You are on page 1of 6

NO.

]BERPARTISIPASI DALAM UPAYA PENINGKATAN JAMINAN KEADILAN

Wujud partisipasi kita sebagai warga Negara yang meliputi aspek Poleksosbudhankam, misalnya :
Dalam bidang politik dan hukum :

1. Memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk mengemukakan pendapat.


2. Memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk menduduki jabatan tertentu.
3. Memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk ikut serta dalam pemilu.
4. Mengikuti prosedur hukum dengan benar, seperti tidak menggunakan suap.

Dalam bidang kehidupan social :

* a.Memberi bantuan terhadap sesama tanpa diskriminatif.


* b.Bersedia mengkritik dan dikritik orang lain.
* c.Memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran.
* d.Menghormati dan menghargai sesama manusia.

Dalam bidang ekonomi :

* a.Memberikan hak dan kebebasan kepada orang lain untuk memiliki sesuatu.
* b.Memberikan upah sesuai dengan prestasi dan masa kerja.
* c.Pembagian sarana secara wajar, yang bertalian dengan kesejahteraan.

Dalam bidang pertahanan dan keamanan :

* a.Bersedia membantu meringankan beban masyarakat tanpa pandang bulu.


* b.Bersikap netral terhadap pihak yang bertikai.
* c.Ikut mengawasi dan melaporkan bila ditemukan kerawanan.
* d.Melindungi seluruh warga Negara di luar negeri.
* e.Memberi pengayoman kepada masyarakat tanpa pandang bulu.

Dalam bidang agama :

* a.Tidak memaksakan agama yang kita anut kepada orang lain.


* b.Memberikan kesempatan kepada orang lain untuk beribadah.
* c.Meningkatkan toleransi antar manusia beragama.

Partisipasi warga negara dalam upaya peningkatan jaminan keadilan dapat dilakukan dengan melakukan cara-cara
berikut ini.

1. Menaati setiap peraturan yang berlaku di negara Republik Indonesia.

2. Menghormati setiap keputusan hukum yang dibuat oleh lembaga peradilan.


3. Memberikan pengawasan terhadap jalannya proses-proses hukum yang sedang berlangsung.

4. Memberi dukungan terhadap pemerintah dalam upaya meningkatkan jaminan keadilan.

5. Memahami dan menghormati hak dan kewajiban setiap warga negara.

NO.2

Pertama, mengecam tindakan-tindakan yang merupakan pelanggaran terhadap hak


asasi manusia. Misalnya dalam bentuk tulisan yang dipublikasikan melalui majalah
sekolah, surat kabar, dan bisa dikirim ke lembaga pemerintah atau pihak-pihak terkait. Bisa
juga ditulis dalam bentuk poster dan demonstrasi secara tertib.
Kedua, mendukung upaya lembaga yang berwenang untuk menindak secara tegas
pelaku pelanggaran HAM. Misalnya mendukung upaya negara untuk menindak tegas para
pelakunya dengan menggelar peradilan HAM dan mendukung upaya penyelesaian melalui
lembaga peradilan HAM internasional, apabila peradilan HAM yang dilakukan suatu
negara mengalami jalan buntu.
Ketiga, mendukung dan ikut serta dalam setiap upaya yang dilakukan pemerintah dan
masyarakat untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Bantuan kemanusiaan itu bisa
berbentuk makanan, pakaian, obat-obatan atau tenaga medis. Partisipasi bisa berwujud
dalam usaha menggalang pengumpulan dan penyaluran berbagai bantuan kemanusiaan.
Keempat, mendukung upaya terwujudnya jaminan restitusi, kompensasi, dan
rehabilitasi bagi para korban. Restitusi merupakan ganti rugi yang dibebankan bagi para
pelaku baik untuk korban atau keluarganya. Jika restitusi dianggap tidak mencukupi, maka
harus diberikan kompensasi, yaitu kewajiban negara untuk memberikan ganti rugi bagi
para korban atau keluarganya. Di samping restitusi dan kompensasi, korban juga berhak
mendapat rehabilitasi. Rehabilitasi bisa bersifat psikologis, medis, dan fisik. Rehabilitasi
psikologis, misalnya berupa pembinaan kesehatan mental untuk terbebas dari trauma, stres,
dan gangguan mental yang lain. Rehabilitasi medis yaitu berupa jaminan pelayanan
kesehatan. Sedangkan rehabilitasi fisik dapat berupa pembangunan kembali sarana dan
prasarana, seperti perumahan, air minum, perbaikan jalan, dan lain-lain.
Selain keempat cara tersebut, kita juga dapat melakukan cara yang lain, seperti
melaporkan setiap pelanggaran HAM kepada aparat yang berwenang. Serta dengan
menyebarluaskan pemahaman HAM kepada masyarakat luas.

NO.3

Kekuasaan kehakiman yang merdeka ini mengandung arti bahwa kekuasaan


kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak kekuasaan negara lainnya
dan kebebasan dari paksaan, direktiva atau rekomendasi yang datang dari
pihak ekstra yudisial, kecuali dalam hal-hal yang diizinkan oleh UU.

