You are on page 1of 14

PAPER INDIVIDU

PENGARUH POLITIK DAN KEAMANAN TERHADAP


EKONOMI PEMBANGUNAN DI INDONESIA

Mata Kuliah : Ekonomi Pembangunan


Dosen Pengampuh : SUSILO NUR AJI COKRO DARSONO
Kelas :G
Nama : FAHMI ZULFIKAR
NIM : 20160430242

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

ILMU EKONOMI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan


pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan pendudukdan
disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara.
Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic
growth), pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan
sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan
ekonomi. Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan
kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan
pendapatan nasional.

Suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi


peningkatan GNP riil di negara tersebut. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan
indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi. Perbedaan antara keduanya adalah
pertumbuhan ekonomi keberhasilannya lebih bersifat kuantitatif, yaitu adanya
kenaikan dalam standar pendapatan dan tingkat output produksi yang dihasilkan,
sedangkan pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan hanya
pertambahan produksi, tetapi juga terdapat perubahan-perubahan dalam struktur
produk.

Pertumbuhan dan pembangunan ekonomi merupakan dua sisi kehidupan


ekonomi yang erat hubungannya dan saling mempengaruhi. Pembangunan ekonomi
mendorong pertumbuhan ekonomi, sebaliknya pertumbuhan ekonomi
memperlancar proses pembangunan ekonomi. Adanya pertumbuhan ekonomi
merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
Terdapat beberapa faktor pendorong dan pencegah dala, terjadinya
pembangunan ekonomi di suatu daerah atau negara, diantaranya adalah kondisi
politik dan keamanan di daerah atau negara tersebut. Semakin baik kondisi politk
dan keamanannya, semakin baik juga peluang pembangunan ekonomi terjadi, begitu
pun sebaliknya.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Pembangunan Ekonomi ?
2. Apa yang dimaksud dengan Politik ?
3. Apa yang dimaksud dengan keamanan ?
4. Apa pengaruh Politik dan Keamanan terhadap pembangunan ekonomi di
Indonesia ?
1.3. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian dari Pembangunan Ekonomi
2. Untuk mengetahui pengetian dari Politik
3. Untuk mengerahui pengertian dari Keamanan
4. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh politik dan keamanan terhadap
pembangunan ekonomi di Indonesia ?
1.4. Manfaat Penulisan
Dengan adanya pembahasan mengenai pengaruh politik dan keamanan
terhadapat pembangunan ekonomi di Indonesia, masyarakat khususnya mahasiswa
bisa mengetahui bahwa keadaaan politik dan kemanan sangat berpengaruh terhadap
keberhasilan pembangunan ekonomi di Indonesia. Sehingga masyarakat dan
mahasiswa mampu bersinergi dalam menjaga proses politik dan keamanan demi
terwujudnya pembangunan ekonomi di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pembangunan Ekonomi


Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo menyatakan pembangunan ekonomi
ialah usaha memperbesar pendapatan per kapita dan menaikan produktivitas
perkapita dengan jalan menambah peralatan modal danmenambah keahlian.
Pembangunan mengandung arti perubahan structural sebab bermaksud
untukmemperluas dasar ekonomi dan memperluas lapangan kehidupan serta
mengandung kehendak merubahcara hidup, cara berpikir, cara mengahadapi
persoalan untuk menempuh jalan-jalan baru yang dapatmembawa kemajuan atau
mengandung kesadaran untuk mengubah keadaan, baik dalam menaikan tingkat
kehidupan, maupun dalam arti menempuh cara kehidupan yang baru.
Dalam definisi tersebut disebutkan bahwa pembangunan ekonomi adalah
suatu proses kenaikan dalampendapatan total dan pendapatan per kapita dengan
menghitung adanya pertambahan penduduk disertaiadanya perubahan fundamental
(perumbahan mendasar) dalam struktur ekonomi Negara yangbersangkutan.
Berdasarkan difinisi di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pertumbuhan
ekonomi ukuran keberhasilannya lebihbersifat kuantitatif , yaitu adanya kenaikkan
dalam standar kehidupan dan kesejahteraan umum masyarakat,sedangkan
pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif , bukan hanya pertambahan
produksi, tetapi jugaterdapat perubahan-perubahan dalam struktur produksi dan
alokasi input pada berbagai sector perekonomian seperti dalam lembaga,
pengetahuan dan teknik.
Dari pengertian tersebut terkandung empat unsure penting pembangunan
ekonomi, antara lain pembangunan ekonomi mengandung suatu proses perubahan
yang terus menerus, pembangunan ekonomi mengakibatkan perubahan social,
pembangunan ekonomi berupaya meningkatkan GNP per kapitan dan pembangunan
ekonomi berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
2.2. Pengertian Politik
Secara etimologis, politik berasal dari kata Yunani polis yang berarti kota
atau negara kota. Kemudian arti itu berkembang menjadi polites yang berarti
warganegara, politeia yang berarti semua yang berhubungan dengan negara,
politika yang berarti pemerintahan negara dan politikos yang berarti
kewarganegaraan. Aristoteles (384-322 SM) dapat dianggap sebagai orang
pertama yang memperkenalkan kata politik melalui pengamatannya tentang
manusia yang ia sebut zoon politikon. Dengan istilah itu ia ingin menjelaskan
bahwa hakikat kehidupan sosial adalah politik dan interaksi antara dua orang atau
lebih sudah pasti akan melibatkan hubungan politik. Aristoteles melihat politik
sebagai kecenderungan alami dan tidak dapat dihindari manusia, misalnya ketika
ia mencoba untuk menentukan posisinya dalam masyarakat, ketika ia berusaha
meraih kesejahteraan pribadi, dan ketika ia berupaya memengaruhi orang lain agar
menerima pandangannya.
Aristoteles berkesimpulan bahwa usaha memaksimalkan kemampuan
individu dan mencapai bentuk kehidupan sosial yang tinggi adalah melalui
interaksi politik dengan orang lain. Interaksi itu terjadi di dalam suatu
kelembagaan yang dirancang untuk memecahkan konflik sosial dan membentuk
tujuan negara. Dengan demikian kata politik menunjukkan suatu aspek kehidupan,
yaitu kehidupan politik yang lazim dimaknai sebagai kehidupan yang menyangkut
segi-segi kekuasaan dengan unsur-unsur: negara (state), kekuasaan (power),
pengambilan keputusan (decision making), kebijakan (policy, beleid), dan
pembagian (distribution) atau alokasi (allocation).
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik (politics) adalah bermacam-
macam kegiatan dalam suatu sistem politik (atau negara) yang menyangkut proses
menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu.
Pengambilan keputusan (decision making) mengenai apakah yang menjadi tujuan
dari sistem politik itu menyangkut seleksi terhadap beberapa alternatif dan
penyusunan skala prioritas dari tujuan-tujuan yang telah dipilih. Sedangkan untuk
melaksanakan tujuan-tujuan itu perlu ditentukan kebijakan-kebijakan umum
(public policies) yang menyangkut pengaturan dan pembagian (distribution) atau
alokasi (allocation) dari sumber-sumber (resources) yang ada. Untuk bisa berperan
aktif melaksanakan kebijakan-kebijakan itu, perlu dimiliki kekuasaan (power) dan
kewenangan (authority) yang akan digunakan baik untuk membina kerjasama
maupun untuk menyelesaikan konflik yang mungkin timbul dalam proses itu.
Cara-cara yang digunakan dapat bersifat meyakinkan (persuasive) dan jika perlu
bersifat paksaan (coercion). Tanpa unsur paksaan, kebijakan itu hanya merupakan
perumusan keinginan (statement of intent) belaka.
Politik merupakan upaya atau cara untuk memperoleh sesuatu yang
dikehendaki. Namun banyak pula yang beranggapan bahwa politik tidak hanya
berkisar di lingkungan kekuasaan negara atau tindakan-tindakan yang
dilaksanakan oleh penguasa negara. Dalam beberapa aspek kehidupan, manusia
sering melakukan tindakan politik, baik politik dagang, budaya, sosial, maupun
dalam aspek kehidupan lainnya. Demikianlah politik selalu menyangkut tujuan-
tujuan dari seluruh masyarakat (public goals) dan bukan tujuan pribadi seseorang
(private goals). Politik menyangkut kegiatan berbagai kelompok, termasuk partai
politik dan kegiatan-kegiatan perseorangan (individu).
Sebagian besar elit politik di indonesia bersifat hierarkis, startifikasi sosial
bukan didasarkan atas atribut sosial yang bersifat matrealistik, tetapi lebih pada
akses kekuasaan. Kalangan penguasa politik memiliki persepsi merendahkan dan
tidak memikirkan kehidupan masyarakat/rakyat, sehingga banyak rakyat yang
tidak ter urus dari segi perekonimiannya. Hal tersebut merupakan masalah serius,
tetapi bukanlah segala-galanya, karena semuanya adalah suatu proses yang tidak
berujung pada satu titik, bahwa suatu kebijakan ekonomi itu bukan hanya
dilakukan oleh suatu aktor tunggal saja yang bernama pemerintah.
Sistem ekonomi politik akan dapat berjalan dengan baik dan stabil apabila
aransemen kelembagaan yang ada mampu secara jelas mencegah, melarang, dan
mengatasi dampak sosial yang sangat merugikan. Perubahan aransemen
kelembagaan sangat berhubungan dengan hakikat, model dan analisis kebijakan
publik. Karena model kebijakan publik sering dijadikan referensi dalam analisis
ekonomi kelembagaan dan ekonomi politik secara umum. Kebijakan publik jelas
berbeda dengan pengambilan keputusan oleh pelaku ekonomi di sektor swasta,
yang mungkin di kontrol oleh mekanisme dan sinyal-sinyal pasar.
Kesetabilan politik terhadap pertumbuhan ekonomi di indonesia juga
dipengaruhi karena kurangnya atau kesalahan dalam konsep ekonomi politik itu
sendiri, adapun konsep tersebut ialah :
1. Kelembagaan
Pandangan ini melihat politik ekonomi sebagai hal yang berkaitan dengan
penyelenggaraan negara. Dalam hal ini elit politik sebagai komunitas secara
sukses memonopoli penggunaan paksaan fisik dalam suatu wilayah masyarakat.
2. Kekuasaan
Kadangkala elit politik menyalahgunakan kekuasaannya sehingga banyak
mayarakat yang merasa ditindas dalam segi perekonomiannya, dan itu sangat
mempengaruhi terhadap pertumbuhan ekonomi si indonesia.
3. Keputusan yang mengikat
Suatu keputusan dikatakan mengikat apabila anggota masyarakat merasa
bahwa mereka hatus menaati kewenangan yang ada. Dan itu memang terbukti
dalam perekonomian indonesia.

