You are on page 1of 46

MAKALAH

AGAMA ISLAM

KONSEP SEHAT SAKIT , SAKARATULMAUT ,MERAWAT JENAZAH

DISUSUN OLEH :

1. FEBBI FIO RINDI PRAMISTA (201601078)


2.

AKADEMI KEPERAWATAN
PEMERINTAH KABUPATEN PONOROGO
TAHUN AKADEMIK 2016/2017
KATA PENGANTAR

PROGAM STUDI D-3 KEPERAWATAN

AKPER PEMKAB PONOROGO

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik. Shawalat serta salam kami sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad
SAW, keluarga dan sahabat beliau, serta orang-orang mukmin yang tetap istiqamah di
jalan-Nya.

Makalah ini dirancang agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang agama,
mengetahui konsep sehat-sakit, sakaratulmaut dan mengurus jenazah, serta kaitannya
dengan peran keperawatan, yang disajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai
sumber.

Kami sangat berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam
pembuatan makalah ini. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidaklah
sempurna. Kami mengharapkan adanya sumbangan pikiran serta masukan yang
sifatnya membangun dari pembaca, sehingga dalam penyusunan makalah yang akan
datang menjadi lebih baik.

Ponorogo, 14 September 2016

( Penyusun )
DAFTAR ISI

Halaman Judul............................................................................... Error! Bookmark not defined.


Kata Pengantar .............................................................................. Error! Bookmark not defined.
Daftar Isi........................................................................................ Error! Bookmark not defined.
BAB I PENDAHULUAN ............................................................ Error! Bookmark not defined.
1.1 Latar Belakang ............................................................... Error! Bookmark not defined.
1.2 Rumusan Masalah .......................................................... Error! Bookmark not defined.
1.3 Tujuan ............................................................................. Error! Bookmark not defined.
BAB II PEMBAHASAN ............................................................ Error! Bookmark not defined.
2.1 Konsep Sehat Sakit ......................................................... Error! Bookmark not defined.
2.2 Sakratulmaut ................................................................... Error! Bookmark not defined.
2.3 Merawat Jenazah ............................................................ Error! Bookmark not defined.
2.4 Pandangan Menurut Agama ........................................... Error! Bookmark not defined.
BAB III PENUTUP ..................................................................... Error! Bookmark not defined.
3.1. Kesimpulan.........................................................................................................Error! Bookmark
3.1. Saran.........................................................................................................Error! Bookmark not d
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.l Latar Belakang


Pandangan sebagian besar individu dalam masyarakat mengenai kesehatan dan
pelayanan kesehatan masih rendah. Hal ini tentunya akan mempengaruhi setiap
perilaku sehat-sakit yang dimiliki oleh individu tersebut. Dan membahas tentang
materi sakaratulmaut yang membahas bagaimana tatacara sakaratulmaut dan merawat
jenazah dengan baik.

Untuk itu, membahas materi ini agar masyarat sadar dan paham tentang pentingnya
mengetahui konsep sehat sakit , sakaratul maut dan tata cara merawat jenazah
dengan baik dan benar menurut pandangan agama islam.

I.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian konsep sehat-sakit?
2. Apa pengertian sakaratulmaut ?
3. Bagaimana tata cara merawat jenazah?
4. Bagaimana pandangan agama tentang konsep sehat sakit,sakratulmaut & merawat
jenazah?
I.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian sehat-sakit.
2. Untuk mengetahui pengertian sakratulmaut.
3. Untuk cara merawat jenazah dengan baik dan benar.
4. Untuk mengetahui pandangan agama dari konsep sehat
sakit,sakratulmmaut,merawatjenazah.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KONSEP SEHAT SAKIT

2.1.1 Pengertian Sehat-Sakit

Ada beberapa pengertian sehat – sakit diantaranya :


1. Perkins (1939),
Sehat adalah suatu keadaan keseimbangan yang dinamis antara bentuk dan fungsi
tubuh dan beberapa faktor yang berusaha mempengaruhinya.

2. WHO (1974),
Sehat adalah suatu keadaan yang sempurna dari aspek fisik, mental, sosial dan tidak
hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
3. Perkins (1937),
Sakit adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan yang menimpa seseorang
sehingga menimbulkan gangguan aktivitassehari-hari baik aktifitas jasmani, rohani,
dan sosial.
4. WHO (1974),
Sakit adalah suatu keadaan yang tidak seimbang/sempurna seseorang dari aspek
medis, fisik, mental, sosial, psikologis dan bukan hanya mengalami kesakitan tetapi
juga kecacatan.

Jadi, sehat berarti bukan hanya bebas dari penyakit, tetapi meliputi seluruh kehidupan
manusia, termasuk aspek sosial, psikologis, spiritual, faktor-faktor lingkungan,
ekonomi, pendidikan dan rekreasi. Sedangkan sakit adalah suatu keadaan dimana
seseorang berada dalam keadaan tidak seimbang akibat adanya pengaruh yang datang
dari luar atau dari dalam dirinya.
2.1.2 Model sehat sakit

1. Kontinum sehat sakit atau rentang sehat sakit


Neuman (1990) “sehat dalam suatu rentang adalah tingkat sejahtera klien pada waktu
tertentu, yang terdapat dalam rentang dari kondisi sejahtera yang optimal, dengn
energy yang paling maksimum, sampai kondisi kematian, yang menandakan habisnya
energy total”

Menurut model kontinum sehat sakit, sehat adalah sebuah keadaan yang dinamis
yang berubah secara terus menerus sesuai dengan adaptasi individu terhadap
perubahan lingkungan internal dan eksternal untuk mempertahankan keadaan fisik,
emosional, intelektual, sosial, perkembangan dan spiritual yang sehat.

Sakit adalah sebuah proses dimana fungsi individu mengalami perubahan atau
penurunan bila dibandingkan dengan kondisi individu sebelumnya.

Karena sehat dan sakit merupakan kualitas yang relative, yang mempunyai beberapa
tingkat, maka akan lebih akurat bila ditentukan sesui dengan titik tertentu pada skala
kontimum sehat sakit:
Rentang sehat Renatang sakit

Keterangan gambar:
Rentang sakit dapat digambarkan mulai setengah sakit, sakit, sakit kronis dan
berakhir dengan kematian, sedangkan rentang sehat dapat digambarkan mulai dari
sehat normal, sehat sekali dan sejahtera sebagai status sehat yang paling tinggi.
Berdasarkan rentang sehat sakit tersebut, maka paradigma keperwatan dalam konsep
sehat sakit, memandang bahwa bentuk pelayanan keperawatan yang akan biberikan
selama rentang sehat sakit, akan melihat terlebih dahulu status kesehatan dalam
rentang sehat sakit tersebut, apakah statusnya dalam keadaan sakit atau sakit kronis
sehingga dapat diketahui tingkatan asuhan keperawatan yang akan diberikan serta
tujuan yang ingin dicapai untuk meningkatkan status kesehatannya.
2. Model kesejahteraan tingkat tinggi
Model kesejahteraan tingkat tinggi berorientasi pada cara memaksimalkan potensi
sehat pada setiap individu utuk mampu mempertahankan rentang keseimbangan dan
arah yang memiliki tujuan tertentu dalam lingkungan.

Model ini mencakup kemajuan tingkat fungsi ke arah yang lebih tinggi, yang menjadi
suatu tantangan yang luas dimana individu mampu hidup dengan potensi yang paling
maksimal, merupakan suatu proses yang dinamis, bukan suatu keadaan yang statis
dan pasif.

3. Model agen-penjamu-lingkungan
Menurut pendekatan ini, tingkat sehat sakit individu atau kelompok ditentukan oleh
hubungan yang dinamis antara ketiga variable agen, pejamu dan lingkungan.

