You are on page 1of 19

Anemia Defisiensi Besi pada Ibu Hamil

Kelompok D2:

Ninanda Widakdo 102012469

Mutiara Sri Widyastuti 102013043

Teofanus Delphine Halim 102013082

Novi Tejaya 102013282

Kezia Joselyn 102013310

Welly Surya 102013368

Tri Angela Anggrayani 102013446

Jonathan Albert Soempiet 102013446

Nur Farhana Amani Binti Che Wan Ahmad 102013536

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Alamat korespondensi Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510


Pendahuluan

Anemia merupakan masalah medik yang paling sering dijumpai di klinik di seluruh
dunia, disamping sebagai masalah kesehatan utama masyarakat, terutama di negara berkembang.
Salah satu bentuk anemia yang sering dijumpai yang sangat berkaitan dengan taraf ekonomi
adalah anemia defisiensi besi. Anemia defisiensi besi merupakan masalah defisiensi nutrien
tersering pada anak di seluruh dunia terutama di negara yang sedang berkembang termasuk
Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh penderita. Fungsi zat
besi itu sendiri yang paling penting adalah dalam perkembangan sistem saraf. Kekurangan zat
besi sangat mempengaruhi fungi kognitif, tingkah laku dan pertumbuhan seorang bayi atau anak.
Besi juga merupakan sumber energi bagi otot sehingga mempengaruhi ketahanan fisik dan
kemampuan bekerja pada remaja dan dewasa. Jika kekuranag zat besi terjadi pada masa
kehamilan maka akan meningkatkan resiko perinatal serta mortalitas bayi.

Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya penyediaan besi
untuk eritropoesis, karena cadangan besi kosong yang pada akhirnya mengakibatkan
pembentukan hemoglobin berkurang. Anemia defisiensi besi ditandai oleh anemia hipokromik
mikrositer dan hasil laboratorium yang menunjukkan cadangan besi yang kosong. Berbeda
dengan anemia akibat penyakit kronik penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang oleh karena
pelepasan besi dari sistem retikoendotelial berkurang, sedangkan cadangan besi masih normal.1

Penyakit ini banyak ditemukan di seluruh dunia. Tidak hanya di negeri yang sedang
berkembang saja, tetapi juga di negeri yang sudah maju, terutama mengenai anak yang sedang
dalam pertumbuhan dan wanita hamil yang keperluan besinya lebih besar daripada orang dewasa
normal.
Pembahasan

Anamnesis

Anamnesis merupakan salah satu cara untuk mendiagnosis suatu penyakit. Secara
umum anamnesis adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan
cara melakukan serangkaian wawancara yang dapat langsung dilakukan terhadap pasien
(auto-anamnesis) atau terhadap keluarganya atau pengantarnya (alo-anamnesis).Pada
anamnesis perlu ditanyakan beberapa hal seperti:

 Identitas

Menanyakan identitas penting pada pasien seperti nama, umur atau usia, jenis
kelamin, alamat dan pekerjaan.

 Keluhan utama
Menanyakan apa keluhan atau gejala yang menyebabkan pasien datang berobat
dan lamanya.

 Riwayat penyakit sekarang (RPS)

a. Cerita kronologis yang terperinci dan jelas tentang keadaan pasien sebelum
ada keluhan sampai dibawa berobat

b. Pengobatan sebelumnya dan hasilnya

c. Perkembangan penyakit
 Riwayat Penyakit Dahulu (RPD)

Untuk mengetahui apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama


sebelumnya serta riwayat penyakit lain yang pernah diderita pasien.

 Riwayat Keluarga

Untuk mengetahui bagaimana status kesehatan keluarga serta mencari tahu


apakah terdapat anggota keluarga yang memiliki penyakit yang sama.
 Riwayat Psychosocial (sosial)

Mengetahui bagaimana lingkungan kerja, sekolah atau tempat tinggal, pemaparan


bahan kimia, pemakaian obat, serta faktor resiko gaya hidup seperti minum
alkohol, merokok, dan narkoba.

 Riwayat gizi

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematik dan menyeluruh. Perhatian


khusus diberikan pada:2

 Warna kulit: pucat, sianosis, ikterus, kulit telapak tangan kuning seperti jerami.
 Mata: konjungtiva pucat
 Kuku pucat
 Hepatomegali
 Splenomegali

