You are on page 1of 114

2016

Kumpulan Makalah
Seminar dan Knowledge Sharing
Kepustakawanan
“Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar”

Kerjasama:
Badan Standardisasi Nasional dan Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek
Jakarta, 30 Maret 2016
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

DAFTAR ISI

Halaman
Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar (Keynote Speech)…………………….. 1
Abdul Rahman Saleh

Kajian Permintaan Standar Nasional Indonesia (SNI) melalui PNBP di Perpustakaan BSN 3
Abdul Rahman Saleh, Erni Sumarni, Muhammad Bahrudin, Nursidik Fadillah

Persepsi Masyarakat Ilmiah terhadap Pengetahuan Ilmiah IPTEK Nuklir di Indonesia…... 19


Noer ‘Aida, Irawan dan R. Suhendani

Peran Pustakawan dalam Meningkatkan Sitasi Publikasi di Pusat Penelitian Ekonomi


LIPI………………………………………………………………………………………………... 33
Dwi Untari

Kajian Kepuasan Pelanggan di Perpustakaan Badan Standardisasi Nasional………………. 45


Erni Sumarni dan Nihayati

Budaya Literasi Peneliti Kita……………………………………………………………………. 65


Suherman

Pentingnya Manajemen Waktu dalam Peningkatan Kinerja Pustakawan…………………... 73


Hadiyati Tarwan

Film Animasi sebagai Media Promosi Perpustakaan………………………………………….. 83


Sutarsyah

Pemasyarakatan Perpustakaan, Dokumentasi dan Informasi Melalui Portal Website:


Pengalaman Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah LIPI…………………………………. 93
Tupan
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

KONTRIBUSI PUSTAKAWAN BERBASIS KAJIAN DAN STANDAR1


Oleh:
Abdul Rahman Saleh
Kepala Pusat Informasi dan Dokumentasi Standardisasi - BSN

Yth. Ibu Deputi Informasi dan Pemasyarakatan Standardisasi


Bapak/Ibu serta hadirin yang saya muliakan.

Assalamualaikum Warokhmatullahi Wabarokatuh.

Tahun ini merupakan tahun ketiga setelah terbentuknya Forum Perpusdokinfo LPNK
Ristek. Tujuan dibentuknya Forum ini adalah untuk mewadahi kegiatan pustakawan
di lingkungan Kemenristek, khususnya kegiatan terkait kajian dan pengembangan
profesi. Dengan wadah Forum ini, maka para pustakawan dapat tampil menyajikan
hasil kajian dan pemikiran-pemikirannya di bidang kepustakawan dan tentunya bisa
mendapatkan angka kredit.

Bapak/Ibu serta hadirin sekalian yang saya hormati,


Beberapa tahun terakhir K/L disibukkan dengan Reformasi Birokrasi. Apa
sebenarnya RB tersebut? Reformasi birokrasi pada hakikatnya merupakan upaya
untuk melakukan pembaharuan dan perubahan mendasar terhadap sistem
penyelenggaraan pemerintahan terutama menyangkut aspek-aspek kelembagaan
(organisasi), ketatalaksanaan (business prosess) dan sumber daya manusia aparatur.
Ada delapan area yang harus dilakukan perubahan diantaranya peningkatan
layanan publik. Karena perpustakaan melayani pemustaka yaitu masyarakat atau
publik, maka perpustakaan berada di wilayah ini yaitu harus meningkatkan kualitas
layanan publik. Untuk melakukan peningkatan kualitas layanan publik tersebut maka
perpustakaan harus melakukan kajian-kajian. Kajian-kajian yang harus dilakukan
oleh perpustakaan cukup banyak areanya. Misalnya yang menyangkut kepuasan
pelanggan, yang menyangkut pemanfaatan koleksi perpustakaan, yang menyangkut
perilaku petugas layanan dan lain-lain. Dari kajian-kajian tersebut akan diketahui

1Disampaikan sebagai keynote speech pada “Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawanan dengan
Tema Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar”, Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek, Rabu
30 Maret 2016 di Jakarta

1
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

“current condition” dari layanan publik yang diselenggarakan oleh perpustakaan


tersebut. Jika dilakukan analisis kesenjangan atau “gap analysis” maka akan diketahui
bagian mana yang masih belum baik dan perlu dilakukan peningkatan, dan bagian
mana yang sudah baik untuk dilakukan upaya-upaya untuk mempertahankan.

Untuk melakukan kajian tersebut, maka pustakawan memerlukan kemampuan atau


kompetensi yang baik. Melakukan kajian, selain melatih daya analisis pustakawan,
juga dapat meningkatkan kemampuan pustakawan tersebut untuk melakukan kajian-
kajian berikutnya. Penggunaan standar sebagai acuan didalam melakukan kegiatan di
perpustakaan juga tidak kalah pentingnya. Misalnya bagaimana mengukur output
layanan perpustakaan yang kemudian dapat dikaji efektifitas layanannya merupakan
contoh didalam melakukan kajian. Oleh karena itu penggunaan standar terkait
kegiatan atau layanan perpustakaan dengan kegiatan pengkajian yang dilakukan oleh
pustakawan sering beriringan.

Selain itu, pemahaman pustakawan tentang standar juga perlu ditingkatkan. Dunia
kepustakawan terus berkembang dan seiring dengan hal itu fungsi standardisasi
dalam dunia kepustakawanan juga terus berkembang. Di Indonesia sebut saja adanya
SNI tentang perpustakaan dan komite teknis perumusan standar yang menangani
bidang perpustakaan yang meskipun saat ini masih ditunggu produk-produk
standarnya. Sementara itu, di dunia internasional standar mengenai perpustakaan,
dokumentasi dan informasi juga semakin pesat. Sebut saja ISO 11620 tentang
indikator kinerja perpustakaan yang terus diperbarui; ISO 16499 tentang metode dan
prosedur penilaian dampak perpustakaan; ISO 28118 tentang indikator kinerja
perpustakaan nasional dan sebagainya. Hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan
bagi perpustakaan dan profesional yang bekerja di dalamnya untuk terus mengikuti
perkembangan dunia standardisasi agar bisa mengimplementasikan secara praktis di
perpustakaan yang dikelolanya.

Akhirnya, saya mengucapkan selamat berseminar dalam rangka knowledge sharing


kepustakawanan. Semoga acara ini bermanfaat bagi kita semua.
Wassalamualaikum Warokhmatullahi Wabarokatuh.

2
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

KAJIAN PERMINTAAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) MELALUI


PNBP DI PERPUSTAKAAN BSN
Oleh:
Abdul Rahman Saleh1, Erni Sumarni2, Muhammad Bahrudin3, Nursidik Fadilah4

Abstrak

Standar Nasional Indonesia (SNI) merupakan standar yang ditetapkan oleh


Badan Standardisasi Nasional (BSN). SNI tersebut didistribusikan oleh BSN
dengan beberapa cara antara lain pada tahun pertama ditetapkan, maka
SNI dapat diakses melalui website BSN. Selain itu SNI juga didistribusikan
ke sekretariat Komite Teknis yang ada di kementerian/lembaga untuk
dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan sesuai dengan fungsinya.
Cara distribusi yang alain adalah melalui PNBP atau Pendapatan Negara
Bukan Pajak. Dengan cara PNBP ini maka pengguna harus mengganti
biaya reproduksi senilai tertentu. Kajian ini dimaksudkan mempelajari
permintaan SNI oleh pemangku kepentingan yang diminta melaui PNBP
selama 2012-2015. Hasil kajian menemukan bahwa masih banyak SNI
dengan penetapan lama masih diminta oleh pemangku kepentingan.

Kata Kunci: Standardisasi; SNI; Standar Nasional Indonesia; Badan


Standardisasi Nasional; BSN.

Pendahuluan

Istilah standar mengacu pada persyaratan teknis atau sesuatu yang dibakukan,
termasuk tata cara dan metode yang disusun bertdasarkan konsensus semua
pihak/pemerintah/keputusan internasional yang terkait dengan memperhatikan syarat
keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, pengalaman, serta perkembangan masa kini dan masa
depan untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya (Badan Standardisasi Nasional,
2015). Standardisasi adalah proses merencanakan, merumuskan, menetapkan,
menerapkan, memberlakukan, memelihara dan mengawasi standar yang dilaksanakan
secara tertib dan bekerjasama dengan semua pemangku kepentingan. Badan
Standardisasi Nasional (selanjutnya disebut BSN) adalah lembaga pemerintah

1 Pustakawan Utama yang sedang dibebaskan sementara. Saat ini menjabat sebagai Kepala Pusat Informasi
dan Dokumentasi Standardisasi, Badan Standardisasi Nasional (BSN).
2 Pustakawan Madya pada Perpustakaan Badan Standardisasi Nasional (BSN)
3 Pustakawan Pertama (sedang dalam proses pengangkatan) pada Perpustakaan Badan Standardisasi

Nasional (BSN)
4 Calon Pustakawan pada Perpustakaan Badan Standardisasi Nasional (BSN)

3
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

nonkementerian di Indonesia yang saat ini bertugas dan bertanggung jawab di bidang
standardisasi ini.

Dalam rangka menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, BSN menetapkan


produk standar yang disebut SNI (Standar Nasional Indonesia). SNI merupakan
standar yang berlaku secara nasional di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
BSN memiliki peran untuk menyebarluaskan budaya standar dan kesadaran
masyarakat tentang pentingnya standar dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu unit
kerja BSN yang berperan dalam penyebarluasan budaya standar ini adalah
perpustakaan. Perpustakaan BSN mengelola koleksi dokumen standar, baik itu SNI
maupaun standar mancanegara seperti ISO, IEC, ASTM dan lain-lain.

Dokumen standar (Badan Standardisasi Nasional, 2015)merupakan salah satu


jenis koleksi perpustakaan belum begitu populer bagi banyak perpustakaan. Terbukti
banyak perpustakaan yang belum menjadikan dokumen standar sebagai salah satu
koleksinya. Dokumen standar merupakan dokumen yang berisi ketentuan atau
spesifikasi atau suatu persyaratan tertentu yang digunakan secara umum oleh
masyarakat. Pengertian yang lebih spesifik adalah dokumen yang berisi spesifikasi
teknis yang dibuat berdasarkan kesepakatan (konsensus) para pengguna suatu
barang/jasa (stakeholders) dan digunakan secara berulang (Badan Standardisasi
Nasional, 2015). Perpustakaan BSN merupakan perpustakaan yang salah satu
tugasnya adalah melayankan distribusi dokumen SNI tersebut ke masyarakat,
khususnya yang menjadi pemangku kepentingan bidang standardisasi.

Jumlah koleksi SNI perpustakaan BSN adalah sebesar 10.660 SNI pada tahun
2015. Sebagian dari SNI tersebut sudah diabolisi atau ditarik dari peredaran karena
sudah tidak sesuai dengan perkembangan baik ilmu pengetahuan, teknologi maupun
kebutuhan masyarakat. Jumlah SNI yang diabolisi adalah sejumlah 1.866 SNI.
Dengan demikian, SNI yang masih aktif dan bisa digunakan oleh masyarakat adalah
sebesar 8.794 SNI.

Berdasarkan data jumlah SNI tersebut, penulis ingin mengkaji seberapa


banyak jumlah SNI yang benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat melalui
Perpustakaan BSN. Penulis membatasi kajian ini berdasarkan permintaan dokumen
SNI melalui layanan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) yang menjadi salah
satu layanan yang diberikan oleh Perpustakaan BSN.

4
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Tujuan dan Manfaat Kajian


Kajian ini dilakukan dengan tujuan untuk:

1. Mengetahui peta permintaan SNI melalui layanan PNBP selama 2012-2015.

2. Mengetahui SNI yang tidak pernah diminta selama 2012-2015.

3. Mengetahui peta pengguna SNI sesuai dengan kelompok pemangku kepentingan.

Berdasarkan tujuan tersebut, kajian ini akan bermanfaat untuk:

1. Menghasilkan rekomendasi bagi pihak terkait untuk melakukan kaji ulang SNI.

2. Memberikan masukan bagi BSN terkait strategi pemasyarakatan SNI.

3. Memberikan masukan bagi BSN, khususnya Perpustakaan untuk mengatur


strategi distribusi SNI.

Metodologi Kajian

Kajian ini merupakan kajian deskriptif komparatif. Menurut Whitney (Nazir,


2005), menyatakan bahwa metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan
interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam
masyarakat serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi termasuk
hubungan, kegiatan sikap pandangan serta proses yang sedang berlangsung dan
pengaruh dari suatu fenomena (Hasan, 2004). Dalam metode deskriptif, peneliti bisa
saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan studi
komparatif.

Menurut Nazir (2005), penelitian komparatif adalah sejnis penelitian deskriptif


yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab-akibat, dengan
menganalisis faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding, sebab
penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. Metode penelitian komparatif
merupakan ex post facto. Artinya, data dikumpulkan setelah semua kejadian selesai
berlangsung. Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan
sebab-akibat dari data yang tersedia.

Kajian ini mempelajari permintaan SNI kepada Perpustakaan BSN oleh


masyarakat pemangku kepentingan melalui PNBP selama tahun 2012-2015. Data

5
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

permintaan SNI kepada Perpustakaan BSN melalui PNBP dari masyarakat pada tahun
2012 sampai 2015 diambil dari basisdata SIM Pustaka. Data tersebut kemudian
dibandingkan dengan basisdata koleksi SNI yang ada dalam Sistem Informasi SNI.
Jika data SNI ada dalam kedua basisdata tersebut, maka data dicatat dalam tabel SNI
yang pernah diminta dalam kurun waktu 2012-2015. Sisanya adalah SNI yang tidak
pernah diminta lagi selama kurun 2012-2015. Tabel tersebut kemudian dianalisis dan
dibuat kesimpulannya.

Tinjauan Pustaka

Perpustakaan Khusus Instansi Pemerintah


Menurut SNI 7496:2009, perpustakaan khusus instansi pemerintah merupakan
salah satu jenis perpustakaan yang dibentuk oleh lembaga pemerintah yang
menangani atau mempunyai misi bidang tertentu dengan tujuan untuk memenuhi
kebutuhan materi perpustakaan/informasi di lingkungannya dalam rangka mendukung
pencapaian misi instansi induknya.
Kemudian untuk mendukung misi tersebut, perpustakaan khusus instansi
pemerintah memiliki fungsi sebagai berikut:
a) mengembangankan koleksi yang menunjang kinerja lembaga induknya;
b) menyimpan semua terbitan dari dan tentang lembaga induknya;
c) menjadi focal point untuk informasi terbitan lembaga induknya;
d) menjadi pusat referal dalam bidang yang sesuai dengan lembaga induknya;
e) mengorganisasi materi perpustakaan;
f) mendayagunakan koleksi;
g) menerbitkan literatur sekunder dan tersier dalam bidang lembaga induknya,
baik cetak maupun elektronik;
h) menyelenggarakan pendidikan pengguna;
i) menyelenggarakan kegiatan literasi informasi untuk pengembangan
kompetensi SDM lembaga induknya;
j) melestarikan materi perpustakaan, baik preventif maupun kuratif;
k) ikut serta dalam kerjasama perpustakaan serta jaringan informasi;
l) menyelenggarakan otomasi perpustakaan;
m) melaksanakan digitalitasi materi perpustakaan;

6
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

n) menyajikan layanan koleksi digital;


o) menyedikan akses informasi pada tingkat lokal, nasional, regional dan global
(Badan Standardisasi Nasional, 2009).
Terkait dengan topik kajian ini, Perpustakaan BSN termasuk dalam jenis
perpustakaan khusus instansi pemerintah. Tugas dan fungsi yang relevan terkait peran
Perpustakaan BSN dalam mendistribusikan SNI sebagai proses penyebarluasan
budaya standar kepada masyarakat adalah terkait dengan tugasnya untuk memberikan
jasa perpustakaan dan informasi serta fungsinya untuk menjadi focal point untuk
informasi terbitan lembaga induknya. Dalam hal ini SNI merupakan produk terbitan
BSN. Fokus kajian ini pada peran Perpustakaan BSN dalam mendistribusikan SNI
melalui layanan PNBP kepada masyarakat.

Standar dan Manfaat Standar

Dokumen standar merupakan salah satu jenis koleksi perpustakaan yang


termasuk ke dalam kelompok literatur primer (Saleh & Mustafa, 2009). Namun
demikian, tidak banyak perpustakaan yang menyadari pentingnya peran dokumen
standar didalam mendukung referensi informasi dalam bidang industri dan
perdagangan. Saat ini, ketika era perdagangan bebas dimulai, maka standar
memegang peranan penting dalam meningkatkan daya saing produk dan jasa yang
diperdagangkan.

Secara umum standar didefinisikan sebagai (1) ukuran tertentu yg dipakai


sebagai patokan; (2) sesuatu yang dianggap tetap nilainya sehingga dapat dipakai
sebagai ukuran nilai (harga); atau (3) baku (Pusat Bahasa Depdiknas, 2008).
Sedangkan pengertian yang lebih spesifik diberikan oleh Sunarya seperti berikut:
Dokumen tertulis yang berisi spesifikasi/ ketentuan teknis yang digunakan secara
berulang dan disepakati secara konsensus oleh pihak-pihak yang mempengaruhi pasar
(produsen dan konsumen) yang juga melibatkan fasilitator, yaitu regulator dan para
pakar (Sunarya, 2012). Saat ini peran standar semakin dirasakan sangat penting
terutama dalam rangka meningkatkan kualitas produk untuk meningkatkan daya saing
dalam perdagangan. Selain itu, kontribusi istimewa standar diantaranya untuk
melindungi masyarakat terkait kesehatan, keselamatan, keamanan, dan pelestarian
lingkungan hidup atau yang dikenal dengan K3L. Secara umum penggunaan standar
memberikan manfaat seperti (Badan Standardisai Nasional, 2014):

7
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

1. Memperlancar transaksi arus barang dan jasa dalam perdagangan domistik


maupun internasional dalam menghilangkan hambatan teknis dalam
perdagangan melalui harmonisasi standar.

2. Membantu mempercepat diseminasi sistem manajemen, teknologi dan


inovasi, khususnya di kalangan Usaha Kecil dan Menengah di banyak
negara termasuk di negara-negara berkembang.

3. Meningkatkan daya saing bisnis dengan fokus pada mutu, keamanan,


keselamatan, kesehatan, dan pelestarian lingkungan.

4. Memfasilitasi penilaian dan pembuktian kesesuaian.

5. Optimalisasi infrastruktur standardisasi

Prinsip Penerapan Standar

Penerapan standar merupakan kegiatan menerapkan persyaratan standar


terhadap barang, jasa, sistem, proses atau personel. Suatu standar dibuat melalui
kesepakatan atau consensus, memberikan sifat yang pada dasarnya ialah voluntary
(sukarela) (Badan Standardisai Nasional, 2014). Penerapan standar secara voluntary
didasarkan oleh inisiatif dari organisasi/personel sendiri. Tentunya upada untuk
menerapkan standar tersebut dilakukan dengan tujuan tertentu, misalnya untuk
memberi jaminan bahwa produk sesuai dengan keinginan konsumen atau pembeli
karena konsumen menginginkan produk dengan mutu tertentu. Dengan demikian,
penerapan standar akan memberikan kontribusi nyata terhadap keuntungan suatu
organisasi dan meningkatkan daya saing produk.

Namun, adakalanya standar yang dikeluarkan terkait dengan faktor


keselamatan, keamanan, kesehatan dan fungsi lingkungan hidup. Maka standar yang
dimaksud dapat diberlakukan secara wajib (mandatory/compulsory). Berbeda dengan
penerapan standar secara voluntary, standar yang diberlakukan wajib bersifat
mengikat. Dalam artian, harus dipenuhi oleh seluruh pihak yang terkait, yaitu
produsen, pengedar barang/jasa atau pengguna standar lainnya. Pemberlakuan standar
secara wajib diatur oleh suatu regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah
(regulator/kementerian/lembaga).

8
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Jenis Standar

Berdasarkan lingkup beroperasinya standar maka standar digolongkan


menjadi: (1) Standar individu; (2) Standar perusahaan; (3) Standar asosiasi; (4)
Standar Nasional; (5) Standar regional; dan (6) Standar internasional (Badan
Standardisai Nasional, 2009). SNI merupakan standar yang memiliki ruang lingkup
operasi di tingkat nasional yaitu Republik Indonesia.

Pengguna Standar Nasional Indonesia (SNI)

Pengguna Standar Nasional Indonesia atau SNI terdiri dari empat kelompok
seperti: (1) Pelaku Usaha/Industri; (2) Pemerintah atau regulator; (3) Pakar dan
akademisi; dan (4) Masyarakat umum atau termasuk konsumen. Pengguna SNI
tersebut dapat memperoleh dokumen SNI dari berbagai saluran yang berujung di
Perpustakaan BSN. BSN melalui perpustakaan BSN mendistribusikan SNI ke
masyarakat yang menjadi pemangku kepentingannya seperti ke sekretariat komite
teknis, kementerian/lembaga, universitas yang memiliki kerjasama dengan BSN, dan
lain-lain.

PNBP
Pada dasarnya, penerimaan negara terbagi atas dua jenis penerimaan, yaitu
penerimaan dari pajak dan penerimaan bukan pajak yang disebut penerimaan negara
bukan pajak (PNBP). Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang
Penerimaan Negara Bukan Pajak, PNBP adalah seluruh penerimaan pemerintah pusat
yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. PNBP merupakan lingkup keuangan
negara yang dikelola dan dipertanggungjawabkan sehingga Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) sebagai lembaga audit yang bebas dan mandiri turut melakukan
pemeriksaan atas komponen yang mempengaruhi pendapatan negara dan merupakan
penerimaan negara sesuai dengan undang-undang (Wikipedia, 2015).
Penyelenggaraan PNBP ini biasanya dilakukan terhadap layanan-layanan yang belum
mampu dibiayai oleh negara melalui APBN. Dalam hal ini instansi pemerintah
penyelenggara PNBP mengenakan biaya terhadap layanan yang diberikan kepada
masyarakat.

PNBP dipungut atau ditagih oleh instansi pemerintah dengan perintah undang-
undang atau peraturan pemerintah atau penunjukan dari menteri keuangan
berdasarkan rencana PNBP yang dibuat oleh pejabat instansi pemerintah tersebut.

9
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

PNBP yang telah dipungut atau ditagih tersebut kemudian disetorkan ke kas negara
dan wajib dilaporkan secara tertulis oleh pejabata instansi pemerintah kepada menteri
keuangan dalam bentuk Laporan Realisasi PNBP. BSN memberikan layanan
reproduksi SNI kepada masyarakat dengan PNBP yang diatur melalui Peraturan
Pemerintah Nomor 62 Tahun 2007 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan
Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Badan Standardisasi Nasional.

Hasil dan Pembahasan

Pengguna Dokumen SNI

Permintaan SNI melalui PNBP selama empat tahun dari tahun 2012-2015
dilakukan oleh sebanyak 2.998 pemangku kepentingan dimana sejumlah 1.943 adalah
lembaga atau perusahaan dan 1055 pemangku kepentingan berupa individu/ pribadi
dengan jumlah transaksi sebesar 16.257 permintaan SNI. Tabel 1 berikut
memperlihatkan komposisi pemangku kepentingan yang melakukan transaksi
permintaan SNI.

Tabel 1. Jumlah Kelompok Pemangku Kepentingan Pengguna SNI tahun 2012-2015

Kelompok Jumlah
Pelaku Usaha 1.605
Pemerintah 181
Akademisi 157
Masyarakat/Konsumen 1.055
Total 2.998

Sebagian besar permintaan SNI melalui PNBP kepada Perpustakaan BSN


datang dari kelompok Pelaku Usaha yaitu sebesar 10.365 transaksi atau 63,76 % pada
tahun 2012-2015, diikuti oleh kelompok Akademisi sebesar 2.513 transaksi atau
sebesar 15,46 %. Sedangkan posisi ketiga adalah permintaan dari instansi pemerintah
dengan jumlah transaksi sebesar 2.324 atau sebesar 14,30 %, dan terakhir permintaan
dari masyarakat umum atau konsumen yaitu sebesar 1.055 transaksi atau sebesar 6,49
%. Tabel 2 berikut memperlihatkan gambaran jumlah permintaan SNI dari masing-
masing kelompok pengguna.

10
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Tabel 2. Jumlah Transaksi Permintaan SNI oleh Kelompok Pemangku Kepentingan


Tahun 2012-2015

Kelompok Pemakai Jumlah %


Permintaan
Pelaku Usaha 10.365 63,76
Pemerintah 2.324 14,30
Akademisi 2.513 15,46
Masyarakat/Konsumen 1.055 6,49
Total 16.257 100

Dokumen SNI yang Diminta

Dokumen SNI diperoleh melalui berbagai macam cara antara lain:

1. Melalui pengunduhan satu tahun pertama semenjak SNI ditetapkan

2. Melalui permintaan ke Perpustakaan BSN via PNBP

3. Melalui Sekretariat komite teknis yang ada di kementerian

4. Melalui saluran-saluran lain

Pemanfaatannya tentu bermacam-macam juga tergantung dari jenis


pemakainya antara lain sebagai berikut:

1. Sebagai referensi untuk menjamin mutu produk, seperti penerapan SNI dalam
proses produksi, SMM, SNI Produk.

2. Sebagai acuan pengujian, sertifikasi SNI, Mutual Recognition Arrangement


(MRA) dan Multi Lateral Recognition Arrangement (MLA).

