You are on page 1of 35

BERSUCI DAN BERIBADA DALAM

PERJALANAN
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah PAI di semester satu
Prodi Pendidikan Dokter

Disusun oleh :

Kelompok 16

Muhammad Auzan Ferdiansyah (6130015014)

Aina Zurohidah Mustakim (6130015049)

Rohmatul Hidayati Ningsih (6130015052)

Dosen Pembimbing :

Nanang Rahman Shaleh, S.ag.M.THI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS NAHDATUL ULAMA SURABAYA

1
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya
penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata
kuliah Agama Islam.
Agama sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia da
pat dikaji melalui berbagai sudut pandang. Islam sebagai agama yang telah
berkembang selama empat belas abad lebih menyimpan banyak masalah yan
g perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran keagamaan maup
un, politik, ekonomi dan budaya.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang kami
hadapi. Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini
tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan dari dosen kita Nanang
Rahman Shaleh, S.ag.M.THI , sehingga kendala-kendala yang kami hadapi
teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Islam,
yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi,
referensi, dan berita. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai
rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar.
Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya
makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa
Universitas Nahdatul Ulama Surabaya. Saya sadar bahwa makalah ini masih
banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk
itu, kepada dosen pembimbing kami meminta masukannya demi perbaikan p
embuatan makalah kami di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik
dan saran dari para pembaca.

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................... 2


DAFTAR ISI................................................................................................ 3
BAB I : PENDAHULUAN........................................................................ 4

1.1 Latar Belakang.......................................................................... 4


1.2 Rumusan Masalah..................................................................... 4
1.3 Tujuan Pembahasan.................................................................. 5
BAB II : PEMBAHASAN.......................................................................... 6
2.1 Dasar Orang Melakukan Bersuci dan Beribada Dalam ……… 6
Perjalanan……………………………………………………… 6
2.2 Syarat Dan Ketentuan Bersuci Dan Beribada Dalam………….. 8
Perjalalan.................................................................................... 8
2.3 Tata Cara Bersuci dan Beribada Dalam Perjalanan….............. 9
2.4 Hukum Orang Bersuci dan Beribada Dalam Perjalanan......... 15
BAB III : PENUTUP................................................................................ 36
3.1 Kesimpulan.............................................................................. 36
3.2 Saran......................................................................................... 36
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 37

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Islam merupakan agama yang terakhir sebagai penutup semua agama yang
telah ada, islam merupakan agama rahmatal lil a’lamin untuk semua umat.
Islam itu dibawakan oleh nabi Muhammad SAW yang mendapat wahyu dari
Allah. Untuk mengetahui islam lebih mendalam maka munculah ilmu yang
dinamakan Studi Islam akan tetapi Studi Islam itu sendiri merupakan bidang
kajian yang cukup lama. Ia telah ada bersama dengan adanya agama islam
maka dari itu Studi Islam menimbulkan berbagai permasalahn yang umum
diantaranya : Konsep agama Islam, Nama lain agama Islam, Kerangka dasar
agama Islam, Sumber ajaran Islam, Karakteristik ajaran Islam, Metode
mengkaji Islam, Pedoman mempelajari Islam.
Seiring dinamika dan perkembangan zaman, kesempatan untuk
mempelajari Studi Islam dapat melalui segala hal, berkaitan dengan persoalan
tentang mempelajari Studi Islam, islam memberikan kesempatan secara luas
kepada manusia untuk menggunakan akal pikirannya secara maksimal untuk
mempelajarinya, namun jangan sampai penggunaannya melampaui batas dan
keluar dari rambu-rambu ajaran Allah SWT.
Dan didalam makalah ini akan membahas permasalahan-permasalahan itu
semua secara lebih umum.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai
berikut:
1. Apa yang mendasari ketika bersuci dan beribada dalam perjalanan?
2. Apa syarat bersuci dan beribada dalam perjalanan?
3. Bagaimana tata cara bersuci dan beribada dalam perjalanan?
4. Apa hukum orang bersuci dan beribada dalam perjalanan?
1.3 Tujuan Pembahasan

4
1. Mengetahui dasar ketika melakukan bersuci dan beribada dalam
perjalanan
2. Mengetahui syarat ketika bersuci dan beribada dalam perjalanan
3. Mengetahui tata cara bersuci dan beribada dalam perjalanan
4. Mengetahui hukum orang bersuci dan beribada dalam perjalanan

5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Dasar Bersuci Dan Beribada Dalam Perjalanan
2.1.1Pengertian Musafir
Kata musafir berasal dari kata kerja bahasa Arab safara yang
berarti bepergian. Musafir berarti orang yang melakukan perjalanan. Kata
safarin berarti perjalanan. Seperti tersebut dalam al-Quran:
]283/‫ [البقرة‬...ٌ‫سفَ ٍر َولَ ْم ت َ ِجدُوا كَاتِبًا فَ ِرهَانٌ َم ْقبُوضَة‬
َ ‫علَى‬
َ ‫َوإِ ْن ُك ْنت ُ ْم‬
Dan jika kalian dalam perjalanan, dan tidak menjumpai seorang penulis,
maka hendaklah hendaklah ada jaminan (yang bisa dipegang).
Musafir adalah orang yang bepergian atau orang yang dalam
perjalanan. Persoalannya adalah berapa jarak perjalanan dan berapa lama
safar yang kita berhak mendapatkan keringanan seperti dalam shalat dan
puasa. Rupanya jarak perjalanan terdekat untuk disebut musafir adalah 3
mil atau 3 farsakh. Ini berdasarkan hadist
(470 ‫ ص‬/ 3 ‫ (ج‬- ‫صحيح مسلم‬
‫غ ْندَ ٍر َقا َل أَبُو َب ْك ٍر َحدَّثَنَا ُم َح َّمد ُ ْبنُ َج ْعفَ ٍر‬
ُ ‫ار ِك ََل ُه َما َع ْن‬
ٍ ‫ش‬ َ ‫و َحدَّثَنَاه أَبُو َب ْك ِر ْبنُ أَ ِبي‬
َّ ‫ش ْي َبةَ َو ُم َح َّمد ُ ْبنُ َب‬
َ‫ص ََلةِ فَقَا َل َكان‬ َّ ‫ص ِر ال‬ ْ َ‫َس بْنَ َمالِكٍ َع ْن ق‬ َ ‫سأ َ ْلتُ أَن‬
َ ‫ش ْعبَةَ َع ْن يَحْ يَى ب ِْن يَ ِزيدَ ْال ُهنَائِي ِ قَا َل‬ ُ ‫ع ْن‬َ ‫غ ْندَ ٌر‬ ُ
‫صلَّى‬
َ ُّ‫ش ْعبَةُ الشَّاك‬
ُ ‫ِيرةَ ث َ ََلث َ ِة أَ ْميَا ٍل أ َ ْو ث َ ََلث َ ِة فَ َرا ِس َخ‬
َ ‫سلَّ َم إِذَا خ ََر َج َمس‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َّ ‫سو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫َر‬
‫َر ْكعَتَيْن‬
Shahih Muslim (3/470)
Dan menceritakannya kepada kami Bakr bin Abi Syaibah dan Muhammad
bin Basysyar, keduanya dari Ghundar, Abu akr berkata berkata,
“Muhammad bin Ja’far Syu’bah dari Yahya bin Yazid al-Hunaiy, ia
berkata, “Saya bertanya Anas bin Malik tentang meringkas shalat, maka
Rasulullah shalalahu menjawab. “Jika ia keluar sejauh tiga mil atau tiga
farsakh, Syu’bah ragu-ragu, beliau shalat dua rakaat.””
Syu’bah ragu-ragu apakah Anas bin Malik mengatakan tiga mil ataukah
tiga tiga farsakh. Kalaulah kita mengambil tiga mil maka jaraknya adalah
kurang lebih 5,5 kilometer (3 x 1,748 km). Kalau kita menggunakan tiga
farsakh, maka jaraknya adalah 16,5 km (3 x 3 mil = 3 x 3 x 1.748).

