You are on page 1of 8

FIBROADENOMA MAMAE (FAM)

A. Anatomi Payudara
Payudara terdiri atas jaringan kelenjar, fibrosa dan lemak. Jaringan
ikat memisahkan payudara dari otot-otot dinding dada, otot pektoralis dan
otot seratus anterior. Sedikit di bawah pusat payudara dewasa terdapat
puting (papilla mamae) yang merupakan tonjolan berpigmen yang
dikelilingi oleh areola. Papilla mamae mempunyai perforasi pada
ujungnya dengan beberapa lubang kecil yaitu apertura duktus laktiferus.
Tuberkel-tuberkel Montgomery merupakan kelenjar sebasea pada
permukaan areola (Price dan Wilson, 2005).
Kelenjar payudara merupakan sekumpulan kelenjar kulit. Pada
bagian superlateral, jaringan kelenjar ini keluar dari bulatannya ke arah
aksila yang disebut dengan penonjolan Spence atau ekor payudara. Setiap
payudara terdiri atas 12 sampai 20 lobulus kelenjar yang masing-masing
mempunyai saluran ke papilla mamae yang disebut dengan duktus
laktiferus. Pada daerah antara kelenjar payudara dan fasia pektoralis
maupun antara kulit dan kelenjar payudara juga dapat ditemukan jaringan
lemak. Rangka payudara dibentuk oleh ligamentum cooper yang berupa
jaringan ikat dan terdapat di antara lobulus (Sjamsuhidajat dan de Jong,
2004).
Vaskularisasi payudara terutama berasal dari cabang arteri
perforantes anterior dari arteri mamaria interna, arteri torakalis lateralis
yang bercabang dari arteri aksilaris dan beberapa arteri interkostalis. Vena
dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu superfisialis dan profunda. Vena
superfisialis terletak di subkutis, mudah tampak dan bermuara ke vena
mammaria interna atau vena superfisialis leher. Vena profunda berjalan
seiring dengan arteri senama dan secara terpisah bermuara ke vena
aksilaris, vena mamaria interna dan vena azigos atau vena hemiazigos.
Persarafan kulit payudara berasal dari cabang pleksus servikalis dan
nervus interkostalis. Jaringan kelenjar payudara diatur oleh sistem saraf

1
simpatis. Saluran limfe kelenjar mamae teratama berjalan mengikuti vena
kelenjar mamae yang drainasenya melalui kelenjar limfe fosa aksilaris
(bagian lateral dan sentral), kelenjar limfe mamaria interna (bagian
medial) dan pleksus limfatik subareolar (saluran limfe subkutis kelanjar
mamae) (Desen, 2008; Sjamsuhidajat dan de Jong, 2004).

B. Fisiologi Payudara
Payudara akan mengalami tiga macam perubahan yang
dipengaruhi oleh hormon. Perubahan pertama dimulai dari masa
kehidupan anak melalui masa pubertas, masa fertilitas, sampai
klimakterium dan menopause. Apabila seseorang sudah mengalami masa
pubertas, hormon estrogen dan progesteron yang diproduksi oleh ovarium
dan hormon hipofisis telah menyebabkan duktus berkembang dan
timbulnya asinus. Perubahan kedua yaitu perubahan sesuai dengan siklus
menstruasi. Sekitar hari ke-8 menstruasi, payudara akan menjadi lebih
besar dan beberapa hari sebelum menstruasi berikutnya akan terjadi
pembesaran yang maksimal. Kadang-kadang juga dapat timbul benjolan
yang nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari menjelang menstruasi
payudara akan menjadi tegang dan nyeri dan setelah menstruasi akan
mulai mengecil. Perubahan ketiga terjadi pada saat kehamilan dan
menyusui. Pada saat hamil payudara akan membesar karena epitel duktus
lobul dan duktus alveolus mengalami proliferasi sehingga tumbuh duktus
yang baru. Pada saat menyusui terjadi sekresi hormon prolaktin yang
berasal dari hipofisis anterior yang memacu laktasi sehingga terbentuk air
susu oleh sel-sel alveolar yang akan mengisi asinus dan akhirnya
dikeluarkan melalui duktus ke papilla mamae (Sjamsuhidajat dan de Jong,
2004).