3. Adopsi SNI menjadi regulasi teknis, berperan dalam penerapan SNI, pengawasan
dan pembinaan.

4. Sebagai acuan/referensi penelitian, inovasi teknologi dan produk.

5. Referensi menjamin keamanan, keselamatan dan kesehatan.

6. Sebagai acuan/ referensi pendidikan dan penelitian profesi (mahasiswa, dosen,


peneliti, pustakawan).

11
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Tabel 3. Jumlah SNI yang Diminta melalui PNBP selama 2012-2015


Berdasarkan Tahun SNI

Tahun SNI Jumlah SNI diminta pada Tahun Total permintaan


diminta 2012 2013 2014 2015 selama 4 tahun

1987 16 - - 34 50
1988 - 31 33 - 64
1989 157 143 189 139 628
1990 35 - - 25 60
1991 71 49 55 46 221
1992 75 157 152 95 479
1993 - - - - -
1994 61 54 29 47 191
1995 75 85 75 51 286
1996 90 74 61 225 450
1997 3 7 4 7 21
1998 110 132 110 105 457
1999 63 43 55 25 186
2000 116 158 94 70 438
2001 54 81 39 22 196
2002 154 168 95 91 508
2003 23 36 22 24 105
2004 34 61 40 59 194
2005 73 100 90 79 342
2006 60 55 38 60 213
2007 18 45 43 4 110
2008 75 103 74 105 357
2009 128 169 129 161 587
2010 77 102 70 117 366
2011 84 258 115 161 618
2012 29 131 91 135 386
2013 - 70 122 122 314
2014 - - 58 118 176
2015 - - - 66 66

Permintaan SNI yang dicatat oleh BSN yang paling lengkap adalah
permintaan via PNBP. Data permintaan PNBP pertahun selama 4 tahun terakhir
(2012-2015) terlihat seperti pada tabel 3 berikut.

Dari tabel 3 tersebut terlihat bahwa SNI yang ditetapkan di atas lima tahun
terakhir masih banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Padahal menurut teori, sebuah
standar idealnya setiap lima tahun terakhir dikaji ulang. Hal ini karena agar sebuah

12
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

standar dapat terus sesuai dengan perkembangan jaman baik dari aspek
perkembangan ilmu, teknologi, maupun aspek kebutuhan pasar.

Dari tabel 3 tersebut terlihat bahwa SNI yang ditetapkan pada tahun tertentu
dan diminta pada tahun yang sama jumlahnya sangat sedikit. Sebagai contoh pada
tahun 2012 SNI penetapan tahun 2012 yang diminta hanya berjumlah 29 SNI. Padahal
jumlah SNI yang ditetapkan pada tahun 2012 berjumlah 500 SNI. Begitu juga pada
tahun-tahun berikutnya, seperti pada tahun 2013 hanya 70 SNI; tahun 2014 hanya 58;
dan tahun 2015 hanya 66 SNI. Ada dua hal yang mungkin menyebabkan hal demikian
yaitu:

1. Kemungkinan SNI yang baru ditetapkan tersebut belum dikenal/ diketahui oleh
masyarakat sehingga belum banyak diminta.

2. Kemungkinan karena SNI tersebut dapat diperoleh secara gratis dengan


mengunduhnya dari situs web BSN.

Jika penyebab pertama yang terjadi, maka pihak BSN harus lebih gencar lagi
mempromosikan SNI yang baru ditetapkan supaya masyarakat bisa lebih cepat
mengetahui dan menggunakan. Namun demikian, penerapan standar baru biasanya
tidak serta merta menggantikan penerapan standar yang lama. Perlu proses dan
penyesuaian-penyesuaian. Apalagi penerapan standar di perusahaan atau lembaga
yang telah tersertifikasi dengan standar sebelumnya. Karena itulah maka standar baru
atau yang baru ditetapkan tidak serta merta diminta oleh masyarakat atau pengguna
standar.

Jika kemungkinan kedua yang terjadi, maka wajar jika pengguna standar tidak
segera meminta via PNBP karena pengguna masih bisa memperoleh dokumen standar
baru tersebut secara gratis dengan mengunduhnya dari situs webnya BSN.

Tabel 4. Jumlah Permintaan SNI per Tahun dari tahun 2012-2015


Tahun Permintaan Permintaan Total Dokumen
SNI
2012 Jumlah permintaan 1.681 9.337
% terhadap total dokumen 18,0
2013 Jumlah permintaan 2.312 9.765
% terhadap total dokumen 23,7
2014 Jumlah permintaan 1.883 10.161

13
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

% terhadap total dokumen 18,5


2015 Jumlah permintaan 2.193 10.661
% terhadap total dokumen 20,6

Dalam kurun waktu empat tahun yaitu 2012 – 2015 dokumen SNI yang
diminta tersebut ada yang selalu diminta setiap tahun, tetapi ada yang hanya muncul
di satu tahun, di dua tahun, atau di tiga tahun. Karena itu jumlah permintaan selama
empat tahun tersebut tidak bisa langsung dijumlah dari permintaan masing-masing
tahun, namun harus dilihat permintaan selama empat tahun terakhir. Jumlah tersebut
adalah sebesar 4.691 judul dokumen SNI atau sebesar 44 % dari total judul SNI, atau
53,3 % terhadap SNI aktif, dengan total transaksi sebanyak 14.452 permintaan. Daftar
SNI yang diminta selama kurun waktu 4 tahun terakhir (2012-2015) dapat dilihat
pada lampiran 1.

Yang menarik adalah cukup banyak dokumen SNI yang tidak pernah diminta
melalui PNBP selama 4 tahun terakhir yaitu berjumlah 5.981 dokumen atau sebesar
56 % dari total SNI. SNI tidak diminta karena antara lain:

1. Sudah diabolisi sehingga tidak digunakan lagi.

2. Sudah kedaluarsa dan tidak sesuai dengan kebutuhan walaupun belum diabolisi.

3. Tidak dibutuhkan karena tidak sesuai dengan perkembangan teknologi.

4. Pemakai tidak tahu bahwa SNI tersebut ada.

Jumlah transaksi permintaan SNI yang dipenuhi oleh Perpustakaan BSN


selama periode 2012 – 2015 adalah sebesar 14.452 transaksi. SNI yang paling banyak
diminta adalah SNI ISO/IEC 17025:2008 dengan judul “Persyaratan umum untuk
kompetensi laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi” yaitu dengan jumlah
266 permintaan. Tabel 5 berikut memperlihatkan 10 judul SNI paling banyak diminta
selama 2012-2015.

Tabel 5. 10 Judul SNI Paling Banyak Diminta selama 2012 - 2015


Jumlah
No Nomor SNI Judul
diminta
1 SNI ISO/IEC Persyaratan umum untuk kompetensi 266
17025:2008 laboratorium pengujian dan laboratorium
kalibrasi
2 SNI ISO 9001:2008(E) Sistem manajemen mutu - Persyaratan 178
3 SNI ISO/IEC Penilaian kesesuaian - Persyaratan untuk 141
17065:2012 lembaga sertifikasi produk, proses dan jasa

14
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Jumlah
No Nomor SNI Judul
diminta
4 SNI ISO/IEC Penilaian kesesuaian - Persyaratan untuk 111
17020:2012 pengoperasian berbagai lembaga inspeksi
5 SNI 0225:2011 Persyaratan umum instalasi listrik (PUIL 106
2011)
6 SNI ISO 9000:2008 Sistem manajemen mutu - Dasar-dasar dan 72
kosa kata
7 SNI ISO 50001:2012 Sistem manajemen energi - Persyaratan 71
dengan pedoman penggunaan
8 SNI ISO 15189:2012 Laboratorium medik - Persyaratan mutu 66
dan kompetensi
9 SNI ISO/IEC Penilaian kesesuaian - Persyaratan lembaga 64
17021:2011 penyelenggara audit dan sertifikasi sistem
manajemen
10 SNI ISO 19011:2012 Panduan audit sistem manajemen 58

Judul-judul SNI tersebut memang judul-judul SNI yang sangat populer.


Terbukti sebanyak lima judul SNI dari 10 yang paling populer tersebut di atas diminta
setiap tahun selama kurun waktu 2012-2015. Judul-judul tersebut adalah sebagai
berikut:

1 SNI ISO/IEC Persyaratan umum untuk kompetensi laboratorium


17025:2008 pengujian dan laboratorium kalibrasi
2 SNI ISO 9001:2008(E) Sistem manajemen mutu - Persyaratan
3 SNI 0225:2011 Persyaratan umum instalasi listrik (PUIL 2011)
4 SNI ISO 9000:2008 Sistem manajemen mutu - Dasar-dasar dan kosa kata
5 SNI ISO/IEC Penilaian kesesuaian - Persyaratan lembaga
17021:2011 penyelenggara audit dan sertifikasi sistem manajemen

Empat judul SNI diminta setiap tahun selama tiga tahun pada kurun waktu
2012-2015 yaitu:

1 SNI ISO/IEC Penilaian kesesuaian - Persyaratan untuk lembaga


17065:2012 sertifikasi produk, proses dan jasa
2 SNI ISO/IEC Penilaian kesesuaian - Persyaratan untuk pengoperasian
17020:2012 berbagai lembaga inspeksi
3 SNI ISO 50001:2012 Sistem manajemen energi - Persyaratan dengan
pedoman penggunaan
4 SNI ISO 19011:2012 Panduan audit sistem manajemen

15
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Hanya satu judul SNI saja dari 10 judul SNI terpopuler tersebut diminta setiap
tahun pada dua tahun selama 2012-2015 yaitu SNI ISO 15089:2012 dengan judul
“Laboratorium medik - Persyaratan mutu dan kompetensi”.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
Dari kajian di atas dapat disimpulkan bahwa:

1. Jumlah SNI yang diminta selama kurun waktu 2012-2015 berjumlah 4.691 judul
SNI dari total 10.660 judul SNI atau dari 8.794 judul SNI yang masih aktif.
Artinya ada sebanyak 5.981 judul SNI yang tidak pernah diminta lagi selama
kurun tersebut.

2. Masih banyak SNI bertahun lama yang masih dibutuhkan oleh masyarakat,
terbukti masih banyak permintaan SNI bertahun di bawah 2010.

3. Pemangku kepentingan pengguna terbesar adalah dari kelompok Pelaku usaha


yaitu sebesar 1.605 pengguna, diikuti oleh kelompok masyarakat umum yaitu
sebanyak 1.055 pengguna, kemudian pemerintah atau regulator sebanyak 181
pengguna, dan akademisi sebanyak 157 pengguna.

Saran
Dari kajian ini dapat disarankan sebagai berikut:

1. Perlu dilakukan kaji ulang terhadap SNI-SNI yang lebih dari 5 tahun, khususnya
yang masih dibutuhkan oleh pengguna.

2. Perlu dipertimbangkan untuk mengabolisi SNI-SNI yang tidak pernah lagi


dibutuhkan oleh pemakai.

3. Kajian ini baru dilakukan terhadap permintaan SNI melalui PNBP. Perlu
dilakukan kajian yang lebih menyeluruh dengan melibatkan data yang lebih luas
seperti data distribusi SNI melalui pengunduhan dari basisdata SISNI, data dari
distribusi ke komite teknis, data dari distribusi untuk pengguna internal BSN, data
dari distribusi SNI yang dilakukan oleh pihak-pihak lain di luar BSN, dan lain-
lain.

16
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Daftar Pustaka
Badan Standardisai Nasional. (2009). Pengantar Standardisasi. Jakarta: Badan
Standardisasi Nasional.
Badan Standardisai Nasional. (2014). Pengantar Standardisasi. Edisi ke 2. Jakarta:
Badan Standardisasi Nasional.
Badan Standardisasi Nasional. (2009). SNI 7496:2009 Perpustakaan Khusus Instansi
Pemerintah. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Badan Standardisasi Nasional. (2015). Manfaat Ekonomi Standar (Economic Benefit
of Standards). Jakarta, Indonesia: Badan Standardisai Nasional.
Badan Standardisasi Nasional. (2015). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian. Jakarta,
Indonesia: Badan Standardisasi Nasional.
Hasan, I. (2004). Analisis data penelitian dengan statistik. Jakarta: Bumi Aksara.
Nazir. (2005). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Pusat Bahasa Depdiknas. (2008). Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional RI.
Retrieved 02 25, 2016, from KBBI Daring:
http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/index.php
Saleh, A. R., & Mustafa, B. (2009). Bahan Rujukan Umum. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Sunarya, S. (2012). Standardisasi dalam industri dan perdagangan: Konsep dan
penerapan dalam globalisasi. Depok: Papas Sinar Sinanti.
Wikipedia. (2015). Wikipedia: Ensiklopedia bebas. Retrieved 02 25, 2016, from
Penerimaan Negara Bukan Pajak:
https://id.wikipedia.org/wiki/Penerimaan_Negara_Bukan_Pajak

17
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

18
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

PERSEPSI MASYARAKAT ILMIAH TERHADAP


PENGETAHUAN INFORMASI ILMIAH IPTEK NUKLIR DI INDONESIA
Noer’Aida, Irawan, R. Suhendani
PPIKSN-BATAN

ABSTRAK
Hingga saat ini, tingkat pengetahuan masyarakat terhadap pemanfaatan iptek nuklir masih relatif rendah. PPIKSN sebagai liaison
officer basis data International Nuclear Information System (INIS) di Indonesia telah melakukan sosialisasi ke 40 perguruan
tinggi di Indonesia. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat ilmiah di perguruan tinggi terhadap
pengetahuan informasi ilmiah iptek nuklir. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif dengan menggunakan
kuesioner sebagai alat pengumpul data utama. Populasi pengkajian adalah civitas akademika dari perguruan tinggi yang pernah
dilakukan diseminasi oleh PPIKSN BATAN. Sampel diambil dari peserta sosialisasi tahun 2010-2015 sebanyak 350 responden.
Kuesioner yang dikembalikan sebanyak 260 responden. Hasil yang diperoleh adalah sebanyak 86,54% responden mengetahui
BATAN, 91,54% responden sudah tahu PLTN, 87,69% sudah tahu tujuan PLTN, dan sikap terhadap rencana pembangunan
PLTN sebanyak 81,54% menyatakan sangat setuju dan setuju. Alasan tertinggi responden tidak setuju terhadap PLTN terbanyak
adalah karena masih banyak sumber energi lain. Persepsi positif responden tertinggi mengatakan banyak manfaat untuk
kesejahteraan masyarakat, sedangkan pendapat negatif mengatakan bahwa warga negara Indonesia belum disiplin, hanya
menguntungkan negara lain, dan negara koruptor belum pantas buat PLTN. Sedangkan pendapat responden terhadap INIS yaitu
dapat menjadi sumber referensi atau rujukan. Jenis literatur yang sering digunakan responden adalah artikel ilmiah yang
diterbitkan dalam prosiding, diikuti buku teks dan artikel yang diterbitkan dalam jurnal. Basis data INIS yang diharapkan
responden apabila dapat diakses melalui internet. Kegiatan sosialisasi perlu dilakukan secara terus menerus untuk memperoleh
hasil yang optimal.

Kata kunci: persepsi, informasi ilmiah, iptek nuklir, basisdata INIS, BATAN, PLTN

PENDAHULUAN
Persepsi merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi manusia dalam merespon
kehadiran berbagai aspek dan gejala di sekitarnya. Berbagai ahli telah memberikan definisi yang beragam
tentang persepsi, walaupun pada prinsipnya mengandung makna yang sama. Sugihartono, dkk (2007:8)
mengemukakan bahwa persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses
untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Ada yang mempersepsikan
sesuatu itu baik atau persepsi yang positif maupun persepsi negatif yang akan mempengaruhi tindakan
manusia yang tampak atau nyata [1].
Demkian pula persepsi masyarakat terhadap iptek nuklir masih beragam. Deputi Bidang
Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional
(BATAN), Ferhat Aziz mengatakan bahwa hingga saat ini, tingkat pengetahuan masyarakat terhadap
pemanfaatan iptek nuklir masih relatif rendah. Hal ini dimungkinkan terjadi karena masyarakat masih
belum banyak yang mengetahui kegiatan sosialisasi iptek nuklir yang telah dilakukan di berbagai media.
Masyarakat justru lebih tahu bahwa manfaat nuklir untuk senjata dan pembangkit listrik,” BATAN,
melalui satuan kerja yang dipimpinnya, sudah banyak melakukan kegiatan sosialisasi iptek nuklir,
termasuk dengan menggandeng tokoh-tokoh agama [2]. Namun dari hasil jajak pendapat beberapa bulan
lalu menggambarkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum mengetahui manfaat iptek nuklir,
meskipun dukungan terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) makin
meningkat dari 49,5% pada tahun 2011 menjadi 52,93%. Sehingga sampai saat ini, BATAN terus aktif
mensosialisasikan Iptek Nuklir untuk tujuan damai kepada masyarakat baik di dalam maupun di luar

19
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

negeri dengan mengadakan kegiatan seminar nasional maupun internasional membuatnya dikenal
berbagai media. Bahkan setelah dilakukan jajak pendapat sejak tahun 2010, pada tahun 2015 didapatkan
75,3% masyarakat menerima pembangunan PLTN sebagai salah satu alternatif penyedia kebutuhan listrik
di Indonesia [3].
Dalam keputusan Kepala BATAN Nomor: 093/KA/IV/2009 menjelaskan bahwa kebijakan dan
program diseminasi iptek nuklir senantiasa perlu dikaji ulang dan disesuaikan dengan dinamika dan
perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial politik dan budaya masyarakat. Hal ini perlu dilakukan
agar kemajuan serta keberhasilan yang telah dicapai dalam pembangunan dan pemanfaatan serta
pendayagunaan iptek nuklir dapat berkontribusi nyata bagi peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup
masyarakat [4].
Kegiatan diseminasi iptek nuklir memegang peranan penting dalam proses alih teknologi dan
pemanfaatan hasil litbangyasa BATAN oleh para pengguna dan pelaku kegiatan ekonomi. Selain itu,
publikasi ilmiah hasil litbangyasa BATAN secara reguler dikirim ke IAEA melalui International Nuclear
Information System (INIS) agar dapat di-shared dengan komunitas ilmiah dari negara lain (anggota INIS).
Melalui Pejabat Penghubung (liaison officer) INIS berkewajiban mendiseminasikan INIS ke masyarakat
ilmiah Indonesia agar dapat dimanfaatkan sebagai acuan litbangyasa.
Secara garis besar kegiatan diseminasi iptek nuklir dapat dibagi dalam 4 (empat) kelompok
kegiatan yaitu: 1). kelompok kegiatan penyampaian informasi tentang iptek nuklir dan hasil litbangyasa,
2). kelompok kegiatan pendayagunaan hasil litbangyasa, 3). Kelompok kegiatan kemitraan iptek nuklir
yang bersifat komersial, dan 4). Kelompok khusus kegiatan diseminasi publikasi ilmiah hasil litbang
iptek nuklir, khususnya diseminasi INIS-IAEA [4].
Salah satu sasaran kegiatan diseminasi yang antara lain adalah terselenggaranya kegiatan
diseminasi iptek nuklir serta promosi hasil litbangyasa BATAN, melalui kegiatan ceramah, seminar,
diskusi panel dan dialog publik, gelar teknologi, lokakarya, pameran, publikasi, dan program kunjungan
masyarakat ke berbagai fasilitas nuklir yang ada di BATAN dengan tujuan meningkatkan pemahaman
dan menumbuhkan persepsi positif masyarakat tentang iptek nuklir [4].
Sedangkan organisasi pelaksana kegiatan diseminasi selain salah satunya adalah Kepala Pusat
Pendayagunaan Informatika dan Kawasan Strategis Nuklir (PPIKSN) bertindak sebagai penanggung
jawab dalam pengelolaan sistem dan layanan serta pemutakhiran informasi hasil litbangyasa iptek nuklir
berbasis teknologi informasi dalam rangka mendukung penyebarluasan informasi demi keberhasilan
kegiatan diseminasi. Kepala PPIKSN sebagai Pejabat Penghubung (liaison officer) INIS-IAEA
berkewajiban mendiseminasikan INIS ke masyarakat ilmiah Indonesia, seperti perguruan tinggi, lembaga
penelitian, dan lain-lain.
Diseminasi informasi ilmiah iptek nuklir dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkan dan
memberikan pemahaman serta penerimaan masyarakat terhadap manfaat iptek nuklir untuk maksud
damai, sehingga diseminasi kepada masyakarat ilmiah khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi perlu
dilakukan untuk menumbuhkan minat mahasiswa melakukan penelitian di bidang iptek nuklir sehingga

20
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

akan tercipta regenerasi pakar nuklir atau pelaku kegiatan di BATAN dalam masa 10 tahun mendatang
akan pensiun.
Hingga saat ini, diseminasi basis data INIS ke Perguruan Tinggi telah dilakukan ke 40 perguruan
tinggi baik di dalam maupun di luar Jawa dengan nama kegiatan Pengenalan Informasi Ilmiah Iptek
Nuklir ke Perguruan Tinggi. Nama kegiatan ini dibuat karena materi yang disampaikan didahului oleh
materi tentang iptek nuklir sebagai pengantar agar terdapat kesepahaman tentang apa itu INIS. Hal ini
dilakukan untuk memberikan pengetahuan tentang manfaat teknologi nuklir agar diperoleh pemahaman
yang utuh terhadap pemanfaatan teknologi nuklir untuk kesejahteraan masyarakat. Untuk mengetahui
efektifitas tujuan, hasil atau dampak kegiatan Pengenalan Informasi Ilmiah Iptek Nuklir ke Perguruan
Tinggi, kepada setiap peserta diberikan kuesioner yang harus diisi. Hasil kuesioner tersebut menjadi
bahan kajian untuk mengetahui persepsi civitas akademika terhadap iptek nuklir serta membuat strategi
yang efektif pada kegiatan selanjutnya.
Pada tahun 2005 [5] dan 2006[6] telah dilakukan evaluasi terhadap kegiatan Sosialisasi Informasi
Iptek Nuklir ke 18 Perguruan Tinggi di Indonesia. Dari hasil isian kuesioner dapat disimpulkan bahwa
pelaksanaan sosialisasi sangat bermanfaat dan memberikan persepsi yang positif dan dukungan serta
saran yang membangun. Pengkajian tentang evaluasi hasil pengenalan informasi iptek nuklir ke
perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia sejak tahun 2010 sampai dengan 2015 dilakukan kembali
untuk mengetahui persepsi masyarakat ilmiah terhadap pengetahuan innformasi ilmiah iptek nuklir dari 7
(tujuh) perguruan tinggi yaitu: Universitas Negeri Surabaya (UNESA); Universitas Negeri Malang (UM)
Malang; Universitas Tadulako (UNTAD) Palu; Universitas Halu Oleo (UNHALU) Kendari; Universitas
Bangka Belitung (UBB) Bangka Belitung; Universitas Riau (UNRI) Pekanbaru; Universitas Mataran
(UNRAM) Mataram.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka yang menjadi permasalahan dalam pengkajian ini
adalah: sejauh mana persepsi masyarakat ilmiah terhadap pengetahuan informasi ilmiah iptek nuklir.
Adapun tujuan dari pengkajian ini adalah: untuk mengetahui pengetahuan dan persepsi responden tentang
BATAN, tentang PLTN, tentang sistem informasi ilmiah iptek nuklir internasional (INIS), mengetahui
penilaian responden terhadap kegiatan sosialisasi INIS, untuk mengetahui jajak pendapat responden
terhadap manfaat iptek nuklir terhadap kesejahteraan manusia.

