You are on page 1of 7

Merevisi

pemb

Melakukan ana
analisis
pembelajaran

Mengenali Merumuskan Mengemba Mengemb Mengemb Melakukan


kompetensi
tujuan pemb ngkan tes Strategi pemb materi pemb evaluasi formatif

Mengenali
Masukkan &
karakteristik si
belajar
Melakukan
evaluasi
sumatif

MODUL
A. Definisi Modul
Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan
sistematis, di dalamnya memuat seperangkat pengalaman belajar yang terencana
dan didesain untuk membantu peserta didik menguasai belajar yang terencana
dan didesain untuk membantu peserta didik menguasai tujuan belajar yang
spesifik. Modul minimal memuat tujuan pembelajaran, materi/substansi belajar,
dan evaluasi. Modul berfungsi sebagai sarana belajar yang bersifat mandiri,
sehingga peserta didik dapat belajar sesuai dengan kecepatan masing-asing
Adapun bentuk karakteristik modul (sudjimat, 2014:239)
1. Self Instruction
Untuk memenuhi karakter belajar mandiri maka modul harus: a)
memuat tujuan pembelajaran yang jelas, dan dapat menggambarkan
pencapaian KI dan KD; b) memuat materi pembelajaran yang dikemas dalam
unit-unit kegiatan kecil/spesifik, sehingga memudahkan dipelajari secara
tuntas; c)tersedia contoh dan ilustrasi yang mendukung kejelasan pemaparan
materi pembelajaran; d) terdapat soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya yang
memungkinkan untu mengukur penguasaan peserta didik; e)kontekstual, yaitu
materi yang disajikan terkait dengan suasana, tugas atau konteks kegiatan dan
lingkungan peserta didik; f) menggunakan bahasa yang sederhana dan
komunikatif; g)terdapat rangkuman ateri pembelajaran; h)terdapat instrument
penilaian, yang memungkinkan peserta didik melakukan penilaian mandiri
(self assessment); i) terdapat umpan balik atas penilaian peserta didik,
sehingga peserta didik mengetahui tingkat penguasaan materi; j)terdapat
informasi tentang rujukan/pengayaan/referensi yang mendukung materi
pembelajaran dimakasud.
2. Self Contained
Modul dikatakan self contained bila seluruh materu pembelajaran yang
dibutuhkan peserta didik termuat dalam modul tersebut. Tujuan dari konsep
ini adalah memberikan kesempatan peserta didik mempelajari materi
pembelajaran secara tuntas, karena materi belajar dikemas dalam satu
kesatuan yang utuh. Jika harus dilakukan pembagian atau pemisahan materi
dari satu KI/KD yang harus dikuasai oleh peserta didik.
3. Stand Alone
Stand alone atau berdiri sendiri merupakan karaktearistik modul yang
tidak tergantung pada bahan ajar/media lain. Dengan menggunakan modul,
peserta didik tidak perlu bahan ajar yang lain untuk mempelajari dan atau
mengerjakan tugas pada modul tersebut. Jika peserta didik masih
menggunakan dan bergantung pada bahan ajar lain selain modul yang
digunakan, maka bahan ajar tersebut tidak dikategorikan sebagai modul yang
berdiri sendiri.
4. Adaptif
Modul dikatakan adaptif jika modul tersebut dapat menyesuaikan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta fleksibel/luwes
digunakan di berbagai perangkat keras
5. User Friendly
Modul juga harus memenuhi kaidah user friendly atau
bersahabat/akrab dengan pemakainya. Setiap instruksi dan paparan informasi
yang tampil bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya. Setiap
instruksi dan paparan informasi yang tampil bersifat membantu dan
bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan pemakai dalam
merespon dan mengakses sesuai dengan keinginan. Penggunaan bahasa yang
sederhana, udah dimengerti, serta menggunakan istilah yang umum
digunakan, merupakansalah satu bentuk user friendly.