Pemeriksaan pada Ibu Hamil

Pemeriksaaan Usia Kehamilan

Pemeriksaan usia kehamilan dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya adalah
dengan hari pertama haid terakhir(HPHT), tinggi fundus, ukuran bayi. HPHT dapat digunakan
mengunakan perhitungan secara manual dengan penjumlahan hari dijadikan minggu, 1 bulan
adalah 4 minggu dan dinyatakan dalam minggu dan hari hasilnya. Tinggi fundus daapt dijadikan
sebagai penuntun usia kehamilan, pada usia kehamilan 1- 30 minggu maka tinggi fundus sama
dengan lama kehamilan misalnya pada usia kehamilan 1 minggu maka tinggi fundus adalah 1 cm
dari symphisis pubis. Pada kehamilan 3 jari dibawah arcus costae maka tinggi fundus adalah 36
minggu, ½ symphisis pubus ke arcus costae adalah 32 minggu, pada minggu 38 adalah puncak
dari fundus, setelah itu tinggi funfus akan turun dikarenakan bayi dan uterus sudah turun ke pintu
atas panggul. Ukuran bayi dapat menentukan waktu kelahiran bayi, normalnya berat bayi adalah
2500 kg saat kelahiran, berat dibawah 1500 kg merupakan kekurangan gizi berat. Ukuran bayi
dapat dilakukan pada saat trisemester 1 sedangkan jika dilakukan pada trisemester 2 dan 3 akan
menyebabkan terjadinya eror yang lebih tinggi karena pada trisemester 2 dan 3 berat bayi sangat
dipengaruhi oleh gizi ibu.

Usia kehamilan saat ini adalah 30 Mei 2016 dari 23 Agustus 2015 yaitu 37 minggu.

Peningkatan Berat Badan Ibu

Pada kehamilan peningkatan berat badan ibu pada 10 minggu pertama adalah 0,65 kg 20
minggu pertama 4,5 kg 30 minggu pertama 8 kg minggu 40 12,5 kg. pada kasus ini berat badan
ibu sebelumnya adalah 35 kg dan sekarang menjadi 40 kg dengan usia kehamilan yang 38
minggu maka ibu ini jelas mempunyai berat bayi yang kurang.

Pada ibu yang mengalami kekurangan gizi biasa terjadi pada social ekonomi yang
rendah.Pada ibu hamil ada beberapa mineral yang dibutuhkan ileh tubuh diantaranya adalah Ca,
Fe, dan Zn serta beberapa kebutuhan untuk pembentukan darah yaitu B12 dan asam folat.Jika ibu
mengalami kekurangan Cam aka ini dapat memicu terjadinya hipertensi pada ibu dan juga
kontraksi pada uterus lemah.Jika kekurangan Zn maka pertumbuhan janin dapat terhambat. Jika
kekurangan Fe, asam folat, dan B12 maka ibu akan mengalami anemia. Defisiensi Fe
menyebabkan anemia mikrositik hipokrom, anemia B12 dan asam folat menyebabkan anemia
makrositik hiperkrom. Pada anemia def asam folat dapat menyebabkan ganguan pembentukan
neural tube sehingga bayi dapat terkena spina bifida, jika mengalami defisiensi vit B12 maka
gejala neurologis dapat muncul seperti kesemutan,dll. Jika ibu mengalami defisiensi asam folat
atau B12 dan Fe bersamaan maka kemungkinan dapat terjadi anemia dismorfik yang artinya
berbentuk seperti normal pada awalnya yaitu normositik normokrom.

Perkiraan Waktu Melahirkan

Waktu untuk kelahiran bayi normal adalah antara 37-42 minggu.Untuk memprediksi
tanggal kelahiran bayi kita dapat mengunakan rumus Naegel dengan syarat siklus menstruasi
dalam 28 hari dan menstruasi teratur.Rumusnya adalah hari ditambah 7 bulan dikurangi 3 dan
tahun ditambah 1. Pemeriksaan Leopold 3 dan 4 dapat digunakan untuk menentukan apakah bayi
sudah akan lahir.
23 Agustus 2015

+7 -3 +1

30 Mei 2016

Pemeriksaan Leopold

Pemeriksaan palpasi Leopold adalah suatu teknik pemeriksaan pada ibu hamil dengan
cara perabaan yaitu merasakan bagian yang terdapat pada perut ibu hamil menggunakan tangan
pemeriksa dalam posisi tertentu, atau memindahkan bagian-bagian tersebut dengan cara-cara
tertentu menggunakan tingkat tekanan tertentu. Teori ini dikembangkan oleh Christian Gerhard
Leopold.Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan setelah UK 24 minggu, ketika semua bagian janin
sudah dapat diraba. Teknik pemeriksaan ini utamanya bertujun untuk menentukan posisi dan
letak janin pada uterus, dapat juga berguna untuk memastikan usia kehamilan ibu dan
memperkirakan berat janin.

Pemeriksaan palpasi Leopold sulit untuk dilakukan pada ibu hamil yang gemuk (dinding
perut tebal) dan yang mengalami polihidramnion.Pemeriksaan ini juga kadang-kadang dapat
menjadi tidak nyaman bagi ibu hamil jika tidak dipastikan dalam keadaan santai dan diposisikan
secara memadai. Untuk membantu dalam memudahkan pemeriksaan, maka persiapan yang perlu
dilakukan sebelum melakukan pemeriksaan adalah:

1. Instruksikan ibu hamil untuk mengosongkan kandung kemihnya

2. Menempatkan ibu hamil dalam posisi berbaring telentang, tempatkan bantal kecil di bawah
kepala untuk kenyamanan

3. Menjaga privasi

4. Menjelaskan prosedur pemeriksaan

5. Menghangatkan tangan dengan menggosok bersama-sama (tangan dingin dapat merangsang


kontraksi rahim)

6. Gunakan telapak tangan untuk palpasi bukan jari.

Leopold 1

Tujuan: untuk menentukan usia kehamilan dan juga untuk mengetahui bagian janin apa yang
terdapat di fundus uteri (bagian atas perut ibu).