6
Tidak ada batasan berapa lama bepergian, sehingga orang bepergian
dianggap musafir. Perjalanan sehari atau dua hari dengan jarak misalnya
5,5 km atau 16,5 km sesuai hadist riwayat Imam Muslim rahimahullah di
atas sudah cukup dianggap safar, atau musafir bagi pelakunya.
Lalu bagaimana bila bepergian lebih sepuluh hari, atau 15 hari. Mari kita
perhatikan hadist berikut:
)195 ‫ ص‬/ 13 ‫ (ج‬- ‫صحيح البخاري‬
َ َ‫َّللاُ َع ْن ُه َما قَا َل أَق‬
‫ام‬ َّ ‫ي‬ َ ‫ض‬ ٍ ‫اص ٌم َع ْن ِع ْك ِر َمةَ َع ْن اب ِْن َعب‬
ِ ‫َّاس َر‬ ِ ‫َّللا أ َ ْخ َب َرنَا َع‬
ِ َّ ُ ‫َحدَّثَنَا َع ْبدَانُ أ َ ْخبَ َرنَا َع ْبد‬
َ ُ‫سلَّ َم بِ َم َّكةَ تِ ْسعَةَ َعش ََر يَ ْو ًما ي‬
‫ص ِلي َر ْكعَتَي ِْن‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ‫ي‬ ُّ ِ‫النَّب‬
Shahih al-Bukhari (13/195)
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan, telah mengabarkan kepada kami
‘Abdullah, telah mengabarkan kepada kami ‘Ashim dari ‘Ikrimah dari Ibn
‘Abbas radliallahu ‘anhuma, ia berkata, “Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam
menetap di Mekkah selama sembilan belas hari, beliau shalat dua rakaat
(meringkas shalat menjadi 2 rakaat).”
2.1.2 Tayamum
Tayamum berasal dari bahasa arab tayammum, yang berarti
berkehendak atau bermaksud, menyengaja. Dalam fiqih, menurut
terminologi syara’ berarti menyengajakan diri menyentuh debu yang suci
untuk mengusap wajah dan kedua tangan dengan sekali atau dua kali
sentuhan, dengan niat agar memperoleh kebolehan melakukan sesuatu
yang sebelumnya terhalang oleh adanya hadats, bagi orang yang tidak
menemukan air atau takut adanya bahaya apabila menggunakannya.
Namun, ada sedikit ulama yang mengikuti pandangan Umar bin Khattab
dan Ibnu Mas’ud r.a. yang menyatakan bahwa tayamum hanya dapat
menggantikan wudlu, bukan mandi.
Tayamum merupakan keringanan (rukhsah) dari Allah karena
mnausia tidak selalu dapat menemukan atau menggunakan air. Artinya,
dalam keadaan darurat, segala ibadah yang menuntut kesucian dari hadats
kecil ataupun besar, seperti sholat,tawaf, serta memegang dan membawa
mushaf, sah dan boleh dilaksanakan dengan tayamum. Para ulama juga

7
berselisih pandangan mengenai status tayamum. Tayamum di tetapkan
berdasarkan alqur’an, sunnah, dan ijma’. Dalil Al qur’an dalam firman
allah S.W.T :
“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat
buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak
mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci);
sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi
Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa’ (4):43).
Sedangkan dari sunnah adalah hadist narasi Jabir (HR. Al-Bukhoari
dan Muslim). Tayamum merupakan keistimewaan yang diberikan pada
umat. Nabi S.A.W bersabda :
“Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku:
Aku dimenangkan dengan teror ketakutan yang sudah menyergap musuh
dalam jarak satu bulan perjalanan, bumi dajadikan sebagai masjid dan
media bersuci untukku, siapa pun umatku yang mendapati shalat maka
shalatlah, dihalalkan untukku harta-harta rampasan perang sementara ia
tidak halal bagi seorang pun sebelumku, dan aku diberi hak syfaat; dan
jika Nabi (lainnya) diutus di tengah kaumnya saja, maka aku diutus untuk
segenap manusia.”
Sementara dari ijma’, para ulama telah sepakat secara bulat bahwa
tayamum disyariatkan sebagai pengganti wudlu dan mandi dalam kondisi-
kondisi tertentu. Latar belakang disyariatkannya tayamum adalah
diriwayatkannya hadits dari Aisyah ia bercerita: kami keluar bersama Nabi
S.A.W dalam suatu perjalanan beliau hinggga sesampai kami di sebuah
padang terbuka, kalung milikku putus (dan jatuh). Guna mencarinya Nabi
S.A.W dan orang-orang yang bersamanya menginap di tempat tersebut
padahal mereka tidak berada di tempat yang berair dan mereka pun tidak
membawa persediaan air. Orang-orang lalu mendatangi Abu Bakar dan
berkata, “tidakkah kau lihat apa yang telah Aisyah buat?” Abu Bakar
bergegas datang (ke tenda Nabi S.A.W), sementara beliau tengah tertidur
di atas pangkuanku. Ia langsung mencercaku (menyalahkanku) dan

8
mengatakan apa saja yang ia katakan,bahkan sempat menamparkan
tangannya ke pinggangku. Tidak ada yang meghalangiku untuk bergerak
kecuali karna posisi Rasulullah S.A.W di atas pahaku. Beliau tetap tidur
dan jelang pagi dalam keadaan tanpa air. Allah S.W.T pun menurunkan
ayat tentang tayamum,”maka bertayammumlah kalian.” Zaid bin Hudhair
mengatakan: Inilah berkah pertamamu, wahai keluarga Abu Bakar. Aisyah
melanjutkan: Kami mengutus rombongan dengan unta yang sebelumnya
aku tumpangi dan ternyata kami menemukan kalung tersebut berada di
bawahnya. (HR. Malik, Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan
Ibnu Majah)

2.1.3 Beribada Dalam Perjalanan


Selama bepergian, orang islam disyariatkan dan diperbolehkan
untuk mengqashar shalat. Hal ini ditetapkan berdasarkan dalil Al qur’an,
sunnah, dan ijma’. Adapun ketetapan dari Al qur’an antara lain firman
Allah S.A.W: “Dan apabila kamu berpergian di muka bumi, maka tidaklah
mengapa kamu mengqashar shalat(mu), jika kamu takut di serang orang-
orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir adalah musuh yang nyata
bagimu.” (QS. An-Nisa’ (4))
Dalam bepergian, ada beberapa keringanan (rukhsah) dalam
beribadah yang diberikan oleh agama kita untuk meringankan dan
memudahkan pelaksanaannya. Salah satu keringanan tersebut adalah
pelaksanan ibadah sholat dengan cara qashar (dipendekkan) dan dengan
cara jamak (menggabung dua sholat dalam satu waktu). Dengan demikian
pelaksanaan sholat dalam perjalanan, atau disebut "sholatus safar", dapat
dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :
1. Itmam, atau sempurna yaitu dilakukan seperti biasanya saat
dirumah.
2. Qashar, yaitu sholat yang semestinya empat rakaat diringkas
atau dipendekkan menjadi dua roka'at.

