demand) dapat menjadi permintaan efektif (effective demand).

3. Permasalah internal
a). Kurangnya tenaga professional
Diakui memang, perkembangan Koperasi Pegawai Republik Indonesia masih menghadapi
berbagai permasalahan baik internal maupun eksternal. Salah satu permasalahan internal
yaitu masih kurangnya tenaga profesional yang menangani Koperasi Pegawai Republik
Indonesia Tersebut. Masih banyak tantangan dan permasalahan yang kita hadapi dalam
memajukan Koperasi Pegawai, Baik masalah internal maupun permasalahn eksternal. Dari
kurangnya tenaga yang profesional menangani ini maupun permasalahan lain yang harus di
benahi bersama. Belum lagi ada persaingan yang timbul dari berkembangnya usaha sejenis
koperasi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu membentuk wadah-wadah yang ada
dibawah kepengurusan Korpri dengan memberikan pemahaman, pelatihan dan penyuluhan
kepada yang ada dibawah naungan koperasi tersebut.

b) Adanya pemikiran limiting believe


Limiting belive adalah istilah dalam psikologi mengenai sebuah pemikiran yang
berkecederungan negatif dan yang dibentuk oleh belenggu keyakinan keliru.
Secara umum, limiting belive juga telah membelenggu perkembangan seluruh koperasi di
tanah air. Bayak orang tidak percaya bahwa koperasi bisa berkembang sebagai perusahaan
yang mampu menjamin kesejahteraan manajer atau karyawannya. Untuk itu, pemahaman
tentang koperasi sangat diperlukan dengn cara memberikan study oleh pemerintah

Cara mengatasi permasalahn koperasi tersebut sebagal berikut:


Agar masalah koperasi dapat terselesaikan maka dalam kegiatan perkoperasian harus diawali
dengan adanya kepercayaan anggota terhadap lembaga itu sendiri.untuk itu koperasi harus
bisa komunikatf dan aspiratif,maksudnya komunikatif dalam berhubungan dengan pasar dan
aspiratif terhadap kebutuhan anggotanya,koperasi harus bersifat kolektif pada anggotanya dan
koperasi harus ditopang oleh tersedianya sumber daya,kemampuan manajerial koperasi yang
bagus dan hebat,dan memperbaiki atau mengubah konsep-konsep koperasi dan strategi
pembangunan ekonomi,serta konsep tersebut harus diubah agar lebih mendorong
perkoperasiaan kearah tujuan koperasi yang sesunggunya berdasarkan atas azas
kekeluargaan.

SUMBER
mahasiswasyariah.wordpress.com
artikelekonomi.com
koperasimahasiswa.com
 Upaya Mempertahankan Koperasi Unit Desa
Bukan penyelesaian yang mudah untuk menjadikan KUD sebagai unjung tombak
peningkatan keejahteraan petani. Ketersediaan pupuk dan sarana produksi pertanian terjamin
dengan harga yang kompetitif. Kondisi yang harus diperhatikan untuk meningkatkan
kesejahteraan petani :
a. Modal Langkah yang paling mungkin untuk mendapatkan dana murah adalah adanya
dukungan modal dari pemerintah melalui APBD dan APBN. Pemerintah daerah mapun pusat
dapat mengalokasikan dalam bentuk dana bergulir.
b. Pengurus dan Manajer yang terlatih
Pengurus dan manajer koperasi unit desa harus jujur, bijaksana dan harus memiliki jiwa
kewirausahaan. Dan harus ada manajer yang terlatih bila ada dukungan dana yang kuat.
c. Kemitraan yang terus berlanjut KUD harus menjalin kemitraan untuk berkelanjutan
program-programnya. Disini KUD harus menjalin hubungan yang harmonis dengan pihak
perbankan sebagai penyedia dana, dengan pabrik/ gudang pupuk untuk mendapatkah harga
yang lebih murah, menjalin hubungan dengan Bulog untuk pembelian beras.
d. Dukungan dari pemerintah
Pemerintah juga harus memberikan dukungan yang kuat dari sisi permodalan KUD dan
kebijakan. Pemerintah bisa mengalokasikan dana murah melalui APBD dan APBN (bukan
subsidi). Kebijakan yang dilakukan pemerintah dapat melakukan kerjasama dengan pabrik
pupuk untuk memberikan akses kepada KUD untuk mendapatkan pasokan lansung.
e. Dukungan dari anggota
Anggota KUD sebaiknya mendukung program KUD untuk mewujudkan kesejahteraan
mereka sendiri. Dengan kemampuan KUD membeli gabah petani dengan harga pantas dan
penyediaan pupuk dengan harga bersaing, maka anggota dengan sendiri akan bertransaksi
dengan KUD.
f. Mengutamakan pelayanan kebutuhan anggota
Pelayanan yang diberikan KUD kepad anggota seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan
anggota. Misalnya mayoritas anggota adalah petani maka seharusnya penyediaan pupuk dan
pembelian gabah menjadi bisnis utamanya.
 Bagaimana cara memasarkan koperasi

