You are on page 1of 8

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI KULIT KAYU

MANIS (Cinnamomum burmannii (Nees. & Th. Nees.) Nees ex Bl.)


TERHADAP ISOLAT KLINIS Acinetobacter baumannii
SECARA IN VITRO

Orintya Putri A1), Mudatsir2), Buchari3)


1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala;
2) Dosen Bagian Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala;
3) Dosen Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala.

ABSTRAK

Acinetobacter baumannii merupakan salah satu mikroba patogen oportunistik yang


sering menyebabkan infeksi nosokomial, terutama pada pasien yang dirawat di ruang
perawatan intensif. Saat ini telah dilaporkan adanya resistensi Acinetobacter baumannii
terhadap beberapa golongan antimikroba sehingga perlu dilakukan penemuan dan
pengembangan terapi baru yang lebih aman dan ampuh. Kayu manis merupakan salah satu
tanaman penghasil minyak atsiri yang diketahui memiliki efek antimikroba. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri minyak atsiri kulit kayu manis
(Cinnamomum burmannii (Nees. & Th.Nees.) Nees ex Bl.) terhadap isolat klinis
Acinetobacter baumannii. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL)
dengan 5 kali pengulangan yang terdiri dari 4 kelompok perlakuan dengan konsentrasi 2%,
4%, 6%, dan 8% serta 1 kelompok kontrol negatif (akuades). Uji aktivitas antibakteri
dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram Kirby-Bauer. Hasil penelitian ini
menunjukkan minyak atsiri kulit kayu manis dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, dan 8%
memiliki aktivitas antibakteri terhadap isolat klinis Acinetobacter baumannii dengan rata-
rata diameter zona hambat 6,89 mm, 11,74 mm, 14,84 mm, dan 17,15 mm. Hasil analisis data
menggunakan uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkan dengan uji post hoc Mann-Whitney pada CI
95% menunjukkan berbagai konsentrasi minyak atsiri kulit kayu manis memiliki pengaruh
yang nyata terhadap pertumbuhan isolat klinis Acinetobacter baumannii secara in vitro.
Kata Kunci: Minyak Atsiri, Cinnamomum burmannii, Antibakteri, Acinetobacter
baumannii
ABSTRACT

Acinetobacter baumannii is an opportunistic bacterial pathogen that often lead to


nocomial infections, especially in critically unwell patients in the intensive care unit.
Currently, Acinetobacter baumannii have developed the resistence to several classes of
antibacterial drugs so that it is very necessary to explore and develop the safer and more
potent antibacterial drugs. Cinnamon is one of the essential oil producing plants that are
known to have antimicrobial effects. The purpose of this study was to determine the
antibacterial activity of the essential oil of Cinnamon bark (Cinnamomum burmannii (Nees.
& Th.Nees.) Nees ex Bl.) against clinical isolates of Acinetobacter baumannii. This study
used a Completely Randomized Design (CRD) with 5 repetitions that consisted of 4 treatment
groups with a concentration of 2%, 4%, 6%, and 8% and negative control group (distilled
water). Antibacterial activity test conducted using Kirby-Bauer disc diffusion method. The
result showed the cinnamon’s essential oil with a concentration of 2%, 4%, 6%, and 8% have
antibacterial activity against clinical isolates of Acinetobacter baumannii with an average
diameter of inhibition zone 6,89 mm, 11,74 mm, 14,84 mm, and 17,15 mm respectively. The
result of this study were analyzed by Kruskal-Wallis test followed by Mann-Whitney post hoc
test on CI 95% showed that different concentrations of cinnamon’s essential oil has a
significant effect against clinical isolates of Acinetobacter baumannii.

