You are on page 1of 51

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF SUBTOTAL

TYROIDECTOMI
PADA NY. M DENGAN GENERAL ANESTESI
DI KAMAR BEDAH RS. PGI CIKINI JAKARTA
TANGGAL 15 SEPTEMBER 2015

DISUSUN OLEH :
ALFI SYAHRIN
BEATRIX AESTIKA ROSMARIA
MARSHALL TALLUPADANG
MUHAMMAD ABDUL WAHID
NUR AZIZIR MUBIN
SAN MAYCHEL N. TOLAGE
SIANJUR S. LIMBONG
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Struma koloid, difus, nontoksik, dan nondular koloid merupakan gangguan yang sangat
sering dijumpai dan menyerang 16% perempuan dan 4% laki-laki yang berusia antara 20
sampai 60 tahun seperti yang telah dibuktikan oleh suatu penyelidikan di Tecumseh, suatu
komunitas di Michigan. Biasanya tidak ada gejala-gejala lain kecuali gangguan kosmetik,
tetapi kadang-kadang timbul komplikasi-komplikasi. Struma mungkin membesar secara difus
dan atau bernodula.

Struma endemik merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia. Sebab utamanya adalah
efisiensi yodium, disamping faktor-faktor lain misalnya bertambahnya kebutuhan yodium
pada masa pertumbuhan, kehamilan dan laktasi atau pengaruh-pengaruh zat-zat goitrogenik.
Goitrogenik sporadik dapat disebabkan faktor genetik atau karena obat (iatrogenic) antara
lain metal atau propiltiourasil (PTU), tolbutamid, sulfaguanidin, PAS dan lain-lain.

Pada keadaan normal kelenjar tiroid demikian kecil, hingga tidak mempengaruhi bentuk
leher. Adakalanya terjadi pembesaran dari kelenjar tiroid yang disebut dengan struma.
Apabila pada pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu nodul maka pembesaran ini disebut
struma nodosa.

Struma mudah ditemukan, karena segera terlihat dan dapat diraba (68% oleh penderita dan
90% oleh pemeriksa), tetapi justru sulit ditetapkan penyebabnya dan tidak bermaknanya
kelainan anatomi (struma) dengan perubahan fungsi yang terjadi. Suatu penelitian di Boston,
pada 8% dari 2585 autopsi rutin, ditemukan nodul tiroid. Di RS. Hasan Sadikin Bandung
menemukan diantara 696 pasien struma, sebanyak 415 (60%) menderita struma nodosa dan
hanya 31 diantaranya yang bersifat toksik. Penelitian Lukitho di RS. Hasan Sadikin Bandung
didapatkan dari 325 kasus struma nodosa perbandingan pria dan wanita adalah 1 : 4,2
sedangkan penelitian di Jakarta oleh Hamzah dari tahun 1986-1995 perbandingan penderita
struma nodosa antara pria dan wanita adalah 1 : 5,6.

Bertitik tolak dari masalah diatas, maka kelompok menulis karya ilmiah ini dengan judul ”
Asuhan Keperawatan Perioperatif Subtotal Tiroidectomi pada Ny.M dengan General
Anestesi Di Ruang Operasi RS PGI CIKINI.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah pada pembahasan makalah ini
adalah “bagaimana pengelolaan pasien dengan anestesi umum pada operasi subtotal
tiroidectomi indikasi struma nodusa ditinjau dari asuhan keperawatan perioperatif”.

C. Ruang lingkup
Ruang lingkup pada pembahasan makalah ini adalah pengelolaan pasien selama preoperasi,
intraoperasi dan postoperasi.

D. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Memperoleh gambaran dan pengalaman nyata dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
pada klien dengan operasi subtotal tiroidektomi ditinjau dari asuhan keperawatan
perioperatif.
2. Tujuan Khusus
a. Memperoleh pengalaman nyata dalam pengkajian analisis data dan perumusan
diagnosa keperawatan pada klien dengan subtotal tiroidectomi indikasi struma
nodusa ditinjau dari asuhan keperawatan perioperatif.
b. Memperoleh pengalaman nyata dalam menetapkan perencanaan keperawatan pada
klien dengan subtotal tiroidectomi indikasi struma nodusa ditinjau dari asuhan
keperawatan perioperatif.
c. Memperoleh pengalaman nyata dalam pelaksanaan rencana keperawatan pada klien
dengan subtotal tiroidectomi indikasi struma nodusa ditinjau dari asuhan keperawatan
perioperatif.
d. Memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan evaluasi pelaksanaan asuhan
keperawatan pada klien dengan subtotal tiroidectomi indikasi struma nodusa ditinjau
dari asuhan keperawatan perioperatif.
e. Memperoleh pengalaman nyata dalam mendokumentasikan pelaksanaan asuhan
keperawatan pada klien dengan subtotal tiroidectomi indikasi struma nodusa ditinjau
dari asuhan keperawatan perioperatif.

E. Manfaat
1. Manfaat bagi Institusi
Sebagai bahan ilmiah dan sumber informasi bagi institusi dalam rangka meningkatkan
mutu pelayanan pada masa yang akan datang.
2. Manfaat bagi Rumah Sakit
Sebagai masukan bagi tenaga kesehatan khususnya perawat yang ada dirumah sakit
dalam mengambil langkah-langkah kebijaksanaan dalam rangka meningkatkan pelayanan
anastesi pada klien dengan subtotal tiroidectomi
3. Manfaat Bagi Penulis
Sebagai bahan evaluasi tentang penetapan konsep perawatan yang didapatkan selama
pendidikan ke dalam praktek keperawatan secara nyata.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Medis
1. Definisi /Pengertian
Struma disebut juga goiter adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena
pembesaran kelenjar tiroid akibat kelainan glandula tiroid dapat berupa gangguan fungsi
atau perubahan susunan kelenjar dan morfologinya.

Dampak struma terhadap tubuh terletak pada pembesaran kelenjar tiroid yang dapat
mempengaruhi kedudukan organ-organ di sekitarnya. Di bagian posterior medial kelenjar
tiroid terdapat trakea dan esophagus. Struma dapat mengarah ke dalam sehingga
mendorong trakea, esophagus dan pita suara sehingga terjadi kesulitan bernapas dan
disfagia. Hal tersebut akan berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi
serta cairan dan elektrolit. Bila pembesaran keluar maka akan memberi bentuk leher yang
besar dapat asimetris atau tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia (Sri
Hartini, Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, hal. 461, FKUI, 2006).

2. Etiologi
Etiologi Penyebab kelainan ini bermacam – macam,pada siap orang dapat dijumpai masa
karena kebutuhan terhadap tiroksin bertambah, terutama masa pubertas , pertumbuhan ,
menstruasi, kehamilan , laktasi, monepouse, infeksi atau stress lain. Pada masa-masa
tersebut dapat dijumpai hiperplasi dan involusi kelenjar tiroid. Perubahan ini dapat
menimbulkan nodularitas kelenjar tiroid serta kelainan arsitektur yang dapat berlanjut
dengan berkurangnya aliran darah di daerah tersebut sehingga terjadi iskemia. ( Manjoer,
1999 : 589 )
3. Anatomi dan Fisiologi
a. Anatomi sistem pernapasan
Sistem respirasi terdiri dari:

1) Saluran nafas bagian atas


a) Rongga hidung
Udara yang dihirup melalui hidung akan mengalami tiga hal, yaitu:
dihangatkan,disaring dan dilembabkan. Yang merupakan fungsi utama dari
selaput lendir respirasi ( terdiri dari : Psedostrafied ciliated columnar
epitelium yang berfungsi menggerakkan partikel partikel halus kearah faring
sedangkan partikel yang besar akan disaring oleh bulu hidung, sel golbet dan
kelenjar serous yang berfungsi melembabkan udara yang masuk, pembuluh
darah yang berfungsi menghangatkan udara). Ketiga hal tersebut dibantu
dengan concha.
b) Nasofaring
Terdapat pharyngeal tonsil dan Tuba Eustachius.
c) Orofaring
Merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring,terdapat pangkal lidah.
d) Laringofaring
Terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan.

