You are on page 1of 17

MAKALAH KIMIA FISIK III

LAPISAN GANDA ELEKTROLIT

Oleh:
Kelompok II
Nova Febrianti (F1C114003)
Nafisah Amri (F1C115003)
Albert (F1C115009)
Agnes Vionita Y. (F1C115017)
Puja Iklima (F1C115024)

Dosen Pengampu :
Diah Mastutik, S.Pd., M.Si.

PROGRAM STUDI KIMIA


JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa, karena atas berkat rahmat-Nya lah dan hidayah-Nya
jualah penulisan makalah ini dapat selesai dengan tepat waktu.
Makalah ini disusun secara khusus dan sistemika untuk
memenuhi tugas Kimia Fisik III dan penyusunannya dilakukan
secara kelompok. Substansi yang terdapat dalam makalah ini
berasal dari beberapa referensi Jurnal dan literatur-literatur dan
praktikum.
Dalam pembuatan dan penyusunan makalah ini tentu saja
penulis sangat terbantu bila pembaca memberikan kritik dan
saran yang bersifat membangun dan dapat menyempurnakan
makalah ini dari segi manapun.
Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini bisa
bermanfaat bagi kita semua baik untuk hari ini dan untuk masa
yang akan datang.

Jambi, 12
September 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................ ii

I. PENDAHULUAN .................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 1
1.3 Tujuan ....................................................................................................... 1

II, DASAR TEORI ........................................................................................ 1


2.1 Lapisan Ganda Elektrolit ............................................................................... 1
2.2. Tegangan Permukaan ............................................................................... 2
2.3. Kerapatan Muatan .................................................................................... 7
2.4. Kapasitas .................................................................................................. 7
2.5. Model-Model Lapisan Ganda .................................................................... 9

III. PENUTUP ........................................................................................... 12


5.1.Kesimpulan .................................................................................................. 12

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 13

ii
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lapisan Ganda Rangkap Listrik. Bila permukaan logam yang bermuatan
listrik kontak dengan larutan elektrolit, permukaan tersebut akan menarik
muatan yang berlawanan dan menolak muatan yang sejenis. Akan terbentuk
lapisan ganda muatan listrik, yaitu lapisan pada ‘permukaan logam’ dan lapisan
pada ‘permukaan dekat logam’ yang memiliki muatan yang berbeda.
Pada pokok bahasan yang terdapat dalam makalah ini akan dibahas
beberapa pokok bahasan dari Lapisan Ganda seperti tegangan permukaan,
kerapatan muatan dan kapasitas. Selain itu juga ditentukan model-model
contoh lapisan ganda yang ada pada penjelasan yang akan dipaparkan ini.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang, rumusan masalah yang bisa diambil
adalah:

1. Bagaimana sistem lapisan ganda elektrolit?


2. Bagaimana sistem tegangan permukaan?
3. Bagaimana sistem Kerapatan Muatan?
4. Bagaimana sistem Kapasitas muatan?
5. Bagaimana model-model lapisan ganda?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1. Mampu mengetahui sistem lapisan ganda elektrolit


2. Mampu mengetahui sistem tegangan permukaan
3. Mampu mengetahui system kapasitas muatan
4. Mampu mengetahui sistem Kerapatan Muatan dan Kapasitas
5. Mampu mengetahui model-model lapisan ganda

1
II, DASAR TEORI
2.1 Lapisan Ganda Elektrolit
Daerah antarmuka yang terletak di larutan dikenal sebagai daerah lapis
ganda elektrolit “electrolyte double layer region” sedangkan daerah antarmuka
pada daerah padat/logam dikenal sebagai daerah muatanruang “space-charge
region”. Rentang daerah pada logam lebih tipis.

Bila permukaan logam yang bermuatan listrik kontak dengan larutan


elektrolit,permukaan tersebut akan menarik muatan yang berlawanan dan
menolak muatan yang sejenis.Akan terbentuk lapisan ganda muatan listrik,
yaitu lapisan pada ‘permukaan logam’ dan lapisan pada ‘permukaan dekat
logam’ yang memiliki muatan yang berbeda.Beberapa model Lapisan-ganda
Rangkap Listrik dikemukakan oleh Helmhotz, Gouy-Chapman, dan Stern.
Model Helmhozt, beda potensial antara titik tertentu di LRL dgn fasa
ruah adalah linear, semakin jauh dari elektroda semakin kecil hingga
mencapai nol.Gouy Chapman, memperhitungkan adanya gerakan termal dari
ion-ion. Stren, gabungan dari Helmholzt dan Guy-Chapman;

