You are on page 1of 7

Keterbatasan gerak merupakan penyebab utama gangguan aktifitas hidup keseharian (activity of daily

living – ADL) dan IADL (ADL Instrumen) (Guraalnik, dkk dalam Tamher, 2009).

B. ssj\

I. Langkah-Langkah Mempertahankan Activity Of Daily Living (ADL) Pada Lansia

1. Latihan kepala dan leher

a. Lihat keatap kemudian menunduk sampai dagu ke dada


b. Putar kepala dengan melihat bahu sebelah kanan lalu sebelah kiri

c. Miringkan kepala ke bahu sebelah kanan lalu kesebelah kiri.

2. Latihan bahu dan lengan

a. Angkat kedua bahu ke atas mendekati telinga kemudian turunkan kembali perlahan-lahan

b. Tepukan kedua telapak tangan dan renggangkan lengan kedepan lurus dengan bahu. Pertahankan
bahu tetap lurus dan kedua tangan bertepuk kemudian angkat lengan keatas kepala.

c. Satu tangan menyentuh bagian belakang dari leher kemudian raihlah punggung sejauh mungkin
yang dapat dicapai. Bergantian tangan kanandan kiri.

d. Letakan tangan di punggung kemudian coba meraih keatas sedapatnya.

3. Latihan tangan

a. Letakan telapak tangan diatas meja. Lebarkan jari-jarinya dan tekan ke meja

b. Baliklah telapak tangan. Tariklah ibu jari melintasi permukaan telapak tangan untuk menyentuh jari
kelingking. Kemudian tarik kembali. Lanjutkan dengan menyentuh tiap-tiap jari dengan ibu jari dan
kemudian setelah menyentuh tiap jari.

c. Kepalkan tangan sekuatnya kemudian renggangkan jari-jari selurus mungkin.

4. Latihan punggung

a. Dengan tangan disamping bengkokan badan kesatu sisi kemudian kesisi yang lain.

b. Letakan tangan dipinggang dan tekan kedua kaki, putar tubuh dengan melihat bahu kekiri dan
kekanan..

c. Tepukan kedua tangan dibelakang dan regangkan kedua bahu ke belakang.

5. Latihan paha

a. Latihan ini dapat dilakukan dengan berdiri tegak dan memegang sandaran kursi atau dengan posisi
tiduran.

b. Lipat satu lutut sampai pada dada dimana kaki yang lain tetap lurus, dan tahan beberapa waktu.

c. Duduklah dengan kedua kaki lurus kedepan. Tekankan kedua lutut pada tempat tidur hingga bagian
belakang lutut menyentuh tempat tidur.

d. Pertahankan kaki lurus tanpa membengkokan lutut, kemudian tarik telapak kaki kearah kita dan
regangkan kembali.

e. Tekuk dan regangkan jari-jari kaki tanpa menggerakan lutut.


f. Pertahankan lutut tetap lurus, putar telapak kaki kedalam sehingga permukaannya saling bertemu
kemudian kembali lagi.

g. Berdiri dengan kaki lurus dan berpegangan pada bagian belakang kursi. Angkat tumit tinggi-tinggi
kemudian putarkan.

6. Latihan pernafasan

a. Duduklah di kursi dengan punggung bersandar dan bahu relaks. Letakkan kedua telapak tangan
pada tulang rusuk. Tarik nafas dalam-dalam maka terasa dada mengambang. Sekarang keluarkan nafas
perlahan-lahan sedapatnya. Terasa tangan akan menutup kembali.

7. Latihan muka

a. Kerutkan muka sedapatnya kemudian tarik alis keatas

b. Tutup mata kuat-kuat, kemudian buka lebar-lebar

c. Kembangkan pipi keluar sebisanya. Kemudian isap kedalam

d. Tarik bibir kebelakang sedapatnya, kemudian ciutkan dan bersiul

II. Jenis Olah Raga / Latihan

Beberapa contoh olah raga yang dapat dilakukan oleh usia lanjut dalam Mempertahankan Activity Of
Daily Living (ADL) Pada Lansia, antara lain :

a. Pekerjaan Rumah dan Berkebun

Kegiatan ini dapat memberikan suatu latihan yang dibutuhkan untuk menjaga kesegaran jasmani, tetapi
harus dilakukan secara tepat, agar nafas sedikit lebih cepat, denyut jantung lebih cepat dan otot menjadi
lelah. Akan tetapi perlu selalu dikontrol terhadap peningkatan denyut nadi jangan sampai melebihi batas
maksimal.

