You are on page 1of 7

BAB III

PELAKSANAAN & PEMBAHASAN

A. Evidence Based Practice


Tahap 1: “Plan”
1. Judul Rencana
Upaya Menurunkan Tingkat Kecemasan dengan Relaksasi Otot Progresif
(Progressive Muscle Relaxation) pada Pasien dengan Kanker Payudara
2. Rumusan Pernyataan dan Uraian Masalah
Pada dasarnya, kecemasan dalam derajat normal sebenarnya sesuatu yang
sehat dan adaptif. Normal apabila individu sedikit mencemaskan aspek-aspek
yang terjadi dalam kehidupannya. Kecemasan bermanfaat apabila hal tersebut
mendorong individu untuk melakukan koping yang dapat dilakukannya, tetapi
kecemasan dapat menjadi abnormal apabila tingkatannya tidak sesuai dengan
proporsi ancaman karena mengganggu kualitas hidup seseorang (Nevid, 2003).
Kecemasan yang dialami pasien kanker dapat timbul akibat perasaan
ketidakpastian tentang penyakit, pengobatan, dan prognosa (Shaha, 2008).
Ruang Amarilis 3 Bedah sendiri kasus yang sering ditemuka adalah kanker
Payudara.
Salah satu terapi yang dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan
adalah Progressive Muscle Relaxation (PMR). PMR adalah salah satu dari
teknik relaksasi yang paling mudah dan sederhana yang sudah digunakan
secara luas. Menurut Richmond (2007), PMR merupakan suatu prosedur untuk
mendapatkan relaksasi pada otot melalui dua langkah. Langkah pertama adalah
dengan memberikan tegangan pada suatu kelompok otot, dan kedua dengan
menghentikan tegangan tersebut kemudian memusatkan perhatian terhadap
bagaimana otot tersebut menjadi relaks, merasakan sensasi relaks secara fisik
dan tegangannya menghilang.
Penelitian dari Syarif 2014 mengenai pengaruh PMR terhadapkecemasan
pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi adalah PMR (Progressive
Muscle Relaxation) efektif dalam menurunkan kecemasan.
3. Rumusan Tujuan
Menurunkan Angka kecemasan (pada pasien dengan kanker payudara
diruang Amarilis 3 Bedah.
4. Uraian Kegiatan
a. Membentuk Team
No. Nama Peran
1 Choirun Nisa N.A Ketua
2 Novi Nilamsari Pemberi materi latihan relaksasi
3 Rochma Pratiwi Pemberi materi latihan relaksasi
4 Supriyono Pemberi materi latihan relaksasi
5 Ais Marwah Fasilitator
6 Arfiana Nurani Fasilitator
7 Asterilia N.P Fasilitator
8 Dewiayu Indah P Fasilitator
9 Dian Hardiyanti N. Evaluator
10 Rizqi Rachmilia Evaluator

b. Metode
1) Rencana kegiatan
a) Tetapkan criteria inklusi dan eksklusi
b) Cari responden yang relevan
c) Kaji tingkat kecemasan responden dengan menggunakan instrumen
HAM-A
d) Berikan latihan relaksasi otot progresif
e) Evaluasi tingkat kecemasan sesudah latihan relaksasi otot progresif
2) Instrumen
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Hamilton
Rating Scale for Anxiety (HAM-A) yang dibuat oleh Hamilton pada
tahun 1959.Setiapsatu soal diberi nilai 0 – 4 dengan jumlah total 56
dimana skorkurang dari 14 mengindikasikan tidak ada kecemasan, 14 –
20 mengindikasikan kecemasan ringan, 21 – 27 mengindikasikan
kecemasan sedang, 28 – 41 mengindikasikan kecemasan berat, dan 42 –
56 mengindikasikan kecemasan berat sekali.
3) Sample
Sample yang digunakan adalah pasien dengan kanker payudara
4) Waktu pelaksanaan
Senin- Selasa, 22-23 Januari 2018
5) Tempat
Ruang Amarilis 3 Bedah, RSUD Tugurejo Jawa Tengah
Tahap 2: “Do”
A. Pelaksanaan
1. Mencari responden dengan kriteria inklusi dan eksklusi sebagai berikut
a. Kriteria inklusi :
1) Pasien dengan kanker mamae.
2) Tingkat kesadaran komposmentis.
3) Mampu menggerakkan ekstremitas dengan bebas.
4) Mampu mengikuti instruksi yang diberikan.
5) Tanda-tanda vital serta pemeriksaan penunjang dalam rentang normal.
b. Kriteri eksklusi :
1) Pasien dengan penurunan kesadaran.
2) Pasien dengan perburukan keadaan umum.
3) Pasien yang tidak kooperatif.
Setelah disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan 4 pasien
yang dapat dijadikan responden pemberian Progressive Muscle Relaxation
(Relaksasi Otot Progresif).
No. Initial Responden
1. Ny. S
2. Ny. M
3. Ny. A
4. Ny. Sm