METODOLOGI
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif dengan menggunakan kuesioner
sebagai alat pengumpul data utama / pokok (data primer). Dalam pengkajian ini yang dijadikan objek
pengkajian adalah peserta kegiatan diseminasi atau pengenalan informasi Ilmiah Iptek Nuklir ke
Perguruan Tinggi di Indonesia yang dilakukan oleh PPIKSN BATAN sebagai variabel penelitian
merupakan objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
Populasi pengkajian adalah civitas akademika dari perguruan tinggi yang pernah dilakukan
diseminasi oleh PPIKSN BATAN. Sampel pengkajian adalah peserta diseminasi ke 7 Perguruan Tinggi

21
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

di Indonesia sejak tahun 2010-2015 yaitu dari perguruan tinggi: Universitas Negeri Surabaya (UNESA);
Universitas Negeri Malang (UM) Malang; Universitas Tadulako (UNTAD) Palu; Universitas Halu Oleo
(UNHALU) Kendari; Universitas Bangka Belitung (UBB) Bangka Belitung; Universitas Riau (UNRI),
Pekanbaru; dan Universitas Mataran (UNRAM) Mataram sebanyak 350 rersponden.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan data yang telah dikumpulkan dari kuesioner yang di bagikan kepada responden, yang
mengembalikan kuesioner sebanyak 260 responden. Dalam kuesioner ini ditanyakan pengetahuan tentang
BATAN dan PLTN selain pertanyaan tentang INIS [7]. Adapun uraian hasil singkat dari hasil pengolahan
kuesioner adalah sebagai berikut:

ANALISIS DATA
1. Analisis Biodata Responden
Karakteristik atau identitas responden yang diambil dalam pengkajian ini meliputi pekerjaan /
profesi responden, tingkat pendidikan responden, dan bidang studi bidang studi atau keahlian
responden.
a. Biodata pekerjaan / profesi responden
Sebaran responden berdasarkan pekerjaan (profesi) ditunjukkan pada Tabel 1. Secara umum
profesi terbanyak dari responden adalah dosen 152 orang atau 58.46%, diikuti oleh mahasiswa adalah
74 orang atau 28.46% dan pustakawan 10%. Data ini menunjukkan ragam profesi yang mempunyai
minat terbesar untuk hadir adalah para dosen, diikuti mahasiswa, pustakawan dan karyawan.
Tabel 1. Biodata pekerjaan / profesi responden

b. Tingkat pendidikan responden


Pendidikan terakhir responden cukup beragam yaitu Sarjana Strata II (S2) 111 orang, (SMA/K)
67 orang, Sarjana Strata III (S3) 54 orang, Sarjana Strata I (S1) 26 orang dan Diploma 2 orang seperti
ditampilkan pada Tabel 2.

22
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Tabel 2. Biodata berdasarkan tingkat pendidikan responden

Data ini menunjukkan ragam tingkat pendidikan peserta yang memiliki animo untuk menghadiri acara
sosialisasi. Animo terbesar adalah dari peserta dengan tingkat pendidikan S2 sebesar 42,69%,
dilanjutkan dengan mahasiswa yang menjawab tingkat pendidikan masih SMA/K sebesar 25,77%, S3
sebesar 20,77%, S1 sebesar 10% dan diploma sebesar 0.77%.
Selain itu juga terlihat komposisi perbedaan tingkat pendidikan terakhir responden dari setiap PTN.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa peserta yang diharapkan hadir pada sosialisasi tersebut sesuai
dengan rencana. Dengan demikian, hasil isian kuesioner yang kembali cukup memiliki bobot dan
kualifikasi yang memadai.

c. Bidang Studi Responden


Selanjutnya latar belakang keahlian atau kepakaran atau bidang studi responden sangat beragam
yang terdiri atas 29 bidang studi. Urutan tiga besar teratas dari keahlian responden, yaitu: bidang studi
fisika 26.54%, diikuti oleh 16,92% bidang studi kimia, 16,54% bidang biologi dan selengkapnya dapat
di lihat pada Tabel 3. Berdasarkan data pada Tabel 3 tersebut, terlihat bahwa responden mempunyai
kredibilitas yang baik karena bidang studi responden sangat, termasuk ada pustakawan sebanyak 18
orang aatau 6,92% yang dapat mendiseminasikan kembali informasi ilmiah iptek nuklir yang ada
dalam basis data INIS ke pemustaka di perpustakaan jurusan atau fakultas. Secara umum terlihat
bahwa komposisi perbedaan bidang studi responden dari setiap PTN, di mana urutan 6 teratas
mempunyai keahlian di bidang MIPA yaitu Fisika, Kimia, Biologi, Matematika, Farmasi dan
pustakawan.

2. Analisis Pengetahuan dan Persepsi Responden


Dalam rangka mendukung visi misi BATAN, dalam kuesioner ditanyakan pengetahuan responden
tentang BATAN dan PLTN selain mengenai penelusuran informasi iptek nuklir atau INIS.

a. Pengetahuan Responden tentang BATAN


Berdasarkan hasil pengolahan data kuesioner terhadap responden tentang pengetahuan terhadap
BATAN dapat dilihat pada Tabel 4. Ternyata tidak semua responden mengenal BATAN. Sebanyak
86,54% responden sudah mengetahui BATAN, namun masih ada yang belum mengetahui apakah
BATAN itu yaitu sebanyak 13,46%.

23
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Tabel 3. Biodata berdasarkan bidang studi / keahlian responden

Tabel 4. Pengetahuan responden tentang BATAN

Atas dasar kenyataan tersebut maka sosialisasi institusi BATAN ke Perguruan Tinggi harus
ditingkatkan. Upaya-upaya kerja sama seperti ceramah, seminar, diskusi panel dan dialog publik, gelar
teknologi, lokakarya, pameran, “open house”, penyebaran publikasi dan informasi tercetak dan
elektronik, dengan tujuan meningkatkan pemahaman dan menumbuhkan persepsi positif masyarakat
tentang iptek nuklir harus ditingkatkan dan dilaksanakan secara berkesinambungan.

b. Pengetahuan Responden tentang PLTN


Selanjutnya mengenai PLTN, ternyata juga tidak semua responden mengenal PLTN seperti
terlihat pada Tabel 5. Sebanyak 91,54% responden sudah mengetahui PLTN namun masih ada yang
belum mengetahui PLTN sebesar 8,08%. Hal menarik yang perlu diperhatikan adalah ternyata
responden lebih mengenal PLTN dibandingkan dengan BATAN.

24
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Tabel 5. Pengetahuan responden tentang PLTN

c. Pengetahuan Responden tentang tujuan PLTN


Responden yang tidak mengetahui tujuan PLTN ditampilkan pada Tabel 6. Berdasarkan data
pada tabel tersebut, sebanyak 87,69% responden sudah mengetahui tujuan PLTN, dan 11,54% tidak
tahu dan terdapat 0,77% responden abstain. Hal ini lebih memperlihatkan secara umum bahwa
pengetahuan responden terhadap tujuan PLTN adalah positif. Namun masih terdapat yang belum
mengetahui tujuan PLTN. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sosialisasi informasi mengenai PLTN
dan manfaatnya masih kurang dan upaya-upaya sosialisasi informasi mengenai PLTN ke Perguruan
Tinggi perlu ditingkatkan.
Tabel 6. Pengetahuan responden terhadap tujuan PLTN

d. Sikap responden terhadap rencana pembangunan PLTN


Jajak pendapat mengenai rencana pembangunan PLTN ditanyakan kepada responden, dan dari
hasil penghitungan data kuesioner diperoleh sikap responden yang ditampilkan pada Tabel 7.
Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa sebagian besar yaitu sebanyak 31.54% menyatakan sangat
setuju, 50% menyatakan setuju. Namun terdapat sebesar 10% yang menyatakan tidak setuju dan
1,54% menyatakan sangat tidak setuju serta sebesar 6,92% menyatakan abstain. Terdapat berbagai
alasan responden yang menyatakan tidak setuju yang diajukan dalam jawaban terbuka yang
dirangkum secara terpisah.
Tabel 7. Sikap responden terhadap rencana pembangunan PLTN

25
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

3. Analisis pengetahuan dan kebutuhan jenis literatur responden


Untuk mengetahui minat dan kebutuhan masyarakat ilmiah di lingkungan PTN terhadap hasil
penelitian dan pengembangan iptek nuklir yang diwujudkan dalam bentuk 6 pertanyaan tertulis
mengenai INIS dan satu pertanyaan mengenai jenis literatur yang sering digunakan responden, dalam
kuesioner yang dibagikan di UM, UNHALU, UNESA, UNTAD, UNRI, UBB dan UNRAM, dan
menghasilkan informasi sebagai berikut:

a. Pengetahuan responden tentang Basis data INIS


Pengetahuan responden terhadap basis data INIS sebagian besar masih belum mengetahui seperti
terlihat pada Tabel 8 yaitu sebanyak 65,38% menyatakan tidak mengetahui apa itu basis data INIS,
hanya sebanyak 34,23% responden menyatakan mengetahui, dan 0.38% tidak menjawab atau abstain,
sehingga secara umum sebagian besar responden tidak mengetahui apa itu basis data INIS.
Tabel 8. Pengetahuan responden terhadap basis data INIS

b. Pengetahuan responden tentang lingkup bidang ilmu pada INIS


Selanjutnya adalah pengetahuan peserta terhadap lingkup bidang ilmu yang terdapat pada basis
data INIS dan diperoleh hasil sebanyak 65% belum mengetahui lingkup bidang INIS, dan hanya
33,46% yang sudah mengetahui seperti ditampilkan pada Tabel 9. Pengetahuan responden terhadap
lingkup bidang ilmu INIS sebagian besar menjawab tidak tahu.
Tabel 9. Pengetahuan responden terhadap lingkup bidang ilmu INIS

c. Jenis literatur yang sering digunakan responden


Jenis literatur yang sering digunakan oleh responden cukup beragam seperti terlihat pada Tabel
10. Sebagian besar responden membutuhkan informasi dari jenis literatur artikel ilmiah yang
diterbitkan dalam prosiding seminar sebesar 62,39%, diikuti buku teks sebesar 20,90% dan artikel
yang diterbitkan dalam jurnal sebesar 14,03%.

26
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Tabel 10. Jenis literatur yang sering digunakan responden

d. Jenis media yang diharapkan responden


Basis data INIS akan digunakan oleh 176 orang atau 59,46% responden apabila dapat diakses
melalui internet, dan 70 orang atau 23,65% dapat diakses melalui intranet dan yang lainnya seperti
terlihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Jenis media yang diharapkan untuk penelusuran basis data INIS

e. Alasan tidak menggunakan basis data INIS


Selanjutnya adalah alasan mengapa responden tidak mengetahui dan menggunakan basis data
INIS seperti ditampilkan pada Tabel 11. Sebanyak 47,67% mengatakan karena tidak tahu bahwa INIS
menawarkan informasi ilmiah dengan cuma-cuma, sebanyak 37,33% mengatakan karena tidak pernah
mendengar tentang sumber informasi INIS, dan sebanyak 12,33% mengatakan karena tidak tahu
lingkup bidang ilmu pada basis data INIS.
Tabel 11. Alasan responden tidak menggunakan basis data INIS

4. Penilaian responden terhadap kegiatan sosialisasi INIS


Peserta responden menilai sosialisasi INIS sangat bermanfaat dan bermanfaat seperti terlihat pada
Tabel 12. Artinya sebanyak 93.84% mengatakan kegiatan sosialisasi ini sangat bermanfaat dan
bermanfaat bagi responden karena memperoleh pengetahuan tentang iptek nuklir dan literature tentang
iptek nuklir dalam basis data INIS.

27
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Tabel 12. Penilaian responden kegiatan Sosialisasi INIS

B. ANALISIS HASIL KUESIONER PERTANYAAN TERBUKA


Terdapat 2 (dua) pertanyaan terbuka yang diajukan kepada responden yaitu tentang alasan
responden tidak setuju terhadap rencana pembangunan PLTN dan pendapat yang juga merupakan
persepsi dari responden mengenai Informasi Ilmiah Iptek Nuklir.
1. Alasan responden tidak setuju dengan rencana pembangunan PLTN
Jajak pendapat mengenai rencana pembangunan PLTN ditanyakan kepada responden, dan dari
hasil penghitungan data kuesioner diperoleh sikap responden yang ditampilkan pada Tabel 7. Terdapat
berbagai alasan responden yang menyatakan tidak setuju yang diajukan dalam jawaban terbuka secara
lengkap. Namun untuk lebih mudah memahami alasan dan saran yang diberikan oleh responden,
selanjutnya dikelompokkan berdasarkan alasan yang mirip atau sama dengan hasil seperti ditampilkan
pada Tabel 13.
Berdasarkan data pada Tabel 13 terlihat bahwa alasan-alasan tersebut menunjukkan responden
kurang memahami PLTN. Pemahaman bahwa masih banyak sumber energi lain paling banyak dijadikan
alasan oleh 18,18% responden, diikuti SDM BATAN yang dianggap belum memadai, perilaku warna
Negara kurang disiplin dan adanya kecelakaan nuklir di negara maju menjadi alasan dari sebanyak
11,36% responden. Sehingga teknologi PLTN yang sudah “Proven” mapan, aman dan bebas polusi dan
yang dapat mengatasi masalah langkanya sumber energi, sementara permintaan energi terus meningkat,
masih harus ditanamkan di kalangan Perguruan Tinggi. Pemahaman akan meningkatkan apresiasi
masyarakat ilmiah khususnya di kalangan Perguruan Tinggi yaitu mahasiswa, sehingga dan persetujuan
mereka terhadap pembangunan PLTN akan tercapai.

2. Pendapat responden terhadap sistem informasi ilmiah iptek nuklir setelah mengikuti sosialisasi
Terakhir kepada peserta ditanyakan bagaimana pendapatnya tentang sistem informasi ilmiah iptek
nuklir setelah mengikuti sosialisasi. Terdapat berbagai pendapat yang disajikan secara lengkap. Namun
untuk lebih mudah memahami pendapat dan saran yang diberikan oleh responden, selanjutnya
dikelompokkan berdasarkan pendapat yang mirip atau sama. Terdapat pendapat dari responden yang
berkaitan dengan INIS dan PLTN. Dari 246 responden yang menjawab saran atau pendapat, sebanyak 79
responden memberikan saran atau pendapat tentang INIS, dan 167 responden memberikan saran atau
pendapat yang berkaitan dengan PLTN baik yang positif maupun negatif.

28
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Tabel 13. Alasan responden tidak setuju dengan rencana pembangunan PLTN

Saran responden yang berkaitan dengan INIS diperoleh dari 79 responden yang ditampilkan pada
Tabel 14. Lima urutan tertinggi saran dari responden yaitu sebanyak 17,72% memberikan pendapat
bahwa INIS dapat menjadi sumber referensi atau rujukan, sebanyak 15,19% mengatakan INIS membantu
untuk memperoleh literatur, sebanyak 15,19% mengatakan INIS dapat menambah pengetahuan, sebanyak
12,66% responden mengatakan bahwa basis data INIS dapat memperoleh jurnal atau artikel internasional,
dan sebanyak 11,39% responden mengatakan INIS sangat diperlukan.
Tabel 14. Pendapat responden terhadap INIS
No. Pendapat Jumlah %
1 Sumber referensi 14 17.72
2 Membantu memperoleh literatur 12 15.19
3 Menambah pengetahuan 12 15.19
4 Dapat memperoleh jurnal / artikel internasional 10 12.66
5 Diperlukan 9 11.39
6 Bagus, menjadi tahu cara mengakses data dari INIS 8 10.13
7 Sangat lengkap 6 7.59
8 Harus ada tindak lanjut 3 3.80
9 Bagus, dapat mengirimkan paper 2 2.53
10 Bermanfaat untuk sosialisasi nuklir 1 1.27
11 Terus dikembangkan di Indonesia 1 1.27
12 Paten belum ada 1 1.27
Jumlah 79 100

29
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Selanjutnya adalah pendapat responden terhadap PLTN yang diperoleh dari 167 responden dan
dikelompokkan menjadi pendapat positif dan pendapat negatif seperti ditampilkan pada Tabel 15.
Pendapat positif dengan 5 urutan teratas adalah sebesar 30% responden mengatakan banyak manfaat
untuk kesejahteraan masyarakat, sebanyak mengatakan 26,95% responden mengatakan sangat
bermanfaat, sebanyak 10,18% responden mengatakan menambah pengetahuan, sebanyak 5,39%
responden mengatakan segera operasikan PLTN dan 5,39% mengatakan sosialisasi diperluas di semua
kalangan.
Sedangkan pendapat negatif dari responden terhadap PLTN meskipun hanya sedikit tetapi perlu
dijadikan masukan yang baik. Adapun pendapat negatif responden adalah sebanyak 1,20% responden
mengatakan bahwa Warga Negara Indonesia belum disiplin, sebanyak 0,60% responden mengatakan
hanya menguntungkan Negara lain dan 0,60% responden mengatakan bahwa Negara koruptor belum
pantas buat PLTN.
Tabel 15. Pendapat responden terhadap PLTN

No. Pendapat-pendapat Jumlah %

Positif
1 Banyak manfaat untuk kesejahteraan manusia 50 30
2 Sangat bermanfaat 45 26.95
3 Menambah pengetahuan 17 10.18
4 Segera dioperasikan PLTN 9 5.39
5 Sosialisasi di perluas di semua kalangan 9 5.39
6 Perlu disampaikan dampak positif dan negatifnya 5 2.99
7 Dikembangkan terus 5 2.99
8 Mendukung pengembangan penelitian 5 2.99
9 Cukup bermanfaat 5 2.99
10 Aplikasi teknologi nuklir 4 2.40
11 Terlalu global 1 0.60
12 Harus sesuai standard 1 0.60
13 Gunakan IT yang terkini 1 0.60
14 Pengelolaan dan metode yang cocok 1 0.60
15 Limbahnya dikelola dengan baik 1 0.60
16 Perlu model sosialisasi khusus untuk PT 1 0.60
17 SOP yang ketat 1 0.60
18 Mengurangi efek berbahaya dari CO2 1 0.60
19 Sosialisasikan ke FMIPA 1 0.60
Negatif
1 Watak WNI belum disiplin 2 1.20
2 Hanya menguntungkan negara lain 1 0.60
3 Negara koruptor belum pantas buat PLTN 1 0.60

Jumlah 167 100

30
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

KESIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa persepsi masyarakat
ilmiah dari 7 (tujuh) perguruan tinggi khususnya civitas akademika UM dan UNHALU, UNESA,
UNTAD, UNRI, UBB dan UNRAM terhadap pengetahuan informasi ilmiah iptek nuklir adalah positif
baik terhadap pengetahuan tentang BATAN, PLTN maupun basis data INIS.
Oleh karena itu PPIKSN melalui basis data INIS harus terus aktif mensosialisasikan Iptek Nuklir
untuk tujuan damai kepada masyarakat ilmiah khususnya perguruan tinggi baik dalam bentuk sosialisasi
maupun kegiatan sejenisnnya agar dapat membantu BATAN untuk meningkatkan peran nyata iptek
nuklir bagi peningkatan kesejahteraan dan perbaikan kualitas hidup masyarakat melalui program
pemanfaatan hasil litbangyasa.

UCAPAN TERIMA KASIH


Kami mengucapkan terima kasih kepada kepala subbidang MPN, Kepala Bidang SIMN dan
kepala PPIKSN selaku INIS liaison officer di Indonesia yang telah mengijinkan penulis untuk melakukan
kajian ini sebagai evaluasi untuk mengetahui sejauh mana efektifitas kegiatan sosialisasi iptek nuklir ke
perguruan tinggi yang telah dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sugihartono, dkk. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Pers, 2007.
2. http://www.biskom.web.id/2012/12/19/ferhat-aziz-sosialisasi-pltn-pakai-jejaring-sosial.bwi, Ditulis
pada 19 December 2012, diakses 12 Desember 2015.
3. http://www.BATAN.go.id/index.php/id/kedeputian/manajemen/hhk/1971-75-masyarakat-indonesia-
telah-siap-menerima-pltn, diakses 10 Desember 2015.
4. Keputusan Kepala BATAN Nomor: 093/KA/IV/2009 tentang petunjuk pelaksanaan manajemen
penelitian, pengembangan, perekayasaan, diseminasi, dan penguatan kelembagaan ilmu pengetahuan
dan teknologi nuklir.
5. PPIN, Laporan teknis sosialisasi informasi iptek nuklir di Indonesia, Serpong, 2005.
6. PPIN, Laporan teknis sosialisasi informasi iptek nuklir di Indonesia, Serpong, 2006.
7. PPIKSN, Laporan evaluasi hasil pengenalan informasi ilmiah iptek nuklir ke perguruan tinggi di
Indonesia, BATAN, Serpong, 2015.

31
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

32
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

PERAN PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN SITASI PUBLIKASI DI PUSAT


PENELITIAN EKONOMI LIPI

DWI UNTARI1

Abstrak

Salah satu indikator kinerja bagi peneliti adalah meningkatnya jumlah sitasi dari karya yang
dihasilkannya. Keterbukaan akses terhadap karya peneliti melalui media online mampu
meningkatkan sitasi karya peneliti. Sitasi menjadi bukti bahwa hasil karya nya memiliki dampak
bagi ilmu yang dikaji oleh peneliti tersebut. Dampak ini lah yang sedang ditingkatkan oleh LIPI
sebagai salah satu indikator kinerja peneliti, Perjanjian kinerja tahun anggaran 2016 di Pusat
Penelitian Ekonomi LIPI mencantumkan peningkatan sitasi dari publikasi sebanyak 55 sitasi
sebagai salah satu indikator dalam perjanjian kinerja. Pustakawan sebagai mitra kerja peneliti
berupaya memberikan dukungan kepada peneliti dalam rangka meningkatkan sitasi tersebut.
Tujuan artikel ini adalah memaparkan peran pustakawan dalam mendukung peneliti untuk
meningkatkan sitasi. Pustakawan selain membantu peneliti untuk mendapatkan referensi, juga
dapat membantu melakukan diseminasi hasil karya peneliti untuk bisa diakses secara terbuka
melalui media online. Media online terutama google scholar banyak dimanfaatkan untuk
meningkatkan sitasi karya peneliti, selain itu RePEc (Research Papers in Economics) membantu
diseminasi dalam bentuk database bibliografi. Research gate selain menjadi media diseminasi
hasil karya peneliti juga dapat menjadi media untuk berbagi pengetahuan dan memiliki fitur
laporan sitasi.

Tidak semua peneliti memiliki waktu untuk mengumpulkan hasil karya nya yang sudah
diterbitkan dalam bentuk cetak kemudian melakukan alih media dan menyimpan dalam
pangkalan data. Setelah disimpan dalam pangkalan data. Pangkalan data tersebut lah yang
kemudian bisa diintegrasikan dengan google scholar, RePec ataupun Research Gate. Peran
tersebut sangat mungkin dilaksanakan oleh pustakawan dalam membantu peneliti
mendiseminasikan hasil karyanya melalui media online.

Dengan memanfaatkan semua media online tersebut, karya peneliti di Pusat Penelitian
Ekonomi akan semakin tersebar dan banyak diakses oleh masyarakat, baik di dalam negeri atau
di luar negeri, dan tentunya keterbukaan akses akan mampu meningkatkan sitasi dari peneliti di
Pusat Penelitian Ekonomi LIPI.

Kata Kunci : Sitasi, Penelitian, Diseminasi, Pustakawan.

1
Pustakawan pada Pusat Penelitian Ekonomi Indonesia (P2EI) - LIPI

33
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

PENDAHULUAN

Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI memiliki target untuk menjadi lembaga penelitian di
bidang ekonomi yang memiliki kualitas dunia (world class university). Target tersebut tentunya
harus didukung oleh civitas yang memiliki keahlian dan kemampuan yang juga berkualitas
dunia. Peneliti sebagai salah satu civitas memiliki peranan yang sangat besar untuk
mewujudkan target P2E- LIPI menjadi world class university, dan tentunya harus didukung
dengan tenaga administrasi yang handal dimana salah satunya adalah pustakawan. Salah satu
indikator untuk menjadi lembaga penelitian dunia adalah memiliki peneliti dengan hasil karya
yang banyak disitasi oleh publik. Sitasi ini menjadi bukti bahwa hasil penelitian memiliki dampak
terhadap ilmu yang dikaji oleh peneliti tersebut, dan dampak ini yang sedang ditingkatkan oleh
LIPI sebagai salah satu indikator kinerja peneliti.

Dalam sasaran strategis yang terdapat di dokumen perjanjian kinerja P2E-LIPI tahun
2015, salah satunya mencantumkan meningkatnya kontribusi LIPI terhadap daya saing bangsa
berbasis hasil penelitian yang diturunkan dalam indikator berupa jumlah sitasi dari publikasi
sebanyak 508 cantuman. Pada tahun 2015 tersebut diperoleh realisasi sebesar 547 sitasi atau
107,7%. Data dalam laporan tahunan P2E-LIPI tahun 2015, menunjukkan bahwa dari 40 orang
peneliti yang terdapat di P2E-LIPI, 23 orang peneliti sudah terindeks dalam google scholar yang
artinya ada 23 orang yang karya tulisnya telah disitasi oleh penulis lain.