Teknik:
 Memposisikan ibu dengan lutut fleksi (kaki ditekuk 450 atau lutut bagian dalam diganjal
bantal) dan pemeriksa menghadap ke arah ibu

 Menengahkan uterus dengan menggunakan kedua tangan dari arah samping umbilical

 Kedua tangan meraba fundus kemudian menentukan TFU

 Meraba bagian Fundus dengan menggunakan ujung kedua tangan, tentukan bagian janin.

Hasil:

 Apabila kepala janin teraba di bagian fundus, yang akan teraba adalah keras,bundar dan
melenting (seperti mudah digerakkan)

 Apabila bokong janin teraba di bagian fundus, yang akan terasa adalah lunak, kurang bundar,
dan kurang melenting

 Apabila posisi janin melintang pada rahim, maka pada Fundus teraba kosong.

Leopold 2

Tujuan: untuk menentukan bagian janin yang berada pada kedua sisi uterus, pada letak lintang
tentukan di mana kepala janin.

Teknik:

 Posisi ibu masih dengan lutut fleksi (kaki ditekuk) dan pemeriksa menghadap ibu

 Meletakkan telapak tangan kiri pada dinding perut lateral kanan dan telapak tangan kanan
pada dinding perut lateral kiri ibu secara sejajar dan pada ketinggian yang sama

 Mulai dari bagian atas tekan secara bergantian atau bersamaan (simultan) telapak tangan
tangan kiri dan kanan kemudian geser ke arah bawah dan rasakan adanya bagian yang rata
dan memanjang (punggung) atau bagian-bagian kecil (ekstremitas).

Hasil:

 Bagian punggung: akan teraba jelas, rata, cembung, kaku/tidak dapat digerakkan

 Bagian-bagian kecil (tangan dan kaki): akan teraba kecil, bentuk/posisi tidak jelas dan
menonjol, kemungkinan teraba gerakan kaki janin secara aktif maupun pasif.

Leopold 3
Tujuan: untuk menentukan bagian janin apa (kepala atau bokong) yang terdapat di bagian bawah
perut ibu, serta apakah bagian janin tersebut sudah memasuki pintu atas panggul (PAP)

Teknik:

 Posisi ibu masih dengan lutut fleksi (kaki ditekuk) dan pemeriksa menghadap ibu

 Meletakkan ujung telapak tangan kiri pada dinding lateral kiri bawah, telapak tangan kanan
bawah perut ibu

 Menekan secara lembut dan bersamaan/bergantian untuk mentukan bagian terbawah bayi

 Gunakan tangan kanan dengan ibu jari dan keempat jari lainnya kemudian goyang bagian
terbawah janin.

Hasil:

 Bagian keras,bulat dan hampir homogen adalah kepala sedangkan tonjolan yang lunak dan
kurang simetris adalah bokong

 Apabila bagian terbawah janin sudah memasuki PAP, maka saat bagian bawah digoyang,
sudah tidak bias (seperti ada tahanan).

Leopold 4

Tujuan: untuk mengkonfirmasi ulang bagian janin apa yang terdapat di bagian bawah perut ibu,
serta untuk mengetahui seberapa jauh bagian bawah janin telah memasuki pintu atas panggul.

Teknik:

 Pemeriksa menghadap ke arah kaki ibu, dengan posisi kaki ibu lurus

 Meletakkan ujung telapak tangan kiri dan kanan pada lateral kiri dan kanan uterus bawah,
ujung-ujung jari tangan kiri dan kanan berada pada tepi atas simfisis

 Menemukan kedua ibu jari kiri dan kanan kemudian rapatkan semua jari-jari tangan yang
meraba dinding bawah uterus.

 Perhatikan sudut yang terbentuk oleh jari-jari: bertemu (konvergen) atau tidak bertemu
(divergen)
 Setelah itu memindahkan ibu jari dan telunjuk tangan kiri pada bagian terbawah bayi (bila
presentasi kepala upayakan memegang bagian kepala di dekat leher dan bila presentasi
bokong upayakan untuk memegang pinggang bayi)

 Memfiksasi bagian tersebut ke arah pintu atas panggul kemudian meletakkan jari-jari tangan
kanan diantara tangan kiri dan simfisis untuk menilai seberapa jauh bagian terbawah telah
memasuki pintu atas panggul.

