You are on page 1of 7

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Asam asetilsalisilat (asetosal) adalah obat yang mempunyai aktivitas


farmakologik sebagai anti-inflamasi, analgesik dan anti-piretik. Asetosal
disintesis pertama kali oleh Dr Felix Hoffmann tahun 1897 sudah dalam bentuk
stabil dan murni di laboratorium Farbentabrik Freidrich Bayer di kota Elberfeld,
Jerman. Dan akhirnya asetosal diproduksi secara massal oleh Bayer yang
terkenal dengan brandname-nya adalah aspirin hingga hari ini. Nama tersebut
diperoleh dari singkatan “a” untuk asetil dan “spir” untuk nama famili tanaman
Spirea yang mengandung senyawa turunan asam salisilat (Anonim, 2008; Clarke,
2005; Matias et al., 2004).

Dewasa ini, selain pada awalnya asetosal berkhasiat sebagai


anti-piretik dan analgesik yang tidak perlu diragukan lagi, ternyata juga
berkhasiat anti-inflamasi pada dosis yang dinaikkan. Bukti terakhir menyatakan
bahwa asetosal juga dapat digunakan sebagai anti-platelet untuk mengobati
penyakit jantung dan gangguan sistem pembuluh darah (Anonim 2007; Matias
et al., 2004; Mousa, 2004; Rainsford, 2004)

Konsumsi asetosal selalu meningkat bahkan tahun 1997 di Amerika


diperkirakan mencapai 20 ribu ton setahun. Di Indonesia obat bermerek yang
mengandung asam asetilsalisilat dalam bentuk sediaan tablet saja telah
mencapai lebih dari 30 nama, belum lagi bentuk sediaan lainnya, dan ditambah
lagi sediaan generik yang banyak beredar di pasaran. Jika dihitung, jumlah obat
yang mengandung asetosal yang beredar di masyarakat sudah demikian
banyaknya (hingga saat ini penulis belum menemukan data yang valid) dan hal
ini memerlukan pengawasan mutu yang tidak mudah untuk dilakukan (Anonim,
2007; Matias et al., 2004).
Metabolit utama dari asetosal adalah asam salisilat yang dihasilkan
dari proses hidrolisis asetosal dan metabolit ini dapat ditetapkan kadarnya
secara tidak langsung dengan melihat hasil kualitatifnya. Penetapan kadar
asetosal dalam sediaan obat sangatlah penting untuk uji kualitas produk
sebelum, selama proses produksi dan/atau setelah menjadi produk akhir, serta
selama produk tersebut berada di pasaran sebelum digunakan oleh konsumen.
Tak lupa juga penting untuk mengetahui kadar

metabolit asetosal dalam serum darah untuk mengatur dosis terapi (Matias et al., 2004,
Rainsford, 2004).

Asam salisilat dan turunannya

Asam Salisilat

2-Hidroksibenzoat; C7H6O3; massa molekular relatif, 138

Struktur Kimia dari Asam salisilat

Asam salisilat digunakan secara topikal, terutama untuk mengobati berbagai problema
dermatologik. Senyawa ini merupakan metabolit plasma utama dari asam asetilsalisilat dan dapat
juga merupakan hasil metabolisme dari metil salisilat dan salisilamida. Asam salisilat diekskresikan
melalui urin, sebagian besar sebagai konjugat dengan glisin (asam salisilurat). turunan asam salisilat
yang dideskripsikan dibawah ini merupakan obat yang biasa dijumpai.

Asam Asetilsalisilat
Struktur Kimia dari Asam Asetilsalisilat

Aspirin ; C9H8O4; massa molekular relatif, 180

Asam astilsalisilat merupakan turunan asam salisilat yang paling sering digunakan. Senyawa ini
digunakan sebagai analgesik dan juga merupakan metabolit aloksipirin dan benorilat. Perkiraan
dosis mematikan minimum pada orang dewasa adalah 15g.

Asam asetilsalisilat mengalami metabolisme dengan cepat oleh esterase plasma in vivo menjadi
asam salisilat yang kemudian di ekskresikan melalui urin, terutama sebagai konjugat dengan
glisin (asam salisilurat.

Asam 4-aminosalisilat

Asam p-aminosalisilat; PAS; asam 4-amino-2-hidroksibenzoat;C7H7NO3; massa molekuler


relatif, 151

Asam 4-aminosalisilat digunakan dalam pengobatan tuberkulosis

Metil salisilat

Metil 2-hidroksibenzoat; asam salisilat metil ester; C8H8O3; massa molekular relatif, 152
Metil salisilat (minyak tanaman wintergreen) merupakan cairan yang berbau menyengat
pada temperatur kamar dan digunakan secara luas terutama dalam produk obat topikal.
Pada ingesti, senyawa ini lebih toksik daripada asam asetilsalisilat karena lebih cepat
terserap. Kematian telah terjadi pada anak anak setelah ingeti sekecil 4mL; pada orang
dewasa, ingesti 30 mL biasanya fatal. Metil salisilat sebagian mengalami metabolisme in vivo
menjadi asam salisilat

Salisilamida

2-Hidroksibenzamida; C7H7NO2; massa molekuler relatif, 137

Salisilamida digunakan sebagai analgesik. Pada hidrolisis, senyawa ini membentuk asam
salisilat.

