You are on page 1of 8

2/15/2018 Gerakan APP Nasional 2018: Membangun Solidaritas Sosial Demi Keutuhan Ciptaan | Departemen Dokumentasi dan Penerangan

gan KWI

Gerakan APP Nasional 2018: Membangun


Solidaritas Sosial Demi Keutuhan Ciptaan
By Matius Bramantyo - Feb 13, 2018

http://www.dokpenkwi.org/2018/02/13/5427/ 1/8
2/15/2018 Gerakan APP Nasional 2018: Membangun Solidaritas Sosial Demi Keutuhan Ciptaan | Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI

Poster Gerakan APP Nasional 2018. (Komisi PSE KWI).

Pengantar
“Melindungi dan Mengelola Sumber Hak Hidup Ekonomi Masyarakat Lokal” menjadi arah dasar
gerak Kerasulan PSE KWI yang visioner, profetis dan profitis. Arah dasar ini mendasarkan diri
pada spiritualitas inkarnatoris-transformatif yang berpangkal dari misteri penjelmaan Allah dalam
hidup manusia, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh. 1, 14). Dalam
proses inkarnasi itu, Firman Allah menunjukkan solidaritas dengan manusia, dengan
“mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan
manusia” (Fil. 2,7), menunjukkan semangat belarasa kepada mereka yang menderita (Mat. 9,
36), dan mengupayakan hidup baru dan berkelimpahan dengan membawa kabar baik bagi orang
miskin, pembebasan bagi tawanan, penglihatan bagi orang buta, dan pembebasan bagi orang
tertindas dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Luk. 4, 18).
Kehadiran Allah dalam realitas alam ciptaan membuat kehidupan sehari-hari menjadi situs
rahmat, tempat kita berjumpa muka dengan Allah. Tidak ada lagi hal duniawi yang melulu
duniawi; segala sesuatu merupakan undangan untuk berjumpa dengan-Nya. Oleh karena itu,
menata, menjaga, memelihara dan mengembangkan alam ciptaan untuk kesejahteraan hidup
bersama dan keberlangsungan generasi mendatang demi keutuhan ciptaan menjadi bentuk
tanggapan atas perjumpaan itu. Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Centesimus Annus (1991)
menegaskan bahwa manusia sejatinya melindungi dan menyelamatkan keadaan ekologi
manusiawi, melindungi jenis-jenis hewan yang terancam punah dan keseimbangan umum bumi.
Dalam dimensi ini, Paus menitikberatkan terhadap tanggung jawab manusia terhadap alam
ciptaan. Bertanggung jawab berarti merubah cara pandang dan perilaku terhadap alam semesta
yang mempunyai nilai dalam dirinya yang harus dihargai.
Alam tidak boleh dilihat sebagai obyek yang harus dikeruk keberadaannya, melainkan menjadi
subyek dalam berpartner demi terciptanya kehidupan yang harmonis. Kehidupan harmonis
ditandai dengan relasi yang adil dan penuh hormat antara manusia dengan manusia dan manusia
dengan alam ciptaan. Oleh karena itu, gerakan APP Nasional tahun 2018 mengambil tema
“Membangun Solidaritas Sosial Demi Keutuhan Ciptaan” yang sekaligus sebagai gerak kongkret
dalam tahapan mewujudkan Arah Dasar Kerasulan PSE KWI “Melindungi dan Mengelola Sumber
Hak Hidup Ekonomi Masyarakat Lokal”.