Hasil:

 Apabila kedua jari-jari tangan pemeriksa bertemu (konvergen) berarti bagian terendah janin
belum memasuki pintu atas panggul, sedangkan apabila kedua tangan pemeriksa membentuk
jarak atau tidak bertemu (divergen) mka bagian terendah janin sudah memasuki Pintu Atas
Panggul (PAP)

 Penurunan kepala dinilai dengan: 5/5 (seluruh bagian jari masih meraba kepala, kepala
belum masuk PAP), 1/5 (teraba kepala 1 jari dari lima jari, bagian kepala yang sudah masuk
4 bagian), dan seterusnya sampai 0/5 (seluruh kepala sudah masuk PAP)

Pemeriksaan Penunjang

Kelainan laboratorium pada kasus anemia defisiensi besi yang dapat dijumpai seperti:1,2

 Kadar hemoglobin dan indeks eritrosit


Didapatkan anemia hipokromik mikrositer dengan penurunan kadar hemoglobin mulai
dari ringan sampai berat. MCV, MCHC, dan MCH menurun. MCV kurang dari 70 fl
hanya didapatkan pada anemia defisiensi besi dan thalasemia mayor. MCHC menurun
pada defisiensi yang lebih berat dan berlangsung lama. Nilai normal MCV sekitar 82
sampai 92 fl, MCH sekitar 27 sampai 31 pg, dan MCHC sekitar 32 sampai 37%. RDW
(red cell distribution width) meningkat yang menandakan adanya anisositosis. Indeks
eritrosit sudah dapat mengalami perubahan sebelum kadar hemoglobin menurun. Kadar
hemoglobin sering turun sangat rendah, tanpa menimbulkan gejala anemia yang
mencolok karena anemia timbul perlahan-lahan.
Pada apusan darah menunjukkan anemia hipokromik mikrositer, anisositosis,
poikilositosis, anulosit, sel pensil, kadang-kadang sel target. Derajat hipokromia dan
mikrositosis berbanding lurus dengan derajat anemia, berbeda dengan thalasemia.
Leukosit dan trombosit normal. Retikulosit rendah dibandingkan dengan derajat anemia.
Pada anemia defisiensi besi karena cacing tambang dijumpai eosinofilia sedangkan pada
perdarahan dapat dijumpai trombositosis.1,2

 Kadar besi serum dan TIBC


Kadar besi serum menurun kurang dari 50 mg/dl, Total Iron Binding Capacity (TIBC)
meningkat di atas 350 mg/dl, dan saturasi transferin kurang dari 15 %.
 Kadar feritin serum
Feritin serum merupakan indikator cadangan besi yang sangat baik, kecuali pada
keadaan inflamasi dan keganasan tertentu. Pada anemia defisiensi besi kadar serum
feritin dibawah 20 g/dl (ada yang memakai kurang 15 g/dl, ada juga kurang 12g/dl).
Jika terdapat inflamasi maka feritin serum sampai dengan 60 g/dl masih dapat
menunjukkan adanya defisiensi besi. Angka feritin serum yang normal tidak selalu
dapat menyingkirkan adanya defisiensi besi, tetapi feritin serum di atas 100 mg/dl dapat
memastikan tidak adanya defisiensi besi.1,2,3
Diagnosis kerja

Diagnosis ditegakkan berdasarkan penyebab defisiensi besi, gambaran eritrosit mikrositik


hipokromik, SI rendah dan TIBC meningkat, tidak terdapat besi dalam sumsum tulang dan reaksi
yang baik terhadap pengobatan dengan besi.Untuk menegakkan diagnosis harus dilakukan
anamnesis dan pemeriksaan fisis yang teliti disertai pemeriksaan laboratorium yang
tepat.Terdapat tiga tahap diagnosis ADB.Tahap pertama adalah menentukan adanya anemia dengan
mengukur kadar hemoglobin atau hematokrit. Cut off point anemia tergantung kriteria yang dipilih,
apakah kriteria WHO atau kriteria klinik. Tahap kedua adalah memastikan adanya defisiensi besi,
sedangkan tahap ketiga adalah menentukan penyebab dari defisiensi besi yang terjadi.
Secara laboratoris untuk menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi (tahap satu dan tahap dua)
dapat dipakai kriteria diagnosis anemia defisiensi besi (modifikasi dari kriteria Kerlin) sebagai
berikut:

Anemia hipokromik mikrositer pada hapusan darah tepi, atau MCV <80 dan MCHC <31%
dengan salah satu dan a, b, c, atau d.
 Dua dari tiga parameter di bawah ini:
- Besi serum <50 mg/dl
- TIBC>350 mg/dI
- Saturasi transferin: <15%, atau
 Ferritin serum <20 mg/l, atau
 Pewarnaan sumsum tulang dengan biru prusia (Perl's stain) menunjukkan cadangan
besi (butir-butir hemosiderin) negatif, atau
 Dengan pemberian sulfas ferosus 3 x 200 mg/hari (atau preparat besi lain yangsetara)selama 4
minggu disertai kenaikan kadar hemoglobin lebih dari 2 g/dl.

