Вы находитесь на странице: 1из 22

KONSEP PROSES MENUA

DI RUANG ANGGREK

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Program Pendidikan Profesi Ners Pada Stase
Keperawatan Gerontik

OLEH :

CHANDRA IRAWAN, S.Kep

PROGRAM PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)

CAHAYA BANGSA BANJARMASIN

2017
LEMBAR PENGESAHAN

KONSEP PROSES MENUA

OLEH:

CHANDRA IRAWAN, S.Kep

MENGETAHUI

Banjarbaru, November 2017

Preseptor Akademik Preseptor Klinik

(Agustina Lestari S.Kep, Ns) (Suyatno, S.I.Kom)


KONSEP PROSES MENUA

A. Definisi Lansia

Pengertian lansia (Lanjut Usia) adalah fase menurunnya kemampuan

akal dan fisik, yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam

hidup. Sebagai mana diketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia

mempunyai kemampuan reproduksi dan melahirkan anak. Ketika kondisi

hidup berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan

memasuki selanjutnya, yaitu usia lanjut, kemudian mati. Bagi manusia yang

normal, siapa orangnya, tentu telah siap menerima keadaan baru dalam setiap

fase hidupnya dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya

(Darmojo, 2012)

Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas, baik

pria maupun wanita. Menjadi tua merupakan proses alami yang berarti

seseorang telah memulai tahap-tahap kehidupannya, yaitu neonates, toodler,

pra sekolah, sekolah, remaja, dewasa, dan lansia (Padila, 2013).

B. Proses Menua

Proses menua adalah suatu proses alami yang akan terjadi pada pada

setiap makluk hidup (Fitri & M, 2016).

Menurut Laslet (Sudirman & Siti, 2011) menyatakan bahwa semua

makhluk hidup memilki siklus kehidupan menuju tua yang diawali dengan

proses kelahiran, tumbuh menjadi dewasa, berkembang biak, menjadi teladan

akhirnya tutup usia. Sedangkan usia lanjut adalah masa yang tidak bisa

dielakan bagi orang yang dikarunia umur panjang.


C. Batasan Lanjut Usia

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO (Darmojo, 2012) batasan lanjut

usia meliputi :

1. Usia pertengahan (middle age) adalah kolompok usia 45-59 tahun.

2. Lanjut usia (elderly) antara usia 60-74 tahun.

3. Lanjut usia tua (old) antara 75-90 tahun.

4. Usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun

D. Tanda dan Gejala

Tanda dan Gejala menurut Patricia Gonce Morton dkk, 2011 yaitu:

1. Perubahan Organik

a) Jumlah jaringan ikat dan kolagen meningkat.

b) Unsur seluler pada sistem saraf, otot, dan organ vital lainnya

menghilang.

c) Jumlah sel yang berfungsi normal menurun.

d) Jumlah lemak meningkat.

e) Penggunaan oksigen menurun.

f) Selama istirahat, jumlah darah yang dipompakan menurun.

g) Jumlah udara yang diekspirasi paru lebih sedikit.

h) Ekskresi hormon menurun.

i) Aktivitas sensorik dan persepsi menurun.

j) Penyerapan lemak, protein, dan karbohidrat menurun.

k) Lumen arteri menebal.


2. Sistem Persarafan

Tanda:

a) Penurunan jumlah neuron dan peningkatan ukuran dan jumlah sel

neuroglial.

b) Penurunan syaraf dan serabut syaraf.

c) Atrofi otak dan peningkatan ruang mati dalam kranim

d) Penebalan leptomeninges di medulla spinalis.

Gejala:

a) Peningkatan risiko masalah neurologis; cedera serebrovaskuler,

parkinsonisme.

b) Konduksi serabut saraf melintasi sinaps makin lambat

c) Penurunan ingatan jangka-pendek derajad sedang

d) Gangguan pola gaya berjalan; kaki dilebarkan, langkah pendek, dan

menekuk ke depan

e) Peningkatan risiko hemoragi sebelum muncul gejala.

3. Sistem Pendengaran.

Tanda :

a) Hilangnya neuron auditorius

b) Kehilangan pendengaran dari frekuensi tinggi ke frekuensi rendah

c) Peningkatan serumen

d) Angiosklerosis telinga
Gejala :

a) Penurunan ketajaman pendengaran dan isolasi sosial (khususnya,

penurunan kemampuan untuk mendengar konsonan)

b) Sulit mendengar, khususnya bila ada suara latar belakang yang

mengganggu, atau bila percakapan cepat.

c) Impaksi serumen dapat menyebabkan kehilangan pendengaran

4. Sistem Penglihatan

Tanda :

a) Penurunan fungsi sel batang dan sel kerucut

b) Penumpukan pigmen.

c) Penurunan kecepatan gerakan mata.

d) Atrofi otot silier.

e) Peningkatan ukuran lensa dan penguningan lensa

f) Penurunan sekresi air mata.