Senyawa salisilat memberikan warna ungu spesifik dengan ion feri dan reaksi ini menjadi
dasar uji yang diuraikan dibwah ini. Uji sederhana dip-strip (kertas-celup) untuk salisilat
berdasarkan reaksi tersebut telah tersedia.

Asam asetilsalisilat dan metil salisilat sendiri tidak beraksi dengan ion feri, sehingga isi
lambung dan residu dari tempat kejadian harus dihidrolisis sebelum analisis dilakukan.

Salisilamida hanya dapat terdeteksi setelah hidrolisis, meskipun dalam sampel urin.
Uji Kualitatif

Dapat diaplikasikan pada urin, isi lambung dan residu dari tempat kejadian.

Pereaksi:

Pereaksi Trinder. Campur 40 g merkuri klorida yangn dilarutkan dalam 850 mL akuades
dengan 120 mL larutan asam hidroklorida akuos (1 mol/L) dan 40 gn feri nitrat terhidrat, dan
encerkan samapi 1 L dengan akuades.

Prosedur;

Tambah 0.1 mL pereaksi Trinder pada 2 mL sampel dan campur selama 5 detik.

Untuk uji asam asetilsalisilat atau metil salisilat dalam isi lambung atau residu dari

tempat kejadian, dan uji salisilamida dalam urin, isi lambung atau residu dari tempat

kejadian:

Didihkan 1 mL sampel dengan 1 mL asam hidroklorida (0.1mol/L) selama 10 menit,

dinginkan, saring jika perlu dan kemudian netralkan dengan 1 mL natrium hidroksida

akuos (0.1 mol/L)

Hasil :

Terbentuknya warna violet kuat menunjukkan adanya salisilat. Bahan pengawet azida
bereaksi kuat dalam uji ini, dan hasil positif yang keliru dapat diberikan oleh sampel urin
yang mengandung keton dengan konsentrasi tinggi.

Uji ini sensitif dan akan mendeteksi pada dosis terapetik terhadap asam salisilat, asam
asetilsalisilat, asam 4-aminosalisilat, metil salisilat dan salisilamida.

Sensitivitas :

Salisilat, 10 mg/L
Analisis Kuantitatif

Dapat diaplikasikan pada plasma atau serum (1mL)

Pereaksi:

Perekasi Trinder

Standar:

Larutan akuos yang mengandung asam salisilat pada konsentrasi 0.200.400 dan 800
mg/L. simpan pada 4oC jika tidak digunakan.

Prosedur:

1. Tambahkan 5 mL pereaksi Trinder pada 1 mL sampel atau standar

2. Aduk dengan pengaduk vortex selama 30 deik dan sentrifus selama 5 menit

3. Ukur absorbansi supernatan pada 540 nm terhadap blangko plasma

Hasil :

Hitung konsentrasi salisilat dari grafik yang diperoleh pada analisis standar salisilat.
Beberapa metabolit salisilat menganggu, tetapi konsentrasi senyawa ini dalam plasma
biasanya rendah. Sebagi contoh, oksalat dari tabung darah fluorida/oksalat, juga menganggu
uji ini.

Sensitivitas :

Salisilat, 50 mg/L

Interprestasi Klinik
Penggunaan topikal asam salisilat dan metil salisilat, seta penelanan salisilat dapat
menyebabkan gejala salisilisme. Alkalosis respiratori diikuti dengan asidosis metabolik
adalah gejala yang khas, walaupun dalam kenyataannya suatu gangguan campuran
asam-basa biasanya kelihatan. Hasil analisis gas darah adalah petunjuk yang penting pada
penilaian tingkat keparahan keracunan. Jika dicurigai terjadinya keracunan akut, konsentrasi
salisilat dalam plasma seharusnya ditetapkan menggunakan metode yang telah diuraikan
diatas.

Upaya aktif untuk mengoreksi keadaan asam-basa dan alkalinasi urin untuk
meningkatkan eliminasi racun dapat dipertimbangkan, tergantung pada kondisi pasien dan
konsentrasi salisilat dalam plasma. Pemberian berulang karbon aktif juga dilakukan.

Penetapan serial salisilat dalam plasma dan pH urin berguna dalam pemantauan
perawatan aktif. Petunjuk interprestasi hasil salisilat dalam plasma diberikan pada gambar.
Konsentrasi sampai 300 mg/L mungkin dapat terjadi selama terapi pada orang dewasa.

Pedoman untuk interprestasi konsentrasi salisilat dalam plasma.


Hasil yang diperoleh dalam waktu 6 jam setelah ingesti tidak
reliabel dan seharusnya digunakan secara hati-hati, karena
absorpsi mungkin belum sempurna