2
C. Definisi FAM
FAM merupakan tumor jinak pada payudara. Fibroma yaitu tumor
jinak yang berasal dari jaringan fibrosa, sedangkan adenoma yaitu tumor
epitel jinak yang menghasilkan pola kelenjar dan untuk tumor yang berasal
dari kelenjar tetapi tidak harus memperlihatkan pola kelenjar. FAM
merupakan tumor campuran yang sering ditemukan. Tumor jinak ini
mengandung campuran elemen duktus yang berproliferasi (adenoma) yang
terbenam di dalam jaringan ikat (fibroma). Secara makrokospis semua
tumor teraba padat dengan warna seragam cokelat-putih pada irisan,
dengan bercak-bercak kuning-merah muda yang mencerminkan daerah
kelenjar. Secara mikroskopis tampak stroma fibroblastik longgar yang
mengandung rongga mirip duktus berlapis epitel dengan ukuran dan
bentuk beragam (Kumar et al., 2007; Mansjoer, 2000; Sjamsuhidajat dan
de Jong, 2004).

D. Epidemiologi FAM
FAM merupakan tumor jinak pada payudara yang sering
ditemukan. FAM biasanya timbul pada wanita muda di bawah usia 40
tahun. Insidensi puncak yaitu pada usia 30-an tahun. Selama masa
reproduksi akan memebuat tumor aktif dan setelah menopause tumor ini
tidak lagi ditemukan karena akan mengecil dan mengalami kalsifikasi
kasar. FAM jarang ditemukan pada wanita post-menopause. Prevalensi
FAM pada wanita di atas usia 40 tahun sekitar 8-10% (Kumar et al., 2007;
Sjamsuhidajat dan de Jong, 2004).

E. Faktor Risiko FAM


Penyebab pasti FAM tidak diketahui, namun terdapat beberapa
faktor yang dihubungkan dengan penyakit ini. Hal ini berhbungan dengan
peningkatan aktifitas estrogen yang berperan dalam pembentukannya.
Selain itu diperkirakan terdapat prekursor embrional yang dormant di

3
kelenjar payudara yang memicu pembentukan FAM yang akan mengikuti
aktivitas ovarium (Kumar et al., 2007).

F. Patogenesis FAM
FAM merupakan tumor jinak yang menggambarkan suatu proses
hiperplasia dan proliferasi pada suatu duktus terminal, perkembangannya
dihubungkan dengan suatu proses aberasi perkembangan normal.
Penyebab proliferasi tidak diketahui secara pasti tetapi kemungkinan sel
stroma neoplastik mengeluarkan faktor pertumbuhan yang mempengaruhi
sel epitel. Peningkatan mutlak aktivitas estrogen berperan dalam
pembentukannya. Sekitar 10% FAM akan menghilang setiap tahunnya dan
kebanyakan perkembangan FAM berhenti setelah mencapai ukuran 2-3
cm. FAM dapat berkembang dengan cepat selama proses kehamilan, terapi
penggantian hormon, penggunaan KB hormonal dan pada orang-orang
yang mengalami penurunan kekebalan imunitas terkait dengan infeksi
virus Epstein-Barr (Kumar, 2007).