Solidaritas Sosial :
Cita–Cita dan Harapan Demi Keutuhan Ciptaan
Solidaritas menunjuk pada suatu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang
didasarkan pada keadaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh
pengalaman emosional bersama. Solidaritas sosial adalah adanya rasa saling percaya cita-cita
bersama kesetiakawanan, dan rasa sepenanggungan di antara individu sebagai anggota
kelompok, karena adanya perasaan emosional dan moral yang dianut bersama, yang dapat
membuat individu merasa nyaman dengan kelompok atau komunitas dalam masyarakat.
Kelompok-kelompok sosial sebagai tempat berlangsungnya kehidupan bersama, masyarakat akan
tetap ada dan bertahan ketika dalam kelompok sosial tersebut terdapat rasa solidaritas di antara
http://www.dokpenkwi.org/2018/02/13/5427/ 2/8
2/15/2018 Gerakan APP Nasional 2018: Membangun Solidaritas Sosial Demi Keutuhan Ciptaan | Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI
tetap ada dan bertahan ketika dalam kelompok sosial tersebut terdapat rasa solidaritas di antara
anggota-anggotanya.
Dasar solidaritas adalah kesatuan, persaudaraan, saling percaya, saling hormat menghormati
yang mendorong untuk bertanggung jawab dan memperhatikan kepentingan pembangunan hidup
bersama atas alam ciptaan yang dianugerahkan bagi hidup manusia dan bagi keberlangsungan
generasi mendatang. Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si menegaskan, “Bahwa kita tidak
bisa bicara tentang pembangunan berkelanjutan tanpa solidaritas antar generasi manusia, karena
bumi yang kita huni adalah juga milik generasi mendatang. Kitalah yang pertama-tama
berkepentingan untuk mewariskan planet yang layak huni bagi generasi selanjutnya. Oleh karena
itu, selain solidaritas yang adil antar generasi, juga mendesak membaharui solidaritas intra
generasi”.
Dalam solidaritas sosial, sikap dan tindakan hidup dilandasi atas pengertian akan kesadaran akan
tanggung jawab dan partisipasi sosial untuk peduli dan terlibat dalam realitas sosial manusia
dengan seluruh keutuhan ciptaan yang ditandai dengan keharmonisan hidup antara manusia
dengan manusia, manusia dengan seluruh ciptaan dan manusia dengan Sang Pecipta. Hubungan
ini didasarkan atas Kerahiman Allah. Kerahiman Allah adalah kepedulian Allah yang penuh kasih
kepada manusia. Allah menginginkan manusia hidup sejahtera, dan menghendaki manusia hidup
bahagia, penuh sukacita dan damai. Karena itu, syukur atas keutuhan ciptaan dinyatakan dengan
tindakan keadilan terhadap seluruh ciptaan. Keadilan merupakan sikap kesediaan manusia untuk
menghindari perusakan lingkungan hidup, dan tindakan-tindakan yang dapat mengganggu
keseimbangan lingkungan hidup bertentangan dengan keadilan.
Manusia dengan ciptaan lainnya, hendaknya hidup saling melengkapi. Kebersamaan ini menuntut
penghormatan dan penghargaan hidup satu sama lain dalam memberikan kontribusi positif. Peran
dan kontribusi manusia terhadap alam ciptaan adalah dengan bertanggung jawab melestarikan
kesinambungan hidup dengan ciptaan Tuhan lainnya. Dengan demikian tanggung jawab manusia
bukan hanya untuk menikmati segala sesuatu yang dibutuhkan dari ciptaan lain namun
mengelolanya dengan baik untuk kelangsungan hidup dari generasi yang satu ke generasi yang
lain.

Manusia Bagian Integral dari Alam Ciptaan


Alam memelihara kehidupan manusia. Alam menyediakan segala yang diperlukan manusia untuk
menjamin kelangsungan hidupnya. Bahkan harus diakui kehidupan manusia di bumi ini
sepenuhnya bergantung pada alam. Manusia dipanggil untuk mengambil bagian dalam
memelihara alam. Tanpa pemeliharaan itu, hidup manusia sendiri akan terancam, karena alam
merupakan sumber kehidupannya. Sebagai citra Allah, manusia adalah rekan kerja Allah dalam
memelihara alam semesta. Hubungan manusia dengan seluruh alam merupakan partisipasi dalam
hubungan Allah dengan seluruh ciptaan. Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si menegaskan
perlunya kesadaran relasi yang khusus antara alam dan masyarakat yang menghuninya. Hal ini
mencegah manusia untuk memahami alam sebagai sesuatu yang terpisah darinya atau hanya
sebagai kerangka kehidupan manusia. Manusia adalah bagian dari alam, termasuk di dalamnya,
dan terjalin dengannya.
Alam ciptaan, bumi dan segala isinya adalah subyek moral yang harus dihargai, tidak hanya alat
dan obyek yang bisa dimanfaatkan manusia sesuka hati karena alam ciptaan bernilai pada dirinya
sendiri. Setiap ciptaan bagian dari keutuhan ciptaan dan merupakan bagian integral dari
http://www.dokpenkwi.org/2018/02/13/5427/ 3/8
2/15/2018 Gerakan APP Nasional 2018: Membangun Solidaritas Sosial Demi Keutuhan Ciptaan | Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI

komunitas kehidupan. Manusia harus menyadari bahwa kuasa yang diberikan Allah kepadanya
bukanlah kuasa untuk memanipulasi dan mendominasi. Peran Allah dalam mencipta dan
memelihara seluruh alam, juga menjadi tugas manusia.
Setelah menciptakan laki-laki dan perempuan, “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu,
sungguh amat baik” (Kej. 1:31). Manusia diciptakan karena cinta, menurut gambar dan rupa
Allah. Di antara seluruh ciptaan manusia merupakan puncak ciptaan yang diberi kuasa atas bumi.
Walaupun demikian, manusia perlu mengingat bahwa ia adalah bagian dari alam semesta. Ia
diciptakan dari tanah, hidup dari tanah, dan akan kembali menjadi tanah. Oleh karena itu,
penguasaan atas alam ciptaan oleh manusia ditempatkan dalam pengertian mengusahakan dan
memelihara bumi (bdk. Kej. 2,15).
Mengusahakan berarti menggarap, membajak, atau mengerjakan. Memelihara berarti melindungi,
menjaga, melestarikan, merawat, mengawasi. Hal ini berarti ada relasi tanggung jawab timbal
balik antara manusia dan alam. Setiap komunitas dapat mengambil apa yang mereka butuhkan
dari harta bumi untuk bertahan hidup, tetapi juga memiliki kewajiban untuk melindungi bumi dan
menjamin keberlangsungan kesuburannya untuk generasi-generasi mendatang. Tanggung jawab
terhadap bumi milik Allah ini menyiratkan bahwa manusia yang diberkati dengan akal budi,
menghormati hukum alam dan keseimbangan yang lembut di antara makhluk-makhluk di dunia
ini, sebab “Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta. Dia mendirikan semuanya untuk
seterusnya dan selamanya, dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar” (Laudato Si art.
68). Alam semesta sebagai keseluruhan, dalam aneka hubungannya, mengungkapkan kekayaan
Allah yang tak terbatas.