Indikator kinerja bagi peneliti dengan meningkatkan jumlah sitasi dari karya yang
dihasilkannya untuk perjanjian kinerja tahun anggaran 2016 di P2E-LIPI mencantumkan
peningkatan sitasi dari publikasi sebanyak 55 sitasi. Peningkatan sitasi ini membutuhkan upaya
lain, yaitu meningkatkan keterbukaan akses dari hasil karya peneliti. Keterbukaan akses
terhadap hasil penelitian akan mempermudah publik untuk membaca dan memanfaatkan hasil
penelitian tersebut. Sebagaimana dikatakan Romy Satrio Wahono, bahwa salah satu kunci
menduduki peringkat di Webometrics bagi Universitas adalah bagaimana universitas bisa
memperbanyak konten (scientific paper) yang dibagi ke publik, diindeks di mesin pencari, dan
sedikit kepintaran universitas memainkan Search Engine Optimization (SEO) untuk

34
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

mengarahkan mesin pencari ke situs universitas. Wahono (2007). Hal ini tentu berlaku pada
lembaga penelitian dalam mencapai world class university.

Dalam pernyataan Wahono (2007), upaya untuk memperbanyak konten yang dibagi ke
publik merupakan salah satu tugas pustakawan. Pustakawan di P2E-LIPI berjumlah dua orang.
Pustakawan dalam struktur organisasi berada dibawah Sub Bidang Pengelolaan Hasil Penelitian
yang sebelumnya bernama Sub Bidang Dokumentasi dan Informasi. Sub Bidang Pengelolaan
Hasil Penelitian memiliki tugas yaitu (1) Pengelolaan dokumentasi, data dan hasil-hasil
penelitian, (2) Pengelolaan hak kekayaan intelektual, dan (3) Pengelolaan sistem informasi,
Peran pustakawan di P2E-LIPI tidak lagi hanya mengelola perpustakaan dan koleksi dalam
bentuk tercetak , tetapi juga mengelola sistem informasi. Di sini peran pustakawan bertambah
sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi pustakawan. Tantangan tersebut adalah
penguasaan perkembangan teknologi dan literasi informasi.

Pustawakan di lembaga penelitian merupakan mitra kerja peneliti, hal ini menuntut
pustakawan untuk mampu menyediakan informasi dan membantu peneliti untuk
mendiseminasikan hasil karya peneliti kepada publik. Diseminasi yang dilakukan melalui
publikasi tercetak dan publikasi digital. Upaya untuk mendiseminasikan publikasi digital baru
mulai dilakukan pada tahun 2010. Peran pustakawan dalam melakukan diseminasi tersebut bisa
diterjemahkan sebagai upaya dalam memperbanyak konten dan memberikan keterbukaan
akses kepada publik, sekaligus sebagai sebuah upaya untuk meningkatkan sitasi peneliti di P2E-
LIPI.

TUJUAN

Tujuan penulisan artikel ini adalah memaparkan peran pustakawan dalam mendukung peneliti
untuk meningkatkan sitasi. Pustakawan selain membantu peneliti untuk mendapatkan
referensi, juga dapat membantu melakukan diseminasi hasil karya peneliti untuk bisa diakses
secara terbuka melalui media online. Kedua peran tersebut merupakan upaya pustakawan
dalam mendukung peneliti untuk meningkatkan sitasi publikasi yang telah diterbitkan oleh
Satuan Kerja.

35
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

TINJAUAN PUSTAKA

Pustakawan sebagai orang yang mengelola perpustakaan memiliki beragam peran tergantung
dari jenis perpustakaannya. Crosby (2000) menyebutkan ada empat perpustakaan yang
menentukan peran dari pustakawan.

1. Perpustakaan umum, dimana pustakawan bekerja dalam populasi yang berbeda.


2. Perpustakaan sekolah, dimana pustakawan bekerja dengan siswa dan guru; pustakawan
memiliki keahlian dalam mengajarkan literasi dan kemampuan meneliti
3. Perpustakaan akademik, dimana pustakawan bekerja dengan mahasiswa dan professor
pada universitas, pustakawan biasanya sudah terkonsentrasi pada satu subjek area
seperti seni, biologi atau sejarah dunia.
4. Perpustakaan khusus, dimana pustakawan bekerja untuk organisasi, seperti pustakawan
di rumah sakit yang membantu doctor melakukan penelitian. Pustakawan
mengumpulkan dan menyediakan informasi untuk membantu proses pengambilan
keputusan.

Pustakawan dibedakan berdasarkan , baik yang bekerja di perpustakaan sekolah, perpustakaan


umum atau perpustakaan khusus, harus beradaptasi dengan perubahan dan perkembangan
teknologi. Teknologi membantu pustakawan dalam menyediakan informasi yang berguna, dan
mengelola informasi tersebut. Rao (2001) menyebutkan bahwa peran baru pustakawan di
lingkungan internet dan world wide web adalah sebagai perantara penelusuran, fasilitator,
trainer produk akhir, pengelola website, knowledge manager dan penyaring informasi.

Perkembangan teknologi internet memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap berbagai
bidang, termasuk penelitian dan perpustakaan. Keterbukaan akses terhadap hasil penelitian
menunjukkan bahwa kekuatan internet untuk mendiseminasikan hasil penelitian kepada dunia
yang lebih luas. Sitasi terhadap publikasi peneliti kemudian menjadi indikator terhadap kinerja
peneliti itu sendiri.

36
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Cooper (2015) menyatakan bahwa penghitungan sitasi adalah jumlah berapa kali publikasi
tersebut disitir. Cooper juga mengatakan Web of Science merupakan sumber yang popular
untuk penghitungan sitasi. Namun untuk penghitungan sitasi yang memasukkan buku telah
dilakukan oleh Google.

PEMBAHASAN

Peneliti membutuhkan pustakawan sebagai mitra kerja dalam melaksanakan kegiatan


penelitian. Tugas utama yang dituntut oleh peneliti kepada pustakawan selama ini adalah untuk
menyediakan data dan informasi yang dibutuhkan. Namun dengan adanya penetapan indikator
kinerja peneliti yaitu meningkatnya sitasi publikasi, hal ini juga berdampak pada bertambahnya
tugas pustakawan.

Pustakawan di P2E-LIPI merupakan pustakawan yang bekerja di perpustakaan khusus di


lembaga pemerintah. Perpustakaan berada dibawah Sub Bidang Pengelolaan Hasil Penelitian
yang memiliki tugas yaitu (1) Pengelolaan dokumentasi, data dan hasil-hasil penelitian, (2)
Pengelolaan hak kekayaan intelektual, dan (3) Pengelolaan sistem informasi. Pengelolaan
dokumentasi, data dan hasil-hasil penelitian, dan hak kekayaan intelektual sejalan dengan
kegiatan pengelolaan perpustakaan. Tugas sebagai pengelola sistem informasi menempatkan
pustakawan sebagai ahli informasi dalam era informasi. Olivia Crossby (2000)

Peran pustakawan di P2E-LIPI secara umum bisa digambarkan dalam gambar berikut ini:

Pustakawan Pustakawan
Menyediakan data Mendiseminasikan
dan informasi untuk KEGIATAN hasil penelitian
kebutuhan penelitian PENELITIAN kepada publik

Gambar 1: Peran Pustakawan dalam kegiatan penelitian di P2E-LIPI


Sumber:penulis

37
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Gambar diatas menjelaskan bahwa pustakawan melakukan dua peranan pada kegiatan
penelitian di P2E-LIPI, yaitu

1. Pustakawan berperan dalam menyediakan data dan informasi bagi peneliti dalam
sebuah kegiatan penelitian, dan
2. Mendiseminasikan hasil penelitian kepada publik.

Menyediakan data dan informasi bagi Peneliti

Kegiatan penelitian yang dilaksanakan di P2E-LIPI membutuhkan banyak data dan informasi
sebagai referensi penelitian. Salah satu data yang banyak digunakan adalah data statistik,
terutama statistik yang diperoleh dari BPS. Selain itu peneliti juga banyak menggunakan buku
buku mengenai ekonomi, artikel di jurnal-jurnal ekonomi, dan lain-lain. Peneliti akan meminta
pustakawan untuk mengumpulkan seluruh data, informasi dan sumber referensi yang terkait
dengan subjek penelitiannya. Hal ini dirasakan oleh peneliti dapat mempermudah mereka
dalam menseleksi data, informasi dan sumber referensi yang akan mereka gunakan, sekaligus
menghemat waktu dalam melakukan penelusuran.

Perkembangan teknologi informasi membawa internet ke dalam berbagai bidang termasuk


perpustakaan. Dampak dari internet sangat kuat dan membawa perubahan dalam bidang kerja
perpustakaan. Peranan pustakawan dalam mengumpulkan data dan memilahnya sesuaid engan
kajian yang dibutuhkan merupakan salah satu peranan sebagai fasilitator dan sebagai peneliti.

Mendiseminasikan hasil penelitian kepada publik.

Pustakawan selain berperan dalam membantu peneliti untuk mendapatkan referensi,


juga berperan dalam membantu melakukan diseminasi hasil karya peneliti untuk bisa diakses
publik. Diseminasi dilakukan melalui publikasi tercetak dan publikasi digital. Publikasi digital
memberikan keuntungan lebih banyak bagi peneliti karena dapat memberikan akses secara
terbuka kepada publik melalui media online.

38
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Diseminasi publikasi tercetak dilakukan dengan mengirimkan publikasi kepada


stakeholder, lembaga yang menjadi objek penelitian, dan juga kepada publik yang mengirimkan
permintaan kepada P2E-LIPI. Pameran juga menjadi ajang untuk mendiseminasikan publikasi
kepada publik karena banyak pengunjung pameran yang tertarik pada publikasi hasil penelitian
dari P2E-LIPI. Pustakawan bertanggung jawab untuk melakukan pengiriman publikasi dan
melaksanakan pameran.

Diseminasi publikasi dalam bentuk digital baru mulai dilakukan pada tahun 2010. Tujuan
melakukan digitalisasi publikasi adalah melakukan efisiensi ruang penyimpanan. Kondisi ruang
perpustakaan yang berukuran 20x5 m dikhawatirkan tidak lagi dapat menampung koleksi
perpustakaan. Selain itu kondisi fisik publikasi sudah ada yang rusak karena termakan usia.
Pustakawan bertugas untuk menginventaris seluruh koleksi hasil penelitian P2E-LIPI dari tahun
1986 hingga tahun 2010. Setelah proses tersebut selesai, dilaksanakan proses alih media dan
baru selesai setelah lima tahun. Publikasi dalam bentuk digital ini kemudian diupload kedalam
pangkalan data. Pangkalan data ini lah yang menjadi media diseminasi berbasis online. Untuk
meningkatkan akses terhadap publikasi di pangkalan data, pangkalan data didaftarkan pada
google scholar agar masuk dalam indeks dan mesin pencari akan mengarahkan pencarian kata
kunci terkait ekonomi kepada laman pangkalan data.

Media online lain yang digunakan untuk mendiseminasikan publikasi hasil penelitian
adalah RePec (Research Paper in Economic). RePec mengumpulkan bibliografi dari kertas kerja
(working papers), artikel jurnal, buku, bagian buku, dan perangkat lunak pendukung (blog) yang
semuanya dikelola oleh volunteer. Layanan yang diberikan oleh RePec selain database
bibliografi diatas adalah blog aggregator untuk diskusi tentang penelitian ekonomi, direktori
institusi ekonomi,, pengecekan plagiarism, analisis sitas, dan beberapa layanan lain yang bisa
dilihat pada laman RePec. Gambar berikut adalah keberadaan Pusat Penelitian Ekonomi pada
direktori Institusi di laman RePec.

39
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Gambar berikut adalah artikel dari salah satu peneliti P2E-LIPI yang ditampilkan dalam lamar
Repec.

40
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Media online lain yang digunakan sebagai media diseminasi adalah Researchgate. Researchgate
ini berbeda dengan RePec. Perbedaan utamanya adalah untuk pengelolaan konten di
Researchgate adalah pada individu masing-masing. Semakin banyak publikasi yang ditampilkan
maka akan semakin banyak publik yang bisa membaca hasil penelitian dari peneliti tersebut.
Kemungkinan untuk meningkatkan sitasi dari publikasi peneliti tersebut akan semakin terbuka.
Researchgate menyediakan koneksi terhadap reviewer, dan ahli pada bidang kajian, juga
menyediakan laporan mengenai sitasi dari publikasi peneliti. Terakhir adalah tersedianya bagian
untuk diskusi. Researchgate mengarahkan peneliti untuk berbagi pengetahuan dan mengakses
hasil penelitian, pengetahuan dan pengalaman.

Open Jurnal Sistem

Open jurnal sistem merupakan software yang digunakan untuk mengelola jurnal mengelola
penerbitan jurnal. Riyanto (2016) mengatakan bahwa pengelolaan jurnal dan sistem penerbitan
yang dikembangkan oleh Public Knowledge Project untuk memperluas dan meningkatkan akses
ke penelitian.

41
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Tidak semua peneliti memiliki waktu untuk mengumpulkan publikasi nya yang sudah
diterbitkan dalam bentuk cetak kemudian melakukan alih media dan menyimpan dalam
pangkalan data. Pustakawan dapat melakukan pengumpulan publikasi tersebut dengan mudah,
karena sudah terkelola di perpustakaan. Setelah selesai dikumpulkan, pustakawan melakukan
alih media terhadap publikasi tersebut ke dalam bentuk digital. Pangkalan data menjadi tempat
penyimpanan awal untuk publikasi yang sudah dalam bentuk digital. Publikasi tersebut dapat
diupload pada Researchgate atau untuk publikasi yang diterbitkan di jurnal JEP atau RIEBS bisa
di tempatkan di OJS. Untuk data yang disimpan dalam pangkalan data, pangkalan data sudah
diintegrasikan dengan google scholar dan RePec.

Pemanfaatan media online memberikan akses yang lebih terbuka kepada publik
terhadap hasil penelitian P2E-LIPI. DIharapkan pada akhir tahun 2016 terjadi peningkatan
jumlah sitasi terhadap publikasi yang dimiliki oleh peneliti P2E.

KESIMPULAN

Pustakawan memiliki peranan yang besar bagi peneliti dalam sebuah kegiatan
penelitian. Seiring dengan semakin berkembangnya teknologi, tuntutan terhadap kinerja
peneliti semakin beragam. Peneliti tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi publikasi tersebut
harus dapat memberikan dampak terhadap ilmu yang dikaji yaitu publikasi tersebut disitasi oleh
publik.

Tidak semua peneliti memiliki waktu untuk mengumpulkan hasil karya nya yang sudah
diterbitkan dalam bentuk cetak kemudian melakukan alih media dan menyimpan dalam
pangkalan data. Peran tersebut sangat mungkin dilaksanakan oleh pustakawan dalam
membantu peneliti mendiseminasikan hasil karyanya melalui media online dan meningkatkan
sitasi dari publikasi tersebut.

Dengan memanfaatkan semua media online tersebut, karya peneliti di Pusat Penelitian
Ekonomi akan semakin tersebar dan banyak diakses oleh masyarakat, baik di dalam negeri atau

42
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

di luar negeri, dan tentunya keterbukaan akses akan mampu meningkatkan sitasi dari peneliti di
Pusat Penelitian Ekonomi LIPI.

Daftar pustaka

Cooper, Diane. (2015) Bibliometric Basic. Jurnal Medical Library Association. 103 (4) 217-218

Crossby, Olivia. (2000). Librarians: Informations expert in the information age. Occupational
Outlook Quarterly. Diakses dari http://www.bls.gov/careeroutlook/2000/Winter/art01.pdf

Hadisaputro, Widodo. (2011). Kuantitas dan Kualitas Publikasi Jurnal. Diakses dari
http://jurnalsospol.fisipol.ugm.ac.id/public/pustaka/201111LPPM/KuantitasdanKualitasJurnal.p
df

Pusat Penelitian Ekonomi LIPI. (2015). Perjanjian Kinerja Pusat Penelitian Ekonomi LIPI. Jakarta:
Pusat Penelitian Ekonomi LIPI.

Pusat Penelitian Ekonomi LIPI. (2016). Perjanjian Kinerja Pusat Penelitian Ekonomi LIPI. Jakarta:
Pusat Penelitian Ekonomi LIPI.

Pusat Penelitian Ekonomi LIPI. (2015). Laporan Tahunan 2015 Pusat Penelitian Ekonomi LIPI.
Jakarta: Pusat Penelitian Ekonomi LIPI.

Rao, K. Nageshwara. (2001). Role of Librarian in Internet and World Wide Web Environment.
Informing Science 4 (1), 25-34

Wahono, Romy Satrio. (2007).Teknik Perangkingan Universitas Ala Webometrics. Diakses dari
http://romisatriawahono.net/2007/09/26/teknik-perangkingan-universitas-ala-webometrics/

43
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

44
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Kajian Kepuasan Pelanggan di Perpustakaan Badan


Standardisasi Nasional
Oleh:
Erni Sumarni dan Nihayati *)

I. PENDAHULUAN

Badan Standardisasi Nasional-BSN menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang


perumusannya dilakukan secara konsensus oleh stakeholder (produsen, konsumen, ahli/akademisi, serta
pemerintah). SNI merupakan dokumen yang berisi suatu kegiatan atau hasilnya. SNI berlaku secara
nasional di wilayah Indonesia.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, Pusat Informasi dan Dokumentasi Standardisasi
atau Pusido mempunyai tugas untuk melayani masyarakat dalam hal pemenuhan kebutuhan
informasi standardisasi, khususnya SNI. Layanan tersebut umumnya dalam hal penyediaan
informasi standar dapat dilakukan dengan dua bentuk dokumen seperti dokumen tercetak dan
dokumen elektronik. Sedangkan dalam memberikan layanan tersebut dapat dilakukan secara
off-line atau dengan cara online. Layanan secara off-line adalah layanan dimana pemangku
kepentingan atau pemakai harus datang sendiri ke Perpustakaan BSN untuk mendapatkan
kebutuhan informasinya. Beberapa variasi dari layanan off-line juga dapat dilakukan seperti
permintaan informasi yang dilakukan melalui surat (termasuk surat elektronik), telepon, faksimil
dan sebagainya. Sedangkan layanan online adalah layanan dimana pemakai dalam memperoleh
informasi standar tidak harus datang ke Perpustakaan BSN, namun pemakai dapat langsung
berinteraksi melalui komputer yang tersambung ke komputer server BSN melalui internet.
Dalam melayani para pemangku kepentingannya (stakeholders) BSN dilengkapi dengan
koneksi informasi dalam bentuk tercetak dan dalam bentuk elektronik yang dilayangkan oleh
Perpustakaan BSN. Jenis-jenis informasi tercetak tersebut antara lain adalah: dokumen SNI,
buku-buku referensi yang berkaitan dengan stdardisasi, artikel jurnal ilmiah maupun non ilmiah
berkaitan dengan standardisasi.

45
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Dalam melayani “stakeholders”nya PUSIDO tentu saja memiliki kelebihan kekurangan


dari segi fasilitas, kemampuan Untuk mengetahui apakah stakeholders yang dilayani merasa puas
atau tidak, maka PUSIDO melakukan kajian kepuasan pelanggan. dengan menggunakan metode
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks
Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah, yang dikeluarkan oleh Kementerian
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi sesuai Nomor
KEP/25/M.PAN/2/2004.

1. Tujuan Kajian
Tujuan penelitian yang ingin dicapai untuk mengetahui kepuasan pelanggan terhadap
layanan terhadap layanan perpustakaan BSN yang diberikan kepada para pengguna layanan,
Secara khusus tujuab yabf diingan dalam kajian ini sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui kepuasan pelanggan terhadap layanan yang diberikan oleh


Perpustakaan BSN kepada para pelanggan atau pemangku kepentingan (stakeholder)
BSN.
b. Untuk mengetahui Indeks Kepuasan Pelanggan (IKP) terhadap layanan Perpustakaan
BSN yang diberikan kepada pengguna.

2. Target kajian layanan

Pelayanan Perpustakaan BSN merupakan aktivitas jasa nirlaba dimana aktivitas ini
sebagai ujung tombak dalam memberikan kepuasan pelanggan berkaitan dengan perolehan
sumber informasi tentang standardisasi, khususnya SNI. Target kajian ini adalah dapat diketahui
posisi kepuasan pelanggan dalam mendapatkan layanan informasi standardisasi dari Perpustakaan
BSN. Dengan diketahuinya posisi kepuasan pelanggan dalam mendapatkan informasi di
Perpustakaan BSN maka Perpustakaan BSN dapat membuat strategi untuk meningkatkan
kepuasan pelanggan.

46
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

3. Manfaat kajian layanan

Dokumen hasil kajian dapat digunakan sebagai tidak lanjut kebijakan dalam operasional
layanan Perpustakaan BSN khususnya peningkatan kualitas layanan Perpustakaan BSN. Hasil
kajian ini untuk dijadikan dasar dalam melakukan perbaikan manajemen dalam rangka perbaikan
secara terus menerus. Selain itu dokumen ini dapat juga menjadi referensi bagi pembaca untuk
melakukan penelitian lebih lanjut atau mendalam.

4. Ruang lingkup kajian layanan

BSN di dalam tugas pokok dan fungsinya memiliki lima fungsi layanan publik yakni layanan
publik untuk akreditasi standardisasi, layanan pendidikan dan pelatihan standardisasi, layanan
Informasi standardisasi yang ditangani oleh Pusat Informasi dan Dokumentasi Standardisasi,
pusat ini memiliki beberapa macam layanan. Kajian ini hanya dilakukan terbatas terhadap
layanan Perpustakaan BSN saja yaitu yang mencakup layanan perpustakaan khususnya pada
layanan penyediaan dokumen standar baik SNI maupun standar luar negeri.

47
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

II TINJAUAN PUSTAKA

Kotler mendefinisikan kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang

muncul setelah membandingkan kinerja atau hasil produk yang dipikirkan terhadap kinerja atau

hasil yang diharapkan.Jika kinerja berada dibawah harapan, pelanggan tidak puas.Jika kinerja

memenuhi harapan, pelanggan puas.Jika kinerja melebihi harapan, pelanggan amat puas atau

senang. Jadi tingkat kepuasan adalah suatu fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan

dan harapan, semakin sesuai antara kinerja atau hasil yang diperoleh dengan harapan, maka akan

semakin tinggi kepuasan yang akan didapat.

Mowen dan Minor menyatakan bahwa kepuasan pelanggan adalah keseluruhan sikap yang

ditunjukkan konsumen atas barang atau jasa setelah mereka memperoleh atau menggunakannya.

Pelanggan akan merasa puas jika barang yang dibelinya sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Definisi lain mengenai kepuasan pelanggan yaitu menurut Oliver dalam Supranto yang

menyatakan bahwa kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah

membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakan dengan harapannya. Kepuasan pelanggan

akan tercapai jika hasil yang dirasakan sesuai dengan harapan.

Dari berbagai referensi di atas dapat disimpulkan bahwa kepuasan pelanggan adalah

perasaan senang atau kecewa, keseluruhan sikap, dan respon pelanggan yang muncul dengan

membandingkan jasa yang diterima dan jasa yang diharapkan.

Untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan maka perlu adanya kriteria kualitas

layanan, seperti pada kebijakan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi

Birokrasi dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat harus dilaksanakan

48
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

secara konsisten, terus-menerus dan berkelanjutan semua jajaran aparatur negara pada semua

tingkatan. Pelayanan pemerintah kepada masyarakat diberikan secara cepat, tepat, murah,

terbuka, sederhana dan mudah dilaksanakan serta tidak diskriminatif. Dalam upaya peningkatan

kualitas pelayanan kepada masyarakat Kementerian Kementerian Pendayagunaan Aparatur

Negara dan Reformasi Birokasi menetapkan kebijakan tentang Pedoman Umum Penyusunan

Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap unit pelayanan instansi pemerintah. Pedoman ini sebagai

acuan untuk mengetahui tingkat kinerja masing-masing instansi pemerintah, juga memberikan

kesempatan kepada masyarakat untuk menilai kinerja unit pelayanan publik.

Pada Peraturan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

Nomor KEP/25/M.PAN/2/2004.tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan

Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah, ada 14 unsur penilaian indek kepuasan

masyarakat atau pengguna (IKM) mencakup : 1) prosedur pelayanan; 2) persyaratan pelayanan;

3) Kejelasan petugas pelayanan; 4) kedisiplinan petugas pelayanan; 5) tanggung jawab petugas

pelayanan; 6) kemampuan petugas pelayanan; 7) kecepatan pelayanan; 8) keadilan mendapatkan

pelayanan; 9) kesopanan dan keramahan petugas; 10) kewajaran biaya pelayanan; 11) kepastian

biaya pelayanan; 12) kepastian jadwal pelayanan; 13) kenyamanan lingkungan; dan 14)

keamanan pelayanan.

Berkenaan dengan 14 unsur penilaian tersebut di atas, maka dapat digunakan untuk

mengukur keberhasilan kepuasan pelanggan di unit pelayanan instansi pemerintah.

49
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

III METODE KAJIAN KEPUASAN PELANGGAN

1. Desain Kajian

Desain kajian ini merupakan disain kajian deskriptif dengan model survey terhadap
pemangku kepentingan (stakeholder) BSN yang menggunakan jasa Perpustakaan BSN –
Pusat Informasi dan Dokumentasi Standardisasi (PUSIDO).

