You are on page 1of 4

1.

Berfikir Kritis Dalam Pengambilan Keputusan Pada Masalah Kesehatan


Reproduksi
A. Definisi
Berpikir kritis merupakan seni (Paul and Linda Elder, 2006) gambaran sikap
seseorang dalam menganalisis, mengevaluasi sesuatu yang ia lihat, mengklarifikasi
yang di dengar, metode pengetahuan untuk berfikir logis dan berargumen serta aplikasi
dari ilmu yang dipahami untuk membuat suatu keputusan dan memutuskan sesuatu
setelah hal tersebut ia yakini.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan
berpikir kritis adalah proses yang harus dilakukan seseorang untuk mencapai hasil atau
keputusan yang tepat dan bijaksana dengan cara melaksanakan proses menggali,
mengenali, dan menilai segala hal yang terkait seperti, nilai-nilai, fakta dan informasi,
pengetahuan yang dimiliki dan dibutuhkan untuk menjadi bahan pertimbangan dalam
mengambil keputusan.
Pengambilan keputusan (desicion making) adalah melakukan penilaian dan
menjatuhkan pilihan. Keputusan ini diambil setelah melalui beberapa perhitungan dan
pertimbangan alternatif. Sebelum pilihan dijatuhkan, ada beberapa tahap yang mungkin
akan dilalui oleh pembuat keputusan. Tahapan tersebut bisa saja meliputi identifikasi
masalah utama, menyusun alternatif yang akan dipilih dan sampai pada pengambilan
keputusan yang terbaik.
Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial
yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecatatan, dalam segala aspek yang
berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya.
Maka dapat disimpulkan berfikir kritis dalam pengambilan keputusan pada masalah
kesehatan reproduksi adalah gambaran sikap seseorang dalam menganalisis,
mengevaluasi sesuatu yang ia lihat, mengklarifikasi yang di dengar, metode
pengetahuan untuk berfikir logis dan berargumen serta aplikasi dari ilmu yang dipahami
untuk melakukan penilaian dan menjatuhkan pilihannya sendiri dalam menghadapi
masalah kesehatan reproduksi.

B. Indikator Berfikir Kritis


Menurut Ennis dalam Muhfahroyin (2009: 1) ada 12 indikator kemampuaan
berpikir kritis yang dikelompokkan menjadi 5 aspek kemampuan berpikir kritis, yaitu:
1. Memberikan penjelasan secara sederhana (meliputi: memfokuskan pertanyaan,
menganalisis pertanyaan, bertanya dan menjawab pertanyaan tentang suatu
penjelasan).
2. Membangun keterampilan dasar (meliputi: mempertimbangkan apakah sumber
dapat dipercaya atau tidak, mengamati dan mempertimbangkan suatu laporan hasil
observasi).
3. Menyimpulkan (meliputi: mendeduksi dan mempertimbangkan hasil deduksi,
menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi, membuat dan menentukan nilai
pertimbangan).
4. Memberikan penjelasan lanjut (meliputi: mendefinisikan istilah dan pertimbangan
definisi dalam tiga dimensi, mengidentifikasi asumsi).
5. Mengatur strategi dan taktik (meliputi: menentukan tindakan, berinteraksi dengan
orang lain).
Menurut Orlich Donald C. dkk (1998) terdapat beberapa unsur pemikiran kritis,
terdiri dari:
1. Mengidentifikasi isu,
2. Mengidentifikasi hubungan antara unsur-unsur,
3. Menyusun kesimpulan implikasi,
4. Menyimpulkan motif,
5. Menggabungkan unsur-unsur independen untuk menciptakan pola pikir baru
(kreativitas),
6. Membuat interpretasi asli (kreativitas).