9
3. Jama', yaitu mengumpulkan dua sholat, Dhuhur dengan Ashar
atau Maghrib dengan Isya', dalam salah satu waktunya.

2.2 Syarat Dan Ketentuan Bersuci Dan Beribada Dalam Perjalalan

2.2.1 Syarat dan ketentuan bersuci dalam perjalanan

Penyebab diperbolehkannya tayamum adalah ketiadaan air, baik


secara hakiki maupun secara hukmi (metafor). Ketiadaan air secara hakiki
adalah suatu kondisi yang benar-benar tidak ada air atau ada air namun
tidak cukup digunakan untuk bersuci, merujuk pada hadits narasi Imran
bin Hushain r.a., ia bercerita: Kami bersama Rasulullah S.A.W dalam
suatu perjalanan, lalu beliau sholat memimpin orang-orang. Tiba-tiba ada
seorang laki-laki yang mengucilkan diri (tidak ikut sholat). Rasulullah
S.A.W pun menanyainya, “Apa yang menghalangimu untuk sholat?” Ia
menjawab, “saya tadi junub dan tidak ada air.” Beliau menukas, “Kau
boleh memakai debu, sesungguhnya ia mencukupimu.” (HR. Al-Bukhari
dan Muslim).
Akan tetapi, sebelum tayamum diwajibkan mencari-cari air terlebih
dahulu di antara barang-barang bawaannya, meminta pada teman-teman
serombongannya, atau tempat yang terdekat dengannya. Jika memang
tidak ada atau keberadaannya terlalu jauh maka tidak wajib meminta atau
mencari.adapun ketiadaan air secara hukmi (metafor) ada lima sebab, yaitu
sebagai berikut.
1. Takut Terkena Bahaya (Mudarat) Jika Menggunakannya
Barangsiapa yang berdasarkan persangkaan kuat, atau pengalaman,
atau rekomendasi seorang dokter ahli muslim, dinyatakan rentan
terkena penyakit jika menggunakan air, atau akan membuat
penyakitnya semakin parah atau dapat menunda kesembuhannya,
maka ia boleh bertayamum. Bahkan menurut kalangan ulama mazhab
Syafi’i, dokter ahli saja sudah mencukupi, meskipun ia kafir, jika

10
memang orang yang bertayamum mempercayainya. Dan menurut
pendapat yang rajih, vonis berdasarkan pengalaman saja tidak cukup.
Diriwayatkan dari jabir r.a., ia bercerita: kami keluar dari suatu
perjalanan, lalu salah seorang dari kami terkena lemparan batu di
kepalanya, kemudian ia mimpi basah, maka bertanyalah ia pada
teman-temannya,”Apakah menurut kalian aku mendapat rukhsah
untuk bertayamum?” Mereka menjawab,”Kami rasa tidak ada
rukhsah untukmu, selama kau bisa mendapatkan air.” Ia akhirnya
mandi, lalu meninggal dunia beberapa saat kemudian. Begitu kami
sampai Rasulullah S.A.W, beliau beritahu hal tersebut. Serta merta
beliau bersabda:
”Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka.
Tidakkah mereka tanya terlebih dahulu jika mereka tidak tahu.
Sesengguhnya obat kebodohan adalah bertanya. Sesungguhnya cukup
baginya bertayamum dan meneteskan (mengusap) air pada daerah
yang luka, atau memperban luka-lukanya dengan kain rombeng,
kemudian jika hendak bersuci, ia cukup mengusap perban tersebut
dan emmbasuh bagian tubuh yang lain.” (Sunan Abu Dawud (236))
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, menafsirkan firman Allah S.W.T:
“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir” (QS. An-Nisa’ (4):
43), Rasulullah S.A.W bersabda:
”jika seseorang menderita luka-luka di jalan Allah, atau koreng,
atau lepra, lalu ia junub, dan khawatir mati jika harus mandi maka
hendaklah ia bertayamum.” (HR. Al-Baihaqi dan Al-Hakim).
2. Takut Kedinginan
Barangsiapa khawatir jika penggunaan air akan membuatnya mati
kedinginan atau membuatnya sakit/semakin parah sakitnya, maka ia
boleh bertayamum, sebagaimana hadits narasi Amr bin Al-ash, ia
bercerita: Aku mengalami mimpi basah di malam yang sangat dingin,
sehingga aku khawatir mati jika harus mandi, maka aku pun
bertayamum, kemudian sholat shubuh bersama teman-temanku.

11
Ketika kami kembali ke Madinah dan menghadap Rasulullah S.A.W,
teman-teman melaporkan hal tersebut kepada beliau. Beliau pun
bersabda,”Hai Amru, kau sholat bersama teman-temanmu dalam
keadaan junub?” Aku menjawab,”(waktu itu) saya teringat firman
Allah S.W.T: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya
Allah adalah Maha Penyayang kepadamu (QS. An-Nisa’ (4): 29),
maka saya pun bertayamum, kemudian sholat.” Nabi S.A.W hanya
tertawa dan tidak berkomentar apa-apa. (HR. Ahmad, Abu Dawud,
Al-Baihaqi, dan Al-hakim).
Hadits di atas menunjukkan adanya ketetapan Nabi (iqrar), dan
ketetapan Nabi dapat dijadikan sebagai pegangan hukum, karena Nabi
tidak akan menetapkan suatu perkara yang bathil.
3. Takut Musuh
Jika air ada, bahkan dekat, namun ia mengkhawatirkan
keselamatan dirinya atau kehormatannya atau hartanya jika
mengambil air tersebut atau takut tertinggal oleh rombongannya, atau
antara dirinya dengan air dihalangi oleh musuh yang akan berpotensi
menyakitinya, baik berupa manusia ataupun yang lain, atau ia di
penjara, atau tidak mampu mengeluarkan air karena ketiadaan alat
seperti tali atau timba, maka adanya air dalam kondisi di atas sama
dengan ketiadaannya.
4. Kebutuhan Mendesak Pada Air
Diperbolehkan bertayamum bagi orang yang apabila menggunakan
air yang ada, maka ia dan atau temannya, dan atau hewannya, dan atau
hewan temannya, meskipun hanya berupa anjing yang galak,
dikhawatirkan akan menderita kehausan, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Atau jika air yang ada lebih dibutuhkan untuk
membuat roti atau untuk masak atau untuk mensucikan najis yang
tidak dima’fu (dimaafkan), maka dalam kondisi ini ia boleh
bertayamum dan menyimpan air yang ada.