1
Model Helmholtz berasumsi jika larutan yang terlibat merupakan larutan
elektrolit, dimana tidak terjadi reaksi di dekat elektroda selama proses transfer
elektron. Pada model ini, interaksi yang terjadi hanyalah interaksi Van de Waals
antara larutan dengan elektroda. Interaksi tersebut terjadi akibat adanya
densitas muatan dan elektroda yang menghasilkan kelebihan atau defisiensi
elektron pada permukaan elektroda. Untuk mempertahankan netralitas elektrik
maka muatan elektroda akan diseimbangkan melalui redistribusi ion-ion yang
dekat dengan permukaan tersebut. Ion yang tertarik tersebut selanjutnya
membentuk lapisan yang menyeimbangkan muatan permukaan. Jarak terdekat
ion dengan elektroda dibatasi oleh jari-jari ion ditambah dengan bidang solvasi
disekitar ion individu. Secara keseluruhan, muatan dan potensial dua lapis
berpindah dari elektroda ke tepi lapisan luar (bidang Helmholtz luar) yang
diamati.
Model Helmholtz merupakan dasar yang baik bagi proses antarmuka,
namun model ini tidak mempertimbangkan beberapa faktor penting antara lain
difusi atau pencampuran dalam larutan, kemungkinan adsorpsi pada
permukaan dan interaksi antara momen dipol pelarut dengan elektroda.
Model Helmholtz ini merupakan pendekatan yang paling sederhana
berkaitan dengan muatan permukaan yang dinetralkan oleh konterion dengan
tanda berlawanan yang terletak dengan jarak d dari permukaan.
Muatan potensial permukaan secara linier hilang dari permukaan ke
konterion dengan muatan yang sudah maksimum. Jarak (d) akan menjadi
pusat pada konterion, misalnya jari-jarinya. Penggunaan teori Helmholtz tidak
dapat menjelaskan semua fenomena, karena hipotesa tersebut menjelaskan
tentang lapisan rigid dengan muatan yang berlawanan. Hal tersebut tidak
terjadi di alam.
2.2. Tegangan Permukaan
Definisi Tegangan Permukaan
Tegangan dalam permukaan ini adalah gaya persatuan panjang yang
harus diberikan sejajar pada permukaan untuk mengimbangi tarikan ke dalam.
Gaya ini tegangan permukaan mempunyai satuan dyne/cm dalam satuan cgs.
Hal ini analog dengan keadaan yang terjadi bila suatu objek yang menggantung
dipinggir jurang pada seutas tali ditarik ke atas oleh seseorang memegang tali
tersebut dan berjalan menjauhi seutas tali. (Martin, 1990).
Tegangan permukaan zat cair merupakan kecenderungan permukaan zat
cair untuk menegang, sehingga permukaannya seperti ditutupi oleh suatu
lapisan elastic. Selain itu, tegangan permukaan juga diartikan sebagai suatu

2
kemampuan atau kecenderungan zat cair untuk selalu menuju ke keadaan
yang luas permukaannya lebih kecil yaitu permukaan datar atau bulat seperti
bola atau ringkasnya didefinisikan sebagai usaha yang membentuk luas
permukaan baru. Dengan sifat tersebut zat cair mampu untuk menahan benda-
benda kecil di permukaannya. Seperti silet, berat silet menyebabkan permukaan
zat cair sedikit melengkung ke bawah tampak silet itu berada. Lengkungan itu
memperluas permukaan zat cair namun zat cair dengan tegangan
permukaannya berusaha mempertahankan luas permukaan-nya sekecil
mungkin.
Tegangan permukaan merupakan fenomena menarik yang terjadi pada
zat cair (fluida) yang berada dalam keadaan diam (statis). Tegangan permukaan
didefinisikan sebagai gaya F persatuan panjang L yang bekerja tegak lurus
pada setia garis di permukaan fluida. Tegangan antar muka adalah gaya
persatuan panjang yang terdapat pada antarmuka dua fase cair yang tidak
bercampur. Tegangan antar muka selalu lebih kecil dari pada tegangan
permukaan karena gaya adhesi antara dua cairan tidak bercampur lebih besar
dari pada adhesi antara cairan dan udara (Giancoli, 2001).
Tegangan permukaan bervariasi antar berbagai cairan. Air memiliki
tegangan permukaan yang tinggi dan merupakan agen pembasah yang buruk
karena air membentuk droplet, misalnya tetesan air hujan pada kaca depan
mobil. Permukaan air membentuk suatu lapisan yang cukup kuat sehingga
beberapa seranga dapat berjalan diatasnya (Giancoli, 2001).
Macam-macam Metoda yang Digunakan Dalam Tegangan Permukaan
Menurut Kosman (2005); Pengukuran tegangan permukaan dapat
dilakukan dengan beberapa metode antara lain:
1. Metode cincin de-Nouy
Cara ini dapat digunakan untuk mengukur tegangan permukaan dan
tegangan antar permukaan zat cair. Prinsip kerja alat ini berdasarkan pada
kenyataan bahwa gaya yang dibutuhkan untuk melepaskan cincin yang
tercelup pada zat cair sebanding dengan tegangan permukaan atau tegangan
antar muka. Gaya yang dibutuhkan untuk melepaskan cincin dalam hal ini
diberikan oleh kawat torsi yang dinyatakan dalam dyne.
2. Metode kenaikan kapiler
Metode ini hanya digunakan untuk menentukan tegangan suatu zat cair
dan tidak dapat digunakan untuk menentukan tegangan antar permukaan dua
zat cair yang tidak bercampur. Bila pipa kapiler dimasukkan ke dalam suatu zat
cair, maka zat tersebut akan naik ke dalam pipa sampai gaya gesek ke atas