Agen: factor internal atau eksternal yang dapat mengakibatkan terjadinya penyakit
Ex: seseorang terkena penyakit typoid, dimana agen adalah bakteri
Pejamu: seseorang atau sekelompok orang yang rentan terhadap penyakit atau sakit
tertentu.ex: riwayat keluarga, usia, gaya hidup
Lingkungan: seluruh factor yang ada diluar pejamu. Lingkungan fisik antara lain
tingkat ekonomi, iklim, kondisi tempat tinggal. Lingkungan soaial terdiri dari
interaksi seseorang dengan orang lain, termasuk stress, konflik dengan orang lain,
kesulitan ekonomi, krisis hidup, kematian pasangan.
4. Model keyakinan kesehatan
Menyatakan hubungan antara keyakinan seseorang dengan perilaku yang
ditampilkannya.

komponen pertama adalah persepsi individu tentang kerentangan dirinya terhadap


suatu penyakit, ex: klien perlu mengenal adany penyakit diabetes militus melalui
riwayat keluarganya, terutama jika dalam empat decade ada keluarga yang meninggal
karena penyakit tersebut, maka klien munngkin akan merasakan risiko mengalami
penyakit diabetes militus. Komponen kedua adalah persepsi indiividu terhadap
keseriusan penyakit tertentu, dipengaruhi oleh variable demaografi dan
sosiopsikologis, perasaan terancam oleh penyakit dan tanda-tanda untuk bertindak,
komponen ketiga dimana seseorang akan mengambil tindakan preventif, missal
mengubah gaya hidup.
Model keyakinan kesehatan menbantu perawat memahami berbagai factor yang dapat
mempengaruhi persepsi, keyakinan, perilaku klien serta membantu perawat membuat
rencana paling efektif untuk membantu klien memelihara atau memperoleh kembali
status kesehatannya dan mencegah terjadinya penyakit.

5. Model peningkatan kesejahteraan


“Peningkatan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan tingkat kesehatan klien”
(Pender 1993, 1996). Model tersebut mengidentifikasi beberapa factor (demografi
dan sosial) yang dapat meningkatkan atau menurunkan partisipasi untuk
meningkatkan kesehatan. Model tersebut juga mengatur berbagai tanda kedalam
sebuah pola untuk menjelaskan kemungkinan munculnya partisipasi klien dalam
perilaku peningkatan kesehatan (Pender, 1993, 1996)
2.1. 3 Peningkatan Kesehatan Dan Pencegahan Penyakit

Preventif:
a. Primer
Pencegahan yang sebenarnya, pencegahan ini dilakukan sebelum terjadi penyakit dan
gangguan fungsi, dan diberikan kepada klien yang sehat secara fisik dan mental, tidak
menggunakan tindakan terapetik dan tidak menggunakan identifikasi gejala penyakit
(Edelman dan Mandle, 1994). Contoh, program pendidikan kesehatan, imunisasi,
penyediaan nutrisi yang baik, kesegaran fisik

b. Sekunder
Pencegahan sekunder berfokus pada individu yang mengalami masalah kesehatan
atau penyakit. Dan individu yang beresiko mengalami komplikasi atau penyakit yang
labih buruk. Dengan cara pembuatan diagnose dan pemberian intervensi yang tepat
untuk menghindari kondisi yang lebih parah dan memungkinkan klien kembali pada
kondisi kesehatan yang normal (Pender, 1993; Edelman dan Mandle, 1994).
Sebagian besar dilakukan dirumah, rumah sakit atau fasilitas yang memadai.
Pencegahan sekunder terdiri dari teknik screening dan pengobatan penyakit pada
tahap dini untuk membatasi kecacatan.

c. Tersier
Pencegahan tersier dilakukan ketika terjadi kecacatan atau ketidakmampuan yang
permanaen dan tidak dapat disembuhkan. Pencegahan tersier terdiri dari cara
meminimalkan akibat penyakit atau ketidakmampuan melalui intervensi yang
bertujuan untuk mencegah komplikasi dan penurunan kondisi kesehatan (Edelman
dan Mandle, 1994).
Tingkat perawatan ini disebut perawatan preventif karena didalamnya mencakup
tindakan pencegahan terjadinya ketidakmampuan atau penurunan fungsi yang lebih
jauh. Contoh, pemberian perawatan tersier pada klien yang telah mengalami
kebutaan. (ex: terjadinya kecelakaan dirumah, dalam pengasuhan anaknya)
2.1.4 Faktor Yang Mempengaruhi Status Kesehatan Masyarakat

Status kesehatan merupakan suatu keadaan kesehatan seseorang dalam batas rentang
sehat-sakit yang bersifat dinamis dan dipengaruhi:

1. Perkembangan
Status kesehatan dapat dipengaruhi oleh faktor perkembangan yang mempunyai arti
bahwa perubahan status kesehatan dapat ditentukan oleh faktor usia dalam hal ini
adalah pertumbuhan dan perkembangan, mengingat proses perkembangan itu dimulai
dari usia bayi sampai usia lanjut yang memiliki pemahaman dan respon terhadap
perubahan kesehatan yang berbeda-beda.

2. Nutrisi
Perilaku terhadap makanan (nutrition behaviors), yakni respons seseorang terhadap
makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan. Perilaku ini meliputi pengetahuan,
persepsi, sikap, dan praktek masyarakat terhadap makanan serta unsur-unsur yang
terkandung di dalamnya (zat gizi), pengelolaan makanan, dan sebagainya sehubungan
kebutuhan tubuh manusia.

3. Sosial dan Kultural


Sosial dan kultural dapat juga mempengaruhi proses perubahan status kesehatan
seseorang karena akan mempengaruhi pemikiran atau keyakinan sehingga dapat
menimbulkan perubahan dalam perilaku kesehatan.

4. Pengalaman masa lalu.


Pengalaman masa lalu dapat mempengaruhi perubahan status kesehatan. Jika ada
pengalaman yang tidak diinginkan atau pengalaman kesehatan yang buruk sehingga
berdampak besar pada status kesehatan.

5. Harapan seseorang tentang dirinya.


Harapan merupakan salah satu bagian yang penting dalam meningkatkan perubahan
status kesehatan ke arah yang optimal
6. Keturunan
Keturunan juga memberikan pengaruh terhadap status keehatan seseorang mengingat
potensi perubahan status kesehatan telah dimiliki melalui faktor genetik, walaupun
tidak terlalu besar tetapi akan mempengaruhi respons terhadap berbagai pnyakit.
7. Lingkungan.
Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan fisik seperti sanitasi lingkungan,
kebersihan diri, tempat pembuangan air limbah atau kotoran serta rumah yang kurang
memenuhi persyaratan kesehatan sehingga dapat mempengaruhi perilaku hidup sehat
yang dapat merubah status kesehatan.

8. Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan dapat berupa tempat pelayanan atau sistem pelayanan yang
dapat mempengaruhi status kesehatan. Hal ini dapat dijumpai apabila tempat
pelayanan kesehatan terlalu jauh atau kualitas dalam memberikan pelayanan kurang
baik, maka dapat mempengaruhi seseorang dalam berperilaku hidup sehat.

Beberapa kategori yang diidentifikasikan sebagai faktor penentu yang penting dalam
status kesehatan seseorang (Edelman dan Mandle, 1994) antara lain: Merokok,
nutrisi, penggunaan alkohol, kebiasaan penggunaan obat-obatan, mengendarai
kendaraan bermotor, olahraga, seksualitas dan penggunaan alat kontrasepsi atau alat
pencegah lainnya, hubungan keluarga, modifikasi faktor risiko, koping dan adaptasi.
2.2 SAKARATUL MAUT

2.2.1 Pengertian Sakaratul Maut

Definisi Sakaratul Maut : Sakaratul maut merupakan kondisi orang yang sedang
menghadapi kematian, yang memiliki berbagai hal dan harapan tertentu untuk
meninggal. Dalam istilah sehari-hari sering disebut dengan sekarat, menjelang ajal,
atau najal (bahasa Jaw-pen.)

Diutamakan bagi orang-orang yang shaleh untuk mendampingi orang-orang yang


akan meninggal dunia, guna mengingarkan kepada Allah. Diriwayatkan oleh Ahmad,
Muslim dan Ash-Habus Sunan dari Ummu Salamah r.a., bahwa Rasulullah saw.
bersabda: "Jika kamu menjenguk orang yang sakit atau melawat yang meninggal,
hendklah kamu mengucapkan kata-kata yang baik, karena para Malaikat akan turut
mengaminkan apa-apa yang kamu ucapkan itu......"