Gejala :

a) Penurunan ketajaman penglihatan,lapang penglihatan, dan adaptasi

terhadap terang/gelap

b) Peningkatan kepekaan terhadap cahaya yang menyilaukan

c) Peningkatan insiden glaucoma

d) Gangguan persepsi kedalaman dengan peningkatan kejadian jatuh

e) Kurang dapat membedakan warna biru, hijau,dan violet

f) Peningkatan kekeringandan iritasi mata.


5. Sistem Kardiovaskuler

Tanda :

a) Atrofi serat otot yang melapisi endokardium

b) Aterosklerosis pembuluh darah

c) Peningkatan tekanan darah sistolik.

d) Penurunan komplian ventrikel kiri.

e) Penurunan jumlah sel pacemaker

f) Penurunan kepekaan terhadap baroreseptor.

Gejala:

a) Peningkatan tekanan darah

b) Peningkatan penekanan pada kontraksi atrium dengan S4 terdengar

c) Peningkatan aritmia

d) Peningkatan resiko hipotensi pada perubahan posisi

e) Menuver valsava dapat menyebabkan penurunan tekanan darah

f) Penurunan toleransi

6. Sistem Respirasi

Tanda:

a) Penurunan elastisitas jaringan paru.

b) Kalsifikasi dinding dada.

c) Atrofi silia.

d) Penurunan kekuatan otot pernafasan.

e) Penurunan tekanan parsial oksigen arteri (PaO2).


Gejala:

a) Penurunan efisiensi pertukaran ventilasi

b) Peningkatan kerentanan terhadap infeksi dan atelektasis

c) Peningkatan resiko aspirasi

d) Penurunan respons ventilasi terhadap hipoksia dan hiperkapnia

e) Peningkatan kepekaan terhadap narkotik

7. Sistem Gastrointestinal

Tanda:

a) Penurunan ukuran hati.

b) Penurunan tonus otot pada usus.

c) Pengosongan esophagus makin lambat

d) Penurunan sekresi asam lambung.

e) Atrofi lapisan mukosa

Gejala:

a) Perubahan asupan akibat penurunan nafsu makan

b) Ketidaknyamanan setelah makan karena jalannya makanan melambat

c) Penurunan penyerapan kalsium dan besi

d) Peningkatan resiko konstipasi, spasme esophagus, dan penyakit

divertikuler

8. Sistem Reproduksi

Tanda:

a) Atrofi dan fibrosis dinding serviks dan uterus

b) Penurunan elastisitas vagina dan lubrikasi


c) Penurunan hormone dan oosit.

d) Involusi jaringan kelenjar mamae.

e) Poliferasi jaringan stroma dan glandular

Gejala :

a) kekeringan vagina dan rasa terbakar dan nyeri saat koitus

b) penurunan volume cairan semina dan kekuatan ejakulasi

c) penurunan elevasi testis

d) hipertrofi prostat

e) jaringan ikat payudara digantikan dengan jaringan lemak, sehingga

pemeriksaan payudara lebih mudah dilakukan

9. Sistem Perkemihan

Tanda:

a) Penurunan masa ginjal

b) Tidak ada glomerulus

c) Penurunan jumlah nefron yang berfungsi

d) Perubahan dinding pembuluh darah kecil

e) Penurunan tonus otot kandung kemih

Gejala:

a) Penurunan GFR

b) Penurunan kemampuan penghematan natrium

c) Peningkatan BUN

d) Penurunan aliran darah ginjal

e) Penurunan kapasitas kandung kemih dan peningkatan urin residual


f) Peningkatan urgensi

10. Sistem Endokrin

Tanda:

a) Penurunan testosterone, hormone pertumbuhan, insulin, androgen,

aldosteron, hormone tiroid

b) Penurunan termoregulasi

c) Penurunan respons demam

d) Peningkatan nodularitas dan fibrosis pada tiroid

e) Penurunan laju metabolic basal

Gejala:

a) Penurunan kemampuan untuk menoleransi stressor seperti

pembedahan

b) Penurunan berkeringat dan menggigil dan pengaturan suhu

c) Penurunan respons insulin, toleransi glukosa

d) Penurunan kepekaan tubulus ginjal terhadap hormone antidiuretik

e) Penambahan berat badan

f) Peningkatan insiden penyakit tiroid

11. Sistem Kulit Integumen

Tanda:

a) Hilangnya ketebalan dermis dan epidermis

b) Pendataran papilla

c) Atrofi kelenjar keringat

d) Penurunan vaskularisasi
e) Cross-link kolagen

f) Tidak adanya lemak sub kutan

g) Penurunan melanosit

h) Penurunan poliferasi dan fibroblas

Gejala:

a) Penipisan kulit dan rentan sekali robek

b) Kekeringan dan pruritus

c) Penurunan keringat dan kemampuan mengatur panas tubuh

d) Peningkatan kerutan dan kelemahan kulit

e) Tidak adanya bantalan lemak yang melindungi tulang dan

menyebabkan timbulnya nyeri.

f) Penyembuhan luka makin lama.

12. Sistem Muskuloskletal

Tanda:

a) Penurunan massa otot

b) Penurunan aktivitas myosin adenosine tripospat

c) Perburukan dan kekeringan pada kartilago sendi

d) Penurunan massa tulang dan aktivitas osteoblast

Gejala:

a) Penurunan kekuatan otot

b) Penurunan densitas tulang

c) Penurunan tinggi badan

d) Nyeri dan kekakuan pada sendi


e) Peningkatan risiko fraktur

f) Perubahan cara berjalan dan postur

E. Patofisiologi (pathway)

ProsesF.Menua

Usia 25-35 Usia 35-45 Usia >45 produksi


penurunan hormone penurunan hormone hormone sudah
(testosterone growt berkurang hingga
hormone) akhirnya berhenti

Polusi udara, diet yang


tak sehat dan stress

Penyakit
Peningkatan radikal
degenerative (DM,
osteoporosis,
hipertensi, penyakit
Kerusakan sel-sel
jantung koroner
DNA (sel-sel tubuh)

System dalam tubuh mulai terganggu


seperti : penglihatan menurun, rambut
beruban, stamina dan energy berkurang,
wanita (menopause), pria (andopause)
F. Pemeriksaan Penunjang

Menurut Stanley dan Patricia, 2011 Pemeriksaan laboratorium rutin yang

perlu diperiksa pada pasien lansia untuk mendeteksi dini gangguan kesehatan

yang sering dijumpai pada pasien lansia yang belum diketahui adanya

gangguan / penyakit tertentu (penyakit degeneratif) yaitu :

1. Pemerikasaan hematologi rutin

2. Urin rutin

3. Glukosa

4. Profil lipid

5. Alkalin pospat

6. Fungsi hati

7. Fungsi ginjal

8. Fungsi tiroid

9. Pemeriksaan feses rutin

G. Pengkajian

Perawat mengkaji perubahan pada perkembangan fisiologis, kognitif

dan perilaku sosial pada lansia

1. Perubahan fisiologis

Perubahan fisik penuaan normal yang perlu dikaji :

Sistem Temuan Normal


Integumen Warna kulit Pigmentasi
berbintik/bernoda diarea
yang terpajan sinar matahari,
pucat meskipun tidak
anemia
Kelembaban Kering, kondisi bersisik
Suhu Ekstremitas lebih dingin,
penurunan perspirasi
Tekstur Penurunan elastisitas,
kerutan, kondisi berlipat,
kendur
Distribusi Penurunan jumlah lemak
lemak pada ekstremitas,
peningkatan jumlah
diabdomen
Rambut Penipisan rambut
Kuku Penurunan laju
pertumbuhan
Kepala dan Kepala Tulang nasal, wajah
leher menajam, & angular
Mata Penurunan ketajaman
penglihatan, akomodasi,
adaptasi dalam gelap,
sensivitas terhadpa cahaya
telinga Penurunan menbedakan
nada, berkurangnya reflek
ringan, pendengaran kurang
Mulut, Penurunan pengecapan,
faring aropi papilla ujung lateral
lidah
leher Kelenjar tiroid nodular
Thoraxs & Peningkatan diameter
paru-paru antero-posterior,
peningkatan rigitas dada,
peningkatan RR dengan
penurunan ekspansi paru,
peningkatan resistensi jalan
nafas
Sistem Jantung Peningkatan sistolik,
& Vascular perubahan DJJ saat istirahat,
nadi perifer mudah
dipalpasi, ekstremitas bawah
dingin
Payudara Berkurangnnya jaringan
payudara, kondisi
menggantung dan
mengendur
Sistem Penurunan sekresi keljar
Pencernaan saliva, peristatik, enzim
digestif, konstipasi
Sistem wanita Penurunan estrogen, ukuran
Reproduksi uterus, atropi vagina
pria Penurunan testosteron,
jumlah sperma, testis
Sistem Penurunan filtrasi renal,
Perkemihan nokturia, penurunan
kapasitas kandung kemih,
inkontenensia
wanita Inkontenensia urgensi &
stress, penurunan tonus otot
perineal
pria Sering berkemih & retensi
urine.
Sistem Penurunan masa & kekuatan
muskoloskel otot, demineralisasi tulang,
etal pemendekan fosa karena
penyempitan rongga
intravertebral, penurunan
mobilitas sendi, rentang
gerak
Sistem Penurunan laju reflek,
Neurologi penurunan kemampuan
berespon terhadap stimulus
ganda, insomia, periode
tidur singkat