3
diseimbangkan oleh gaya gravitasi ke bawah akibat berat zat cair. Komponen
gaya ke atas akibat tegangan permukaan yaitu ;
 Keliling penampang pipa = 2 r
 Sudut kontak antar permukaan zat dengan dinding kapiler =  maka gaya
ke atas total = 2 r cos .
Penyebab Terjadinya Tegangan Permukaan
Tegangan permukaan terjadi karena permukaan zat cair cenderung
untuk menegang, sehingga permukaannya tampak seperti selaput tipis. Hal ini
dipengaruhi oleh adanya gaya kohesi antara molekul air. Pada zat cair yang
adesiv berlaku bahwa besar gaya kohesinya lebih kecil dari pada gaya adesinya
dan pada zat yang non-adesiv berlaku sebaliknya. Salah satu model peralatan
yang sering digunakan untuk mengukur tegangan permukaan zat cair adalah
pipa kapiler. Salah satu besaran yang berlaku pada sebuah pipa kapiler adalah
sudut kontak, yaitu sudut yang dibentuk oleh permukaan zat cair yang dekat
dengan dinding. Sudut kontak ini timbul akibat gaya tarik-menarik antara zat
yang sama (gaya kohesi) dan gaya tarik-menarik antara molekul zat yang
berbeda (adesi). (Anief, 1993)
Molekul biasanya saling tarik-menarik. Dibagian dalam cairan, setiap
molekul cairan dikelilingi oleh molekul-molekul cairan di samping dan di
bawah. Di bagian atas tidak ada molekul cairan lainnya karena molekul cairan
tarik-menarik satu dengan yang lainnya, maka terdapat gaya total yang
besarnya nol pada molekul yang berada di bagian dalam caian. Sebaliknya
molekul cairan yang terletak di permukaan di tarik oleh molekul cairan yang
berada di samping dan bawahnya. Akibatnya, pada permukaan cairan terdapat
gaya total yang berarah ke bawah karena adanya gaya total yang arahnya ke
bawah, maka cairan yang terletak di permukaan cenderung memperkecil luas
permukaannya dengan menyusut sekuat mungkin. Hal ini yang menyebabkan
lapisan cairan pada permukaan seolah-olah tertutup oleh selaput elastis yang
tipis. (Anief, 1993).
Istilah permukaan biasanya dipakai bila membicarakan suatu
antarmuka gas/cair. Walaupun istilah ini akan dipakai dalam penentuan
tegangan permukaan. Karena setiap artikel zat, apabila itu bakteri, sel, koloid,
granul atau manusia, mepunyai suatu antarmuka pada batas sekelilingnya,
maka pada topik ini memang penting. Tegangan permukaan adalah gaya
persatuan panjang yang terdapat antarmuka dua fase cair yang tidak
bercampur, sedangkan tegangan permukaan adalah gaya persatuan panjang
bias juga digambarkan dengan suatu rangka kawat tiga sisi dimana suatu
bidang datar bergerak diletakkan. (Martin, 1990).