12
Imam Ahmad mengatakan: Sejumlah sahabat bertayamum dan
menyimpan airnya untuk kebutuhan minum mereka. Diriwayatkan
dari Ali r.a., ia berkata:
“Jika kau mengalami jinabat, lalu kau ingin berwudlu atau mandi
dalam versi lain namun kau tidak memiliki persediaan air selain
cukup untuk minum dan kau khawatir (kehausan dan mati) jika
menggunakannya untuk bersuci, maka bertayamumlah.” (HR. Al-
Baihaqi)
Ibnu Taimiyah mengatakan: “Barangsiapa menahan air
kencingnya sementara ia tidak menemukan air, maka lenih baik ia
melakukan sholat dengan bertayamum dan tidak perlu menahan air
kencingnya daripada harus mempertahankan air wudlunya dan sholat
dengan menahan air kencing.”
5. Takut Kehabisan Waktu
Jika seseorang mampu menggunakan air, tetapi waktu sholat akan
habis apabila menggunakannya untuk berwudlu maupun mandi, maka
ia boleh bertayamum dan langsung melaksanakan sholat tanpa perlu
mengulang sholatnya. (Mughni Al-Muhtaj dan Syarh Al-Kabir)
Hal-Hal Yang Di Sunnahkan Dalam Tayamum
Membaca Basmalah, mendahulukan mengusap tangan kanan,
tidak berlebihan menggunakan debu hingga mengotori badan, tidak
mengulang-ulang usapan, dan tidak berbicara selama melaksanakan
tayamum.
Hal-Hal Yang Diperbolehkan Dalam Tayamum
Tayamum adalah pengganti wudlu dan mandi ketika tidak ada
air. Oleh karena itu dengan tayamum, seseorang juga diperbolehkan
dengan wudlu dan mandi, misalnya shalat, memegang dan membawa
mushaf, masuk masjid, dan lain sebangainya. Sahnya tayamum tidak
disyaratkan harus sudah masuk waktu shalat.dengan sekali tayamum,
orang yang bertayamum, boleh melaksanakan shalat fardlu dan shalat
sunnah sesukanya, sebab status/hukumnya sama seperti hukum wudlu.

13
Disebutkan dalam hadits narasi Abu Dzarr, ia berkata: Aku
mengalami jinabat dan tidak ada air di dekatku. Rasulullah S.A.W
bersabda, “Sesungguhnya debu adalah media suci bagi orang yang
tidak mendapati air puluhan tahun.” (HR. Ahmad)
Hal-Hal Yang Membatalkan Tayamum
Segala sesuatu yang membatalkan wudlu dan mandi juga
membatalkan tayamum. Artinya, segala hal yang menimbulkan hadats
kecil atau hadats besar dapat membatalkan tayamum. Selain itu,
hilangnya udzur yang membolehkan tayamum juga menjadikannya
batal. Misalnya, orang yang bertayamum lalu mendapatkan air,
tayamumnya batal meskipun dia belum berhadats.

2.2.2 Syarat dan ketentuan beribada dalam perjalanan

Orang yang sedang bepergian (musafir), diperbolehkan


melakukan sholat dengan qashar, apabila memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut :
1. Bukan bepergian maksiat, seperti bepergian dengan tujuan mencuri, dan
lain-lain.
2. Jarak yang akan ditempuh, sedikitnya berjarak kurang lebih 80,64
km. Muslim sahabat Anas bin Malik r.a. berkata: Rasulullah s.a.w.
ketika bepergian sejauh tiga mil atau tiga farsakh, beliau melakukan
shalat dua rakaat.Hadist lain meriwayatkan Rasulullah s.a.w bersabda:
"Wahai penduduk Makkah, janganlah kalian melakkan qashar pada
perjalanan kurang dari empat bard, yaitu dari Makkah ke Usfan". (H.r.
Dar Quthni dari Ibnu Abbas. Hadist ini juga diriwayatkan sebagai
statemen Ibu Abbas).
Para ulama pada zaman dahulu memperkirakan jarak tersebut
dengan durasi perjalanan selama dua hari menggunakan kuda atau onta.
Dan para ulama sekarang memperkirakan sejauh 80,64 km atau
dibulatkan 80 km. perbedaan kurang atau lebih sedikit tidak masalah

14
karena al-Qur'an tidak secara jelas memberikan batasan jarak dan
hadist-hadist dan perhitungan jarak mil dan farsakh versi lama masih
mengalami perbedaan. Imam Syafii sangat ketat memberlakukan
hitungan tersebut, yakni harus melebih minimal 80,6 km tidak boleh
kurang.
3. Mengetahui hukum diperbolehkannya qashar.
4. Sholat yang di qashar berupa sholat empat roka'at. Yakni Dhuhur,
Ashar dan Isya'.
5. Niat qashar pada saat takbirotul ihram.
6. Tidak bermakmum/berjama'ah kepada orang yang tidak sedang
melakukan qashar sholat.
7. Tidak berniat mukim untuk jangka waktu lebih dari tiga hari tiga malam
di satu tempat.
Para ulama berbeda pendapat mengenai berapa lama seorang
musafir masih diperbolehkan melakukan qashar ketika transit di satu
tempat. Mayoritas ulama dan mazhab empat kecuali Hanafi mengatakan
maksimum transit yang diperbolehkan melakukan qashar adalah tiga
hari. Kalau seorang musafir menetap di satu tempat telah melebihi tiga
hari maka ia tidak boleh lagi melakukan qashar dan harus
menyempurnakan sholat. Pendapat kedua diikuti imam Hanafi dan
Sofyan al-Tsauri mengatakan maksimum waktu transit yang
diperbolehkan jama' adalah 15 hari. Pendapat ketiga diikuti sebagian
ulama Hanbali dan Dawud mengatakan maksimum 4 hari.
SYARAT-SYARAT JAMA' TAQDIM
Orang yang sedang bepergian, diperbolehkan melakukan sholat
jama' taqdim, dengan syarat sebagai berikut :
1. Bukan berpergian maksiat .
2. Jarak yang akan ditempuh, sedikitnya berjarak 80,64 km. (mazhab
Syafii)
3. Berniat jama' taqdim dalam sholat yang pertama ( Dhuhur /
Maghrib).

15
4. Tartib, yakni mendahulukan sholat dhuhur sebelum sholat ashar dan
mendahulukan sholat maghrib sebelum sholat isya'.
5. Wila, yakni setelah salam dari sholat pertama, segera cepat-cepat
melakukan sholat kedua, tenggang waktu anatara sholat pertama dengan
sholat kedua, selambat-lambatnya, kira-kira tidak cukup untuk
mengerjakan dua roka'at singkat.
SYARAT-SYARAT JAMA' TA'KHIR
Orang yang sedang bepergian, diperbolehkan melakukan jama'
ta'khir apabila memenuhi syarat sebagai berikut :
1. Bukan bepergian maksiat.
2. Jarak yang ditempuh, sedikitnya berjarak 80,64 km. (mazhab Syafii)
3. Berniat jama' ta'khir didalam waktu dhuhur atau waktu maghrib.
KONDISI DIPERBOLEHKAN MELAKUKAN JAMA'
Ketentuan jama' dan atas adalah mengacu kepada pendapat
mazhab Syafii. Berikut ini adalah kondisi-kondisi yang diperbolehkan
melakukan sholat dengan jama' dari berbagai mazhab:
1. Perjalanan panjang lebih dari 80,64km (Syafii dan Hanbali).
2. Perjalanan mutlak meskipun kurang 80km (Maliki).
3. Hujan lebat sehingga menyulitkan melakukan sholat berjamaah
khusus untuk sholat maghrib dan isya' (Maliki, Hanbali). Termasuk
kategori ini adalah jalan yang becek, banjir dan salju yang lebat.
Mazhab Syafii untuk kondisi seperti ini hanya memperbolehkan jama'
taqdim. Dalil dari pendapat ini adalah hadist Ibnu Abbas bahwa
Rasulullah s.a.w. sholat bersama kita di Madina dhuhur dan ashar
digabung dan maghrib dan isya' digabung, bukan karena takut dan
bepergian" (h.r. Bukhari Muslim).
4. Sakit (menurut Maliki hanya boleh jama' simbolis, yaitu melakukan
solat awal di akhir waktunya dan melakukan sholar kedua di awal
waktunya. Menurut Hanbali sakit diperbolehkan menjama' sholat).
5. Saat haji yaitu di Arafah dan Muzdalifah.

