You are on page 1of 18

BAB 2

TINJAUAN TEORITIS DAN KEBIJAKAN

A. TINJAUAN TEORITIS
1. Defenisi Monitoring
Monitoring menurut pengertian para ahli sebagai suatu proses mengukur,
mencatat, mengumpulkan, memproses dan mengkomunikasikan informasi
untuk membantu pengambilan keputusan manajemen program/proyek
(Calyton dan Petry, 1983).
Monitoring menurut pengertian WHO Monitoring adalah suatu proses
pengumpulan dan menganalisis informasi dari penerapan suatu program
termasuk mengecek secara reguler untuk melihat apakah kegiatan/program
itu berjalan sesuai rencana sehingga masalah yang dilihat /ditemui dapat
diatasi.
Monitoring didefinisikan sebagai siklus kegiatan yang mencakup
pengumpulan, peninjauan ulang, pelaporan, dan tindakan atas informasi
suatu proses yang sedang diimplementasikan (Mercy, 2005). Untuk
mengetahui apakah program yang dibuat itu berjalan dengan baik
sebagaimana mestinya sesuai dengan yang direncanakan, apakah ada
hambatan yang terjadi dan bagaiamana para pelaksana program itu
mengatasi hambatan tersebut. Monitoring terhadap kegiatan yang sedang
berlangsung merupakan langkah pengendalian yang baik dalam penentuan
keberhasilan pelaksanaan suatu kerjasama.
Monitoring bertujuan untuk memperoleh fakta, data dan informasi
tentang pelaksanaan kegaiatan serta untuk melihat apakah kegaiatan yang
dihasilkan sesuai dengan indikator-indikator yang telah direncanakan.
Temuan hasil monitoring akan menjadi dasar untuk menilai hasil pelaksanaan
kegiatan.
Monitoring meupakan kegiatan untuk mengetahui apakah program yang
dbuat berjalan dengan baik sebagaiamana mestinya sesuai dengan
perencanaan dan indikator keluaran, adakah hambatan yang terjadi dan
bagaimana para pelaksana program memapu mengatasi hambatan
tersebut. Monitoring terhadap kegiatan yan sedang berlangsung merupakan
langkah pengendalian yang baik dalam penentuan keberhasilan
pelaksanaan. Secara lebih terperinci monitoring bertujuan untuk :
a) Mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan tentang kegiatan
yang dilaksanakan.
b) Mendapatkan gambaran tentang capaian program.
c) Mendapatkan infomasi tentang adanya kesulitan-kesulitan dan
hambatan-habatan selama kegiatan/program berjalan.
d) Menyajikan fakta dan nilai yang perlu diprhatikan.

Adapun tujuan Monitoring adalah sebagai berikut :


a) Pengukuran dan penilaian kinerja pembinaan, sehingga dapat mencapai
hasil yang diharapkan baik secara kualitas dan kuantitas dengan efektif.
Pada dasarnya fokus dari monitoring adalah masukan dan proses
pelaksanaan sekaligus kontribusi faktor-faktor terkait terhadap hasil
pembinaan secara kualitas dan kuantitas, kerjasama, proses
pengambilan keputusan dan kebijakan, advokasi dan koordinasi.
b) Mengkaji apakah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai
dengan rencana Mengidentifikasi masalah yang timbul agar langsung
dapat diatasi melakukan penilaian apakah pola kerja dan manajemen
yang digunakan sudah tepat untuk mencapai tujuan kegiatan.
mengetahui kaitan antara kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh
ukuran kemajuan, menyesuaikan kegiatan dengan lingkungan yang
berubah, tanpa menyimpang dari tujuan.

Adapun manfaat monitong sebagai berikut :


a) Bagi pihak penanggung jawab program
 Salah satu fungsi manajemen yaitu pengendalian atau supervisi
 Sebagai bentuk pertanggungjawaban (akuntabilitas) kinerja
 Untuk meyakinkan pihak‐pihak yang berkepentingan
 Membantu penentuan langkah‐langkah yang berkaitan dengan
kegiatan selanjutnya.
 Sebagai dasar untuk melakukan monitoring dan evaluasi selanjutnya.
b) Bagi pihak pengelola, yaitu :
 Membantu untuk mempersiapkan laporan dalam waktu yang singkat
 Mengetahui kekurangan‐kekurangan yang perlu diperbaiki dan
menjaga kinerja yang sudah baik.
 Sebagai dasar (informasi) yang penting untuk melakukan evaluasi.