3.3. Pengertian Keamanan


Keamanan memiliki pengertian yang universal atau sering disebut dengan
security Pada awal mulanya konsep keamanan (security) hanya menyangkut
pengertian yang berkaitan dengan keamanan suatu Negara. Komisi Konstitusi
(2004) dengan mengutip Patrick J. Garrity mengemukakan bahwa pengertian
“security” : “closely tied to a state’s defense of sovereign interest by military
means. At its most fundamental level, the term security has meant the effort to
protect a population and territory against organized force while advancing state
interest through competitive behavior”.
Dalam literatur kepolisian, pengertian keamanan secara umum adalah
keadaan atau kondisi bebas dari gangguan fisik maupun Pshikis terlindunginya
keselamatan jiwa dan terjaminnya_harta benda dari segala macam ancaman
gangguan dan bahaya” (Awaloedin Djamin, 2004). Sudah barang tentu
pemahaman ini berbeda dengan pengertian keamanan (security) pada awalnya,
karena pengertian ini lebih mengacu pada pengertian “keamanan dan ketertiban
masyarakat” yang kita biasa gunakan atau juga disebut keamanan umum (publik
security).dalam ini istilah lama seperti publik order atau law and order telah
mengalami perluasan, di mana order tidak hanya menyangkut ketertiban seperti
digunakan oleh bahasa kita sehari-hari, akan tetapi sudah menyangkut keamanan.
Istilah security juga telah bergeser dan berkembang (semakin luas).
Semenjak tahun 1994 dengan keluarnya The Human Devolepment dari UNDP,
dikenal pula istilah “human security” yang berarti : pertama, keamanan dari
ancaman kronis kelaparan, penyakit dan penindasan. Kedua, berarti perlindungan
dari gangguan mendadak yang merugikan pola kehidupan sehari-hari di rumah,
ditempat kerja ataupun dalam masyarakat The Human Development Report
tersebut di atas mengidentifikasi 7(tujuh)yang merupakan human security, yaitu
(1) economic security, (2) food security, (3) health security, (4) environmental
security, (5) personal security, (6) community security, dan (7) political security.
Fokus dari human security adalah manusia, bukan bukan negara.
Berdasarkan uraian di atas, istilah keamanan mempunyai pengertian yang
beraneka ragam sehingga tidak mungkin berdiri sendiri, tetapi harus dikaikan
dengan sesuatu; misalnya “keadaan atau kondisi bebas dari gangguan fisik,
maupun Pshikis, terlindunginya keselamatan jiwa dan terjaminnya harta benda
dari segala macam ancaman gangguan dan bahaya” (Awaloedin Djamin, 2004).
karena itu pengertian istilah keamanan sangat tergantung pada kata yang
mengikutinya. Ditinjau dari tatarannya, paling tidak kita bisa mengelompokkan
konsep keamanan itu dalam 4(empat) kategori yaitu : (1) International security (2)
National (State) security, (3) Public security (and Order), dan (4) Human security.
Dalam beberapa tahun belakangan, terjadi berbagai konflik politik yang
berkaitan dengan keamanan, sebagai contoh beberapa kejadian dan keadaaan
berikut ini :
• Terjadinya tindak kekerasan dan konflik antar golongan yang berbeda
kepentingan politik.
• Banyak perselisihan yang bersifat sara, mengingat banyaknya golongan, suku,
dan agama yang masing-masing mempunyai visi dan misi serta kepentingan
yang berbeda.
• Maraknya isu-isu politik yang bersifat hoax yang tersebar di berbagai media
informasi sehingga memecah belah persatuan masyarakat.
• Banyaknya aksi aksi tidak sehat saat pemilihan gubernur jakarta.
• Imigrasi ilegal besar-besaran rakyat china ke indonesia.
• Pro dan kontra tentang pembangunan reklamasi dan meikarta.
• Kasus korupsi yang melibatkan anggota parlemen.
• Terjadi sekitar 144 kasus konflik yang ditandai aksi kekerasan, pembakaran,
perusakan, dan pembunuhan yang dipicu oleh sengketa lahan/pertahanan, kasus
pemilukada, perkelahian antar pelajar dan mahasiswa, perkelahian antar
kelompok/geng preman, serta unjuk rasa yang berkaitan dengan kebijakan
publik.
• Kondisi tindak kejahatan konvensional mencapai 267.181 perkara (2012)
menurun 6.999 perkara (2,5%) dibandingkan kejadian pada tahun 2011
(274.180 perkara).
• Terjadi kenaikan kasus terorisme sebanyak 170 kasus pada tahun 2016 yang
sebelumnya hanya 82 kasus.
3.3 Pengaruh Politik dan Keamanan terhadap Pembangunan Ekonomi
Kejadian diatas menunjukan bahwa ada suatu keterkaitan antara masalah
politik dan keamanan. Apabila dilihat lebih spesifik lagi, keadaan politik dan
keamaan sangat akan berpengaruh terhadap pembangunan ekonomi di Indonesia.
Beberapa pengaruh yang ditimbulkan akan sangat berpengaruh terhadap keadaan
