You are on page 1of 31

Daya Pikat Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional

sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia setelah RRC (± 1.298.847.624
jiwa), India (± 1.065.070.607 jiwa), dan Amerika Serikat (± 293.027.571 jiwa), Indonesia
memiliki kekuatan “dahsyat” untuk menjadi negara besar yang sangat diperhitungkan dalam
kancah pergaulan global. Berdasarkan pendataan penduduk oleh Kementerian Dalam Negeri,
sebagaimana disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, jumlah penduduk
Indonesia terhitung 31 Desember 2010 mencapai 259.940.857 jiwa yang terdiri atas
132.240.055 laki-laki dan 127.700.802 perempuan .

Jumlah penduduk sebesar itu sesungguhnya bisa dioptimalkan sebagai modal sosial untuk
menjadikan bangsa ini sebagai sebuah bangsa yang memiliki pengaruh besar dalam ikut
membangun peradaban dunia yang bermartabat dan berbudaya. Tak hanya di bidang politik,
ekonomi, atau sosial, tetapi juga di bidang kebudayaan. Di ranah kebudayaan, misalnya, bangsa
kita mampu meningkatkan peran dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional.
Penduduk Indonesia yang tersebar di berbagai belahan dunia bisa dimanfaatkan sebagai “agen-
agen budaya” untuk memperkenalkan dan memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai sarana
“dialog kebudayaan” lintas-bangsa, sehingga secara bertahap bahasa Indonesia makin dikenal
dan dipahami oleh penduduk dunia. Tidak berlebihan apabila banyak kalangan menilai, sudah
saatnya bahasa Indonesia benar-benar didorong dan diberikan ruang seluas-luasnya untuk
menjadi bahasa internasional.

Wacana untuk mewujudkan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional semakin menguat
setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan
Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Dalam pasal 44 disebutkan bahwa: (1) pemerintah
meningkatkan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap,
sistematis, dan berkelanjutan; (2) peningkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa
internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasi oleh lembaga kebahasaan; (3)
ketentuan lebih lanjut mengenai peningkatan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa
internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Dalam konteks demikian, bahasa Indonesia secara faktual tidak hanya digunakan oleh ratusan
juta penduduk Indonesia, tetapi dukungan suprastrukturnya juga sudah cukup kuat, sehingga
peluang bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa internasional benar-benar terbuka. Selain itu,
bahasa Indonesia juga telah diajarkan kepada orang asing di berbagai lembaga, baik di dalam
maupun di luar negeri. Di dalam negeri misalnya, saat ini tercatat tidak kurang dari 76 lembaga
yang telah mengajarkan Bahasa Indonesia kepada penutur asing, baik di perguruan tinggi,
sekolah, maupun di lembaga-lembaga kursus. Sementara itu di luar negeri, pengajaran Bahasa
Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) juga telah dilakukan di 46 negara yang tersebar di seluruh
benua dengan 179 lembaga penyelenggara.

Daya Pikat Bahasa Indonesia


Semakin banyaknya penutur asing yang ingin belajar menggunakan bahasa Indonesia
menunjukkan bahwa peran bahasa Indonesia dalam lingkup pergaulan antar-penduduk dunia
semakin penting dan diperhitungkan. Hal ini juga sangat erat kaitannya dengan atmosfer
budaya dan kepariwisataan di Indonesia yang menjadi salah satu “pusat budaya dan wisata”
dunia. Indonesia, di mata dunia, bagaikan magnet yang memiliki daya tarik dan daya pikat
wisatawan mancanegara yang ingin mengetahui lebih jauh kekayaan dan aset wisata Indonesia
yang tidak pernah mereka saksikan di negerinya masing-masing. Jika dilakukan upaya serius
untuk mendorong bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional bukan mustahil “mimpi”
semacam itu benar-benar akan terwujud.

Adakah keuntungannya buat bangsa kita seandainya bahasa Indonesia benar-benar menjadi
bahasa internasional? Menurut hemat saya, ada banyak keuntungan yang bisa diperoleh.
Pertama, ikatan nilai nasionalisme dan sikap bangga segenap warga bangsa terhadap bahasa
Indonesia sebagai bahasa nasional kian kokoh dan kuat. Dengan diakuinya bahasa Indonesia
sebagai bahasa internasional, akar-akar nasionalisme yang selama ini tenggelam akibat
dinamika global yang kian deras menggerus sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara akan kembali mencuat ke permukaan. Selain itu, sikap bangga setiap warga
bangsa terhadap bahasa nasional kian kokoh akibat menguatnya nilai-nilai “primordialisme”
bangsa kita di tengah percaturan masyarakat dunia. Rasa cinta terhadap bangsa dan negara
makin mengagumkan.

Kedua, secara kultural, peradaban bangsa kita yang dikenal sangat santun, rendah hati, ramah,
dan luhur budi, juga semakin mendapatkan pengakuan dunia. Diakui atau tidak, akibat
lemahnya dialog budaya dan upaya diplomasi bangsa kita dalam memperkenalkan produk-
produk budaya bangsa di tengah kancah pergaulan masyarakat dunia, termasuk bahasa
Indonesia, nilai-nilai kearifan dan keluhuran budi bangsa kita semakin tenggelam, bahkan sama
sekali tidak dikenal oleh warga negara asing. Dengan diakuinya bahasa Indonesia sebagai
bahasa internasional, potret budaya bangsa yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal akan
semakin dikenal secara luas oleh masyarakat internasional.

Ketiga, posisi tawar bangsa kita akan semakin tinggi di mata dunia. Dengan diakuinya bahasa
Indonesia sebagai bahasa internasional, “pamor” bangsa kita akan semakin memancar kuat
sehingga peluang untuk ikut menjadi “penentu sejarah” dunia juga makin terbuka. Bukankah ini
akan membuka peluang bagi bangsa kita untuk ikut-serta mewujudkan perdamaian dunia
secara nyata sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945 yang telah dicanangkan oleh para
pendiri negara?

Keempat, pengakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional akan membuat bangsa kita
mampu memerankan dirinya sebagai “aktor” peradaban dunia menjadi lebih terhormat dan
bermartabat. Peradaban bangsa kita yang telah lama dikenal sebagai bangsa yang ramah dan
beradab bisa menjadi “modal kultural” yang sangat berharga, sehingga bisa ikut berkiprah
dalam mewujudkan tata kehidupan dan peradaban dunia yang lebih santun dan berbudaya.

Kelima, mendorong kemajuan bangsa di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang selaras
dengan derap dan dinamika global. Dengan diakuinya bahasa Indonesia sebagai bahasa
internasional, dengan sendirinya bahasa Indonesia akan menjadi bahasa ilmu pengetahuan
yang digunakan di banyak negara. Kondisi semacam ini jelas akan sangat menguntungkan
bangsa kita yang selama ini dinilai masih tertinggal dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi.

Tentu masih banyak keuntungan lain yang bisa diperoleh bangsa kita seandainya bahasa
Indonesia benar-benar menjadi bahasa internasional. Bangsa kita tidak hanya mampu
memancarkan “pamor” yang kuat di tengah kancah pergaulan dunia, tetapi juga mampu
menghidupkan dan merevitalisasi nilai-nilai peradaban berbasis kearifan lokal yang selama ini
tenggelam akibat makin kuatnya gerusan nilai-nilai global ke dalam sendi-sendi kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Bahasa Indonesia, Riwayatmu di Mata Anak
JAKARTA, KOMPAS.com — Rencana tidak diwajibkannya lagi mata pelajaran Bahasa
Inggris di jenjang dasar pendidikan dasar di sekolah melibatkan bahasa Indonesia. Berdasarkan
salah satu pernyataan pejabat kementerian yang mengurusi pendidikan dan kebudayaan di negara
ini di suatu kesempatan, penguasaan terhadap bahasa pemersatu Tanah Air ini disebut-sebut
sebagai kambing hitam.

Bukan tanpa pengalaman. Dengan kemampuan otaknya yang cerdas, anak-anak sekarang sudah
mampu menguasai bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Dalam pembicaraan sehari-hari, para
orangtua membiasakan anak-anak mereka untuk bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Di mal-
mal, percakapan antara orangtua dan anak dalam bahasa Inggris sudah biasa didengar. Di rumah
juga apalagi. Oleh karena itu, tak sedikit anak yang tumbuh dengan pemahaman yang lebih baik
terhadap bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia.

Sementara itu, sebagian orangtua lagi, dan juga generasi usia 30 tahun ke atas, mulai resah
terhadap masa depan bahasa Indonesia menyusul maraknya penggunaan bahasa alay, bahasa
percakapan gaul remaja masa kini, dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari iklan televisi sampai
soal ulangan di sekolah pun sudah tertular demam alay.

Keresahan ini juga bukan tanpa dasar. Masalahnya, bahasa alay digunakan setiap hari sebagai
bahasa percakapan oleh anak-anak dan para remaja yang sedang mencari identitas diri. Namun,
bukannya bahasa itu mudah dikuasai saat dibiasakan?

Belum lagi soal teladan para negarawan dan tokoh publik. Ajip Rosidi, salah satu sastrawan
Indonesia, mengungkapkan kegelisahannya terhadap nasib bahasa Indonesia. Ajip menyoroti
penggunaan bahasa "gado-gado" di kalangan tokoh publik, mulai dari para pejabat, kaum
intelektual, sampai para selebriti.

"Mereka minder atau takut dianggap bodoh ketika menyampaikan pikirannya dengan bahasanya
sendiri!" ungkapnya.

Dalam penyelenggaraan ujian nasional (UN) untuk SMA, termasuk tahun ini, fenomena menarik
muncul. Selain karena matematika, banyak siswa yang tidak lulus karena gagal meraih nilai
minimal dalam ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Jadi, lengkaplah sudah. Ada apa dengan bahasa Indonesia?