1. Sakitnya Sakaratul Maut

1. Sangat sakit. Kita tidak bisa membayangkan, betapa dahsyatnya pertarungan


iman seorang mukmin melawan syetan. Padahal kondisi orang yang sedang
sakaratul maut adalah kondisi yang menyakitkan dan melelahkan. Rasa
sakitnya melebihi sayatan pisau dan pedang, karena ruh dicabut dari segenap
penjuru anggota tubuh.
2. Dianjurkan berdo'a. Fase sakaratul maut seringkali di sebutkan oleh
Rasulullah sebagai fase yang sangat berat dan menyakitkan sehingga kita
diajarkan do’a untuk diringankan dalam fase sakaratul maut.
3. Pemanasan sebelum mati. Sakratul maut juga dapat diakatakan
sebagai warming up (pemanasan) kematian. Karena kematian itu sulit, berat
dan amat sakit maka diperlukan pemanasan. Di samping itu, sebagaimana
kehidupan pertama manusia memerlukan proses dan tahapan, Kematian
Kedua pun memerlukan proses dan tahapan agar bisa memasuki penginapan
ke tiga yang bernama Barzakh, sebuah penginapan yang jauh lebih besar dan
sangat berbeda situasi, kondisi dan lingkungannya dengan dua penginapan
sebelumnya, yakni perut atau rahim ibu kita dan bumi untuk kehidupan dunia.
4. Perumpamaan sakitnya. “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan
tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi).
5. “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang
menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat
diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek
?” (HR Bukhari).
6. “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam
perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya
sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut
padanya dan meninggalkan yang tersisa”. (Ka’b al-Ahbar, sahabat Rasulullah
saw)
7. “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara
sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian,
niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri
kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).
8. “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan
menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang
sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat
syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.
( Imam Ghozali).
9. Berbagi Pengalaman.‘Amr bin al-‘Ash berkata kepada anaknya saat sakaratul
maut, “Wahai annakku! Demi Allah, seolah-olah ranting berduri dicabut dari
kakiku sampai ke kepala.”
10. Urutan dimatikannya organ tubuh. Imam Ghazali berkata, “Sakaratul maut
lebih dahsyat daripada pukulan pedang, lebih tajam dari mata gunting dan
gergaji. Kalau satu urat saja ditarik dari tubuh manusia, niscaya ia akan
menjerit kesakitan. Lalu bagaimana kalau yang ditarik dari tubuh itu ruhnya,
yang tidak ditarik dari satu urat saja, tapi dari semuanya. Kemudian setiap
anggota tubuhnya akan mati secara bertahap. Pertama kakinya terasa dingin,
lalu kedua betisnya, kemudian kedua pahanya. Setiap anggota tubuh
merasakan sekarat dan kepedihan sampai kerongkongannya. Pada saat itu
terputuslah pandanganya dari dunia dan keluarganya, tertutup pintu taubatnya,
dan penyesalan pun meliputi pikiranya.” (Ihya’ Ulumiddin: 4/419).

2.2.2 Hadits Tentang Do'a Saat Sakaratul Maut

1. Detik akhir ajal Rasulullah saw. Imam Bukhari meriwayatkan dari 'Aisyah
r.a., ia bercerita (menjelang ajal menjemput Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam) "Bahwa di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang
berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka
dengannya seraya berkata: Laa Ilaaha Illa Allah . Sesungguhnya kematian
memiliki sakratul maut
2. Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: "Menuju Rafiqil A'la".
Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas." D'oa
Rasulullah di saat terakhir. Rasulullah saw. di akhir hayatnya pernah
memohon pertolongan kepada Allah untuk menghadapi godaan syetan saat
sakaratul maut serta kepedihan proses keluarnya ruh. Do’a beliau Ya Allah ,
tolonglah saya untuk menghadapi sakaratul maut (HR. Tirmidzi, Ahmad dan
Ibnu Majah). Itulah do’a Rasulullah untuk menghadapi sakaratul maut.
3. Godaan syaitan. Syetan tidak akan menyia-nyiakan waktu itu untuk menggoda
dan menyesatkan anak Adam. Sampai menjelang akhir hayatnya, syetan akan
hadir pada waktu sakaratul maut. Ia berusaha mendoktrin dan mengelincirkan
manusia dari jalan yang benar. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya syetan
akan mendatangi kalian saat menjelang kematiannya. Ia menyeru: ‘Matilah
sebagai seorang Yahudi, matilah sebagai seorang Nashrani.” (HR. Nasa’i).
2.2.3. Hal-Hal Yang Disunatkan Tatkala Dekatnya Ajal Seseorang

1. Talqin. Yakni mengajarnya membaca " La ilaha illallah." Berdasarkan hadits


yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud dan Turmudzi dari Abu Sa'id al-
Khudri, bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Ajarkanlah orang-orangmu yang
akan meninggal membaca La ilaha illallah!" Dan diriwaytkan pula oelh Abu
Daud dari Mu'adz bin Jabal r.a. yang dinyatakan sah oleh Hakim, bahwa
Rasulullah saw. bersabda: "Siapa-siapa yang ucapan terakhirnya berbunyi La
ilaha illallah, pastilah ia masuk surga!". Dan talqin itu dilakukan hanyalah bila
seseorang itu telah tak sanggup lagi mengucapkan kalimat syahadat. Jika ia
masih dapat mengucapkannya, maka tak ada artinya untuk mengajarinya. Juga
talqin hanyalah terhadap orang yang masih sadarkan diri dan dapat berbicara.
Orang yang hilang ingatan tak mungkin dapat ditalqinkan, sedang orang yang
tak dapat berkata-kata, hendaklah ia mengulang-ulang syahadat dalam
hatinya.
2. Menghadapkannya ke arah kiblat, dalam keadaan berbaring pada sisi badan
yang kanan. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Abu
Qatadah, juga oleh Hakim yang menyatakan sahnya. "Bahwa tatkala Nabi
saw. tiba di Madinah, ia menanyakan Barra'bin Ma'rar, Ujar mereka: 'Ia sudah
wafat dan mewasiatkan sepertiga hartanya buat Anda, juga agar ia dihadapkan
ke arah kiblat sewaktu hendak meninggal.' Maka sabda Nabi saw.: "Tepat
menurut ajaran Agama Islam! Mengenai hartanya yang sepertiga itu telah
saya kembalikan kepada anaknya.' ....... Dan Ahmad meriwayatkan bahwa
sewaktu hendak meninggal, Fathimah putri Nabi saw. menghadap ke arah
kiblat, kemudian memiringkan dirinya ke sebelah kanan. Menghadap kiblat
ini ialah menuruti cara seeperti dititahkan Nabi saw. waktu tidur, begitu pun
letaknya mayat dalam kubur.
3. Membacakan Surah Yasin. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh
Ahmad, Abu Daud, Nasa'i, juga oleh Hakim dan Ibnu Hibban yang
menyatakannya sah dari ma'qil bin Yasar: "Yasin adalah jantung Al-Qur'an,
dan tidak seorang pun yang membacanya dengan mengharapkan keridhaan
Allah dan pahala akhirat, kecuali ia kan diampuni-Nya. Dan bacakanlah ia
kepada manusia, yakni orang yag hendak meninggal diantaramu!" Menurut
Ibnu Hibban: "Mauta maksudnya ialah orang yang telah dekat ajalnya, jadi
maksudnya bukan dibacakan kepada mayat (orang yang telah meninggal
dunia),"
4. Menutupkan kedua matanya bila telah meninggal. berdasarkan hadits yang
diriwayatkan oleh Muslim yang lalu, artinya: "Bahwa Nabi saw. datang
melawat Abu Salamah. Didapatinya matanya terbuka, maka ditutupkannya,
lalu katanya: 'Jika nyawa seseorang dicabut, akan diikuti oleh pandangan
matanya'."
5. Menyelimutinya agar tidak tidak terbuka dan supaya rupanya yang berubah
tertutup dari pandangan. Diterima dari 'Aisyah r.a.: "Bahwa Nabi saw. ketika
beliau wafat, jasadnya ditutupi dengan selimut Yaman." Dan dibolehkan
mencium mayat menurut ijma'. Rasulullah saw. telah mencium mayat Usman
bin Mazh'un, sedang Abu Bakar r.a. menelungkup dan meratapi tubuh Nabi
saw. sewaktu ia wafat, lalu menciumnya diantara kedua matanya, serta
katanya: "Wahai Nabiku, wahai junjunganku yang kucinta...!
6. Segera menyelenggarakan pemakamannya, bila telah diyakini kematiannya.
Maka hendaklah walinya segera memandikan, menyalatkan dan
menguburkannyaa sebelum timbul perubahan. Berdasarkan hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Daud dari Hushein bin Wahwah tanpa penjelasan lebih
lanjut, Nabi saw. pergi menjenguk ketika Thalhal bin Barra' jatuh sakit, maka
katanya: "Tak sempat lagi saya melihat Thalhah kecuali setelah ia menjadi
mayat! Dari itu hendaklah kamu cepat memberitahukan padaku, dan
mengenai jenazah, hendaklah segera pemakamannya, karena tidak layak bila
jenazah Muslim itu ditahan lama-lam diantara keluarganya!" Dan tidak
seorang pun yang dinantikan kehadirannya kecuali wali. Mengenai wali ini,
memang boleh ditunggu selama mayat tidak dikhawatirkan akan berubah.
7. Membayar utangnya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah
r.a. oleh Ahmad dan Ibnu Majah, juga oleh Turmudzi yang menyatakan
sebagai hadits hasan, bahwa Nabi saw. bersabda: "Nyawa seorang mukmin itu
tergantung kepada utangnya sampai dibayar lebih dulu."