B. Prosedur Penyusunan Modul


Modul pembelajaran disusun berdasarkan prinsip-prinsip
pengembanagan suatu modul, meliputi analisis kebutuhan, pengembanagan
desain modul, iimplementasi, penilaian, evaluasi, dan validasi, serta jaminan
kualitas. Pengembangan suatu desain modul dilakukan dengan tahapan yaitu
menetapkan strategi pembelajaran dan media, memproduksi modul, dan
mengembangkan perangkat penilaian. Dengan demikian, modul disusun
berdasarkan desain yang telah ditetapkan. Dalam konteks ini, desain modul
ditetapkan berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah
disusun oleh guru. Adapun kerangka modul pada pedoman ini telah ditetapkan,
sehingga sekolah dimungkinkan untuk langsung menerapkan atau dapat
memodifikasi sesuai dengan kebutuhan tanpa harus mengurangi ketentuan-
ketentuan minimal yang harus ada dalam suatu modul.
Materi atau isi modul yang ditulis harus sesuai dengan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disusun. Isi modul mencakup substansi
yang sibutuhkan untuk menguasai sekelompok KD yang terkait. Disarankan agar
satu kompetensi dikembangkan menjadi satu modul saja. Namun demikian,
dengan pertmbangan karakteristik khusus, keluasaan dan kompleksitas suatu
kompetensi, dmungkinkan satu kompetensi dikembangkan menjadi lebih dari
satu modul. Selanjutnya, satu modul disarankan terdiri dari 2-4 kegiatan
peambelajaran. Apabila pada suatu KI memiliki lebih dari 4 KD, ,maka
disarankan untuk melakukan reorganisasi KI dan KD terlebih dahulu.

1. Analisis Kebutuhan Modul


Analisis kebutuhan modul merupakan kegiatan menganalisis silabus
dan RPP untuk memperoleh informasi modul yang dibutuhkan peserta
didik dalam mempelajari kompetensi yang telah ditetapkan. Nama atau
judul modul sebaiknya disesuaikan dengan pasangan KD yang terdapat
pada silabus dan RPP. Pada dasarnya tiap satu kompetensi dapat
dikembangkan menjadi satu modul yang terdiri 2-4 kegiatan pembelajaran.
Tujuan analisis kebutuhan modul adalah untuk mengidentifikasi dan
menetapkan jumlah dan judul modul yang harus dikembangkan dalam satu
satuan program pembelajaran tertentu. Satuan program pembelajaran
tersebut dapat diartikan sebagai satu tahun pelajaran, satu semester, atau
satu matapelajaran. Analisi kebutuhan modul dapat dilakukan dengan
langkah-langkah berikut ini.
a. Tetapkan satuan program yang akan dijadikan batas/lingkup kegiatan.
Apakah merupakan program tiga tahun, program satu tahun, program
satu semester atau lainnya.
b. Identifikasi dan analisi kompetensi yang akan dikembangkan bahan
ajarnya dalam bentuk modul, sehingga diperoleh materi pembelajaran
yang perlu dipelajari peserta didik untuk menguasai kompetensi
tersebut.
c. Susun dan organisai satuan atau unit bahan belajar yang dapat
mewadahi materi-materi tersebut. Satuan atau unit bahan ajar tersebut
diberi nama, dan dijadikan sebagai judul modul.
d. Dari daftar satuan atau unit modul yang dibutuhkan tersebut,
identifikasi nama yang sudah ada dan yang belum ada/tersedia
disekolah.
e. Lakukan penyususnan modul berdasarkan prioritas kebutuhannya.

Setelah kebutuhan modul ditetapkan, langkah berikutnya


adalah membuat peta modul. Peta modul adalah tata letak atau kedudukan
modul pada satuan program yang digambarkan dalam bentuk diagram.
Pembuatan peta modul disusun mengacu kepada diagram pencapaian
kompetensi yang termuat dalam KTSP atau K-13. Setiap judul modul
dianalisis keterkaitannya dengan judul modul yang lain dan diurutkan
penyajiannya sesuai dengan urutan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Pemetaan modul dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagaimana
yang telah diuraikan oleh bab sebelumnya.

2. Desain Modul
Desain penulisan modul diacukan pada RPP yang telah disusun
oleh guru. Di dalam RPP telah termuat metode, scenario pembelajaran, dan
media yang digunakan, garis besar materi pembelajaran dan teknik
penilaian serta perangkatnya.