Kajian kepuasan pelanggan ini menggunakan metode yang dikembangkan oleh


Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks
Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah, sesuai Keputusan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara nomor KEP/25/M.PAN/2/2004. Responden diambil secara
acak dengan metode accidental sampling yaitu dengan memberikan kuesioner kepada
pengguna perpustakaan yang datang untuk menggunakan Perpustakaan BSN atau meminta
informasi kepada Perpustakaan BSN sampai jumlah responden yang dipersyaratkan tercapai.

2. Jumlah responden

Sesuai dengan Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit


Pelayanan Instansi Pemerintah, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara maka
responden dipilih secara acak dengan jumlah sebanyak 150 responden. Jumlah tersebut
diperoleh dari rumus sebagai berikut:

Jumlah sampel = (jumlah unsur pertanyaan + 1) × 10.


Waktu dan Tempat

50
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Kajian ini dilakukan di Perpustakaan Badan Standardisasi Nasional selama bulan Maret -
November 2015, jadwal kegiatan kajian sebagai berikut:

Tabel 3.1 Jadwal Kajian Layanan Perpustakaan BSN

Bulan
No. Kegiatan
5 6 7 8 9 10 11
Penyusunan instrumen
1
(kuesioner)
2 Uji coba kuesioner
Penyebaran dan pengumpulan
3
kuesioner
4 Pengolahan data
5 Penyusunan laporan

6 Penyajian laporan

3. Instrumen kajian kepuasan pelanggan

Instrumen kajian kepuasan pelanggan ini adalah berupa daftar pertanyaan yang
berjumlah 14 pertanyaan sesuai Pedoman Menpan sebagai berikut:
a. Prosedur layanan di Perpustakaan BSN sangat mudah untuk diikuti.
b. Perpustakaan BSN tidak memberikan persyarataan yang sulit dalam memberikan
layanan.
c. Petugas Perpustakaan BSN merupakan Staf tetap yang ditugaskan di bagian layanan.
d. Staf Perpustakaan BSN memberikan informasi layanan dengan jelas dan mudah
diperoleh/diakses.

51
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

e. Anda selalu dilayani oleh Staf Perpustakaan BSN dengan penuh tanggung jawab
sampai selesai.
f. Staf Perpustakaan BSN memiliki pengetahuan yang luas sehingga mampu menjawab
pertanyaan Anda.
g. Staf Perpustakaan BSN melayani permintaan Anda dengan cepat.
h. Staf Perpustakaan BSN memberikan perhatian personal kepada penggunanya.
i. Staf Perpustakaan BSN bersikap ramah dan sopan dalam melayani permintaan Anda.
j. Perpustakaan BSN menetapkan tarif biaya yang wajar untuk setiap layanan.
k. BSN menetapkan tarif layanan sesuai dengan peraturan tarif yang ada dan diumumkan
kepada publik.
l. Perpustakaan BSN selalu konsisten memberikan layanannya secara tepat waktu.
m. Fasilitas fisik (ruang dan perabot) untuk menunjang layanan di Perpustakaan BSN
sangat baik dan nyaman.
n. Anda merasa yakin dalam bertransaksi di Perpustakaan BSN.

Model kuesioner menggunakan skala likert 1-5, setiap pertanyaan diberikan pilihan score
dari terendah 1 yang berarti sangat tidak setuju sampai yang tertinggi dengan score 5 sangat
setuju rincian sebagai berikut:
1. Sangat tidak setuju
2. Tidak setuju
3. Setuju
4. Baik
5. Sangat baik

Pertanyaan-pertanyaan yang ajukan kepada responden pengguna layanan informasi


standardisasi dapat dilihat pada tabel berikut ini:

52
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Tabel 3.2 Instrumen Kajian Layanan Perpustakaan


Penilaian *)
Anda terhadap
No Elemen Pertanyaan layanan
Perpustakaan BSN
1 2 3 4 5
1 Prosedur Layanan di Perpustakaan BSN sangat mudah untuk diikuti

2 Perpustakaan BSN tidak memberikan persyaratan yang sulit dalam


memberikan layanan.
3 Staf Perpustakaan BSN memberikan informasi layanan dengan jelas
dan mudah diperoleh/diakses.
4 Staf Perpustakaan BSN memberikan informasi layanan dengan jelas
dan mudah diperoleh/diakses.
5 Anda selalu dilayani oleh Staf Perpustakaan BSN dengan penuh
tanggung jawab sampai selesai.
6 Staf Perpustakaan BSN memiliki pengetahuan yang luas sehingga
mampu menjawab pertanyaan Anda.
7 Staf Perpustakaan BSN melayani permintaan Anda dengan cepat

8 Staf Perpustakaan BSN berlaku adil dalam memberikan


pelayanan kepada para penggunanya.
9 Staf Perpustakaan BSN bersikap ramah dan sopan dalam melayani
permintaan Anda.
10 Perpustakaan BSN menerapkan tarif biaya yang wajar untuk setiap
layanan.
11 BSN menerapkan tarif layanan sesuai dengan peraturan yang ada
dan diumumkan kepada publik.
12 Perpustakaan BSN selalu konsisten memberikan layanannya secara
tepat waktu.
13 Fasilitas fisik (ruangan dan perabot) untuk menunjang layanan di
Perpustakaan BSN sangat baik dan nyaman.
14 Anda merasa yakin dalam bertransaksi di Perpstakaan BSN.

*) Keterangan : 1 = Sangat Tidak Setuju; 5 = Sangat Setuju

4. Pengolahan Data

Data yang diperoleh dari daftar isian responden pengguna layanan pewrpustakaan
kemudian diolah dan dicari nilai rata-ratanya untuk setiap pertanyaan. Setelah nilai rata-rata

53
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

setiap pertanyaan diketahui, maka Indeks Kepuasan Pelanggan dihitung dengan rumus sebagai
berikut:

 1 n
IKP    N j  
j 1  n

Keterangan:
IKP : Indeks Kepuasan Pelanggan
N : Nilai rata-rata tiap pertanyaan kuesioner
n : Jumlah pertanyaan kuesioner
j : Pertanyaan kuesioner ke j dimana nilai j = 1 ... n

5. Uji Validasi dan Uji Reliabilitas Instrumen


a. Uji validasi instrumen
Pengujian validasi instrument ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa instrumen yang kita
gunakan tersebut valid adalah dengan mengujinya.
Uji Validitas instrumen dilakukan dengan menggunakan Uji validitas product moment
Pearson sebagai berikut:

54
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Keterangan:
rxy = koefisien korelasi
n = jumlah responden uji coba
X = skor tiap item
Y = skor seluruh item responden uji coba

Untuk mengetahui kuesioner yang akan dipakai untuk pengumpulan data sebelum
kuesioner disebarluaskan kepada pengguna layanan informasi standardisasi terlebih dahulu
dilakukan uji cobakan kepada 20 orang yang bukan menjadi reponden untuk pengumpulan
data. Hasil uji coba dilakukan uji validasi dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3.3 Hasil validasi instrumen


Pertanyaan Status
nomor Nilai Nilai validasi
thitung ttabel

1 0.55 0.44 Valid


2 0.625 0.44 Valid
3 0.696 0.44 Valid
4 0.499 0.44 Valid
5 0.809 0.44 Valid
6 0.845 0.44 Valid
7 0.754 0.44 Valid
8 0.822 0.44 Valid
9 0.849 0.44 Valid
10 0.860 0.44 Valid
11 0.883 0.44 Valid
12 0.830 0.44 Valid
13 0.727 0.44 Valid
14 0.848 0.44 Valid

55
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

a. Uji reliabelitas instrumen


Untuk mengetahui kuesioner yang akan disebarluaskan tersebut reliable maka harus
dilakukan uji reliabilitas instrument. Hasil uji reliabilitas dapat dilihat pada tabel sebagai
berikut:

Tabel 3.4 Hasil uji reliabelitas instrumen

Reliabilitas
Speramen-
Brown R-tabel Kesimpulan
(R-hitung)
0.943 0.444 Reliabel

56
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

IV Hasil dan Pembahasan

Perhitungan dengan rumus yang ada dalam Pedoman Umum Penyusunan Indeks
Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah yang dikeluarkan oleh Kementerian
Pendayagunaan Aparatur Negara diperoleh hasil seperti pada tabel 3.1 berikut: Hasil responden
yang terkumpul dari pengguna layanan perpustakaan berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada
tabel 4.1 berikut:

Tabel 4.1 Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah %


1. Laki-laki 84 56%
2. Perempuan 66 44%
Total 150 100%

Pada tabel tersebut di atas, respoden dari kelompok laki-laki sebesar 56% sedangkan
kelompok perempuan sebesar 44%.

Data responden yang terkumpul dari pengguna layanan perpustakaan berdasarkan


kelompok pengguna dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut:

57
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Tabel 4.2 Data Responden Berdasrkan Kelompok Pengguna


Layanan Perpustakaan

No. Kelompokj Pengguna Jumlah %


1 Produsen/barang/jasa (pelaku usaha) 58 38,67
2 Regulator (pemerintah) 29 19,33
3 Akademisi (dosen, mahasiswa) 29 19,33
4 Konsumen (masyarakat umum) 14 11.30
5 Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK) 17 9,33
6 Anggota Panitia Teknis/Sub Panitia Teknis 3 2
Total 150 100

Pengguna informasi SNI terdiri dari 6 kelompok pengguna, kelompok terbanyak yang
memanfaatkan layanan informasi SNI yakni dari kelompok pelaku usaha sebesar 38,67%
selanjutnya diikuti oleh pengguna dari kelompok regulataor (19,33%), akademisi, (19,33%),
konsumen (11,30%) dan lembaga penilaian kesesuaian (LPK) ( 9,33%), serta anggota Komite
Teknis (Komtek)/Sub Komite Teknis (2%).

Hasil responden yang terkumpul dari pengguna layanan perpustakaan berdasarkan


perhitungan dengan rumus yang ada dalam Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan
Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah yang dikeluarkan oleh Kementerian
Pendayagunaan Aparatur Negara diperoleh hasil seperti pada tabel 4.3 berikut:

58
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Tabel 4.3 Hasil Pengolahan Indeks Kepuasan Pelanggan Sesuai Pedoman Menpan

Jasa Informasi
No Elemen Pertanyaan
Score IKP

1 Kemudahan prosedur layanan 4,07 81,30

Persyaratan Pelayanan sesuai dengan


2 4,12 82,40
ketentuan

3 Kejelasan petugas pelayanan 3,92 78,60

4 Kedisiplinan petugas 4,01 80,27

5 Tanggung jawab petugas 4,11 82,10

6 Kemampuan petugas 3,79 75,87

Kecepatan pelayanan
7 3,79 75,87

8 Keadilan dalam pelayanan 3,71 74,13

9 Keramahan petugas 4,17 83,30

Kewajaran biaya layanan


10 3,90 78

11 Kesesuaian biaya dengan ketentuan yang 4,09 81,87


berlaku

12 Waktu layanan 3,81 76,13

13 Kenyamanan tempat layanan 4,46 89,20

14 Keamanan saat layanan 4,22 84,40

Rata-rata 4,02 80.32

59
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Dari tabel di atas nampak score rata-rata kepuasan pelanggan adalah 4,02, dengan score
ekivalen sebesar 80,32 Sedangkan score terendah adalah pada pertanyaan nomor 8 memperoleh
score 3,71, pertanyaan nomor 6 dan pertanyaan nomor 7 dengan score yang sama sebesar 3,79,
pertanyaan nomor 12, score 3,81 dan pertanyaan nomor 3 mendapat score 3,92.

Pertanyaan nomo 8 terkait dengan Staf Perpustakaan BSN berlaku adil dalam memberikan
pelayanan kepada para penggunanya mendapat score 3,71, pertanyaan nomor 6 tentang Staf
Perpustakaan BSN memiliki pengetahuan yang luas sehingga mampu menjawab pertanyaan Anda serta
pertanyaan nomor 7 terkait dengan Staf Perpustakaan BSN melayani permintaan Anda dengan cepat,
keduanya memiliki score yang sama yakni sebesar 3,79.

Berikutnya adalah pertanyaan nomor 13 terkait dengan pertanyaan fasilitas fisik (ruangan
dan perabot) untuk menunjang layanan di Perpustakaan BSN sangat baik dan nyaman dengan
score sebesar 89,2 dan pertanyaan berikutnya nomor 14 tentang pertanyaan Anda marasa yakin
dalam bertansaksi di Perpustakaan BSN memperoleh score 84,4 serta pernyaan nomor 2 yakni
pertanyaan tentang Perpustakaan BSN tidak memberikan persyaratan yang sulit dalam
memberikan layanan dengan score sebesar 82,4.

Untuk score terendah, hal ini mungkin terjadi karena pada saat layanan diselenggarakan
dilakukan pengguna sedang penuh atau banyak yang berkunjung sehingga petugas sibuk
melayani yang pada akhirnya petugas kurang memperhatikan pengguna layananan. Diakui bahwa
bahwa staf yang bertugas dilayanan masih terbatas jika salah satu petugas tidak masuk maka
penyelenggaraan layanan sedikit terlambat. Untuk pertanyaan terkait kamampuan staf, memang
harus diakui bahwa kompetensi petugas harus terus ditingkatkan, khususnya kompetensi yang
berkaitan dengan materi standardisasi. Misalnya saja petugas harus mampu menjawab pertanyaan
yang berkaitan dengan SNI mainan anak yang diregulasi wajib oleh pemerintah. Terkait dengan
penggunaan tarif reproduksi walaupun sudah dilakukan melalui beberpa cara seperti menerbitkan
buku tentang tarif reproduksi SNI, namun jumlah dan jangkauannya masih terbatas. Begitu juga

60
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

informasi tarif yang diunggah melalui internet belum sepenuhnya dapat dijangkau oleh pengguna
perpustakaan.
Score terbaik adalah pada pertanyaan nomor 13 yaitu pertanyaan yang menyangkut
Fasilitas fisik (ruangan dan perabot) untuk menunjang layanan di Perpustakaan BSN sangat baik dan
nyaman. dengan score sebesar 4,46. Berikutnya adalah yang menyangkut pertanyaan nomor 14
tentang Anda merasa yakin dalam bertransaksi di Perpustakaan BSN dengan score 4,22. Untuk kedua
hal ini sudah sangat baik sehingga prestasi ini harus dipertahankan. Jika dimungkinkan harus bisa
ditingkatkan.

61
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

V SIMPULAN DAN SARAN

1. SIMPULAN

Berdasrkan pembahasan pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan beberapa sebagai
berikut:

a. Kepuasan pelanggan Perpustakaan BSN yang berada di bawah Pusat Informasi dan
Dokumentasi Standardisasi adalah bernilai 80,32 dengan score sebesar 4,02.
b. Score terendah adalah sebesar 3,71, 3,79, dan 3,81 serta 3,90 terkait dengan pertanyaan
nomor 8 tentang Staf Perpustakaan BSN berlaku adil dalam memberikan pelayanan kepada para
penggunanya, pertanyaan nomor 6 yaitu Staf Perpustakaan BSN memiliki pengetahuan yang luas
sehingga mampu menjawab pertanyaan Anda, nomor 7 tentang Staf Perpustakaan BSN melayani
permintaan Anda dengan cepat dan pertanyaan nomor 12, Perpustakaan BSN selalu konsisten
memberikan layanannya secara tepat waktu serta pertanyaan nomor 10 terkait dengan
Perpustakaan BSN menerapkan tarif biaya yang wajar untuk setiap layanan. Walaupun pada
pertanyaan tersebut di atas masih pada kisaran 76,40 masuk kategori baik , namun tetap
perlu ditingkatkan.
c. Score tertinggi adalah sebesar 4,46 terkait dengan fasilitas fisik (ruangan dan perabot) untuk
menunjang layanan di Perpustakaan BSN sangat baik dan nyaman. Score ini berada pada kisaran
89,20, dengan demikian perlu terus dipertahankan.

2. SARAN

Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil kajian sebagai berikut:


a. Hasil score tertendah harus diperbaiki melalui peningkatan capacity building terkait
kompetensi sdm untuk pelayanan prima, penguatan content informasi standardisasi dan

62
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

penilaian kesesuaian dan kecepatan dalam pemberian pelayanan serta peninjauan kembali
jam operasi layanan.
b. Hasil score tertinggi harus dipertahankan terkait dengan fasilitas layanan, keramahan
petugas layanan, persyaratan layanan. Hal ini harus dipertahankan.

63
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

DAFTAR PUSTAKA

Indonesia, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor KEP/25/M.PAN/2/2004


tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan
Instansi Pemerintah.

Mowen, Jhon, C., Minor Michael, Perilaku Organisasi, Jakarta, Penerbit Erlangga, 2002

Philip Kotler and Kevin Lane Keller, Manajemen Pemasaran, Edisi Bahasa Indonesia,
terjemahan Benyamin Molan, Edisi 12, Jilid 1, Jakarta : PT. Indeks, 2009.

Sugiono, Metode Penelitian Manajemen, Bandung: Alfabet, 2014.

V. Wiratna Sujarweni dan Poly Endrayanto, Statistik untuk penelitian, Yogyakarta:Graha


Ilmu, 2012.

64
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Budaya Literasi Peneliti Kita1


Oleh:
Suherman
Pustakawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Ketua Masyarakat Literasi Indonesia (MLI)

“Riset-riset Minus Penerapan” (Kompas, 14 Desember 2011), “Kebutuhan Industri


dan Hasil Lembaga Riset Belum Sesuai” (Kompas, 8 Desmber 2011), “Sulitnya Sinergi
Industri dan Lembaga Riset” (Media Indonesia, 2 November 2011), “Indonesia Masih
Sulit Berdayakan Peneliti” (Pikiran Rakyat, 1 November 2011), “Kebijakan Pendidikan
Tak Berdasarkan Riset: Penelitian Badan Litbang Belum Jadi Penunjuk Arah” (Kompas,
24 Oktober 2011), “Riset Indonesia Kurang Diminati” (Media Indonesia 15 Juli 2010).

Itulah beberapa judul berita dan judul artikel atau opini yang pernah dimuat di surat
kabar. Deretan judul di atas memberikan gambaran minimnya kegunaan hasil penelitian
untuk masyarakat. Yang paling baru adalah kritikan yang dilontarkan oleh Wakil
Presiden Budiono yang mengatakan bahwa konsep pembangunan berbasis ilmu
pengetahuan dan teknologi dinilai tidak penah dijabarkan dalam rencana yang konkret
dan terarah. Kalaupun ada perencanaan, isinya tak lebih dari kompilasi rencana kegiatan
(Kompas, 10 Mei 2013).

Kritik-kritikyang dilontarkan tersebut seolah-olah bahwa para peneliti mengidap


penyakit authis, tidak berhasil menjembatani antara kebutuhan masyarakat dengan
penelitian yang sedang dikerjakannya. Kritik dilontar mulai oleh manyarakat umum
sampai para pejabatan tinggi negara. Mereka sering mengatakan bahwa hasil penelitian
hanya menjadi kertas yang kemudian di simpan menjadi arsip atau hanya sekadar
mengumpulkan angka kredit semata supaya tunjangan fungsionalnya tetap ada.

Benarkah hasil penelitian kita separah itu?Dari hasil wawancara dan diskusi
(focussed group discussion) dengan para peneliti dan para kepala lembaga penelitian di
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonseia (LIPI), judul-judul berita dan opini seperti di atas
dinilai terlalu propokatif dan tendensius. Sebenarnya para peneliti ingin sekali

1
Disampaikan pada Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawanan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian
dan Standar - Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek. Jakarta, Badan Standardisasi Nasional, 30 Maret 2016

65
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

memberikan tanggapan terhadap opini yang menyudutkan seperti di atas, namun


sayangnya rata-rata mereka tidak memiliki keahlian menulis secara populer untuk dapat
dimuat di media massa. Mereka pun mengakui kelemahan tersebut. Akibatnya tidak bisa
membela diri di hadapan publik.Di samping itu, terkadang para peneliti (teknolog)
sendiri tidak peduli dengan masalah pencitraan, berbeda dengan para politisi.

Suatu waktu saya bertanya kepada mereka kira-kira adakah rakyat yang menangis
apabila lembaga riset dibubarkan?. Mereka malah balik bertanya, “jangankan lembaga
riset, negara ini dibubarkan kami kira tidak bakalan ada rakyat yang menangis”

Sebenarnya semua hasil penelitianbermanfaat. Tergantung siapa yang akan


menggunakannya. Setiap bidang memiliki masyarakatnya sendiri. Sangat jarang sekali
hasil penelitian yang dapat di dirasakan oleh semua lapisan masyarakat sebagaimana
telah dilakukan oleh ilmuwan dunia sekaliber Edison, Steve Jobs, dan lain-lain. Apalagi
kalau penelitian tersebut bersifat penelitian dasar yang tidak secara langsung terasa
hasilnya, karena lebih kepada pengembangan keilmuan bukan untuk langsung diterapkan
di industri. Misalnya, baru-baru ini LIPI meneliti tentang kayu keruing (Dipterocarpus
cinereus). Jenis kayu keras yang dinyatakan telah punah oleh Lembaga Konservasi Alam
Dunia (IUCN) yang ternyata masih ada di Pulau Mursala, Kabupaten Tapanuli Tengah,
Sumatera Utara. Tentu saja hasil penelitian ini tidak memiliki dampak langsung secara
ekonomi. Akan tetapi harus melalui masa inkubasi dan penyempurnaan penelitian yang
berkesinambungan. Siapa menyangka bahwa kelapa sawit, kopi, teh, karet, dan kina yang
pada awalnya tidak dilirik orang, sekarang menjadi tanaman komoditas yang penting.

Terkesan bahwa banyak orang, termasuk tokoh nasional, para eksekutif, dan juga
para anggota legislatif, yang terlalu pragmatis dalam melihat hasil penelitian. Mereka
melihat kegunaan hasil penelitiaan hanya dari aspek bisnis dan dapat dirasakan sekarang
juga. Padahal besarnya dana yang dianggarkan dengan besarnya ekspektansi yang
diharapkan sangat tidak berbanding.Indikator dukungan yang paling terlihat adalah
alokasi dana riset di dalam APBN. Di antara semua kementrian, yang paling kecil
anggarannya adalah kementrian Riset dan Teknologi. Kemudian apabila kita cermati
pidato kenegaraan presiden SBY, ternyata kata-kata Iptek hanya disebutdua kali saja.

Lebih gamblang Hari Susanto dalam Investor Daily 15 Juni 2012 dengan sangat
jelas menggambarkan dalam bentuk angka bagaimana lemahnya keberpihakan negara

66
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

terhadap penelitian, “rasio dana riset dengan APBN hanya 0,08%. Untuk Lembagan Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) saja, misalnya, dari dana sebesar Rp 670 miliar, 40%
digunakan untuk kegiatan riset dan teknologi, sementara 60% lainnya untuk anggaran
rutin. Ini berarti dana untuk anggaran riset ilmu pengetahun dan teknologi di Indonesia
hanya 0,03% dari PDB Indonesia yang mencapai Rp 6.300 triliun”Dana riset dan
pengembangan Indonesia adalah 0,15% dari PDB, jauh di bawah Jepang sebesar 3,5%
dan India 1,5%, dan bahkan Malaysia sebesar 0,5%.” Bandingkan dengan dana proyek
pembangunan sara olah raga Hambalang yang besarnya 1,52 triliun.

Selain kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah, harus diakui juga
penghalang kemajuan Iptek datang dari peneliti sendiri. Dengan kata lain kompetensi
peneliti yang lemah. Banyak peneliti yang meneliti hanya untuk mengumpulkan angka
kredit semata. Tidak diadasarkan pada panggilan rasa ingin tahu yang membuncah atau
menjadi seorang peneliti karena panggilan jiwa. Mungkin bisa disebut peneliti semacam
ini adalah “peneliti administratif”. Yang meneliti hanya supaya Log Book-nya terisi
setiap hari, yang entah apa isinya. Pokoknya semua persyaratan administrasi terpenuhi
sesuai dengan petunjuk teknis dan regulasi maka sudah merasa memenuhi kewajiban
sebagai peneliti, dan akhir dari semua itu adalah merasa aman dan tentram untuk
mendapatkan tunjangan fungsional. Ada juga peneliti yang bekerja dengan sepenuh hati.
Kekurangan dana dan fasilitas tidak terlalu menjadi halangan, terkadang tidak peduli
dengan pengumpulan angka kredit. Kekurangan dana dan fasilitas dapat diatasi dengan
mengirimkan proposal kepada pusat-pusat pendanaan riset dari luar negeri. Bahkan ada
yang mengeluarkan dana sendiri untuk membeli peralatan yang medesak harus dibeli
dari Pasar Glodok Jakarta. Itu semua karena ingin segera melihat hasil penelitiannya.
Obsesi membuat penelitian unggulan telah terpateri dalam jiwanya sehingga tidak lagi
memperhitungkan waktu dan biaya. Inilah yang saya sebut dengan “peneliti inspiratif.”
Dan rata-rata hasil penelitiannya inovatif dan bermanfaat bagi kemanusiaan serta
menjadi solusi terhadap problematika Iptek di tanah air.