16
6. Menyusui, karena sulit menjaga suci, bagi ibu-ibu yang anaknya
masih kecil dan tidak memakai pampers (Hanbali).
7. Saat kesulitan mendapatkan air bersih (Hanbali).
8. Saat kesulitan mengetahu waktu sholat (Hanbali).
9. Saat perempuan mengalami istihadlah, yaitu darah yang keluar di
luar siklus haid. (Hanbali). Pendapat ini didukung hadist Hamnah ketika
meminta fatwa kepada Rasulullah s.a.w. saat menderita istihadlah,
Rasulullah s.a.w. bersabda:"Kalau kamu mampu mengakhirkan dhuhur
dan menyegerakan ashar, lalu kamu mandi dan melakukan jama' kedua
sholat tersebut maka lakukanlah itu" (h.r. Ahmad, Abu Dawud dan
Tirmidzi.
10. Karena kebutuhan yang sangat mendesak, seperti khawatir
keselamatan diri sendiri atau hartanya atau darurat mencari nafkah dan
seperti para pekerja yang tidak bisa ditinggal kerjaannya. (Hanbali).
Para pekerja di kota-kota besar yang pulang dengan tansportasi umum
setelah sholat ashar sering menghadapi kondisi sulit untuk
melaksanakan sholat maghrib secara tepat waktu karena kendaraan
belum sampai di tujuan kecuali setelah masuk waktu isya', sementara
untuk turun dan melakukan sholat maghrib juga tidak mudah. Pada
kondisi ini dapat mengikuti mazhab Hanbali yang relatif fleksibel
memperbolehkan pelaksanaan sholat jama'. Menurut mazhab Hanbali
asas diperbolehkannya qashar sholat adalah karena bepergian jauh,
sedangkan asas diperbolehkannya jama' adalah karena hajah atau
kebutuhan. Maka ketentuan jama' lebih fleksibel dibandingkan dengan
ketentuan qashar.

2.3 Tata Cara Bersuci dan Beribada Dalam Perjalanan


2.3.2 Tata cara bersuci dalam perjalanan
Orang yang bertayamum harus menomorsatukan niat dengan tujuan
diperbolehkan melaksanakan shalat atau diperbolehkan melaksanakan
sesuatu yang terhalang untuk dilakukan karena adanya hadats dan

17
membutuhkan bersuci, misalnya shalat dan thawaf. Adapun tempat niat
terletak dalam hati, dan mengucapkannya di bibir merupakan perkara
bid’ah. Kemudian ucapkan bismillah seraya menepukkan kedua
tangannnya diatas permukaan tanah, tepatnya pada debu yang suci, sekali
letakan dengan membuka lebar-lebar jarinya, kemudian mengibaskan
keduanya dan mengusapkan keduanya pada wajah dan kedua telapak
tangannya, merujuk hadits narasi Ammar, bahwasannya Nabi S.A.W
bersabda: “Sebenarnya cukup bagimu melakukan begini saja.” Nabi
S.W.A lalu menepukkan kedua telapak tangannya ke tanah dan
menghembuskannya, kemudian mengusapkannya ke wajah dan kedua
telapak tangannya. (Muttafaq ‘alaih: Shahih Al-Bukhari)
Merujuk hadits ini, menepuk kedua tangan ke tanah cukup dilakukan
sekali, dan mengusap kedua tangaan dalam tayamum sudah cukup dengan
mengusap kedua telpak tangan saja. Termasuk sunnah dalam hal ini
mengibas-ngibaskan kedua tangannya dan meniup debunya, tanpa perlu
melumuri wajahnya dengan debu. Versi lain diriwayatkan dari Nafi’ dari
Ibnu Umar, ia berkata: Tayamum hanya dua tepukan; satu tepukan untuk
wajah dan satu tepukan untuk kedua telapak tangan hingga siku.” (HR.
Ad-Daruquthni, dan Al-Baihaqi). Terkait hadits-hadits marfu’ tentang
tayamum dalam versi terakhir, Ibnu Al-Mundzir berkomentar: Tiga khabar
atau hadits yang diajukan sebagai dalil oleh kalangan yang mengatakan
bahwa tayamum harus mengusap tangan sampai siku semuanya ma’lul,
sehingga tidak dapat dijadikan sebagai dalil. (HR. Al-Baihaqi)
Ada dua tata cara tayamum yang dikemukakan oleh ulama. Cara
pertama diajukan Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i. Menurut dua
mazhab ini, tayamum dilakukan dengan dua kali tepukan. Tepukan
pertama mengambil debu untuk mengusap wajah, dan tepukan kedua
mengambil debu untuk mengusap tangan dan lengan sampai siku. Adapun
car kedua, yang dikemukakan Mazhab Maliki dan Mazhab Hanbali, adalah
dengan satu kali tepukan untuk mengambil debu. Kemudian debu di

18
bagian jari-jari diusapkan kepada wajah, dan debu di bagian telapak
tangan diusapkan pada bagian luar tangan hingga pergelangan.
2.3.3 Tata cara beribada dalam perjalanan
CARA JAMA' TAQDIM
Yang dimaksud dengan sholat jama' taqdim adalah, melakukan sholat
ashar dalam waktunya sholat dhuhur, atau melakukan sholat isya' dalam
waktunya sholat maghrib. Sholat shubuh tidak dapat dijama' dengan sholat
isya'. Pelaksanaan sholat dengan jama' taqdim antara sholat dhuhur dengan
ashar, dilakukan dengan cara, setelah masuk waktu dhuhur, terlebih dahulu
melakukan sholat dhuhur, dan ketika takbirotul ihram, berniat menjama'
sholat dhuhur dengan ashar.
Contoh : Usholli fardlod-dhuhri jam'an bil 'ashri taqdiman lillahi ta'ala.
Artinya : "Saya berniat sholat dhuhur dengan dijama' taqdim dengan ashar
karena Allah"
Niat jama' taqdim, dapat juga dilakukan di tengah-tengah sholat dhuhur
sebelum salam, dengan cara berniat didalam hati tanpa diucapkan,
menjama' taqdim antara ashar dengan dhuhur. Kemudian setelah salam
dari sholat dhuhur, cepat-cepat melakukan sholat ashar. Demikian juga
cara sholat jama' taqdim antara sholat maghrib dengan sholat isya', sama
dengan cara jama' taqdim antara sholat dhuhur dengan ashar, dan lafadz
dhuhur diganti dengan maghrib, lafadz ashar diganti dengan isya'.
Jika sholat jama' taqdim dilakukan dengan qashar, maka sholat yang
empat raka'at, yaitu dhuhur, ashar, dan isya', diringkas menjadi dua rokaat.
Contoh niat jama' taqdim serta qashar:
Usholli fardlod-dhuhri rok'ataini jam'an bil 'ashri taqdiman wa qoshron
lillahi ta'ala
Artinya : "Saya berniat sholat dhuhur dua roka'at dengan dijama' taqdim
dengan ashar dan diqashar karena Allah "
CARA JAMA' TA'KHIR
Yang dimaksud dengan jama' ta'khir adalah, melakukan sholat
dhuhur dalam waktunya sholat ashar, atau melakukan sholat maghrib

19
dalam waktunya sholat, isya'. Sholat shubuh tidak dapat dijama' dengan
sholat dhuhur. Pelaksanaan sholat jama' ta'khir antara sholat dhuhur dan
ashar, dilakukan dengan cara, apabila telah masuk waktu dhuhur, maka
dalam hati niat mengakhirkan sholat dhuhur untuk dijama' dengan sholat
ashar dalam waktu sholat ashar. Kemudian setelah masuk waktu ashar,
melakukan sholat dhuhur dan sholat ashar seperti biasa tanpa harus
mengulangi niat jama' ta'khir. Demikian juga cara melakukan jama' ta'khir
sholat magrib dengan sholat isya'. Ketika masuk waktu maghrib berniat
dalam hati mengakhirkan sholat maghrib untuk di jama' pada waktu sholat
isya'.