Kebebasan dalam melaksanakan wewenang yudisial tidaklah mutlak sifatnya,


karena tugas hakim yaitu untuk menegakkan hukum dan keadilan
berdasarkan pancasila dengan jalan menafsirkan hukum dan mecari dasar-
dasar asas-asas yang jadi landasannya, melalui perkara-perkara yang
dihadapkan kepadanya, sehingga keputusannya mencerminkan keadilan
bangsa dan rakyat Indonesia.

Penyelenggaraan kekuasaan kehakiman diserahkan kepada badan-badan


peradilan dan ditetapkan dengan UU, dengan tugas pokok untuk menerima,
memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan setiap perkara yang diajukan
kepadanya.

Pada hakikatnya segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan


tugas badan-badan penegak hukum dan keadilan tersebut baik atau buruknya
tergantung pada manusia-manusia pelaksananya (Hakim), maka dalam UU
mengenai Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman harus
dicantumkan syarat-syarat yang senantiasa harus dipenuhi oleh seorang
hakim, yaitu jujur, merdeka, berani mengambil keputusan dan bebas dari
pengaruh, baik dari dalam maupun dari luar.

Kekuasaan kehakiman yang bebas dari segala campur tangan pihak kekuasaan ekstra yudisial,
kecuali dalam hal-hal sebagaimana disebut dalam UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945
dan lembaga kehakiman bebas dalam memberikan keputusan dan keputusan itu tidak dapat
dibatalkan oleh pihak lain

NO.4

1. Penggolongan hukum berdasarkan


sumbernya
a) Hukum undang-undang, yakni hukum yang terletak di dalam peraturan perundang-
undangan.
b) Hukum kebiasaan, yakni hukum yang berlaku di dalam peraturan- peraturan atau
kebiasaan
c) Hukum traktat, yakni hukum yang ditetapkan oleh negara-negara melalui suatu
perjanjian antar negara (traktat)
d) Hukum yurisprudensi, yakni hukum yang muncul karena adanya keputusan hakim.

2. Penggolongan hukum berdasarkan tempat


berlakunya
a) Hukum nasional, yakni hukum yang berlaku di dalam wilayah negara tertentu.
b) Hukum internasional, yakni hukum yang berguna untuk mengatur hubungan hukum
antar negara di dalam hubungan internasional. Hukum internasional ini berlaku secara
universal. Artinya, dapat berlaku secara keseluruhan terhadap negara-negara yang
mengikatkan diri dalam perjanjian internasional (traktat) tertentu dan dapat juga
mengikat negara lain yang tidak termasuk dalam perjanjian tersebut.
c) Hukum asing, yakni hukum yang berlakunya di dalam wilayah negara lain.
d) Hukum gereja, yakni sekumpulan norma yang ditetapkan oleh gereja dan berlaku
untuk para anggotanya.

3. Penggolongan hukum berdasarkan bentuknya


a) Hukum tertulis, di bedakan ke dalam dua macam yakni :
i. Hukum tertulis yang dikodifikasikan. Yakni hukum yang disusun lengkap, sistematis,
teratur serta dibukukukan, sehingga tidak lagi diperlukan peraturan pelaksanaan.
Contoh hukum tertulis yang dikodifikasikan misalnya KUH Pidana, KUH Perdata dan
KUH Dagang.
ii. Hukum tertulis yang tidak dikodifikasikan yakni hukum yang walaupun tertulis, akan
tapi tidak disusun dengan sistematis, tidak lengkap, dan masih terpisah-pisah.
Karenanya hukum ini sering masih memerlukan peraturan pelaksanaan di dalam
penerapannya. Contoh undang-undang, peraturan pemerintah dan keputusan presiden.
b) Hukum tidak tertulis, adalah hukum yang berlaku serta diyakini oleh masyarakat dan
dipatuhi, akan tetapi tidak dibentuk menurut prosedur yang formal, melainkan lahir dan
tumbuh di kalangan masyarakat tersebut.

4. Penggolongan hukum berdasarkan waktu


berlakunya
a) Ius Constitutum (hukum positif), adalah hukum yang berlaku sekarang dan hanya bagi
suatu masyarakat tertentu saja di dalam daerah tertentu. Contohnya Undang-Undang
Dasar Republik Indonesia 1945, Undang-Undang RI Nomor 12 tahun 2006 tentang
Kewarganegaraan Republik Indonesia
b) Ius Constituendum (hukum negatif), adalah hukum yang diharapkan dapat berlaku
pada waktu yang akan datang. Misalnya rancangan undang-undang (RUU).
5. Penggolongan hukum berdasarkan cara
mempertahankanya
a. Hukum material, adalah hukum yang mengatur hubungan antara anggota masyarakat
yang berlaku secara umum mengenai hal-hal yang dilarang serta hal –hal yang
dibolehkan untuk dilakukan. Contohnya hukum pidana, hukum perdata, hukum dagang
dan sebagainya.
b. Hukum formal, adalah hukum yang mengatur tentang bagaimana cara
mempertahankan dan melaksanakan hukum meterial. Contohnya Hukum Acara Pidana
(KUHAP), Hukum Acara Perdata dan sebagainya.

