You are on page 1of 6

BAB V

KEPUTUSAN HAKIM

1.Tugas hakim setelah selesai memeriksa perkara


Setelah selesai memeriksa perkara,hakim mengumpulkan semua hasil
pemeriksaan untuk disaring mana yang penting dan mana yang tidak
pening.Berdasarkan hasil pemeriksaan itu.hakim berusaha menemukan peristiwanya
( feit vindein,fact finding ).setelah hakim mendapat kepastian bahwa telah terjadi
peristiwayang telah terjadi itu merupakan pelanggaran hukum atau tidak.kemudian
iya menentukan,peraturan hukum apakah yang menguasai peristiwa yang telah
terjadi itu.ini lah yang disebut menemukan hukum (recht vinden,law finding )
Menurut ketentuan pasal 27 uu 1970-4 hakim sebagai penegak hukum dan
keadilan wajib menggali,mengikuti,dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup
dalam masyarakat.ini berarti bahwa dalam masyarakat yang mengenal hukum tidak
tertulis ( hukum adat ).hakim adalah penggali nilai-nilai hukum yang hidup dalam
masyarakat dan meneruskannya lewat putusan-putusan nya
Di negeri inggris dan umumnya di negeri anglo saxon termasuk amerika
serikat.disana para hakim terikat kepada putusan yang sudah ada lebih dulu dari
hakim-hakim yang sejajar.asa ini disebut “The Binding Force Of Precedent”.dengan
demikian di negeri itu terjadi ‘Judge Made Law” atau “ Case law” (Kusmadi
Pudjosewojo,1971 :28).sedangkan di negeri Belanda pengadilan bukanlah sumber
hukum dalam arti formil,tetapi sangat membantu dalam pembentukan hukum

2.Macam-macam putusan hakim

Putusan akhir dalam hukum acara perdatadi bedakan menjadi 3 macam yaitu:
a.Putusan condemnatoir (condemnatoir vonnis,condemnatory judgement)
adalah putusan yang bersifat menghukum.hukuman dalam perkara perdata
berlainan dengan hukum perkara pidana.dalam perkara perdata,hukuman artinya
kewajiban untuk memenuhi prestasi yang di beban kan oleh hakim.menghukum
artinya membebani kewajiban untuk prestasi terhadap lawan nya.prestasi itu dapat
berwujud memberi,bebuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu.
Dalam putusan ini ada pengakuan atau pembenaran hak penggugat atas suatu
prestasi yang di tuntutnya ,atau sebaliknya tidak ada pengakuan atau tidak ada
pembenaran atas suatu pertasi yang di tuntutnya.
b.Putusan declratoir (declratoir vonnis,declaratory judgement)
adalah putusan yang bersifat menyatakan hukum ,atau menegaskan suatu keadan
hukum semata-mata.Dalam putusan ini di nyatakan bahwa keadaan hukum tertentu
yang di mohonkan itu ada atau tidak ada.

c.Putusan consitutif (consitutif vonnis,consitutive judgement)


adalah putusan yang bersifat menghentikan kedaan hukum baru.Dalam putusan ini
suatu keadaan hukum tertentu dihentikan atau ditimbulkan suatu keadaan hukum
baru ,misalnya putusan pembatasan perkawinan,pembatalan perjanjian dll.

3.Isi putusan hakim

Setiap putusan hakim yang berupa putusan akhir,harus didahului oleh kepala
putusan yang berbunyi “ DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG
MAHA ESA “. Ini berarti ,setiap hakim yang mengadili dan memutuskan suatu
perkara harus berlaku adil dengan mengingat tanggung jawab diri sendiri dan
tanggung jawab kepada Tuhan yang Maha esa.menurut ketentuan pasal 23 UU 1970-
4,segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan-alasan dan dasar-dasar
putusan itu juga harus memuat pasal-pasal tertentu dari peraturan-peraturan yang
bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang di jadikan dasar untuk mengadili.
Selanjutnya dalam pasal 184 HIR-195 R.Bg.ditentukan setiap putusan hakim
harus memuat ringkasan yang nyata dari tuntutan dan jawaban serta alasan putusan
itu,putusan tentang pokok perkara dan banyak nya ongkos perkara,pemberitahuan
tentang hadir tidaknya kedua belah pihak itu pada waktu putusan dijatuhkan.
Dari ketentuan kedua pasal tersebut dapat disimpulkan rincian isi setiap
putusan hakim itu:
1. Rinkasan tuntutan
2. Jawaban para pihak dalam pemeriksaan perkara
3. Alasan-alasan dan dasar putusan
4. Peraturan hukum yang bersangkutan
5. Putusan tentang pokok perkara
6. Banyak nya ongkos perkara
7. Hadir tidak nya kedua belah pihak
8. Tanda tangan hakim dan Panitera
4.Kekuatan Putusan Hakim