Keywords: Essential oil, Cinnamomum burmannii, Antibacterial, Acinetobacter baumannii

PENDAHULUAN aman dan ampuh untuk melawan infeksi


bakteri.(7) Beberapa tahun terakhir,
Acinetobacter baumannii merupakan pemanfaatan minyak atsiri dan ekstrak dari
salah satu mikroba patogen oportunistik berbagai tumbuhan sudah banyak
yang mewabah di seluruh dunia.(1) Infeksi digunakan sebagai alternatif pengobatan
A. baumannii sering ditemukan sebagai penyakit infeksi.(8)
penyebab utama infeksi nosokomial atau Kayu manis (Cinnamomum
disebut juga Healthcare-Associated burmannii) merupakan salah satu jenis
Infections (HAIs), terutama pada pasien tumbuhan dari famili Lauraceae yang dapat
yang dirawat di unit perawatan intensif.(2) dimanfaatkan sebagai obat tradisional.
Koloni A. baumannii dapat dijumpai pada Kayu manis sering digunakan dalam
permukaan kulit, membran mukosa, industri makanan, rempah, kosmetik, dan
hidung, dan tenggorokan manusia.(3) Infeksi industri obat karena memiliki aktivitas
bakteri ini dapat menyebabkan ventilator- antibakteri, antijamur, antioksidan, dan
associated pneumonia, infeksi kulit dan antikarsinogenik.(9) Kayu manis juga
jaringan lunak, infeksi luka operasi, infeksi merupakan tumbuhan penghasil minyak
saluran kemih, meningitis, dan infeksi atsiri. Minyak atsiri banyak terdapat di
aliran darah.(4) bagian kulit batang, cabang, dan ranting
Pada tahun 2004 sampai dengan yang merupakan nilai utama dari kayu
tahun 2009 telah terjadi peningkatan manis.(10) Senyawa kimia yang terkandung
resistensi A. baumannii terhadap dalam minyak atsiri kulit batang kayu
antimikroba secara signifikan yang tercatat manis antara lain sinamaldehid (64,49%),
di seluruh dunia. Peningkatan resistensi eugenol (16,57%), linalool (4,82%), α-
tertinggi terjadi pada tahun 2009 untuk pinen (3,02%), dan limonen (2,53%).(11)
seftriakson (83,6%), piperasilin- Penelitian Gupta et al. menunjukkan
Tazobaktam (82,0%), dan seftazidim bahwa minyak atsiri kayu manis sangat
(80,3%) di Timur Tengah. Di Asia-Pasifik efektif dalam menghambat pertumbuhan
terjadi peningkatan resistensi A. baumannii beberapa bakteri, antara lain: Bacillus
terhadap seftazidim sebesar 19,1% dan cereus, Staphylococcus aureus, Escherichia
levofloksasin sebesar 38,9%.(5) Pada tahun coli, Pseudomonas aeruginosa, dan
2012, Gustawan dkk. menemukan sebagian Klebsiella sp.(12) Hasil penelitian dengan
besar pasien yang menderita infeksi A. metode difusi agar terhadap bakteri S. aureus
baumannii yang dirawat di ruang NICU dan E. coli didapatkan masing-masing zona
RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo telah hambatnya 28,7 mm dan 19,2 mm.(9) Pada
mengalami resistensi terhadap antimikroba penelitian lain yang dilakukan menggunakan
pada golongan aminoglikosid, karbepenem, metode dilusi tabung untuk strain bakteri A.
quinolon, sefalosporin, penisilin, beta baumannii ATCC 19606 diperoleh
lactamase inhibitor, dan tigesiklin.(6) konsentrasi hambat minimum (KHM) pada
Fenomena resistensi terhadap konsentrasi 0,5 – 2,5 μL/mL.(7) Berdasarkan
antimikroba membuat pilihan terapi untuk latar belakang yang menyebutkan bahwa
infeksi A. baumannii semakin terbatas. kayu manis memiliki aktivitas antibakteri,
Untuk itu, diperlukan adanya penemuan maka peneliti tertarik untuk melakukan
dan pengembangan terapi baru yang lebih penelitian mengenai uji aktivitas antibakteri
minyak atsiri kulit kayu manis terhadap pneumonia yang dirawat di ruang ICU Rumah
pertumbuhan isolat klinis A. baumannii Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin
yang diisolasi dari spesimen klinis pasien (RSUDZA), Banda Aceh. Isolat tersebut
yang dirawat di Rumah Sakit Umum diperoleh dan sudah diidentifikasi
Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) sebelumnya di Laboratorium Mikrobiologi
dengan metode difusi cakram. RSUDZA.