Tipe dan jenis monitoring adalah sebagai berikut :


a) Aspek masukan (input) antara lain mencakup tenaga manusia, dana,
bahan, peralatan, jam kerja, data, kebiajakan, manajemen dan
seterusnya yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan.
b) Aspek proses/aktifitas yaitu aspek yang mencerminkan suatu proses
kegiatan seperti penelitian, pelatihan, proses produksi, pemberian
bantuan dan sebagainya.
c) Aspek keluaran (output) yaitu aspek yang mencakup hasil dari proses
terutama berkaitan dengan kuantitas/jumlah.

Sistem monitoring akan memberikan dampak yang baik bila dirancang


dan dilakukan secara efektif. Berikut kriteria sistem monitoring yang efektif
(Mercy, 2005):

a) Sederhana dan mudah dimengerti (user friendly). Monitoring harus


dirancang dengan sederhana namun tepat sasaran. Konsep yang
digunakan adalah singkat, jelas, dan padat. Singkat berarti sederhana,
jelas berarti mudah dimengerti, dan padat berarti bermakna (berbobot).
b) Fokus pada beberapa indikator utama. Indikator diartikan sebagai titik
kritis dari suatu scope tertentu. Banyaknya indikator membuat pelaku dan
obyek monitoring tidak fokus. Hal ini berdampak pada pelaksanaan
sistem tidak terarah. Maka itu, fokus diarahkan pada indikator utama
yang benar-benar mewakili bagian yang dipantau.
c) Perencanaan matang terhadap aspek-aspek teknis. Tujuan perancangan
sistem adalah aplikasi teknis yang terarah dan terstruktur. Maka itu,
perencanaan aspek teknis terkait harus dipersiapkan secara matang.
Aspek teknis dapat menggunakan pedoman 5W1H, meliputi apa,
mengapa, siapa, kapan, di mana dan bagaimana pelaksanaan sistem
monitoring.
d) Prosedur pengumpulan dan penggalian data. Selain itu, data yang
didapatkan dalam pelaksanaan monitoring pada on going process harus
memiliki prosedur tepat dan sesuai. Hal ini ditujukan untuk kemudahan
pelaksanaan proses masuk dan keluarnya data. Prosedur yang tepat
akan menghindari proses input dan output data yang salah (tidak akurat).

Prinsip-Prinsip monitoring dalam pelaksanaan monitoring suatu program


harus memenuhi prinsip – prinsip sebagai berikut :

a) Beriorentasi Pada Hasil (Result Based Monitring)