dan stabilitas ekonomi, kebijakan ekonomi, serta kesejahteraan dan kemakmuran.
a. Keadaan dan Stabilitas Ekonomi
Sebenarnya setiap tindakan dalam organisasi bisnis adalah politik,
kecuali organisasi charity atau sosial. Faktor-faktor tersebut menentukan
kelancaran berlangsungnya suatu kegiatan ekonomi atau bisnis. Oleh karena
itu, jika situasi politik mendukung, maka bisnis secara umum akan berjalan
dengan lancar. Dari segi pasar saham, situasi politik yang kondusif akan
membuat harga saham naik. Sebaliknya, jika situasi politik yang tidak
menentu, maka akan menimbulkan unsur ketidakpastian dalam bisnis.
Dalam konteks ini, kinerja sistem ekonomi-politik sudah berinteraksi
satu sama lain, yang menyebabkan setiap peristiwa ekonomi-politik tidak lagi
dibatasi oleh batas-batas tertentu Sebagai contoh, IMF atau Bank Dunia, atau
bahkan para investor asing mempertimbangkan peristiwa politik suatu negara
dan lebih merefleksikan kompromi-kompromi antara kekuatan politik
nasional dan kekuatan-kekuatan internasional. Tiap pembentukan pola bisnis
juga senantiasa berkait erat dengan politik.
b. Kebijakan Ekonomi
Di era kekiniaan contohnya sistem politik sangat berpengaruh dalam
menentukan pola konsep ekonomi yang haru dilaksanakan seperti ambil kasus
RRC atau Republik Rakyat China yang secara politik jauh dari kata
demokratis dan asumsi kapitalisme danum secara ekonomi berkebalikan
dengan sistem politiknya, teramat kapitalis dan sangat mendukung pasar
bebas., atau Singapura yang menganut Liberalisme dalam perekonomian
namun secarra politik justru jauh berbeda dari sistem perekonomiannya.
Disini penekanan secara teoritis juga lahir ketika ekonomi memberikan
kontribusi besar bagi adanya sistem pasar pada politik dan menggunakan
politiklah sebuah sumber daya bisa di distribusikan dan dialokasikan dalam
sebuah instrument-instrumen pemerintahan.
c. Kesejahteraan dan Kemakmuran
Tingkat kesejahteraan yang tinggi memang banyak dijumpai di negara-
negara yang menerapkan sistem politik demokrasi, seperti Amerika dan
Eropa. Oleh karena itu, Joseph Siegle (2007) dengan lantang meyakinkan
dunia, "demokrasi di negara-negara industri dikenal sebagai yang paling
dinamis, inovatif, dan ekonomi yang paling produktif di dunia; demokrasi ini
telah memungkinkan negara-negara maju mengakumulaasi dan
mempertahankan perbaikan kualitas hidup warga negara mereka selama
beberapa generasi."
Bagi Indonesia, keyakinan demokrasi menjadi jembatan mencapai
kesejahteraan bukan lagi mitos, tetapi seolah menjadi kutukan. Sudah hampir
satu dekade Indonesia berpaling dari otoritarianisme, tetapi demokrasi tak
membawa perubahan apa-apa. Di antara banyak penyebab kebuntuan jalan
adalah demokrasi menyediakan ruang bagi penumpang gelap yang kemudian
membajak sistem pemerintahan baru. Mereka adalah elite-elite lama yang
menguasai sumber daya politik-ekonomi, kapital, dan jaringan di pusat-pusat
pengambilan kebijakan di lembaga pemerintahan.
Gejolak politik di Indonesia sebenarnya berawal dari banyaknya
kebijakan para penguasa politik yang justru lebih mengedepankan
kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan rakyat itu sendiri. Hal inilah
sebenarnya yang memicu terjadinya gejolak politik yang justru bisa
memberikan dampak negatif secara global yang bisa merugikan rakyat
ataupun bangsa Indonesia. Perebutan kekuasaan bagi para politikus menjadi
salah satu motif terjunnya mereka ke dunia politik. Selain itu, segala yang
dibuat berupa kebijakan yang berbalut kepentingan rakyat padahal semata-
mata untuk keuntungan pribadi mereka sendiri. Kebiasaan yang sudah
membudaya seperti melalaikan kepentingan rakyat inilah yang membuat
mereka selalu mengedepankan kepentingan pribadi demi mendapatkan
kekuasaan.
Banyaknya janji yang dibuat demi membangun kesejahteraan
masyarakat, kini hanyalah angin lalu yang sudah tak bisa diharapkan lagi oleh
bangsa Indonesia. Bahkan dengan janji-janji inilah para politikus bisa
menegakkan kekuasaanya. Setelah semua keinginan mereka tercapai, maka
janji tinggalah janji. Buktinya, rakyat masih banyak sekali yang kurang dari
kesejahteraan malah sebaliknya. Bahkan, dalam perjalanan politik sendiri
menganut hukum rimba dimana yang menang adalah yang berkuasa. Rakyat
hanyalah menjadi korban iming-iming para pelaku politik di Indonesia. Kini
rakyat bukan lagi raja yang seharusnya diperdengarkan haknya sebagai warga
negara Indonesia.
BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan diatas, bisa disimpulkan bahwa memang ada suatu