Tidak menarik

Harus diakui, anak-anak lebih tertarik dan berminat belajar bahasa Inggris dan bereksperimen
dengan bahasa alay. Dalam opininya yang diterbitkan Kompas, 23 Oktober lalu, dosen Psikologi
IAIN Sunan Ampel, Surabaya, Ainna Amalia FN, menduga ada masalah dengan kemasan
pembelajaran bahasa Indonesia dari tahun ke tahun. Seharusnya, pencarian metode pembelajaran
yang menariklah yang menjadi fokus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud),
guru dan institusi sekolah.
"Penyelesaiannya bukan dengan menghilangkan bahasa yang lebih menarik minat, melainkan
perbaiki dan bikin menarik pelajaran bahasa yang kurang mendapat perhatian dan minat itu.
Sebab, penguasaan bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab sosial anak sebagai bahasa
nasional. Di sisi lain, bahasa Inggris juga penting sebagai bekal generasi kita dalam menghadapi
era globalisasi," demikian ditulisnya.

Menurut Ainna, tak ada masalah dengan kemampuan anak untuk mempelajari beberapa bahasa
sekaligus. Namun, akar bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional harus lebih kuat ditanamkan
daripada bahasa asing lainnya, bahkan bahasa alay sekalipun.

Pudarnya kebanggaan

Ketidaktertarikan menyebabkan pula masalah lain yang tak kalah peliknya. Pudarnya
kebanggaan. Siapa yang masih bangga berbahasa Indonesia saat ini?

Tingginya angka kegagalan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia selama penyelenggaran UN
tahun ini ditengarai terjadi karena adanya pergeseran nilai di kalangan generasi muda. Bahasa
Indonesia dianggap sebagai mata pelajaran yang tidak penting dibandingkan bahasa asing.

Perancis, China, dan Inggris menjadi sejumlah contoh negara yang maju karena kebanggaannya
terhadap tanah airnya. Sampai saat ini, mereka pun bangga menggunakan bahasa induknya
dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi akan sulit jika tak mencoba menguasai bahasa mereka
saat orang asing datang ke negara-negara tersebut.

Ajip mencontohkan salah satu indikatornya, negara-negara tersebut sangat antusias


menerjemahkan buku asing ke dalam bahasa ibunya.

Kini, bahasa China sudah diperhitungkan di kancah internasional. Jangankan di dunia, bahasa
China, atau yang juga biasa disebut bahasa Mandarin, sudah jadi nilai tambah dalam dunia
pekerjaan.

Yang cukup melegakan hati adalah kabar bahwa bahasa Indonesia mulai marak diajarkan di
sejumlah universitas di luar negeri. Namun, bahasa Indonesia tentu tetap harus menjadi tuan di
rumahnya sendiri.

Jadi, bisa mulai ditanyakan kepada anak apakah dia lebih senang dan bangga berbahasa
Indonesia? Jika ya, mungkin semangat butir terakhir Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang
berbunyi "Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa
Indonesia" masih memiliki harapan setidaknya sampai anak-anak kita menjadi orangtua kelak.
Bahasa Indonesia Lepas dari Tekanan Negara
JAKARTA, KOMPAS.com — Perubahan politik dari Orde baru ke Era Reformasi dengan
bertambahnya otonomi daerah ternyata juga mengubah kebijakan bahasa. Bahasa Indonesia agak
lepas dari tekanan negara sebagai alat pengikat beraneka suku bangsa di Indonesia yang
mempersatukan negara republik.

Selama ini, bahasa Indonesia sebagai simbol persatuan negara dan bahasa nasional diakui
sebagai bahasa yang sah dan dapat dikembangkan oleh negara. Kebijakan bahasa tersebut
berubah sehingga bahasa Indonesia agak bebas dari kontrol kekuasaan. Begitu juga bahasa-
bahasa daerah dan bahasa asing yang mempunyai ruang tersendiri. Tidak lagi ditekan di bawah
hegemoni bahasa nasional sehingga mempunyai kebebasan.

Demikian dikatakan Guru Besar Universitas Nanzan di Nagoya, Jepang, Mikihiro Moriyama
pada peluncuran buku Geliat Bahasa Selaras Zaman (Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia,
2010), Rabu (24/2/2010) di Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas),
Jakarta.

Mikihiro adalah salah seorang penggagas lokakarya "Perubahan Konfigurasi Kebahasaan di


Indonesia Pasca-Orde Baru" di Kampus UI Depok, Juni 2008 lalu. Menurutnya, bahasa asing
telah memasuki kehidupan sehari-hari di masyarakat. Pemakaian kata-kata asing semakin
menonjol dan bahasa baru pun dikreasi. Bahkan, dalam siaran televisi, bahasa daerah, seperti
bahasa Jawa, Sunda, dan Bali, sudah dipakai untuk acara warta berita dan acara-acara lainnya.

"Tidak hanya bahasa daerah saja, bahasa Inggris dan Mandarin juga mulai dipakai untuk
program berita," ungkapnya.

Jan van Der Putten, peneliti dan pengajar Universitas Nasional Singapura yang membahas
tentang "Bongkar Bahasa: Meninjau kembali Konsep yang Beraneka Makna dan Beragam
Fungsi", mengatakan, institusi dalam berbahasa, yakni pihak pengguna atau penutur serta
pengatur, tak bisa tidak mesti berbenturan atau berhadapan.

"Kedua belah pihak akan saling menuduh dan saling tuding-menuding dalam penentuan pihak
mana paling bertanggung jawab atas perusakan bahasa yang sedang berlangsung dan dirasakan
semakin keras mendera bahasa tersebut. Keluh kesah serta kritik terhadap penggunaan sebuah
bahasa sepertinya adalah gejala yang menjadi bagian dari praktik diskursif bahasa itu sendiri,"
katanya.

Menurut Jan, bukannya bahasa menunjukkan bangsa, melainkan bahasa membuat atau
membentuk bangsa. Bahasa digunakan sebagai rujukan terhadap praktik sosial, dan bukan
sebagai pencerminan jiwa bangsa yang pasif.

"Konsep bahasa seperti ini perlu dibongkar," ujarnya.

Sementara menurut Untung Yuwono, peneliti dan pengajar Universitas Indonesia yang mengkaji
ungkapan serapah dalam bahasa gaul mutakhir, mengatakan, tahun 1999, di tengah-tengah
kehausan masyarakat Indonesia akan kebebasan pascakejatuhan rezim Soeharto, menjadi salah
satu titik penting dalam kontinum perkembangan bahasa Indonesia ragam kaum muda.

Titik penting itu ditandai dengan dikenalnya istilah bahasa gaul. Dukungan penyebarluasan
bahasa gaul selain datang dari industri penerbitan, juga datang dari industri pertelevisian yang
memasarkan bahasa gaul melalui iklan, sinetron, dan acara-acara berita dan hiburan.

"Industri film remaja juga tak mau kalah mencontohkan pemakaian bahasa gaul melalui produksi
film-film remaja. Di luar itu, media komunikasi melalui komputer menjadi wadah penyuburan
pemakaian bahasa gaul," jelasnya.

Dalam buku Geliat Bahasa Selaras Zaman yang diluncurkan tersebut, ada 14 peneliti dari dalam
dan luar negeri yang memaparkan penelitiannya tentang fenomena kebahasaan yang dinamis di
Era Reformasi.
Anak Muda, Masihkah Antusias Berbahasa Indonesia?
Oleh: Ryandy Dwian Suchendar

KOMPAS.com — "Kami, putra-putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa


Indonesia...."

Secara sosiologis, bahasa Indonesia lahir dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Hingga
kini, kosakata bahasa Indonesia kian bertambah melalui serapan bahasa asing dan daerah. Bahasa
Indonesia yang merupakan salah satu dialek bahasa Melayu sebelumnya telah dikenal oleh
banyak negara asing melalui perannya sebagai lingua franca pada abad ke-14.

Tak sedikit negara yang tertarik mendalami bahasa Indonesia. Di tahun 2009 saja disebutkan
setidaknya ada 45 negara telah membuka pengajaran bahasa Indonesia di seluruh dunia
(Kompas.com, 29 Oktober 2009). Di dalam negeri, program Bahasa Indonesia Penutur Asing
(BIPA) tersebar di berbagai universitas di Indonesia. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia (FIB UI) adalah salah satu universitas yang menyediakan BIPA. Sebagian
besar mahasiswa asing di BIPA FIB UI berasal dari Korea Selatan.

"Kalau belajar bahasa Indonesia, ada kesempatan kerja. Bisa jadi manajer," ujar Kim Tae Gu saat
diwawancarai tim media komunikasi Cangkir Ikatan Keluarga Sastra Indonesia U, Juni 2012.
Kim Tae Gu adalah salah satu mahasiswa asal Korea Selatan yang telah menempuh tiga semester
di program studi Sastra Indonesia UI. Banyaknya kerja sama yang dilakukan Indonesia dengan
negara lain di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya membuat warga negara asing
berlomba-lomba belajar bahasa Indonesia sehingga komunikasi menjadi lebih lancar.

Antusiasme bangsa asing untuk mempelajari bahasa Indonesia sangat besar. Lantas, bagaimana
dengan generasi penerus bangsa ini? Apakah generasi muda Indonesia juga memiliki antusiasme
yang besar dalam memahami dan meresapi pentingnya bahasa Indonesia sebagai jati diri dan
identitas bangsa Indonesia?

Dengan bertambahnya intensitas pelajar asing dalam belajar bahasa Indonesia, kita harus bangga
bahwa bahasa kita diminati oleh bangsa asing. Namun, semangat ini tampaknya tidak tecermin di
kalangan generasi muda.

Mei 2012, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyatakan 7.000 siswa
SMA tidak lulus ujian nasional (UN) karena mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia
(Kompas.com, 25 Mei 2012). Bahasa Indonesia seakan-akan dianggap sebagai bahasa yang sulit
dipelajari. Pihak kementerian harus membuat solusi supaya mata ajar Bahasa Indonesia menjadi
mata ajar yang mudah dipahami.