Monitoring dilakukan untuk mengukur hasil yang dicapai, hasil digunakan
sebagai bahan untuk perbaiakan atau penigkatan program kerjasama
secara substansi dan administrasi.
b) Mengacu Pada Kriteria Keberhasilan
Monitoring dilakukan mengacu pada kriteria keberhasilan program yang
telah ditetapkan sebelumnya. Penetuan kriteria keberhasilan dilakukan
bersama antara para tim pelaksana monitoring, para pelaksana
program kerjasama, kementrian/lembaga terkait dan organisasi
Internasional.
c) Mengacu Pada Asas Manfaat
Monitoring seharusnya dilaksanakan dengan manfaat yang jelas.
Manfaat tersebut adalah berupa saran, masukan dan rekomendasi untuk
perbaiakan program kerjasama di masa mendatang.
d) Dilakukan Secara Obyektif
Monitoring harus dilaksanakan secara obyektif untuk melaporkan hasil
temuan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya dilapangan.
2. Defenisi Evaluasi
Evaluasi adalah proses penilaian, evaluasi dapat diartikan sebagai
proses pengukuran akan evektivitas strategi yang digunakan dalam upaya
mencapai tujuan. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut akan
digunakan sebagai analisis situasi program berikutnya.
Evaluasi menurut pengertian para ahli merupakan kegiatan yang
terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu obyek dengan menggunakan
instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh
kesimpulan. (Yunanda, 2009).
Evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau
membuat keputusan, sampai sejauh mana tujuan program telah tercapai.
Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh (Wrightstone, dkk, 1956) yang
mengemukakan bahwa pengertian evaluasi adalah penaksiran terhadap
pertumbuhan dan kemajuan ke arah tujuan atau nilai-nilai yang telah
ditetapkan.
Evaluasi menurut Peraturan Pemerintah No. 39 tahun 2006 yaitu
rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input) Keluaran
(output) dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar.
Evaluasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan
monitoring karena informasi yang dihasilkan dari kegiatan monitoring
dijadikan dasar untuk menilai pelaksanaan program/kegiatan. Evaluasi
diarahkan untuk mengukur capaian dan mengontrol arah paleksanaan
kegaiatan. Secara lebih terperinci evaluasi bertujuan untuk :
a) Menilai keberhasilan pelaksanaan suatu kegiatan.
b) Menentukan kendala dan hambatan dalam pelaksanaan program.
c) Memberikan informasi tentang metode yang tepat untuk melaksanakan
kegiatan.
d) Memberikan umpan balik bagi system penilaian program.
e) Media untuk menentukan arah program dan pendekatan untuk mencapai
sasaran dengan baik.
Tujuan evaluasi yaitu menentukan efektivitas dan efisiensi sistem
pembelajaran baik pada tujuan, meteri, metode, media, sumber belajar,
lingkungan dan sistem penilaian itu sendiri dengan cara mengukur atau
menilai. Jadi tujuan penyesuaian evaluasi, terutama dengan jenis studi
evaluasi pembelajaran itu sendiri, seperti evaluasi dan perencanaan
pembangunan, evaluasi, pemantauan, evaluasi dampak, evaluasi ekonomi
dan program efisiensi yang komprehensif.
Evaluasi bertujuan untuk mengetahui apakah program itu mencapai
sasaran yang diharapkan atau tidak, evaluasi lebih menekankan pada aspek
hasil yang dicapai (output). Evaluasi baru bisa dilakukan jika program itu
telah berjalan dalam suatu periode, sesuai dengan tahapan rancangan dan
jenis program yang dibuat dan dilaksanakan.

Adapun model-model evaluasi antara lain sebagai berikut :


Model-model evaluasi yang satu dengan yang lainnya memang tampak
bervariasi, akan tetapi maksud dan tujuannya sama yaitu melakukan
kegiatan pengumpulan data atau informasi yang berkenaan dengan objek
yang dievaluasi. Selanjutnya informasi yang terkumpul dapat diberikan
kepada pengambil keputusan agar dapat dengan tepat menentukan tindak
lanjut tentang program yang sudah dievaluasi. Menurut Kaufman dan Thomas
yang dikutib oleh Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar (2009:
40 ), membedakan model evaluasi menjadi delapan, yaitu:
a) Goal Oriented Evaluation Model, dikembangkan oleh Tyler.
b) Goal Free Evaluation Model, dikembangkan oleh Scriven.
c) Formatif Summatif Evaluation Model, dikembangkan oleh Michael Scriven.
d) Countenance Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake.
e) Responsive Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake.
f) CSE-UCLA Evaluation Model, menekankan pada “kapan” evaluasi
dilakukan.
g) CIPP Evaluation Model, dikembangkan oleh Stufflebeam.
h) Discrepancy Model, dikembangkan oleh Provus.
Tahapan sebelum melakukan evaluasi yaitu :
a) Mengabungkan konsep dan mengadakan penelitian awal. Konsep perlu
direncanakan secara matang sebelum diadakan eksekusi dan perlu
diadakan uji coba untuk mengecek kesesuaian antra draf yang dibuat.
b) Dengan melakukan uji coba.

Ada empat langkah yang dilakukan dalam proses evaluasi menurut (Tenbrink
dikutip oleh Moore), yaitu :
1. Persiapan tahap ini untuk menentukan jenis informasi yang dibutuhkan.
2. Mengumpulkan informasi yaitu memilih teknik untuk mengumpulkan
bermacam-macam informasi seakurat mungkin.
3. Membuat penilaian membandingkan informasi dengan kriteria yang
telah ditentukan untuk membuat penilaian, Membuat keputusan;
mengambil kesimpulan berdasarkan pada penilaian yang telah dibentuk.