Silabus/RPP

Pengetahuan,
Analisis
Keterampilan, Sikap
kebutuha
n

Judul Modul

Pemetaa Daftar Judul Modul


n

Penulisan modul pembelajaran diawali dengan menyusun


buram modul. Langkah-langkah penyusunan buram modul dapat dilihat
Peta Modul
pada diagram alir berikut ini.
Selanjutny buram modul divalidasi dan diuji cobakan. Validasi modl
dapat dilakukan kepada ahli bidang studi dan ahli media pembelajaran. Bila
buram modul telah dinyatakan valid maka harus dilanjutkan dengan
kegiatan uji coba kepada subjek uji coba yang berasal dari populasi calon
pengguna modul. Hal-hal yang perlu diuji cobakan antara lain mencakup:
a) Kemudahan modul digunakan oleh peserta didik dalam proses belajar,
dan, b) Kemudahan guru dalam menyiapkan fasilitas (alat dan bahan)
belajar, mengelola proses pembelajaran, dan dalam
mengadministrasikannya.
Pelaksanaan uji coba buram modul dapat dilakukan dengan langkah-
langkah berikut ini:
a. Siapkan instrument untuk uji coba yakni kuisioner kelayakan suatu
modul.
b. Tentukan subjek uji coba
c. Siapkan dan gandakan buram modul yang akan diuji cobakan sesuai
dengan jumlah subjek uji coba.
d. Siapkan saran dan prasarana yang diperlukan untuk suatu
pembelajaran mengimplementasikan modul.
e. Informasikan kepada subjek uji coba tentang tujuan uji coba dan
kegiatan yang harus mereka lakukan.
f. Lakukan uji coba sebagaimana melakukan kegiatan pembelajaran
dengan modul sesungguhnya
g. Kumpulkan data dan hasil uji coba.
h. Analisis data yang terkumpul dan simpulkan hasilnya.
Bila hasil uji coba buram modul dinyatakan layak, maka modul
tersebut siap untuk dicetak dan diperbanyak untuk diimplementasikan pada
pembelajaran yang sesungguhnya. Sebaliknya, bila hasil uji coba tersebut
dinyatakan belum layak, maka buram modul tersebut harus diperbaiki
seperlunya sesuai dengan masukan pada saat uji coba.

3. Implementasi
Implementasi modul dalam kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai
dengan alur yang telah digariskan dalam modul. Bahan, alat, media dan
lingkungan belajar yang dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran diupayakan
dapat dipenuhi agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Strategi pembelajaran
dilaksanakan secara konsisten sesuai dengan scenario yang ditetapkan.
Kerangka Modul

Tujuan Akhir Tujuan


Perumus
Antara
an
Tujuan

Sistem Evaluasi
Perumus
an
Evaluasi
RPP
Analisis
Materi

Tugas/praktik untuk
Perumus
penguatan kognitif &
an Tugas
psikomotor

Tes kogitif, tes


Penyusun
psikomotorik, tes sikap
an
Evaluasi
Kunci Jawaban

Penyusun
an Kunci

Buram Modul

4. Penilaian
Penilaian hasil belajar dimaksudkan untuk mengetahui tingkat
penguasaan peserta didik setelah mempelajari seluruh materi yang ada dalam
modul. Pelaksanaan penilaian mengikuti ketentuan yang telah dirumuskan di
dalam odul. Penilaian hasil belajar dilakukan menggunakan instrument yang
telah dirancang atau disiapkan pada saat penulisan modul.
5. Evaluasi dan Validasi
Modul yang telah dan masih digunakan dalam kegiatan pembelajaran,
secara periodik harus dilakukan evaluasi dan validasi. Evaluasi dimaksudkan
untuk mengetahui dan mengukur apaah implementasi pembelajaran dengan
modul dapat dilaksanakan sesuai dengan desain pengembangannya. Untuk
keperluan evaluasi dapat dikembangkan suatu instrument evaluasi yang
didasarkan pada karakteristik modul tersebut. Instrument ditujukan baik untuk
guru maupun peserta didik, karena keduanya terlibat langsung dalam proses
implementasi suatu modul. Dengan demikian hasil evaluasi dapat objektif.
Validasi merupakan proses untuk menguji kesesuaian isi modul
dengan kompetensi yang menjadi target belajar. Validasi dapat dilakukan
dengan cara meminta bantuan ahli isi untuk menilai apakah isi modul tersebut
masih sesuai dengan kompetensi yang menjadi target belajar. Kegiatan
validasi dapat dilakukan dengan meminta validator (ahli isi) membaca ulang
dengan cermat isi modul untuk memeriksa apakah tujuan belajar, uraian
materi, bentuk kegiatan, tugas, latihan atau kegiatan lainnya yang ada dalam
modul diyakini masih efektif untuk digunakan sebagai cara untuk menguasai
kompetensi yang menjadi target belajar. Bila isi modul masih dinyatakan valid
(sahih) maka modul tersebut masih dapat digunakan lagi. Tetapi bila hasil
validasi menunjukkan isi modul tidak valid lagi, maka ada dua kemungkinan
yang dilakukan, yaitu 1) merevisi atau memperbaiki isi modul sehingga
menjadi valid, atau 2) menghentikan penggunaan modul tersebut dan
mengembangkan modul yang baru sama sekali.