Вы находитесь на странице: 1из 2

7.

Minimalisasi Penggunaan Energy pada Industry Gula Tebu


Cara untuk meminimalisasi energy pada industry gula tebu adalah dengan meningkatkan
efisiensi dari penggunaan energy itu sendiri. Peningkatan efisiensi energi pada produksi gula
dapat dibagi menjadi dua sektor, yaitu penggunaan energi yang berupa bahan bakar dan
energi listrik.
a) Efisiensi Energy Bahan Bakar
Bahan bakar merupakan kebutuhan primer dari suatu industri termasuk industri gula,
karena berfungsi sebagai sumber tenaga utama penggerak proses. Pembiayaan tertinggi
juga dialokasikan pada penggunaan bahan bakar. Oleh karena itu, peningkatan efisiensi
penggunaan bahan bakar akan sangat berpengaruh pada penurunan tingkat pembiyaan
dalam suatu proses produksi oleh industri. Dua jenis bahan bakar yang digunakan oleh
kebanyakan industri gula adalah ampas tebu dan IDO (Industrial Diesel Oil). Bahan bakar
tersebut digunakan pada boiler untuk membangkitkan tenaga uap yang merupakan tenaga
utama pada proses produksi gula. Bahan bakar utama boiler adalah ampas tebu (bagasse).
Dalam kondisi operasi “normal”, semua boiler beroperasi dengan menggunakan bahan
bakar ampas tebu. Namun pada kenyataannya jumlah ampas tebu tidak mencukupi,
sehingga operasi boiler di pabrik gula senantiasa berhadapan dengan kondisi ”tidak
normal”. Untuk itu diperlukan bahan bakar tambahan, yakni potongan daun tebu kering
(dhadhuk), potongan kayu, dan serabut kelapa untuk memenuhi kebutuhan uap secara
cepat. IDO biasanya digunakan sebagai bahan bakar tambahan atau aditif untuk
meningkatkan energi pembakaran ke dalam ketel uap.
Penggunaan IDO menjadi perhatian karena biaya bahan bakar yang dikeluarkan untuk IDO
lebih besar daripada biaya bahan bakar ampas tebu yang pada dasarnya merupakan
limbah yang diperoleh secara cuma-cuma dari proses produksi gula. Penggunaan IDO
diharapkan dapat dilakukan dengan seoptimal mungkin mengingat nilai ekonomisnya yang
sangat tinggi dan bahkan semakin tinggi, seiring dengan peningkatan harga bahan bakar
minyak dan pencabutan subsidi oleh pemerintah. Penggunaan IDO sangat dipengaruhi
oleh tinggi rendahnya kalori yang terkandung dalam ampas tebu. Kandungan kalori dalam
ampas tebu yang digunakan sebagai bahan bakar utama ketel uap akan mempengaruhi
kinerja ketel uap. Apabila kandungan kalori ampas tebu rendah, maka kinerja ketel uap
dapat menurun. Hal tersebut dicegah dengan menambahkan IDO sebagai bahan bakar
ketel uap. Oleh karena itu, peluang untuk meningkatkan efisiensi penggunaan IDO adalah
dengan meningkatkan kalori yang terkandung pada ampas tebu.
b) Efisiensi Energi Listrik
Penggunaan energi listrik memegang peranan yang penting dalam kelancaran proses
produksi. Peningkatan efisiensi penggunaan energi listrik dapat dilakukan dengan
penghematan energi baik untuk mengaktifkan motor listrik atau alat yang ada.
Penghematan penggunaan energi listrik dapat dilakukan dengan cara optimalisasi utilisasi
alat. Optimalisasi alat dilaksanakan dengan cara mengaktifkan alat pada beban kerja atau
kapasitas optimalnya dan menonaktifkan alat ketika alat tersebut tidak digunakan. Adanya
alat yang tetap bekerja ketika proses sedang dalam tahap menunggu (standby) atau
bahkan berhenti merupakan salah satu sebab terjadinya inefisiensi penggunaan energi
listrik.
Cara lain yang dapat dgunakan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi listrik
adalah dengan melakukan maintenance atau perawatan, modifikasi, dan penggantian alat.
Perawatan terhadap alat yang ada harus dilakukan secara teratur agar kinerja dan tingkat
efisiensi alat tetap terjaga. Namun, apabila terjadi penurunan pada kinerja alat maka
dapat dilakukan modifikasi untu meningkatkan kembali kinerjanya, seperti penggulungan
ulang kumparan pada motor listrik atau dengan penggantian komponen tertentu pada
peralatan tersebut. Alternatif terakhir yaitu penggantian alat, sepertti penggantian motor
listrik dan peralatan yang sudah tua. Pergantian alat merupakan cara penghematan jangka
panjang yang harus dilakukan apabila alat sudah dilakukan perawatan dan modifikasi,
kinerja atau tingkat efisiensi alat tersebut sudah tidak sesuai dengan yang diharapkan.
8. Minimalisasi penggunaan air pada industry gula tebu

Industry gula tebu juga menggunakan air dalam jumlah besar. Air digunakan dalam proses
pencucian, ekstraksi, pembuatan steam, dan pemurnian (purification). Untuk meminimalisasi
penggunaan air pada industry gula tebu, ada beberapa pilihan yang dapat dilakukan, yaitu:
a) Instalasi kolam spray untuk penggunaan kembali air pendingin dari kondensor

Penggunaan air pendingin untuk condenser merupakan penggunaan air terbesar di pabrik
gula tebu. Air keluaran dalam proses ini dapat digunakan kembali dengan mengalirkannya
pada cooling tower atau kolam spray yang dapat mengurangi perbedaan suhu awal dan
akhir di condenser.
b) Penggunaan kembali air bekas proses scrubbing
Air bekas dari proses scrubbing dapat disaring dan digunakan kembali sebagai air umpan.
Timbulan fly ash pada scrubber dapat dikeringkan dan dijual pada pihak ketiga
c) Penggunaan kembali air sisa kondensat
Kondensat dari proses evaporasi selain dapat dijadikan sebagai air umpan boiler, dapat
juga digunakan kembali sebagai air imbibisi, air umpan scrubber, dan untuk pencucian
alat.