Ada tiga jenis evaluasi yaitu :


a) Ex-ante (evaluasi pada tahap perencanaan) evaluasi sebelum
ditetapkannya rencana. Tujuan dari ex-ante yaitu memilih dan
menentukan skala prioritas dari berbagai altenatif, kemungkinan cara
mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
b) On-going (evaluasi pada tahap pelaksanaan) tujuannya untuk
mengetahui tingkat kemajuan pelaksanaan dibandingkan dengan
rencana.
c) Ex-post (evaluasi setelah pelaksanaan berakhir) tujuannya untuk
mengetahui apakah pencapaian (keluaran hasil, dampak) program
mampu mengatasi masalah yang ingin dipecahkan. Evaluasi ini
dimaksudkan untuk menilai efeisensi, evektifitas, dan kemanfaatan dari
suatu program.
3. Monitoring dan Evaluasi (Monev)
Monitoring dan Evaluasi (ME) adalah dua kata yang memiliki aspek
kegiatan yang berbeda yaitu kata Monitoring dan Evaluasi. Monitoring
merupakan kegiatan untuk mengetahui apakah program yang dibuat itu
berjalan dengan baik sebagaiman mestinya sesuai dengan yang
direncanakan, adakah hambatan yang terjadi dan bagaiman para
pelaksana program itu mengatasi hambatan tersebut. Monitoring terhadap
sebuah hasil perencanaan yang sedang berlangsung menjadi alat
pengendalian yang baik dalam seluruh proses implementasi.
Keberhasilan sebuah program dapat dilihat dari apa yang direncanakan
dengan apa yang dilakukan, apakah hasil yang diperoleh berkesesuaian
dengan hasil perencanaan yang dilakukan. Untuk dapat memperoleh
implementasi rencana yang sesuai dengan apa yang direncanakan
manajemen harus menyiapkan sebuah program yaitu monitoring, monitoring
ditujukan untuk memperoleh fakta, data dan informasi tentang pelaksanaan
program, apakah proses pelaksanaan kegiatan dilakukan seusai dengan
apa yang telah direncakan. Selanjutnya temuan-temuan hasil monitoring
adalah informasi untuk proses evaluasi sehingga hasilnya apakah program
yang ditetapkan dan dilaksanakan memperoleh hasil yang berkesuaian atau
tidak. hal tersebut seperti pada gambar berikut ini :

PERENCANAAN
MONITORING

PENYESUAIAN, Angket, Wawancara, FGD, Observasi


PERBAIKAN,
PERUBAHAN
PROGRAM
PROJECT PROSES
PLANNING

EVALUASI

TUJUAN

Gambar Proses monitoring dan evaluasi


Proses dasar dalam monitoring ini meliputi tiga tahap yaitu : (1)
menetapkan standar pelaksanaan; (2) pengukuran pelaksanaan; (3)
menentukan kesenjangan (deviasi) antara pelaksanaan dengan standar dan
rencana.

Menurut Dunn (1981), monitoring mempunya empat fungsi, yaitu:


a) Ketaatan (compliance)
Monitoring menentukan apakah tindakan administrator, staf, dan semua
yang terlibat mengikuti standar dan prosedur yang telah ditetapkan.
b) Pemeriksaan (auditing)
Monitoring menetapkan apakah sumber dan layanan yang
diperuntukkan bagi pihak tertentu bagi pihak tertentu (target) telah
mencapai mereka.
c) Laporan (accounting)
Monitoring menghasilkan informasi yang membantu “menghitung” hasil
perubahan sosial dan masyarakat sebagai akibat implementasi
kebijaksanaan sesudah periode waktu tertentu.
d) Penjelasan (explanation)
Monitoring menghasilkan informasi yang membantu menjelaskan
bagaimana akibat kebijaksanaan dan mengapa antara perencanaan
dan pelaksanaannya tidak cocok.
Penilaian (Evaluasi) merupakan tahapan yang berkaitan erat dengan
kegiatan monitoring, karena kegiatan evaluasi dapat menggunakan data
yang disediakan melalui kegiatan monitoring. Dalam merencanakan suatu
kegiatan hendaknya evaluasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan,
sehingga dapat dikatakan sebagai kegiatan yang lengkap. Evaluasi
diarahkan untuk mengendalikan dan mengontrol ketercapaian tujuan.
Evaluasi berhubungan dengan hasil informasi tentang nilai serta
memberikan gambaran tentang manfaat suatu kebijakan. Istilah evaluasi ini
berdekatan dengan penafsiran, pemberian angka dan penilaian. Evaluasi
dapat menjawab pertanyaan “Apa pebedaan yang dibuat”. (William N
Dunn, 2000).
Tujuan Monitoring dan Evaluasi (Monev)
Umpan balik dari sebuah program akan dipergunakan dalam perbaikan
dan penyesuaian komponen-komponen yang tidak maksimal dalam
pelaksanaan program dan bila memungkinkan perubahan skenario dapat
dilakukan karena gala dalam pelaksanaan program, monitoring tujuannya
adalah seperti yang dikemukan di atas oleh karena itu monitoring sangat
diperlukan untuk keberhasilan sebuah program.
Monitoring bertujuan mendapatkan umpan balik bagi kebutuhan
program yang sedang berjalan, dengan mengetahui kebutuhan ini
pelaksanaan program akan segera mempersiapkan kebutuhan tersebut.
Kebutuhan bisa berupa biaya, waktu, personel, dan alat. Pelaksanaan
program akan mengetahui berapa biaya yang dibutuhkan, berapa lama
waktu yang tersedia untuk kegiatan tersebut. Dengan demikian akan
diketahui pula berapa jumlah tenaga yang dibutuhkan, serta alat apa yang
harus disediakan untuk melaksanakan program tersebut.
Evaluasi bertujuan memperoleh informasi yang tepat sebagai bahan
pertimbangan untuk mengambil keputusan tentang perencanaan program,
keputusan tentang komponen input pada program, implementasi program
yang mengarah kepada kegiatan dan keputusan tentang output menyangkut
hasil dan dampak dari program kegiatan.

Secara lebih terperinci monitoring bertujuan untuk :


a) Mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan.
b) Memberikan masukan tentang kebutuhan dalam melaksanakan program.
c) Mendapatkan gambaran ketercapaian tujuan setelah adanya kegiatan.
d) Memberikan informasi tentang metode yang tepat untuk melaksanakan
kegiatan.
e) Mendapatkan informasi tentang adanya kesulitan-kesulitan dan
hambatan- hambatan selama kegiatan.
f) Memberikan umpan balik bagi sistem penilaian program.
g) Memberikan pernyataan yang bersifat penandaan berupa fakta dan
nilai.
Funsi Monitoring dan Evaluasi (Monev)
Proses pengambilan keputusan berjalan atau berhentinya/perubahan
sebuah atau beberapa program yang berkaitan dilakukan melalui proses
evaluasi. Fungsi Pengawasan dalam kerangka kegiatan monitoring dan
evaluasi terutama kaitannya dengan kegiatan para pimpinan dalam tugas
dan tanggungjawabnya adalah sebagai berikut :
a) Mempertebal rasa tanggung jawab terhadap pejabat yang diserahi
tugas dan wewenang dalam pelaksanaan pekerjaan.
b) Membidik para pejabat agar mereka melaksanakan pekerjaannya
sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan.
c) Untuk mencegah terjadinya penyimpangan, kelainan dan kelemahan
agar tidak terjadi kerugian yang tidak diinginkan.
d) Untuk memperbaiki kesalahan dan penyelewengan agar pelaksanaan
pekerjaan tidak mengalami hambatan dan pemborosan-pemborosan.

Evaluasi menurut (Moh. Rifai, 1986) sebagai kegiatan yang tidak bias
dipisahkan dari kegiatan monitoring memiliki fungsi sebagai berikut:
a) Evaluasi sebagai pengukur kemajuan.
b) Evaluasi sebagai alat perencanaan.
c) Evaluasi sebagai alat perbaikan.