Selain itu, dalam keseharian, masih sering kita jumpai penggunaan kosakata bahasa alay yang
berkembang luas di masyarakat, khususnya remaja. Bahasa alay atau bahasa Indonesia
nonformal, yang sering digunakan saat mengirim pesan singkat (SMS), boleh saja digunakan asal
sesuai konteks pembicaraan, seperti pergaulan remaja. Jika sudah masuk dalam ranah dunia
akademis, seperti dalam sekolah, perkuliahan, seminar, dan rapat, bahasa tersebut harus dihindari
dan diganti dengan bahasa formal.

Pelestarian bahasa Indonesia juga tak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah pusat bersama
Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia. Namun, ini menjadi tanggung jawab
masyarakat, mulai dari mahasiswa, guru, pegawai kantoran, sampai pewarta berita di stasiun
televisi.

Di kalangan mahasiswa, banyak diadakan acara-acara kebahasaan untuk memperingati bulan


bahasa. Biasanya acara kebahasaan diadakan oleh mahasiswa program studi Indonesia.
Contohnya adalah Ikatan Keluarga Sastra Indonesia UI yang mengadakan Festival Bulan Bahasa
Indonesia (Falasido), 29-30 Oktober ini.

Kita sebagai pemilik, penerus, dan pengguna bahasa Indonesia justru seharusnya lebih cekatan
dalam menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mari kita semarakkan bulan bahasa
dengan mengingat lagi perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dan
menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Jaya negeriku, jaya bahasaku, jaya bahasa Indonesia!


Dampak Teknologi Terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia di
Kalangan Anak Muda