Cara memasarkan koperasi pada masyarakat Banyak hal yang dapat dilakukan untuk
mensosialisasikan koperasi ke masyarakat, seperti memanfaatkan media massa, kemajuan
teknologi, serta rasa ketidakpuasan konsumen, dsb. Di pedesaan ada baiknya untuk
mengadakan penyuluhan mengenai struktur perkoperasian. Hal ini guna mensosialisasikan
koperasi ke masyarakat. Sebelum diadakan penyuluhan, sebaiknya ada pelatihan bagi yang
akan melakukan penyuluhan ini agar yang disampaikan nanti bisa diterima dengan baik dan
mendapat tanggapan yang positif. Pelaku penyuluhan sebaiknya adalah orang yang pandai
berbicara, bersosialisasi dengan warga, orang yang bisa menjual dan membuat orang tertarik
untuk berkoperasi. Dalam hal ini, juga dibutuhkan manajemen koperasi yang baik.

Dalam koperasi sebaiknya ada pengurus untuk bagian marketing alias pemasaran
yang tugasnya adalah memasarkan koperasi, menjadikan koperasi agar tetap eksis. Tapi di
kebanyakan koperasi, masih diurusi oleh para sepuh yakni orang yang sudah tua dan sudah
berpengalaman banyak di bidang perkoperasian. Sedangkan eranya dahulu dengan yang
sekarang sudah sangat berbeda. Dulu komunikasi jarak jauh cukup sulit, tidak seperti
sekarang yang sudah semakin mudah dan semakin canggih. Pengurus koperasi sebaiknya
mulai digantikan oleh orang yang lebih muda, yang dapat dengan mudah mengikuti
perubahan teknologi yang sangat dinamis. Tentunya bukan berarti pengurus koperasi yang
sudah digantikan oleh orang muda, dilepaskan begitu saja. Pemuda masih perlu diarahkan
agar memahami betul konsep dan prinsip koperasi, hak dan kewajiban anggota koperasi.
Semuanya juga harus disosialisasikan terlebih dahulu. Pengurus yang baru akan melahirkan
semangat yang baru tanpa merubah konsep koperasi itu sendiri. Orang yang telah lama
berkecimpung di dunia perkoperasian sebaiknya kini hanya sebagai dewan penasihat dan
mengawasi kinerja pengurus yang baru. Jika hal ini terwujud, yang artinya menggabungkan
dua zaman menjadi satu maka akan melahirkan koperasi yang keren, bisa bersaing di zaman
modern seperti sekarang ini. Media massa merupakan salah satu cara yang cukup bagus dan
efektif dalam pengenalan koperasi. Kementerian Koperasi dan UKM dapat menayangkan
iklan-iklan tentang koperasi di televisi, koran dan majalah bahkan di radio. Dengan sering
terdengarnya kata koperasi di telinga masyarakat, diharapkan daya ketertarikannya terhadap
masyarakat juga bertambah. Hal tersebut telah terbukti melalui iklan Kementerian Koperasi
dan UKM yang menjelaskan cara mensosialisasikan koperasi kepada masyarakat dengan cara
“pe em pe”. Sehingga saat ini bila kita mendengar kata pempek atau melihat makanan
pempek secara tidak langsung kita akan teringan pada Koperas dan UKM Indonesia. “pe em
pe” yang dimaksud dalam iklan bukanlah real makanan tetapi singkatan-singkatan yaitu: •
“Pe” yang pertama yaitu pendidikan dan pelatihan. Kementerian Koperasi dan UKM banyak
memberikan pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat seperti seminar, kursus, dsb. Hal
tersebut dilakukan untuk menumbuhkan minat dan ketertarikan masyarakat terhadap
Koperasi dan UKM. Selain itu juga memberikan bekal pendidikan kepada masyarakat agar
dapat lebih meluaskan usahanya di bidang UKM. Dengan meningkatnya minat dan
bertambahnya pengetahuan masyarakat dalam memproduksi sebuah produk, dari situ akan
bertambah pula anggota koperasi. Sebenarnya tujuannya utamanya bukan menambah jumlah
anggota koperasi, tetapi lebih memperkenalkan koperasi kepada masyarakat agar koperasi