2) Saluran nafas bagian bawah


a) Laring
Terdiri dari tiga struktur yang penting
(1) Tulang rawan krikoid
(2) Selaput/pita suara
(3) Epiglotis
(4) Glotis
b) Trakhea
Merupakan pipa silinder dengan panjang ± 11 cm, berbentuk ¾ cincin tulang
rawan seperti huruf C. Bagian belakang dihubungkan oleh membran
fibroelastic menempel pada dinding depan esofagus.
c) Bronkhus
Merupakan percabangan trakhea kanan dan kiri. Tempat percabangan ini
disebut carina. Bronchus kanan lebih pendek, lebar dan lebih dekat dengan
trachea. Bronchus kanan bercabang menjadi : lobus superior, medius,
inferior. Brochus kiri terdiri dari : lobus superior dan inferior.
Bagian ini menghantarkan udara yang masuk dari saluran bagian atas sampai
alveoli yaitu merupakan tempat terjadinya pertukaran gas antara O2 dan CO2.
d) Paru-paru
(1) Paru sinistra mempunyai 2 lobus yang dipisahkan oleh fisura obliqua.
Terdiri dari : lobus inferior dan lobus superior.
(2) Paru dekstra mempunyai 3 lobus yang dipisahkan oleh fisura obliqua dan
fisura horizontalis.Terdiri dari lobus superior, lobus medius dan lobus
inferior.
(3) Struktur paru-paru : alveolus  sacus alveolaris  ductus alveolaris 
brhonchiolus respiratorius  bronchiolus terminalis  bronchiolus.
(4) Sirkulasi paru memiliki pembuluh darah arteri menuju paru, sedangkan
pembuluh darah vena meninggalkan paru.
(5) Capiler arteri pulmonalis  melepaskan CO2
(6) Capiler ventrikel pulmonalis  mengambil O2
e) Rongga Pleura
Terbentuk dari dua selaput serosa, yang meluputi dinding dalam rongga dada
yang disebut pleura parietalis, dan yang meliputi paru atau pleura viseralis
f) Rongga dan dinding dada
Merupakan pompa muskuloskeletal yang mengatur pertukaran gas dalam
proses respirasi.

b. Anatomi kelenjar tiroid

Kelenjar tiroid/gondok terletak di bagian bawah leher, kelenjar ini memiliki dua
bagian lobus yang dihubungkan oleh ismus yang masing-masing berbetuk lonjong
berukuran panjang 2,5-5 cm, lebar 1,5 cm, tebal 1-1,5 cm dan berkisar 10-20 gram.
Kelenjar tiroid sangat penting untuk mengatur metabolisme dan bertanggung jawab
atas normalnya kerja setiap sel tubuh. Kelenjar ini memproduksi hormon tiroksin
(T4) dan triiodotironin (T3) dan menyalurkan hormon tersebut ke dalam aliran darah.
Terdapat 4 atom yodium di setiap molekul T4 dan 3 atom yodium pada setiap
molekul T3. Hormon tersebut dikendalikan oleh kadar hormon perangsang tiroid
TSH (thyroid stimulating hormone) yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar
hipofisis. Yodium adalah bahan dasar pembentukan hormon T3 dan T4 yang
diperoleh dari makanan dan minuman yang mengandung yodium.4 Gambar anatomi
tiroid dapat dilihat di bawah ini.

Hormon tiroid memiliki efek pada pertumbuhan sel, perkembangan dan metabolisme
energi. Selain itu hormon tiroid mempengaruhi pertumbuhan pematangan jaringan
tubuh dan energi, mengatur kecepatan metabolisme tubuh dan reaksi metabolik,
menambah sintesis asam ribonukleat (RNA), menambah produksi panas, absorpsi
intestinal terhadap glukosa,merangsang pertumbuhan somatis dan berperan dalam
perkembangan normal sistem saraf pusat. Tidak adanya hormon-hormon ini,
membuat retardasi mental dan kematangan neurologik timbul pada saat lahir dan
bayi.
4. Intubasi Endotrakeal
Intubasi endotrakea adalah tindakan memasukkan pipa trakea ke dalam trakea melalui
rima glotis, sehingga ujung distalnya berada kira-kira dipertengahan trakea antara pita
suara dan bifurkatio trakea. Terdapat dua macam intubasi, yaitu intubasi nasal dan oral.
Pada dasarnya, tujuan intubasi endotrakheal (Anonim, 1986) :
a. Mempermudah pemberian anestesia.
b. Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas serta mempertahankan kelancaran
pernafasan.
c. Mencegah kemungkinan terjadinya aspirasi isi lambung (pada keadaan tidak sadar,
lambung penuh dan tidak ada refleks batuk).
d. Mempermudah pengisapan sekret trakheobronchial.
e. Pemakaian ventilasi mekanis yang lama.
f. Mengatasi obstruksi laring akut.
g. Obat.

5. Indikasi Intubasi
Indikasi bagi pelaksanaan intubasi endotrakheal menurut Gisele tahun 2002 antara lain :
a. Keadaan oksigenasi yang tidak adekuat (karena menurunnya tekanan oksigen arteri
dan lain-lain) yang tidak dapat dikoreksi dengan pemberian suplai oksigen melalui
masker nasal.
b. Keadaan ventilasi yang tidak adekuat karena meningkatnya tekanan karbondioksida
di arteri.
c. Kebutuhan untuk mengontrol dan mengeluarkan sekret pulmonal atau sebagai
bronchial toilet.
d. Menyelenggarakan proteksi terhadap pasien dengan keadaan yang gawat atau pasien
dengan refleks akibat sumbatan yang terjadi.

Menurut sumber lain (anonim 1986) indikasi intubasi adalah:


a. Ada obstruksi jalan napas bagian atas
b. Pasien memerlukan bantuan napas dengan respirator.
c. Menjaga jalan napas tetap bebas
d. Pemberian anestesi seperti pada operasi kepala, leher, mulut, hidung, tenggorokan,
operasi abdominal dengan relaksasi penuh dan operasi thoracotomy
e. Terdapat banyak sputum (pasien tidak mengeluarkan sendiri).

Sedangkan indikasi intubasi non surgical antara lain:


a. Aspiksia neonatorum berat
b. Untuk melakukan resusitasi pada pasien yang tersumbat pernafasannya, depresi atau
absent dan sering menimbulkan aspirasi.
c. Obstruksi laryngeal berat karena eksudat inflamatoir.
d. Pasien dengan atelektasis dan tanda eksudasi dalam paru-paru.
e. Pada pasien-pasien yang diperkirakan tidak sadar untuk waktu yang lebih lama dari
24 jam seharusnya diintubasi pada post operative respiratory insufficiency

Indikasi intubasi nasal (Anonim, 1986) antara lain :


a. Bila oral tube menghalangi pekerjaan dokter bedah, misalnya tonsilektomi,
pencabutan gigi, operasi pada lidah.
b. Pemakaian laringoskop sulit karena keadaan anatomi pasien.
c. Bila direct vision pada intubasi gagal.
d. Pasien-pasien yang tidak sadar untuk memperbaiki jalan nafas.

6. Alat-alat yang dipergunakan


Didalam melakukan intubasi sebaiknya kita mengingat kata “STATICS” yaitu:
S : Scope : - laringoskop dipilih yang sesuai dan lampunya harus terang
- stetoskop digunakan untuk memeriksa apakah ujung pipa berada
di tempat yang benar.
T : Tube : Pipa trakea yang sesuai dengan ukuran dan sediakan satu ukuran
yang lebih besar dan satu yang lebih kecil. Olesi dengan pelicin
jeli.
A : Airway : Pipa nafas mulut faring
T : Tape : Plester untuk memfiksasi pipa di mulut
I : Introducer : Mandrin atau stilet untuk memandu saat memasukkan ujung pipa
trakea.
C : Connector : Alat penyambung pipa kelat anestesi
S : Suction : Alat penyedot lendir/sekret dan muntah pasien.

a. Laringoskop. Ada dua jenis laringoskop yaitu :


1) Blade lengkung (McIntosh) biasa digunakan pada orang dewasa.
2) Blade lurus (Blade Magill) bayi dan anak-anak.
b. Pipa endotrakheal. terbuat dari karet atau plastik. Untuk operasi tertentu misalnya
didaerah kepala dan leher dibutuhkan pipa yang tidak bisa ditekuk yang mempunyai
spiral nilon atau besi (non kinking). Untuk mencegah kebocoran jalan nafas,
kebanyakan pipa endotrakheal mempunyai balon (cuff) pada ujung distalnya. Pipa
tanpa balon biasanya digunakan pada anak-anak karena bagian tersempit jalan nafas
adalah daerah rawan krikoid. Pada orang dewasa biasa dipakai pipa dengan balon
karena bagian tersempit adalah trachea. Pipa pada orang dewasa biasa digunakan
dengan diameter internal untuk laki-laki berkisar 8,0 – 9,0 mm dan perempuan 7,5 –
8,5 mm. Untuk intubasi oral panjang pipa yang masuk 20 – 23 cm. Pada anak-anak
dipakai rumus :

Diameter (mm) = 4 + Umur/4 = tube diameter (mm)


Rumus lain: (umur + 2)/2
Ukuran panjang ET = 12 + Umur/2 = panjang ET (cm)

Rumus tersebut merupakan perkiraan dan harus disediakan pipa 0,5 mm lebih besar
dan lebih kecil. Untuk anak yang lebih kecil biasanya dapat diperkirakan dengan
melihat besarnya jari kelingkingnya.
c. Pipa orofaring atau nasofaring.
Digunakan untuk mencegah obstruksi jalan nafas karena jatuhnya lidah dan faring
pada pasien yang tidak diintubasi.
d. Plester
Digunakan untuk memfiksasi pipa endotrakhea setelah tindakan intubasi.
e. Stilet atau forsep intubasi (McGill)
Digunakan untuk mengatur kelengkungan pipa endotrakheal sebagai alat bantu saat
insersi pipa. Forsep intubasi digunakan untuk memanipulasi pipa endotrakheal nasal
atau pipa nasogastrik melalui orofaring.Alat pengisap atau suction.