C. Manfaat Berfikir Kritis Dalam Masalah Kesehatan Reproduksi


1. Membantu dalam mengidentifikasi masalah kesehatan reproduksi yang dihadapi
2. Membantu dalam mengumpulkan informasi yang relevan
3. Membantu dalam menganalisis alternatif-alternatif pemecahan masalah untuk
menentukan pilihan terbaik
4. Membantu mengevaluasi keputusan yang sudah diambil

D. Faktor Yang Mempengaruhi Berfikir Kritis


1. Kondisi Fisik
Menurut Maslow dalam Siti Mariyam kondisi fisik adalah kebutuhan fisiologi
yang paling dasar bagi manusia untuk menjalani kehidupan. Ketika kondisi fisik
siswa terganggu, sementara ia dihadapkan pada situasi yang menuntut pemikiran
yang matang untuk memecahkan suatu masalah maka kondisi seperti ini sangat
mempengaruhi pikirannya. Ia tidak dapat berkonsentrasi dan berfikir cepat karena
tubuhnya tidak memungkinkan untuk bereaksi terhadap respon yang ada.
2. Keyakinan atau Motivasi
Kort (1987) mengatakan motivasi merupakan hasil faktor internal dan eksternal.
Motivasi adalah upaya untuk menimbulkan rangsangan, dorongan ataupun
pembangkit tenaga seseorang agar mau berbuat sesuatu atau memperlihatkan
perilaku tertentu yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Menciptakan minat adalah cara yang sangat baik untuk memberi
motivasi pada diri demi mencapai tujuan. Motivasi yang tinggi terlihat dari
kemampuan atau kapasitas atau daya serap dalam belajar, mengambil risiko,
menjawab pertanyaan, menentang kondisi yang tidak mau berubah kearah yang
lebih baik, mempergunakan kesalahan sebagai kesimpulan belajar, semakin cepat
memperoleh tujuan dan kepuasan, memperlihatkan tekad diri, sikap kontruktif,
memperlihatkan hasrat dan keingintahuan, serta kesediaan untuk menyetujui hasil
perilaku.
3. Kecemasan
Kecemasan adalah keadaan emosional yang ditandai dengan kegelisahan dan
ketakutan terhadap kemungkinan bahaya atau kemalangan atau nasib buruk. Jika
terjadi ketegangan hipotalamus dirangsang dan mengirim impuls untuk
menggiatkan mekanisme simpatis dan adrenal yang mempersiapkan tubuh untuk
bertindak. Kelelahan terjadi apabila penyebab ketegangan keras sehingga
pertahanan tubuh menurun.

E. Proses Pengambilan Keputusan


Menurut Sir Francis Bacon Proses Pengambilan Keputusan terdiri atas 6 tahap,
yaitu sebagai berikut :
1. Merumuskan/mendefinisikan masalah
Tahap ini merupakan usaha untuk mencari permasalahan yang sebenarnya.
2. Pengumpulan Informasi yang Relevan
Tahap ini merupakan pencarian faktor-faktor yang mungkin terjadi sehingga dapat
diketahui penyebab timbulnya masalah.
3. Mencari Alternatif Tindakan
Tahap ini merupakan pencarian kemungkinan yang dapat ditempuh berdasarkan
data dan permasalahan yang ada.
4. Analisis Alternatif
Tahap ini merupakan analisis terhadap setiap alternatif menurut kriteria tertentu
yang sifatnya kualitatif atau kuantitatif.
5. Memilih Alternatif Terbaik
Tahap ini merupakan pemilihan alternatif terbaik yang dilakukan atas kriteria dan
skala prioritas tertentu.
6. Melaksanakan Keputusan dan Evaluasi Hasil
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dan pengambilan tindakan. Umumnya
tindakan ini dituangkan ke dalam rencana tindakan. Evaluasi hasil memberikan
masukan/umpan balik yang bergunan untuk memperbaiki suatu keputusan atau
mengubah tujuan semula karena telah terjadi perubahan-perubahan.(Istanto,2012)

F. Hambatan Dalam Berfikir Kritis


Menurut Osman (2005) ada beberapa hal yang dapat menghalangi proses
berpikir kritis dalam pengambilan keputusan, antara lain:
1. sulit berubah, mind set yang kaku, petunjuk praktek secara tradisional, kebiasaan
dan rutinitas;
2. takut membuat kekeliruan;
3. enggan untuk mengambil resiko atau mencari strategi alternatif;
4. pengambilan keputusan tanpa cukup data atau tanpa didukung oleh dasar pemikiran
rasional;
5. kegagalan menilai efektivitas dari pengobatan.(Ivone,2010)