Maksudnya urusannya terhalang, tak dapat diputuskan berbahagia atau celaka


atau terhalang buat masuk surga. Ini buat mayat yang berhutang dan ada
meninggalkan harta untuk membayarnya.

Adapun orang yang tidak mempunyai harta dan meninggal dengan rencana
hendak membayarnya, maka ada keterangan bahwa Allah akan membayarkannya,
demikian pula orang yang memilki harta dan hendak membayarnya, tetapi tidak
dibayarkan oleh ahli warisnya. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah r.a.
bahwa Nabi saw. bersabda: "Barang siapa mengambil harta orang dan bermaksud
hendak membayarnya, maka Allah akan membayarkannya. Dan barang siapa
yang mengambilnya dengan maksud hendak menggelapkannya, (berniat tidak
membayar-pen.), maka Allah akan menghabiskannya."

Peran Perawat dalam Mendampingi Pasien Sakaratul Maut

Karena batapa sakitnya proses sakaratul maut itu, maka perawat muslim
memiliki peran dalam mendampingi pasien muslim dalam proses sakaratul maut,
antara lain sebagai berikut :

1. Membimbing pasien agar berbaik sangka kepada Allah SWT.

Pada sakaratul maut perawat harus membimbing agar berbaik sangka kepada
Allah sebagaimana Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslem. Jangan sampai
seorang dari kamu mati kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah,
selanjutnya Allah berfirman dalam hadist qudsi, Aku ada pada sangka-sangka
hambaku, oleh karena itu bersangkalah kepadaKu dengan sangkaaan yang baik .
Selanjutnya Ibnu Abas berkata, Apabila kamu melihat seseorang menghadapi
maut, hiburlah dia supaya bersangka baik pada Tuhannya dan akan berjumpa
dengan Tuhannya itu. Selanjutnya Ibnu Mas´ud berkata : Demi Allah yang tak
ada Tuhan selain Dia, seseorang yang berbaik sangka kepada Allah maka Allah
berikan sesuai dengan persangkaannya itu. Hal ini menunjukkan bahwa kebaikan
apapun jua berada ditangannya.

2. Membasahi kerongkongan orang yang sedang sakaratul maut

Disunnahkan bagi orang-orang yang hadir untuk membasahi kerongkongan


orang yang sedang sakaratul maut tersebut dengan air atau minuman. Kemudian
disunnahkan juga untuk membasahi bibirnya dengan kapas yg telah diberi air.
Karena bisa saja kerongkongannya kering karena rasa sakit yang menderanya,
sehingga sulit untuk berbicara dan berkata-kata. Dengan air dan kapas tersebut
setidaknya dapat meredam rasa sakit yang dialami orang yang mengalami
sakaratul maut, sehingga hal itu dapat mempermudah dirinya dalam mengucapkan
dua kalimat syahadat. (Al-Mughni : 2/450 milik Ibnu Qudamah).

3. Mengajarkannya atau mengingatkannya untuk mengucapkan kalimat syahadat


yaitu La ilaha illallah Muhammad Rasulullah.

Perawat muslim dalam mengajarkan atau mengingatkanya kalimah laaillallah


dapat dilakukan pada pasien terminal menjelang ajalnya terutama saat pasien akan
melepaskan nafasnya yang terakhir.

Dalam keadaan yang seperti itu peran perawat disamping memenuhi kebutuhan
fisiknya juga harus memenuhi kebutuhan spiritual pasien muslim agar diupayakan
meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah. Perawat membimbing pasien
dengan mentalkinkan (membimbing dengan melafalkan secara berulang-ulang),
sebagaimana Rasulullah mengajarkan dalam Hadist Riwayat Muslim.

“Talkinkanlah olehmu orang yang mati diantara kami dengan kalimat


Laailahaillallah karena sesungguhnya seseorang yang mengakhiri ucapannya
dengan itu ketika matinya maka itulah bekalnya sesungguhnya seseorang yang
mengakhiri ucapannya dengan itu ketika matinya maka itulah bekalnya menuju
surga”.

Selanjutnya Umar Bin Ktahab berkata Hindarilah orang yang mati diantara
kami dan dzikirkanlah mereka dengan ucapan Laailahaillahllah, maka
sesungguhnya mereka (orang yang meninggal) melihat apa yang tidak bisa, kamu
lihat .

4. Menghadapkannya ke arah kiblat.caranya jika ia berbaring,maka lambung


kanannya diarahkan ke lantai.

Disunnahkan untuk menghadapkan orang yang tengah sakaratul maut kearah


kiblat. Sebenarnya ketentuan ini tidak mendapatkan penegasan dari hadits
Rasulullah Saw. Hanya saja dalam beberapa atsar yang shahih disebutkan bahwa
para salafus shalih melakukan hal tersebut. Para Ulama sendiri telah menyebutkan
dua cara bagaimana menghadap kiblat:

a. Berbaring terlentang diatas punggungnya, sedangkan kedua telapak kakinya


dihadapkan kearah kiblat. Setelah itu, kepala orang tersebut diangkat sedikit agar
ia menghadap kearah kiblat.

b. Mengarahkan bagian kanan tubuh orang yang tengah sakaratul maut


menghadap ke kiblat. Dan Imam Syaukai menganggap bentuk seperti ini sebagai
tata cara yang paling benar. Seandainya posisi ini menimbulkan sakit atau sesak,
maka biarkanlah orang tersebut berbaring kearah manapun yang membuatnya
selesai.

5. Mendo’akannya agar dosanya diampunin dan dimudahkan keluarnya ruh


.Wallahu A’lam.
Di samping berusaha memberikan sentuhan perawat muslim perlu
berkomunikasi terapeutik

Berdasarkan hal diatas perawat harus berupaya memberikan suport mental


agar pasien merasa yakin bahwa Allah Pengasih dan selalu memberikan yang
terbaik buat hambanya, mendo’akan dan menutupkan kedua matanya yang
terbuka saat roh terlepas, dari jasadnya.
2.3 MERAWAT JENAZAH

2.3.1 Pengertian Jenazah

Jenazah (Mayat atau Jasad) adalah orang yang telah meninggal dunia. Setelah proses
pengurusan jenazah, termasuk di dalamnya memandikan, mengkafani, dan
menyolatkannya, atau proses lainnya berdasar ajaran agama masing-masing, biasanya
mayat dikuburkan atau dikremasi (dibakar). Proses pengurusan jenazah ini biasanya
dilakukan oleh keluarga jenazah dengan dukungan pemuka agama.