Pengkajian status fungsional :

Pengkajian status fungsional adalah suatu pengukuran kemampuan

seseorang untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari – hari secara

mandiri.Indeks Katz adalah alat yang secara luas digunakan untuk

menentukan hasil tindakan dan prognosis pada lansia dan penyakit kronis.
Format ini menggambarkan tingkat fungsional klien dan mengukur efek

tindakan yang diharapkan untuk memperbaiki fungsi. Indeks ini merentang

kekuatan pelaksanaan dalam 6 fungsi : mandi, berpakaian, toileting,

berpindah, kontinen dan makan.

Tingkat Kemandirian Lansia :

A: kemandirian dalam hal makan, kontinen, berpindah, ke kamar

mandi,berpakaian dan mandi

B: kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari – hari, kecuali

satu dari fungsi tambahan

C: kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari – hari, kecuali

mandi dan satu fungsi tambahan

D: kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari – hari, kecuali

mandi, berpakaian dan satu fungsi tambahan

E: kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari – hari, kecuali

mandi, berpakaian, ke kamar kecil dan satu fungsi tambahan

F: kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari – hari, kecuali

mandi, berpakaian, ke kamar kecil

G: Ketergantungan pada keenam fungsi tersebut

2. Perubahan Kognitif

Kebanyakan trauma psikologis dan emosi pada masa lanisa

muncul akibat kesalahan konsep karena lansia mengalami kerusakan

kognitif. Akan tetapi perubahan struktur dan fisiologi yang terjadi pada
otak selama penuaan tidak mempengaruhi kemampuan adaptif & fungsi

secara nyata (ebersole & hess, 1994)

Pengkajian status kognitif

a) SPMSQ (short portable mental status quetionnaire)

Digunakan untuk mendeteksi adanya dan tingkat kerusakan

intelektual terdiri dari 10 hal yang menilai orientasi, memori dalam

hubungan dengan kemampuan perawatan diri, memori jauh dan

kemampuan matematis.

b) MMSE (mini mental state exam)

Menguji aspek kognitif dari fungsi mental, orientasi,

registrasi,perhatian dank kalkulasi, mengingat kembali dan bahasa.

Nilai kemungkinan paling tinggi adalah 30, dengan nilai 21 atau

kurang biasanya indikasi adanya kerusakan kognitif yang

memerlukan penyelidikan lebih lanjut.

c) Inventaris Depresi Bec

Berisi 13 hal yang menggambarkan berbagai gejala dan sikap yang

behubungan dengan depresi. Setiap hal direntang dengan

menggunakan skala 4 poin untuk menandakan intensitas gejala.

3. Perubahan psikososial

Lansia harus beradaptasi pada perubahan psikososial yang

terjadi pada penuaan.Meskipun perubahan tersebut bervariasi, tetapi

beberapa perubahan biasa terjadi pada mayoritas lansia.


a) Pengkajian Sosial

Hubungan lansia dengan keluarga memerankan peran sentral pada

seluruh tingkat kesehatan dan kesejahteraan lansia. Alat skrining

singkat yang dapat digunakan untuk mengkaji fungsi sosial lansia

adalah APGAR Keluarga. Instrument disesuaikan untuk digunakan

pada klien yang mempunyai hubungan sosial lebih intim dengan

teman-temannya atau dengan keluarga. Nilai < 3 menandakan

disfungsi keluarga sangat tinggi, nilai 4 – 6 disfungsi keluarga

sedang.