b. Jalan Kaki

Berjalan baik untuk meregangkan otot – otot kaki dan bila jalannya makin lama makin cepat, akan
bermanfaat bagi daya tahan tubuh. Bila anda memilih jenis ini sebaiknya dilakukan pada pagi hari antara
pukul 5 – 6, dikala udara masih bersih dan segar. Lokasi terbaik adalah daerah perkebunan atau
pegunungan yang jauh dari asap kendaraan bermotor, pabrik yang menyebabkan polusi udara.

c. Berenang

Berenang akan melatih pergerakan seluruh tubuh. Latihan ini lebih baik lagi untuk orang – orang yang
mengalami kelemahan otot atau kaku sendi, asalkan dilakukan secara teratur.
d. Lompat Tali

Melompat tali mempunyai beberapa keistimewaan (menggerakkan tali secara berirama menggerakkan
tubuh bagian atas lebih banyak daripada lari perlahan

III. Teknik dan Cara berlatih

Teknik dan cara berlatih yang dilakukan untuk Mempertahankan Activity Of Daily Living (ADL) Pada
Lansia terbagi dalam tiga segmen seperti yang dijelaskan di bawah ini:

1. Pemanasan (warming up)

Gerakan umum (yang melibatkan sebanyak-banyaknya otot dan sendi) dilakukan secara lambat dan hati-
hati. Pemanasan dilakukan bersama dengan peregangan (stretching). Lamanya kira-kira 8-10 menit.

Pada 5 menit terakhir pemanasan dilakukan lebih cepat. Pemanasan dimaksud untuk mengurangi cedera
dan mempersiapkan sel-sel tubuh agar dapat turut serta dalam proses metabolisme yang meningkat.

2. Latihan inti

Latihan inti bergantung pada komponen/faktor yang dilatih. Gerakan senam dilakukan berurutan dan
dapat diiringi oleh musik yang disSesuaikan dengan gerakannya. Untuk lansia biasanya dilatih:

a. Daya tahan (endurance);

b. Kardiopulmonal dengan latihan-latihan yang bersifat aerobik;

c. Fleksibilitas dengan peregangan;

d. Kekuatan otot dengan latihan beban;

e. Komposisi tubuh dapat diatur dengan pengaturan pola makan latihan aerobik kombinasi dengan
latihan beban kekuatan.

3. Pendinginan (cooling down)

Dilakukan secara aktif. Artinya, sehabis latihan inti perlu dilakukan gerakan umum yang ringan sampai
suhu tubuh kembali normal yang ditandai dengan pulihnya denyut nadi dan terhentinya keringat.
Pendinginan dilakukan seperti pada pemanasan,yaitu selama 8-10 menit.

IV. Olahraga/Latihan Fisik yang Membahayakan bagi Lansia


Olahraga bertujuan untuk meningkatkan kesehatan tubuh, namun tidak semua olahraga baik dilakukan
oleh lansia. Ada beberapa macam gerakan yang dianggap membahayakan saat berolahraga. Gerakan-
gerakan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sit-up dengan kaki lurus

Cara-cara sit-up yang dilakukan dengan kaki lurus dan lutut dipegang dapat menyebabkan masalah
padapunggung. Oleh karena sit-up cara klasik ini menyebabkan otot liopsoas/fleksor pada punggung
(otot yang melekat pada kolumna vertebralis dan femur) menanggung semua beban. Otot ini merupakan
otot terkuat di daerah perut. Jika fleksor punggung ini digunakan, maka pinggul terangkat ke depan dan
otot-otot kecil pada punggung akan berkontraksi, sehingga punggung kita akan melengkung. Jadi, latihan
seperti ini akan menyebabkan pemendekan otot punggung bagian bawah dan paha. Akhirnya
menyebabkan pinggul terangkat ke atas secara permanen dan lengkung lordosis menjadi lebih banyak,
sehingga menimbulkan masalah pada pinggang.

Tetapi bila kita membengkokkan lutut pada waktu latihan sit-up, otot-otot fleksor panggul tidak
bergerak. Dengan cara demikian, semua badan bertumpu pada otot perut dan kecil kemungkinan
terjadinya trauma pada pinggang bagian bawah.