kembali bangun dari tidurnya. Istilah “Tak kenal maka tak sayang” itu berlaku, dengan
mengenal koperasi maka akan tumbuh suatu jiwa pengabdian kepada koperasi. • Yang ke dua
“em” yaitu Modal. Pemerintah menyediakan modal untuk para pengusaha UKM agar
usahanya lebih maju dan berkembang. Pengusaha UKM yang awalnya terbatas oleh modal
kini dapat tersenyum, karena pemerintah memfasilitasi mereka dengan memberikan modal.
Dengan diberinya suntikan modal dari pemerintah, kini usahanya dapat terus memproduksi
bahkan dapat di ekspor ke luar negeri. Berapa bangganya bukan, karya anak bangsa dapat
berjelajah di seluruh dunia. • Dan yang ketiga “pe” yaitu produksi dan pemasaran. Selain
pemasaran yang dilakukan dalam koperasi, pemerintah juga menyediakan fasilitas dalam
proses produksi serta pemasaran. Produk-produk Indonesia akan ditampilkan dalam event-
event penting, seperti pameran-pameran yang melibatkan Negara-negara lain. Dengan hal
tersebut, maka Negara asing akan mengenal produk Indonesia. Selain ditampilkan dalam
event-event internasional, produk-produk Indonesia juga ditampung dalam suatu wadah yang
diadakan rutin, seperti bazaar, dll sehingga masyarakat lokal juga tahu oh ini produk koperasi
dan UKM. Banyak contoh iklan yang berhasil membuat sebuah image produk menjadi baik
dan terkenal di masyarakat. Hal tersebut tidak menutup kemungkinan iklan Koperasi dan
UKM juga dapat popular dimasyarakat. Iklan yang diberikan bukan hanya di media
elektronik, tetapi juga seperti spanduk-spanduk, baliho, brosur, dll. Dan dari televisi kita bisa
juga mensosialisasikan koperasi melalui iklan. Peran iklan cukup besar pengaruhnya.
Semakin sering iklan ditayangkan maka akan semakin mengerti bahkan hafal isi dari iklan
tersebut. Makanya, sebaiknya dibuat iklan yang bermutu, yang mengajak masyarakat untuk
berkoperasi dan memberitahukan manfaat yang didapat jika bergabung dalam koperas. Jika
iklan ini dibungkus dengan menarik, pasti masyarakat akan tertarik dan mencoba untuk
bergabung dalam koperasi.Sehingga masyarakat juga akan sering melihat koperasi dimana-
mana hal tersebut akan meredam rasa keasingan terhadap koperasi. Tidak hanya media
elektronik, media cetak juga dapat mensosialisasikan koperasi. Di dalam media cetak seperti
koran dan majalah, sebaiknya ada pengetahuan tentang koperasi dan juga artikel kisah orang
sukses yang berkoperasi. Masyarakat juga membutuhkan bukti sukses dari kinerja koperasi.
Perlu adanya transparansi agar koperasi terbuka dan tidak dicurigai dan agar tidak mudah
diselewengkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Jika koperasi bersinar lagi, rakyat
akan sejahtera dan usahanya bisa maju. Saat ini hampir semua orang biasa menggunakan
internet. Penggunaan internet yang mengalami peningkatan disebabkan oleh kemajuan
ternologi yang sangat pesat. Kemajuan teknologi yang sangat pesat dapat dimanfaatkan
dalam pensosialisasikan koperasi kepada masyarakat. Dari handphone pun juga bisa
berinternet dan juga menjelajahi dunia maya di social media. Melalui internet, koperasi bisa
juga disosialisasikan. Terlebih lagi hampir semua orang menjelajahi dunia maya setiap hari,
hal ini bisa dijadikan peluang untuk mensosialisasikan koperasi ke masyarakat. Caranya
adalah dengan memasang iklan mengenai koperasi atau artikel terkait koperasi. Artikelnya
bisa berisi prinsip, konsep, hak dan kewajiban anggota, keuntungan yang didapat jika
bergabung dalam koperasi. Ada baiknya juga menampilkan kisah sukses orang yang berusaha