2.3.2 MEMANDIKAN
Hal yang harus dilakukan bagi orang yang telah mati sebelum dimandikan

1. Menutup matanya yang terbuka sambil berdo`a:


‫اللهم اغفرله وا رحمه وارفع درجته فى المهديين وا حلفه فى عقبه الغابرين واغفر لنا وله يا رب‬
‫العالمين وا فسح له في قبره ونور لهفيه‬

2. Menutup mulutnya yang terbuka.


3. Melepas semua pakaian yang di kenakan dan menggantinya dengan selimut
(kain yang menutupi mulai dari kepala hingga kaki) sebab pakaian yang
melekat waktu kematiannya menyebabkan dia cepat rusak.
4. Hadapkanlah mayit tersebut kearah qiblat
5. Gunakanlah sesuatu yang mebuat ruangan mayit tersebut menjadi harum,
seperti kemenyan dan sebagainya. Artinya ruangan yang ditempati tidak bau.
6. Dan perut mayit itu seyogyanya diberi benda asalkan bukan al-Quran. Sepeti
halnya kaca dan lainnya.
7. Membebaskan mayit tersebut dari semua hak yang bersangkutan dengannya
seperti hutang dan hak adami yang lainnya, juga kewajiban yang pernah di
tinggalkannya ketika dia masih sakit, seperi halnya Sholat, puasa, Zakat, dan
kewajiban lainnya yang tidak dia kerjakan pada waktu hidupnya.
Sesuatu Yang perlu Dipersiapkan sebelum Memandikan:

1. Air Mutlaq : Yaitu air yang suci dan mensucikan seperti air sumur, air sungai,
air hujan, air sumber dan lain sebagainya. Jika tidak menemukan air atau ada
tapi tapi sulit untuk memperolehnya atau ada udzur untuk memakai air seperti
orang mati terbakar, maka diperbolehkan untuk diganti dengan debu yang
bersih dan suci (tayammum)
2. Kain (samper) atau baju gamis untuk menutupi badan atau aurat mayit, dan
lebih baik kalau keduanya difungsikan secara bersamaan ketika nanti
memandikan.
3. Bangku (lencak, mad.) untuktempat memandikan dan di sekelilingnya
dikasih Hijab (gombong)
4. Pohon pisang atau yang lainnya sebagai alas tubuh pada waktu dimandikan,
bisa juga memakai alas kaki orang yang memandikan (jika
berkelompok)Beberapa kain kecil untuk membantu membersihkan kotoran
yng ada di dubur dan kemaluan dengan memperbalkan kain tersebut di tangan
kiri.
5. Harum-haruman seperti kemenyan yang diletakkan di lokasi memandikan, hal
itu dimaksudkan untuk mengantisipasi bau-bau yang tidak sedap, khawatir
tercium orang lain sehingga mengundang pembicaran
6. Kapur atau sabun untuk membantu menghilangkan kotora-kotoran mayit.

Mayit yang Harus Dimandikan


Mayitnya orang muslim, walaupun seorang bayi asalkan pernah merasakan hidup dan
lengkap anggota badannya.
Mayit yang Tidak boleh Dimandikan

1. Orang yang mati Syahid (Orang yang mati karena memerangi orang-orang
kafir dalam menegakan Agama Allah)
2. Kafir Harbi (orang kafir yang memusuhi islam dan muslimin)
3. Bayi yang keguguran (siqtu) dan tidak lengkap anggota badannya, tidak boleh
dimandikan, tapi disunnahkan dikafani dan dikuburkan
4. Mayit yang udzur untuk memakai air (yakni kalau memakai air akan timbul
kemudharatan terhadap si mayit) seperti orang yang mati terbakar dan lain
sebagainya. Dan sebagai gantinya adalah harus ditayammumi.

Orang yang harus memandikan


Orang yang sejenis (sekelamin) dengan si mayit atau istri dan muhrim si mayit (jika
sendirian).

Orang yang tidak boleh (haram) memandikan

1. Lain kelamin dengan si mayit


2. Bukan istri atau mahram si mayit
3. Orang yang terkenal membeberkan kejelekan-kejelekan si mayit ketika dia
memandikan.

Cara-cara memandikan dan hal-hal yang dianjurkan di dalamnya.


Adapun cara-cara memandikan mayit ada dua cara yang pertama ( cara yang oleh
ulama’ diktakan sebagai cara yang kurang sempurna ) cukup dengan menyiramkan air
keseluruh tubuh mayit cara yang kedua :
yaitu cara yang sempurna yaitu:

1. Haruslah dimandikan ditempat yang sepi, tidak ada yang masuk kecuali orang
yang memandikan dan wali si mayit ( keluarganya ) bisa di buatkan tabir (
gombong ) tempat memandikan.
2. Semua badan mayit harus tertutupi seperti keterangan di depan.
3. Kepanglah ( gellung) rambut mayit menjadi tiga kepangan, baik mayit
perempuan atau laki-laki yang berambut panjang, agar tidak ada rambut yang
jatuh sebelum dimandikan.
4. Letakkanlah mayit di bangku atau di lencak seperti yang di jelaskan di atas.
5. Mayit diletakkan di atas alas, seperti pohon pisang atau kaki orang yang akan
memandikan agar gampang menjangkau anggota yang sulit dijangkau seperti
dibagian tubuh mayit yang sulit dijangkau.
6. Air yang ingin dipakai untuk memandikan di jauhkan dari lokasi memandikan
ke tempat ke tempat yang tidak terlalu jauh. Hal ini di maksudkan agar nanti
air yang telah di pakai tidak kena pada air yang masih suci (belum di pakai).
7. Angkatlah kepalanya dengan memberikan alas (jika berkelompok) atau
sandarkan kelutut kanan orang yang memandikan, agar air tidak masuk
kedalam tubuh.
8. Lakukan tekanan (urutan) pada perut mayit dengan tangan kiri anda (orang-
orang yang memandikan) untuk mengeluarkan kotoran-kotoran yang tersisa
dalam perut mayit dan lakukanlah berulang-ulang dengan hati-hati (tidak
kasar)sampai di yakini bahwa isi perut sudah tidak ada lagi.
9. Bersihkanlah dubur dan kemaluan mayit dengan tangan kiri berbalut kain dan
gantilah kain tersebut dengan kain yang barujika sudah dipakai, dan
lakukanlah sampai tiga kali atau lebih (tergantung kebutuhan).
10. Bersihkanlah mulut, lubang, hidung, kuping, mata, kuku tangan dan kaki dan
anggota yang biasa terkena najis dan kotoran, bersihkanlah dengan air sampai
tidak ada najis atau kotoran tersisa. Namun ingat jangan sampai menyakiti
mayit.
11. Berniatlah dengan niat memandikan seperti di bawah ini :

‫ نويت الغسل لهذه الميتة فرضا هلل تعالى‬/‫تيون الغسل لهذا الميت فرضا هلل تعالى‬

12. Kemudian siramlah mayit mulai dari kepalanya (rambutnya) dagaunya


(jenggotnya jika ada) kemudian sisirlah keduanya dengan sisir yang besar
giginya, lakukanlah dengan lembut dan hati-hati dan kembalikan lagi rambut
dan jenggot yang jatuh jangan di buangMulailah menyiram dari anggota mayit
yang kanan dan anggota wudhu` sesuai dengan hadits yang berbunyi:

"‫بميامنها ومواضع الوضوء منها" الحد يث رواه الشيخان‬..........

13. Kemudian siramlah bagian sebelah kiri mayit.


14. Usahakanlah airnya menyentuh ke seluruh badan mayit sampai ke bagian-
bagian tertentu seperti dubur (bagian yang terlihat ketika dalam keadaan
jongkok) dan di bagian yang tampak pada vagina wanita yang masih perawan
ketika dalam keadaan jongkok, dan hal itu hukumnya adalah wajib.
15. Pada setiap memandikan sunnah disertai dengan sabun dan harum-haruman
yang lain untuk membantu menghilangkan kotoran-kotoran yang lengket,
mengawetkan kulit mayit dan mengharumkan mayit.
16. Kemudian siramlah dengan air yang sedikit dicampur dengan kapur atau
sabun
17. Kemudian wudhu’kanlah mayit tersebut dengan niat sebagai berikut:

‫ نويت الوضوء المسنون لهذه الميتة هلل تعالى‬/‫نويت الوضوء المسنون لهذا الميت هلل تعالى‬

18. Kemudian siramlah lagi dengan air murni dan bersih pada seluruh badan
mayit baik luar atau bagian dalam
19. Siraman dari no. 12 sampai no. 18 dihitung satu kali

Catatan:
Lakukanlah (mandikanlah) mayit tiga atau lima kali dan seterusnya (ganjil) hal itu
tergantung kebutuhan pada diri mayit, dan diselesaikan pada hitungan ganjil juga
seperti 3 kali atau 5 kali dan seterusnya.
Hal-hal yang perlu dihindari dalam memandikan

1. Hindari adanya kotoran atau najis yang masih melekat pada badan mayit
setelah dimandikan maka dari itu periksalah sebelum selesai dimandikan
2. Hindarkan air yang sudah terpakai dari badan mayit yang sudah bersih.