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sangat mempengaruhi


perkembangan bahasa Indonesia. Dengan berkembangnya IPTEK yang cepat ini dapat membuat
pergeseran pada bahasa Indonesia. Sehingga perkembangan IPTEK memiliki dampak positif dan
negatinfnya bagi perkembangan bahasa Indonesia.
Kata kunci : IPTEK, bahasa Indonesia, media massa.
Bahasa adalah ilmu yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam
berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa juga merupakan media untuk menyampaikan maksud
ataupun keinginan kita untuk dimengerti oleh orang lain. Menurut Gorys Keraf (1997 : 1),
“Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan
oleh alat ucap manusia”. Selain itu Menurut Felicia (2001 : 1), “Dalam berkomunikasi sehari-
hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun
bahasa tulis”. Sehingga bahasa merupakan hal yang penting bagi semua orang untuk
berkomunikasi dengan masyarakat lainnya.
Seperti halnya bahasa Indonesia yang berfungsi sebagai media untuk menyampaian suatu
hal, ide, pendapat, maksud dan tujuan kita kepada orang lain agar mereka bisa memahami apa
yang kita inginkan atau yang kita terangkan. Dalam penggunaan bahasa Indonesia tentu ada
aturan-aturan dalam pengucapan dan penulisannya yang sudah ada di dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI). Sehingga kita dalam menggunakan bahasa Indonesia sepatutnya harus
memperhatikan aturan-aturan yang sudah ditentukan sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan
(EYD).
Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan yang sangat penting, seperti yang tercantum
pada bagian ketiga Sumpah Pemuda yang berbunyi “Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung
bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Ini berarti bahwa bahasa Indonesia berkedudukan sebagai
bahasa nasional. Dengan kata lain kedudukannya berada diatas bahasa – bahasa daerah. Selain
itu, didalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 tercantum pasal khusus (BAB XV, pasal 36)
mengenai kedudukan bahasa Indonesia yang menyatakan bahwa bahasa Negara ialah bahasa
Indonesia. Pertama, bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional sesuai dengan
sumpah pemuda 1928. Kedua, bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa Negara sesuai
dengan undang – undang dasar 1945.
Di dalam kedudukannya yang sudah tertera di atas sebagai bahasa nasional dan bahasa
Negara, bahasa Indonesia juga berfungsi sebagai :
1. Bahasa resmi kenegaraan.
Sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa Indonesia dipakai didalam segala upacara, peristiwa
dan kegiatan kenegaraan baik dalam bentuk lisan maupun dalam bentuk tulisan. Termasuk
kedalam kegiatan-kegiatan itu adalah penulisan dokumen-dokumen dan putusan-putusan serta
surat-surat yang dikeluarkan oleh pemerintah dan badan-badan kenegaraan lainnya, serta pidato-
pidato kenegaraan.
2. Lambang identitas nasional.
Sebagai lambang identitas nasional. Dimana bahasa Indonesia kita junjung disamping bendera
dan lambang Negara kita. Di dalam melaksanakan fungsi ini bahasa Indonesia tentulah harus
memiliki identitasnya sendiri pula sehingga ia serasi dengan lambang kebangsaan kita yang lain.
Bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya hanya apabila masyarakat/pemakainya dapat
mengembangkannya sedemikian rupa sehingga bersih dari campuran bahasa-bahasa asing.
3. Bahasa pengantar didalam dunia pendidikan.
Didalam kedudukannya sebagai bahasa Negara, bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar
di lembaga-lembaga pendidikan mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai dengan perguruan
tinggi diseluruh Indonesia.
4. Alat perhubungan antar warga, antar daerah, dan antar suku.
Sebagai bahasa nasional, tentu bahsa Indonesia berfungsi sebagai alat perhubungan antar warga,
antar daerah, dan antar suku bangsa. Berkat adanya bahasa nasional, kita dapat berhubungan satu
dengan yang lain sedemikian rupa sehingga kesalah pahaman sebagai akibat perbedaan latar
belakang sosial budaya dan bahasa tidak perlu dikhawatirkan. kita dapat bepergian dari pelosok
yang satu ke pelosok yang lain di tanah air kita dengan hanya memanfaatkan bahasa Indonesia
sebagai satu-satunya alat komunikasi.
5. Lambang kebanggaan kebangsaan.
Sebagai warga Negara Indonesia, tentu kita seharusnya bangga dengan identitas bangsa
yaitu bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bahasa asli yang kita miliki, sehingga
kita sapatutnya harus tetap melestarikan bahasa Indonesia dengan selalu tetap
menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar sesuai Ejaan Yang
Disempurnakan (EYD).
Selain fungsi yang sudah diterangkan diatas, bahasa Indonesia di dalam struktur budaya
ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya
yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa tersebut, ilmu pengetahuan
dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar,
menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam
menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin
dari daya nalar (pikiran).
Eksistensi bahasa Indonesia pada era globalisasi sekarang ini, mengharuskan jati diri
bahasa Indonesia perlu dibina dan dimasyarakatkan oleh setiap warga negara Indonesia. Hal ini
diperlukan agar bangsa Indonesia tidak terbawa arus oleh pengaruh budaya asing yang tidak
sesuai dengan bahasa dan budaya bangsa Indonesia. Pengaruh alat komunikasi yang begitu
canggih harus dihadapi dengan mempertahankan jati diri bangsa Indonesia, termasuk jati diri
bahasa Indonesia. Ini semua menyangkut tentang kedisiplinan berbahasa nasional,pemakai
bahasa Indonesia yang berdisiplin adalah pemakai bahasa Indonesia yang patuh terhadap semua
kaidah atau aturan pemakaian bahasa Indonesia yang sesuai dengan situasi dan kondisinya.
Disiplin berbahasa Indonesia akan membantu bangsa Indonesia untuk mempertahankan dirinya
dari pengaruh negatif asing atas kepribadiannya sendiri.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saat ini semakin hari semakin
berkembang pesat dalam hal fungsinya yang semakin bermanfaat, dalam bentuk yang semakin
bagus dan penggunaan yang semakin mudah digunakan oleh masyarakat luas. Hal ini yang
membuat banyak masyarakat sangat antusias dalam hal teknologi. Teknologi sama halnya
dengan sebuah gunting, jika digunakan pada kertas dengan cara-cara baik maka akan
menghasilkan sebuah potongan atau karya yang indah pada kertas itu yang pastinya akan
bermanfaat, dan sebaliknya jika kita menggunakan gunting itu untuk hal-hal negatif, maka
gunting itupun dapat melakukan hal-hal yang jelek pula, yang akan merugikan bagi diri sendiri
ataupun bagi orang lain.
Pada dasarnya manusia menggunakan teknologi karena manusia berakal. Dengan akalnya
ia ingin keluar dari masalah, ingin hidup lebih baik, lebih aman, lebih mudah dan sebagainya.
Perkembangan teknologi terjadi karena seseorang menggunakan akalnya dan akalnya untuk
menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya.
Pada satu sisi, perkembangan dunia IPTEK yang demikian mengagumkan itu memang
telah membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis-jenis
pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik yang cukup besar, kini relatif sudah bisa
digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis, Demikian juga ditemukannya formulasi-
formulasi baru kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak
manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktifitas manusia.
Teknologi mempunyai banyak manfaat dan pengaruh bagi masyarakat luas, terutama
dalam hal bahasa. Sekarang ini di Indonesia banyak sekali orang yang menggunakan percakapan
dengan artian-artian atau bahasa-bahasa teknologi atau bahasa asing. Semua ini mempunyai
dampak positif dan bisa juga mempunyai dampak negatifnya. Menurut Sunaryo (2000 : 6),
“Tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang”.
Dengan adanya teknologi sekarang ini perkembangan bahasa Indonesia mengalami
kemajuan yang cukup besar. Hal tersebut karena adanya perkembangan teknologi yang kian hari
kian canggih sehingga menimbulkan akulturasi dan pengaruh terhadap perkembangan kosa-kata
bahasa Indonesia. Dengan adanya teknologi, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa media
masa cetak dan elektronik, baik visual atau audio, harus memakai bahasa Indonesia. Seperti
memberikan informasi-informasi melalui media internet ataupun televisi dengan ejaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar. Hal ini tentu berdampak positif bagi perkembangan bahasa
Indonesia. sehingga media massa menjadi tumpuan kita dalam menyebarluaskan bahasa
Indonesia secara baik dan benar.
Selain dampak positif yang ditimbulkan akibat perkembangan teknologi, juga banyak hal
yang mengakibatkan dampak negatif terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Salah-satu
contohnya adalah di lingkungan anak muda yang banyak menggunakan teknologi handphone,
yaitu alat untuk berkomunikasi jarak jauh dengan suara atau pesan singkat atau SMS (short
message service). Di kalangan anak muda bahasa yang digunakan dalam SMS menjadikan
bahasa yang baku menjadi tidak baku dalam penulisannya, sehingga pengaruhnya semakin
meningkat meninggalkan norma yang berlaku sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
Sehingga bahasa SMS yang dipergunakan di kalangan anak muda yang tidak sesuai EYD ini
semakin lama semakin meluas yang pada akhirnya merusak kosa-kata dari bahasa Indonesia.
Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan teknologi telah turut serta mempengaruhi
perilaku manusia dalam berbahasa. Media informasi, khususnya yang berupa elektronik,
menuntut manusia berpikir efektif dan efisien dalam menggunakan bahasa sehingga informasi
yang disampaikan bisa cepat, singkat, dan padat. Hal ini tampak dari penggunaan bahasa pesan
singkat atau yang biasa disebut SMS (short message service).
Fenomena penggunaan bahasa gaul ini sedikit banyak ”menyimpang” dari kaidah-kaidah
tata bahasa yang semestinya. Mereka mungkin berpikiran bagaimana mempersingkat kata-kata
agar cepat dalam membalas pesan dari handphone secara singkat dan padat, yang sebenarnya
merusak kosa-kata bahasa Indonesia itu sendiri. Di kalangan anak muda hal tersebut sudah biasa
dan dapat dengan mudah dimengerti walaupun bentuk singkatan sangat minim sekali dari kata-
katanya aslinya.
Kenyataannya memperlihatkan bahwa SMS di kalangan anak muda kata-katanya
semacam ini: t4 (tempat), c4 (cepat), blz (balas), dmn (di mana), ap kbr (apa kabar), u (kamu)
dan lain sebagainya digunakan dalam bahasa SMS. Dalam aspek fonologi bahasa SMS, ada
proses pengurangan jumlah suku kata dan pengubahan bunyi baik sebagai akibat dari
penghilangan bunyi vokal akhir ataupun vokal atau suku kata yang ada di tengah suatu kata.
Kata-kata seperti aslm, (assalamualaikum), kbr (kabar), sy (saya), km (kamu), bls (balas), cpt
(cepat), dan sebagainya adalah beberapa contoh dari penyimpangan fonologi. Kebanyakan
bahasa SMS termasuk pada aspek ini.
Terkadang tampak pula modifikasi yang muncul di wilayah ini seperti penggabungan
kata dengan angka yang bertujuan menyingkat suatu kata dengan tidak mengurangi maknanya.
Contohnya adalah t4 (tempat), s7 (setuju), s6 (senam).
Selain itu, dalam aspek morfologi ada pembentukan kata dengan penggabungan dua kata
dan memotong kata menjadi lebih pendek. Istilah ini disebut blending dan clipping. Contohnya,
matkul (mata kuliah), ftkp (foto kopi), trims (terima kasih), lab (laboratorium), perpus
(perpustakaan), dll. (dan lain-lain).
Kemudian dalam aspek sintaksis, kata yang kebanyakan muncul dalam kalimat
performatif seperti, pg (pagi), mlm (malam) yang ditulis di awal pesan dan sering kali diikuti
tanda seru (!). Kata selamat ada kalanya diabaikan.
Fenomena penyingkatan dan pemadatan kata ini ditengarai oleh realita yaitu dunia (alam)
informasi yang kita diami menuntut kita untuk bergerak lebih cepat dengan mencari jalan
sependek mungkin dalam menyampaikan tujuan (berkomunikasi). Di sisi lain, tenaga dan upaya
yang dikeluarkan pun menjadi lebih sedikit atau kecil.
Secara psikologis, fenomena ini juga mempengaruhi mental pengirim dan penerima
pesan. Encoder (pengirim pesan) secara alamiah selalu memiliki prinsip meminimalkan kata-kata
agar lebih efisien. Pengirim pesan atau penutur selalu ingin menyampaikan pesan (dengan tenaga
dan gerak alat seminimal mungkin). Sementara decoder (penerima pesan) cenderung
menerapkan prinsip berusaha memahami makna dari pesan yang telah dikirim dengan kerja
sekecil mungkin.
Untuk mempertemukan kepentingan dari encoder (pengirim pesan) dan decoder
(penerima pesan) lewat prinsip ini, diperlukan kompromi atau saling pengertian yang hanya bisa
terwujud jika ada konvensi bahasa yang disepakati bersama-sama.
Dampak perkembangan teknologi semacam ini yang memberikan dampak positif dan
negatif terhadap penggunaan bahasa Indoneisa terutama di kalangan anak muda. Hal ini perlu di
kendalikan dengan rasa memiliki dan kesadaran dari masyarakat Indonesia. Dengan mempunyai
rasa memiliki, maka masyarakat Indonesia terutama di kalangan anak muda tidak merasa malu
bila menggunakan bahasa Indonesia secara baku. Terlebih bahasa Indonesia merupakan salah
satu identitas dari bangsa Indonesia. Berikut ini adalah dampak positif perkembangan bahasa
Indonesia yang ditimbulkan akibat dari perkembangan teknologi :
1. Mailing list adalah tukar menukar pesan atau diskusi melalui email secara elektronik. Diskusi
yang dilakukan bisa berupa artikel. Pengaruh positif terhadap perkembagan bahasa Indonesia
adalah dalam penulisan artikel pengguna akan menggunakan bahasa Indonesia dan menerapakan
kaidah penulisan artikel sehingga artikel yang dihasilkan akan mudah dibaca atau dipahami oleh
pembaca.
2. Semakin diperkaya dengan berbagai konsep baru dari luar yang kita terjemahkan dalam bahasa
Indonesia, atau jika menemui kesulitan, kata-kata asing yang mengandung konsep baru itu kita
ambil alih dan kita sesuaikan dengan bahasa kita, dengan kata lain menjadi kata
serapan. Contohnya kata information (bahasa inggris) menjadi informasi (bahasa indonesia).
3. Penyiar berita membawakan acaranya dengan bahasa yang baik termasuk intonasinya akan
mempengaruhi pemirsa yang menyaksikan acara TV tersebut. Teknologi yang digunakan banyak
diserap pemirsa sehingga penyebaran bahasa Indonesia semakin berkembang dan dapat diterima.
4. Mengangkat bahasa Indonesia kejenjang dunia atau tingkat internasional. Dengan teknologi
internet terutama dalam pembuatan web, blog atau artikel menggunakan bahasa Indonesia, maka
akan dilihat oleh pengguna internet (user) tentang situs tersebut yang menggunakan bahasa
Indonesia.
Adapun dampak negatif perkembangan bahasa Indonesia yang ditimbulkan akibat dari
perkembangan teknologi :
1. Faktor dari media, baik cetak maupun elektronik. Tak dapat disangkal lagi, media memiliki daya
sugesti yang begitu kuat terhadap publik. Bahkan, saat ini tidak sedikit orang yang memiliki
ketergantungan informasi terhadap media. Tak berlebihan kalau dikatakan bahwa bahasa media
memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap penggunaan bahasa publik. Sekarang ini bila kita
lihat dalam media elektronik seperti film yang banyak menggunakan bahasa gaul, dan jarang
sekali ada yang menggunakan bahasa Indonesia yang baku. Missal : saya menjadi gw, anda
menjadi lo. Kemudian bisa di lihat dunia maya seperti blog-blog di dalam internet banyak sekali
yang penulisan dalam blognya tidak baku atau tidak sesuai dengan EYD melainkan
menggunakan bahasa gaul.
2. Akibat merebaknya gejala tuturan Indonesia-English yang dilakukan, entah dengan sengaja atau
tidak. Dan di era globalisasi ini yang banyak menggunakan bahasa inggris atau bahasa asing baik
di lingkungan keluarga, sekolah, perusahaan-perusahaan sehingga menyebabkan bahasa
Indonesia terkikis sedikit demi sedikit. Maka tidak heran kalau banyak masyarakat yang bangga
bila bisa menguasai bahasa asing dari pada bahasa Indonesia.
3. Lingkungan sekitar. Indonesia memiliki berbagai kepulauan dan setiap pulau memiliki ciri
bahasa tersendiri. Walapun bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional tapi tidak sedikit
masyarakat Indonesia yang menggunakan bahasa daerahnya bukan menggunakan bahasa
Indonesia.
4. Kurangnya rasa cinta terhadap bahasa Indonesia itu sendiri. Banyak warga Negara Indonesia
yang lebih suka dan mencintai bahasa asing dari pada bahasa Indonesia. Hal-hal tersebut terus
berlangsung terhadap penggunaan bahasa Indonesia maka dapat menyebabkan kepedulian
terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar makin menipis dan penggunaan
bahasa Indonesia-pun kian menyempit. Mungkin generasi – generasi di bawah kita nanti yang
lebih suka menggunakan bahasa Inggris dari pada bahasa Indonesia. Jika sudah demikian maka
rasa cinta terhadap bahasa Indonesia akan hilang.
Kesimpulannya adalah Pada dasarnya teknologi diciptakan untuk memudahkan pekerjaan
manusia. Namun terkadang teknologi yang diciptakan oleh manusia tidak semuanya membantu,
lambat laun akan menjadi bom waktu yang siap meledak. Pada satu sisi, perkembangan
teknologi telah membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban manusia, pekerjaan
yang sebelumnya menuntut kekuatan dan kemampuan fisik, kini sudah bisa digantikan oleh
perangkat mesin otomatis.
Semakin majunya teknologi didalam kehidupan kita, yang sangat membantu pekerjaan
sehari-hari manusia, di sisi lain teknologi juga menyebabkan kebakuan bahasa Indonesia itu
semakin disisihkan. Selain itu juga, pengaruh teknologi terutama teknologi informasi dan
teknologi komunikasi terhadap perkembangan bahasa Indonesia mempunyai dampak positif dan
dampak negatif.
Pengaruh positif perkembangan teknologi terhadap bahasa Indonesia antara lain :
pengaruh bahasa asing dijadikan bahasa serapan dalam bahasa Indonesia, pemanfaatan internet
sebagai media diskusi dalam pembahasan bahasa Indonesia, memudahkan pengguna dalam
menerjemahkan bahasa Indonesia dengan teknologi mesin penerjemah.
Selain itu pengaruh negatifnya perkembangn teknologi terhadap perkembangn bahasa
Indonesia yaitu dari media cetak maupun elektronik, lingkungan sekitar yang sering
menggunakan bahasa selain bahasa Indonesia, bahasa asing yang gencar di sebarkan lewat media
memberi dampak kuranganya kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa Indonesia.
Sebagai generasi penerus bangsa, semestinya kita menjaga salah satu identitas Bangsa
Indonesia, dengan tidak merusak tatanan dalam kosa-kata bahasa Indonesia dengan menyelipkan
bahasa asing ketika berdiskusi ataupun berbicara dengan orang lain. Selain itu kita seharus
melestarikan bahasa Indonesia ini dengan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan
berpedoman pada Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Selain itu mari kita manfaatkan teknologi
sebaik mungkin agar dapat membatu pekerjaan dengan semestinya dan tetap kembangan bahasa
Indonesia dengan bantuan teknologi sesuai EYD bahasa Indonesia.
Peran Generasi Muda Terhadap Bahasa Indonesia
0