SHOLAT DI ATAS KENDARAAN


Pelaksanaan sholat di atas kendaraan pesawat, sama seperti sholat
ditempat lainnya. Jika dimungkinkan berdiri, maka harus dilakukan
dengan berdiri, ruku' dan sujud dilakukan seperti biasa dengan menghadap
qiblat. Namun jika tidak bisa dilakukan dengan berdiri, maka boleh sholat
dengan duduk dan isyarat untuk sholat sunnah. Sedangkan untuk sholat
fardlu maka ruku-rukun sholat seperti ruku' dan sujud, mutlak tidak boleh
ditinggalkan. Sholat fardlu yang dilaksanakan di atas kendaraan sah
manakala memungkinkan melakukan sujud dan ruku' serta rukun-rukun
lainnya. Itu dapat dilakukan di atas pesawat atau kapal api yang
mempunyai ruangan atau tempat yang memungkinkan melakukan sholatg
secara sempurna. Apabila tidak memungkinkan melakukan itu, maka
sholat fardlu sambil duduk dan isyarat bagi orang yang sehat tidak sah dan
harus diulang. Demikian pendapat mayoritas ulama. Pendapat ini
dilandaskan kepada hadist-hadist berikut:
1. Dalam hadist riwayat Bukhari dari Ibnu Umar r.a.
berkata:"Rasulullah s.a.w. melakukan sholat malam dalam bepergian di
atas kendaraan dengan menghadap sesuai arah kendaraan, beliau
berisayarat (ketika ruku' dan sujud), kecuali sholat-sholat fardlu. Beliau
juga melakukan sholat witir di atas kendaraan.

20
2. Hadist Bukhari yang lain dari Salim bin Abdullah bin Umar r.a.
berkata:"Abdullah bin Umar pernah sholat malam di atas kendaraannya
dalam bepergian, beliau tidak peduli dengan arah kemana menghadap.
Ibnu Umar berkata:"Rasulullah s.a.w. juga melakukan sholat di atas
kendaraan dan menghadap kemana kendaraan berjalan, beliau juga
melakukan sholat witir, hanya saja itu tidak pernah dilakukannya untuk
sholat fardlu".
Bagaimana melaksanakan sholat fardlu di atas kendaraan yang tidak
memungkinkan memenuhi rukun-rukun sholat? Terdapat dua cara, yaitu:
1. Melakukan sholat untuk menghormati waktu (lihurmatil wakti) dengan
sebisanya, misalnya sambil duduk dan isyarat. Sholat seperti ini wajib
diulang (I'adah), setelah menemukan sarana dan prasarana melaksanakan
sholat fardlu secara sempurna. Cara melakukan sholat lihurmatil waqti,
sama seperti melakukan sholat biasa, hanya saja, bagi yang sedang
berhadats besar, seperti junub, dicukupkan dengan hanya membaca bacaan
yang wajib-wajib saja, tidak boleh membaca surat-suratan setelah bacaan
fatihah.

2.4 Hukum Orang Bersuci dan Beribada Dalam Perjalanan


2.4.2 Perbedaan pendapat tentang bertayamum
Para ulama juga masih berselisih pandangan mengenai status
tayamum. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa tayamum merupakan
pengganti bersuci yang bersifat mutlak dan setara dengan wudlu atau
mandi. Artinya, tayamum benar-benar dapat menghilangkan hadats secara
hakiki. Adapun mazhab selain Hanafi berpandangan bahwa tayamum
hanyalah pengganti bersuci yang bersifat darurat. Ia tidak benar-benar
menghilangkan hadats, namun hanya menghilangkan hukumnya saja.
Perselisihan dua pandangan ini menyebabkan perbedaan dalam tiga hal.
Pertama, waktu tayamum. Dalam pandangan pertama, karena setara
dengan wudlu dan mandi, tayamum sah dilakukan kapan pun, tanpa harus
menunggu masuknya waktu ibadah yang hendak dilakukan. Adapun

21
menurut pandangan kedua, tayamum baru sah dilakukan setelah masuknya
waktu ibadah, jika ibadah tersebut memiliki batasan waktu (muaqqat).
Misalnya, orang yang hendak bertayamum untuk mengerjakan shalat
dhuhur harus menunggu hingga masuk waktu dhuhur.
Kedua, ibadah yang boleh dilakukan dengan satu kali tayamum.
Pandangan pertama menyatakan bahwa dengan sekali tayamum seseorang
boleh melakukan ibadah berkali-kali tanpa ada batasan bilangan, baik
wajib maupun sunnah, selama ia belum berhadats dan belum menemukan
air. Namun, menurut pandangan kedua, tayamum hanya boleh digunakan
untuk sekali ibadah wajib. Untuk mengerjakan ibadah wajib lain, tayamum
harus diulangi lagi. Namun, dengan sekali tayamum, orang boleh
melakukan ibadah sunnah berkali-kali atau sekali ibadah wajibdan berkali-
kali ibadah sunnah, selama ia belum berhadatsdan belum menemukan air.
Ketiga, niat tayamum. Pandangan pertama menyatakan tayamum,
baik diniati untuk ibadah sunnah maupun wajib, boleh digunakan untuk
semua jenis ibadah. Adapun dalam pandangan kedua, tayamum yang
diniati untuk ibadah sunnah hanya bisa digunakan untuk mengerjakan
ibadah sunnah saja. Sementara, jika seorang bertayamum dengan niat
untuk ibadah wajib, ia boleh menggunakannya untuk melaksanakan ibadah
wajib mauppun sunnah. Meski demikian, semua ulama bersepakat bahwa
tayamum merupakan taharah pengganti.

Rukun Tayamum

Dalam menentukan rukun tayamum, para ulama juga berbeda


pandangan. Pertama, niat. Semua ulama sepakat bahwa niat merupakan
salah satu rukun tayamum. Bedanya, Mazhab Syafi’i menyatakan bahwa
niat harus dilakukan saat menepukkan telapak tangan untuk mengambil
debu, sedangkan mazhab lain menempatkan niat saat mengusap wajah.
Kedua, mengusap wajah. Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i