METODOLOGI PENELITIAN Alat dan Bahan Penelitian

Jenis dan Rancangan Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian


ini adalah autoklaf, batang pengaduk,
Penelitian ini merupakan penelitian cawan petri, gelas ukur, inkubator, jangka
dengan jenis eksperimen laboratorium yang sorong, kapas, kapas lidi, kasa, kawat ose,
menggunakan Rancangan Acak Lengkap kertas aluminium, kertas label, labu
(RAL) yang terdiri dari 5 kelompok Erlenmeyer, lampu spiritus, microwave,
perlakuan, yaitu 4 kelompok dengan oven, pinset, pipet tetes, tabung reaksi, rak
pemberian minyak atsiri kulit kayu manis tabung reaksi, mikroskop, kaca objek,
pada konsentrasi 2%, 4%, 6%, dan 8% serta sarung tangan, timbangan analitik, vortex
kelompok kontrol negatif menggunakan mixer, spektrofotometer, dan API 20 E.
akuades. Penghitungan jumlah pengulangan Bahan yang digunakan dalam
dilakukan dengan menggunakan rumus penelitian ini adalah isolat klinis
Frederer.(13) Pada penelitian ini, jumlah A. baumannii, minyak atsiri kulit kayu
pengulangan yang dilakukan adalah manis, kristal violet, lugol, alkohol 96%,
sebanyak 5 kali pengulangan. safranin, minyak emersi, strip oksidase,
akuades steril, tween 80, kertas cakram
Tempat dan Waktu Penelitian kosong, NaCl 0,9%, media Mueller Hinton
Agar (MHA), media Nutrient Agar (NA),
Penelitian dilakukan pada bulan
media MacConkey Agar (MCA), dan media
Desember 2015 sampai dengan bulan
Blood Agar (BA).
Januari 2016. Uji herbarium dilakukan di
Laboratorium Herbarium Jurusan Biologi Prosedur Penelitian
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Syiah Kuala. Uji Isolasi minyak atsiri pada penelitian
fitokimia dilakukan di Laboratorium ini dilakukan dengan menggunakan metode
Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan destilasi uap. Sebanyak 2 kg kulit kayu
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah manis kering dibersihkan kemudian
Kuala. Isolasi minyak atsiri dilakukan di digiling hingga menjadi serbuk halus. Hasil
Laboratorium Dasar Jurusan Teknik Kimia gilingan kulit kayu manis ditimbang dan
Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala. dibawa ke tempat penyulingan.
Uji aktivitas antibakteri dilakukan di Selanjutnya, minyak atsiri hasil
Laboratorium Mikrobiologi Fakultas penyulingan ditambahkan dengan agen
Kedokteran Universitas Syiah Kuala. pengemulsi Tween 80 untuk memperoleh
senyawa standar. Minyak atsiri dengan
Subjek Penelitian konsentrasi 100% diencerkan hingga
konsentrasinya menjadi 2%, 4%, 6%, dan
Subjek penelitian adalah minyak 8% menggunakan akuades steril.
atsiri kulit kayu manis (Cinnamomum Bakteri uji (A. baumanni) isolat klinis
burmannii) dan isolat klinis A. baumannii. diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi
Bakteri uji yang digunakan adalah isolat RSUDZA. Bakteri dibiakkan pada media
klinis Acinetobacter baumannii yang berasal NA untuk diinkubasikan pada suhu 37oC
dari spesimen klinis sputum penderita
selama 24 jam. Koloni tunggal bakteri dari
media NA kemudian dibiakkan kembali di sekitar cakram. Hasil pengukuran
pada media MCA untuk diinkubasi pada dinyatakan dalam satuan milimeter (mm).
suhu 37oC selama 24 jam dengan tujuan
mengisolasi bakteri Gram negatif dan Analisis Data
identifikasi bakteri. Koloni tunggal bakteri
dari media MCA selanjutnya dibiakkan Analisis data dilakukan pada