di koperasi, hal ini bisa membuat orang tertarik dan mulai berbisnis di koperasi. Di social
media seperti di facebook dan twitter juga bisa dijadikan alat untuk mensosialisasikan
koperasi. Di social media juga bisa untuk memasarkan produk yang dijual di koperasi.
Terlebih sekarang sudah banyak bermunculan toko online yakni toko yang menjual
barangnya melalui online dan cara pembayarannya melalui transfer dan barang akan dikirim
dengan menggunakan paket. Hal ini juga memudahkan konsumen untuk membeli suatu
barang, apalagi jika ada yang tidak punya waktu untuk belanja ke mall, hal ini bisa menjadi
solusi. Koperasi bisa melakukan hal ini juga agar koperasi tidak ketinggalan zaman. Cara ini
juga bisa sebagai sarana untuk mensosialisasikan koperasi guna memajukan koperasi. Rasa
ketidakpuasan konsumen dapat juga dijadikan cara mensosialisasikan koperasi ke
masyarakat. Karena dari ketidakpuasan konsumen akan muncul suatu inovasi-inovasi dalam
pengenalan koperasi yang lebih menarik. Ketidakpuasan konsumen dapat dijadikan sebuah
acuan agar produk terus berkembang. Begitu pula dengan koperasi, melihat dari
ketidakpuasan konsumen, koperasi diharapkan dapat mencari cara dalam pemenuhan
kepuasan konsumen. Dari ketidakpuasan itu juga dapat dijadikan tangga pengukur apakah
koperasi sudah sesuai dengan yang diharapkan masyarakat atau belum. Ketidakpuasan
konsumen bisa terdapat dari segi pelayanan, kualitas barang, harga, kenyamanan, keamanan,
dll. Melihat dari tanda-tanda tadi, koperasi dapat memunculkan suatu ide yang unik dalam
pemasarannya, seperti kondisi ruangan yang sangat nyaman, pengadaan program-program
diskon koperasi, penghargaan bagi anggota terbaik, dll. Pokoknya segala hal yang dapat
membuat masyarakat lebih melirik koperasi dibanding mini market. Mensosialisasikan
koperasi ke masyarakat berarti memperkenalkan koperasi kepada seluruh masyarakat. Tidak
semua masyarakat dapat mengikuti seminar dan kursus yang biasanya diadakan di kota-kota.
Apalagi bagi masyarakat daerah, sehingga pemerintah juga harus mengadakan sosialisasi dan
penyuluhan koperasi dari RT ke RT agar semua merata. Hal tersebut dilakukan mengingat
bahwa koperasi Indonesia lebih dibutuhkan bagi masyarakat daerah. Bukan berarti
masyarakat kota tidak membutuhkan koperasi, tetapi masyarakat daerah yang biasanya agak
sulit mendapatkan informasi tentang koperasi dan UKM. Pensosialisasian koperasi tidak
hanya dilakukan ke masyarakat dewasa, tetapi juga dilakukan ke kaum pelajar. Dengan
mengadakan mata pelajaran tentang koperasi, setidaknya para pelajar mengetahui koperasi
Indonesia. Sekolah juga harus mengadakan koperasi sekolah yang menjual kebutuhan para
pelajar. Dari koperasi sekolah, para pelajar akan tahu manfaat koperasi dalam kehidupan
sehari-hari, yaitu salah satunya mensejahterakan anggotanya (pelajar menjadi anggota
koperasi sekolah). Dengan diberikan pendidikan secara teori dan praktek secara langsung
dalam kehidupan, sangat diharapkan akan tumbuh suatu gebrakan dari kaum pelajar yang
dapat membuat dunia perkoperasian Indonesia menjadi lebih baik lagi. Lakukan segala cara
dalam pengenalan koperasi kepada masyarakat agar koperasi kembali dapat memegang ke
eksisannya dalam perekonomian Indonesia. Munculkan gebrakan-gebrakan untuk koperasi
agar kedepannya bisa menguasai pasar. Dan tanamkan image baik tentang koperasi Indonesia
kepada masyarakat domestic dan mancanegara. Kerena kopersi merupakan salah satu jati diri
bangsa Indonesia.