Generasi muda sebagai pilar utama dalam keberlangsungan bangsa ini, ternyata mulai sekarang
dipertanyakan keberadaanya. Tidak hanya ketika ide dan pemikiran tetapi pengantar atau pun
bahasa yang dituturkan ikut menjadi bagian terpenting di dalamnya.

Aspek yang rasanya juga jelas terlihat ialah aspek bahasa. Gaya bahasa gaul, yang sebenarnya
merupakan bahasa dialek Jakarta turut hadir dalam novel genre ini. “Loe-gue” yang dihadirkan
tidak sekadar membuat “teenlit” begitu terasa dekat dengan para remaja, tapi justru dunia remaja
yang demikian itulah yang tercermin lewat “teenlit”. Belum lagi cara penyajiannya yang
menyerupai penulisan buku harian, lebih membangkitkan keterlibatan para pembacanya.
Keberadaan bahasa Indonesia di dalamnya tidak terencana, tidak terpola dengan baik, apa saja
bisa masuk. Baik pada percakapan (dialog) maupun pada deskripsi, bahasa yang dipakai adalah
bahasa gaul, bahasa prokem, bahasa slang, yang hanya dimengerti oleh anak remaja.
Keberagaman bahasa dan warna-warni percakapan tidak dapat dipola dan hampir tidak
terkendali.
Lihatlah nama acara-acara di stasiun-stasiun televisi, siaran nasional, dan daerah. Simaklah
laporan kalangan wartawan televisi dan radio (mereka pakai istilah reporter). Perhatikanlah
ucapan-ucapan pembawa acara (mereka menyebutnya presenter) di layar kaca. Dengarlah
dengan cermat bahasa mereka yang sehari-hari tampil di televisi, dalam acara apa pun.
Dengarlah nama-nama acara di stasiun-stasiun radio siaran. Bacalah nama-nama rubrik di media
massa cetak. Perhatikanlah judul buku-buku fiksi dan nonfiksi yang dijual di toko-toko buku, di
pasar buku, atau di kaki lima sekalipun. Simaklah dosen dan guru (terutama yang masih muda)
yang sedang mengajar di depan kelas. Dengarkanlah petinggi atau pejabat negara yang sedang
berpidato atau berbicara kepada wartawan.
Tiap saat dengan mudah kita dapat mendengarkan bahasa buruk. Contohnya, gue banget, thank
you banget, ya!, Semakin lama semakin banyak orang yang berbahasa Indonesia dengan
seenaknya, tidak mengindahkan norma atau aturan berbahasa yang berlaku resmi. Kalau benar isi
pepatah lama, “Bahasa menunjukkan bangsa”, maka untuk mengetahui dan mengurai “wajah”
negara dan bangsa kita kini tak usah mendatangkan ahli dari Amerika Serikat atau Australia.
Mengobati “penyakit” berbahasa yang sudah parah diperlukan usaha bersama semua pemangku
kepentingan bahasa

Indonesia untuk kembali menumbuhkan rasa bangga sebagai bangsa atau orang Indonesia.
Warga negara yang sangat bangga sebagai orang Indonesia tentunya (seharusnya) juga mencintai
bahasa nasionalnya sendiri. Kita, putra-putri Indonesia abad 21, yang benar-benar mencintai
bahasa Indonesia pastilah menjungjung tinggi bahasa persatuan kita. Untuk mendukung usaha
serius ini, pemerintah dan DPR perlu segera membahas dan mengesahkan Rancangan Undang-
undang tentang Kebahasaan yang dibuat tahun lalu.
Banyak bangsa lain, seperti Filipina dan India, merasa iri dan sangat terkagum-kagum terhadap
bangsa kita karena memiliki bahasa persatuan, bahasa negara, bahasa nasional. Ini merupakan
salah satu jati diri asli bangsa kita.
Masyarakat komunikatif tercipta dengan mampu merasakan kepekaan dan kepedulian serta siap
berargumentasi untuk memecahkan permasalahan kompleks yang diidap. Konkretnya dengan
cara itu, dapat mengawal masa-masa sulit ini menuju suatu arah yang tepat. Bagaimanapun
menyiapkan seperangkat infrastruktur yang kapabel menyikapi setiap kejutan-kejutan arah angin
perubahan secara tenang dan penuh perhitungan dalam konsensus, dapat menyediakan energi
yang berlimpah ketika kita amat membutuhkannya. Mengkedepankan prioritas tidak bermakna
mengesampingkan kebutuhan lainnya.
Barangkali, sebagai bagian dari bangsa ini. Memang yang lebih diperlukan adalah kemampuan
memelihara memori dan mengambil pelajaran dari apa yang sudah bersama kita lalui sebagai
sebuah bangsa. Sebuah refleksi adalah juga jalan untuk upaya merawat ingatan; bahwa
kemerdekaan ini adalah hasil perjuangan beratus dekade oleh berjuta pejuang; bahwa
otoriterianisme merupakan jalan yang tidak kita inginkan sebagai bangsa yang bercita-cita
dewasa; bahwa represifitas melumpuhkan demokrasi dan intelektualitas; bahwa kebebasan
berpikir dan bersuara telah dibayar mahal oleh nyawa yang tak ternilai; bahwa korupsi dan
kawan-kawannya telah menghancurkan sendi-sendi keadilan dan meluluhlantakkan harapan
untuk hidup makmur, sejahtera, dan berkeadilan; bahwa wajah pendidikan menentukan karakter
bangsa; bahwa persoalan bangsa ini adalah persoalan yang harus kita selesaikan secara bersama-
sama; bahwa jauh dari tempat kita berada banyak sosok yang tulus bergerak untuk sesuatu yang
memiliki nilai kontribusi tinggi daripada kita yang hanya berdiam sambil berpura diskusi dan
turut berpikir.
Pada berbagi kegiatan pun diharapkan masyarakat terutama orang muda harus merasa ikut
memiliki lambang jati diri bangsa Indonesia. Rasa ikut memiliki itu akan mengukuhkan rasa
persatuan terhadap satu tanah air, satu negara kesatuan, satu bangsa, satu bahasa persatuan, satu
bendera, satu lambang negara, dan satu lagu kebangsaan. Pada gilirannya rasa persatuan itu akan
menjauhkan perpecahan bangsa sekalipun berada dalam era reformasi dan globalisasi.
Marilah mulai tumbuhkan kembali kesadaran dalam diri masing-masing untuk berbahasa
Indonesia dengan baik, benar, dan indah. Ketika berbahasa asing, berbahasa asinglah dengan
baik! Ketika berbahasa daerah, berbahasa daerahlah dengan baik! Ketika berbahasa nasional,
berbahasa nasionallah dengan baik pula!
Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Internasional, Mampukah?

Bahasa Indonesia saat ini menjadi dipertimbangkan dunia. Bukan semata


karena Indonesia menjadi negara yang berpotensi menjadi pasar, namun juga
sebagai negara yang mulai merangkak naik untuk berperan pada dinamikan
internasional. Wajar bila kemudian muncul wacana bahwa bahasa Indonesia
layak untuk menjadi bahasa Internasional.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud


mengatakan, tujuan pemerintah menjadikan bahasa Indonesia sebagai
bahasa internasional didukung fakta bahwa banyak bangsa lain yang
berminat mempelajari Bahasa Indonesia.

“Sampai saat ini ada 174 pusat pembelajaran bahasa Indonesia yang
tersebar di 45 negara. Paling banyak ada di Jepang, yaitu 38 tempat belajar.
Di Australia ada 36. Ini membuktikan minat bangsa lain terhadap bahasa
Indonesia tinggi,” ujar Mahsun Rabu (21/10/2015).

Mahsun mengatakan, semakin tinggi minat mempelajari Bahasa Indonesia


dari negara lain, berarti semakin banyak yang mengakui identitas bangsa
Indonesia. “Karena bahasa adalah identitas suatu bangsa,” katanya.

Banyak tantangan yang harus diahapi untuk mewujudkan bahasa Indonesia


menjadi bahasa internasional, salah satunya adalah Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) 2015. Namun Mahsun mengatakan, kita tidak perlu tidak perlu
khawatir. Meski sudah ditentukan bahasa Inggris merupakan bahasa resmi
dalam MEA, Bahasa Indonesia tetap memiliki posisi di lingkungan bahasa
dunia.