2. Meraih ibu jari kaki

Kadang-kadang untuk mengecilkan atau menguatkan perut diadakan latihan meraih ibu jari kaki.
Latihan-latihan ini selain tidak dapat mencaai ujuan, yaitu mengecilkan perut, juga kurang baik karena
dapat menyebabkan cedera. Sebetulnya latihan-latihan meraih ibu jari kaki adalah latihan untuk
menguatkan otot-otot punggung bagian bawah.

Gerakan ini akan menyebabkan lutut menjadi hiperekstensi. Sebagai konsekuensinya, tekanan yang
cukup berat akan menimpa vertebra lumbalis yang akhirnya menyebabkan keluhan-keluhan pada
punggung bagian bawah. Kadang-kadang hal ini dapat menyebabkan gangguan pada diskus invertebralis.

3. Mengangkat kaki

Mengangkat kaki pada posisi tidur terlentang sampai kaki terangkat ± 15 cm dari lantai, kemudian
ditahan beberapa saat selama mungkin. Latihan ini tidak baik, karena dapat menyebabkan rasa sakit
pada punggung bagian bawah (low back pain) dan menyebabkan terjadinya lordosis yang dapat
menyebabkan gangguan pada punggung.

Bahaya yang ditimbulkan ialah otot-otot perut tidak cukup kuat untuk menahan kaki setinggi 15 cm
dari lantai dalam waktu yang cukup lama dan kaki tidak dapat menahan punggung bagian bawah.
Akibatnya terjadi rotasi pelvis ke depan. Rotasi ini menyebabkan gangguan dari punggung bagian bawah.

4. Melengkungkan punggung
Gerakan hiperekstensi ini banyak dilakukan dengan tujuan meregangkan otot perut agar otot perut
menjadi lebih kuat. Hal ini kurang benar, karena dengan melengkungkan punggung tidak akan
menguatkan otot perut, melainkan melemahkan persendian tulang punggung.

V. Hal-hal yang Perlu Mendapat Perhatian dalam Menjalin Hubungan dengan Lansia

Hal-halyang Perlu Mendapat Perhatian dalam Menjalin Hubungan dengan Lansia adalah sebagai berikut:

1. Lingkungan (fisik dan psikologis)

a. Siapkan area yang adekuat.contoh: klien di kursi roda

b. Suasana tenang dan tidak ribut/bising. Contoh: suara TV, radio

c. Nyaman dan tidak panas

d. Gunakan cahaya yang agak redup,hindari cahaya langsung

e. Tempatkan pada posisi yang nyaman bila berganti posisi atau tanyakan apakah ingin di tempat tidur

f. Sediakan waktu yang cukup dan air minum

g. Privasi harus dijaga

h. Perhitungkan tingkat energi dan kemampuan klien

i. Sabar, rileks, dan tidak terburu-buru. Beri klien waktu untuk menjawab pertanyaan

j. Perhatikan tanda-tanda kelelahan (mengeluh, respons menjadi lambat, mengerut, dan


tersinggung)

k. Rencanakan apa yang akan dikaji

l. Melakukan pengkajian pada saat energi klien meningkat. Contoh: sehabis makan

2. Interviewer (sikap perawat: perasaan, nilai, dan kepercayaan)

a. Mengetahui mitos-mitos seputar lansia

b. Menjelaskan tujuan wawancara

c. Menggunakan berbagai teknik untuk mengimbangi kebutuhan pengumpulan data dengan


kepentingan klien

d. Mencatat data harus seizin klien


e. Pada awal interaksi perawat harus merencanakan bersama klien cara yang paling efektif dan
nyaman

f. Menggunakan sentuhan

g. Sesuaikan situasi dan kondisi wawancara

h. Bicara tidak terlalu keras

3. Klien

a. Beberapa kultur yang memengaruhi kemampuan klien untuk berpartisipasi sangat berarti dalam
wawancara.

b. Faktor-faktor yang memengaruhi proses penuaan adalah hereditas, nutrisi, status kesehatan,
pengalaman hidup, lingkungan dan stres.

c. Perawat harus menyadari faktor-faktor ini karena kemampuan lansia untuk mengkomunikasikan
semua informasi penting sangat ditentukan oleh kelengkapan dan kesesuaian wawancara.