Tugas dan Fungsi Monev


Pemeriksaan Penilaian Evaluasi
 Meninjau  Mengkaji dan  Menilai dan
Pemenuhan menilai seberapa menentukan
Persyaratan dan baik rencana dan apakah produk
system yang produk memnuhi yang dihasilkan
diwajibkan kepuasan penting atau tidak
 Meninjau stakeholder penting, pantas
Kepatuhan  Mengkaji apakah atau tidak pantas,
Persyaratan dan standar yang bagus atau buruk,
sistem yang ditetapkan sudah benar atau salah,
diwajibkan terpenuhi sesuai atau tidak
sesuai
 Menijau Kepatuhan  Meninjau adakah  Menilai dan
terhadap rencana masalah dengan mnntukan apakah
dan program kerja produk produk yang
 Proses yang  Meninjau dihasilkan menarik,
dijalankan sesuai bagaimana produk sukar, berguna,
dengan apa yang dikembangkan lagi efektif secara
ditulis  Mendeteksi secara fungsional, mahal,
 Memeriksa manual dini masalah, terlalu banyak,
mutu, catatan mutu, hambatan dan terlalu rumit,
prosedur kerja, penyimpangan terlalu sedikit atau
intruksi kerja, terhadap proses berantakan
wewenang dan yang berlangsung  Hasil dari audit
tanggung jawab,  Mengirim pesan dan asesmen
formulir sudah kepada pimpinan dievaluasi dan
dijalankan sesuai dan penanggung dijadikan bahan
dengan ketentuan jawab kegaiatan pengambilan
 Pelaporan hasil atas keputusan,
audit dalam bentuk penyimpangan tinjauan,
comply, not comply yang terjadi manajemen,
(mayor and minor),  Pelaporan hasil tindakan koreksi
observasi berupa rekaman dan perbaikan
bagus tidaknya mutu secata terus
spesifikasi produk, menerus
proses dan
rekomendasi,
dijadikan bahan
feedback kepada
yang bewenang
Tabel tugas dan fungsi monev sebagai berikut :

Dengan uraian di atas maka dapat dijelaskan bahwa fungsi monitoring


yang pokok adalah mengukur hasil yang sudah dicapai dalam melaksanakan
program dengan alat ukur rencana yang sudah dibuat dan disepakati;
menganalisa semua hasil pemantauan (monitoring) untuk dijadikan bahan
dalam mempertimbangkan keputusan serta usaha perbaikan dan
penyempurnaan (Soewardji Lazaruth, 1994).
Prinsip-Prinsip Monitoring dan Evaluasi (Monev)
Hal yang paling prinsipil dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi
adalah acuan kegiatan monitoring adalah ketentuan-ketentuan yang
disepakati dan diberlakukan, selanjutnya sustainability kegiatannya harus
terjaga, dalam pelaksanaannya objektivitas sangat diperhatikan dan
orientasi utamanya adalah pada tujuan program itu sendiri.

Adapun prinsip-prinsip monitoring sebagai berikut :


a) Monitoring harus dilakukan secara terus-menerus
b) Monitoring harus menjadi umpan terhadap perbaikan kegiatan program
organisasi
c) Monitoring harus memberi manfaat baik terhadap organisasi maupun
terhadap pengguna produk atau layanan.
d) Monitoring harus dapat memotifasi staf dan sumber daya lainnya untuk
berprestasi.
e) Monitoring harus berorientasi pada peraturan yang berlaku.
f) Monitoring harus obyektif.
g) Monitoring harus berorientasi pada tujuan program.

Adapun mengenai prinsip-prinsip evaluasi, Nanang Fattah (1996)


mengemukakan ada 6 prinsip, yaitu:
1. Prinsip berkesinambungan, artinya dilakukan secara berlanjut.
2. Prinsip menyeluruh, artinya keseluruhan aspek dan komponen program
harus dievaluasi
3. Prinsip obyektif, artinya pelaksanaannya bebas dari kepentingan
pribadi.
4. Prinsip sahih, yaitu mengandung konsistensi yang benar-benar mengukur
yang seharusnya diukur.
5. Prinsip penggunaan kritis
6. Prinsip kegunaan atau manfaat
Pendekatan dan Teknik Monitoring dan Evaluasi (Monev)
Teknik dalam pelaksanaan monitoring dapat dilakukan dengan melalui
kegiatan observasi langsung atas proses, wawancara kepada
sumber/pelaku utama, dan kegiatan diskusi terbatas melalaui forum group
discussion untuk memperoleh klarifikasi pelaksanaan program.