“Di dunia ini tidak ada bahasa yang murni. Semua bahasa menyerap dari
bahasa lain. Kita jangan takut untuk menyerap bahas asing ke bahasa
Indonesia. Dalam diplomasi budaya, justru Bahasa Indonesia juga bisa
diserap oleh negara lain. Jadi Bahasa Indonesia juga bisa jadi penyumbang
kosakata bahasa di dunia,” tutur Mahsun seperti dikutip dari situs
Kemendikbud.go.id.
Ia menambahkan, saat ini Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Kemendikbud tengah melakukan upaya untuk menambah kosakata Bahasa
Indonesia yang diambil dari bahasa daerah. Hal itu dilakukan untuk
memperkaya kosakata bahasa Indonesia.

Mahsun mengatakan, Mendikbud Anies Baswedan telah meminta agar


kosakata bahasa daerah harus mewarnai bahasa Indonesia. Hal itu
ditindaklanjuti oleh Badan Bahasa Kemendikbud dengan melakukan
inventarisasi kosakata bahasa daerah.
Tahun 2035: Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Penghubung Antar
Negara
Sejak pembacaan sumpah pemuda, bahasa melayu di Indonesia berubah nama menjadi bahasa
Indonesia. Hal tersebut menunjukan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi Negara
Indonesia yang dapat menghubungkan satu suku dengan suku lainnya. Kemunculan bahasa Indonesia
juga berarti kemunculan identitas, karena bahasa merupakan identitas suatu bangsa.

Seiring dengan berkembangnya zaman, bahasa Indonesia mengalami berbagai perubahan. Seperti sifat
bahasa yang tidak hanya statis secara tata bahasa, tetapi juga dinamis secara kosakata. Artinya,
kosakata dalam sebuah bahasa dapat berkembang seiring dengan perubahan yang terjadi dalam
masyarakat. Tak heran sering ditemukannya kosakata yang diserap dari bahasa daerah atau bahkan
bahasa asing.

Dibandingkan dengan bahasa lain, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang sederhana. Bahasa
Indonesia memiliki tata bahasa yang mudah serta tidak mengenal perbedaan kala. Tidak seperti bahasa
Inggris yang membedakan kata kerja terkait dengan waktu. Untuk menyatakan hal yang sudah berlalu,
bahasa Indonesia cukup menggunakan kata sudah atau telah, sedangkan bahasa Inggris menggunakan
tenses yang berbeda dan disesuaikan dengan kebutuhan. Selain itu, dalam penulisannya bahasa
Indonesia menggunakan bahasa latin yang sudah digunakan secara internasional, sehingga dapat
dikatakan bahasa Indonesia dapat mudah dipelajari.

Popularitas bahasa Indonesia saat ini semakin meningkat. Bahasa Indonesia yang mudah, menjadi daya
tarik turis asing mempelajarinya baik di dalam maupun luar negeri. Seperti yang dikatakan Collins (2005)
bahwa saat ini sudah banyak ahli atau komunitas sarjana dari mancanegara yang mengkhususkan diri
mempelajari bahasa Indonesia/Melayu.

Bahasa Melayu kini dipelajari di universitas di delapan negara Eropa dan dua negara Amerika Utara. Juga
masuk kurikulum di beberapa perguruan tinggi di Beijing Tiongkok, Bangkok, Kazakhstan, Osaka
(Jepang), Auckland (Selandia Baru), Busan (Korea Selatan), Tasmania (Australia), dan Cebu (Filipina).
Selain itu, terdapat pula komunitas sarjana internasional yang mengkhususkan diri untuk mempelajari
bahasa Melayu. Mereka tersebar di sejumlah negara, yakni di Italia, Tanzania, Estonia, Israel, India,
Ceko, Swiss, Belanda, Rusia, Irlandia, Jerman, Taiwan, Finlandia, Thailand, dan Prancis[1].

Selain itu, adanya wacana bahwa bahasa Indonesia akan menjadi bahasa resmi ASEAN dengan
pertimbangan karena bahasa Indonesia merupakan bahasa yang sederhana baik secara struktur kata
maupun tulisannya. Wacana tersebut tertuang dalam Sidang ke-41 Majelis Bahasa Brunei Darussalam-
Indonesia-Malaysia (Mabbim) dan Sidang ke-7 Majelis Sastra Asia Tenggara (Master) di Makassar, 13
Maret 2002. Seminar menghasilkan sejumlah rumusan, di antaranya usulan agar bahasa
Indonesia/Melayu digunakan sebagai bahasa resmi ASEAN dan AFTA (Area Perdagangan Bebas
ASEAN)[2].

Dari wacana tersebut menjadi sebuah peluang bagi bahasa Indonesia, dalam jangka panjang menjadi
bahasa internasional. Bahasa Internasional dipilih berdasarkan jumlah banyaknya pengguna bahasa
serta kepopulerannya[3]. Tidak hanya Negara penutur bahasa tersebut yang menggunakan bahasanya,
tetapi juga dituturkan oleh penutur dari Negara lain, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun keadaan
formal. Bahasa Indonesia dengan wujud bahasa Melayu sejak dahulu sudah tersebar luas di kawasan
Asia Tenggara. Selain di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Indonesia, bahasa ini juga
dituturkan di Thailand Selatan dan sebagian Sri Lanka, juga ada di kawasan Papua[4].

Saat ini penutur bahasa Indonesia di Indonesia sudah lebih dari 200 juta jiwa. Jumlah tersebut akan
terus meningkat. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan bahwa
jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2035 mendatang berjumlah 305,6 juta jiwa. Jumlah ini
meningkat 28,6 persen dari tahun 2010 yang sebesar 237,6 juta jiwa[5]. Secara otomatis penutur bahasa
Indonesia juga akan meningkat dan semakin popular.
Wacana tersebut juga didukung oleh pemerintah melalui aturan yang tertulis dalam Undang-Undang
No. 24 tahun 2009 tentang bendera, bahasa dan lambang Negara serta lagu kebangsaan Pasal 44 ayat 1,
2, 3. Dalam UU no 24 tahun 2009 pasal 44 ayat 1 hingga 3. Dalam UUD tersebut disebutkan pemerintah
meningkatkan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis dan
berkelanjutan yang dikoordinasikan oleh lembaga bahasa serta diatur oleh pemerintah[6].

Selain dari aturan, pemerintah juga mengupayakan melalui penambahan kosakata pada bahasa
Indonesia. Kosakata tidak hanya diambil dari bahasa asing, tetapi juga dapat diambil dari bahasa daerah.
Saat ini kosakata bahasa Indonesia berjumlah 90.000. Di tahun 2019 nanti, Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa Kemendikbud menargetkan akan mencapai 200.000. Untuk mencapai target
tersebut, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud tengah melakukan upaya untuk
menambah kosakata Bahasa Indonesia yang diambil dari bahasa daerah. Hal itu dilakukan untuk
memperkaya kosakata bahasa Indonesia[7].

Sebuah bahasa juga dapat diakui secara internasional ketika Negara tersebut unggul dalam bidang
perekonomian. Indonesia memiliki daya tarik bagi pelaku ekonomi dari mancanegara untuk berinvestasi
di Indonesia melalui kekayaan alam yang sangat melimpah. Dengan banyaknya pelaku ekonomi dari
mancanegara yang berinvestasi di Indonesia ini mau tidak mau akan berdampak pada banyak orang
asing yang masuk ke Indonesia. Hal itu dapat berdampak pula pada banyaknya orang asing yang ingin
mempelajari bahasa Indonesia. (Wahya 2010:174).

Di samping itu, sejak tahun 2012 Indonesia memasuki bonus demografi. Keadaan dengan populasi usia
produktif (15-65 tahun) lebih tinggi dibandingkan usia non produktif. Proporsi penduduk usia produktif
pada tahun 2010 adalah sebesar 66,5 persen. Proporsi ini terus meningkat mencapai 68,1 persen pada
tahun 2028 sampai tahun 2031. Meningkatnya jumlah penduduk usia produktif menyebabkan
menurunnya angka ketergantungan, yaitu jumlah penduduk usia tidak produktif yang ditanggung oleh
100 orang penduduk usia produktif dari 50,5 persen pada tahun 2010 menjadi 46,9 persen pada periode
2028-2031. Tetapi angka ketergantungan ini mulai naik kembali menjadi 47,3 persen pada tahun
2035[8]. Menurut Jokowi, melimpahnya jumlah penduduk usia produktif itu merupakan modal besar
untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dan pembangunan[9].

Dengan meningkatnya perekonomian dan pembangunan Indonesia pada tahun 2035 memberikan
peluang besar bagi bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional. Seperti halnya Inggris, melalui
Revolusi Industri, Negara Inggris menjadi dominan dalam perekonomian, sehingga Inggris dapat
mengontrol perekonomian Negara lain dan membawa pengaruh dalam menyebarkan bahasanya.
Bahasa Inggris pun saat ini dijadikan bahasa pengantar di seluruh dunia

Melihat perkembangan Indonesia yang semakin terarah, tentu menjadi peluang yang besar bagi bangsa
Indonesia untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional pada tahun 2035 nanti.
Disamping angka penuturnya yang semakin tinggi, potensi tersebut terlihat dari popularitas bahasa
Indonesia yang meningkat dengan semakin banyaknya masyarakat Asing yang mempelajari bahasa
Indonesia karena bahasa Indonesia merupakan bahasa yang sederhana, sehingga mudah dipelajari.
Semakin tinggi minat mempelajari bahasa Indonesia dari Negara lain, berarti semakin banyak yang
mengakui identitas bahasa Indonesia.