 Program – program yang dijalankan oleh pemerintah untuk pemasaran


Esensi perdagangan bebas yang sedang diciptakan oleh banyak negara yang ingin lebih maju
ekonominya adalah menghilangkan sebanyak mungkin hambatan perdagangan internasional.
Melihat arah tersebut maka untuk melihat dampaknya terhadap perkembangan koperasi di
tanah air dengan cara mengelompokkan koperasi ke dalam ketiga kelompok atas dasar jenis
koperasi. Pengelompokan itu meliputi pembedaan atas dasar: (i) koperasi produsen atau
koperasi yang bergerak di bidang produksi, (ii) koperasi konsumen atau koperasi konsumsi,
dan (iii) koperasi kredit dan jasa keuangan. Dengan cara ini akan lebih mudah mengenali
keuntungan yang bakal timbul dari adanya perdagangan bebas para anggota koperasi dan
anggota koperasinya sendiri. Koperasi produsen terutama koperasi pertanian memang
merupakan koperasi yang paling sangat terkena pengaruh perdagangan bebas dan berbagai
liberalisasi. Koperasi pertanian di seluruh belahan dunia ini memang selama ini menikmati
proteksi dan berbagai bentuk subsidi serta dukungan pemerintah. Dengan diadakannya
pengaturan mengenai subsidi, tarif, dan akses pasar, maka produksi barang yang dihasilkan
oleh anggota koperasi tidak lagi dapat menikmati perlindungan seperti semula, dan harus
dibuka untuk pasaran impor dari negara lain yang lebih efisien.

Untuk koperasi-koperasi yang menangani komoditi sebagai pengganti impor atau ditutup dari
persaingan impor jelas hal ini akan merupakan pukulan berat dan akan menurunkan perannya
di dalam percaturan pasar kecuali ada rasionalisasi produksi. Sementara untuk koperasi yang
menghasilkan barang pertanian untuk ekspor seperti minyak sawit, kopi, dan rempah serta
produksi pertanian dan perikanan maupun peternakan lainnya, jelas perdagangan bebas
merupakan peluang emas. Karena berbagai kebebasan tersebut berarti membuka peluang
pasar yang baru. Dengan demikian akan memperluas pasar yang pada gilirannya akan
merupakan peluang untuk peningkatan produksi dan usaha bagi koperasi yang bersangkutan.
Dalam konteks ini koperasi yang menangani produksi pertanian, yang selama ini mendapat
kemudahan dan perlindungan pemerintah melalui proteksi harga dan pasar akan menghadapi
masa-masa sulit. Karena itu koperasi produksi harus merubah strategi kegiatannya. Bahkan
mungkin harus me¬reorganisasi kembali supaya kompatibel dengan tantangan yang dihadapi.
Untuk koperasi produksi di luar pertanian memang cukup sulit untuk dilihat arah pengaruh
dari liberalisasi perdagangan terhadapnya. Karena segala sesuatunya akan sangat tergantung
di posisi segmen mana kegiatan koperasi dibedakan dari para anggotanya. Industri kecil
misalnya sebenarnya pada saat ini relatif berhadapan dengan pasar yang lebih terbuka.
Artinya mereka terbiasa dengan persaingan dengan dunia luar untuk memenuhi pemintaan
ekspor maupun berhadapan dengan barang pengganti yang diimpor. Namun cara-cara
koperasi juga dapat dikerjakan oleh perusahaan bukan koperasi.

Secara umum koperasi di dunia akan menikmati manfaat besar dari adanya perdagangan
bebas, karena pada dasarnya perdagangan bebas itu akan selalu membawa pada persaingan
yang lebih baik dan membawa pada tingkat keseimbangan harga yang wajar serta efisien.
Peniadaan hambatan perdagangan akan memperlancar arus perdagangan dan terbukanya
pilihan barang dari seluruh pelosok penjuru dunia secara bebas. Dengan demikian konsumen
akan menikmati kebebasan untuk memenuhi hasrat konsumsinya secara optimal. Meluasnya
konsumsi masyarakat dunia akan mendorong meluas dan meningkatnya usaha koperasi yang
bergerak di bidang konsumsi. Selain itu dengan peniadaan hambatan perdagangan oleh
pemerintah melalui peniadaan non torif barier dan penurunan tarif akan menyerahkan
mekanisme seleksi sepenuhnya kepada masyarakat. Koperasi sebenarnya menjadi wahana
masyarakat untuk melindungi diri dari kemungkinan kerugian yang timbul akibat
perdagangan bebas.