pada media BA untuk melihat reaksi Confidence Interval (CI) 95% (α = 0,05).
hemolisis dan identifikasi bakteri. Media Data dianalisis menggunakan uji
bakteri dimasukkan ke dalam inkubator nonparametrik Kruskall-Wallis. Uji beda
pada suhu 37oC selama 24 jam. untuk uji Kruskal-Wallis adalah uji post
Uji aktivitas antibakteri akan hoc Mann-Whitney.
dilakukan dengan metode difusi agar
HASIL DAN PEMBAHASAN
dengan menggunakan kertas cakram
(metode Kirby Bauer). Suspensi bakteri Hasil dari uji aktivitas antibakteri
disiapkan dan diukur kerapatan bakterinya minyak atsiri kulit kayu manis terhadap
menggunakan spektrofotometer pada isolat klinis A. baumannii dapat dilihat
panjang gelombang 625 nm dan absorbansi pada tabel berikut ini.
0,08 – 0,10 untuk mendapatkan standar
kerapatan bakteri pada 1 – 2 x 108 CFU/ml. Tabel hasil uji aktivitas antibakteri
Suspensi bakteri diambil dengan minyak atsiri kulit kayu manis terhadap
menggunakan kapas lidi steril. Kapas lidi isolat klinis Acinetobacter baumannii
steril ditekan dan diputar pada sisi tabung Rata-
Perlaku Diameter Zona Hambat (mm)
di atas batas cairan untuk menyingkirkan rata
an
I II III IV V (mm)
inokulum yang berlebihan. Kemudian Kontrol
kapas lidi tersebut dioleskan pada 0 0 0 0 0 0
(-)
permukaan media MHA sebanyak tiga kali 2% 6,65 7,20 6,60 7,00 7,00 6,89
dengan memutar lempeng pada sudut 60oC 4% 12,00 12,20 11,15 11,35 12,00 11,74
setelah setiap pengolesan. Kemudian 6% 15,25 16,00 14,15 14,40 14,40 14,84
8% 17,75 18,80 16,20 16,60 16,40 17,15
lewatkan kapas lidi ke sekeliling pinggiran
permukaan media. Biarkan inokulum Tabel di atas menunjukkan bahwa
mengering pada suhu ruangan dengan minyak atsiri kulit kayu manis memiliki
cawan petri tertutup. aktivitas antibakteri terhadap isolat klinis
Kertas cakram steril ditetesi larutan A. baumannii pada konsentrasi 2%, 4%,
pengenceran minyak atsiri dengan berbagai 6%, dan 8% dengan rata-rata diameter zona
konsentrasi yang sudah ditentukan hambat masing-masing adalah 6,89 mm,
menggunakan mikropipet sebanyak 15 µl. 11,74 mm, 14,84 mm, dan 17,15 mm.
Cakram lalu diletakkan pada cawan petri Sementara itu, pada perlakuan yang hanya
yang telah diinokulasi dengan diberikan akuades steril sebagai kontrol
menggunakan pinset steril. Kemudian negatif diperoleh diameter zona hambat
cawan petri diinkubasikan pada suhu 37°C sebesar 0 mm.
selama 18 – 24 jam. Berdasarkan klasifikasi respon zona
hambat pertumbuhan bakteri menurut
Parameter Pengamatan
Tambekar dan Dahikar(14), maka hasil
Parameter yang diamati pada uji aktivitas antibakteri minyak atsiri kulit
aktivitas antibakteri menggunakan metode kayu manis terhadap isolat klinis A.
difusi cakram adalah diameter zona hambat baumannii dengan konsentrasi 2%
minyak atsiri kulit kayu manis berupa tergolong tidak ada respon, konsentrasi 4%
daerah bening (clear zone) yang terbentuk dan 6% tergolong lemah, dan konsentrasi
8% tergolong sedang. Hasil uji aktivitas
antibakteri minyak atsiri kulit kayu manis Tabel perbandingan diameter zona
dapat dilihat pada gambar di bawah ini. hambat antarperlakuan menggunakan
uji post hoc Mann-Whitney
Kontrol
2% 4% 6% 8%
(-)
2% Kontrol
(-)
2% 0,005*
8% (-) 4% 0,005* 0,009*
4% 6% 0,005* 0,009* 0,009*
8% 0,005* 0,009* 0,009* 0,009*
Keterangan: Tanda (*) menunjukkan perbedaan
yang bermakna (p < 0,05)