Pada tahap ketiga ditemukan penyakit dasar yang menjadi penyebab defisiensi besi. Tahap ini
sering merupakan proses yang rumit yang memerlukan berbagai jenis pemeriksaan tetapi
merupakan tahap yang sangat penting untuk mencegah kekambuhan defisiensi besi serta
kemungkinan untuk dapat menemukan sumber perdarahan yang membahayakan. Meskipun
dengan pemeriksaan yang baik, sekitar 20% kasus ADB tidak diketahui penyebabnya.4

WD : G 1 P0 A0 Grafit 38 minggu, janin tunggal intrauterine, presensi kepala dibawah,


punggung kiri, belum impartue dengan anemia defisiensi fe disertai pertumbuhan janin
terhambat.

DIAGNOSIS BANDING
1) Thalassemia
2) Anemia akibat penyakit kronik

Tabel 1 Diagnosis Banding berdasarkan Pemeriksaan Laboratorium5

Defisiensi Besi Radang kronik atau Thalasemia (α atau


keganasan β)
MCV Menurun Menurun sedikit Menurun, sangat
sebanding dengan rendah jika
beratnya anemia dibanding derajat
anemia
MCH Menurun Menurun Menurun
Besi Serum Menurun Menurun Normal/ Meningkat
< 30 < 50
TIBC Meningkat Menurun Normal
>360 < 360
Saturasi transferin Menurun Menurun/ normal Meningkat
< 15% 10-20% >20%
Feritin Serum Menurun Normal Meningkat
< 20 µg/l 20-200 µg/l >50 µg/l
Cadangan besi Tidak ada Ada Ada
sumsum tulang
Elektroforesis Normal Normal HbA2 meningkat
hemoglobin pada bentuk β

Etiologi

Anemia dalam kehamilan yang paling sering ditemukan adalah anemia akibat kekurangan
zat besi. Kekurangan ini dapat disebabkan :

a) Kurang intake unsur zat besi dalam makanan.


b) Gangguan absorpsi zat besi : muntah dalam kehamilan mengganggu absorpsi, peningkatan pH
asam lambung, kekurangan vitamin C, gastrektomi dan kolitis kronik, atau dikonsumsi
bersama kandungan fosfat (sayuran), tanin (teh dan -kopi), polyphenol (coklat, teh, dan kopi),
dan kalsium (susu dan produk susu).
c) Kebutuhan besi yang meningkat

Keperluan zat besi bertambah selama kehamilan, seiring dengan bertambahnya usia kehamilan.
Peningkatan penggunaan zat besi yang diabsorpsi di dalam tubuh meningkat dari 0.8mg/hari di
awal kehamilan hingga 7.5mg/hari pada trimester akhir. Zat besi yang rata-rata dibutuhkan untuk
wanita hamil adalah 800 mg, 300 mg adalah untuk janin dan plasenta, dan 500 mg ditambahkan
untuk hemoglobin ibu. Hampir 200 mg zat besi hilang saat perdarahan persalinan dan post
partum. Jadi penyimpanan zat besi yang minimal di dalam tubuh pada wanita hamil adalah lebih
dari 500 mg di awal kehamilan. Apabila zat besi tidak ditambah dalam kehamilan, maka mudah
terjadi anemia defisiensi zat besi, terutama pada kehamilan kembar, multipara, kehamilan yang
sering dalam jangka waktu yang singkat dan vegetarian. Di daerah tropika, zat besi lebih banyak
keluar melalui keringat dan kulit. Suplemen zat besi setiap hari yang dianjurkan tidak sama
untuk berbagai negara. Di Amerika Serikat, untuk wanita tidak hamil, wanita hamil dan wanita
yang menyusui dianjurkan masing-masing 12mg, 15mg, dan 15 mg. Sedangkan di Indonesia
masing-masing 12 mg, 17 mg dan 17 mg.4,5

Epidemiologi

Di seluruh dunia, frekuensi anemia dalam kehamilan cukup tinggi yaitu berkisar antara
10-20%. Menurut WHO, 40% kematian ibu di negara berkembang berkaitan dengan anemia
dalam kehamilan yang penyebabnya adalah defisiensi zat besi. Angka anemia di Indonesia
menunjukkan nilai yang cukup tinggi yaitu 63,5% Karena defisiensi gizi memegang peranan
yang sangat penting dalam timbulnya anemia maka dapat dipahami bahwa frekuensi anemia
dalam kehamilan lebih tinggi di negara berkembang, dibandingkan dengan negara maju. Kurang
lebih 95% dari anemia dalam kehamilan merupakan anemia defiesiensi besi. Insidens wanita
hamil yang menderita anemia defisiensi besi semakin meningkat. Ini menunjukkan keperluan zat
besi maternal yang bertambah pada kehamilan. Kematian maternal meningkat karena terjadinya
pendarahan post partum yang banyak pada wanita hamil yang memang sudah menderita anemia
sebelumnya.6,7