Kegiatan koperasi kredit, baik secara teoritis maupun empiris, terbukti mempunyai
kemampuan untuk membangun segmentasi pasar yang kuat sebagai akibat struktur pasar
keuangan yang sangat tidak sempurna, terutama jika menyangkut masalah informasi. Bagi
koperasi kredit keterbukaan perdagangan dan aliran modal yang keluar masuk akan
merupakan kehadiran pesaing baru terhadap pasar keuangan, namun tetap tidak dapat
menjangkau para anggota koperasi. Apabila koperasi kredit mempunyai jaringan yang luas
dan menutup usahanya hanya untuk pelayanan anggota saja, maka segmentasi ini akan sulit
untuk ditembus pesaing baru. Bagi koperasi-koperasi kredit di negara berkembang, adanya
globalisasi ekonomi dunia akan merupakan peluang untuk menga¬dakan kerjasama dengan
koperasi kredit di negara maju dalam membangun sistem perkreditan melalui koperasi.
Koperasi kredit atau simpan pinjam di masa mendatang akan menjadi pilar kekuatan sekitar
koperasi yang perlu diikuti oleh dukungan lainnya seperti sistem pengawasan dan jaminan.

Sumber: http://nurulhakam.blogspot.com/search/label/Ekonomi%20Koperasi http://sarah-


syahriyani.blogspot.com/2012/11/cara-mensosialisasikan-koperasi-ke.html
Contoh Artikel:

PENGUATAN KOPERASI SUSU UNTUK MENDORONG

PENGEMBANGAN USAHA SAPI PERAH RAKYAT

ABSTRAK

Kenaikan harga susu di tingkat global sejak awal tahun 2007 yang mencapai 41 persen telah
memberikan perbaikan bagi industri persusuan nasional. Produksi susu dari peternak di dalam
negeri terserap baik dengan harga yang relatif meningkat. Hal ini dikarenakan tingginya
permintaan susu di dalam negeri oleh industry pengolahan susu (IPS). Salah satu wadah
organisasi yang berhubungan langsung dengan pengembangan usaha sapi perah adalah
koperasi susu yang terdapat di daerah-daerah sentra usaha sapi perah. Keterkaitan antara
koperasi susu dengan usaha sapi perah tidak hanya sebatas faktor historis kebijakan
pemerintah dalam pengembangan usaha sapi perah, akan tetapi koperasi tersebut juga
merupakan lembaga yang bertindak sebagai mediator antara peternak dengan IPS terutama
dalam pemasaran susu. Namun banyak koperasi yang belum dapat menjalankan fungsinya
secara optimal, yang berdampak terhadap ketidakberdayaan peternak. Penguatan koperasi
susu merupakan salah satu upaya untuk memacu pengembangan usaha sapi perah dan
peningkatan produksi susu nasional. Untuk itu dibutuhkan SDM koperasi yang profesional
dan handal,memiliki naluri berusaha yang tinggi serta memiliki komitmen untuk
mengutamakan kepentingan koperasi di atas kepentingan pribadi. Selain itu, koperasi juga
dituntut untuk memperkuat jaringan (networking) dengan industri-industri pengolahan susu.
Adaptasi kelembagaan contract farming akan sangat membantu dalam terwujudnya hal ini,
karena adanya kemitraan yang jujur dan memperhatikan kepentingan bersama antara
peternak, koperasi susu dan IPS. Disarankan koperasi untuk mengembangkan usahanya ke
arah pengembangan industri down stream melalui pengolahan susu misalnya pasteurisasi dan
ultra high temperature (UHT).

PERMASALAHAN PERSUSUAN NASIONAL

Perkembangan persusuan di Indonesia dapat dikatakan stagnan atau tidak mengalami


perkembangan yang berarti selama 12 tahun terakhir. Produksi susu lokal belum beranjak
Semiloka Nasional Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas – 2020 536 dari
angka 1,1 juta–1,2 juta liter per hari. Jumlah ternak sapi perah berkisar 290 ribu ekor.
Padahal, kebutuhan susu mencapai 4–4,5 juta liter per hari, yang diperkirakan dapat
dihasilkan oleh 750 ribu ekor sapi (KHAIRINA, 2007). Sampai saat ini, untuk mengatasi
disparitas supply dan demand yang besar tersebut, Indonesia masih bergantung pada impor
bahan baku susu terutama dari Australia dan New Zealand. Perkembangan produksi susu
yang lambat ini dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu: (1) iklim tropis yang kurang sesuai
dengan pengembangan komoditas susu; (2) rendahnya skala usaha pemilikan sapi oleh
peternak dimana rata-rata hanya 2-4 ekor; (3) kondisi kesehatan ternak serta kualitas genetic
ternak yang rendah; (4) manajemen usaha ternak yang masih rendah akibat rendahnya
kualitas sumberdaya peternak; (5) kesulitan bahan pakan berkualitas, sementara lahan rumput
semakin sempit; (6) masih kurangnya tenaga ahli yang membantu peternakan rakyat; (7)
rendahnya kualitas susu yang dihasilkan; (8) biaya transportasi tinggi akibat kondisi
infrastuktur transportasi kurang memadai dan (9) rendahnya tingkat konsumsi susu
masyarakat serta pemasaran susu karena tingginya persaingan susu impor (BAGA, 2003).