2. Mengkaji tingkat kecemasan


Tingkat kecemasan diukur sebelum relaksasi otot progresif dengan
menggunakan Hamilton Rating Scale for Anxiety (HAM-A) pada setiap pasien
(lampiran 7).

3. Memberikan Progressive Muscle Relaxation (Relaksasi Otot Progresif)


Progressive Muscle Relaxation (Relaksasi Otot Progresif) dilakukan selama 3
kali pada setiap pasien dengan media yang ada sesuai dengan SOP (terlampir).
Pelaksanaan Progressive Muscle Relaxation (Relaksasi Otot Progresif) :
a. Senin, 22 Januari 2018 pukul 16.30 WIB (I)
b. Selasa, 23 Januari 2018 pukul 09.30 WIB (II)
c. Selasa, 23 Januari 2018 pukul 18.30 WIB (III)
4. Evaluasi tingkat kecemasan sesudah latihan relaksasi otot progresif
Tingkat kecemasan diukur kembali setelah relaksasi otot progresif dengan
menggunakan Hamilton Rating Scale for Anxiety (HAM-A) pada setiap pasien
(terlampir).

B. Hasil
Tabel 2.1 Hasil skor kecemasan pre dan post Progressive Muscle Relaxation I
No. Initial Score Pre Kriteria Score Post Kriteria
1. Ny. S 16 Ringan 16 Ringan
2. Ny. M 15 Ringan 14 Ringan
3. Ny. A 20 Ringan 20 Ringan
4. Ny. Sm 16 Ringan 15 Ringan

Tabel 2.2 Hasil skor kecemasan pre dan post Progressive Muscle Relaxation II
No. Initial Score pre Kriteria Skor post Kriteria
1. Ny. S 15 Ringan 15 Ringan
2. Ny. M 15 Ringan 14 Ringan
3. Ny. A 20 Ringan 18 Ringan
4. Ny. Sm 15 Ringan 15 Ringan

Tabel 2.3 Hasil skor kecemasan pre dan post Progressive Muscle Relaxation III
No. Initial Score post Kriteria Skor post Kriteria
1. Ny. S 15 Ringan 14 Ringan
2. Ny. M 14 Ringan 14 Ringan
3. Ny. A 18 Ringan 17 Ringan
4. Ny. Sm 15 Ringan 14 Ringan

C. Media
1. Leaflet
2. Lembar Balik
D. Anggaran
No Nama Barang Biaya
1. Pembuatan Leaflet 20.000,-
2. Pembuatan Lembar Balik 50.000,-
Jumlah Rp. 70.000,-

Tahap 3: “Study”
Gambar 3.1 chart PMR ke-1
Gambar 3.1 diketahui skor kecemasan (HAM-A) pada Ny. S dan Ny. A tidak
mengalami perubahan sesudah diberikan relaksasi otot progresif namun pada Ny. M
dan dan Ny. Sm mengalami penurunan skor kecemasan.

Gambar 3.2 chart PMR ke-2


Gambar 3.2 diketahui skor kecemasan (HAM-A) pada Ny. S dan Ny. Sm
tidak mengalami perubahan sesudah diberikan relaksasi otot progresif namun pada
Ny. M dan dan Ny. A mengalami penurunan skor kecemasan.