7. Obat-obatan yang digunakan


a. Obat-obat yang dapat diberikan sebagai premedikasi pada tindakan anestesi adalah
sebagai berikut:
1) Obat penenang (tranquillizer)
a) Diazepam
Diazepam (valium) merupakan golongan benzodiazepin. Dosis premedikasi
dewasa 10 mg intramuskular atau 5-10 mg oral (0,2-0,5 mg/kgBB) dengan
dosis maksimal 15 mg. Dosis sedasi pada analgesi regional 5-10 mg (0,04-0,2
mg/kgBB) intravena. Dosis induksi 0,2-1 mg/kg BB intravena.
b) Midazolam
Mempunyai awal dan lama kerja lebih pendek dibandingkan dengan
diazepam. Dosis induksi 0.1 mg/kgBB.
2) Analgetik narkotik
a) Morfin
Dosis premedikasi dewasa 5-10 mg (0,1-0,2 mg/kg BB) intramuskular diberikan
untuk mengurangi kecemasan dan ketegangan pasien menjelang operasi,
menghindari takipnu pada pemberian trikloroetilen, dan agar anestesi berjalan
dengan tenang dan dalam. Kerugiannya adalah terjadi perpanjangan waktu
pemulihan, timbul spasme serta kolik biliaris dan ureter.
b) Petidin
Dosis premedikasi dewasa 50-75 mg (1-1,5 mg/kg BB) intravena diberikan
untuk menekan tekanan darah dan pernafasan serta merangsang otol polos.
Dosis induksi 1-2 mg/kg BB intravena.
c) Fentanyl
Dosis premedikasi diberikan dengan dosis 2 – 2,5 mcg/kgBB diberikan
intravena untuk mengurangi nyeri sebelum tindakan anastesi dan mengurangi
dosis obat induksi
3) Barbiturat (Penobarbital dan sekobarbital).
Diberikan untuk menimbulkan sedasi. Dosis dewasa 100-200 mg, pada anak dan
bayi 1 mg/kg BB secara oral atau intramuskular.
4) Antikolinergik
Atropin diberikan untuk mencegah hipersekresi kelenjar ludah dan bronkus
selama 90 menit. Dosis 0,4-0,6 mg intramuskular bekerja setelah 10-15 menit.

b. Obat-obatan pelumpuh otot yang dapat digunakan, antara lain:


1) Obat Pelumpuh Otot Nondepolarisasi
a) Pavulon (pankuronium bromida). Dosis awal untuk relaksasi otot 0,008 mg/kgBB
intravena pada dewasa. Dosis rumatan setengah dosis awal. Dosis intubasi
trakhea 0,15 mg/kgBB intravena.
b) Trakrium (atrakurium besilat). Keunggulannya adalah metabolisme terjadi di
dalam darah, tidak tergantung pada fungsi hati dan ginjal. Dosis intubasi 0,5-0,6
mg/kgBB intravena. Dosis relaksasi otot 0,5-0,6 mg/kgBB intravena. Dosis
rumatan 0,1-0,2 mg/kgBB intravena.
c) Vekuronium (norkuron). Dosis 0,08-0,1 mg/KgBB.
d) Rokuronium. Dosis intubasi 0,3-0,6 mg/kgBB. Dosis rumalan 0,1-2 mg/kgBB.
2) Obat Pelumpuh Otot Depolarisasi
Suksametonium (suksinil kolin). Mula kerja 1-2 menit dan lama kerja 3-5 menit.
Dosis intubasi 1-1,5 mg/kgBB intravena.

c. Obat-obatan anastesi umum yang digunakan sebagai induksi intravena:


1) Tiopenthal
Bubuk berbau belerang, berwarna kuning, dalam ampul 500/1000 mg. Dilarutkan
dengan aquades sampai konsentrasi 2,5%. Dosis 3-7 mg/kgBB. Melindungi otak
oleh karena kekurangan O2. Sangat alkalis, nyeri hebat dan vasokonstriksi bila
disuntikkan ke arteri yang menyebabkan nekrosis jaringan sekitar.
2) Propofol
Dalam emulsi lemak berwarna putih susu, isotonic, dengan kepekatan 1%. Dosis
induksi 2-2,5 mg/kgBB, rumatan 4-12mg/kgBB/jam, sedasi perawatan intensif
0,2mg/kgBB. Pengenceran hanya dengan Dextrosa 5%. Dosis dikurangi pada
manula, dan tidak dianjurkan pada anak dibawah 3 thn dan ibu hamil.
3) Ketamin
Kurang disenangi karena sering takikardi, hipertensi, hipersalivasi, nyeri kepala.
Paska anestesi mual, muntah, pandangan kabur dan mimpi buruk. Dosis bolus iv
1-2mg/kgBB, im 3-10mg/kgBB.
4) Opioid
Diberikan dosis tinggi, tak menggangu kardiovaskular, sehingga banyak
digunakan untuk pasien dengan kelainan jantung. Untuk induksi dosis 20-
50mg/kgBB, rumatan dosis 0,3-1 mg/kgBB/mnt
d. Obat-obatan anastesi umum untuk induksi inhalasi:
1) N2O
a) Sifatnya tidak berwarna, tidak berbau, tidak mudah meledak, dan tidak mudah
terbakar.
b) N2O berbentuk gas pada suhu ruangan dan tekanan ambien (Morgan, 2006).
c) N2O memiliki berat molekul rendah, berpotensi rendah, dan kelarutan di
darah yang rendah (0.46).
d) Efek analgesik bersifat prominen, menimbulkan relaksasi minimal dari otot
skelet (Stoelting, 2006).
e) Efek tehadap kardiovaskuler : N2O cenderung menstimulasi sistem saraf
simpatis. N2O secara langsung mendepresi kontraktilitas miokard, tetapi
tekanan darah arterial, cardiac output, dan denyut jantung tidak berubah atau
meningkat sedikit akibat stimulasi katekolamin.
f) Efek terhadap respirasi : N2O meningkatkan frekuensi pernapasan dan
menurunkan volume tidal akibat stimulasi sistem saraf pusat dan aktivasi
reseptor regangan paru (> 1 MAC).
g) Efek terhadap serebral : Melalui peningkatan CBF dan volume darah serebral,
N2O menghasilkan elevasi ringan pada TIK. N2O meningkatkan CMRO2.
N2O tidak menimbulkan amnesia retrograd atau gangguan fungsi intelektual.
N2O tidak meningkatkan produksi CSF (Stoelting, 2006).
h) Efek terhadap neuromuskuler : N2O tidak menyebabkan otot skelet relaksasi,
tidak memiliki efek penghambat neuromuskuler dan merupakan pencetus
hipertermia maligna yang lemah (Stoelting, 2006).
i) Efek terhadap renal : N2O menurunkan RBF melalui peningkatan resistensi
vaskuler ginjal.
j) Efek terhadap hepar : Aliran darah hepar berkurang selama pemberian N2O.
k) Efek terhadap gastrointestinal : penyebab mual dan muntah paska operasi
akibat aktivasi dari chemoreseptor trigger zone dan pusat muntah di medulla.
2) Halotan
a) Derivat alkana terhalogenasi.
b) Tidak mudah terbakar dan meledak. Pada suhu ruangan berbentuk cairan
bening. Bentuk uap dari halotan memiliki bau manis dan tidak menyengat
(Stoelting, 2006).
c) Efek terhadap kardiovaskuler : Halotan dengan MAC 2 menyebabkan
penurunan tekanan darah dan cardiac output sampai 50%, karena depresi
miokard langsung. Halotan merupakan vasodilator arteri coronaria, tetapi
aliran darah koroner berkurang karena tekanan arterial sistemik menurun.
Halotan juga menurunkan kecepatan konduksi impuls nodus AV dan sistem
his – purkinje.
d) Halotan tidak meningkatkan heart rate (Stoelting, 2006).
e) Halotan memperpanjang interval QTc pada ECG (Stoelting, 2006).
f) Efek terhadap respirasi :
(1) Halotan menimbulkan pernapasan cepat dan dangkal. Halotan merupakan
bronkhodilator poten.
(2) Halotan melemahkan reflek saluran pernapasan dan relaksasi otot polos
bronkhus melalui penghambatan mobilisasi kalsium intrasel.
(3) Halotan menekan pembersihan mukus dari saluran pernapasan (fungsi
mukosiliar) menyebabkan atelektasis dan hipoksia paska operasi (Morgan,
2006).
g) Efek terhadap serebral :
(1) Halotan menurunkan resistensi vaskuler serebral dan meningkatkan CBF.
(2) Peningkatan TIK dapat dicegah melalui hiperventilasi sebelum pemberian
halotan.
(3) Aktivitas serebral akan menurun pada pemberian halotan (Morgan, 2006).
h) Efek terhadap neuromuskuler :
(1) Halotan menghasilkan relaksasi otot skelet.
(2) Halotan mempotensiasi efek obat penghambat neuromuskuler.
(3) Halotan merupakan pencetus hipertermia maligna yang paling poten
(Stoelting, 2006).
i) Efek terhadap renal : Halotan menurunkan RBF, GFR, dan output urin.
Penurunan RBF lebih besar dari GFR, sehingga fraksi filtrasi meningkat
(Morgan, 2006).
j) Efek terhadap hepar : Halotan menyebabkan penurunan aliran darah hepar
sesuai dengan depresi cardiac output. Halotan mengganggu proses
metabolisme dan pembersihan dari beberapa obat (fentanil, fenitoin,
verapamil) (Morgan, 2006).
k) Kontra indikasi : Pasien dengan disfungsi hepar harus dipertimbangkan.
Pemberian halotan pada pasien dengan lesi massa intra kranial harus dengan
pengawasan ketat karena dapat menyebabkan hipertensi intra kranial. Pasien
dengan hipovolemia dan beberapa pasien dengan penyakit jantung berat tidak
dapat mentolerir efek inotropik negatif halotan (Morgan, 2006).
3) Enfluran
Metil etil eter terhalogenasi yang pada suhu ruangan berbentuk cairan bening.
a) Mudah menguap dan tidak mudah terbakar.
b) Memiliki bau menyengat. Derajat kelarutan dalam darah sedang, potensi
tinggi, sehingga memiliki onset dan pemulihan anestesi yang cepat (Stoelting,
2006).
4) Isofluran
Metil etil eter terhalogenasi berbentuk cairan bening.
a) Mudah menguap dan tidak mudah terbakar.
b) Memiliki bau menyengat.
c) Derajat kelarutan dalam darah sedang, potensi tinggi, sehingga memiliki
onset dan pemulihan anestesi yang cepat (Stoelting, 2006).
d) Efek terhadap kardiovaskuler : Depresi cardiac minimal. Isofluran
meningkatkan tekanan atrial kanan dan aliran darah cutaneus. Isofluran
memperpanjang interval QTc pada ECG. Isofluran merupakan vasodilator
koroner (Stoelting, 2006).
e) Efek terhadap respirasi : Depresi respirasi terjadi selama anestesi. Penurunan
pada ventilasi semenit. Isofluran merupakan bronkhodilator yang baik tetapi
tidak sebaik halotan (Morgan, 2006).
f) Efek terhadap serebral : Pada konsentrasi > 1 MAC, meningkatkan CBF dan
TIK, mengurangi kebutuhan O2 metabolik serebral, dan pada 2 MAC
menghasilkan electrical silent dari EEG (Morgan, 2006).
g) Efek terhadap neuromuskuler : merelaksasikan otot skelet, menghasilkan
peningkatan efek obat penghambat neuromuskuler dan dapat mencetuskan
hipertermia maligna (Morgan, 2006).
h) Efek terhadap renal : menurunkan RBF, GFR, dan output urin (Morgan,
2006).
i) Efek terhadap hepar : Total aliran darah hepar (aliran arteri hepatica dan vena
porta) berkurang selama anestesi dengan isofluran. Suplai O2 hepar lebih
terjaga dengan isofluran di banding halotan. Fungsi hepar sedikit dipengaruhi
(Morgan, 2006).
j) Kontra indikasi : Pasien dengan hipovolemia berat tidak dapat mentolerir efek
vasodilatasi.
5) Sevofluran
a) Metil isopropil eter terfluorinasi.
b) Tidak berbau menyengat, menghasilkan bronkhodilatasi dan menyebabkan
iritasi saluran pernapasan minimal.
c) Koefisien partisi gas : darah menyebabkan induksi dan pemulihan anestesi
cepat setelah penghentian pemberian anestetik.
d) Efek terhadap kardiovaskuler : secara lemah mendepresi kontraktilitas
miokard. Resistensi vaskuler sistemik dan tekanan darah arterial menurun
sedikit di banding isofluran.
e) Efek terhadap respirasi : Mendepresi respirasi dan melawan bronkhospasme.
f) Efek terhadap serebral : Menyebabkan peningkatan ringan pada CBF dan TIK
dan dapat mengganggu autoregulasi dari CBF, yang mengakibatkan
penurunan CBF selama hipotensi hemoragik.
g) Efek terhadap neuromuskuler : Menghasilkan relaksasi otot yang adekuat
untuk intubasi anak secara induksi inhalasi.
h) Efek terhadap renal : Menurunkan RBF.
i) Efek terhadap hepar : Menurunkan aliran darah vena porta, tetapi
meningkatkan aliran darah arteri hepatica, sehingga dapat memelihara total
aliran darah hepatica dan penghantaran O2.
j) Kontra indikasi : Hipovolemia berat dan individu yang rentan terhadap
hipertermia maligna, dan hipertensi intra cranial.

8. Prosedur Tindakan Intubasi.


a. Persiapan.
Pasien sebaiknya diposisikan dalam posisi tidur terlentang, oksiput diganjal dengan
menggunakan alas kepala (bisa menggunakan bantal yang cukup keras atau botol
infus). Hal ini bertujuan agar kepala dalam keadaan ekstensi serta trakhea dan
laringoskop berada dalam satu garis lurus.
b. Oksigenasi.
Setelah dilakukan anestesi dan diberikan pelumpuh otot, lakukan oksigenasi dengan
pemberian oksigen 100% minimal dilakukan selama 2 menit. Sungkup muka
dipegang dengan tangan kiri dan balon dengan tangan kanan.

c. Laringoskop.
Mulut pasien dibuka dengan tangan kanan dan gagang laringoskop dipegang dengan
tangan kiri. Blade laringoskop dimasukkan dari sudut kiri dan lapangan pandang
akan terbuka.
Blade laringoskop didorong ke dalam rongga mulut. Gagang diangkat dengan lengan
kiri dan akan terlihat uvula, faring serta epiglotis. Ekstensi kepala dipertahankan
dengan tangan kanan. Epiglotis diangkat sehingga tampak aritenoid dan pita suara
yang tampak keputihan bentuk huruf V.

d. Pemasangan pipa endotrakheal.


Pipa dimasukkan dengan tangan kanan melalui sudut kanan mulut sampai balon pipa
tepat melewati pita suara. Bila perlu, sebelum memasukkan pipa asisten diminta
untuk menekan laring ke posterior sehingga pita suara akan dapat tampak dengan
jelas. Bila mengganggu, stilet dapat dicabut. Ventilasi atau oksigenasi diberikan
dengan tangan kanan memompa balon dan tangan kiri memfiksasi. Balon pipa
dikembangkan dan blade laringoskop dikeluarkan selanjutnya pipa difiksasi dengan
plester.
e. Mengontrol letak pipa.
Dada dipastikan mengembang saat diberikan ventilasi. Sewaktu ventilasi, dilakukan
auskultasi dada dengan stetoskop, diharapkan suara nafas kanan dan kiri sama. Bila
dada ditekan terasa ada aliran udara di pipa endotrakheal. Bila terjadi intubasi
endotrakheal akan terdapat tanda-tanda berupa suara nafas kanan berbeda dengan
suara nafas kiri, kadang-kadang timbul suara wheezing, sekret lebih banyak dan
tahanan jalan nafas terasa lebih berat. Jika ada ventilasi ke satu sisi seperti ini, pipa
ditarik sedikit sampai ventilasi kedua paru sama. Sedangkan bila terjadi intubasi ke
daerah esofagus maka daerah epigastrum atau gaster akan mengembang, terdengar
suara saat ventilasi (dengan stetoskop), kadang-kadang keluar cairan lambung, dan
makin lama pasien akan nampak semakin membiru. Untuk hal tersebut pipa dicabut
dan intubasi dilakukan kembali setelah diberikan oksigenasi yang cukup.
f. Ventilasi.
Pemberian ventilasi dilakukan sesuai dengan kebutuhan pasien bersangkutan.

9. Monitoring selama intubasi


Selama operasi berlangsung dilakukan pemantauan anestesi. Hal-hal yang dipantau adalah
fungsi vital (pernapasan, tekanan darah, nadi, dan kedalaman anestesi, misalnya adanya
gerakan, batuk, mengedan, perubahan pola napas, takikardi, hipertensi, keringat, air mata,
midriasis).