6%
Tabel di atas menunjukkan bahwa
minyak atsiri kulit kayu manis pada
Gambar 1. Hasil uji aktivitas konsentrasi 2%, 4%, 6%, dan 8%
antibakteri minyak atsiri kulit kayu menunjukkan perbedaan yang bermakna
manis terhadap isolat klinis A. dengan kontrol negatif yang menandakan
baumannii bahwa minyak atsiri kulit kayu manis
memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan
Data hasil penelitian selanjutnya diuji isolat klinis A. baumannii. Perbandingan
normalitas dan homogenitasnya dengan diameter zona hambat antarperlakuan juga
menggunakan uji normalitas Saphiro-Wilk menunjukkan perbedaan yang bermakna
dan uji homogenitas Levene’s. Hasil uji yang menandakan adanya hubungan antara
mengunakan uji Saphiro-Wilk konsentrasi minyak atsiri kulit kayu manis
menunjukkan data berdistribusi normal (p > dengan aktivitas antibakterinya. Semakin
0,05), sedangkan pada uji Levene’s tinggi konsentrasi minyak atsiri kulit kayu
didapatkan bahwa data tidak homogen manis yang digunakan maka semakin besar
dilihat dari nilai signifikansi 0,000 (p < aktivitas antibakteri (diameter zona
0,05). Variansi data yang tidak homogen hambat) yang dihasilkan. Hal ini didukung
menyebabkan tidak terpenuhinya syarat oleh teori yang dikemukakan oleh Brooks,
untuk uji ANOVA sehingga perlu et al. yang menyatakan bahwa efektivitas
dilakukan transformasi data. Hasil suatu zat antimikroba dapat dipengaruhi
transformasi data tetap menunjukkan oleh konsentrasi zat tersebut. Kemampuan
variansi data yang tidak homogen. Analisis kandungan bahan aktif dalam menghambat
data dilanjutkan dengan uji alternatif pertumbuhan mikroba juga dapat
ANOVA yaitu uji nonparametrik Kruskal- dipengaruhi oleh peningkatan konsentrasi
Wallis dengan Confidence Interval (CI) zat antimikroba.(15)
95% (α = 0,05). Hasil uji menunjukkan Penelitian terkait aktivitas antibakteri
nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05) sehingga minyak atsiri kayu manis telah dilakukan
dapat disimpulkan bahwa minyak atsiri terhadap beberapa bakteri Gram positif dan
kulit kayu manis memiliki pengaruh yang Gram negatif. Penelitian Gupta et al.
signifikan terhadap pertumbuhan isolat menunjukkan bahwa minyak atsiri kayu
klinis A. baumannii. Analisis data manis sangat efektif dalam menghambat
dilanjutkan dengan uji beda post hoc Mann- pertumbuhan bakteri Bacillus cereus,
Whitney. Perbandingan diameter zona Staphylococcus aureus, Escherichia coli,
hambat antarperlakuan dapat dilihat pada Pseudomonas aeruginosa, dan Klebsiella
tabel berikut ini. sp. dengan diamater zona hambat berturut-
turut adalah 29 mm, 20 mm, 16 mm, 16
mm, dan 14 mm.(12)
Aktivitas antibakteri yang dihasilkan mengakibatkan terjadinya lisis sel yang
oleh minyak atsiri kulit kayu manis pada berakhir pada kematian sel.(23)
penelitian ini diduga berasal dari
kandungan senyawa aktif yang terdapat KESIMPULAN DAN SARAN
didalamnya. Berdasarkan penelitian Kim et
al., sinamaldehid dan eugenol merupakan Kesimpulan
senyawa yang paling banyak terkandung
dalam minyak atsiri kulit kayu manis.(11) Berdasarkan hasil penelitian yang
Sinamaldehid dan eugenol memiliki telah dilakukan dapat disimpulkan:
mekanisme kerja menghambat produksi 1. Minyak atsiri kulit kayu manis
enzim penting dalam bakteri, menyebabkan (Cinnamomum burmannii) memiliki
kerusakan pada dinding sel bakteri, serta aktivitas antibakteri terhadap isolat
mampu menghambat pembentukan klinis A.baumannii secara in vitro.
biofilm.(11,16) Sinamaldehid mampu 2. Aktivitas antibakteri minyak atsiri
mencegah aktivitas dekarboksilase asam kulit kayu manis (Cinnamomum
amino dalam bakteri dan menghambat burmannii) yang paling optimal
proses glikolisis.(17,18) Peran eugenol ditunjukkan pada konsentrasi uji yang
sebagai antibakteri dapat dikaitkan dengan memiliki diameter zona hambat
sifat hidrofobiknya yang mampu paling besar yaitu konsentrasi 8%.
meningkatkan permeabilitas membran sel Saran
bakteri sehingga menyebabkan kerusakan
pada struktur lipid sel bakteri dan membran Saran pada penelitian ini adalah
mitokondria.(19) sebagai berikut:
Efek antibakteri juga diduga berasal 1. Perlu dilakukan penelitian lanjutan
dari senyawa metabolit sekunder yang untuk menentukan konsentrasi
terkandung dalam minyak atsiri kulit kayu minyak atsiri kulit kayu manis
manis. Berdasarkan hasil uji fitokimia yang (Cinnamomum burmannii) yang
dilakukan pada penelitian ini, minyak atsiri paling efektif untuk menghambat
kulit kayu manis mengandung senyawa pertumbuhan bakteri.
alkaloid, terpenoid, dan steroid. Senyawa 2. Perlu dilakukan penelitian lanjutan
alkaloid bekerja dengan cara menghambat untuk mengetahui konsentrasi hambat
sintesis dinding sel bakteri dan merusak minimum (KHM) dan konsentrasi
komponen penyusun peptidoglikan. Hal ini bunuh minimum (KBM) minyak
menyebabkan lapisan dinding sel bakteri atsiri kulit kayu manis (Cinnamomum
tidak terbentuk sempurna yang burmannii) terhadap isolat klinis
(20)
mengakibatkan kematian sel. Senyawa A. baumannii secara in vitro.
terpenoid memiliki mekanisme kerja 3. Perlu dilakukan penelitian lebih
merusak integritas membran sel bakteri lanjut untuk menilai uji aktivitas
yang dapat mengganggu aktivitas sel antibakteri terhadap isolat klinis A.
sehingga menyebabkan lisis dan kematian baumannii secara in vitro dengan
sel bakteri.(21) Senyawa steroid memiliki menggunakan bahan uji lainnya.
mekanisme kerja mempengaruhi membran
lipid dan menyebabkan kebocoran pada DAFTAR PUSTAKA
liposom.(22) Steroid juga dapat berinteraksi
dengan membran fosfolipid yang bersifat 1. Al-Dabaibah N, Obeidat NM,
permeabel terhadap senyawa-senyawa Shehabi AA. Epidemiology Features
lipofilik sehingga menyebabkan integritas of Acinetobacter baumannii
membran sel menurun dan morfologi Colonizing Respiratory Tracts of
membran sel berubah. Hal tersebut ICU Patients. Int Arab J Antimicrob
Agents. 2012;2(2):1–7.
2. McConnell MJ, Actis L, Pachón J. Miracle of Herbs. Jakarta: PT
Acinetobacter baumannii: Human Agromedia Pustaka; 2013. 93-96 p.
Infections, Factors Contributing to 11. Kim Y, Lee J, Kim S, Baek K, Lee J.
Pathogenesis and Animal Models. Cinnamon Bark Oil and Its
FEMS Microbiol Rev. Components Inhibit Biofilm
2013;37(2):130–55. Formation and Toxin Production. Int