Patogenesis

Kehamilan selalu berhubungan dengan perubahan fisiologis yang berakibat peningkatan


volume cairan dan sel darah merah serta penurunan konsentrasi protein pengikat gizi dalam
sirkulasi darah, begitu juga dengan penurunan gizi mikro. Peningkatan produksi sel darah merah
ini terjadi sesuai dengan proses perkembangan dan pertumbuhan masa janin yang ditandai
dengan pertumbuhan tubuh yang cepat dan penyempurnaan susunan organ tubuh. Adanya
kenaikan volume darah pada saat kehamilan akan meningkatkan kebutuhan zat besi. Pada
trimester pertama kehamilan, zat besi yang dibutuhkan sedikit karena peningkatan produksi
eritropoetin sedikit, oleh karena tidak terjadi menstruasi dan pertumbuhan janin masih lambat.
Sedangkan pada awal trimester kedua pertumbuhan janin sangat cepat dan janin bergerak aktif,
yaitu menghisap dan menelan air ketuban sehingga lebih banyak kebutuhan oksigen yang
diperlukan. Akibatnya kebutuhan zat besi semakin meningkat untuk mengimbangi peningkatan
produksi eritrosit dan rentan untuk terjadinya anemia, terutama anemia defisiensi besi.2

Konsentrasi hemoglobin normal pada wanita hamil berbeda dengan wanita yang tidak
hamil. Hal ini disebabkan karena pada kehamilan terjadi proses hemodilusi atau pengenceran
darah, yaitu terjadi peningkatan volume plasma dalam proporsi yang lebih besar jika
dibandingkan dengan peningkatan eritrosit. Hematologi sehubungan dengan kehamilan, antara
lain adalah oleh karena peningkatan oksigen, perubahan sirkulasi yang makin meningkat
terhadap plasenta dan janin, serta kebutuhan suplai darah untuk pembesaran uterus, sehingga
terjadi peningkatan volume darah yaitu peningkatan volume plasma dan sel darah merah.
Namun, peningkatan volume plasma terjadi dalam proporsi yang lebih besar jika dibandingkan
dengan peningkatan eritrosit sehingga terjadi penurunan konsentrasi hemoglobin akibat
hemodilusi. Hemodilusi berfungsi agar suplai darah untuk pembesaran uterus terpenuhi,
melindungi ibu dan janin dari efek negatif penurunan venous return saat posisi terlentang, dan
melindungi ibu dari efek negatif kehilangan darah saat proses melahirkan.2

Hemodilusi dianggap sebagai penyesuaian diri yang fisiologi dalam kehamilan dan
bermanfaat bagi wanita untuk meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam
masa hamil, karena sebagai akibat hipervolemia cardiac output meningkat. Kerja jantung lebih
ringan apabila viskositas darah rendah. Resistensi perifer berkurang, sehingga tekanan darah
tidak meningkat. Secara fisiologis, hemodilusi ini membantu maternal mempertahankan sirkulasi
normal dengan mengurangi beban jantung.2.3

Ekspansi volume plasma di mulai pada minggu ke-6 kehamilan dan mencapai maksimum
pada minggu ke-24 kehamilan, tetapi dapat terus meningkat sampai minggu ke-37. Volume
plasma meningkat 45-65 % dimulai pada trimester II kehamilan, dan maksimum terjadi pada
bulan ke-9 yaitu meningkat sekitar 1000 ml, menurun sedikit menjelang aterem serta kembali
normal tiga bulan setelah partus. Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen
plasenta, yang menyebabkan peningkatan sekresi aldosteron.2.3

Volume plasma yang terekspansi menurunkan hematokrit, konsentrasi hemoglobin darah,


dan hitung eritrosit, tetapi tidak menurunkan jumlah absolut Hb atau eritrosit dalam sirkulasi.
Penurunan hematokrit, konsentrasi hemoglobin, dan hitung eritrosit biasanya tampak pada
minggu ke-7 sampai ke-8 kehamilan, dan terus menurun sampai minggu ke-16 sampai ke-22
ketika titik keseimbangan tercapai. Sebab itu, apabila ekspansi volume plasma yang terus-
menerus tidak diimbangi dengan peningkatan produksi eritropoetin sehingga menurunkan kadar
Ht, konsentrasi Hb, atau hitung eritrosit di bawah batas “normal”, timbullah anemia. Umumnya
ibu hamil dianggap anemia jika kadar hemoglobin di bawah 11 g/dl atau hematokrit kurang dari
33 %. 3

Manifestasi Klinis

Gejala anemia sangat bervariasi, tetapi pada umumnya dapat dibagi menjadi 3
golongan besar, yaitu:1,2

