You are on page 1of 5

Jumat , 04 August 2017, 18:59 WIB

Tempat Pembuatan Garam di


Bantul tidak Beroperasi
Red: Yusuf Assidiq
Antara

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Tempat pembuatan garam di kawasan Pantai Samas, Kecamatan


Sanden, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mangkrak atau tidak beroperasi sejak 2016
hingga pertengahan 2017. Kondisi kemarau basah memengaruhi kelanjutan produksi tempat
pembuatan garam itu.
"Terakhir beroperasi kalau tidak salah sekitar 2015, kemudian sejak 2016 sampai sekarang tidak
operasional karena pengaruh kemarau basah," kata Ketua Kelompok Nelayan Mino Samudro Pantai
Samas, Sadino, di Bantul, Jumat (4/8).

Menurut dia, tempat pembuatan garam di kawasan Pantai Samas dengan memanfaatkan fasilitas bak
penampung air laut yang ukurannya tidak terlalu luas tersebut merupakan bantuan Dinas Kelautan
dan Perikanan (DKP) DIY.

Ia mengatakan, bantuan bak penampung air laut itu dibangun pada 2013 dan kemudian selama dua
tahun berjalan yaitu 2014 dan 2015 bisa beroperasional, tetapi mulai 2016 tidak beroperasi karena
cuaca yang tidak mendukung.

"Ketika beroperasi waktu itu hasilnya pernah dipromosikan lewat Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP)
Bantul ke pasar, karena waktu itu pemasaran sulit karena kalah sama pabrik. Dan sejak 2016 tidak
beroperasi sama sekali," katanya.

Dikatakan, sedangkan pada 2017 ini kelompok nelayan mengaku siap mengoperasikan jika cuaca
mendukung yaitu kemarau dan mendapat pendampingan dan fasilitasi dari dinas, mengingat fasilitas
yang ada perlu dilakukan pembenahan.

"Dulu bak ini dikelola satu kelompok, satu kelompok berisi 50 orang, jadi bergantian mengelolanya.
Cara produksinya pas sore ambil air laut kemudian dibawa ke bak lalu dikontrol kadar garamnya,"
katanya.

Ia mengatakan, kalau kadar garam yang terkandung dalam air laut tersebut sudah standar, kemudian
dialirkan ke terpal yang telah disiapkan dan dibiarkan mengering atau dijemur selama sehari.

"Kalau cuaca bagus bak penampung ini bisa memproduksi sekitar 50 sampai 60 kilogram garam
grosok. Tetapi sejak 2016 produksi berhenti, penyebabnya karena kemarau basah," ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul, Pulung Haryadi, sebelumnya
mengatakan pembuatan garam di Samas itu merupakan uji coba tiga tahun lalu, belum dilanjutkan
sampai sekarang karena berbagai pertimbangan.

Sumber : Antara

PEMKAB BANTUL
Pesisir Selatan Sebagai Lokasi
Budidaya Garam
Pemkab Bantul mendorong pengembangan budidaya garam di kawasan
pantai.

Solopos.com, BANTUL – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul


mendorong pengembangan budidaya garam dengan kolam terpal di
kawasan pantai selatan daerah ini sebagai bagian dari diversifikasi
usaha nelayan.

“Budidaya garam di pantai selatan merupakan program pendampingan


pemerintah, arahannya diversifikasi usaha nelayan, dan kemarin sudah
kami latih nelayan di sepanjang pantai Bantul,” kata Kasi Pemberdayaan
Masyarakat Pesisir DKP Bantul, Isti Wasono di Bantul, Rabu (8/4/2015).

Menurut dia, budidaya garam di pantai selatan Bantul saat ini sudah
dikembangkan kelompok masyarakat dan nelayan di dua lokasi yakni
Pantai Depok Parangtritis dan Pantai Samas, setelah sebelumnya
diujicobakan di kawasan Pantai Depok.

“Kami mencoba membangkitkan semua potensi yang ada di pantai


selatan, termasuk di dalamnya pembuatan garam, dan produksinya
(garam) bagus, karena dari sisi kualitas garam pantai selatan lebih putih
dan asin,” katanya.

Ia mengatakan, sejauh ini kegiatan budi daya garam di pantai selatan


ditekankan pada pemanfaatkan kolam terpal sesuai dengan karakter
pantai tersebut, tidak seperti konsep yang dilakukan di wilayah pantai
utara yang menggunakan tambak.

“Di pantai selatan tidak mungkin membuat tambak garam yang


mengandalkan pasang surut ombak seperti di pantai utara, karena pasir
pantai selatan memiliki daya serap air tinggi, sehingga begitu air lewat,
maka habis terserap,” katanya.

Oleh sebab itu, kata dia, kegiatan budidaya garam di pantai selatan
memanfaatkan terpal yang mengambil air laut secara manual dengan
menggunakan perahu, sehingga dari sisi efisiensi biaya model ini perlu
tenaga dan biaya lebih besar.

Sementara itu, kata dia, kegiatan budidaya garam di Pantai Samas


sudah dikembangkan sejak setahun terakhir, meski demikian, belum
bisa berproduksi secara berkesinambungan karena sangat dipengaruhi
faktor cuaca seperti hujan.
“Hingga saat ini sudah tiga sampai empat kali produksi garam dengan
kolam terpal seluas 15 kali 20 meter, oleh masyarakat sekitar garam
tersebut diigunakan untuk memasak dan keperluan pengawetan ikan
tangkap laut,” katanya.

DIY Siap Hidupkan Tambak Garam di Samas dan Pantai


Sepanjang Gunungkidul.
Print Artikel
http://www.rri.co.id/post/berita/417641/ekonomi/diy_siap_hidupkan_tambak_garam_di_samas_dan_
pantai_sepanjang_gunungkidul.html👤by Wuri Damaryanti Suparjo

28 July
22:002017
KBRN, Yogyakarta : Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pernah memproduksi garam di wilayah pantai
Parangtritis dan pantai Samas Kabupaten Bantul. Namun, karena saat itu pasar garam belum bagus
aktivitas tambak garam kemudian terhenti karena masyarakat lebih fokus ke pengelolaan wisata yang
lebih menjanjikan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY Sigit Sapto Raharjo mengatakan saat ini pihaknya telah
berkomunikasi dengan masyarakat di kedua wilayah tersebut untuk menghidupkan kembali tambak
garam. Dari hasil komunikasi hanya petani garam pantai Samas yang siap mengembangkan tambak
garam lagi. Sementara warga Parangtritis memilih fokus ke wisata.

“Untuk saat ini hanya tambak garam di Pantai Sepanjang Gunungkidul satu-satunya yang masih
berproduksi di DIY. Namun produksinya juga belum optimal, dan bukan tidak mungkin ditinggalkan
karena masyarakat beralih ke usaha sektor pariwisata,” terang Sigit Sapto Raharjo di kantornya, Jumat
(28/7/2017).

Sigit menyatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Pemkab Gunungkidul dan Bantul untuk
mengoptimalkan tambak garam di pantai dan berupaya mensinergikan keberadaanya dengan wisata
agar keduanya berjalan optimal.

“Produksi garam di pantai Sepanjang Gunungkidul sebenarnya sudah memiliki pasar khusus, salah
satunya untuk kebutuhan budidaya ikan Kerapu di wilayah Sleman,” pungkasnya. (Wuri/DS)