G. Penegakan Diagnosis FAM


Pada saat melakukan anamnesis ditanyakan keluhan pada payudara
dan ketiak maupun keluhan sistemik. Sebagian besar pasien tidak
menunjukkan gejala dan baru terdeteksi setelah dilakukan pemeriksaan
fisik. Pertumbuhan FAM relatif lambat dan hanya menunjukkan sedikit
perubahan ukuran maupun tekstur dalam beberapa bulan. Selain itu dalam
anamnesis juga harus ditanyakan terkait dengan riwayat reproduksi. Pada
saat pemeriksaan fisik, pasien dapat diminta duduk tegak, berbaring atau
keduanya. Pada saat inpeksi diperhatikan bentuk kedua payudara, warna
kulit, tonjolan, lekukan, retraksi, kulit berpori seperti kulit jeruk, luka
koreng maupun benjolan. Selanjutnya pemeriksaan puting payudara juga
harus dilakukan termasuk perubahan bentuk maupun munculya cairan.
Pada saat palpasi diraba bagian payudara dengan telapak jari tangan yang
digerakkan perlahan tanpa tekanan di setiap kuadran. Palpasi lebih baik

4
dilakukan dengan posisi pasien berbaring sehingga payudara akan
terbaring rata. Tetapi benjolan yang mungkin tidak teraba pada saat pasien
berbaring akan lebih mudah diraba pada saat pasien duduk. Perabaan pada
regio aksila juga lebih mudah dilakukan dengan posisi pasien duduk
(Gleadle, 2007; Leksana dan Mirzanie, 2005; Sjamsuhidajat dan de Jong,
2004).
FAM teraba sebagai benjolan bulat, berbatas tegas, permukaan
licin serta konsistensi kenyal padat. Tumor ini tidak melekat ke jaringan
sekitar dan mudah digerakan. Biasanya FAM tidak nyeri tetapi nyeri juga
dapat dirasakan apabila ditekan. FAM juga dapat tumbuh multipel.
Pertumbuhan FAM akan lebih cepat pada saat kehamilan dan laktasi atau
menjelang menopause dimana terjadi rangsangan estrogen yang tinggi.
FAM dapat ditemukan di seluruh bagian payudara (Mansjoer, 2000;
Sjamsuhidajat dan de Jong, 2004).
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan
darah, pemeriksaan radiologi dan pemeriksaan histopatologis.
Pemeriksaan darah digunakan untuk mengetahui apakah ada kelainan pada
hemoglobin, eritrosit, leukosit, trombosit yang berhubungan dengan
persiapan operasi. Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan yaitu USG
mamae maupun mammografi. USG mamae berguna terutama untuk
menentukan lokasi tumor dan membedakan lesi/tumor yang solid dan
kistik. FAM pada USG mamae terlihat rata, berbatas tegas, berbentuk
bulat atau oval atau berupa nodul dan lebarnya lebih besar daripada
diameter anteroposterior. Gambaran echogenci kapsul yang tipis
merupakan gamabaran khas FAM dan mengindikasikan lesi tersebut jinak.
FAM tidak mempunyai kapsul sehingga kapsul yang terlihat pada USG
hanya merupakan pseudocapsule akibat penekanan dari jaringan
sekitarnya. Mammografi diindikasikan untuk mengevaluasi benjolan yang
diragukan atau samar di payudara, mamae kontralateral jika pernah
mengalami kanker payudara, mencari karsinoma primer jika ada
metastasis sedangkan sumber tidak diketahui, penapisan kasinoma mamae

5
pada risiko tinggi dan penapisan sebelum tindak bedah plastik. Pada
pemeriksaan mamografi, FAM terlihat sebagi massa berbentuk bulat atau
oval dengan batas yang halus dan berukuran 4-100 mm. FAM mempunyai
densitas yang sama dengan jaringan kelenjar sekitarnya. Biasanya
pemeriksaan USG mamae dan mamografi tidak dilakukan dalam
penegakan diagnosis FAM apabila secara klinis sudah terlihat jelas.
Diagnosis pasti hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan
histopatologis (Kumar et al., 2007; Mansjoer, 2000; Sjamsuhidajat dan de
Jong, 2004)