Tentang bagaimana cara membuat catatan harian penelitian (Log Book), alangkah
baiknya apabila para penelitii kita membaca buku klasik The Malay Archipelago telah
diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul Kepulauan Nusantara: Sebuah
Kisah Perjalanan Kajian Alam dan Manusia (2009). Buku yang ditulis oleh seorang
naturalis berkebangsaan Inggris, Alfred Russel Wallace yang berisikan petualangan

67
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

keilmuannya, selama 8 tahun penjelajahannya di bumi Nusantara (1854 hingga


1862).Buku tersebut tiada lain adalah log book Wallace, di dalamnya berisi perjalanan
pengalaman pengarang dalam mengumpukan specimen flora dan fauna untuk
dikumpukan menjadi koleksi dunia yang akan diwarisi pada penduduk bumi setelah dia
mati. Wallace adalah seorang naturalis yang visioner yang mencintai profesi lebih dari
diri dan negaranya sendiri. Dia bukan hanya pandai membuat deskripsi ilmiah tentang
hewan, tumbuhan, dan alam sekitarnya. Tapi dia pun cermat dalam menggambarkan
kehidupan sosial, budaya, ekonomi politik, dan ideologi masyarakat yang dia kunjungi.
Saya memabayangkan, apabila log book para peneliti kita ditulis dengan cara seperti itu
tentu akan menjadi media komunikasi ilmiah yang sangat menarik.

Faktor lain yang menyebabkan peneliti kita tidak inovatif adalah karena kurangnya
pengetahuan dan wawasan para peneliti. Minat baca para peneliti kita rata-rata rendah.
Mereka jarang membaca buku, apalagi buku-buku yang disangka tidak berhubungan
dengan bidangnya. Referensi utama para peneliti kita adalah jurnal (e-journal) dan juga
proseding hasil seminar. Padahal apabila kita membaca biografi para ilmuwan besar,
untuk menjadi seorang ilmuwan tidak cukup hanya membaca bidang spesialisasinya saja.
Lihat misalnya Einstein, Steve Jobs, dan Habibie. Ketiga orang ini memiliki satu
kesamaan yaitu: kutu buku. Einstein terkenal bukan hanya teori relativitasnya tapi juga
pandangan-pandangannya tentang kemanusiaan, filsafat, dan agama. Kata penulis
biografinya Steve Jobs berhasil mengawinkan sepotong chip dengan sebait puisi, piawai
memadukan antara dunia sastra dengan teknologi. Habibie pun selain terkenal dengan
kepakarannya dalam bidang dirgantara juga dikenal ketokohannya dalam bidang politik
dan kenegarawanannya dibuktikan dengan menjadi seorang presiden.

Dalam kenyataannya, walaupun dengan dana riset yang cekak, ternyata tidak
dijadikan hambatan oleh sebagaian peneliti untuk berkarya. Banyak peneliti yang
berhasil melahirkan inovasi atau karya-karya unggulan yang sangat berguna bagi
masyakarat. Bahkan sebagian dari hasil temuan itu sudah begitu menyatu dengan
masyarakat. Misalnyatentang ragi tempe. Seluruh masyarakat sudah begitu akrab dengan
makanan ini. Tapi belum tentu mereka mengetahui bahwa pabrik ragi tempe ditemukan
dan dibangun oleh peneliti LIPI. Bahkan sudah ratusan hasil penelitian LIPI dalam
bentuk teknologi sederhana yang diterapkan di daerah dengan program Iptekda
(Penerapan Iptek di daerah). Saya kira orang Irian tidak akan lupa bagaimana mereka

68
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

diajari menggunakan cangkul dan membuat mesin-mesin sederhana untuk bidang


pertaniandan juga otomotif yang dimulai pada tahun delapan puluhan. Dari beberapa
sumber dikatan bahwa Irian mengurungkan niatnya untuk memisahkan diri salah satunya
berkat pendekatan semacam ini.

Akan tetapi prestasi-prestasi hasil penelitian ini tidak terpublikasikan secara massif
kepada masyarakat. Sepertinya apabila tidak ada inisiatif dari pihak media massa nama
LIPIpun tidak akan dikenal oleh masyarakat. Harus diakui bahwa institusi riset tidak
memiliki tenaga marketing dan humas yang handal untuk mensosialisasikan hasil-hasil
riset kepada masyarakat. Berkaca pada institusi lain seperti Kepresidenan dan Komite
Pemberantasan Korupsi (KPK), mereka memiliki juru bicara yang tugasnya memberikan
informasi kepada masyarakat tentang aktivitas lembaganya. Dahulu memang pernah
dicoba menunjuk duta Iptek, yang dengan serampangan menunjuk artis yang tidak faham
tentang Iptek, hanya ikut latah saja. Untung saja pada saat artis tersebut terkena kasus
hukum, masyarakat banyak yang tidak mengetahui bahwa dia adalah duta Iptek.

Memang, untuk membuat tulisan ilmiah populer yang layak muat di media massa
tidaklah mudah. LIPI sangat menyadari persoalan ini. Untuk itu setiap tahun diadakan
Diklat khusus tentang penulisan ilmiah populer yang diikuti oleh para peneliti maupun
non peneliti. Akan tetapi tetap saja para peneliti tidak bisa melakukannya. Pihak
penyelenggara lupabahwa untuk mampu menulis ilmiah populer tidak cukup hanya
berbekal bidang ilmu yang menjadi spesialisasinya kemudian ditambah dengan teknik
penulisan ilmiah populer. Sesungguhnyan ada persoalan fundamental yang ditinggalkan
yaitu bekal pengetahuan tentang humaniora yang tentu saja tidak dapat diperoleh dengan
hanya mengikuti Diklat. Pengetahuan tambahan dalam bidang humaniora memerlukan
waktu panjang dengan banyak membaca.Sejatinya bagian Humas bisa mengambil alih
tugas ini atau bekerja sama dengan peneliti untuk membuat tulisan ilmiah populer. Akan
tetapi masalahnya adalahbagian Humastidak memiliki keahlian tersebut. Akibatnya
adalah kiprah institusi tidak tersosialisasikan kepada masyarakat dan hasilnya pun tidak
terdesiminasikan dengan baik. Maka, terbentuklah citra di masyarakat bahwa LIPI
merupakan lembaga penelitian yang eksklusif, bagaikan menara gading yang jauh dari
masyarakat.

Upaya lain yang bisa dilakukan adalah mencoba mempopulerkan peneliti yang
memliki potensi untuk dipopulerkan. Dengan kata lain ingin menyelebritiskan peneliti

69
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

supaya menjadi “peneliti selebriti”—jangan diartikan seseorang yang pekerjaannya


meneliti kaum selebriti. Peneliti selebriti ini dibentuk dengan cara diekspose terus-
menerus oleh media massa, internet, dan media jejaring sosial. Dengan harapan apabila
peneliti menjadi populer nama lembaga risetnya pun akan terbawa populer juga dan
akhirnya masyarakat juga akan tertarik dengan pekerjaan-pekerjaan ilmiah. Strategi
menyelebritiskan peneliti merupakan upaya sosialisasi Iptek pada masyarakat dengan
mempertimbangan kedigdayaan media massa dalam membentuk opini publik.
Bayangkan, bagaimana digdayanya media massa,hanya dalam hitungan hari masyarakat
dapat mengenal Eyang Subur dengan profesi kleniknya daripada Dr. Ir. Nurul Taufiqu
Rochman, Ph.D, M.Eng., seorang inovator muda berbakat ahli nanoteknologi, yang
bercita-cita ingin menciptakan revolusi industri baru pada abad ke-21 di Indonesia.

Gagasan menyelebritiskan peneliti ini sudah dilakukan oleh BPPT dan Kementrian
Riset dan Teknologi. Kedua lembaga ini menjalin kerjasama dengan salah satu surat
kabar nasional untuk memuat tulisan-tulisan dari para penelitinya. Dari hasil pemantauan
pemuatan artikel di surat kabar, ternyata tulisan yang paling sering dimuat di media
adalah tulisan para peneneliti LIPI, akan tetapi tulisan dalam bidang sosial dan politik.
Peneliti yang sering muncul di media massa di antaranya adalah Ikrar Nusa Bhakti, R.
Siti Zuhroh, Asvi Warman Adam, yang ketiganya peneliti dalam bidang sosial (politik
dan sejarah). Jarang sekali muncul tulisan dalam bidang sains dan teknologi. Sehingga
tidak heran apabila ada masyarakat yang menyangka apabila LIPI singkatan dari
”Lembaga Ilmu Politik Indonesia.”

Ada korelasi yang signifikan antara budaya literasi dengan kompetensi para peneliti.
Apabila peneliti memiliki budaya literasi yang baik maka dia memiliki kompetensi yang
baik juga dengan menghasilkan penelitian yang inovatif. Dan sebaliknya, jangan
berharap para peneliti akan menghaslkan karya yang inoatif apabila mereka tidak suka
membaca atau budaya literasinya rendah. Banyak kata-kata mutiara yang
menggambarkan betapa pentingnya membaca, misalnya “ita adalah apa yang kita
pikirkan” atau “anusia berjalan di atas pengetahuannya.’ Kata-kata tersebut
menggambarkan bahwa seseorang tidak akan berbuat keluar dari bingkai pikirannya.
Dan pikiran bisa terbentuk manaka banyak informasi yang masuk ke dalam memorinya
yang kemudian mengkristal menjadi ide. Instrumen utama untuk mengakuisi infomasi ke
dalam memori adalah membaca.

70
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Jadi untuk mengubah penelitia menjadi inovatif maka langkah pertama yang harus
dilakukan adalah dengan mengubah fikirannya yaitu dengan membangun budaya literasi
yang kunci utamanya adalah membaca.

71
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

72
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

PENTINGNYA MANAJEMEN WAKTU


DALAM PENINGKATAN KINERJA PUSTAKAWAN

Oleh : Hadiyati Tarwan


Pustakawan BPPT

Abstrak
Waktu merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan. Merugilah orang-orang yang tidak dapat
memanfaatkan waktunya dengan optimal. Untuk itu diperlukan suatu pengelolaan atau manajemen
waktu yang tepat dalam menjalankannya. Manajemen waktu sangatlah penting dalam pencapaian
sebuah keberhasilan. Dengan manajemen waktu yang baik, seluruh kegiatan dapat terjadwal rapi
dan semuanya dapat terselesaikan. Membiasakan diri untuk disiplin dalam mengerjakan semua
pekerjaan, mendorong kita untuk segera menyelesaikannya langsung tanpa harus menunda-nunda,
sebab semakin lama kita menunda sebuah pekerjaan, maka semakin besar pula rasa malas yang kita
bangun. Hal inilah yang membuat pekerjaan akan menumpuk, tanpa ada yang terselesaikan dengan
tuntas. Membangun disiplin diri menjadi langkah awal untuk bisa sukses. Sebagai Pustakawan dan
+seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau yang dikenal sekarang dengan istilah Aparatur Sipil
Negara (ASN) yang bertugas memberikan pelayanan pada masyarakat, sangat diharapkan untuk
dapat meningkatkan kinerja atau prestasi kerjanya . Prestasi kerja pegawai ini salah satunya dapat
dicapai melalui pemanfaatan manajemen waktu yang baik. Menajemen waktu yang tepat dapat
mengurangi terbuangnya waktu kerja dengan sia-sia, sehingga kinerja atau prestasi kerja dapat
diraih dengan maksimal. Dengan menghargai waktu sesuai dengan porsinya, maka setiap detik,
menit bahkan jam yang dilewati akan memberikan manfaat.

Kata kunci : Pustakawan, manajemen waktu, disiplin, prestasi kerja

PENDAHULUAN
Pada dasarnya setiap orang memiliki modal waktu yang sama yaitu 24 jam dalam sehari semalam.
Tapi mengapa ada sebagian orang yang dengan aktifitasnya mengaku “sangat sibuk”, padahal
jadwal kegiatannya “tidak sesibuk” orang lain yang jauh lebih padat. Sebenarnya, jika kita ingin
mengatur kehidupan dan membuatnya menyenangkan, sebagai permulaan yang kita butuhkan
adalah mengatur waktu kita sendiri. Tak perlu dipertanyakan lagi, pengaturan waktu yang efektif
merupakan hal mendasar untuk lingkup berbagai wilayah kehidupan dan seberapa banyak diantara
kita yang benar-benar dapat memanfaatkan waktu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya.

Ada banyak hal yang dapat kita lakukan semasa hidup kita. Berapa banyak nafas yang kita
hembuskan, sebanyak itu pula waktu kita telah berlalu. Ini bukan masalah yang remeh, tapi ini akan
menjadi sejarah hidup kita dan akan dipelajari oleh generasi setelah kita. Waktu memang selalu
berjalan dan akan terus berjalan. Waktu tidak dapat diciptakan oleh manusia, tapi waktu bisa kita

73
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

manfaatkan bersama. Begitu banyak waktu yang ada di kehidupan kita, tapi pertanyaannya adalah
sudah berapa persen waktu yang telah kita manfaatkan untuk kemajuan diri kita.
Pengelolaan waktu dikenal juga dengan istilah Manajemen Waktu. Manajemen waktu merupakan
alat yang efektif dalam membantu seseorang untuk mencapai tujuannya, untuk itu dibutuhkan
pemahaman yang tepat untuk mengamalkan ilmu manajemen waktu tersebut, agar waktu yang
tersedia dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.

Manajemen waktu ini juga sangat dibutuhkan oleh kita sebagai Aparatur Sipil Negara dalam
menjalankan tugas sehari-hari sebai pelayan masyarakat. Agar waktu yang hanya tersedia selama
7,5 jam sehari selama 5 hari kerja itu dapat digunakan sebaik mungkin dalam memberikan
palayanan yang terbaik pada masyarakat.

PEMANFAATAN MANAJEMEN WAKTU

Waktu merupakan komoditi yang terbatas (Keenan, 1995). Semua orang mempunyai sumber waktu
yang sama yaitu 24 jam atau 86.400 detik. Namun ada sebagian orang yang mengaku tidak
mempunyai cukup waktu untuk melakukan sesuatu, sebagian lagi justru dapat menyelesaikan
banyak hal dibandingkan dengan orang lain. Kebiasaan-kebiasaan yang seringkali dilakukan bahkan
menjadi sumber masalah dalam pemborosan waktu. Kebiasaan seperti melakukan hal-hal yang
sebetulnya tidak perlu dikerjakan sama sekali tanpa disadari adalah sesuatu yang sering dilakukan.

Waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seuruh rangkaian saat ketika proses,
perbuatan atau keadaaan berada atau berlangsung. Dari hal tersebut dapat dikatakan skala waktu
merupakan interval atau jarak antara dua buah keadaan atau kejadian atau bisa juga merupakan
lama berlangsungnya suatu kejadian. Manajemen waktu adalah suatu kemampuan untuk
mengalokasikan waktu dan sumber-sumber untuk mencapai tujuan (Dejanasz, 2002). Keterampilan
dalam mengelola waktu adalah bagaimana kita meluangkan waktu untuk memprioritaskan dan
mencapai beberapa tujuan kehidupan serta menghasilkan kesejahteraan.

Dalam rentang waktu yang sama, bisa jadi 2 orang yang berbeda menghasilkan output yang
berbeda, baik jumlah maupun kualitasnya. Kondisi itulah yang menunjukan bahwa adanya
manajemen waktu sangatlah penting dalam pencapaian sebuah keberhasilan. Sebab dengan
manajemen waktu yang baik, seluruh kegiatan dapat terjadwal dengan rapi dan semuanya dapat
terselesaikan.

74
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Manajemen waktu adalah pengelolaan suatu rangkaian atau proses yang akan terjadi pada masa
sekarang ataupun pada masa yang akan datang untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Jadi,
bagaimana cara mengelola waktu dengan baik? Menurut Trihono (2005), model manajemen yang
paling sederhana adalah model PIE yaitu planning (perencanaan), implementation (implementasi),
dan evaluation (evaluasi). Model pertama adalah planning (perencanaan).

Dalam manajemen waktu sangat dibutuhkan perencanaan dalam mengerjakan sesuatu sesuai dengan
prioritasnya. Merencanakan apa yang akan kita lakukan membantu kita untuk lebih mudah
mengerjakan pekerjaan tersebut dan sesuai dengan hasil yang diinginkan. Model yang kedua adalah
implementation (implementasi). Rencana yang telah disusun pada model pertama, dilaksanakan
sesuai dengan tingkat prioritas tertinggi. Dalam pelaksanaan rencana ini hindari untuk melakukan
perkerjaan lain padahal pekerjaan dengan prioritas pertama belum selesai. Fokus adalah kunci
dalam melakukan pekerjaan yang direncanakan. Model yang ketiga adalah evaluation (evaluasi).
Mengevaluasi pekerjaan atau tugas yang telah dilaksanakan sangat penting untuk perencanaan
selanjutnya. Evaluasi ini berupa seberapa besarkah usaha kita dalam mengerjakan suatu pekerjaan
atau tugas, seberapa banyakkah pekerjaan yang dapat kita kerjakan, ataupun bagaimanakah hasil
dari pengerjaan tugas-tugas kita, apakah mencapai target atau tidak.

a. Pentingnya Manajemen Waktu

Adapun alasan pentingnya me-manage waktu antara lain :

1) Membantu dalam membuat prioritas

Mana pekerjaan yang harus didahulukan, dikerjakan setelah pekerjaan pertama selesai atau dapat
ditunda penyelesaiaanya.

2) Waktu itu sangat berharga

Waktu adalah harta yang sangat mahal. Waktu lebih mahal dari uang. Untuk menghargai waktu
diperlukan kegiatan-kegiatan yang positif agar waktu tidak terbuang dengan percuma.

3) Memberi kebebasan dan kendali

Kita yang memegang kendali atas waktu bukan waktu yang mengendalikan kita. Waktu dapat
menjadi anugrah jika kita dapat mengendalikan dan mengelolanya secara benar dan bijaksana.

75
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

b.Wab. Pnsip Manajemen Waktu

b. Prinsip Manajemen Waktu

Agar dapat me-manage waktu dengan tepat, diperlukan pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar
manajeman waktu, antara lain :

1) Menetapkan Tujuan (A goal)

Tujuan atau target merupakan arah atau sasaran yang ingin dicapai dalam melakukan sesuatu hal.
Tujuan memberikan arah terhadap apa yang dilaksanakan. Tujuan dapat dibedakan atas : tujuan
jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

2) Menetapkan Rencana (A plan)

Perencanaan merupakan hal yang sangat penting dalam mencapai suatu tujuan. Perencanaan
memberikan gambaran apa yang akan dilaksanakan dan bagaimana cara mengerjakannya. Rencana
memberikan peta terhadap pencapaian tujuan.

3) Tindakan ( Take action)

Melakukan apa yang telah direncanakan. Target dan rencana yang telah dibuat tidak akan berarti
jika tidak dilakukan/kerjakan.

c. Faktor Penghambat Manajemen Waktu

Ada kalanya rencana-rencana yang telah disusun tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sering
muncul hal-hal penting maupun tidak penting yang menghambat kelancaran Pengelolaan waktu.

Faktor-faktor tersebut antara lain:

1) Mengerjakan pekerjaan yang disukai terlebih dahulu terutama di awal waktu, baru
menyelesaikan pekerjaan yang kurang diminati di penghujung waktu.

2) Mengerjakan pekerjaan yang mudah terlebih dahulu di awal waktu dan mengerjakan pekerjaan
yang sulit di akhir waktu

3) Mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang cepat waktu penyelesaiannya, sebelum mengerjakan


pekerjaan yang membutuhkan waktu penyelesaian yang lama.

4) Mengerjakan pekerjaan darurat/mendesak sebelum mengerjakan pekerjaan penting.

5) Menunda-nunda pelaksanaan pekerjaan hingga mendekati batas waktu.

6) Menyusun skala prioritas bukan berdasarkan tingkat kepentingannya.

7)Terperangkap dalam situasi memenuhi tuntutan yang mendesak dan memaksa.

76
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

7)

Kemampuan dalam memanajemen waktu berkaitan erat dengan kebiasaan sehari-hari. Jika telah
terbiasa dengan hidup tanpa planning atau suka menunda-nunda waktu untuk penyelesaian suatu
pekerjaan akan sangat sulit mendisiplinkan diri dengan jadwal waktu yang terencana. Keberhasilan
hanya akan dapat diraih jika dapat merubah kebiasaaan kearah yang lebih baik terutama dalam hal
manajemen waktu

PRESTASI KERJA

Kinerja atau prestasi kerja adalah : “hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok
orang dalam organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam
rangka upaya mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum
dan sesuai dengan moral maupun etika”. Sedangkan menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2002),
prestasi kerja adalah : “hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan
dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.”
Sementara Moenir (2005) berpendapat bahwa prestasi kerja adalah : “Suatu hasil kerja yang
dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya, yang didasarkan atas
kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan “

Berdasarkan defenisi-defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi kerja merupakan hasil kerja
yang dicapai seseorang, melalui totalitas kemampuan yang dimilikinya untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.

a. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Kerja

Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi kerja antara lain sebagai berikut :

1) Faktor Kemampuan.

Secara psikologis, kemampuan (ability) seseorang terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan
kemampuan realiti (knowledge + skill). Artinya, seseorang yang memiliki IQ di atas rata-rata (IQ
110 - 120) dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan
pekerjaan sehari-hari, maka ia akan lebih mudah mencapai prestasi kerja yang diharapkan. Oleh
karena itu, perlu penempatan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya (the right man on the
right place, the right man on the right job).

77
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

2) Faktor Motivasi

Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seseorang dalam menghadapi situasi (situation) kerja.
Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri seseorang, yang terarah untuk mencapai
tujuan organisasi (tujuan kerja).

Selain itu sikap mental juga berperan dalam pencapaian prestasi kerja. Sikap mental merupakan
suatu kondisi mental yang mendorong diri seseorang untuk berusaha mencapai prestasi kerja secara
maksimal. Berkenaan dengan hal tersebut seorang pegawai harus memiliki sikap mental yang siap
secara psikofisik (siap secara mental, fisik, tujuan, dan situasi). Disini dimaksudkan seorang
pegawai harus siap mental, mampu secara fisik, memahami tujuan utama dan target kerja yang akan
dicapai, mampu memanfaatkan dan menciptakan situasi kerja aman dan nyaman antara sesama
pegawai.

TIPS-TIPS MANAJEMEN WAKTU


Langkah apa sajakah yang perlu dilakukan dalam mengatur waktu yang baik dan efektif ? Mari kita
bahas bersama tips-tips manajemen waktu yang bisa diterapkan setiap harinya.
1. Mulailah membuat skala prioritas.
Ketika tugas atau pekerjaan kita menumpuk, waktu 24 jam per hari rasanya tidak cukup untuk
menyelesaikan semua tugas-tugas tersebut. Untuk itu buatlah skala prioritas pekerjaan manakah
yang paling penting dan harus segera diselesaikan, serta pekerjaan manakah yang bisa dikerjakan
belakangan. Dengan begitu semua target dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

2. Belajar disiplin dan tidak menunda pekerjaan.


Membiasakan diri untuk disiplin dalam mengerjakan semua pekerjaan, mendorong kita untuk
segera menyelesaikannya langsung tanpa harus menunda-nundanya. Sebab semakin lama kita
menunda sebuah pekerjaan, maka semakin besar pula rasa malas yang kita bangun. Hal inilah
yang membuat pekerjaan kita hanya akan menumpuk, tanpa ada yang terselesaikan dengan
tuntas.

3. Buatlah jadwal sebagai alat bantu dalam manajemen waktu.


Salah satu alat bantu yang dapat mengingatkan segala pekerjaan yang harus diselesaikan yaitu
jadwal kegiatan kita sendiri. Usahakan memiliki jadwal rencana kegiatan harian, dan pastikan
kita mencantumkan pekerjaan apa saja yang harus diselesaikan pada hari ini.

78
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

4. Upayakan selalu fokus dan tuntaskan setiap pekerjaan .


Mengerjakan lebih dari satu tugas dalam waktu yang bersamaan tentunya tidak akan
menghasilkan output yang optimal. Lebih baik kita fokus untuk menuntaskan satu tugas terlebih
dahulu, baru kemudian kita mengerjakan tugas yang berikutnya. Cara ini sangat membantu
untuk bekerja secara efektif, sehingga semua tujuan dapat tercapai sesuai dengan target
waktunya.