1. Pendekatan
Ada berbagai cara untuk memonitor keluaran dan dampak. Cara itu
adalah pelaporan sistem sosial (social accounting), eksperimentasi sosial
(social experimentation), pemeriksaan sosial (social auditing) dan
pengumpulan bahan untuk penelitian sosial (social research cumulation).
Pendekatan ini masing-masing mempunyai dua aspek yaitu aspek yang
berhubungan dengan jenis informasi yang diperlukan (Dunn, 1981). Hal
tersebut dapat digambarkan seperti dalam diagram di bawah ini :

Pendekatan Jenis control Jenis Informasi yang


diperlukan
Pelaporan system Kunatitatif Informasi yang
sosial ada/yang baru
Eksperimentasi sosial Manipulasi langsung dan Informasi baru
kuantitatif
Pemeriksaan sosial Kuantitatif dan kualitatif
Informasi baru
Pengumpulan bahan Kuantitatif dan kualitatif
Informasi yang ada
untuk penelitian sosial
Diagram pembandingan antara empat pendekatan dalam monitoring

Keempat pendekatan ini mempunyai ciri yang bersamaan yaitu bahwa


keempatnya:
1. Terpusat kepada keluaran kebijaksanaan, sehingga dalam monitoring ini
sangat diperhatikan variabel yang mempengaruhi keluaran, baik yang
tidak dapat dikontrol oleh pembuat kebijaksanaan (misalnya kondisi
sekarang yang sudah ada), dan variabel yang dapat dimanipulasikan
atau diramalkan sebelumnya.
2. Berpusat pada tujuan, yaitu untuk memberikan pemuasan kebutuhan, nilai
atau kesempatan kepada klien atau target.
3. Berorientasi pada perubahan. Tiap-tiap pendekatan itu berusaha untuk
memonitor perubahan dalam suatu jangka waktu tertentu, baik dengan
menganalisis perubahan unjuk kerja antara beberapa program yang
berbeda atau yang sama beberapa variabelnya, atau kombinasi antara
keduanya.
4. Memungkinkan klasifikasi silang keluaran dan dampak berdasarkan
variabel-variabel lain termasuk variabel yang dipergunakan untuk
memonitor masukan kebijaksanaan (waktu, uang, tenaga, perlengkapan)
dan proses kebijaksanaan (aktivitas, dan sikap administratif, organisasi
dan politis yang diperlukan untuk transformasi masukan kebijaksanaan
menjadi keluaran),
5. Berhubungan dengan aspek pelaksanaan kebijaksanaan secara obyektif
maupun subyektif. Indikator obyektif didasarkan atas data baru yang
diperoleh melalui survei sampel atau studi lapangan.
6. Membentuk tim monitoring dan evaluasi yan terdiri dari para
stakeholder.
7. Melakukan bimbingan teknis terhadap para tim monitoring dan evaluasi
8. Mendatangi/mengunjungi lokasi kegiatan untuk mengamati perubahan
yang terjadi dan mengumpulkan data-data dengan mengunakan
instrument monitoring dan evaluasi yang telah disiapkan.
9. Mengolah data hasil monitoring dan evaluasi untuk disusun dalam bentuk
laporan
10. Mengadakan rapat koordinasi dan evaluasi dengan instansi terkait
dalam rangka pennyempurnaan laporan yang mencakup kesimpulan,
saran dan rekomendasi
11. Penyususnan laporan akhir.

2. Teknik
a) Observasi
Observasi ialah kunjungan ke tempat kegiatan secara langsung, sehigga
semua kegiatan yang sedang berlangsung atau obyek yang ada
diobservasi dan dapat dilihat. Semua kegiatan dan obyek yang ada
serta kondisi penunjang yang ada mendapat perhatian secara langsung.
b) Wawancara dan Angket
Wawancara adalah cara yang dilakukan bila monitoring ditujukan pada
seseorang. Instrumen wawancara adalah pedoman wawancara.
Wawancara itu ada dua macam, yaitu wawancara langsung dan
wawancara tidak langsung.
c) Review dokumen
d) Forum Group Discution (FGD)
FGD adalah proses menyamakan persepsi melalaui urun rembug
terhadap sebuah permasalahan atau substansi tertentu sehingga
diperoleh satu kesamaam (frame) dalam melihat dan mensikapi hal-hal
yang dimaksud.
e) PERT (Program Evaluation Research Task) and CPM (Critical Path Method)

PERT CPM
Probabilistik Deterministik
Beorientasi pada kejadian Beorientasi pada kegiatan
Tidak berdasarkan pengalaman Berdasarkan pengalaman
Estimasi multi waktu Estimasi satu waktu

f) Penerapan monitoring dan evaluasi melalui media (e-monev) atau web


based monitoring system.