3. Custovic A, Smajlovic J, Tihic N, J Food Microbiol. 2015;195:30–9.
Hadzic S, Ahmetagic S, Hadzagic H. 12. Gupta C, Garg AP, Uniyal RC,
Epidemiological Monitoring of Kumari A. Antimicrobial Activity of
Nosocomial Infections Caused by Some Herbal Oils Againts Common
Acinetobacter Baumannii. Med Food-borne Pathogens. African J
Arch. 2014;68(6):402–6. Microbiol Res. 2008;2:258–61.
4. Visca P, Seifert H, Towner KJ. 13. Hanafiah KA. Rancangan Percobaan
Acinetobacter Infection – An dan Teori Aplikasi. Jakarta: PT Raja
Emerging Threat to Human Health. Grafindo Persada; 2010. 37-43 p.
IUBMB Life. 2011;63(12):1048–54.
14. Tambekar DH, Dahikar SB.
5. Morfin-Otero R, Dowzicky MJ. Exploring Antibacterial Potential of
Changes in MIC Within a Global Some Ayurvedic Preparations to
Collection of Acinetobacter Control Bacterial Enteric Infections.
baumannii Collected as Part of the J Chem Pharm Res. 2010;2(5):494–
Tigecycline Evaluation and 501.
Surveillance Trial, 2004 to 2009.
Clin Ther 2012;34(1):101–12. 15. Brooks GF, Butel J s, Morse SA.
Mikrobiologi Kedokteran Jawetz,
6. Gustawan IW, Satari HI, Amir I, Melnick, & Adelberg. 23rd ed.
Astrawinata DA. Gambaran Infeksi Jakarta: EGC; 2007. 161-171 p.
Acinetobacter baumannii dan Pola
Sensitifitasnya terhadap Antibiotik. 16. Sanla-Ead N, Jangchud A,
2014;16(1):35–40. Chonhenchob V, Suppakul P.
Antimicrobial Activity of
7. Sienkiewicz M, Głowacka A, Cinnamaldehyde and Eugenol and
Kowalczyk E, Wiktorowska- Their Activity after Incorporation
Owczarek A, Jóźwiak-Bębenista M, into Cellulose-based Packaging
Łysakowska M. The Biological Films. Packag Technol Sci.
Activities of Cinnamon, Geranium, 2012;25:7–17.
and Lavender Essential Oils.
Molecules. 2014;19:20929–40. 17. Kon KV, Rai MK. Plant Essential
Oils and Their Constituents in
8. Prabuseenivasan S, Jayakumar M, Coping with Multidrug-resistant
Ignacimuthu S. In Vitro Bacteria. Expert Rev Anti Infect
Antibacterial Activity of Some Plant Ther. 2012;10(7):775–90.
Essential Oils. BMC Complement
Altern Med. 2006;6(39):1–8. 18. Tiwari V, Roy R, Tiwari M.
Antimicrobial Active Herbal
9. Zhang Y, Liu X, Wang Y, Jiang P, Compounds Against Acinetobacter
Quek S. Antibacterial Activity and baumannii and Other Pathogens.
Mechanism of Cinnamon Essential Front Microbiol. 2015;6:1–11.
Oil Against Escherichia coli and
Staphylococcus aureus. Int J Food 19. Pelletier R. Effect of Plant-Derived
Microbiol. 2016;59:282–9. Molecules on Acinetobacter
baumannii Biofilm on Abiotic
10. Utami P, Puspaningtyas DE. The Surfaces. University of Connecticut;
2012. 22. Madduluri S, Rao KB, Sitaram B. In
20. Robinson T. Kandungan Organik Vitro Evaluation of Antibacterial
Tumbuhan Tinggi. 6th ed. Bandung: Activity of Five Indigenous Plants
ITB; 1995. Extract Againts Five Bacterial
Pathogens of Human. Int J Pharm
21. Silva NCC, Fernandes Júnior A. Pharm Sci. 2013;5:679–84.
Biological Properties of Medicinal
Plants: a Review of Their 23. Bhat S V, Nagasampagi BA,
Antimicrobial Activity. J Venom Sivakumar M. Chemistry of Natural
Anim Toxins Incl Trop Dis. Product. India: Narosa Publishing
2010;16(3):402–13. House; 2005.