Gambar 3.3 chart PMR ke-3


Gambar 3.3 diketahui skor kecemasan (HAM-A) pada Ny. M tidak
mengalami perubahan sesudah diberikan relaksasi otot progresif sedangkan pada
Ny. S, Ny. A dan dan Ny. Sm mengalami penurunan skor kecemasan.
Hasil dari pelaksanaan Progressive Muscle Relaxation (Relaksasi Otot
Progresif) yang dilaksanakan selama 3 kali pada setiap pasien didapatkan skor
kecemasan (HAM-A) sebagian besar berkurang walaupun ada beberapa hasil skor
kecemasan (HAM-A) yang tidak berubah. Hal ini sesuai dengan penelitian dari
Syarif (2014) bahwa PMR efektif dalam menurunkan kecemasan pada pasien
kanker dengan hasil PMR terdapat perbedaan yang signifikan skor kecemasan pada
pengukuran kedua antara kelompok intervensi dan kontrol (p value = 0,003).
Penelitian tentang pengaruh PMR pada kecemasan pertama kali
dipublikasikan oleh Jacobson (1920). Jacobson menemukan penurunan kecemasan
sejalan dengan perasaan relak yang ditimbulkan. Jacobson juga mengatakan bahwa
relaksasi dengan PMR tersebut dapat menurunkan gejala gastritis dan hipertensi.
Hasil ini juga didukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Chan (2008) yang
menyampaikan hasil bahwa terdapat penurunan kecemasan setelah responden
penelitian melakukan PMR. Relaksasi PMR merupakan salah satu teknik
pengelolaan diri yang didasarkan pada cara kerja sistem saraf simpatis dan
parasimpatis. Sistem saraf simpatis lebih banyak aktif ketika tubuh membutuhkan
energi. Contoh kondisi dimana saraf simpatis bekerja adalah pada saat terkejut,
takut, cemas, atau berada dalam keadaan tegang seperti pada pasien-pasien yang
menjalani kemoterapi (Ramdhani & Putra, 2008).

Tahap 4: “Action”
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa ternyata relaksasi otot progresif
memberikan efek untuk menurunkan derajat kecemasan pasien meskipun tidak
terlalu besar perbedaan tingkat kecemasannya bila dilihat dari skor HAM. Hal ini
berarti relaksasi otot progresif bisa diterapkan pada pasien di ruang Amarilis 3-
Bedah dengan kriteria sebagaimana disebutkan dalam kriteria inkusif untuk
menurunkan kecemasan terutama yang baru dalam tahap kecemasan ringan
sebagaimana keadaan pasien dalam penelitian ini. Kegiatan yang harus dilakukan
selanjutnya untuk peningkatan hasil PDSA ini dan peningkatan implementasi
keperawatan di ruangan adalah:
1. Lakukan PDSA siklus kedua dengan kriteria inklusi pada pasien dengan tingkat
kecemasan sedang hingga tinggi.
2. Konsultasikan dengan kepala ruangan serta bagian penjaminan mutu mengenai
hasil PDSA siklus pertama.
3. Konsultasikan dengan kepala ruangan mengenai penerapan relaksasi otot
progresif di ruangan.
4. Susun SOP mengenai relaksasi otot progresif di ruangan serta sediakan media
yang mudah dipahami dan digunakan oleh pasien.
5. Lakukan publikasi mengenai hasil pelaksanaan PDSA pada perawat di ruangan
serta petugas terkait.
6. Susun format PDSA untuk ruangan (format terlampir)
Faktor Penghambat :
1. Dalam teknik relaksasi otot progresif ini membutuhkan konsentrasi tinggi saat
dilakukan agar mendapat hasil yang maksimal
2. Membutuhkan suasana yang sepi dan tenang
Faktor Pendukung :
1. Diberlakukannya jam kunjung sehingga dapat menjaga suasana yang kondusif
2. Amarilis 3 Bedah merupakan rawat inap kelas 1 sehingga satu kamar hanya
terdiri dari 2 bed sehingga suasana ruangan dapat kondusif
Solusi :
1. Lakukan teknik relaksasi diluar jam kunjung, setelah tindakan dan diluar jam
istirahat pasien.
2. Pastikan pasien dalam kondusi yang kooperatif dan tenang agar dapat
berkonsentrasi