Catatan:
Jika keluar kotoran dari dubur atau kemaluan maka cukup hanya dengan
membersihkannya saja tampa mengulangnya dari awal yakni memandikannya lagi
dari awal
Jika sudah selesai dimandikan kemudian dipindahkan ke tempat dimana mayit
tersebut akan dikafani. Dipindah dengan cara tetap ditutup dadannya dengan kain
yang kering dan setelah sampai pada tempatnya si mayit dihanduk agar betul-betul
lebih kering.
Dan kalau mayit perempuan sebaiknya dibedaki dan diberi “cellak” dan di dahinya
ditulis lafadz Allah dengan “celak” tersebut.

2.3.3 MENGKAFANI
Pembiayaan
Biaya dalam mengkafani di ambil dari harta peninggalan yang tidak ada sangkut
pautnya dengan hak orang lain seperti barang gadaian dan sebagainya. Kalau harta
peninggalan di atas tidak ada maka yang berkewajiban untuk membiayai adalah orang
yang punya kewajiban memberi nafkah ketika masih hidup, jikalau orang yang
berkewajiban tidak ada, maka bisa diambil dari baitul-mal, jika baitul-mal tidak ada
maka pembiayaan diambil dari harta orang Islam yang mampu / kaya

Kadar kain kafan


Boleh dibungkus ( dikafani ) dengan kain yang halal baginya yang dipakai ketika
masih hidup. Perempuan boleh dikafani dengan sutera sedangkan laki-laki tidak.
Karena sutera dilarang dipakai laki-laki ketika masih hidup sedangkan
bagiperempuan sebaliknya. Namun yang afdhol dalam mengkafani adalah
menggunakan kain katun ( QOTNU ) berwarna putih dan sudah pernah dicuci (
bukan kain baru )

Langkah-langkah mengkafani.
Dalam hal mengkani,kalau kita mengacu kepada haqqullah ( hak Allah) semata,
maka kain yang dibutuhkan hanya sebatas penutup aurat. Bagi laki-laki hanya sebatas
penutup pusar dan lututnya, sedangkan bagi perempuan baik orang yang
merdeka atau budak adalah kain yang dapat menutupi semua anggota tubuhnya
kecuali muka dan kedua telapak tangannya. Adapun bagi banci/waria hukum
mengkafaninya disamakan dengan perempuan.

Akan tetapi kalau dipandang dari haqqullah dan haqqul adami, maka kain kafan yang
dibutuhkan untuk mengkafani laki-laki secara sempurna adalah tiga lembar kain
kafan warna putih. Sedangkan untuk perempuan dan waria adalah lima lembar kain
yang terdiri dari :

1. Dua lembar kain panjang yang cukup untuk membungkus seluruh tubuhnya.
2. Kain sarung ( kain pembalut tubuh dari pusar sampai lututnya )
3. Baju kurung
4. Kerudung (kain penutup kepala dengan bentuk khusus )

Adapun kain kafan untuk anak-anak adalah satu lembar kain kafan yang cukup
untuk membungkus seluruh tubuhnya.Akan tetapi yang lebih utama tetap tiga lembar
kain warna putih.

Cara mengkafani laki-laki.

1. Bentangkan tiga lebar kain kafan yang suda dipotong sesuai denga ukuran
yang dibutuhkan dengan cara disusun, kain yang paling lebar diletakkan
dipaling bawah. Kalau ukuran lebar kain sama, geserlah kain yang ditengah
kekanan sedikit dan yang paling atas kekiri sedikit atau sebaliknya. Dan jika
sendainya lebar kain kafan tidak cukup untuk menyelimuti mayit, maka geser
lagi hingga bisa menutupi mayit. Dan jika tetap tidak bisa menutupinya, baik
karena mayitnya besar atau yang lain, maka lakukan penambahan sesuai
dengan kebutuhan.
2. Lulutlah (berilah) kain kafan dengan wangi-wangian.
3. Persiapkan tiga atau lima utas kain tali dan letakkan dibawah kain yang paling
bawah. Dan agar tali dibagian dada (diatas tangan dan dibawahnya) tidak
mudah bergeser, potonglah dengan bentuk khusus. (satu utas talli yang dibagi
dua, sedangkan ditengan tetap tidak disobek)
4. Persiapkan kafan yang sudah diberi wangi-wangian kayu cendana untuk
diletakkan dibagian anggota badan tertentu antara lain sebagaimana berikut.

a Bagian Manfad (lubang terus) yang terdiri dari :Kedua mata

1. Hidung
2. Mulut
3. Kedua telinga (dan sebaiknya menggunakan kapasyang lebar, sekiranya bisa
menutupi seluruh muka mayit)
4. Kemaluan dan lubang anus.
5. Bagian anggota sujud, yang terdiri dari :
6. Dahi
7. Kedua telapak tangan
8. Kadua lutut
9. Jari-jari kedua kaki

c. Bagian persendian dan anggota yang tersembunyi, yang terdiri dari :

1. Kedua lutut paling belakang


2. Ketiak
3. Kedua telingan bagian belakang
4. Angkatlah dengan hati-hati dan baringkan diatas kain yang telah dipersiapkan
sebagaimana tersebut diatas.
5. Tutuplah bagian anggota badan tertentu sebagaimana tersebut dinomor 4
6. Selimutkan kain kafan pada jenazah selembar demi selembar nulai dari yang
paling atas hingga yang paling bawah, kemudian ikatlah dengan kain tali yang
telah disediakan.

Cara mengkafani perempuan

1. Bentangkan dua lembar kain kafan yang sudah di potong sesuai dengan
ukuran yang di butuhkan.kemudian letakkan pula kain sarung di atasnya di
bagian bawah (tempat di mana badan antara pusar dan kedua lutut
di rebahkan)
2. Persiapan baju kurung dan kerudung di tempatnya.
3. Sediaan tiga atau lima utas kain tali dan letakkandi bawah kain kafan yang
paling bawahyang telah di bentangkan.
4. Sediakan kapas yang sudah diberi wangi-wangian untuk di letakkan dibagian
anggota badan tertentu
5. Angkatlah jenazah dengan hati-hati, kemudian baringkan di atas kain kafan
yang sudah di bentangkan dan yang sudah di lulut dengan wangi-wangian.
6. Letakkan kapas di bagian anggota badan tertentu sebagaimana tersebut di cara
nomor 04 cara mengkafani mayit laki-laki.
7. Selimutkan kain sarung di badan mayit antara pusar dan kedua lutut dan
pasangkan juga baju kurung berikut kain penutup kepala (kerudung).Bagi
yang rambutnya panjang di kepang menjadi dua atau menjadi tiga, dan di
letakkan di atas baju kurung tempatnya di bagian dada.
8. Setelah pemasangan baju kurung dan kerudung selesai, maka selimutkan
kedua kain kafan selembar demi selembar mulai dari yang paling atas sampai
yang paling bawah, setelah selesai ikatlah dengan tiga atau lima tali yang telah
di sediakan.
Cara penempatan tali
Jika tali yang tersedia itu ada tiga ,maka gunakan untuk mengikat kaki,tangan
(dada0 dan kepala.jika tali yang tersedia ada lima maka yang harus di ika adalah
kaki,lutut di bawah dan di atas tangan dan yang terahir adalah kepala.cara mengikat
tali dia atas dan di bawah tangan lihat gambar seperti di atas seperti mengkafani
mayat laki-laki.
Catatan : Alahkah praktisnya jika si mayit sudah dalam keadaan kbeatul-betul
kering, (kessap madura, red) lansung saja diletakkan di atas kafan yang sudah di
sediakan. Setelah itu baru kapasnya diletakkan pada tempat yang sudah disebut di
atas.