Kegagalan Manusia Memelihara Keutuhan Ciptaan


Penyalahgunaan ciptaan dimulai ketika manusia tidak lagi mengakui yang lebih tinggi daripada
dirinya sendiri, ketika manusia tidak melihat apapun kecuali dirinya sendiri.
Manusia memandang dirinya sendiri sebagai pusat dari sistem alam semesta. Manusia dan
kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem alam ciptaan dan
dalam kebijakan yang diambil dalam kaitan dengan alam, baik secara langsung atau tidak
langsung. Nilai tertinggi adalah manusia dan kepentingannya. Hanya manusia yang mempunyai
nilai dan mendapat perhatian. Segala sesuatu yang lain di alam semesta ini hanya akan mendapat
nilai dan perhatian sejauh menunjang dan demi kepentingan ekonomis manusia. Oleh karenanya,
alam pun hanya dilihat sebagai obyek, alat dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan
kepentingan manusia. Alam hanya alat bagi pencapaian tujuan ekonomis manusia. Alam tidak
mempunyai nilai pada dirinya sendiri.
Atas nama pembangunan, manusia dengan mudah menghabiskan isi alam tanpa memikirkan
kelestariannya. Ketika diperlakukan demikian, alam akan menderita dan tidak lagi menjadi tempat
yang nyaman untuk hidupnya. Manusia tidak dapat lagi hidup dalam damai dengan alam. Ketika
habitat binatang liar diganggu, binatang liar itu pun akan menjadi gangguan bagi manusia. Ketika
hutan dibabat habis, orang harus bersiap menghadapi kekurangan air atau sebaliknya
menghadapi datangnya banjir. Dalam kenyataannya pekerjaan manusia dalam mengolah
alam telah menjadi eksploitasi sumber daya alam yang telah mengakibatkan kerusakan
lingkungan, mengancam kelestarian alam ciptaan, dan bahkan membahayakan kehidupan
manusia sendiri. “Di balik perusakan alam yang bertentangan dengan akal sehat ada kesesatan
antropologis, yang sayangnya memang sudah tersebar luas. Manusia bukannya menjalankan
http://www.dokpenkwi.org/2018/02/13/5427/ 4/8
2/15/2018 Gerakan APP Nasional 2018: Membangun Solidaritas Sosial Demi Keutuhan Ciptaan | Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI
antropologis, yang sayangnya memang sudah tersebar luas. Manusia bukannya menjalankan
tugasnya bekerjasama dengan Allah di dunia. Ia justru malahan mau menggantikan tempat Allah,
dan dengan demikian akhirnya membangkitkan pemberontakan alam, yang tidak diaturnya, tetapi
justru diperlakukan secara sewenang-wenang” (Centesimus Annus art.37).
Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di segala
bidang yang menyangkut kehidupan manusia. Pembangunan dalam prosesnya tidak terlepas dari
penggunaan sumber daya alam, baik sumber daya alam yang terbarukan maupun sumber daya
alam tak terbarukan. Seringkali di dalam pemanfaatan sumber daya alam tidak memperhatikan
kelestariannya, bahkan cenderung memanfaatkan dengan sebanyak-banyaknya. Pemanfaatan
bumi untuk tujuan ekonomi, serta perkembangan teknologi yang tak terkontrol dan tak tertata
dalam keseluruhan rencana kemajuan yang sungguh layak manusiawi, seringkali merupakan
ancaman bagi lingkungan alami manusia, mengasingkannya dari hubungan dengan alam,
memisahkannya dari padanya (Redemptor Hominis art.15).
Beberapa bentuk kegagalan manusia dalam memelihara keutuhan alam ciptaan; terjadinya
pencemaran (pencemaran udara, air, tanah, dan suara) sebagai dampak adanya kawasan industri,
terjadinya banjir, sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan air dan kesalahan
dalam menjaga daerah aliran sungai dan dampak pengrusakan hutan, terjadinya tanah longsor,
sebagai dampak langsung dari rusaknya hutan, penebangan hutan secara liar (penggundulan
hutan), pembuangan sampah di sembarang tempat dan pemanfaatan sumber daya alam secara
berlebihan di luar batas. Sesungguhnya, kerusakan lingkungan dan kemerosotan masyarakat
lebih berdampak terhadap pihak yang paling lemah di bumi : “Baik pengalaman hidup sehari-hari
maupun penelitian ilmiah menunjukkan bahwa efek paling parah dari semua perusakan
lingkungan diderita oleh kaum miskin” (Laudato Si art. 48).