5. Hargailah setiap waktu yang kita habiskan.


Manfaatkan setiap waktu yang kita habiskan sesuai dengan kebutuhannya. Misalnya saja saat
jam kerja, maka gunakan tenaga dan pikiran kita untuk fokus menyelesaikan pekerjaan dan
tugas. Begitu juga pada saat jam istirahat, hargai serta manfaatkanlah untuk refresing dan
sejenak mengistirahatkan pikiran. Sehingga pada saat masuk jam kerja, pikiran dan tenaga sudah
siap digunakan untuk bekerja kembali secara optimal.

Pastikan tidak ada waktu yang terbuang sia-sia, karena manajemen waktu merupakan awal sebuah
keberhasilan Anda.

KESIMPULAN
 Sukses merupakan hasil dari kebiasaan. Oleh sebab itu, langkah pertama yang harus
dilakukan adalah memperlancar bagaimana kita menggunakan waktu, yakni dimulai dengan
kebiasaan mengontrol diri. Sekali kita bisa, seterusnya kebiasaan bagus ini jadi hal alami.
Dalam banyak kasus, sukses bukan dihasilkan dari hal yang tak biasa, tapi lebih sebagai
hasil dari kemampuan seseorang untuk "menguasai keduniawian". Dengan konsisten
menampilkan seluruh tugas penting yang belum sempurna, sejalan dengan waktu aktivitas
ini akan berubah jadi pencapaian besar.

 Hentikan Kebiasaan Menunda. Kebiasaan untuk menunda adalah kebiasaan buruk yang
harus kamu hilangkan mulai kini! Selain tidak produktif, kebiasaan ini akan membuat hari-
harimu berantakan dan mencegahmu untuk sukses dalam segala hal.

 Sikap disiplin harus ditanamkan sejak dini mulai dari kita masih kecil. Disiplin sangat
berpengaruh bagi keberhasilan kita dimasa datang. Orang sukses adalah orang yang selalu
disiplin. Untuk kualitas hidup yang lebih baik dan tertata maka perilaku disiplin harus

79
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

ditanamkan, disiplin dalam hal apapun. Salah satu perilaku disiplin yang harus selalu
dijalankan yaitu disiplin waktu.

 Mengelola waktu dengan baik berarti mengelola hidup Anda dengan baik pula. Manusia
tidak semua diberkahi dengan kecemerlangan, penampilan yang baik, atau banyak uang, tapi
kita masing-masing mendapatkan jumlah waktu yang sama setiap hari. Ada banyak yang
dapat dicapai dalam 24 jam, dan ada juga yang tidak mencapai apapun sama sekali.
Semuanya terserah Anda untuk memanfaatkan waktu secara optimal karena ini adalah hidup
Anda.

 Waktu adalah hidup dan modal kita, dengan kata lain waktu adalah umur kita. Maka,
janganlah menyia-nyiakannya. Waktu juga ibarat pedang. Bila kita tidak mahir
menggunakan dan memainkannya, bukan tidak mungkin suatu hari nanti ia akan melukai
atau bahkan membunuh diri kita sendiri. Jadi, belajarlah cara memainkan pedang, dalam arti
mengelola waktu agar ia tidak menjadi senjata makan tuan.

 Dalam kehidupan moderen seperti sekarang ini, semua orang dituntut untuk dapat lebih
profesional dalam bekerja maupun menjalani kehidupan pribadi. Tuntutan tersebut sangat
dirasakan ketika upaya pelayanan dalam berbagai bidang menjadi hal yang sangat vital.
Untuk itu, dalam menjalani kehidupan terutama dalam menyelesaikan pekerjaannya,
seseorang perlu melakukan manajemen diri. Manajemen waktu merupakan salah satu
manajemen diri dalam upaya agar seseorang dapat lebih professional bekerja.

Daftar Pustaka

Covey, Stephen R. 1994. 7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif (The 7 Habits of Highly
Effective People). Jakarta : Binarupa Aksara.

Dejanasz, S.C. 2002. Interpersonal Skills in Organization. Boston : Mc-Graw Hill.

Kamus Besar Bahasa Indonesia .1997

Keenan, Kate. 1995. Management Guide to Making Time (terjemahan). West Sussex: Ravette
Books Limited.

Treacy, Declan. 1992. Successful Time Management in a Week (terjemahan). Inggris: Hodder &

80
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Stoughton.

Trihono. 2005. MANAJEMEN PUSKESMAS BERBASIS PARADIGMA SEHAT. Jakarta: CV.


Sagung Seto.

81
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

82
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

FILM ANIMASI SEBAGAI MEDIA PROMOSI PERPUSTAKAAN

Oleh: Sutarsyah, S.Sos. MP.


Pustakawan Madya Kebun Raya Bogor - LIPI

ABSTRAK

Di era digitalisasi sekarang ini, pemanfaatan teknologi digital menjadi tuntutan


utama dalam layanan perpustakaan, makalah ini memaparkan tentang promosi
perpustakaan dengan memanfaatkan film animasi sebagai media layanan digital di
perpustakaan yang lebih interaktif dan mudah dipahami. Tujuannya agar
perpustakaan sebagai media layanan informasi dapat menarik lebih banyak
pengguna. Pembahasan tentang dampak teknologi informasi dan multimedia
sebagai sarana promosi di perpustakaan dan deskripsi beberapa produk film
multimedia yang dihasilkan perpustakaan dengan content yang berbeda, hal ini
terkait dengan fungsi perpustakaan sebagai tempat rekreasi dan sumber
pengetahuan. Diharapkan dengan pembuatan film multimedia ini fungsi
perpustakaan sebagai tempat rekreasi menjadi tempat yang menyenangkan untuk
mendapatkan dan berbagi informasi, sehingga dapat mengajak lebih banyak
pemustaka berkunjung dan memanfaatkan perpustakaan.

Kata kunci: perpustakaan, perpustakaan digital, promosi, multimedia, film animasi

Latar Belakang

Di era digitalisasi sekarang ini, pemanfaatan teknologi digital menjadi


tuntutan utama dalam layanan perpustakaan, oleh karena itu pengelola
perpustakaan dalam hal ini pustakawan perlu lebih melek teknologi dan
menyikapinya dengan memberikan layanan berbasis digital. Layanan digital menjadi
trend layanan menarik saat ini, karena pemustaka mendapatkan informasi secara
mudah dan cepat. Perpustakaan sebagai tempat mendapatkan informasi dan
mencerdaskan masyarakat harus terus kreatif dan berinovasi dalam memberikan
dan meningkatkan layanannya, hal ini didukung oleh pernyataan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan (2016), bahwa “Perpustakaan
seharusnya tidak hanya seperti gudang penyimpanan koleksi buku. Perpustakaan
harus terus menyesuaikan diri dan berubah terlebih lagi di era digital saat ini.
Perpustakaan seharusnya menjadi knowledge center bagi seluruh komunitas yang
ada di sekitarnya”. Terkait dengan pernyataan Anies bahwa perpustakaan sebagai
knowledge center atau sumber pengetahuan, menuntut pengelolanya dalam hal ini

83
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

para pustakawan untuk dapat memberikan layanan perpustakaan yang lebih


menarik dan atraktif sehingga tidak ditinggalkan oleh masyarakat penggunanya.
Item perpustakaan juga semakin meningkat dan mengarah kepada dokumen-
dokumen multimedia yang menuntut manajemen layanan perpustakaan yang jauh
lebih dinamis dan kreatif. Tuntutan ini disertai dengan pesatnya perkembangan
teknologi informasi, semakin memicu pemanfaatan TI dan multimedia dalam
meningkatkan layanan perpustakaan (Seminar, 2004). Multimedia mempermudah
menyampaikan informasi dalam bentuk audio dan visual, tampilan konten
informasi/pembelajaran lebih menarik dan dinamis dibanding dalam bentuk buku.
Oleh karena itu film animasi menjadi salah satu pilihan dari layanan yang diberikan
perpustakaan, dan juga sebagai media promosi untuk mengajak masyarakat
berkunjung ke perpustakaan.
Promosi merupakan bentuk kegiatan pemasyarakatan perpustakaan,
kegiatan ini penting dilakukan kepada pengguna perpustakaan dan masyarakat
pada umumnya, agar koleksi dan layanan yang tersedia di perpustakaan
dimanfaatkan secara maksimal oleh penggunanya, sehingga pengguna dan
masyarakat dapat merasakan pentingnya keberadaan perpustakaan dalam
menunjang kebutuhan informasi, menambah pengetahuan dan meningkatkan
keterampilan mereka. Promosi adalah proses berkomunikasi mengenalkan tujuan,
fungsi dan kegiatan perpustakaan serta mengajak masyarakat datang ke
perpustakaan secara terus menerus, diharapkan masyarakat akan terbiasa
memenuhi kebutuhan informasinya di perpustakaan dan berdampak pada
meningkatnya keterampilan dan kecerdasan masyarakat disekitarnya. Sehingga
amanah yang tertuang dalam Undang-Undang Perpustakaan no. 43 tahun 2007
pasal 3, yaitu “Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian,
pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan
keberdayaan bangsa”. dapat terlaksana dengan baik. (Sutarsyah, 2015).
Perpustakaan Kebun Raya Bogor (KRB) sebagai unit pelaksana pengelola
informasi lembaga berkepentingan untuk memasyarakatkan perpustakaan dengan
menyebarluaskan informasi dan memberdayakan sumber pengetahuan yang
dimiliki. Kebun Raya Bogor merupakan institusi konservasi ex-situ tertua di
Indonesia yang memiliki nilai sejarah tinggi sebagai tonggak dalam perkembangan
institusi dan penelitian pertanian di Indonesia dan merupakan pilar utama bagi usaha
penyelamatan jenis-jenis tumbuhan dari kepunahan. Fungsi Kebun Raya dalam hal

84
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

pendidikan lingkungan dan penelitian dibidang perkebunrayaan dan tumbuhan,


perlu diinformasikan kepada masyarakat agar fungsi rekreasi yang selama ini lebih
menonjol dapat diimbangi. (Sutarsyah, 2015).
Sejak tahun 2013 Perpustakaan KRB menerima magang, pelajar SMK dari
jurusan multimedia hal ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan perpustakaan untuk
meningkatkan layanan perpustakaannya kepada pemustaka khususnya untuk
segmen pelajar, layanan ini perlu dilakukan karena Perpustakaan KRB memiliki
fasilitas pojok anak dan koleksi yang diperuntukkan untuk anak-anak dan pelajar
pada umumnya, selain itu perpustakaan juga sering diundang untuk mengikuti
pameran perpustakaan yang banyak dikunjungi pelajar. Oleh karena itu media film
animasi ini menjadi salah satu pilihan sebagai media promosi kepada pemustaka,
agar pemustaka tertarik untuk berkunjung dan memanfaatkan Perpustakaan KRB.
Namun keterbatasan SDM perpustakaan dan kemampuan SDM perpustakaan
membuat layanan ini tidak dapat terlaksana. Sementara itu Kebun Raya Bogor
menjadi tempat menarik bagi sekolah dan perguruan tinggi untuk menempatkan
siswa dan mahasiswanya melakukan praktek kerja lapangan/magang di Kebun
Raya Bogor, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh perpustakaan untuk menerima
pelajar/siswa dari jurusan multimedia yang memiliki kemampuan membuat film
animasi. Berikut pemaparan beberapa produk film animasi Perpustakaan Kebun
Raya Bogor, hasil kerjasama dengan siswa SMK jurusan multimedia yang magang
di perpustakaan, dari tahun 2013 s.d. 2015.

Tujuan
1. Mengenalkan produk layanan Perpustakaan KRB
2. Film animasi sebagai media promosi
3. Mengajak pemustaka berkunjung ke perpustakaan

Dampak Teknologi Informasi dan Multimedia di Perpustakaan


Saat ini pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK)
memungkinkan layanan perpustakaan lebih beragam dan aktraktif. Dengan melalui
visualisasi multimedia yang meliputi teks, citra suara, video, dan animasi/film,
layanan perpustakaan lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami. Dengan
multimedia telah mengubah paradigma layanan perpustakaan dari hanya melihat
dan membaca, menjadi melihat, mendengar, mengamati dan mengerjakan.

85
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

(Seminar, 2004). Perkembangan TIK juga memungkinkan dokumen multimedia


dapat di disimpan di situs web, sehingga layanan perpustakaan dapat dilihat,
ditelusur dan digunakan oleh masyarakat yang lebih luas dan tidak dibatasi lokasi.
Dengan fenomena perpustakaan digital, layanan perpustakaan dapat diakses
dimana saja dan kapan saja, Perpustakaan digital adalah perpustakaan yang
menyediakan sumber-sumber informasi dalam format terbacakan mesin yang dapat
diakses melalui jarak jauh dengan menggunakan jaringan komputer (SKKNI. 2012).
Perubahan-perubahan yang terjadi di dunia perpustakaan, dokumentasi dan
informasi pada abad informasi ini harus ditanggapi oleh pelaku informasi yaitu
pustakawan yang mempunyai peranan dalam mata rantai informasi. Pustakawan
sebagai salah satu pelaku dalam mata rantai informasi harus melengkapi atau
membekali dirinya dengan keahlian maupun pengetahuan yang sesuai dengan
tuntutan abad informasi agar dapat tetap berada dalam jalur mata rantai informasi
untuk mendukung kegiatan organisasinya. abad informasi dengan teknologi
digitalnya banyak memberikan kemudahan dan kelebihan dalam menghasilkan,
menyebarkan dan menggunakan pola pikir para pelaku informasi (Suwahyono.
2000). Karena dengan perpustakaan digital penyajian informasi akan mengalami
perubahan format dari analog menjadi digital, begitupun untuk meningkatkn
pendayagunaan informasi harus juga dilakukan perubahan dalam
mengkomunikasikan dan mempublikasikan informasi dari media tercetak menjadi
media teknologi digital.
Fenomena ini menjadi tantangan sekaligus kesempatan yang baik bagi
pustakawan. Pada perpustakaan digital koleksi multimedia dan intelegensi artifisial
sangat memainkan peranan penting, maka sifat multimedia inilah yang
mensyaratkan pustakawan digital untuk memiliki kompetensi bagaimana
mengembangkan,mengelola, menyimpan, dan mendayagunakan sumber elektronik
tersebut secara efektif dan efisien (Sumiati, 2014). Di Era digital meningkatnya
tuntutan kualitas layanan informasi yang semakin tinggi dari pemustaka, hal ini perlu
disikapi dengan baik agar perpustakaan tidak ditinggalkan dan tergantikan oleh
media lain yang lebih menarik.

Promosi Perpustakaan
Promosi perpustakaan adalah kegiatan memperkenalkan, menyebarluaskan
dan mendayagunakan sumber daya serta layanan perpustakaan kepada masyarakat

86
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

(SKKNI, 2014). Perpustakaan perlu melakukan promosi sebagai bagian penting dari
pemasaran dan bagian dari kegiatan pemasyarakatan perpustakaan. Tujuan utama
promosi adalah memberitahu, membujuk, dan mengingatkan. Peranan promosi
dalam kegiatan pemasaran perpustakaan merupakan bagian yang sangat penting
dalam mengkomunikasikan pesan-pesan pada individu, kelompok atau organisasi
baik langsung maupun tidak langsung tentang suatu produk informasi yang
dihasilkan oleh lembaga perpustakaan (Rachmawati. 2004). Diharapkan dengan
promosi yang berkesinambungan dapat meningkatkan kunjungan masyarakat ke
perpustakaan, dan layanan perpustakaan dapat dimanfaatkan masyarakat secara
maksimal.
Promosi merupakan media berkomunikasi kepada masyarakat, dengan
memberi penjelasan dan meyakinkan masyarakat tentang layanan dan produk-
produk perpustakaan yang dapat dimanfaatkan, sehingga masyarakat terbujuk untuk
datang ke perpustakaan. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Seminar (2004)
bahwa “Salah satu fungsi vital perpustakaan adalah bagaimana dapat menarik lebih
banyak pengguna perpustakaan, bagaimana menolong pengguna mencari dan
mendayagunakan item dan fasilitas perpustakaan dengan kesulitan yang minimal,
menginformasikan item dan layanan baru, membangkitkan minat baca dan belajar,
serta menjangkau masyarakat luas tanpa kendala geografis”. Terkait dengan fungsi
membangkitkan minat baca dan belajar perlu adanya media promosi di
perpustakaan. Agar perpustakaan tidak ditinggalkan oleh masyarakat penggunanya
pustakawan perlu melakukan terobosan dalam hal layanannya, salah satunya
dengan membuat film animasi yaitu yaitu berupa tayangan yang meliputi suara dan
gambar.
Film animasi menjadi salah satu media aktraktif, dinamis dan menarik yang
dapat dijadikan media promosi untuk mengajak pemustaka berkunjung dan
memanfaatkan perpustakaan. Latar belakang pembuatan topik film disesuaikan
dengan tugas pokok dan fungsi Kebun Raya Bogor, dalam hal ini pustakawan perlu
mengidentifikasi, mengumpulkan data, menelusur dan mendapatkan data/informasi,
mengolah dan menganalisis data yang akan menjadi tema dari film animasi. Hal ini
dilakukan untuk memilih skala prioritas tema film yang akan dibuat. Selain itu
pustakawan juga perlu membuat alur cerita, skenario, dan penyutradaraan dalam
pembuatan film animasi tersebut. Berikut beberapa produk film animasi dari
Perpustakaan Kebun Raya Bogor-LIPI:

87
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

1. Perpustakaan Sumber Ilmu Banyak Baca Banyak Tahu

Pada film ini, digambarkan sekelompok pelajar SMA yang sedang berjalan-jalan
dan melihat poster lomba cerdas cermat yang diadakan Perpustakaan KRB, mereka
tertarik untuk mengikuti lomba tersebut. Sesampai di rumah salah satu pelajar
mencari informasi tentang tanaman dengan mengunjungi situs web Perpustakaan
KRB. Esok harinya para pelajar mengunjungi Perpustakaan KRB, untuk
mendapatkan beberapa informasi dalam bentuk buku tentang tanaman yang ada di
KRB dan informasi lainnya sebagai persiapan untuk mengikuti lomba cerdas cermat.
Pertandingan cerdas cermat dimulai, dan hasil akhirnya mereka mendapatkan juara
pertama.
Pada film ini pesan yang ingin disampaikan bahwa keberadaan perpustakaan
sangat penting sebagai media untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, dan
seseorang yang siap dan unggul di bidang informasi, akan lebih tahu, lebih cerdas,
dan lebih mudah mendapatkan cita-cita yang diinginkan, sehingga keberhasilan
akan selalu menyertainya.

2. Tempat-Tempat Menarik di Kebun Raya Bogor

Film ini menggambarkan beberapa lokasi menarik dan memiliki nilai sejarah di
KRB yang perlu dikunjungi oleh pengunjung yang datang ke KRB , lokasi-lokasi
yang ditayangkan seperti:
a. Perpustakaan, tempat mendapatkan berbagai jenis informasi tentang tanaman
dan informasi perkebunrayaan dalam bentuk buku, majalah dsb.
b. Garden shop, adalah sebuah toko yang disediakan Kebun Raya Bogor, di toko ini
pengunjung Kebun Raya Bogor bisa membeli aneka tanaman, suvenir, dan barang-
barang lainnya.

88
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

c. Museum Zoologi, adalah tempat display berbagai koleksi artefak satwa yang
telah diawetkan dan fosil hewan lainnya, disajikan pula informasi dari masing-
masing artefak satwa tersebut.
d. Taman Teijsmann, sebuah taman yang dibuat untuk mengenang jasa Direktur
Kebun Raya Bogor, J.E. Teijsmann periode tahun 1831 s.d. 1867.
Pesan yang ingin disampaikan memberikan pilihan tempat yang bisa
dikunjungi dan mengubah image kebun raya di masyarakat sebagai tempat untuk
“berpacaran” berangsur dapat meningkat menjadi tempat wisata yang memiliki
aspek ilmiah dan aspek edukasi.

3. Perbedaan Amorphophallus titanum dan Rafflesia patma

Film ini menjelaskan tentang perbedaan bunga bangkai, Amorphophallus


titanum dan Rafflesia patma, habitat dan cara hidupnya. Pembuatan film ini
berdasarkan keprihatian pustakawan membaca dan menemukan beberapa buku
yang masih salah mendeskripsikan kedua jenis tanaman tersebut, padahal buku
tersebut dibaca dan dirujuk oleh beberapa guru, pelajar, orang tua siswa, dan
pembaca lainnya. Dikhawatirkan informasi yang salah tersebut berdampak pada
perkembangan pengetahuan selanjutnya. Koleksi kedua tanaman tersebut terdapat
di KRB, dan menjadi icon penting dan menarik bagi KRB karena tanaman tersebut
menjadi objek penelitian bagi para peneliti di Kebun Raya. Selain itu keberadaan
tanaman tersebut juga sebagai “icon” Kebun Raya Bogor untuk menarik lebih
banyak pengunjung . keberadaan kedua tanaman ini juga menjadi media edukasi
bagi masyarakat untuk mengenal tanaman unik dan langka di Indonesia.
4. Kantong semar, ayo banyak tahu dengan membaca buku di perpustakaan

89
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Kantong semar adalah tanaman dari suku nepenthes, tanaman ini unik dan
menarik karena memiliki kantong. Tanaman ini dikoleksi dan diteliti di Kebun Raya
Bogor. Dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung Kebun Raya. Oleh
karena itu perpustakaan berkepentingan mengenalkan tanaman ini kepada
masyarakat sebagai media edukasi tentang tanaman unik dan langka. Untuk
mendapatkan tanaman ini pengunjung KRB bisa membelinya di Garden Shop/toko
yang ada di KRB.

5. Manfaat kelelawar bagi penyebaran tanaman

Kebun Raya Bogor selain dikenal karena memiliki banyak tanaman unik dan
langka, juga terkenal karena disinggahi oleh kelelawar. Pada film ini dijelaskan jenis
dan fungsi kelelawar sebagai media penyebaran tanaman. Peran kelelawar dan
jumlah kelelawar di Kebun Raya Bogor. Pesan yang ingin disampaikan adalah
hewan juga berfungsi sebagai agen penyebar tanaman, sehingga kita harus
menyayangi dan melindungi hewan-hewan tersebut dari kepunahan.
Produk film animasi Perpustakaan KRB sudah di unggah/ upload di YouTube
di kanal/channel Perpustakaan Kebun Raya Bogor, sejak Mei tahun 2015 silahkan
untuk melihat dan mengunduh/mendowloadnya, dengan tampilan di YouTube
seperti berikut ini:

90
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Kesimpulan
Pemanfaatan teknologi digital menjadi tuntutan utama dalam layanan
perpustakaan, dan menjadi trend layanan menarik saat ini, karena pemustaka
mendapatkan informasi secara mudah dan cepat. Item perpustakaan juga semakin
meningkat dan mengarah kepada dokumen-dokumen multimedia yang menuntut
manajemen layanan perpustakaan yang jauh lebih dinamis dan kreatif. Multimedia
mempermudah menyampaikan informasi dalam bentuk audio dan visual, tampilan
konten informasi/pembelajaran lebih menarik dan dinamis dibanding dalam bentuk
buku. Oleh karena itu film animasi menjadi salah satu pilihan dari layanan yang
diberikan perpustakaan, Makalah ini menjelaskan tentang dampak teknologi
informasi dan multimedia, promosi perpustakaan dan deskripsikan lima film animasi
produk Perpustakaan KRB, film ini juga sebagai media promosi untuk mengajak
pemustaka berkunjung dan memanfaatkan perpustakaan.

Daftar Pustaka:
1. Anies Baswedan. Perkaya peran pustakawan. Pikiran Rakyat. Senin, 21
Maret 2016. Hal. 6.
2. Rachmawati, Tine Silvana. 2004. Faktor 4P, 3P dan 4C serta aplikasinya
dalam kegiatan pemasaran perpustakaan (library marketing). BACA vol. 28
no.1 juni 2004. Hal. 40-49.
3. SKKNI. 2012. Indonesia. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI no. 83 tahun 2012
tentang penetapan rancangan standar kompetensi kerja nasional Indonesia
sektor jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya
bidang perpustakaan menjadi standar kompetensi kerja nasional Indonesia.
Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.
4. Seminar, Kudang B. 2004. Manajemen layanan perpustakaan dengan
dokumen multimedia. Jurnal Pustakawan Indonesia. Vol. 4 no. 1. Hal. 12-21.
5. Sumiati, Opong. 2014. Kompetensi pustakawan pengelola sumber elektronik.
Media pustakawan. Vol. 21 no. 1. Hal. 1
6. Sutarsyah. 2015. Pemasyarakatan perpustakaan dokumentasi dan informasi
dengan mendekatkan layanan perpustakaan pada pengguna: studi kasus

91
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Perpustakaan Kebun Raya Bogor-LIPI. Visipustaka, vol. 17 no. 3. Hal. 179-


189
7. Suwahyono, Nurasih, 2000. Mempersiapkan sumberdaya manusia bidang
dokinfo memasuki abad informasi. BACA. vol. 25, no.1-2.