Ventilasi pada anestesi umum dapat secara spontan, bantu, atau kendali tergantung jenis,
lama, dan posisi operasi. Cairan infus diberikan dengan memperhitungkan kebutuhan puasa,
rumatan, perdarahan, evaporasi, dan lain-lain

Selama pasien dalam anestesi dilakukan pemantauan pernapasan, frekuensi nadi dan
tekanan darah. Peningkatan tekanan darah dan frekuensi nadi terjadi bila anestesi kurang
dalam. Hal ini disebabkan karena terjadi sekresi adrenalin. Diatasi dengan membuat anestesi
lebih dalam, yaitu dengan meningkatkan konsentrasi halotan atau suntikan barbiturat.
Penurunan tekanan darah dan nadi halus sebagai tanda syok dapat disebabkan karena
kehilangan banyak darah. Hal ini diatasi dengan pemberian cairan pengganti plasma atau
darah. Penurunan tekanan darah dan frekuensi nadi dapat disebabkan karena anestesi terlalu
dalam atau terlalu ringan serta kehilangan banyak darah atau cairan. Peningkatan tekanan
darah dan tekanan nadi serta penurunan frekuensi nadi disebabkan transfusi yang
berlebihan. Diatasi dengan penghentian transfusi.
10. Evaluasi Pemulihan Pasca-Anestesi
Setelah operasi selesai pasien dibawa ke ruang pemulihan (recovery room) atau keruang
perawatan intensif (bila ada indikasi). Secara umum, ekstubasi terbaik dilakukan pada saat
pasien dalam anestesi ringan atau sadar. Di ruang pemulihan dilakukan pemantauan
keadaan umum, kesadaran, tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, sensibilitas nyeri,
perdarahan dari drain, dan lain-lain.

Kriteria yang digunakan dan umumnya yang dinilai adalah warna kulit, kesadaran,
sirkulasi, pemapasan dan aktivitas motorik, seperti Skor Aldrette. Idealnya pasien baru boleh
dikeluarkan bila jumlah skor total adalah 10. namun bila skor total telah diatas 8 pasien
boleh dipindahkan dari ruang pemulihan.
Skor Pemulihan Pasca-Anestesi
Penilaian Nilai
Warna kulit Merah muda 2
Pucat 1
Sianotik 0
Dapat bernafas dalam dan batuk 2
Pernapasan Dangkal namun pertukaran udara adekuat 1
Apnea atau obstruksi 0
Tekanan darah menyimpang <20%> 2
Tekanan darah menyimpang 20-50% dari 1
Sirkulasi normal 0
Tekanan darah menyimpang >50% dari
normal
Sadar, siaga, dan orientasi 2
Kesadaran Bangun namun cepat kembali tertidur 1
Tidak berespon 0
Seluruh ekstremitas dapat digerakkan 2
Aktivitas Dua ekstremitas dapat digerakkan 1
Tidak bergerak 0
B. Tinjauan keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dari dasar dalam proses keperawatan secara
keseluruhan guna mendapat data atau informasi yang dibutuhkan untuk menentukan
masalah kesehatan yang dihadapi pasien melalui wawancara, observasi, dan
pemeriksaan fisik meliputi :
a. Anamnase
1) Identifikasi klien.
2) Keluhan utama klien.
Pada klien post operasi thyroidectomy keluhan yang dirasakan pada umumnya
adalah nyeri akibat luka operasi.
3) Riwayat operasi dahulu
Perlu di tanyakan apakah pasien pernah di lakukan tindakan operasi terdahulu.
4) Riwayat penyakit sekarang
Biasanya didahului oleh adanya pembesaran nodul pada leher yang semakin
membesar sehingga mengakibatkan terganggunya pernafasan karena penekanan
trakhea eusofagus sehingga perlu dilakukan operasi.
5) Riwayat penyakit dahulu
Perlu ditanyakan riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit
gondok, misalnya pernah menderita gondok lebih dari satu kali, tetangga atau
penduduk sekitar berpenyakit gondok.
6) Riwayat kesehatan keluarga
Dimaksudkan barangkali ada anggota keluarga yang menderita sama dengan
klien saat ini.
7) Riwayat psikososial
Akibat dari bekas luka operasi akan meninggalkan bekas atau sikatrik sehingga
ada kemungkinan klien merasa malu dengan orang lain.
b. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
Pada umumnya keadaan penderita lemah dan kesadarannya composmentis
dengan tanda-tanda vital yang meliputi tensi, nadi, pernafasan dan suhu yang
berubah.
2) Kepala dan leher
Pada klien dengan post operasi thyroidectomy biasanya didapatkan adanya luka
operasi yang sudah ditutup dengan kasa steril yang direkatkan dengan hypafik
serta terpasang drain. Drain perlu diobservasi dalam dua sampai tiga hari.
3) Sistim pernafasan
Biasanya pernafasan lebih sesak akibat dari penumpukan sekret efek dari
anestesi, atau karena adanya darah dalam jalan nafas.
4) Sistim Neurologi
Pada pemeriksaan reflek hasilnya positif tetapi dari nyeri akan didapatkan
ekspresi wajah yang tegang dan gelisah karena menahan sakit.
5) Sistim gastrointestinal
Komplikasi yang paling sering adalah mual akibat peningkatan asam lambung
akibat anestesi umum, dan pada akhirnya akan hilang sejalan dengan efek
anestesi yang hilang.
6) Aktivitas/istirahat
insomnia, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat, atrofi otot.
7) Eliminasi
urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam faeces, diare.
8) Integritas ego
Mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik, emosi labil, depresi.
9) Makanan/cairan
Kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan
banyak, makannya sering, kehausan, mual dan muntah, pembesaran tyroid.
10) Rasa nyeri/kenyamanan
Nyeri orbital, fotofobia.
11) Keamanan
Tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium
(mungkin digunakan pada pemeriksaan), suhu meningkat di atas 37,40C,
diaforesis, kulit halus, hangat dan kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus,
eksoptamus : retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema
(sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.
12) Seksualitas
Libido menurun, perdarahan sedikit atau tidak sama sekali, impotensi.
c. Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan penunjang
2) Human thyrologlobulin( untuk keganasan thyroid)
3) Kadar T3, T4
Nilai normal T3=0,6-2,0 , T4= 4,6-11
4) Darah rutin
5) Endo Crinologiie minimal tiga hari berturut turut (BMR) nilai normal antara –
10s/d +15
6) Kadar calsitoxin (hanya pada pebnderita tg dicurigai carsinoma meduler).
d. Pemeriksaan radiologis
1) Dilakukan foto thorak posterior anterior
2) Foto polos leher antero posterior dan lateral dengan metode soft tissu technig .
3) Esofagogram bila dicurigai adanya infiltrasi ke osofagus.

2. Diagnosa keperawatan
a. Pre operasi
Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan tentang prosedur dan resiko pembedahan
b. Intra operasi
1) Resiko gangguan Pertukaran gas berhubungan dengan Perubahan membran
kapiler alveolar, sekunder akibat total control ventilation.
2) Bersihan jalan napas tidak efektif b.d penumpukan secret/lendir.
c. Post operasi
Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan

3. Perencanaan keperawatan
a. Diagnosa pre operasi
Tujuan : ansietas berkurang/terkontrol.
Kriteria hasil :
1) klien mampu merencanakan strategi koping untuk situasi-situasi yang membuat
stress.
2) klien mampu mempertahankan penampilan peran.
3) klien melaporkan tidak ada gangguan persepsi sensori.
4) klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik.
5) tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan.
Intervensi dan Implementasi
1) Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien.
R : memudahkan intervensi.
2) Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di masa
lalu.
R : mempertahankan mekanisme koping adaftif, meningkatkan kemampuan
mengontrol ansietas.
3) Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan
pikiran dan perasaan.
R : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan
kecemasan yang dirasakan.
4) Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapan-
harapan yang positif terhadap terapy yang di jalani.
R : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk
mengurangi kecemasan.
5) Berikan penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari meskipun
dalam keadaan cemas.
R : menciptakan rasa percaya dalam diri pasien bahwa dirinya mampu mengatasi
masalahnya dan memberi keyakinan pada diri sendri yang dibuktikan dengan
pengakuan orang lain atas kemampuannya.
6) Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi
R : menciptakan perasaan yang tenang dan nyaman.
7) Sediakan informasi factual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga
menyangkut diagnosis, perawatan dan prognosis.
R : meningkatkan pengetahuan, mengurangi kecemasan.
8) Kolaborasi pemberian obat anti ansietas.
R : mengurangi ansietas sesuai kebutuhan.

b. Diagnosa intra operasi


Bersihan jalan napas tidak efektif
Tujuan : Resiko Pertukaran gas tidak terjadi selama tindakan anestesi pada intra
operasi
Kriteria hasil:
1) SpO2 > 95 %
2) etCO2: 35 – 45
3) Volume tidal px keluar ± 20 %
4) Tidak muncul cyanosis, diaforesis
5) Auskultasi paru: vesikuler
6) Expansi dada simetris
7) V/ S : dbn
8) TD, N ± 20 % dari nilai rata-rata px