6. Penggolongan hukum berdasarkan


sifatnya
a. Hukum yang memaksa, adalah hukum yang bila diterapkan untuk keadaan bagaimana
pun, harus dan mempunyai paksaan yang mutlak. Contoh, hukuman bagi orang yang
melakukan pembunuhan, maka sanksinya secara paksa wajib untuk dilaksanakan.
b. Hukum yang mengatur, adalah hukum yang dapat dikesampingkan ketika pihak-pihak
yang bersangkutan telah membuat peraturan tersendiri berupa suatu perjanjian.
Dengan kata lain, hukum ini mengatur hubungan antar individu yang baru dapat
diberlakukan bila yang bersangkutan tidak menggunakan alternatif lain yang
dimungkinkan oleh hukum (undang-undang). Contoh ketentuan dalam pewarisan ab-
intesto (pewarisan berdasarkan undang-undang), yang baru memungkinkan untuk
dilaksanakan jika tidak terdapat surat wasiat (testamen).

7. Penggolongan hukum berdasarkan wujudnya


a. Hukum objektif, adalah hukum yang mengatur tentang hubungan antar dua orang
atau lebih yang berlaku umum. Dalam artian, hukum di dalam suatu negara ini berlaku
secara umum dan tidak mengenai terhadap orang atau golongan tertentu saja.
b. Hukum subjektif, yakni hukum yang muncul dari hukum objektif dan berlaku terhadap
seorang atau lebih. Hukum subjektif ini juga sering disebut sebagai hak.

8. Penggolongan hukum berdasarkan isinya


a) Hukum publik, adalah hukum yang mengatur hubungan antara negara dengan individu
atau warga negaranya, yang menyangkut tentang kepentingan umum atau publik.
Hukum publik dapat dibagi lagi ke dalam :
• Hukum Pidana, yang mengatur terkait pelanggaran dan kejahatan, serta memuat
larangan dan sanksi.
• Hukum Tata Negara, yang mengatur terkait hubungan antara negara dengan bagian -
bagiannya.
• Hukum Tata Usaha Negara (administratif), yang mengatur tentang tugas dan
kewajiban para pejabat negara.
• Hukum Internasional, yang mengatur terkait hubungan antar negara, seperti hukum
perjanjian internasional, hukum perang internasional, dan sejenisnya.
b) Hukum privat (sipil), yakni hukum yang berguna untuk mengatur hubungan antara
individu satu dengan individu lainnya, termasuk negara sebagai pribadi. Hukum privat
dapat dibagi lagi dalam:
• Hukum Perdata, yakni hukum yang mengatur hubungan antar individu secara umum.
Contoh hukum perdata seperti hukum keluarga, hukum perjanjian hukum kekayaan,
hukum waris, , dan hukum perkawinan.
• Hukum Perniagaan (dagang), yakni hukum yang mengatur hubungan antar individu di
dalam kegiatan perdagangan. Contoh hukum dagang yakni hukum tentang jual beli,
hutang piutang, hukum untuk mendirikan perusahaan dagang dan sebagainya.

NO.5

UU Ri No.2 tahun 2002

NO.6

Terjangkau masyarakat
Namun, pandangan Yusril itu tidak didukung oleh Oka Mahendra, staf ahli Menkumdang. Saya
kira kita masih mempertimbangkan hak seseorang yang mengajukan setiap konflik hukum yang
dihadapi oleh mereka ke pengadilan, kata Oka. Untuk itulah Oka berpendapat, pengadilan
harus terjangkau untuk masyarakat yang paling miskin sekalipun.

Ketidaksetujuan Oka terhadap biaya proses peradilan itu karena lebih melihat kepada keadilan
pada masyarakat untuk memperoleh keadilan. Ia mengusulkan seharusnya justru birokrasi-
birokrasi di pengadilan yang tidak perlu lah yang harus dipotong. Selain itu Oka juga
mengusulkan penyempurnaan administrasi pengadilan dan perbaikan manajemen penanganan
perkara.

Oka juga tidak menyetujui gagasan pemberian subsidi-subsidi yang tidak mendidik masyarakat.
Kita harus mendidik masyarakat agar mandiri dan membuat mereka sadar bahwa selain hak
mereka juga mempunyai kewajiban-kewajiban untuk membiayai republik ini, katanya.

Oleh karena itu Oka tidak sepakat pengadilan dengan biaya mahal. Namun ia mengakui, untuk
saat ini biaya berperkara di pengadilan sudah cukup murah. Dan jika dinaikkan masih bisa, asal
tidak terlalu mahal.

Menurut Oka, untuk saat ini sebenarnya biaya proses pengadilan sudah cukup ringan. Yang
membuat mahal adalah untouchable money-nya, katanya. Untuk itu harus ada institusi di MA
yang mengurusi masalah ini, termasuk uang titipan pihak ketiga. Karena saat ini mekanisme
yang digunakan di pengadilan adalah sebelum masuk perkara, penggugat harus membayarkan
dulu uang perkarta.