Selain itu, usia produktif yang diproyeksikan pada tahun 2035 melebihi jumlah usia non produktif
menjadi peluang bagi bangsa Indonesia untuk meningkatkan perekonomian. Dengan peningkatan
perekonomian tersebut menjadi jalan bagi bangsa Indonesia menyebarkan bahasa Indonesia ke
kalangan Internasional. Dengan demikian, untuk menghadapi peluang ini semua pihak harus ikut turut
serta dalam mempersiapkan bahasa Indonesia ke dunia Internasional. Persiapan dapat dilakukan dari
hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, seperti dengan menghargai dan menggunakan bahasa Indonesia
dengan baik dan benar.
Tantangan Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Internasional
dan Peradaban Dunia

Peradaban (tamadun, maddana, civilization) atau masyarakat kota yang maju merupakan
hegemony[1] (penguasaan) secara sosialbudaya dan psikologis suatu bangsa dalam
merealisasikan pemikiran, kreativitas, dan Ipteks. Hegemoni Barat dalam budaya populer dan
Ipteks, misalnya, merupakan penguasaan Barat terhadap dunia dalam budaya populer dan Ipteks.
Hegemoni China dalam perdagangan merupakan penguasaan China terhadap dunia dalam
perdagangan. Secara sosial budaya dan psikologis mereka di atas dari bangsa-bangsa lain dalam
bidang itu. Lebih khusus, secara psikologis, Barat dan China menganggap menguasai dunia dan
superior. Dengan demikian, hegemoni menjadi dasar untuk mempunyai peradaban yang diakui.

Bahasa merupakan sarana yang paling ampuh dalam mendapatkan dan mentransfer hegemoni.
Bahasa yang digunakan untuk mentransfer hegemoni akan dipelajari dan digunakan oleh orang
yang terlingkup dalam hegemoni itu. Namun demikian, bahasa yang mampu mentransfer
hegemoni adalah bahasa yang modern, yang mampu digunakan untuk mengungkapkan pikiran
yang paling rumit sekalipun dengan cara yang tidak rumit.

Akan tetapi, mana yang lebih dahulu terjadi, peradaban yang tinggi dan hegemoni yang kuat atau
bahasa yang maju/modern? Situasi ini bak telor dan ayam. Hanya bahasa yang maju yang
mampu digunakan sebagai sarana peradaban dan hegemoni, sebaliknya hanya peradaban yang
tinggi dan hegemoni yang membuat bahasa menjadi modern. Sesuatu yang pasti, keduanya amat
ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya.

Bagaimana dengan bahasa Melayu/Indonesia? Sudah sejak lama keinginan menjadikan bahasa
Melayu/Indonesia sebagai bahasa internasional dan peradaban dunia. Sudah berbagai seminar
dan pertemuan bahasa dilaksanakan untuk membahas kemungkinan itu. Tahun 2008, Majelis
Bahasa Malaysia, Brunei dan Indonesia (Mabbim)–Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera)
melaksanakan Seminar di Jakarta untuk membahas strategi pemartabatan bahasa dan sastra guna
memantapkan budaya bangsa serumpun. Tahun 2007 di Pekanbaru diadakan Konferensi untuk
menggagas agar bahasa Melayu dijadikan bahasa resmi dunia dan diakui oleh Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB). Sebelumnya (tahun 2006) ada komunike bersama antara Indonesia-
Malaysia-Brunei untuk memperjuangkan bahasa Melayu menjadi bahasa resmi PBB.
Namun masih ada kegamangan, perasaan kurang mampu, dan kesadaran bahwa bahasa
Melayu/Indonesia belum mempunyai kekuatan untuk berperan sebagai bahasa intenasional dan
peradaban dunia. Apakah yang kurang dalam bahasa Melayu/Indonesia sehingga hal itu sulit
terwujud? Kerisauan utama adalah ketidaksejalanan perkembangan bahasa Melayu/Indonesia
dengan laju Ipteks. Artinya, bahasa Melayu/Indonesia belum mampu mengimbangi kemunculan
istilah dalam Ipteks.

Keinginan yang kuat untuk menjadikan bahasa Melayu/Indonesia sebagai bahasa internasional,
bahasa resmi di PBB, dan bahasa peradaban dunia adalah sesuatu yang wajar. Bukan saja
prestise bahasa Melayu/Indonesia yang akan meningkat, tetapi juga akan berdampak positif
terhadap ekonomi, sosial, dan budaya.
Makalah ini berisi pemikiran-pemikiran yang dapat dijadikan diskusi tentang bagaimana upaya
bersama yang perlu dilakukan untuk meningkatkan citra bahasa Melalyu/Indonesia sebagai
bahasa internasional peradaban dunia.

Realitas Pemakaian Bahasa di Dunia


Paling kurang, ada 10 bahasa modern di dunia yang dianggap mempunyai hegemoni. Bahasa-
bahasa itu dipelajari oleh bangsa-bangsa lain untuk berbagai keperluan. Bahkan 6 di antaranya
dijadikan sebagai bahasa resmi dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yaitu
Inggris, Perancis, Rusia, China, Arab, dan Spanyol. Mengapa sebuah bahasa mampu menjadi
bahasa internasional atau bahasa peradaban dunia?
Bahasa Inggris. Bekas koloni Inggris sangat luas sehingga penyebaran bahasa Inggris juga
menjadi sangat luas. Di samping itu, Inggris dan negara-negara berbahasa Inggris seperti
Amerika, Australia, New Zealand, Canada, dan Afrika Selatan mempunyi jumlah penduduk yang
banyak. SDM negara-negara itu lebih berkualitas sehingga mampu memproduksi Ipteks untuk
diekspor ke negara-negara lain yang tidak berbahasa Inggris. Ekspor di bidang Ipteks dengan
sendirinya membawa budaya mereka, apalagi Amerika sangat terkenal dengan budaya populer
yang digemari di seluruh dunia. Mau tidak mau bangsa-bangsa lain akan mempelajari bahasa
Inggris untuk memahami dan mengadaptasi Ipteks dan budaya populer itu.
Bahasa Mandarin di China. Jumlah penduduk China terbesar di dunia dan eksodus bangsa China
terderas di dunia. Kemampuan bangsa China dalam perdagangan juga terbesar di dunia. Orang
merasa perlu mempelajari bahasa China terutama untuk keperluan ekonomi/perdagangan dan
kebudyaa China yang besar, dan berusia sangat panjang. Nilai tawar bangsa China sangat kuat di
dunia karena negara ini mempunyai hak veto di PBB.
Bahasa Rusia: Di samping sebagai negara super power, mempunyai hak veto di PBB, Rusia juga
mengekspor teknologi terbesar di dunia. Sebagai negara superpower, bahasa Rusia menjadi
bahasa resmi PBB. Perancis, Jerman, Jepang, dan Korea juga mengekspor teknologi ke seluruh
dunia. Meskipun penduduk mereka tidak terlalu banyak, tetapi SDM mereka kuat dan berkualitas
tinggi. Bahasa negara-negara itu dipelajari di berbagai belahan dunia karena Ipteks dan
kebudyaan mereka yang juga sangat terkenal. Berbagai universitas membuka studi-studi tentang
bangsa/negara itu.
Bahasa Arab: Bahasa Arab digunakan oleh banyak negara di Afrika bagian Utara, Timur
Tengah, Asia Barat Daya, dan Asia Tengah. Meskipun jumlah penduduknya tidak banyak,
bahasa Arab adalah juga bahasa Agama terbesar di dunia. Semua umat Islam mengenal bahasa
Arab karena peribadatan dilaksanakan dalam bahasa Arab. Pengaruh alam dan sumber daya alam
membuat bahasa Arab diperhitungkan dalam percaturan internasional, terutama dalam konteks
ekonomi (bahan bakar minyak). Akumulasi faktor-faktor itu menyebabkan banyak orang ingin
mempelajari bahasa Arab sehingga PBB juga menetapkan bahasa Arab sebagai salah satu bahasa
resmi PBB.
Bahasa Spanyol. Spanyol juga mempunyai bekas koloni yang luas terutama di Amerika Selatan
dan Afrika. Bahkan Asia juga pernah menjadi jajahan Spanyol seperti Filipina. Di antara Negara-
negara bekas jajarahn itu masih ada yang menggunakan bahasa Spanyol. Dengan demikian,
pengaruh Spanyol yang luas di dunia, membuat bahasanya menjadi luas pemakaiannya.
Pemakaian Bahasa Indonesia
Dari fakta-fakta itu, nyatalah bahwa sebuah bahasa akan dipelajari oleh bangsa lain apabila
bahasa itu modern dan penutur aslinya memiliki keunggulan dalam faktor-faktor yang
mempengaruhi kehidupan global. Lantas apa keunggulan bangsa Melayu/Indonesia untuk
dijadikan sebagai alasan bagi bangsa lain mempelajarinya?

Penduduk Indonesia, khususnya, memang masuk dalam kategori 5 terbesar di dunia setelah
China, India, Amerika Serikat, dan Rusia. Akan tetapi, bahasa Indonesia hanya digunakan oleh
orang Indonesia, sebagian besar sebagai bahasa kedua. Masing-masing suku di Indonesia
mempunyai bahasa daerah yang lebih ekspresif dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Indonesia
hanya digunakan dalam situasi resmi dan perhubungan antarsuku. Apabila ditambah dengan
negara-negara Asia Tenggara yang berbahasa Melayu maka jumlah itu akan setara dengan Rusia.

Namun sekadar mengunggulkan jumlah penduduk belum cukup membuat bahasanya jadi penting
secara global. India, misalnya, berpenduduk nomor dua terbesar setelah China, tetapi bahasa
India tidak begitu populer untuk dipelajari di dunia. Hal itu disebabkan karena bahasa India
terlalu bervariasi dan bahasa Urdu yang dijadikan bahasa nasional tidak sanggup mempersatukan
India sebagai sebuah bangsa dan budaya. Begitu juga Indonesia, masih kuatnya bahasa daerah,
menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua, meskipun bahasa Indonesia mampu
mempersatukan Indonesia sebagai bangsa, tetapi belum sebagai sebuah budaya/peradaban.
Kebudayaan etnis di Indonesia masih diekspresikan dalam bahasa daerah. Walaupun ada upaya
penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia, namun hal itu hanya untuk pelestarian, bukan ekspresi
yang sesungguhnya. Karya sastra Indonesia juga belum banyak diterjemahkan ke dalam berbagai
bahasa asing karena berbagai alasan.

