You are on page 1of 4

1.

1 Hasil Penelitian

1. Hubungan jenis cairan intravena dengan kejadian plebitis

Kejadian plebitis
Jenis p-
plebitis Tidak plebitis Total OR
Cairan value
f % f % f %

Kristaloid 36 58.1 26 41,9 62 100

Kombinasi 5 20,8 19 79.2 24 100 0.004


1,190
Kristaloid

dan koloid

Total 41 47.7 19 79,2 24 100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahawa yang paling banyak terjadi plebitis

yaitu pada pasien yang mendapat terapi jenis cairan kristaloid sebanyak 58,1%, dan

pasien yang mendapatkan terapi jenis cairan kombinasi kristaloid dan koloid akan lebih

berisiko 0,190 kali lebih banyak terjadi plebitis dibandingkan dengan jenis cairan

kristaloid saja dan terdapat hubungan yang signifikan antara jenis cairan dengan kejadian

plebitis.

2. Hubungan jenis obat dengan kejadian plebitis di ruang rawat inap RSUD Ungaran,

pada bulan januari 2016

Kejadian plebitis
p-
Jenis obat plebitis Tidak plebitis Total OR
value
f % f % f %

Obat tungal 23 43,4 30 56.6 53 100 1,5 0.433


Kombinasi 18 54.3 15 45.5 33 100

Total 62 85,3 49 53,2 86 100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahawa yang paling banyak terjadi plebitis

yaitu pada pasien yang mendapat terapi jenis obat kombinasi sebanyak 54,3%, dan pasien

yang mendapatkan terapi jenis cairan kombinasi akan lebih berisiko 1,5 kali lebih banyak

terjadi plebitis dibandingkan dengan jenis cairan obat tunggal saja dan tidak terdapat

hubungan yang signifikan antara jenis obat dengan kejadian plebitis.

3. Hubungan tempat insersi dan kejadian plebitis di ruang rawat inap RSUD Ungaran,

pada bulan januari 2016

Kejadian plebitis
Tempat p-
plebitis Tidak plebitis Total OR
Insersi value
f % f % f %

Distal 38 52.8 34 47.2 72 100 0.063


0.24
Medial 3 21.4 15 78.6 14 100

Total 42 74.2 45 52,3 86 100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahawa yang paling banyak terjadi plebitis

yaitu pada pasien yang terpasang infus pada bagian vena distal yaitu sebanyak 52,8%,

dan pasien yang terpasang infus pada bagian vena distal akan lebih berisiko 0,24 kali

lebih banyak terjadi plebitis dibandingkan dengan pasien yang terpasang infus pada

bagian vena medial dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tempat insersi

dengan kejadian plebitis.


4. Hubungan ukuran kateter dengan kejadian plebitis di ruang rawat inap RSUD

Ungaran pada bulan januari 2016

Kejadian plebitis
Ukuran p-
plebitis Tidak plebitis Total OR
kateter value
f % f % f %

Besar 8 80.0 2 20.0 10 100


0.043
Sedang- 5.2
33 43.3 43 56.6 76 100
kecil

Total 41 47.2 45 52,3 86 100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahawa yang paling banyak terjadi plebitis

yaitu pada pasien yang terpasang infus dengan ukuran kateter besar yaitu sebanyak 80%,

dan pasien yang terpasang infus dengan ukuran kateter besar akan lebih berisiko 5,2 kali

lebih banyak terjadi plebitis dibandingkan dengan pasien yang terpasang infus dengan

ukuran kateter sedang dan kecil dan terdapat hubungan yang signifikan antara ukuran

keteter dengan kejadian plebitis.

5. Hubungan ukuran kateter dengan kejadian plebitis di ruang rawat inap RSUD

Ungaran, pada bulan Januari 2016

Kejadian plebitis
Kecepatan p-
plebitis Tidak plebitis Total
tetesan value
f % f % f %

cepat 21 44.7 26 53.3 47 100 0.520

Lambat 13 46.4 15 53.6 28 100


Sangat
7 63.6 4 36.4 11 100
lambat

Total 41 63.6 45 36.4 86 100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahawa yang paling banyak terjadi plebitis

yaitu pada pasien yang terpasang infus dengan dengan kecepatan tetesan cepat yaitu

sebanyak 44,7%, dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara ukuran kateter

dengan kejadian plebitis.