 Gejala umum anemia


Gejala umum dari anemia disebut juga sebagai sindroma anemia yaitu merupakan
kumpulan gejala dari anemia, dimana hal ini akan tampak jelas jika hemoglobin
dibawah 7 – 8 g/dl. Gejala ini berupa badan lemah, lesu, mudah lelah, mata
berkunang-kunang, serta telinga mendenging. Pada anemia defisiensi besi karena
penurunan kadar hemoglobin yang terjadi secara perlahan-lahan sering kali
sindroma anemia tidak terlalu terlihat dibandingkan dengan anemia lain yang
penurunan kadar hemoglobinnya terjadi lebih cepat, oleh karena mekanisme
kompensasi tubuh dapat berjalan dengan baik. Anemia bersifat simtomatik jika
hemoglobin telah turun dibawah 7g/dl. Pada pemeriksaan fisik dijumpai pasien
dengan pucat, terutama pada konjungtiva dan jaringan di bawah kuku.
 Gejala khas anemia defisiensi besi
Gejala yang khas dijumpai pada defisiensi besi, tetapi tidak dijumpai pada anemia
jenis lain.
 Koilonychia: kuku sendok, kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertikal,
dan menjadi cekung sehingga seperti sendok.
 Atrofi papil lidah: permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena
papil lidah menghilang..1,3
Pada ibu hamil memperilihatkan gejala lemas, sering berdebar-debar, mudah
lelah, pucat, sakit kepala, iritabel dan sebagainya. Mereka tidak tampak sakit karena
perjalanan penyakitnya bersifat menahun. Tampak pucat terutama pada mukosa bibir dan
faring, telapak tangan dan dasar kuku, konjungtiva okular berwarna kebiruan atau putih
mutiara (pearly white). Papil lidah tampak atrofi. Jantung agak membesar dan terdengar
murmur sistolik yang fungsionil. 3
Penatalaksanaan

Besi Peroral. Ferro sulfat 300 mg (mengandung kandungan besi sebanyak 60 mg, dimana
sekitar 10% diserap) harus diberikan tiga kali sehari. Jika sediaan ini tidak ditoleransi oleh tubuh
pasien, maka ferro fumarat atau glukonat dapat diberikan. Terapi ini harus tetap dilanjutkan
sekitar tiga bulan setelah nilai hemoglobin kembali normal, dengan tujuan untuk mengisi
kembali cadangan besi tubuh. Nilai hemoglobin harusnya meningkat setidaknya 0,3
gr/dL/minggu jika tubuh pasien meresponi terapi ini.2,3

Besi dapat diserap dengan baik pada bentuk ferro atau besi yang sudah tereduksi dari pasien
yang perutnya masih kosong. Menambahkan asam askorbat dalam suplemen besi dapat
menciptakan suasana asam yang dapat membantu proses penyerapan besi.2,3

Besi Parenteral. Indikasi dari pengobatan besi secara parenteral adalah jika pasien
mengalami intoleransi atau refrakter terhadap besi dalam sediaan oral. Dalam banyak kasus dari
anemia defisiensi besi yang moderat, jumlah besi yang dibutuhkan sama dengan jumlah besi
yang dibutuhkan untuk mengembalikan nilai normal atau mendekati normal dari hemoglobin,
ditambah 50% dari jumlah tersebut untuk mengisi ulang cadangan besi tubuh.7Pada intoleransi
besi per oral atau penyerapan yang buruk dianjurkan pemberian besi parenteral 250 mg untuk
setiap gram Hb dibawah normal (angka normal pada wanita adalah 12-16 g/dl). Besi dekstran
(Imferon) mengandung 5% logam besi (50 mg/ml). mula-mula berikan 50 mg (1 ml) IM,
kemudian 100-250 mg IM dua kali seminggu sampai dosis total sudah diberikan. Perhatian:
Suntikan secara dalam dengan jarum 2 inchi di kuadran atas luar pantat dengan teknik Z, yaitu
dengan menarik kulit dan kemudan bangunan otot di bagian superficial ke satu sisi atau sisi
lainnya untuk mencegah kebocoran dan pembentukan tanda (tato) pada kulit.2,3

Pengobatan lain
 Diet: sebaiknya diberikan makanan bergizi dengan tinggi protein terutama
yang berasal dari protein hewani.
 Vitamin C: diberikan 3 kali 100 mg per hari untuk meningkatkan absorpsi besi.
 Transfusi darah: anemia defisiensi besi jarang memerlukan transfusi darah.
Transfusi darah hanya diberikan bila kadar hemoglobin kurang dari 5 g% dan
disertai dengan keadaan umum yang tidak baik, misalnya gagal jantung,
bronkopneumonia dan sebagainya. Umumnya jarang diberikan transfusi darah
karena perjalanan penyakit menahun.
Pencegahan

Pencegahan anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan suplementasi besi dan asam
folat. WHO menganjurkan untuk memberikan 60 mg besi selama 6 bulan untuk memenuhi
kebutuhan fisiologik selama kehamilan. Namun, banyak literature menganjurkan dosis 100 mg
besi setiap hari selama 16 minggu atau lebih pada kehamilan. Di wilayah-wilayah dengan
prevalensi anemia yang tinggi, dianjurkan untuk memberikan suplementasi sampai tiga bulan
postpartum.