22
berpandangan bahwa yang wajib diusap adalah seluruh tangan dan lengan
sampai siku, sementara Mazhab Maliki dan Mazhab Hanbali
mencukupkan hanya mengusap tangan sampai pergelangan. Keempat,
tertib, yakni mengusap wajah dulu, kemudian mengusap dua tangan. Hal
ini merupakan rukun dalam pandangan Mazhab Syafi’i, baik dalam
tayamum untuk hadats kecil maupun untuk hadats besar.
Namun, Mazhab Hanbali mensyaratkan tertib hanya dalam
tayamum untuk hadats kecil. Dua mazhab lainnya, yaitu Mazhab Hanafi
dan Mazhab Maliki, tidak memasukkan tertib dalam rukun tayamum.
kelima, muwalah, yaitu bersegera dan tanpa jeda. Mazhab Maliki
mewajibkan bersegera diantara mengusap wajah dan tangan dalam
tayamum, juga antara tayamum dan ibadah yang hendak dilakukan.
Sementara Mazhab Hanbali hanya mewajibkan muwalah dalam tayamum
untuk hadats kecil. Dua mazhab lainnya, yakni Mazhab hanafi dan Mazhab
Syafi’i, memandang muwalah sebagai sunnah saja.
Debu Yang Digunakan Untuk Bertayamum
Para ulama bersepakat bahwa tayamum harus menggunakan debu
atau tanah yang suci, seperti kerikil, batu, dan kapurbatu, sebagaimana
firman Allah S.W.T: “Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik
(suci).” (QS. An-nisa’ (4): 43). Mengenai perinciannya, para ulama
kembali berbeda pandangan. Ulama Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki
menyatakan bahwa tayamum boleh menggunakan segala jenis bahan di
permukaan bumi, seperti tanah, pasir, kerikil, dan batu, meskipun ketika
ditepuk tidak ada debu yang menempel di telapak tangan. Menurut
mereka, tayamum juga boleh dilakukan dengan segala jenis bahan yang
berasal dari dalam bumi, seperti kapur dan marmer; atau barang-barang
tambang, seperti bijih logam, kecuali emas, perak, dan batu mulia.
Berbeda dengan pandangan ini, Mazhab Syafi’i dan Mazhab
Hambali berpandangan bahwa tayamum hanya dibolehkan menggunakan
tanah berdebu, yaitu tanah murni yang ketika ditepuk ada debu yang

23
menempel di telapak tangan. Begitu pula diperbolehkan bertayamum
dengan debu yang menempel di pakaian atau tembok.

2.4.2 Hukum-hukum yang mendasari saat beribada dalam perjalanan

SEMPURNA ATAU QASHAR?

Para ulama berbeda pendapat mengenai manakah yang lebih utama


dalam melaksanakan sholat saat bepergian, apakah dengan sempurnya
seperti biasa ataukah dengan qashar.

Pendapat pertama mengatakan qashar shalat saat bepergian


hukumnya wajib. Pendapat ini diikuti mazhab Hanafiyah, Shaukani, Ibnu
Hazm dan dari ulama kontemporer Albani. Bahkan Hamad bin Abi
Sulaiman mengatakan barangsiapa melakukan sholat 4 rakaat saat
bepergian, maka ia harus mengulanginya. Imam Malik juga diriwayatkan
mengatakan mereka yang tidak melakukan qashar harus mengulangi
sholatnya selama masih dalam waktu sholat tersebut.

Pendapat ini menyandar kepada dalil hadist riwayat Aisyah r.a.


berkata:"Pada saat pertama kali diwajibkan shalat adalah dua rakaat,
kemudian itu ditetapkan pada shalat bepergian, dan untuk sholat biasa
disempurnakan" (Bukhari Muslim). Dalil ini juga diperkuat oleh riwayat
Ibnu Umar r.a. beliau berkata:"Aku menemani Rasulullah s.a.w. dalam
bepergian, beliau tidak pernah sholat lebih dari dua rakaat sampai beliau
dipanggil Allah" (Bukhari Muslim).

Dalil lain dari pendapat ini adalah riwayat Ibnu Abbas r.a. juga
pernah berkata:"Sesungguhnya Allah telah mewajibkan sholat melalui
lisan Nabi kalian s.a.w. bahwa untuk orang bepergian dua rakaat, untuk
orang yang menetap empat rakaat dan dalam keadaan ketakutan satu
rakaat."(H.R. Muslim).

24
Pendapat kedua mengatakan bahwa melakukan sholat dengan cara
qashar saat bepergian hukumnya sunnah. Pendapat ini diikuti oleh mazhab
Syafii dan Hanbali dan mayoritas ulama berbagai mazhab. Dalil pendapat
ini adalah ayat al-Qur'an:

‫"وإذا ضربتم في األرض فليس عليكم جناح أن تقصروا من الصَلة إن خفتم أن يفتنكم‬
"‫الذينكفروا‬
(Annisa:101).
"Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu
men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir.
Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata
bagimu." Ayat ini dengan jelas menyatakan "tidak mengapa" yang berarti
tidak keharusan.
Dalil tersebut juga diperkuat oleh riwayat dari beberapa orang
sahabat yang melakukan sholat sempurna pada saat bepergian. Sekiranya
qashar wajib, tentu tidak akan ada seorang sahabat yang meninggakannya.
Beberapa sahabat yang diriwayatkan tidak melakukan qashar saat
bepergian adalah Usman, Aisyah dan Saad bin Abi Waqqas r.a..
Dalil lain adalah bahwa tatkala seorang musafir bermakmum dengan
orang yang mukim, maka wajib baginya menyempurnakan sholat
mengikuti tata cara shalat imam yang mukim. Imam Syafii mengatakan
telah terjadi konsensus (Ijma') ulama mengenai hal tersebut. Seandainya
sholat musafir wajib qashar dan dua rakaat maka tentu sholatnya musafir
tadi tidak sah karena melebihi dua rakaat. Ini menunjukan bahwa qashar
bukan keharusan, tetapi anjuran atau sunnah.
Pendapat ketiga mengatakan bahwa makruh hukumnya
menyempurnakan sholat saat bepergian dan sangat disunnahkan untuk
melakukan qashar. Alasannya, bahwa qashar merupakan kebiasaan
Rasulullah s.a.w. dan merupakan sunnah, meninggakan sunnah merupakan
perkara makruh. Rasulullah s.a.w. juga mengatakan dalam sebuah hadist

25
yang sangat masyhur:" Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku
melakukannya sholat".

Ajaran Islam memang fleksibel, namun tetap ada batas-batas yang wajib
ditaati. Tidak sedikir orang yang terlalu menganggap Islam sangat fleksibel
sehingga meremehkan sesuatu dengan dasar “Allah itu Maha Pengampun”.
Sebenarnya tidak juga seperti itu dan kita sebagai seorang muslim tidak boleh
tinggal diam dan wajib menyadarkan orang yang berpikir seperti demikian dengan
cara-cara yang baik. Seperti ayat Al-Quran di bawah :

‫ص ُروا ِإن آ َ َمنُوا الَّذِينَ أَيُّ َها يَا‬ ُ ‫أَقدَا َم ُكم َويُثَ ِبت يَن‬
َّ ‫صر ُكم‬
ُ ‫ّللاَ تَن‬
Arti : "Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya
Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (Q.S. Muhammad : 7)

Kata “menolong” yang terdapat pada Surat Muhammad ayat ke-7 di atas
mempunyai arti yang luas, kita berperilaku meluruskan ajaran agama Islam saja
juga termasuk perbuatan “menolong” agama Allah.