HIR dan R.Bg sama sekali tidak memuat ketentuan tentang kekuatan putusan
hakim,kecuai dalam pasal 180 HIR-191 R.Bg.hanya menyebutkan adanya suatu
putusan hakim yang telah menjadi tetap.
Ada dua macam putusan yaitu :
1. Putusan yang belum menjadi tetap adalah putusan yang menurut ketentuan
UU masih terbuka kesempatan untuk menggunakan upaya hukum melawan
putusan itu ,misalnya perlawanan (VERZET),banding(appel) dan kasasi
2. Putusan yang sudah menjadi tetap adalah putusan yang menurut ketentuan
UU tidak ada kesempatan lagi untuk menggunakan upaya hukum bisa
melawan putusan itu.jadi putusan itu tidak dapat lagi diganggu gugat.
Dalam putusan yang sudah menjadi tetap terdapat 3 macam kekuataan yaitu :
1. Kekuatan mengikat bertujuan untuk menetapkan suatu hak atau suatu
hubungan hukum antar pihak-pihak yang berperkara,atau menetapkan suatu
keadaan hukum tertentu,atau untuk melenyapkan suatu keadaan hukum
tertentu,atau untuk melenyapkan keadaan hukum tertentu.
2. Kekuatan bukti sempurna itu berlaku baik antara pihak-pihak yang berpekara
maupun terhadap pihak ketiga
3. Kekuatan untuk dilaksanakan yaitu putusan hakim yang sudah menjadi tetap
,memperoleh kekuatan pasti.
BAB VI
TENTANG BANDING

1.Peraturan Tentang Banding

Banding adalah pemeriksaan ulang yang dilakukan oleh peradilan tinggi


terhadap putusan pengadilan negeri atas permohonan pihak yang
berkepentingan.peraturan-peraturan yang digunakan dalam daerah RI dahulu
adalah :
1. Untuk pemeriksaan ulang atau banding perkara perdata buat pengadilan
tinggi di jawa dan madura adalah UU 1947-20
2. Untuk pemeriksaan ulang atau banding perkara perdata buat pengadilan
tinggi di luar jawa dan Madura adalah rechtsreglement Voor de
Buitengewesten (R.Bg).
UU 1947-20 sebenarnya mengambil alih ketentuan tentang pemeriksaan ulang
atau banding yang terdapat dalam HIR dengan sekedar perubahan dan
tambahan.Sedangkan ketentuan HIR itu pada dasar nya juga tidak berbeda
dengan ketentuan tentang banding dalam R.Bg.

2.Syarat dan Prosedur Banding

Syarat untuk dimintakan banding bagi perkara yang telah diputus oleh
Pengadilan Tinggi ialah apabila besarnya nilai gugat dari perkara yang telah diputus
itu lebih dari Rp 100,- (seratus rupiah).jadi jika nilai gugat itu Rp.100,- (seratus
rupiah) atau kurang,putusan Pengadilan Negeri tersebut tidak dapat dimintakan
banding (pasal 6 UU 1947-20 – pasal 96 no. 1 R.O).
Tenggang waktunya tiga puluh hari jika pemohon banding berdiam di laur
daerah hukum tempat pengadilan negeri itu bersidang untuk Jawa dan Madura
,sedangkan untuk luar Jawa dan Madura tenggang waktu tersebut dijadikan enam
minggu .Permohonan banding harus di sertai dengan pembayaran persekot ongkos
perkara banding yang jumlahnya di taksir oleh panitera pengadilan negeri tersebut.