Anjuran dalam mengkafani

1. Mengunakan kain putih yang terbuat dari kain katun (qotnu)


2. Melulut kain kafan dengan wangi-wangian
3. Memberi kapas di bagin tertentu (lihat rinian pada nomor 04 cara mengkafani
mayat laki-laki)
4. Menggunakan kain kafan dengan hitungan ganjil, tiga lembar lebih utama dari
dua atau empat lembar, akan tetapi penambahan hitungan kain kafan lebih
dari satu lembar lebih baik meskipun satu termasuk hitungan ganjil sebagai
penghormatan pada si mayit, jadi dua lembar lebih utama dari satu lembar.
5. Menggunakan kain yang bagus tapi tidak mahal, yang di maksud di sini
adalah kain yang berwarna putih, bersih, suci dan tebal.

Larangan-larangan dalam mengkafani

1. Menggunakan kain kafan yang mahal.


2. Menulisi ayat Al-quran atau Asma’ul A’dhom
3. Menggunakan kain kafan yang tipis (tembus pandang)
4. Berlebih-lebihan dalam mengkafani (israf)
2.3.4 MENSHALATKAN JENAZAH

Menurut ijma ulama hukum penyelenggaraan shalat jenazah adalah fardhu kifayah.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW, yang berbunyi:

(‫صلو ا على مو تا كم )رواه ابن ما جه‬

Artinya: “Shalatilah orang yang meninggal dunia diantara kamu”

Orang paling utana untuk melaksanakan shalat jenazah yaitu:

1. Orang yang diwasiatkan si mayat dengan syarat tidak fasik atau tidak ahli
bid’ah.
2. Ulama atau pemimpin terkemuka ditempat itu.
3. Orang tua si mayat dan seterusnya ke atas.
4. Anak-anak si mayat dan seterusnya ke bawah.
5. Keluarga terdekat.
6. Kaum muslimim seluruhnya.

Rukun shalat jenazah ialah:

1. Berniat menshalatkan jenazah.


2. Takbir empat kali.
3. Berdiri bagi yang kuasa.
Adapun tata cara melakukan shalat jenazah :

1. Niat

“Ushalli ‘alaa haadzal mayyiti arba’a takbiirotin fardlal kifaayatin makmuuman


lillaahi ta’aalaa”

Setiap shalat dan ibadah lainnya kalo tidak ada niat dianggap tidak sah, termasuk niat
melakukan Shalat jenazah. Niat dalam hati dengan tekad dan menyengaja akan
melakukan shalat tertentu saat ini untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam agama yang lurus, dan supaya mereka
mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang
lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5).
Hadits Rasulullah SAW dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya. Setiap orang mendapatkan sesuai
niatnya.” (HR. Muttafaq Alaihi)

Berdiri Bagi Yang Mampu


Shalat jenazah dilakukan dengan cara berdiri (seseorang mampu untuk berdiri dan
tidak ada uzurnya). Karena jika sambil duduk atau di atas kendaraan [hewan
tunggangan], Shalat jenazah dianggap tidak sah.
3. Takbir 4 kali
Dari Jabi ra bahwa Rasulullah SAW menyolatkan jenazah Raja Najasyi (shalat ghaib)
dan beliau takbir 4 kali. (HR. Bukhari : 1245, Muslim 952 dan Ahmad 3:355).
4. Setelah Takbir Pertama
2. Membaca alfatihah

3.Setelah Takbir Kedua


Bersholawat kepada Nabi SAW

4.Setelah Takbir Keempat


Berdoa untuk Mayit
sabda Rasulullah SAW : Bila kalian menyalati jenazah, maka murnikanlah doa
untuknya. (HR.
Abu Daud : 3199 dan Ibnu Majah : 1947).
Diantara lafaznya yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW antara lain :
“Allahummaghfir lahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa
wassi’madkhalahu, waghsilhu bil-ma’i watstsalji wal-baradi, wanaqqohi minal
khotoya kamaayunaqqottsaubu abyadhu minadanasi, waabdilhu daaron khoiron in
daarihi, waahlankhoiron min ahlihi, wazaujan khoiron minzaujihi, waqihi fitnatal
qobri wa’adaabinnar”.
5. Doa Setelah Takbir Keempat

“Allahumma Laa Tahrimna Ajrahu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfirlana walahu,


walilladiinasabaquuna biliimaani walaataj’al fii quluubinaa gillan lilladiina amanuu
robbanaa innakarouufurrohiim”.
8. Salam
“Assalamu’aliakum warahmatullohi wabarokaatuhu”. “kekanan dan kekiri”

Catatan:
· Doa yang saya berikan di atas adalah untuk mayit lelaki satu orang.
· Kalau dua orang laki-laki atau perempuan, diganti dengan: HUMA.
· Kalau perempuan satu orang, diganti dengan: HA.
· Kalau banyak mayit lelaki: HUM.
· Kalau banyak mayit wanita: HUNNA.
· Kalau gabung banyak mayat lelaki dan wanita, bisa pakai: HUM.
Contoh : Allahummaghfir lahum warhamhum, wa’aafihi wa’fu ‘anhum
2.3.5. MENGUBURKAN JENAZAH

Disunnahkan membawa jenazah dengan usungan jenazah yang di panggul di atas


pundak dari keempat sudut usungan.

Disunnahkan menyegerakan mengusungnya ke pemakaman tanpa harus tergesa-gesa.


Bagi para pengiring, boleh berjalan di depan jenazah, di belakangnya, di samping
kanan atau kirinya. Semua cara ada tuntunannya dalam sunnah Nabi.

Para pengiring tidak dibenarkan untuk duduk sebelum jenazah diletakkan, sebab
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah melarangnya.

Disunnahkan mendalamkan lubang kubur, agar jasad si mayit terjaga dari jangkauan
binatang buas, dan agar baunya tidak merebak keluar.

Lubang kubur yang dilengkapi liang lahad lebih baik daripada syaq. Dalam masalah
ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Liang lahad itu adalah bagi kita (kaum muslimin), sedangkan syaq bagi selain kita
(non muslim).” (HR. Abu Dawud dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani
dalam “Ahkamul Janaaiz” hal. 145)

Lahad adalah liang (membentuk huruf U memanjang) yang dibuat khusus di dasar
kubur pada bagian arah kiblat untuk meletakkan jenazah di dalamnya.

Syaq adalah liang yang dibuat khusus di dasar kubur pada bagian tengahnya
(membentuk huruf U memanjang).

– Jenazah siap untuk dikubur. Allahul musta’an.

– Jenazah diangkat di atas tangan untuk diletakkan di dalam kubur.


– Jenazah dimasukkan ke dalam kubur. Disunnahkan memasukkan jenazah ke liang
lahat dari arah kaki kuburan lalu diturunkan ke dalam liang kubur secara perlahan.
Jika tidak memungkinkan, boleh menurunkannya dari arah kiblat.

– Petugas yang memasukkan jenazah ke lubang kubur hendaklah


mengucapkan: “BISMILLAHI WA ‘ALA MILLATI RASULILLAHI (Dengan
menyebut Asma Allah dan berjalan di atas millah Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wassalam).” ketika menurunkan jenazah ke lubang kubur. Demikianlah yang
dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.

Disunnahkan membaringkan jenazah dengan bertumpu pada sisi kanan jasadnya


(dalam posisi miring) dan menghadap kiblat sambil dilepas tali-talinya selain tali
kepala dan kedua kaki.
– Tidak perlu meletakkan bantalan dari tanah ataupun batu di bawah kepalanya, sebab
tidak ada dalil shahih yang menyebutkannya. Dan tidak perlu menyingkap wajahnya,
kecuali bila si mayit meninggal dunia saat mengenakan kain ihram sebagaimana yang
telah dijelaskan.

– Setelah jenazah diletakkan di dalam rongga liang lahad dan tali-tali selain kepala
dan kaki dilepas, maka rongga liang lahad tersebut ditutup dengan batu bata atau
papan kayu/bambu dari atasnya (agak samping).

– Lalu sela-sela batu bata-batu bata itu ditutup dengan tanah liat agar menghalangi
sesuatu yang masuk sekaligus untuk menguatkannya.
– Disunnahkan bagi para pengiring untuk menabur tiga genggaman tanah ke dalam
liang kubur setelah jenazah diletakkan di dalamnya. Demikianlah yang dilakukan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Setelah itu ditumpahkan (diuruk) tanah ke
atas jenazah tersebut.