4
Molekul-molekul zat aktif permukaan (surfaktan) mempunyai gugus
polar dan non polar. Bila suatu zat surfaktan didispersikan dalam air pada
konsentrasi yang rendah, maka molekul-molekul surfaktan akan terabsorbsi
pada permukaan membentuk suatu lapisan monomolekuler. Bagian gugus polar
akan mengarah ke udara. Hal ini mengakibatkan turunnya tegangan
permukaan air. Pada konsentrasi yang lebih tinggi nolekul-molekul surfaktan
masuk ke dalam air membentuk agregat yang dikenal sebagai misel.
Konsentrasi pada saat misel ini mulai terbentuk disebut konsentrasi misel kritik
(KMK). Pada saat KMK ini dicapai maka tegangan permukaan zat cair tidak
banyak lagi dipengaruhi oleh perubahan konsentrasi misel kritik suatu
surfaktan dapat ditentukan dengan metode tegangan permukaan. (Kosman,
2006).
Cara yang paling mudah dan sederhana untuk menentukan tegangan
permukaan adalah dengan menggunakan kawat yang dibengkokkan berbenruk
huruf U dan kawat kedua CD dengan panjang l yang dapat digerakkan
sepanjang kawat U.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tegangan Permukaan
Menurut Marzuki., et al (2010); Faktor0faktor yang mempengaruhi
tegangan permukaan antara lain:
1. Suhu
Tegangan permukaan menurun dengan meningkatnya suhu, karena
meningkatnya energy kinetik molekul.
2. Zat terlarut (solute)
Keberadaan zat terlarut dalam suatu cairan akan mempengaruhi
tegangan permukaan. Penambahan zat terlarut akan meningkatkan viskositas
larutan, sehingga tegangan permukaan akan bertambah besar. Tetapi apabila
zat yang berada dipermukaan cairan membentuk lapisan monomolecular, maka
akan menurunkan tegangan permukaan, zat tersebut biasa disebut dengan
surfaktan.
3. Surfaktan
Surfaktan (surface active agents), zat yang dapat mengaktifkan
permukaan, karena cenderung untuk terkonsentrasi pada permukaan atau
antar muka. Surfaktan mempunyai orientasi yang jelas sehingga cenderung
pada rantai lurus. Sabun merupakan salah satu contoh dari surfaktan.
4. Jenis Cairan
Pada umumnya cairan yang memiliki gaya tarik antara molekulnya
besar, seperti air, maka tegangan permukaannya juga besar. Sebaliknya pada

5
cairan seperti bensin karena gaya tarik antara molekulnya kecil, makategangan
permukaannya juga kecil.
5. Konsentrasi Zat Terlarut
Konsentrasi zat terlarut (solut) suatu larutan biner mempunyai
pengaruh terhadap sifat-sifat larutan termasuk tegangan muka dan adsorbsi
pada permukaan larutan. Telah diamati bahwa solut yang ditambahkan
kedalam larutan akan menurunkan tegangan muka, karena mempunyai
konsentrasi dipermukaan yang lebih besar daripada didalam larutan.
Sebaliknya solut yang penambahannya kedalam larutan menaikkan tegangan
muka mempunyai konsentrasi dipermukaan yang lebih kecil daripada didalam
larutan.
Surfaktan yang larut dalam minyak : Ada tiga yang termasuk dalam
golongan ini, yaitu senyawa polar berantai panjang, senyawa fluorocarbon, dan
senyawa silicon. Surfaktan yang larut dalam pelarut air : Golongan ini banyak
digunakan antara lain sebagai zart pembasah, zat pembusa, zat pengemulsi, zat
anti busa, detergen, zat flotasi, oencegah korosi, dan lai-lain. Ada empat yang
temasuk dalam golongan ini yaitu surfaktan anion yang bermuatan negative,
surfaktan yang bermuatan positif, surfaktan nonion yang tak terionisasi dalam
larutan, dan surfaktan amfoter yang bermuatan negative dan positif
bergantung pada pH-nya. Surfaktan menurunkan tegangan permukaan air
dengan mematahkan ikatan-ikatan hydrogen pada permukaan. Hal ini
dilakukan dengan menaruh kepala-kepala hidrofiliknya terentang menjauhi
permukaan air. Sabun dapat membentuk misel (miceves), suatu molekul sabun
mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang plus ujung ion.
Bagian hidrokarbon dari molekul sabun bersifat hidrofobik dan larut
dalam zat-zat non polar, sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan larut
dalam air. Karena adanya rantai hidrokarbon, sebuah molekul sabun secara
keseluruhan tidaklah benar-benar larut dalam air, tetapi dengan mudah akan
tersuspensi di dalam air. Larutan surfaktan dalam air menunjukkan perubahan
sifat fisik yang mendadak pada daerah konsentrasi yang tertentu. Perubahan
yang mendadak ini disebabkan oleh pembentukan agregat atau penggumpalan
dari beberapa molekul surfaktan menjadi satu, yaitu pada konsentrasi kritik
misel (KMK).
Tegangan permukaan juga merupakan sifat fisik yang berhubungan
dengan gaya antarmolekul dalam cairan dan didefinisikan sebagai hambatan
peningkatan luas permukaan cairan. Awalnya tegangan permukaan
didefinisikan pada antar muka cairan dan gas. Namun, tegangan yang mirip
juga ada pada tegangan antar muka cairan-cairan, atau padatan dan gas.