Membangun Gerakan Solidaritas Sosial bagi Keutuhan Ciptaan


Solidaritas sosial adalah sikap batin manusia yang bersumber dari rasa cinta kepada kehidupan
bersama yang diwujudkan dalam tindakan nyata berupa pengorbanan dan kesediaan menjaga,
membela, maupun melindungi terhadap kehidupan bersama. Alam ciptaan merupakan harta
kehidupan bersama, warisan seluruh umat manusia, tanggung jawab semua orang. Oleh karena
itu, Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si menegaskan “kita tidak bisa lagi berbicara tentang
pembangunan berkelanjutan tanpa solidaritas antargenerasi. Kita berbicara tentang solidaritas
antargenerasi bukan sebagai sikap opsional, tetapi sebagai soal mendasar keadilan, karena bumi
yang kita terima juga milik mereka yang akan datang”.
Ungkapan solidaritas sosial antargenerasi itu harus nyata dalam tindakan kongkret dan dalam
perbuatan yang bisa dirasakan, sebagaimana solidaritas Allah melalui Putra-Nya yang tanpa batas
bagi keselamatan manusia. Intinya, terungkap dalam Sabda Yesus, “Sebab saat Aku lapar, kamu
memberi Aku makan; saat Aku haus, kamu memberi Aku minum; saat Aku seorang asing, kamu
memberi Aku tumpangan; saat Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; saat Aku sakit, kamu
merawat Aku; saat Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku”(Mat. 25, 35-36). Semangat
gerak solidaritas ini juga bisa diterapkan bagi semua ciptaan. Dengan perbuatan nyata, rela
berbagi, solidaritas sosial menjadi awal untuk mewujudkan gerakan keutuhan ciptaan. Oleh
karena itu, perlindungan atas semua ciptaan harus menjadi bagian integral dari proses
pembangunan dan tidak dapat dipandang lepas dari itu.
Penguasaan yang diberikan Pencipta bukanlah kekuasaan mutlak. Selain itu, manusia tidak dapat
http://www.dokpenkwi.org/2018/02/13/5427/ 5/8
2/15/2018 Gerakan APP Nasional 2018: Membangun Solidaritas Sosial Demi Keutuhan Ciptaan | Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI

berbicara tentang kebebasan untuk “menggunakan dan menyalahgunakan” atau mengatur hal-hal
semaunya. Pembatasan yang sejak semula diberikan pencipta sendiri dan secara simbolis
diungkapkan dengan larangan “tidak makan buah pohon” (bdk. Kej. 2, 16-17) menunjukkan
dengan cukup jelas. Bila menyangkut alam, kita tunduk tidak hanya pada hukum biologis,
melainkan juga hukum moral yang tidak dapat dilanggar tanpa mendapat hukum. Kesadaran akan
hal ini, dan pengakuan dosa-dosa yang sudah dibuat terhadap alam ciptaan menjadi dasar untuk
mengawali gerakan kesetiakawanan sosial (solidaritas sosial) bagi keutuhan ciptaan. “Bila
manusia menghancurkan keanekaragaman hayati ciptaan Tuhan; bila manusia mengurangi
keutuhan bumi ketika menyebabkan perubahan iklim, menggunduli bumi dari hutan alamnya atau
menghancurkan lahan-lahan basahnya; bila manusia mencemari air, tanah, udara dan lingkungan
hidupnya – semua ini adalah dosa”. Sebab “kejahatan terhadap alam adalah dosa terhadap diri
kita sendiri dan dosa terhadap Allah” ( Laudato Si art. 8).

Penutup
Seluruh alam semesta adalah saudara dalam satu pencipta. Di antara seluruh ciptaan, manusia
merupakan puncak ciptaan yang diberi kuasa atas bumi. Walaupun demikian, manusia perlu
mengingat bahwa ia adalah bagian dari alam semesta. Manusia dipanggil untuk mengambil
bagian dalam memelihara alam. Tanpa pemeliharaan itu, hidup manusia sendiri akan terancam,
karena alam merupakan sumber kehidupannya. Hubungan manusia dengan seluruh alam
merupakan partisipasi dalam hubungan Allah dengan seluruh alam ciptaan. Kesetiakawanan sosial
menjadi sikap dasar dalam membangun hubungan tersebut. Dengan demikain, akan terjadi
perubahan gerak dari keserakahan menjadi kemurahan hati, dari pemborosan menjadi semangat
berbagi, dan ini akan menjadi gerakan yang secara bertahap dari apa yang diinginkan menuju apa
yang dibutuhkan demi membangun keutuhan ciptaan.

Sumber: Komisi PSE KWI

Matius Bramantyo
Staf Departemen Dokumentasi dan Penerangan (Dokpen) KWI.

http://www.dokpenkwi.org/2018/02/13/5427/ 6/8
2/15/2018 Gerakan APP Nasional 2018: Membangun Solidaritas Sosial Demi Keutuhan Ciptaan | Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI

http://www.dokpenkwi.org/2018/02/13/5427/ 7/8
2/15/2018 Gerakan APP Nasional 2018: Membangun Solidaritas Sosial Demi Keutuhan Ciptaan | Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI

http://www.dokpenkwi.org/2018/02/13/5427/ 8/8