Indonesia juga kurang diperhitungkan dalam produksi Ipteks, ekonomi, dan perdagangan.
Kurang diperhitungkannya mata uang Rupiah di tingkat internasional menyebabkan ekonomi
Indonesia mudah collaps ketika terjadi krisis ekonomi. Indonesia hanya diperhitungkan dalam
hal pariwisata dan yang banyak dikenal hanya Bali. Bahkan masih banyak bangsa lain yang tidak
tahu bahwa Bali itu berada di Indonesia. Indonesia diperhitungkan hanya sebagai jumlah
penduduk yang banyak dalam konteks konsumen Ipteks, ekonomi, dan perdagangan. Sebagai
sebuah negara konsumen, bahasa Indonesia tidak begitu diperlukan oleh banyak bangsa asing,
kecuali segelintir orang yang memang ingin meneliti, bekerja, berwisata, dan berdagang ke
Indonesia.

Indonesia belum menjadi bangsa yang mampu melindungi bangsa lain dari gangguan bangsa-
bangsa seperti negara super power: AS, Rusia, China, Inggris, dan Perancis. Sumbangan
Indonesia untuk perdamaian dunia belum menonjol. Peranan Indonesia di PBB juga tidak banyak
menentukan, belum mampu membuat bargaining position yang menguntungkan dengan negara-
negara lain. Dalam panggung politik global, Indonesia hanya memainkan peranan yang kecil
saja.

Oleh karena segala kekurangan dan keterbatasan itu masih bolehkah kita berharap bahasa
Indonesia menjadi bahasa internasional atau menjadi bahasa peradaban dunia? Apakah itu tidak
sekadar mimpi yang tak jelas takwilnya?

Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?


Bukanlah sesuatu hal yang mustahil bahasa Indonesia diperjuangkan menjadi bahasa
internasional atau bahasa peradaban dunia. Meskipun banyak faktor yang kurang mendukung
untuk itu, tetapi banyak pula faktor yang menguatkan agar bahasa Indonesia menjadi penting di
dunia global. Visi Pusat Bahasa telah mencantumkan keinginan itu, yaitu “Terwujudnya lembaga
penelitian yang unggul dan pusat informasi serta pelayanan yang prima di bidang kebahasaan
dan kesastraan dalam rangka menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang berwibawa dan
bahasa perhubungan luas tingkat antarbangsa.”

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang mempersatukan lebih dari 230 juta pendudukan
Indonesia. Struktur bahasa Indonesia lebih sederhana sehingga lebih mudah dipelajari. Bentuk
tulisannya tidak berbeda dengan bagaimana diujarkan—diujarkan sebagaimana dituliskan atau
dituliskan sebagaimana diujarkan. Bahasa Indonesia terbuka terhadap unsur dan istilah asing. Di
samping itu, bahasa Indonesia sudah mulai mampu mengungkapkan berbagai bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia merupakan mata
pelajaran wajib di semua jenjang pendidikan.

Upaya penting dalam mengangkat hegemoni bahasa Indonesia adalah pembakuan bahasa
Indonesia sendiri. Bahasa Indonesia harus dibakukan terlebih dahulu, baik strukturnya maupun
kosa kata dan peristilahannya. Upaya ke arah ini sudah sejak lama dilakukan Pusat Bahasa.
Sudah tersedia berbagai kamus istilah dalam berbagai bidang ilmu.

Pada satu sisi, jumlah penduduk yang hanya berperan sebagai konsumen produk asing dapat
melemahkan posisi tawar Indonesia, tetapi itu juga sekaligus dapat menjadi kekuatan apabila
disikapi dengan tepat. Masyarakat Indonesia harus mengubah sikap menghamba kepada bangsa
asing. Kenyataan menunjukkan bahwa orang Indonesia akan berbicara dengan bahasa asing
kepada tamu asing. Sebaliknya, orang asing yang bahasanya telah menjadi hegemoni (Inggris,
China, Amerika, Perancis) menggunakan bahasanya sendiri kepada tamu asing. Mereka tidak
bertransaksi dengan bahasa Indonesia kepada orang Indonesia di negara mereka.

Persoalan menjadikan bahasa sebagai bahasa internasional atau bahasa peradaban dunia tidak
hanya terletak pada entitas bahasa itu sendiri. Apa yang tadi disebut sebagai faktor hegemoni
justru lebih menentukan posisi suatu bahasa di pentas dunia. Sikap mental bangsa terjajah perlu
diubah. Kebanggaan terhadap bahasa sendiri perlu ditingkatkan. Tugas ini terbeban pada
lembaga kebahasaan seperti Pusat Bahasa dan studi-studi kebahasaan di perguruan tinggi serta
guru bahasa Indonesia. Salah satu misi Pusat Bahasa adalah “Meningkatkan sikap positif
masyarakat terhadap bahasa dan sastra.” Pendidikan bahasa Indonesia harus dirancang dengan
tepat tidak saja terhadap kemampuan berbahasa Indonesia, tetapi juga menanamkan nilai-nilai
berbahasa dan sikap berbahasa kepada anak didik.

Undang-undang bahasa Indonesia sudah dipersiapkan. Undang-undang yang dapat berperan


sebagai politik bahasa nasional/Indonesia itu perlu disosialisasikan kepada masyarakat luas
melalui sekolah dan perguruan tinggi serta kantor-kantor pemerintahan dan swasta. Terbinanya
ketahanan bahasa Indonesia akan sangat menunjang peningkatan status bahasa Indonesia sebagai
bahasa internasional dan peradaban dunia.

Struktur dan pembacaan bahasa Indonesia yang tidak rumit memudahkan orang asing belajar
bahasa Indonesia. Hampir pada setiap negara maju sudah berdiri studi tentang Indonesia. Mau
tidak mau bahasa Indonesia diperkenalkan di lembaga itu. Apapun tujuan berdirinya lembaga
studi bahasa Indonesia itu, sesuatu yang pasti adalah bahwa Indonesia (bangsa, budaya, dan
bahasanya) berangsur-angsur menjadi penting bagi bangsa lain. Hal yang paling penting terlebih
dahulu adalah bahwa Indonesia dianggap penting oleh bangsa asing. Syukur-syukur pentingnya
Indonesia tidak hanya bagi rakyat suatu bangsa asing, tetapi juga oleh pemerintahannya sehingga
secara politik Indonesia dapat terbantu dalam memperjuangkan posisi bahasa Indonesia sebagai
bahasa global, di PBB, misalnya.

Upaya menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional atau bahasa peradaban dunia
tidak berarti orang Indonesia berhenti belajar bahasa asing. Ada pihak yang menyarankan agar
bangsa Indonesia tidak usah belajar bahasa asing dan cukup belajar bahasa Indonesia agar
kebanggaan terhadap bahasa Indonesia semakin meningkat. Belajar bahasa asing justru akan
membantu mengembangkan bahasa Indonesia. Peristilahan dalam berbagai bidang ilmu justru
diperoleh melalui belajar bahasa asing. Justru orang-orang yang menguasai bahasa asing akan
dapat membantu mengembangkan peristilahan sehingga bahasa Indonesia lebih diperkaya.

Secara umum, bahasa diperlukan karena orang ingin berkomunikasi secara efektif. Orang
mempelajari bahasa asing untuk mampu berkomunikasi dalam bahasa itu dan kemampuan
berbahasa asing mempunyai implikasi yang sangat banyak. Orang dapat mengetahui
sosialbudaya suatu bangsa, mengadopsi ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan oleh
suatu bangsa; mendapatkan keuntungan ekonomi karena bekerja dengan menggunakan bahasa
itu. Bahkan penguasaan suatu bahasa asing berimplikasi pada kemungkinan untuk menundukkan
bangsa asing itu.

Indonesia harus mampu menjadi teladan bagi banyak bangsa di dunia. Mungkin Indonesia masih
jauh dari perkembangan ilmu dan teknologi, tetapi Indonesia mempunyai kelebihan, semacam
keunggulan komparatif di bidang kebudayaan dan pariwisatanya. Kecintaan bangsa asing
terhadap Indonesia harus terus dijaga dan ditingkatkan. Salah satu upaya itu adalah keamanan
fisik dan jiwa bagi orang asing yang berkunjung ke Indonesia. Kesiap-siagaan seluruh lapisan
masyarakat untuk menjaga keamanan, keramahan, dan keteladanan terhadap pengunjung asing
perlu menjadi prioritas. Tidak dengan menggelar polisi dan tentara dengan senjata siap
ditembakkan di tepi jalan, tetapi dengan kesiapan intelijen yang didukung oleh masyarakat untuk
mengantisipasi teror yang sering terjadi.

Orang asing harus dirayu untuk mempelajari dan memahami Indonesia dari berbagai segi
kehidupan sehingga mereka merasa Indonesia itu penting. Apabila orang asing sudah
menganggap Indonesia penting maka mereka akan mempelajari Indonesia. Mempelajari
Indonesia tidak bisa tidak harus mempelajari bahasa Indonesia. Oleh sebab itu, di samping
menggiatkan BIPA, pemerintah Indonesia harus membantu studi-studi Indonesia yang ada di luar
negeri, mendirikan kantor-kantor perwakilan Pusat Bahasa di berbagai kota besar di luar negeri.

Simpulan
Menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional dan bahasa peradaban dunia bukanlah
sesuatu yang mustahil. Memang masih banyak faktor yang masih melemahkan ke arah itu,
namun banyak pula kekuatan yang dipunyai bahasa Indonesia. Usaha pembakuan bahasa
Indonesia harus terus dilakukan, pengembangan istilah perlu dilakukan. Di samping itu sikap
berbahasa masyarakat, ketahanan bahasa, keamanan para pengunjung perlu dijamin. Di samping
itu, ketahanan ekonomi, perkembangan Ipteks perlu ditingkatkan. Semua faktor itulah yang akan
mengangkat bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional dan bhasa peradaban dunia.***
(Atmazaki)