92
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Pemasyarakatan Perpustakaan Dokumentasi dan Informasi Melalui Portal Website:


Pengalaman Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah LIPI
Oleh:

Tupan

Pustakawan Madya PDII LIPI

Abstrak

Dalam rangka memenuhi kebutuhan pemustaka tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sangat
pesat, PDII LIPI sekarang lebih banyak mengadakan bahan pustaka atau sumber informasi secara online. Hal ini dimaksudkan
agar kebutuhan informasi bagi pemustaka dapat dipenuhi secara cepat dengan jenis koleksi yang beragam. Koleksi yang dilanggan
PDII LIPI secara online diantara e- journal dari sciendirect serta e-book dan e-journal dari springer link. Untuk mengoptimalkan
pemanfaatan koleksi bahan pustaka yang dimilki oleh PDII LIPI, dilakukan kegiatan pemasyarkatan perpustakaan dokumentasi
dan informasi melalui website yang dimiliki PDII LIPI yaitu http://www.pdii.lipi.go.id/. Tulisan ini menyajikan cara
pemasyarakan perpustakaan dokumentasi dan informasi yang meliputi sosialisasi, publisitas dan pameran.

Kata Kunci : Pemasyarakatan perpusdokinfo; Sosialisasi; Publisitas; Pameran

Pendahuluan

Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI), yang
sebelumnya bernama Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional (PDIN), mulai berdiri pada tanggal 1
Juni 1965. PDII LIPI merupakan salah satu pusat dibawah organisasi LIPI. Misi PDII-LIPI adalah
membangun masyarakat yang adil, cerdas, kreatif, integratif, dan dinamis berdasarkan ilmu pengetahuan dan
teknologi (iptek) yang humanistik. Sedangkan tugas pokoknya adalah melaksanakan pembinaan dan
pemberian jasa dokumentasi dan informasi (dokinfo) ilmiah sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan
oleh ketua LIPI, melalui kegiatan jasa dokinfo, pembinaan dan pengembangan di bidang dokumentasi
ilmiah.

Dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, seperti meningkatnya jaringan otomasi


perpustakaan, pemustaka dapat dengan mudah menelusuri informasi secara cepat melalui jaringan internet.
Agar informasi yang diberikan dapat diterima oleh pemustaka secara cepat, maka pemasyarakatan
dokumentasi dan informasi lebih banyak disampaikan secara elektronik. Untuk memenuhi kebutuhan
informasi pemustaka yang semakin meningkat maka PDII-LIPI mengadakan koleksi bahan pustaka secara
online. Hal ini dimaksudkan agar kebutuhan informasi dapat terpenuhi secara cepat dengan variasi koleksi
yang beragam jenisnya. Pengadaan literatur secara elektronik ini menjadikan koleksi PDII-LIPI semakin
lengkap, yang meliputi buku teks (text book) dan referensi, majalah ilmiah luar dan dalam negeri, koleksi

93
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

audio visual dan e-book/e-journal, laporan penelitian, koleksi paten, Riset Unggulan Terpadu (RUT),
makalah seminar/prosiding, karya ilmiah peneliti LIPI, tesis, dan disertasi. PDII LIPI saat ini memliki
koleksi yang cukup lengkap dalam bidang iptek dan ilmu ilmu sosial yang terdiri dari 73315 makalah
ilmiah, 75245 laporan penelitian, 86848 buku, 32852 tesis/disertasi dan 6859 paten, dan 195.000 artikel
jurnal.
Untuk mendayagunakan koleksi yang ada di Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah, perlu dilakukan
sossialisasi atau pemasyarakatan kepada pemustaka. Pada dasarnya masyarakat pengguna perpustakaan
(pemustaka) ini akan datang bila ada rasa ketertarikan. Ketertarikan yang dimaksud bisa diartikan sebagai
ketertarikan terhadap tempat, lingkungan, koleksi, pelayanan dan bagaimana promosi yang dilakukan. Rasa
ketertarikan akan meningkat menjadi senang apabila kebutuhan dapat terpenuhi, sehingga dengan
terpenuhinya kebutuhan dan menimbulkan rasa senang serta kepuasan, maka pemustaka akan datang
kembali.
Sarana yang efektif dalam usaha pengenalan dan pendekatan perpustakaan kepada masyarakat, yaitu
dengan sosialisasi. Dengan adanya sosialisasi diharapkan masyarakat akan mengenal perpustakaan secara
dekat dan pada akhirnya masyarakat akan menjadi pemustaka yang giat dalam memanfaatkan jasa
perpustakaan (Vicha Handayani, 2013).
Pemasyarakatan Perpusdokinfo di PDII LIPI

Menurut Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional RI No. 2 Tahun 2008 tentang petunjuk teknis jabatan
fungsional pustakawan dan angka kreditnya , dikatakan bahwa pemasyarakatan perpusdokinfo meliputi
kegiatan penyuluhan, publisitas dan pameran.

Penyuluhan/Sosialisasi Layanan Jasa Perpustakaan, Dokumentasi dan Informasi

Penyuluhan adalah suatu kegiatan pemberian keterangan atau penjelasan kepada masyarakat tentang
kegunaan dan pemanfaatan perpusdokinfo. Misalnya: Sosialisasi Web Perpustakaan, pada saat orientasi
mahasiswa baru, sosialisasi standar/peraturan baru, dan lain-lain. Kegiatan penyuluhan meliputi:

1. Identifikasi potensi wilayah adalah kegiatan identifikasi situasi, permasalahan dan potensi suatu
wilayah sasaran yang akan menjadi obyek penyuluhan dengan menggunakan teknik-teknik tertentu.

2. Menyusun materi penyuluhan adalah kegiatan penyiapan dan pembuatan materi yang akan dipakai
sebagai bahan penyuluhan perpusdokinfo.

3. Melaksanakan penyuluhan tentang kegunaan dan pemanfaatan perpusdokinfo melalui media.


Beberapa media penyuluhan yang digunakan antara lain: Televisi, radio, penyuluhan massal
menggunakan alat bantu audio visual, tanpa alat bantu/ceramah, dan penyuluhan tatap muka dalam
kelompok.

94
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

4. Evaluasi pasca penyuluhan adalah kegiatan melakukan penilaian terhadap proses pelaksanaan
penyuluhan mulai dari topik, penyusunan materi, penyajian sampai dengan penyelenggaraan
penyuluhan.

Sebagai salah satu lembaga pengelola dokumentasi dan informasi ilmiah, PDII mempunyai tugas
pokok melaksanakan pembinaan dan pemberian jasa dokumentasi informasi ilmiah sesuai dengan kebijakan
yang telah ditetapkan ketua LIPI. Untuk merealisasikan tugas pokok tersebut PDII melakukan tiga jenis
kegiatan utama yaitu jasa dokumentasi, jasa informasi, pembinaan dan pengembangan di bidang
dokumentasi informasi. Kegiatan jasa informasi mencakup semua upaya untuk memenuhi kebutuhan
informasi yang diperlukan pengguna baik dikerjaan sendiri maupun bekerja sama dengan pihak lain. Untuk
itu, PDII berusaha menggali sumber informasi yang ada pada koleksi sendiri serta mengakses berbagai
pangkalan data di luar negeri melalui internet.
Untuk memasyarakatkan jasa perpustakaan dokumentasi dan informasi, Pusat Dokumentasi dan
Informasi Ilmiah mengadakan penuyuluhan atau sosialisasi terhadap tujuh menu jasa online yang dapat
dimanfaatkan pengguna. Tujuh menu jasa informasi online di portal website PDII, diantaranya yaitu katalog
perpustakaan, jurnal ilmiah Indonesia(ISJD), jasa ISSN online, info baru, e-library, indonesiana dan paket
informasi. Berikut ini tampilan menu-menu jasa online di website PDII.

Menu jasa online

Gambar 1. Tampilan menu Jasa online website PDII

1. Gunakan Katalog Perpustakaan (http://elib.pdii.lipi.go.id/katalog/)

Katalog Perpustakaan PDII LIPI, saat ini sudah tersedia lebih dari 74268 makalah ilmiah, 76134 laporan

penelitian, 87816 buku, 32900 tesis/disertasi dan 6859 paten. Informasi koleksi perpustakaan PDII LIPI

adalah : Koleksi Umum (Buku dan Prosiding/Makalah) di Lantai 4; Koleksi Referensi dan TTG di Lantai

95
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

3;Koleksi Karya LIPI di Lantai 3; Koleksi tentang Ilmu Perpustakaan di Lantai 3; Koleksi Wanita dan Anak

di Lantai 4; Laporan Penelitian di Lantai 5; Tesis dan Disertasi di Lantai 5; Jurnal/Majalah Ilmiah Indonesia

di Lantai 5 dan Artikel Elektronik/Digital di Lantai 3.

Untuk melakukan penelusuran melalui katalog perpustakaan PDII LIPI gunakan website

http://elib.pdii.lipi.go.id/katalog. Sebagai contoh, gunakan kata kunci makanan tradional untuk mendapat

artikel yang berhubungan dengan makanan trasional seperti yang ditunjukkan pada gambar 2. berikut. Hasil

penelusuran mengenai penelusuran mengenai makanan tradisional ditampilkan pada gambar 3.

Ketik makanan tradisional lalu klik

Gambar 2. Tampilan Katalog Perpustakaan PDII

Tampilan hasil penelusuran dan pilih yang sesuai

Gambar 3. Tampilan hasil penelusura.

2. Gunakan http://isjd.pdii.lipi.go.id/

96
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Pangkalan data jurnal ilmiah Indonesia (ISJD) berisi kumpulan jurnal ilmiah yang terbit di Indonesia
dan diserahkan ke PDII LIPI untuk didiseminasikan. Sampai April 2014 tercatat lebih dari 7.000 jurnal
ilmiah yang diterbitkan dan kurang lebih 4000 jurnal secara kontinyu mengirim terbitannya. Jurnal yang
saat ini dapat diakses ada sekitar 6.100 jurnal dengan jumlah artikel lebih dari 195.000 judul yang dapat
diakes melalui judul artikel, pengarang, penerbit dan berdasarkan nama jurnal. Seperti terlihat pada
gambar 4. Untuk mencari artikel jurnal ketik kata kunci tepung ikan pada kotak pencarian kemudian
klik cari. Tampilan hasil penelusuran tentang tepung ikan dapat dilihat pada gambar 5.

Ketik kata kunci lalu kli cari

Gambar 4. Tampilan pangkalan data jurnal ilmiah Indonesia (ISJD)

Pilih yang sesua lalu klik

Gambar 5. Tampilan hasil penelusuran tentang tepung ikan.

97
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Pada pangkalan data jurnal ilmiah Indonesia (ISJD) , pemustaka dapat menggunakan layanan jasa
ISSN online seperti ditampilkan pada gambar 6. Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI
memiliki tugas dan wewenang untuk melakukan pemantauan atas seluruh publikasi terbitan berkala yang
diterbitkan di Indonesia. Sebagai bagian dari tanggung-jawab tersebut, PDII menerbitkan ISSN
(International Standard of Serial Number) yang merupakan tanda pengenal unik setiap terbitan berkala
yang berlaku global. (International Standard of Serial Number) yang merupakan tanda pengenal unik
setiap terbitan berkala yang berlaku global. ISSN diberikan oleh ISDS (International Serial Data System)
yang berkedudukan di Paris, Perancis. ISSN diadopsi sebagai implementasi ISO-3297 di tahun 1975 oleh
Subkomite no. 9 dari Komite Teknik no. 46 dari ISO (TC 46/SC 9). ISDS mendelegasikan pemberian
ISSN baik secara regional maupun nasional. Untuk regional Asia dipusatkan di Thai National Library,
Bangkok, Thailand. PDII LIPI merupakan satu-satunya ISSN National Centre untuk Indonesia.

Gambar 6. Tampilan jasa ISSN online

Pada portal layanan ISSN online dicantumkan daftar ISSN yang telah diterbitkan, informasi lengkap
mengenai ISSN dan prosedurnya, formulir permohonan ISSN baru dan akses untuk pemohon ISSN seperti
ditampilkan pada gambar 6.

3. Gunakan http://www.sciencedirect.com/science/search

Dalam pencarian artikel dengan topik khusus disarankan mengklik tombol "advanced search" yang
berada di bagian atas halaman web Sciencedirect (Gambar 7). Setelah halaman web baru terbuka,
mengingat judul-judul jurnal yang tercakup dalam Science Direct begitu banyak, maka pencarian artikel
dibatasi pada judul-judul jurnal yang dilanggan. Dengan demikian Anda akan mengurangi temuan yang
tidak bisa diakses full text-nya. Untuk itu, pada kotak "Refine your search" Anda harus memilih
"Subscribed publications" (Gambar 8). Kemudian ketikkan medicinal plant pada kotak "Search for" yang

98
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

tersedia dengan memilih kata ”title’. Barulah klik tombol "Search" yang ada di bagian bawah halaman web.
Untuk mendapat artikel full text di klik pdf pada artikel yang dingingkan seperti pada gambar 9.

Gambar 7. Halaman Web Science Direct dengan Tombol Advanced Search

Ketik kata kunci : Medicinal plant

Klik Search

Gambar 8. Cara melakukan penelusuran melalui Sciendirect

99
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Pilih yang sesuai

Gambar 9. Tampilan hasil penelusuran medicinal plant

4. Gunakan http://link.springer.com/

Untuk melakukan penelusuran pada website spingerlink ketikan kata decentralization in Indonesia pada
kotak pencarian (Gambar 10.). Untuk mendapat artikel full text di klik download pdf pada artikel yang
dingingkan seperti pada Gambar 11.

Ketik Decentralizaion in Indonesia

Gambar 10. Halaman web sringerlink

100
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Pilih yang sesuai

Gambar 11. Tampilan hasil Penelulusuran Decentralization in Indonesia

Publisitas yang dilakukan oleh PDII LIPI

Publisitas adalah kegiatan perancangan, penyusunan, penerbitan dan penyebarluasan naskah penyuluhan
atau promosi tentang kegiatan perpusdokinfo kepada masyarakat. Publikasi dapat dilakukan melalui media
cetak dan elektronik berupa artikel, brosur, film, slide, CD, situs web dan lain-lain. Kegiatan publisitas
meliputi:

1. Menyusun materi publisitas, kegiatannya menghimpun bahan publisitas, mengolah dan menyajikan
dalam bentuk; cerpen, skenario, artikel, berita, sionopsis, brosur, leaflet, poster/gambar peraga slide,
dan bahan pandang dengar.
2. Melakukan publisitas, adalah kegiatan menyebarluaskan materi publisitas tentang

kegiatan perpustakaan, dokumentasivdan informasi kepada masyarakat luas melalui

media cetak dan elektronik seperti artikel, brosur, film, silde, dan situsweb.

3. Melakukan evaluasi pasca publisitas, adalah kegiatan yang ditunjukan untuk memantau

dan menilai efektifitas kegiatan publisitas yang telah dilakukan. Evaluasi dapat dilakukan

dengan cara penyebaran kuesioner, wawancara atau gabungan keduanya.

Untuk meningkatkan pendayagunaan jasa perpustakaan, dokumentasi dan informasi kepada


pemustaka, PDII LIPI melakukan publisitas melalui melaui portal website PDII LIPI

101
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

(http://www.pdii.lipi.go.id/). Publistas yang dilakukan PDII diantaranya adalah info baru, paket informasi,
dan koleksi indonesiana.

1. Info buku baru

Publikasi Info Buku Baru adalah publikasi buku-buku baru yang dimilki oleh PDII baik yang elektronik
maupun yang tercetak. Dengan adanya publikasi info buku baru diharapakan dapat membantu pemustaka
untuk memperoleh informasi buku terbaru yang dimiliki oleh PDII LIPI.

Gambar 12. Tampilan Info Buku Baru

2. Info Baru Kawasan

Publikasi Info Baru Kawasan diterbitkan oleh Unit Pelaksana Jasa PDII LIPI Serpong yang memuat
informasi baru dari berbagai sumber informasi, baik yang dimilki PDII LIPI maupun dari sumber lain.
Publikasi ini diharapkan mampu menjadi media komunikasi untuk mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi secara berkesinambungan.

102
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Gambar 13. Tampilan Info Baru Kawasan

4. Info Baru Sari Karangan

Publikasi ini diterbitkan oleh Unit Pelaksana Jasa PDII LIPI Serpong yang menyajikan abstrak hasil
penelitian di kawasan Puspiptek Serpong. Publikasi ini diharapkan mampu menjadi media komunikasi
untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara berkesinambungan

Gambar 14. Tampilan Info Baru Sari Karangan

5. Paket Informasi

Paket Informasi Teknologi adalah salah layanan yang disediakan oleh PDII LIPI bagi peminat informasi
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Paket informasi teknologi ini merupakan kumpulan informasi dari
berbagai sumber, antara lain laporan penelitian, artikel makalah/jurnal ilmiah, maklah seminar/konferensi

103
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

dan paten yang dilengkapi dengan saran literatur yang dapat dipesan melalui PDII LIPI apabila berminat
memperoleh artikel lengkapnya. Paket ini telah tersedia dalam bentuk digital atau CD ROM.

Gambar 15. Tampilan Paket Informasi Teknologi

6. Koleksi Indonesiana

Koleksi Indonesiana adalah koleksi yang disediakan oleh PDII LIPI berupa buku, tesis, disertasi dan
artikel asing tentang Indonesia yang diambil dari berbagai sumber antara lain sciendirect, springerlink,
proquest, dan database tesis dan disertasi luar negeri. Koleksi tersebut dapat diakses melalui www.
pdii.lipi.go.id.

Koleksi Indonesiana

Gambar 16. Menu koleksi indonesiana

Pameran

Pameran adalah satu sarana yang dapat memenuhi sifat kodrati manusia, seperti keinginan untuk
menonton, mengetahui, memperhatikan sesuatu, mendalami sesuatu, memahami atau menghayati. Dalam

104
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

arti sempit, pameran adalah suatu pengaturan, penyusunan, dan penyajian benda-benda sedemikian rupa
sehingga menimbulkan kesan serta pengertian tertentu bagi orang yang melihatnya. Dalam arti luas,
pameran adalah suatu cara penyediaan informasi dan penyampaian informasi yang mencakup segala aspek
kegiatan yang secara sadar dan aktif serta diusahakan dalam bentuk visu!isasi dan atau peragaan baik yang
bersifat statis maupun dinamis sehingga menimbulkan suatu perhatian, interes, keinginan, keputusan, dan
tindakan bagi masyarakat yang menjadi sasarannya (Nooriko, 2004).

Sedangkan menurut Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional RI No. 2 Tahun 2008 pameran adalah
kegiatan mempertunjukkan dan memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang berbagai kegiatan,
kemampuan serta peran perpusdokinfo. Kegiatannya meliputi :

1. Membuat rancangan/desain pameran adalah kegiatan membuat tata letak, gambar dan pengaturan
materi yang akan dipamerkan.
2. Menyiapkan materi dan penataan pameran, adalah kegiatan menyiapakan alat dan menyeleksi bahan
pameran berupa media cetak maupun elektronik serta menatanya sesuai tema pameran dan kondisi
lapangan.
3. Menyelenggarakan pameran, kegiatan adalah kegiatan penyelenggaraan pameran yang terdiri dari
penanggung jawab pameran dan pemamdu pameran.
4. Evaluasi pasca pameran, adalah kegiatan pemantauan dan penilaian terhadap kinerja pameran yang
telah dilaksanakan.

Pameran perpustakaan merupakan media komunikasi visual yang tercermin dalam bentuk peragaan foto,
gambar, rekaman video dan lain sebagainya. Visualisasi pameran perpustakaan dapat berupa:

1. Demo menggunakan software perpustakaan


Demo software perpustakaan bertujuan untuk membantu pemustaka dalam proses temu kembali informasi.
Dalam demo tersebut, dijelaskan kemampuan dan kelebihan yang dapat diperoleh dari software dan
aplikasinya di perpustakaan.

Contoh demo penggunaan Software Laras yang dikembangkan oleh PDII LIPI

105
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Gambar17. Demo mencari literatur melalui software Laras

2. Display koleksi buku dan jurnal terbaru.

Untuk menarik minat pemustaka PDII LIPI menyediakan rak display yang menarik dan teratur untuk
menyususun koleksi terbaru yang dimilki. Selain itu koleksi-koleksi yang menjadi andalan perpustakaan
PDII LIPI juga dipamerkan.
.

Gambar 18. Display koleksi buku dan jurnal terbaru

3. Sistem pelayanan yang disediakan.


Memberikan visualisasi tentang sistem pelayanan perpustakaan, dokumentasi dan informasi yang
dilakukan oleh PDII LIPI. Sistem layanan yang dilakukan oleh PDII LIPI adalah layanan terbuka (open
acces) dan layanan tertutup ( close acces). Sistem layanan terbuka (open access) memberikan kebebasan
kepada pemustaka untuk dapat masuk dan memilih sendiri koleksi yang diinginkan dari rak. Koleksi PDII
LIPI yang dilayankan secara terbuka adalah koleksi buku, referensi, majalah dan jurnal. Adapun sistem
layanan koleksi tertutup adalah sistem layanan dimana pemustaka tidak boleh langsung mengambil koleksi

106
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

bahan pustaka yang diinginkan di rak, tetapi harus melalui petugas perpustakaan. Pemustaka dapat memlih
koleksi bahan pustaka yang diinginkan melalui katalog online yang disediakan.

Gambar 19. Pemustaka sedang mencari bahan pustaka melalui katalog online
4. Visualisasi gedung dan ruang perpustakaan.
Sarana yang ada di perpustakaan dijelaskan kepada pemustaka saat mengadakan pameran perpustakaan.
Gedung perpustakaan PDII LIPI memunyai ruang penitipan barang/tas, ruang sirkulasi, meja informasi,
ruang buku koleksi umum, ruang referensi, ruang teknologi tepat guna, ruang majalah dan jurnal; ruang
koleksi laporan penelitian, tesis dan disertasi dan dilengkapi ruang fotokopi, mushola, kamar kecil, dan
sebagainya.

Gambar 20. Gambar Ruang Referensi

5. Visualisasi pemprosesan bahan pustaka.


Untuk menarik minat pemustaka pada saat pameran perlu dilakukan visualisasi pemprosesan bahan
pustaka. Visualisasi pemrosesan ini mulai registrasi, pengkatalogan, pengklasiran, masuk data base, labeling

107
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

hingga shelving di rak. Selain visualisasi, perlu juga membuat leaflet, brosur, booklet mengenai
perpustakaan yang dipamerkan. Penataan ruang pameran ditata dengan baik dan menarik sehingga
pemustaka berkeinginan untuk berkunjung (Nooriko, 2004).

Gambar 21. Visualisasi pemrosesas bahan pustaka

Penutup
Untuk meningkatkan pendayagunaan jasa perpustakaan, dokumentasi dan informasi kepada
pemustaka, PDII LIPI melakukan pemasyarakatan jasa perpustakaan dokumentasi dan informasi melalui
melalui portal website PDII LIPI (http://www.pdii.lipi.go.id/) yang meliputi penyuluhan/sosialisasi,
publisitas dan pameran. Kegiatan sosialisasi meliputi sosialisasi pengunaan katalog online koleksi dalam
negeri, dan sossialisai e-journal sciendirect, e-book dan e-journal springer link yang dilanggan. Selain
sosialisasi, PDII LIPI juga melakukan publistas yang berupa info baru, paket informasi, dan koleksi
indonesiana serta melakukan pameran perpustakaan dalam berbagai iven kegiatan.

Dartar Pustaka

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 2008. Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional RI No. 2 Tahun
2008 Tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya.

Retno Widuri, Nooriko. 2004. Pameran, media komunikasi antara perpustakaan dengan pengguna. BACA
Vol. 28, No.2, Desember 2004: 120-126

108
Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawan: Kontribusi Pustakawan Berbasis Kajian dan Standar
Forum Perpusdokinfo LPNK Ristek - Jakarta, 30 Maret 2016

Vicha Handayani, Vicha dan Ardoni. 2013. Persepsi Masyarakat terhadap pelaksanaan promosi
Perpustakaan Umum Kota Padang di Kantor Perpustakaan dan Dokumentasi Kota Padang. Jurnal Ilmu
Informasi Perpustakaan dan Kearsipan Vol. 2, No. 1, September 2013, Seri B

www. pdii.lipi.go.id. Info Buku Baru. Akses tanggal 4 Agustus 2014

www.pdii.lipi.go.id. Info Baru Kawasan. Akes tanggal 23 Juli 2014

www.pdii.lipi.go.id. Info Baru Sari Karangan. Akes tanggal 21 Juli 2014

109
FORUM PERPUSDOKINFO LPNK RISTEK
Sekretariat: Badan Standardisasi Nasional
Gedung BPPT I, Lantai 11, Jalan M.H. Thamrin No.8, Kebon Sirih, Jakarta
Pusat 10340
Telp. +6221-3927422 ext. 166 | Fax. +6221-3927527