Kendala yang dihadapi dalam pengembangan usaha sapi perah selama ini terutama adalah
ketidakberdayaan para peternak untuk mengembangkan usaha sebagai akibat rendahnya
pendapatan yang diperoleh selama ini. Sebagian besar peternak sapi perah (91 persen)
merupakan usaha kecil dengan skala kepemilikan 2-4 ekor sapi perah per peternak. Jumlah
pemilikan ternak merupakan salah satu ukuran skala usaha disamping ukuran-ukuran lainnya
(KAY et al., 1994 dalam RAHAYU et al., 2008). Skala usaha ini kurang ekonomis karena
keuntungan yang didapatkan selama ini pada umumnya hanya dapat memenuhisebagian
kebutuhan hidup, dan tidak memungkinkan untuk mengembangkan usaha sapi perahnya.
Hasil kajian SUGIARTI dan SIREGAR (1999) di Kabupaten Bandung yang mencakup
daerah-daerah Pengalengan, Cisarua dan Lembang menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata
usaha sapi perah hanya sebesar Rp.633.903,90,- per bulan dengan rataan jumlahsapi perah
induk sepanjang tahun sebanyak 3 (tiga) ekor. Lebih lanjut, hasil kajian di daerah Cirebon
dengan rataan pemeliharaan 2 (dua) ekor sapi perah induk, menunjukkan pendapatan rata-rata
usaha sapi perah hanya Rp.796.580,- per bulan (SIREGAR dan KUSNADI, 2004).
Rendahnya pendapatan peternak juga dipicu oleh rendahnya harga jual susu segar yang
diterima oleh peternak. Sebagai

perbandingan, harga susu impor di negara asalnya mencapai Rp.4.500,- per liter, dan di
Indonesia harganya menjadi Rp.5.600,- per liter, sedangkan harga susu lokal di tingkat IPS
hanya Rp.2.750 – Rp.3.450,- per liter. Di tingkat koperasi, harga beli susu dari peternak lebih
rendah lagi yaitu Rp.2.300 – Rp.2.500,- per liter (KHAIRINA, 2007). Walaupun setelah
terjadi kenaikan harga susu dunia, saat ini harga susu lokal di tingkat peternak berkisar antara
Rp. 3.500 – Rp. 3.900,- per liter. Bagi para peternak kenaikan ini sebenarnya belum dapat
mencapai angka break even point dari biaya per liter susu sapi apabila dihitung dari biaya
pakan, obat-obatan dan tenaga kerja (ANTARA NEWS on line, 2007). Idealnya harga jual
susu lokal sebesar 80 persen dari harga susu impor (KHAIRINA, 2007). Disparitas harga
susu segar yang relatif besar di tingkat IPS dan peternak ini dikarenakan posisi tawar
(bargaining position) peternak/koperasi terhadap IPS yang rendah. Harga susu lebih
ditentukan oleh IPS berdasarkan standar kualitas mutu yang ketat seperti kandungan mikroba
(TPC) dan total solid (TS) yang harusdipenuhi oleh koperasi. Di sisi lain banyak peternak
belum mampu menghasilkan susu sesuai dengan kualitas yang ditetapkan oleh IPS, karena
rendahnya kemampuan budidaya peternak. Kemampuan budidaya peternak khususnya
menyangkut kesehatan ternak dan mutu bibit yang masih rendah, sangat berpengaruh
terhadap kualitas susu yang dihasilkan selain juga mengakibatkan lambatnya pertumbuhan
produksi susu (DARYANTO, 2007). Rendahnya mengakibatkan banyak ternak yang
terserang mastitis serta brucellosis, yang berakibat mengganggu kemampuan sapi untuk
memproduksi susu. Sedangkan rendahnya mutu bibit sapi diakibatkan oleh terjadinya
perkawinan inbreeding karena peternak belum melakukan penomoran dan pencatatan
(recording) dengan baik, sehingga tidak terpantaunya program IB serta terbatasnya jumlah
pejantan unggul penghasil semen. Kondisi ini dapat menurunSemiloka Nasional Prospek
Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas – 2020 537 kan produktivitas sapi hingga 20
persen dan banyaknya ras sapi perah yang dikawinkan dengan sapi potong dari ras Simental
ternyata juga berpengaruh terhadap kemampuan dalam menghasilkan susu (NURYATI,
2007). Saat ini rata-rata produksi susu sapi perah peternak hanya berkisar antara 10 – 13
liter/laktasi/hari.