Intervensi dan Rasional


1) Obs V/S & hitung range perubahannya
R : V/S dengan range > ±20 % mengindikasikan respon klien terhadap efek obat
anestesi atau tindakan pembedahan
Pastikan airway paten dengan teknik pemasangan & fiksasi ETT yang benar
R : Intubasi dan fiksasi yang tepat dapat menjamin flow gas adekuat
2) Observasi SpO2 dan perubahannya
R : Saturasi O2 yang baik mengindikasikan pertukaran gas yang adekuat
3) Catat hasil etCO2 yang keluar dari ekspirasi pasien
R : Nilai CO2 yang muncul dipengaruhi oleh besarnya vol tidal yang diberikan
4) Monitoring vol.tidal yang keluar dari px
R : Vol tidal yang sesuai dengan setting dg range ± 20 % sebagai indikasi
pertukaran gas yang adekuat
5) Kaji adanya tanda sianosis, diaforesis
R : Sianosis dan diaforesis merupakan salah satu tanda pertukaran gas tidak
efektif
6) Lakukan auskultasi paru & nilai suara napas tambahan yang mungkin muncul
R : Menilai faktor lain yang dapat mempengaruhi ketidakefektifan pertukaran gas
7) Amati kesimetrisan expansi dada
R : Expansi dada yang simetris mengindikasikan flow gas simetris antara paru
kanan & kiri
8) Lakukan tindakan kolaboratif untuk mencegah kerusakan pertukaran gas dengan
dokter:
a) RR/ VT diturunkan
b) Pasang conector flex tube
c) Medikasi & maintenance gas anestesi
R : Maintenance mesin anestesi penting untuk menjamin pertukaran gas yang
efektif dengan menyesuikan minute volume yang sesuai dengan klien
9) Lakukan pemeriksaan AGD sesuai indikasi dan instruksi dokter (jika diperlukan)
R :Nilai AGD sebagai indikator efektifnya pertukaran gas
b. Diagnosa post op
Tujuan : Klien memperlihatkan pengendalian nyeri, yang dibuktikan oleh indicator
Kriteria hasil
1) Klien mampu melakukan relaksasi yang efektif untuk mencapai kenyamanan
2) Mengenali factor penyebab dan menggunakan tindakan untuk memodifikasi factor
tsb.
3) Perubahan frekwensi nafas HR atau TD tidak lebih dari 20% dari nilai awal.

Intervensi dan Rasional


1) Manajemen nyeri meringankan atau mengurangi nyeri sampai pada tingkat
kenyamanan yang dapat diterima oleh klien
R : Nyeri tidak dapat dihilangkan, tetapi dikendalikan sampai pada titik toleransi
klien untuk mendukung mekanisme koping klien
2) Observasi isyarat non verbal ketidak nyamanan.
R : Isyarat non verbal menunjukkan sensasi yang dirasakan klien sesuai dengan
tingkat keparahannya
3) Observasi vital sign sebagai efek dari respon nyeri
R : Perubahan vital sign dapat signifikan terjadi sebagai akibat mekanisme
kompensasi
4) Pemberian analgesic: menggunakan agen farmakologiuntuk
mengurangi/menghilangkan nyeri.
R : Analgesic yang tepat dapat membantu memberikan rasa nyaman klien &
mencegah kerusakan sel akibat adanya mekanisme asidosis pada tingkat sel
BAB III
TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN
1. Identitas
a. Identitas Pasien
Nama : Ny. M
Umur : 36 th
Agama : Kristen
Jenis Kelamin : Perempuan.
Status : Menikah
Pendidikan : Perguruan Tinggi
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Suku Bangsa : WNI
Alamat : Jl. Pelangi Ungu 7, C6U/30
Tanggal Masuk : 15 – 09 – 2015
Tanggal Pengkajian : 15 – 09 – 2015
No. Register : 31 03 53
Diagnosa Medis : SNNT
b. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. A
Umur : 38 th.
Hub. Dengan Pasien : Suami
Pekerjaan : Swasta.
Alamat : Jl. Pelangi Ungu 7, C6U/30
2. Status Kesehatan
a. Status Kesehatan Saat Ini
1) Keluhan Utama
Adanya benjolan pada leher
2) Alasan masuk rumah sakit dan perjalanan penyakit saat ini
Klien mengatakan ada benjolan dileher. Benjolan dirasakan muncul sejak 1
tahun yang lalu dan dirasakan mulai membesar sejak 2 bulan terakhir
b. Riwayat Penyakit Keluarga
Dalam keluarga pasien tidak ada riwayat SNNT
3. Pola Kebutuhan Dasar ( Data Bio-psiko-sosio-kultural-spiritual)
a. Kebutuhan bernafas dengan normal
Baik sebelum dan selama di rumah sakit pasien dapat bernafas spontan, sesak
nafas (-).
b. Kebutuhan nutrisi
Pasien mengatakan sebelum dan selama di rumah sakit nafsu makannya baik, dan
tidak ada anoreksia maupun vomitus, frekuensi makan teratur.
Terpasang IV line di tangan kanan,
c. Kebutuhan eliminasi
Pasien mengatakan baik BAB/BAK selama dirumah maupun dirumah sakit tidak
ada keluhan
d. Kebutuhan istirahat dan tidur
Pasien mengatakan kebutuhan tidurnya tidak terganggu, pasien mengatakan
tidurnya 8 – 10 jam/ hari
e. Kebutuhan rasa aman dan nyama, pasien
Pasien mengatakan cemas dengan pembedahan yang akan dilakukan karena tidak
pernah operasi. pasien bertanya apakah pembedahannya terasa sakit.
4. Keadaan umum
a. Suhu : 36,5 C
b. Nadi : 80 kali/menit
c. Tekanan darah : 110/70 mmHg
d. RR : 20 kali/menit
e. Berat badan : 46 kg
5. Pemeriksaan fisik
a. KU : Baik
b. Kesadaran : Compos mentis (E4,V5,M6)
c. Cepalo – caudal :
d. Kepala : mesochepal, konjungtiva ananemis, skelera anikterik,
e. Leher : tidak terdapat pembesaaran kelenjar getah bening, tidak
terdapat peningkatan JVP, terdapat benjolan diameter ± 7
cm , benjolan teraba lunak dan mobile.
f. Thoraks
Auskultasi : vesicular semua lapang paru. BJ 1-2 murni.
g. Abdomen:
1) Inspeksi : tak tampak kelainan
2) Auskultasi : peristaltic (+) 15 x/m
3) Palpasi : tidak terdapat pembesaran hepar maupun limpa
4) Perkusi : timpani (+).
h. Inguinalis : tidak ada pembesaran inguinalis.
i. Ekstremitas (kulit dan kekuatan)
Turgor kulit baik, acral hangat, pengisian kapiler < 3 detik, terpasang IV line
dilengan sebelah kiri, tidak ada edema maupun varises, kekuatan keempat
ekstremitas baik.
6. Pemeriksaan penunjang
Data laboratorium tanggal 11 September 2015
Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Normal
Darah
- Hb 10.8 g/dl 11,7-15,5
- Leukosit 3,7 /ul 5-10 ribu
- HT 35 35-47
- Trombosit 276 /ul 150-400
- BTjh 1,3’ Menit 1-3
- CT 8’ Menit 3-6
Kimia klinik
- Ureum 18.6 mg/dl 15-50
- Kreatinin 0,69 mg/dl 0,4-0,9
- Asam urat 2.6 u/l 6-8
7. Persiapan mesin anastesi dan persiapan intubasi
a. Persiapan Mesin Anastesi
1) Vaporizer ( gas inhalasi Isoflurane dan sevoflurane terisi)
2) Selang penghubung O2 dan N20 ke sentral gas
3) Indicator tekanan gas dan Flow meter 02 dan N20
4) Mesin ventilator dan below berfungsi dan tdk ada kebocoran
5) Sircuit rebreathing reservoir bag
6) Valve
7) Face mask sesuai ukuran wajah pasien
8) Soda lime yang masih layak pakai
b. Persiapan Intubasi
S : Scope (laringoskop) dan stetoskop
T : Tube : ETT no 7 / 7,5 /8 NKK, dan spoit cuff 20 cc
A : Airway : OPA no 3, 4, 5
T : Tape : Plester untuk memfiksasi pipa di mulut
I : Introducer : Mandrin atau stilet untuk memandu saat memasukkan ujung pipa
trakea.
C : Connector : Alat penyambung pipa ke alat anestesi
S : Suction : Alat penyedot lendir/sekret dan muntah pasien.
Persiapan tambahan : jelly, maigyl forcep