6
Tegangan semacam ini secara umum disebut dengan tegangan antar muka.
(Niskia, 1992).
2.3. Kerapatan Muatan
Fluks Listrik Listrik pada sembarang sembarang bidang sama dengan
hasil perkalian elemen luas dan komponen komponen tegak lurus dari vektor
medan listrik E yang diintegralkan pada sebuah permukaan:
Fluks Listrik didefinisikan sebagai perkalian medan listrik (E) dengan
luasan yang dilaluinya (A) :

Φ=E.A

dengan:
Φ = fluks listrik (N m2/C)
E = medan listrik
A = luasan (m2)

Apabila garis-garis medan listrik yang menembus suatu bidang memiliki


sudut maka rumus fluks listriknya adalah sebagai berikut :
Φ = E . A Cos𝜃
kita dapat menggeneralisasi definisi fluks ini terhadap permukaan
lengkung yang medan listriknya dapat memiliki besar serta arah yang berubah-
ubah dengan membagi permukaan tersebut menjadi sejumlah besar elemen
yang sangat kecil. Jika ukurannya cukup kecil, maka masing-masing elemen
tersebut dapat dianggap sebagai bidang, variasi nilai medan listrik antara
elemen-elemen tersebut dapat diabaikan.

2.4. Kapasitas
kapasitas adalah ukuran jumlah muatan listrik yang disimpan (atau
dipisahkan) untuk sebuah potensial listrik yang telah ditentukan. Bentuk paling
umum dari peranti penyimpanan muatan adalah sebuah kapasitor dua
lempeng/pelat/keping. Jika muatan di lempeng/pelat/keping adalah +Q dan –

7
Q, dan V adalah tegangan listrik antar lempeng/pelat/keping, maka rumus
kapasitans adalah:

C adalah kapasitansi yang diukur dalam Farad.

Q adalah muatan yang diukur dalam coulomb.

V adalah voltase yang diukur dalam volt.

Unit SI dari kapasitansi adalah farad; 1 farad = 1 coulomb per volt.

Energi (diukur dalam satuan joule) yang disimpan dalam sebuah


kapasitor sama dengan kerja yang telah dilakukan untuk mengisinya dengan
muatan listrik. Anggap sebuah kapasitans sebagai C, yang menyimpan muatan
+q di sebuah lempeng dan -q di lempeng yang lain. Memindahkan sebuah
elemen muatan yang kecil dari satu lempeng ke lempeng yang lain bertentangan

dengan beda potensial V = q/C memerlukan kerja :

di mana:

W adalah kerja yang diukur dalam joule

q adalah muatan yang diukur dalam coulomb

C adalah kapasitans yang diukur dalam farad

Kita bisa mengetahui energi yang tersimpan dalam sebuah kapasitas


dengan mengintegralkan persamaan ini. Dimulai dengan sebuah kapasitans tak
bermuatan (q=0) dan memindahkan muatan dari satu lempeng ke lempen yang
lain sampai lempeng bermuatan +Q dan -Q membutuhkan kerja W:

Dengan mengombinasikan persamaan di atas untuk kapasitansnya


sebuah kapasitor pelat rata, kita mendapatkan:

8
di mana

W adalah energi yang diukur dalam joule

C adalah kapasitans, diukur dalam farad

V adalah voltase yang diukur dalam volt.

2.5. Model-Model Lapisan Ganda

Pemodelan Helmholtz

Model pertama dan paling simpel di temukan tahun 1879 oleh Helmholtz,
dianggap sebagai konsep pemisahan muatan antara elektroda logam dan
larutan elektrolit.