H. Diagnosis Banding FAM


1. Fibrokistik Mamae
Tumor ini merupakan tumor jinak pada epitel. Pada penyakit ini
akan ditemukan benjolan pada payudara dan payudara terasa nyeri
terutama menjelang menstruasi karena hal ini berkaitan dengan kelebihan
estrogen dan defisiensi progesteron selama fase luteal siklus menstruasi.
Tumor ini tidak berbatas tegas, konsistensi padat kenyal atau kistik,
ukuran membesar dan biasanya bilateral/multipel. Beberapa bentuk
kelainan fibrokistik mengandung risiko untuk berkembang menjadi
carcinoma mamae tetapi umumnya tidak demikian (Mansjoer, 2000;
Sjamsuhidajat dan de Jong, 2004).
2. Tumor Filoides
Tumor ini merupakan tumor jinak yang mengalami infiltrasi dan
kemungkinan menjadi ganas sekitar 10-15%. Tumor ini lebih jarang
ditemukan dan diperkirakan berasal dari stroma intralobulus. Pertumbuhan
tumor ini sangat cepat dan dapat ditemukan dalam ukuran yang besar.
Tumor berbentuk lonjong, berbatas tegas, mobile dan ukuran dapat
mencapai 20-30 cm. Sebenarnya tumor ini dapat terjadi di semua usia
tetapi sebagian besar ditemukan pada usia 35-55 tahun (Mansjoer, 2000;
Sjamsuhidajat dan de Jong, 2004).

6
3. Carcinoma Mamae
Ini merupakan bentuk ganas dari tumor payudara. Pada carcinoma
mamae terdapat benjolan pada payudara. Selain itu juga dapat muncul
kelainan kulit seperti kemerahan, peau d’orange, retraksi papilla mamae,
ulkus serta pembesaran kelenjar getah bening atau tanda metastasis jauh
misalnya ke otak, hepar, lien, tulang belakang maupun paru (Mansjoer,
2000).

I. Penatalaksanaan FAM
Penanganan FAM yaitu melalui pembedahan pengangkatan tumor
di bawah anestesi umum. FAM harus diekstirpasi karena tumor jinak ini
akan terus membesar. Eksisi pada FAM disebut juga dengan lumpektomy.
Operasi harus dilakukan sedini mungkin untuk memelihara fungsi
payudara dan menghindari bekas luka. Setelah dilakukan pembedahan
pasien dapat diberikan pengobatan berupa antibiotik dan analgetik serta
dilakukan perawatan luka sampai jahitan menyatu. Selain itu pasien juga
harus diberikan edukasi untuk melakukan SADARI (Periksa Payudara
Sendiri) dan jika terdapat benjolan harus segera berobat ke rumah sakit
(Price dan Wilson, 2005; Sukardja, 2000; Sjamsuhidajat dan de Jong,
2004).

J. Prognosis FAM
FAM hampir tidak pernah menjadi ganas. Prognosis dari penyakit
ini baik, walaupun pasien mempunyai risiko untuk menderita kanker
payudara. Bagian yang tidak diangkat harus diperiksa secara rutin (Kumar
et al., 2007).

7
Daftar Pustaka

Desen, W., 2008. Buku Ajar Onkologi Klinis (Edisi 2). Balai Penerbit FK UI,
Jakarta, 366-369.
Gleadle, J., 2008. At a Glance Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Erlangga
Medical Series, Jakarta, 34.
Kumar, V. et al., 2007. Buku Ajar Patologi Volume 1 (Edisi 7). EGC, Jakarta,
186-187.
Kumar, V. et al., 2007. Buku Ajar Patologi Volume 2 (Edisi 7). EGC, Jakarta,
793-801.
Leksana, Mirzanie, H., 2005. Chirurgica.Tosca Enterprise.
Mansjoer, A. dkk., 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 (Edisi Ketiga). Media
Aesculapius FK UI, Jakarta, 283-287.
Price, S.A., Wilson, L.M., 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Volume 2 (Edisi 6). EGC, Jakarta, 1301-1303.
Sjamsuhidajat, R., de Jong,W., 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah (Edisi 2). EGC,
Jakarta, 388-402.
Sukardja, I.D.G., 2000, Onkologi Klinik (Edisi 2). Airlangga University Press,
Surabaya, 222.