keterkaitan antara politik, keamanan dan ekonomi pembangunan. Dimana ekonomi
pembanguan di suatu negara atau daerah akan berjalan dan terlaksana apabila iklim
politik dan keamanannya baik.
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Bustanul Dan Rachbini, Didik. 2001. Ekonomi Politik Dan Kebijakan Publik.
Jakarta: PT Grasindo.

Bashith, Abdul. 2012. Ekonomi masyarakat visi dan stategi pemberdayaan sektor
ekonomi lemah. Malang. UIN-MALIKI PRESS.

Gaffar, Afan. 1999. Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta :


Pustaka Pelajar.

Irawan dan Suparmoko. 1987. Ekonomika Pembangunan. Edisi 5. Yogyakarta :


BPFEYOGYAKARTA.

Jurnal Keuangan Publik Vol. 5, No. 1, Oktober 2008

Kwik, Kian, Gie. 2006. Kebijakan Ekonomi Politik Dan Hilangnya Nalar. Jakarta:
Buku Kompas.

Mubyarto. 2000. Membangun sistem ekonomi. Yogyakarta. BPFE-YOGYAKARTA

Muhtadi, Saeful, Asep. 2008. Komunikasi Politik Indonesia. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.

Surbakti, Ramlan. 1992. Memahami ilmu politik. Jakarta : PT Grasindo.

Thee, Kian, Wie. 1981. Pembangunan Ekonomi Dan Pemerataan . Jakarta: LP3ES.

Winardi. 1973. Pengantar ekonomi pembangunan. Bandung. TARSITO

Wibaba, Samodra. 1991. Pembangunan berkelanjutan konsep dan kasus.


Yogyakarta.PT.TIARA WACANA YOGYA.