Elektroda menahan kerapatan muatan(σM)yang timbul dari kelebihan (-σM)


atau kekurangan(+σM) dari elekron pada permukaan elektroda. Muatan pada
elektroda diimbangi oleh redistribusi ion dalam larutan oleh muatan yang
berlawanan dan setara jumlahnya.Hasilnya adalah 2 lapisan dengan muatan
yang berlaanan yang dipisah kan jarak I = d/2 terbatas pada radius/2 dari ion
yang ditarik dan satu lapis layar dari larutan di sekitar masing-masing ion.
Garis yang tergambar melalui pusat dari ion menandai suatu ikatan yang
disebut ‘outer helmholzt plane’ (OHP) .potensial pada helmholz layer di jelaskan

9
oleh persamaan poison ,yang menghubungkan potensial dengan distribusi
muatan.

dimanaφ merupakan potensial lisrik, ρ adalah kerapatan muatan, x merupakan


jarak antara elektroda ε0 merupakan permitiviti vakum dan εrpermiiviti relatif
dari medium.

Model Gouy dan Chapman

Gouy dan Chapman merupakan yang pertama mempertimbangkan pergerakan


termal dari ion yang dekat pada permukaan bermuatan. Mereka
menggambkarnya sebagai diffuse doubelayer’ DDL) yang erdiri dari ion
berlawanan yang tertarik pada permukaan di jelaskan oleh persamaan Poisson –
Boltzman.

Distribusi ion di jelaskan oleh distribusi Boltzman

Dimana 0 merupakan konsentrasi ion erbesar, e merupakan unit muatan, I z –


muatan ion I, k merupakan konsanabolztman, T temperatur
.totalkerapaanmuaan per unit vulome untuk semua spesi ionik merupakan
jumlah dari semua ion :

10
Pemodelan Gouy-Chapman, pada konsentrasi elektrolit rendah eori ini sukses
memprediksi profil ionik

pemodelan stern

Pada tahun 1924 , stern menggembangkanteory layar ganda dengan


memikirkan cara yang lebih realistik untuk mendeskripsikan situasi fisik pada
tempat interaksi. Mengkombinasikan 2 model sebelumnya, layar padat oleh
Helmholtz dan difusi layer dari ion oleh gouychapman .

Dalam persamaan matematika kapasitas Cs ekuvialen terhadap 2 kapasitor

Dimana CH adalah kapasitas dari muatan menahan bagian dalam OHP dan
CGC merupakan kapasitas dari layer difusi .denganmensubtitusi nilai yang
telah didapakan maka didapat

11
III. PENUTUP
5.1.Kesimpulan
1. Daerah antarmuka yang terletak di larutan dikenal sebagai daerah lapis
ganda elektrolit “electrolyte double layer region” sedangkan daerah antarmuka
pada daerah padat/logam dikenal sebagai daerah muatanruang “space-
charge region”.
2. Tegangan dalam permukaan ini adalah gaya persatuan panjang yang harus
diberikan sejajar pada permukaan untuk mengimbangi tarikan ke dalam.
Gaya ini tegangan permukaan mempunyai satuan dyne/cm dalam satuan
cgs.
3. Fluks Listrik didefinisikan sebagai perkalian medan listrik (E) dengan luasan
yang dilaluinya,
4. kapasitas adalah ukuran jumlah muatan listrik yang disimpan (atau
dipisahkan) untuk sebuah potensial listrik yang telah ditentukan.

12
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, H. 2001. Elektrokimia dan Kinetika Kimia. Bandung : Citra Aditya
Bakti.

Bard, A., Faulkner, L. 2001. Electrochemical methods: Fundamentals and


Applications.John Wiley and Sons, Inc.

Anief, M. 1993. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: UGM Press.


Giancoli, D. C. 2001. Fisika jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Holil, B. 2007. Kimia Larutan dan Elektrokimia. Bandung : ITB.

Kosman, R. 2006. Bahan Ajar Farmasi Fisika. Makassar: Universitas


Muslim Indonesia.
Martin, A. 1993. Farmasi Fisika Edisi III. Jakarta: Universitas Indonesia
Press.
Marzuki, I., Amurillah dan Fitriana. 2010. Kimia Dalam Keperawatan.
Makassar: Pustaka As Salam.
Niskia, A. 1992. Elektrokimia Dan Kinetika Kimia. Bandung: ITB.
White, D.P. 1999. Elektrokimia Chapter 20. Wilmington : University of North
Caroline.

13