8. Terapi
a. Pre medikasi
1) Midazolam 2 mg
2) Fentanyl 100 mcg
3) Infuse ringAs bag I
b. Intra operasi
1) Propofol 90 mg
2) Ecron 6 mg
3) O2 : N2O = 2 : 2 lpm
4) Isoflurane :1 – 2 vol %
5) Paracetamol 1 grLametic 8 mg
6) As. Traneksamat 500 mg
7) Vit K 10 mg
8) Dicynone 250 mg
9) Toramin 30 mg
10) RingAs 500 cc
11) Prostigmin 1 mg
12) Atropine 0.5 mg

c. Post operatif :
Ring AS 500cc
d. Terapi cairan
Perhitungan cairan selama operasi :
1) Maintenance ( M ) = 2 cc/kg = 2 x 46 = 92 cc/jam
2) PP = M x lama puasa = 92 x 8 = 736 cc
3) SO = jenis op ( 4 , 6, 8 untuk op ringan , sedang, berat ) x BB
= 8 x 46 = 368 cc
1 jam pertama
½ PP + M + SO = ½ 736 + 92 + 368 = 368 + 92 + 368 = 828 cc/ jam
Jam II/III
¼ PP + M + SO = ¼ 736 + 92 + 368 = 134 + 92 +368 = 645 cc/jam
Jam IV dst
M + SO = 92 + 368 = 460 cc/jam
e. Balance cairan
Intake : out put :
ringAs : 1000 cc perdarahan : ± 100 cc
paracetamol : 100 cc urine : -
Asuhan Keperawatan
Pre Operasi
1. Analisa Data
No Hari/ tgl/jam Data Fokus Etiologi Masalah
1 Selasa, Ds : Pembesaran kelenjar Cemas
15/09/2015 Pasien mengatakan cemas dengan tiroid

07. 00 wib pembedahan yang akan dilakukan ↓


karena tidak pernah operasi. pasien Rencana pembedahan
bertanya apakah pembedahannya terasa “kiste tiroidektomi”
sakit. ↓
Do: Ketidaktahuan tentang

- Pasien tampak cemas prosedur anestesi dan


pembedahan
- Pasien tampak bertanya-tanya

tentang prosedur pembedahan yang
Kecemasan
akan di lakukan
- HR : 80 kali/menit

2. Rumusan Diagnosa Keperawatan


kecemasan berhubungan dengan Ketidaktahuan tentang prosedur anestesi dan pembedahan
Hari/ DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI IMPLEMENTASI EVALUASI
tgl
Selasa kecemasan Setelah diberikan 1. Kaji dan • Mengkaji dan S: Klien mengatakan rasa cemasnya
, berhubungan
tindakan keperawatan dokumentasikan tingkat mendokumenta berkurang
dengan
15/09
Ketidaktahuan selama 1x 5 menit kecemasan pasien. sikan tingkat O:-
/15 tentang
diharapkan cemas R : memudahkan kecemasan • Tingkat ansietas klien ringan
prosedur
anestesi dan berkurang dengan intervensi. pasien • Klien mampu melakukan relaksasi saat
pembedahan
criteria hasil : 2. Kaji mekanisme termasuk reaksi cemas meningkat
- Klien dapat koping yang digunakan fisik. • Klien dapat mengenali situasi yang
mengurangi rasa pasien untuk mengatasi R/: klien berkaitan tentang prosedur pembedahan
cemasnya ansietas di masa lalu. menyatakan takut dan mampu merencanakan mekanisme
- Rileks dan dapat R : mempertahankan operasi, klien koping (relaksasi)
melihat dirinya secara mekanisme koping terlihat gelisah, A: Masalah teratasi
obyektif. adaftif, meningkatkan suara gemetar, P: Hentikan intervensi dan kolaborasi ttg
- Menunjukkan koping kemampuan kontak mata tidak pemberian premedikasi
yang efektif serta mengontrol ansietas. focus.
mampu berpartisipasi 3. Lakukan pendekatan TD:150/90mmHg;
dalam pengobatan. dan berikan motivasi N:100x/mnt; RR:
kepada pasien untuk 25x/mnt.
mengungkapkan pikiran • Menggali
dan perasaan. bersama klien
R : pendekatan dan tentang teknik
motivasi membantu untuk
pasien untuk menurunkan
mengeksternalisasikan ansietas dimasa
kecemasan yang dirasakan. lalu.
4. Motivasi pasien R/: klien
untuk memfokuskan mengatakan
diri pada realita yang biasanya dengan
ada saat ini, harapan- menarik nafas
harapan yang positif panjang
terhadap terapy yang di • Menginformasi
jalani. kan mengenai
R : alat untuk diagnosis,
mengidentifikasi terapy dan
mekanisme koping yang prognosis.
dibutuhkan untuk R/:klien dapat
mengurangi kecemasan. menerima an
5. Berikan penguatan mengerti
yang positif untuk penjelasan
meneruskan aktivitas • Penjelasan
sehari-hari meskipun prosedur dan
dalam keadaan cemas. sensasi yang
R : menciptakan rasa dialami saat
percaya dalam diri pelaksanaan
pasien bahwa dirinya operasi.
mampu mengatasi R/:klien dapat
masalahnya dan menerima
memberi keyakinan penjelasan
pada diri sendri yang perawat.
dibuktikan dengan • Mengajarkan
pengakuan orang lain teknik relaksasi
atas kemampuannya. untuk
6. Anjurkan pasien mekanisme
untuk menggunakan koping klien.
teknik relaksasi. R/:klien dapat
R : menciptakan melakukan teknik
perasaan yang tenang relaksasi saat
dan nyaman. cemas.
7. Sediakan informasi
factual (nyata dan
benar) kepada pasien
dan keluarga
menyangkut diagnosis,
perawatan dan
prognosis.
R : meningkatkan
pengetahuan,
mengurangi kecemasan.
8. Kolaborasi
pemberian obat anti
ansietas.
R : mengurangi ansietas
sesuai kebutuhan.
Intra operasi
. Analisa data intra operasi

No Hari/ tgl/jam Data Etiologi Masalah


1 15/09/2015, Ds : - general anastesi Resiko gangguan
jam 07.30 Do: dengan intubasi pertukaran gas
• SpO2 > 95 % ↓

• etCO2: 35 – 45 pengambilalihan jalan

• Volume tidal px keluar ± 20 % nafas dengan mesin

• Tidak muncul cyanosis, anastesi dan ventilator

diaforesis ↓

• Auskultasi paru: vesikuler perubahan membrane

• Expansi dada simetris kapiler alveolar



• V/ S : dbn
Resiko gangguan
• TD, N ± 20 % dari nilai rata-
pertukaran gas
rata px

1. Rumusan Diagnosa Keperawatan


Resiko gangguan Pertukaran gas berhubungan dengan Perubahan membran kapiler alveolar, sekunder akibat total control ventilation
Hari/ tgl DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI IMPLEMANTASI EVALUASI
Selasa, Resiko gangguan • Resiko Pertukaran i. Obs V/S & hitung range • Mengobservasi V/S: S:-
15/09/15 Pertukaran gas
gas tidak terjadi perubahannya TD: 135/ 92 mmHg, N: O:
berhubungan
dengan Perubahan selama tindakan R : V/S dengan range > 89 bpm, SpO2: 98 % - Klien terpasang ETT
membran kapiler
anestesi pada intra ±20 % mengindikasikan • Memberikan obat kinking 7 dan guedel
alveolar, sekunder
akibat total control operasi respon klien terhadap premedikasi, induksi (kondisi fixasi baik
ventilation
• Kriteria Hasil: efek obat anestesi atau dan muscle relaxan selama intra op)
• SpO2 > 95 % tindakan pembedahan (Injeksi IV: Miloz 2,5 - Control respiration
• etCO2: 35 – 45 11. Pastikan airway paten mg, Fentanyl 100 mcg, dengan (f: 12. VT:
• Volume tidal px dengan teknik Inj. Propofol 90 mg, 450 ml, minute vol:
keluar ± 20 % pemasangan & fiksasi ecron 6 mg) 5,7 L)
• Tidak muncul ETT yang benar • R/ Efek cukup - Gas inhalasi
cyanosis, R : Intubasi dan fiksasi • Memberikan Isoflurane 2%,O2: 2
diaforesis yang tepat dapat hiperventilasi 2,5 mnt lpm, N2O: 2 lpm
• Auskultasi paru: menjamin flow gas dengan O2 7 Lpm, - TD: 112/75 mmHg,
vesikuler adekuat Isoflurane 2% N: 76 bpm (vol:
• Expansi dada 12. Observasi SpO2 dan • R/ efek cukup cukup, regular,
simetris perubahannya • Melakukan kolaborasi pulsasi kuat)
• V/ S : dbn R : Saturasi O2 yang untuk tindakan intubasi - SpO2: 100%, etCO2:
• TD, N ± 20 % dari baik mengindikasikan • R/ pasang ETT 7,5 36
nilai rata-rata px pertukaran gas yang kinking - VT px: 420 ml

adekuat • Melakukan pemeriksaan - Perfusi periferal:


expansi dada & dingin, kering, merah
13. Catat hasil etCO2 yang
auskultasi suara napas - CRT < 2”
keluar dari ekspirasi
• R/ expansi dada simetris A: Masalah teratasi
pasien
dan auskultasi paru P: Hentikan intervensi &
R : Nilai CO2 yang
simetris vesikuler kaji masalah lain
muncul dipengaruhi
oleh besarnya vol tidal • Memfixasi ETT dengan
yang diberikan kuat dan rapat
14. Monitoring vol.tidal • R/ fixasi baik pada batas
yang keluar dari px bibir 21
R : Vol tidal yang sesuai • Mengobservasi V/S:
dengan setting dg range SpO2: 100%
± 20 % sebagai indikasi • Melakukan kolaborasi
pertukaran gas yang untuk set mesin anestesi:
adekuat VT: 480 ml, f: 12 (min.