Proses Monitoring dan Evaluasi (Monev)


Monitoring dan evaluasi dilaksanakan dengan mengikuti langkah
langkah, pertama melakukan kegiatan perencanaan kegiatan, dimana
langkah dan prosedur serta komponen isi yang akan dimonitoring dan
dievaluasi disiapkan dengan baik, kedua pelaksanaan kegiatan monitoring
dan evaluasinya itu sendiri, dan ketiga melaporkan hasil kegiatan dalam
bentuk laporan tertulis sebagai bahan untuk evaluasi dan balikan atas
program-program yang sudah dilakukan.

1. Tahap Perencanaan
Persiapan dilaksanakan dengan mengidentifikasi hal-hal yang akan
dimonitor, variabel apa yang akan dimonitor serta menggunakan
indikator mana yang sesuai dengan tujuan program. Rincian tentang
variabel yang dimonitor harus jelas dulu, serta pasti dulu batasannya dan
definisinya. “Variabel adalah karakteristik dari seseorang, suatu
peristiwa atau obyek yang bisa dinyatakan dengan data numerik yang
berbeda-beda.” (William N Dunn, 2000).
2. Tahap Pelaksanaan
Monitoring ini untuk mengukur kinerja suatu SKPD, Setelah memastikan
definisi yang tepat tentang variabel yang dimonitor serta indikatornya,
maka laksanakan monitoring tersebut.
3. Tahap pelaporan
Pada tahapan ini menentukan apakah prestasi kerja itu memenuhi
standar yang sudah ditentukan dan di sini terdapat tahapan evaluasi,
yaitu mengukur kegiatan yang sudah dilakukan dengan standar yang
harus dicapai. Selanjutnya temuan-temuan tersebut ditindaklanjuti dan
hasilnya menjadi laporan tentang program.

B. TINJAUAN KEBIJAKAN TERKAIT


Dasar hukum untuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi sebagai berikut:
1. Berdasarkan peraturan perundang – undangan nomor 1 tahun 2011
tentang perumahan dan kawasan permukiman, adapun pengertian
perumahan dan kawasan permukiman adalah satu kesatuan sistem yang
terdiri atas pembinaan, penyelengaraan perumahan, pemeliharaan dan
perbaikan, pencegahan dan peningkatan kulaitas terhadap perumahan
kumuh dan permukiman kumuh, penyediaan tanah, pendanaan dan sistem
pembiayaan, serta peran masyarakat. Menurut Undang - undang nomor
1 tahun 2011 pasal 10 yang berbunyi pengawasan sebagaimana di
maksud dalam pasal 6 huruf d meliputi pemantauan, evaluasi, dan
koreksi sesuai dengan kententuan perundang - undangan.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 39 tahun 2006 Tetang Tata Cara
Pengendaian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Pelaporan
Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.
4. Peraturan Menteri Negara Perencana dan Pembangunan Nasional
Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Tata Cara Perencanaan, Pangajuan
Usulan, Penilaian, Pemantauan dan Evaluasi Kegiatan yang di biayai dari
Pinjaman Luar Negeri dan Hibah.
5. Peraturan Mentri Keuangan Nomor 224 tahun 20111 Tentang Tata Cara
Pemantauan dan Evaluasi atas Pinjaman dan Hibah Kepada Pemerintah.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Pelaporan
Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.
7. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 249 Tahun 2011 Tentang
Pengukuran dan Evaluasi Kinerja Atas Pelaksanaan Rencana Kerja dan
Anggaran Kementrian Negara/Lembaga.
8. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tatacara
Penyusuanan Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Perencanaan
Pembangunan Daerah.
9. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 Tentang pengendalian
Interen Pemerintah (SPIP). Penjelasan pasal 48 ayat (2) huruf (c dan d).