Selain itu peternak juga menghadapi masalah kelangkaan sumber bibit sapi perah yang
digunakan untuk replacement karena minimnya pihak yang mau berusaha dalam bidang
pembibitan/rearing. Terbatasnya lahan hijauan pakan ternak, mahalnya harga konsentrat dan
tingginya biaya transportasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak, juga menjadi
penghambat perkembangan usaha sapi perah. Keterbatasan lahan untuk penyediaan pakan
hijauan merupakan masalah serius yang saat ini dihadapi oleh peternak. Di Indonesia belum
tersedia lahankhusus yang diperuntukkan bagi peternakan sapi, selama ini peternakan sapi
berada di atas tanah milik pribadi dengan luas terbatas. Apalagi lahan bagi pengembangan
budidaya rumput semakin sempit akibat desakan atau tekanan penduduk serta keterbatasan
jenis hijauan yang berkualitas sehingga peternak tidak mampu mencukupi kebutuhan hijauan
yang dibutuhkan oleh ternaknya. Negara produsen susu seperti Australia, pemerintah
menyediakan lahan luas untuk memenuhi kebutuhan pakan sapi. Harga pakan konsentrat
yang semakin tinggi juga mengakibatkan banyak peternak yang memberikan konsentrat
dengan kualitas rendah atau dalam jumlah yang kurang, padahal pakan merupakan faktor
yang sangat menentukan terhadap kemampuan berproduksi susu sapi perah induk. Pada usaha
sapi perah biaya pakan konsentrat dapat mencapai 54,6 persen dari total biaya produksi susu
(DARYONO dan MARTANEGARA, 1989).

KESIMPULAN

Pengembangan usahaternak sapi perah rakyat tidak dapat dilepaskan dari peran koperasi susu
sebagai lembaga mitra peternak sapi perah. Namun pada kenyataannya masih banyak
koperasi yang belum berdaya, sehingga tidak mampu meningkatkan kesejahteraan peternak
dan peningkatan usaha peternak. Beberapa faktor kelemahan koperasi yang mempengaruhi
pengembangan usahaternak sapi perah antara lain: (1) rendahnya efisiensi manajemen yang
menyebabkan tingginya handling cost, (2) banyaknya pengurus (SDM) koperasi yang kurang
profesional dan tidak amanah, (3) kurangnya transparansi manajemen pengelolaan dan
bersifat keluarga(pengelola berhubungan keluarga), (4)lemahnya posisi tawar terhadap IPS,
(5) belum sepenuhnya berpihak pada peternak, serta (6) daya kompetisi yang rendah. Dalam
upaya memperkuat dan lebih memberdayakan koperasi peru ditempuh langkah-langkah
sebagai berikut: (1) Koperasiperlu melakukan reorganisasi penggunaan Semiloka Nasional
Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas – 2020 541 faktor produksi terutama
membenahi kembali sistem pendanaan, pengurus, arah penggunaan investasi dan modal yang
harus lebih berorientasi efisiensi, (2) Koperasi susu harus mampu meningkatkan posisi tawar
agar lebih dapat berperan dalam menentukan setiap kebijakan IPS dan memperkuat jaringan
dengan industri-industri pengolahan susu, (3) Adaptasi kelembagaan contract farming dengan
memperhatikan kepentingan bersama antara peternak, koperasi susu dan IPS, (4) Sebaiknya
setiap koperasi susu adalah juga pemegang saham terbesar IPS, serta (5) Mengembangkan
usahanya ke arah industry down stream sehingga menampung keseluruhan produksi susu
para peternak sapi perah.

Sumber:
https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8
&ved=0ahUKEwi5yMiWp5rTAhXLv48KHQ19AXAQFggbMAA&url=http%3A%2F%2Fp
eternakan.litbang.pertanian.go.id%2Ffullteks%2Flokakarya%2Floksp08-
76.pdf%3Fsecure%3D1&usg=AFQjCNHmbVB8KWlQwR0grnIWxo067U4M3w