15. Kaji adanya tanda Vol 5,7 L). O2 2 Lpm N

sianosis, diaforesis 2O 2 Lpm, Isoflurane

R : Sianosis dan 2%, dan mengalihkan ke

diaforesis merupakan mode control ventilation

salah satu tanda • R/ efek cukup

pertukaran gas tidak • Mengobservasi V/S saat

efektif operator mulai tindakan:


TD: 98/ 67 mmHg, N:
16. Lakukan auskultasi paru
78 bpm, SpO2: 100%,
& nilai suara napas
etCO2: 36
tambahan yang
• Mencatat VT px: 445 ml
mungkin muncul
• Mengobs V/S TD: 87/52
R : Menilai faktor lain
mmHg, N: 67 bpm,
yang dapat
SpO2: 100%, VT px:440
mempengaruhi
ml
ketidakefektifan
• R/ Menurunkan
pertukaran gas
Isoflurane menjadi 1.5%
17. Amati kesimetrisan
• Mengobservasi V/S TD:
expansi dada 98/52 mmHg, N: 62
R : Expansi dada yang bpm, SpO2: 100%, VT
simetris px: 460 ml, etCO2: 23
mengindikasikan flow • Melakukan kolaborasi
gas simetris antara paru dengan dokter:
kanan & kiri menurunkan f: (menjadi
18. Lakukan tindakan 10 rpm)
kolaboratif untuk • Mengobservasi etCO2:
mencegah kerusakan 29, VT px 445 ml,
pertukaran gas dengan SpO2: 100%
dokter: • Mengobservasi V/S TD:
• RR/ VT diturunkan 115/72 mmHg, N: 79
• Pasang conector bpm, SpO2: 100%,
flex tube etCO2: 34, durasi muscle
• Medikasi & relaxan: 70 menit,
maintenance gas • R/ muncul trigger, napas
anestesi spontan belum adekuat
R : Maintenance mesin • Mengambil alih mode
anestesi penting untuk penapasan ke manual
menjamin pertukaran bagging dengan
gas yang efektif dengan memberikan assist
menyesuikan minute (hipoventilasi):
volume yang sesuai mematikan N2O, O2 naik
dengan klien menjadi 7 Lpm, gas
isoflurane turun menjadi
1%
• Melihat lapangan
operasi (operator selesai
melakukan tindakan) &
mengobservasi V/S: TD:
112/75 mmHg, N: 76
bpm, SpO2: 100%,
etCO2: 36, napas
spontan adekuat.
• Membersihkan jalan
napas dari slym dan
saliva dengan suction,
dan menilai pernapasan.
• R/ TD: 113/71 mmHg,
N: 77 bpm, SpO2: 100%,
VT px: 420 ml
(pernapasan thorakal),
reflek membuka mata
(+), reflek batuk (+)
• Melakukan ekstubasi,
dan membersihkan jalan
napas dilanjutkan
dengan pemberian
oksigen melalui face
mask 6 Lpm (± 3 menit)
dan mematikan gas
anestesi
Post Operasi
1. Analisa Data Pasca Operasi
No Hari/ tgl/jam Data Etiologi Masalah
1 Selasa, Ds : - prosedur post anastesi Nyeri
15/09/2015 Do: ↓

09.30 - Respirasi rate : 22 kali/menit Efek obat anastesi

- SpO2 : 95% menghilang

- Pucat ↓

- Nafas spontan rangsangan nyeri mulai

- Nadi : 74 x/menit terasa



- Tekanan darah : 150/90 mmHg
Klien Nampak meringis
- Akral hangat

- RT <2 detik
nyeri
- Stewart score 3
- Terpasang mayo

2. Rumusan Diagnosa Keperawatan


Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan
Hari/ DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI IMPLEMENTASI EVALUASI
tgl
Selasa, Nyeri Klien 1. Manajemen nyeri 1. Mengobservasi expresia. S: Klien mengatakan
15/09/1 berhubungan
memperlihatkan meringankan atau nonverbal klien nyeri pada daerah
5 dengan prosedur
pembedahan pengendalian nyeri, mengurangi nyeri sampai H : Klien terlihat kesakitan operasinya mulai
yang dibuktikan oleh pada tingkat kenyamanan (gelisah dan merintih) & klien terasa
indicator sbb: yang dapat diterima oleh mengatakan ingin BAK,b. O: klien Nampak
“Kadang-kadang” klien terasa panas dan perih meringis, skala 4/5
Kriteria Hasil: R : Nyeri tidak dapat 2. Observasi Vital sign c. TD: :102/68 mmHg;
-Klien mampu dihilangkan, tetapi H: TD:140/90;N:100x/mnt; N:110 x/mnt
melakukan relaksasi dikendalikan sampai pada RR:20x/mnt; SpO2: 90% d. (vol: cukup, regular,
yang efektif untuk titik toleransi klien untuk 3. Kolab dengan dokter tentang pulsasi kuat)
mencapai mendukung mekanisme pemberian analgetik &e. Perfusi periferal:
kenyamanan koping klien Oksigen dingin, kering,
-Mengenali factor 2. Observasi isyarat non verbal H :Memberikan Inj Tramadolf. merah CRT < 2”
penyebab dan ketidak nyamanan. 50mg g. A: Masalah belum
menggunakan R : Isyarat non verbal (saat durante op) & O2 5 teratasi
tindakan untuk menunjukkan sensasi yang Lpm h. P: Lanjutkan intervensi
memodifikasi factor dirasakan klien sesuai Mengajarkan teknik relaksasi untuk
meningkatkan ambang batas nyeri
tsb. dengan tingkat
-Tidak mengalami keparahannya
gangguan frekwensi 3. Observasi vital sign sebagai
nafas HR atau TD efek dari respon nyeri
R : Perubahan vital sign
dapat signifikan terjadi
sebagai akibat mekanisme
kompensasi
4. Pemberian analgesic:
menggunakan agen
farmakologiuntuk
mengurangi/menghilangkan
nyeri.
R : Analgesic yang tepat
dapat membantu
memberikan rasa nyaman
klien & mencegah
kerusakan sel akibat adanya
mekanisme asidosis pada
tingkat sel
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapatkan selama memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan
struma pasca adalah :
1. struma merupakan penyakit hormon yang menempati urutan kedua terbesar di Indonesia
setelah diabetes yang juga merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat
perkotaan.
2. Diperlukan kolaborasi dokter maupun perawat untuk menjelaskan pentingnya stretching
leher pada pasien dan keluarga untuk membantu mencegah kontraktur pada leher atau
gejala ketidaknyamanan pada leher pasca operasi tiroidektomi.
3. Latihan perenggangan leher (Stretching exercise) efektif untuk mengurangi gejala
ketidaknyamanan leher pasca operasi tiroidektomi.

B. SARAN
Berdasarkan masalah keperawatan yang muncul, diharapkan perserta pelatihan dapat
meningkatkan pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan struma nodosa non toxic,
meningkatkan pemahaman dan berpikir kritis dalam menghadapi kasus struma nodosa non
toxic dan tindakan pembedahan dengan subtotal tiroidectomi. Dan bagi Instansi Rumah Sakit
diharapkan mampu memberikan asuhan keperawatan yang optimal bagi klien dengan struma
nodosa non toxic dengan tindakan pembedahan subtotal tiroidectomi
DAFTAR PUSTAKA

Baradero. (2009). Keperawatan perioperatif : prinsip dan praktik keperawatan perioperatif.


Jakarta : EGC
Carl L Gwinnutt. (2011). Catatan Kuliah Anestesi Klinis,edisi 3. Jakarta : EGC.
Judith M. Wilkinson. (2012). Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 9, Diagnosis NANDA,
Intervensi NIC, Kriteria NOC NANDA NIC NOC. Jakarta : EGC.
McEwen,M & Nies,M.A. (2007). Community/public health nursing: promoting the health of
populations. Fourth edition. USA: Saunders Elsevier.
Namiraszwara. (2010). www.askep-hiperthyroidism.com, november 2011.06.14
Said A latief. (2002).Petunjuk Praktis Anestesiologi. Jakarta : Bagian Anestesiologi dan Terapi
Intensif FKUI.
Sota Omoigui. (2004). Obat-obatan anestesi, edisi II. Jakarta : EGC.