– Hendaklah meninggikan makam kira-kira sejengkal sebagai tanda agar tidak


dilanggar kehormatannya, dibuat gundukan seperti punuk unta, demikianlah bentuk
makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam (HR. Bukhari).

– Kemudian ditaburi dengan batu kerikil sebagai tanda sebuah makam dan diperciki
air, berdasarkan tuntunan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam (dalam masalah
ini terdapat riwayat-riwayat mursal yang shahih, silakan lihat “Irwa’ul Ghalil”
II/206). Lalu diletakkan batu pada makam bagian kepalanya agar mudah dikenali.

– Haram hukumnya menyemen dan membangun kuburan. Demikian pula menulisi


batu nisan. Dan diharamkan juga duduk di atas kuburan, menginjaknya serta
bersandar padanya. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah melarang
dari hal tersebut. (HR. Muslim)
– Kemudian pengiring jenazah mendoakan keteguhan bagi si mayit (dalam menjawab
pertanyaan dua malaikat yang disebut dengan fitnah kubur). Karena ketika itu ruhnya
dikembalikan dan ia ditanya di dalam kuburnya. Maka disunnahkan agar setelah
selesai menguburkannya orang-orang itu berhenti sebentar untuk mendoakan
kebaikan bagi si mayit (dan doa ini tidak dilakukan secara berjamaah, tetapi sendiri-
sendiri!). Sesungguhnya mayit bisa mendapatkan manfaat dari doa mereka.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Berdasarkan uraian mengenai tata cara pengurusan jenazah dapat diambil beberapa
hikmah, antara lain:

1. Memperoleh pahala yang besar.


2. Menunjukkan rasa solidaritas yang tinggi diantara sesame muslim.
3. Membantu meringankan beban kelurga jenazah dan sebagai ungkapan
belasungkawa atas musibah yang dideritanya.
4. Mengingatkan dan menyadarkan manusia bahwa setiap manusia akan mati
dan masing-masing supaya mempersiapkan bekal untuk hidup setelah mati.
5. Sebagai bukti bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia, sehingga
apabila salah seorang manusia meninggal dihormati dan diurus dengan
sebaik-baiknya menurut aturan Allah SWT dan RasulNya.
2.4 PANDANGAN MENURUT AGAMA

2.4.1 KONSEP SEHAT SAKIT MENURUT ISLAM

Sakit dan penyakit merupakan suatu peristiwa yang selalu menyertai hidup manusia
sejak jaman Nabi Adam. Kita memahami apapun yang menimpa manusia adalah
takdir, sakit pun merupakan takdir. Lantas kalau sakit merupakan takdir, kalau kita
sakit kenapa harus mencari sehat /kesembuhan? Lantas bua apa dan apa manfaat
berobat? Dari sinilah landasan kita berpijak dalam memahami sehat, sakit, obat dan
upaya pengobatan.

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku),


Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha
Penyayang di antara semua Penyayang”. Maka Kamipun memperkenankan seruannya
itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan
keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu
rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah
Allah.
(Al Quran Surah Al Anbiyaa’ [21]:83-84)

Ayat diatas mengisahkan Nabi Ayub yang ditimpa penyakit, kehilangan harta dan
anak-anaknya. Dari seluruh tubuhnya hanya hati dan lidahnya yang tidak tertimpa
penyakit, karena dua organ inilah yang dibiarkan Allah tetap baik dan digunakan oleh
Nabi Ayub untuk berzikir dan memohon keridhoan Allah, dan Allah pun
mengabulkan doanya, hingga akhirnya Nabi Ayub sembuh dan dikembalikan harta
dan keluarganya.

Dari sini dapat diambil pelajaran agar manusia tidak berprasangka buruk kepada
Allah, tidak berputus asa akan rahmat Allah serta bersabar dalam menerima takdir
Allah. Karena kita sebagai manusia perlu meyakini bahwa apabila Allah
mentakdirkan sakit maka kita akan sakit, begitu pula apabila Allah mentakdirkan
kesembuhan, tiada daya upaya kecuali dengan izin-Nya kita sembuh.
(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan Aku, Maka Dialah yang menunjuki Aku. Dan
Tuhanku, yang Dia memberi Makan dan minum kepadaKu. Dan apabila aku sakit,
Dialah yang menyembuhkan Aku. Dan yang akan mematikan Aku, kemudian akan
menghidupkan aku (kembali). Dan yang Amat kuinginkan akan mengampuni
kesalahanku pada hari kiamat”. (Al Quran surah Asy Syu’araa’ [26]: 78 – 82)

KONSEP SAKIT
Di hadapan Allah, orang saki bukanlah orang yang hina. Mereka justru memiliki
kedudukan yang sangat mulia.

“Tidak ada yang yang menimpa seorang muslim kepenatan, sakit yang
berkesinambungan (kronis), kebimbangan, kesedihan, penderitaan, kesusahan, sampai
pun duri yang ia tertusuk karenanya, kecuali dengan itu Allah menghapus dosanya.:
(Hadist diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Bahkan Allah menjanjikan apabila orang yang sakit apabila ia bersabar dan
berikhtirar dalam sakitnya, selain Allah menghapus dosa-dosanya.

“Tidaklah seorang muslim tertimpa derita dari penyakit atau perkara lain kecuali
Allah hapuskan dengannya (dari sakit tersebut) kejelekan-kejelekannya (dosa-
dosanya) sebagaimana pohon menggugurkan daunnya.”
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

“Jika kamu menjenguk orang sakit, mintalah kepadanya agar berdoa kepada Allah
untukmu, karena doa orang yang sakit seperti doa para malaikat.”
(HR. Asy-Suyuti)

KONSEP SEHAT
Nabi Muhammad SAW lewat sunnahnya memberi perhatian yang serius terhadap
kesehatan manusia. Sunnah Nabi menganggap keselamatan dan kesehatan sebagai
nikmat Allah yang terbesar yang harus diterima dengan rasa syukur.

Firman Allah dalam Al Quran Surah Ibrahim [14]:7


Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Bentuk syukur terhadap nikmat Allah melalui kesehatan ini adalah senantiasa
menjaga kesehatan sesuai dengan sunnatullah.

Rasulullah bersabda. “Dua nikmat yang sering tidak diperhatikan oleh kebanyaka
manusia yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari yang diriwayatkan oleh
Ibnu Abbas)
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dapat disimpulkan dari materi yang dibahas diatas adalah :
Konsep sehat sakit :
Sehat adalah suatu keadaan yang sempurna dari aspek fisik, mental, sosial dan
tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. (WHO (1974))
Sakit adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan yang menimpa
seseorang sehingga menimbulkan gangguan aktivitassehari-hari baik aktifitas
jasmani, rohani, dan social(Perkins (1937))

Sakratulmaut :
sakaratul maut merupakan kondisi pasien yang sedang menghadapi kematian,
berbagai hal dan harapan tertentu untuk meninggal. Kematian merupakan
kondisi terhentinya pernapasan, nadi, dan tekanan darah serta hilangnya
respons terhadap stimulus eksternal, ditandai dengan terhentinya aktivitas
otak atau terhentinya fungsi jantung dan paru secara menetap. Sakartul maut
dan kematian merupakan dua istilah yang sulit untuk dipisahkan, serta
merupakan suatu fenomena tersendiri. kematian lebih kearah suatu proses,
sedangkan sakaratul maut merupakan akhir dari hidup.

Merawat jenazah :

Hal yang wajib dilakukan dalam merawat jenazah :

 Memandikan
 Mengkafani
 Menyalatkan
 Menguburkan
3.2 SARAN
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok
bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau
referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan kritik dan
saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini. Semoga
makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang
budiman pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA

Dianhusadautami.co.id/p/konsep-sehat-sakit.html?m=1,
diakses tanggal 14 september2016 jam 14.00

Afandi,rosyad.fiqih : untuk MTS Kelas IX / penyusun Bondet Wrahatnala ; editor, Sri


wahyuni ; illustrator, kustiono S. Pusat Perbukuan, akik pusaka. Wonogiri 2013