A : Adaptation

P : Partnership

G :Growth

A :Affection

R : Resolve

d) Keamanan Rumah

Perawat wajib mengobservasi lingkungan rumah lansia untuk

menjamin tidak adanya bahaya yang akan menempatkan lansia pada

resiko cidera. Faktor lingkungan yang harus diperhatikan :

1) Penerangan adekuat di tangga, jalan masuk & pada malam hari

2) Jalan bersih

3) Pengaturan dapur dan kamar mandi tepat

4) Alas kaki stabil dan anti slip


5) Kain anti licin atau keset

6) Pegangan kokoh pada tangga / kamar mandi

H. Analisa Data

No Data Etiologi Masalah

1.  Melaporkan secara perbal Kelemahan Intoleransi

adanya kelemahan atau Umum Aktivitas.

kelelahan.

 Penurunan kekuatan otot.

 ADL dibantu

2.  Postur tubuh tidak stabil Penurunan Kerusakan

selama melakukan kegiatan. kekuatan otot mobilitas fisik

 Keterbatasan ROM

 Perubahan gaya berjalan

(penurunan kecepatan

berjalan, kesulitan memulai

jalan, langkah sempit, kaki

diseret)

3.  Laporan secara verbal dan Angen injury Nyeri kronis

non verbal. biologis

 Perubahan pola tidur

 Nyeri libih dari 6 bulan


I. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul

1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umun.

2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot

3. Nyeri kronis berhubungan dengan agen injury biologis

J. Rencana Asuhan Keperawatan

No Diagnosa Tujuan Intervensi


Kerusakan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Monitoring vital
Mobilitas selama 1x24 jam diharapkan mobilitas sign
Fisik fisik dalam rentan normal. sebelum/sesudah
berhubungan Kriteria hasil : latihan dan lihat
dengan Indikator IR ER respon pasien saat
penurunan 1. Keseimbangan tubuh latihan.
kekuatan otot. 2. Posisi tubuh 2. Ajarkan klien
3. Gerakan otot tentang dan pantau
4. Gerakan sendi penggunaan alat
5. Kemampuan bantu mobilitas
berpindah 3. Ajarkan dan bantu
6. Ambulasi: berjalan klien dalam proses
perpindahan
Keterangan :
4. Dampingi dan
1. Tidak mandiri
bantu klien saat
2. Dibantu orang dan alat
mobilisasi dan
3. Dibantu orang
bantu penuhi
4. Dibantu alat
kebutuhan ADLs
5. Mandiri penuh
Intoleransi Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Tentukan penyebab
aktivitas selama 1x24 jam diharapkan resiko toleransi aktivias.
berhubungan injury (fisik) dapat teratasi. 2. Berikan periode
dengan Kriteria Hasil : istirahat selama
kelemahan Indikator IR ER beraktivitas.
umum. 3. Jika
1. Langkah berjalan.
memungkinkan
2. Jarak berjalan.
tingkatkan
3. kuat.
aktivitas secara
4. Laporan ADL.
bertahap.
Keterangan: 4. Monitor dan catat
1. Keluhan ekstrim kemampuan untuk
2. Keluhan berat mentoleransi
3. Keluhan sedang aktivitas.
4. Keluhan ringan
5. Tidak ada keluhan
Nyeri Setelah dilakukan tindakan keperawatan PAIN
berhubungan selama 1x30 menit diharapkan Nyeri MANAGEMENT:
dengan agen Kronis klien 1. Lakukan
injury dapat teratasi. pengkajian nyeri
biologis secara
Kriteria Hasil : komprehensif
Indikator IR ER termasuk Lokasi,
Karakteristik,
1. Melaporkan adanya
Durasi, Frekuensi,
nyeri.
Kualitas, dan
2. Luas bagian tubuh
Faktor Presipitasi.
yang terpengaruhi.
2. Observasi reaksi
3. Frekuensi nyeri.
non verbal dari
4. Pernyataan nyeri.
ketidak nyamanan.
5. Perubahan tekanan
3. Gunakan teknik
darah.
komunikasi
6. Posisi tubuh
terapeutik untuk
protektif.
mengetahui
Keterangan:
pengalaman nyeri
1. Kuat
klien.
2. Berat
4. Ajarkan tentang
3. Sedang
teknik non
4. Ringan
farmakologi.
5. Tidak ada
5. Evaluasi
keefektipan
control.
DAFTAR PUSTAKA

Darmojo. (2012). Pengertian Lansia Lanjut Usia.

http://www.Psychologymania.com/2012/pengertian-lansia-lanjut-

usia.html.

Fitri, U., & M, D. A. (2016). Penerimaan Diri, Dukungan Sosial dan Kebahagiaan

pada lansia. Personal, Jurnal Psikologi Indonsia .

Padila. (2013). Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: Nuha Medika.

Sudirman, & Siti, P. (2011). Pisikologi Usia Lanjut. Yogyakarta: Gajah Mada

University Press.