Pemberian suplementasi besi setiap hari pada ibu hamil sampai minggu ke-28 kehamilan pada
ibu hamil yang belum mendapat besi dan nonanemik (Hb< 11 g/dl dan feritin > 20 µg/l)
menurunkan prevalensi anemia dan bayi berat lahir rendah. Namun, pada ibu hamil dengan kadar
Hb yang normal (≥ 13,2 g/dl) mendapatkan peningkatan risiko defisiensi tembaga dan zinc.
Selain itu, pemberian suplementasi besi elemental pada dosis 50 mg berkaitan dengan proporsi
bayi KMK dan hipertensi maternal yang lebih tinggi dibandingkan control.5

Komplikasi

Komplikasi yang sering terjadi pada ibu hamil adalah kematian bagi janin maupun
ibunya. Pada ibu kematian dapat disebabkan karena kekurangan makanan yang terjadi akibat
jumlah darah yang menurun saat partus.Selain itu resiko infeksi serta decompensatio cordis juga
dapat meningkat. Sedangkan pada anak, komplikasi yang dapat terjadi pada anak adalah
keterlambatan pertumbuhan (sejak lahir sampai usia 5 tahun), perkembangan otot buruk (jangka
panjang), daya konsentrasi menurun, interaksi sosial menurun, penurunan prestasi pada uji
perkembangan, kemampuan mengolah informasi yang didengar menurun, memperberat
keracunan timbal (penururnan besi memungkinkan saluran gastrointestinal mengabsorbsi logam
berat lebih mudah) dan peningkatan insiden stroke pada bayi dan anak-anak.6

Prognosis

Prognosis anemia defisiensi besi dalam kehamilan umumnya baik bagi ibu dan anak.
Persalinan dapat berlangsung seperti biasa tanpa pendarahan banyak atau komplikasi lain.
Anemia berat meningkatkan morbiditas dan mortalitas wanita hamil. Walaupun bayi yang
dilahirkan dari ibu yang menderita anemia defisiensi besi tidak menunjukkan hemoglobin (Hb)
yang rendah, namun cadangan zat besinya kurang, yang baru beberapa bulan kemudian tampak
sebagai anemia infantum.
Kesimpulan

Anemia pada kehamilan dapat berupa fisiologis maupun patologis. Secara fisiologis,
anemia terjadi karena pada kehamilan terjadi ekspansi volume plasma dan eritrosit yang tidak
tidak seimbang. Volume plasma terekspansi lebih besar daripada eritrosit sehingga menurunkan
hematokrit (Ht), konsentrasi Hb, dan hitung jumlah eritrosit, tetapi tidak menurunkan jumlah
sebenarnya Hb atau eritrosit dalam peredaran darah. Anemia karena defisiensi besi merupakan
penyebab yang paling sering pada anemia dalam kehamilan. Hal tersebut terjadi karena
peningkatan penggunaan besi pada kehamilan yang tidak diikuti dengan intake yang cukup. Ibu
yang terkena anemia biasanya menunjukkan gejala lemas dan pucat. Anemia defisiensi besi
dapat diobati dengan pemberian preparat besi. Untuk mencegah agar tidak terjadi anemia
defisiensi besi, ibu hamil harus diberi suplemen besi untuk menambah cadangan besi dalam
tubuh.

Daftar Pustaka:

1. Bakta IM, Suega K, Dharmayuda TG. Anemia defisiensi besi. Dalam: Sudoyo AW,
Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiadi S, penyunting. Buku ajar ilmu penyakit
dalam. Edisi ke-5. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.1127-36.
2. Bakta IM. Hematologi klinik ringkas. Jakarta: EGC; 2013.h.18-9, 26-41.
3. Hassan R, Alatas H, editor. Buku kuliah ilmu kesehatan anak. Jakarta: Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007.h.432-6, 444-5.

4. Conrad, Marcel. Iron deficiency anemia workup. 4 Agustus 2009. Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/202333-workup#showall. Diunduh 26 Mei 2016.

5. I Made Bakta, Ketut S, Tjokorda G. Buku ajar ilmu penyakit dalam.Hematologi-anemia


defesiensi besi. Edisi ke-5.Jakarta:Interna publishing;2009.h.1127-1136.
6. Windiastuti E. Anemia defisiensi besi. Diunduh dari http://idai.or.id/public-
articles/seputar-kesehatan-anak/anemia-defisiensi-besi-pada-bayi-dan-anak.html, 26Mei
2016
7. Betz CL, Sowden LA. Buku saku keperawatan pediatri. Edisi ke-5. Jakarta: EGC;
2009.h.333-4.