3.Pemeriksaan Dalam Tingkat Banding

Pemeriksaan perkara dalam tingkat banding dilakukan dengan memeriksa


semua berkas perkara pemeriksaan pengadilan negeri dan surat-surat lainnya yang
berhubungan dengan perkara tersebut.Pasal 15 ayat 1 UU 1947-20,jis pasal 15 dan 16
UU 1970-14.Kemudian ketentuan pasal 15 ayat 1 ini di rubah dengan ketentuan pasal
2 (rum) ayat 1 UU darurat 1955-11 (LN 1955-36) sehingga ketentuan pemeriksaan
perkara perdata dalam tingkat banding yang dilakukan oleh tiga orang hakim,dalam
rangka perkara tertentu dapat di periksa oleh seorang hakim saja ( hakim tunggal )
yang di tunjuk oleh ketua pengadilan tinggi.
Latar belakang dikeluarkan nya UU darurat 195-11 itu ialah dikarenakan
keharusan pengadilan banding memeriksa dan memutuskan dengan tiga orang
hakim, membawa akibat banyaknya tunggakan perkara dalam peradilan banding
karena belum cukupnya tenaga hakim.
Ketentuan pemeriksaan perkara dengan seorang hakim saja,sebenarnya
merupakan tindakan darurat, yang secara berangsur-angsur harus di sesuaikan
dengan perintah UU dalam pasal 15 UU 1970-14
Pemeriksaaan dalam bentuk banding merupakan pemeriksaan ulang terhadap
perkara yang telah di periksa dan diputus oleh pengadilan negeri.Dengan
pemeriksaan ini,dapat dikoreksi apakah putusan yang diberikan oleh pengadilan
negeri itu sudah tepat,atau kurang tepat atau ada kesalahan sama sekali.

4.Putusan Pengadilan Tinggi (Pengadilan Banding)

Setelah pemeriksaan perkara selesai dilakukan,hakim segera menjatuhkan


putusannya.Putusan dalam tingkat banding dapat berupa :
1. Menguat putusan pengadilan negeri
2. Memperbaiki putusan pengadilan negeri
3. Membatalkan putusan pengadilan negeri

Putusan menguatkan,artinya apa yang telah diperiksa dan diputus oleh


pengadilan negeri itu dianggap benar dan tepat.Putusan memperbaiki,artinya apa
yang telah diperiksa dan diputus oleh pengadilan negeri itu dipandang kurang
tepat menurut rasa keadilan ,karenanya perlu diperbaiki
Putusan membatalkan artinya apa yang telah diperiksa dan diputus oleh
pengadilan negeri itu di pandang tidak benar dan tidak adil ,karenanya harus di
batalkan
Setelah pengadilan tinggi memberikan putusannya,maka salinan resmi
putusan dan berkas perkaranya dikirimkan kembali kepada pengadilan negeri
yang bersngkutan.Setelah putusan itu diterima pengadilan negeri,ketua
memerintahkan supaya memberitahukan isi putusan pengadilan tinggi itu kepada
keda belah pihak dengan memperingatkan hak mereka untuk mengajukan
permohonan kasasi kepada MA.atas dasar perintah ketua pengadilan
negeri,panitera memerintahkan juru sita untk pemberitahuan
Dalam UU tidak diatur secara tegas batas waktu pemberitahuan isi putusan
banding kepada pihak-pihak .hanya ditentukan segera setalah menerima surat
putusan dari pengadilan tinggi ,ketua pengadilan negeri yang bersangkutan
segera memerintahkan supaya isi putusan banding itu diberitahukan kepada
pihak-pihakdengan pemberitahuan itu mungkin pihak-pihak itu akan
menggunakan haknya untuk memohon kasasi,atau kalau tidak mohon kasasi
,putusan banding itu segera dilaksanakan dan bagi yang menang perkara,segera
akan mendapatkan haknya yang telah ditetapkan dalam putusan itu