1. Meringkas Shalat
Meringkas shalat (qoshor) dimana shalat empat rakaat diringkas menjadi
dua rakaat ketika safar disyariatkan. Dalil-dalil tentang masalah ini di antaranya:
Allah berfirman:

‫صلَ ٰو ِة اِن ِخفتُم اَن َيف ِتنَ ُك ُم الَّذِينَ َكفَ ُروا ا َِّن‬ ُ ‫س َعلَي ُكم ُجنَا ٌح اَن ت َق‬
َّ ‫ص ُروا ِمنَ ال‬ َ ‫ض فَلَي‬
ِ ‫ض َربتُم ِفى االَر‬
َ ‫َواِذَا‬
‫الك ِف ِرينَ كَانُوالَ ُكم َعد ًُّوا ُّمبِينًا‬

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu
meng-qoshor sholat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir.
Sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu.” (Qs. An Nisa’:
101)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

26
َ ‫سفَ ِر َوأُتِ َّمت‬
َ ‫صالَة ُ ال َح‬
‫ض ِر‬ َ ‫فَأُقِ َّرت‬،‫ضت َركعَت َي ِن‬
َّ ‫صالَة ُ ال‬ َ ‫صالَة َ أَ َّو ُل َمافُ ِر‬
َّ ‫أَ َّن ال‬

“Pertama kali sholat diwajibkan adalah dua raka’at, maka tetaplah sholat musafir
dua raka’at dan shalat orang yang muqim (menetap) sempurna (empat raka’at).”
(HR. Al Bukhari: 1090 dan Muslim:685)

Asy Syinqithi mengatakan, “Para ulama bersepakat atas disyariatkannya meng-


qoshor sholat empat raka’at ketika safar. Berbeda dengan orang-orang yang
mengatakan bahwa tidak ada qoshor kecuali ketika haji, umroh, atau ketika
keadaan mencekam. sesungguhnya perkataan seperti ini tidak ada dasarnya
menurut ahli ilmu.” (Adhwa’ul Bayan 1/265).

a. Shalat yang boleh diqoshor.

Merupakan perkara yang disepakati oleh para ulama, shalat yang boleh diringkas
adalah shalat Zhuhur, Ashar, dan ‘Isya’. Imam Ibnul Mundzir berkata, “Para
ulama telah sepakat bahwa sholat Maghrib dan Shubuh tidak boleh diqoshor.” (al-
Ijma’ hal. 9)

b. Kapan seorang musafir boleh meringkas shalat?

Orang yang safar diperbolehkan meringkas shalatnya apabila telah berangkat dan
meninggalkan tempat tinggalnya. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

‫الظه َر َم َع النَّ ِبي ِ ِبال َمدِينَ ِة أَربَعًا َو ِبذِى ال ُحلَيفَ ِة َرك َعتَي ِن‬
ُّ ُ‫صلَّيت‬
َ .

“Aku shalat bersama Nabi di Madinah empat raka’at dan di Dzulhulaifah dua
raka’at.” (HR. Al Bukhari:1039 dan Muslim:690)

c. Apabila musafir bermakmum kepada muqim.

Kewajiban seorang musafir apabila bermakmum di belakang muqim adalah tetap


shalat secara sempurna mengikuti imamnya berdasarkan keumuman hadits,
‫إِنَّ َما ُج ِع َل ا ِإل َما ُم ِليُؤتَ َّم بِ ِه‬

27
“Sesungguhnya (seseorang) itu dijadikan imam untuk diikuti”. (HR. Al
Bukhari:722 dan Muslim:414)

Dan juga para shahabat shalat di belakang Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan
radhiyallahu ‘anhu, tatkala beliau shalat di Mina empat raka’at, maka para
shahabat tetap mengikutinya shalat empat raka’at. Oleh karena itu Ibnu ‘Abbas
radhiyallahu ‘anhuma ketika ditanya, “Mengapa seorang musafir kalau shalat
sendirian dia shalat dua raka’at tetapi kalau shalat bersama imam dia shalat empat
raka’at ?”, beliau menjawab, “Demikianlah sunnah Abul Qashim (Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)” (Liqa’ Bab Maftuh hal. 40)

Mengomentari atsar Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma ini, Syaikh Al Albani


rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini terdapat dalil yang sangat jelas bahwa
seorang musafir apabila bermakmum kepada muqim maka dia menyempurnakan
dan tidak menqoshor. Ini merupakan madzhab imam yang empat dan selain
mereka. Bahkan Imam Syafi’i menceritakan dalam Al Umm (1/159) kesepakatan
mayoritas ulama akan hal itu dan disetujui oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam
Fathul Bari (2/465).” (Silsilah Ahadits Shohihah 6/387)

d. Lupa shalat ketika safar dan ingat ketika muqim.

Kalau ada seorang musafir lalu dia ingat bahwa dia belum shalat Zhuhur –
misalnya—ketika masih di rumah, apakah dia shalat qoshor dua raka’at
(mengingat keadaan dirinya sekarang sebagai musafir) ataukah empat raka’at
(karena keadaan ketika lupa adalah saat muqim)? Demikian juga sebaliknya, kalau
ketika muqim teringat bahwa dia lupa belum shalat ketika dalam safarnya, apakah
dia melakukannya qoshor ataukah menyempurnakan shalat?!

Masalah ini diperselisihkan para ulama. Akan tetapi yang benar – Wallahu a’lam
– bahwa yang menjadi patokan adalah keadaan ketika dia lupa tersebut. Artinya,
dia qoshor kalau shalat yang dia tinggalkan adalah ketika safar walaupun dia ingat
ketika muqim. Begitu pula, dia tetap shalat secara sempurna kalau shalat yang dia

28
tinggalkan adalah ketika muqim meskipun dia ingat ketika dalam keadaan safar.
Dasarnya adalah keumuman hadits,

‫ص ِل َها ِإذَا ذَك ََرهَا‬ َ ‫صالَةً أَو ن‬


َ ُ‫َام َعن َها فَلي‬ َ ‫ِي‬
َ ‫َمن نَس‬

“Barangsiapa yang lupa akan shalat atau tertidur maka hendaknya dia
mengerjakannya ketika dia ingat.” (HR. Al Bukhari:572 dan Muslim:682)

e. Sudah qoshor dan jama’ kemudian tiba di kampung sebelum waktu shalat
kedua.

Gambaran masalahnya, ada seorang musafir telah mengerjakan shalat zhuhur dan
asar dengan qoshor di perjalanan. Kemudian sampai di rumah sebelum masuknya
waktu shalat asar. Apakah dia berkewajiban untuk mengulang shalatnya?
Jawabnya tidak harus karena dia telah menunaikan kewajibannya (Ta’liqot
Syaikh Ibni ‘Utsaimin ‘ala Qowa’id Ibni Rojab 1/35).

2. Menjama’ (Menggabung) Dua Shalat

Termasuk kesempurnaan rahmat Allah bagi seorang musafir adalah diberi


keringanan untuk menjama’ dua shalat di salah satu waktunya. Ibnu ‘Abbas
radhiyallahu ‘anhuma berkata,

َ‫سير َويَج َم ُع بَين‬


َ ‫ظه ِر‬ ُّ ‫صالَةِ ال‬
َ ‫ظه ِر َوال َعص ِر إِذَا َكانَ َعلَى‬ َ َ‫سلَّ َم يَج َم ُع بَين‬
َ ‫صلَّى هللاُ َعلَي ِه َو‬ ُ ‫َكانَ َر‬
َ ِ‫سو ُل هللا‬
‫َاء‬
ِ ‫ب َوال ِعش‬
ِ ‫ال َمغ ِر‬

“Apabila dalam perjalanan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjama’


shalat Zhuhur dengan Asar serta Maghrib dengan ‘Isya’.” (HR. Al Bukhari:1107
dan Muslim:704)

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Boleh menjama’ shalat Zhuhur dan
Asar di salah satu waktu keduanya sesuai kehendaknya. Demikian pula shalat
Maghrib dan ‘Isya’, baik safarnya jauh atau dekat.” (Syarh Shahih Muslim 6/331)

29
Imam Ibnu Qudamah rahimahulah berkata, “Boleh menjama’ antara Zhuhur dan
Asar serta Maghrib dan ‘Isya’ pada salah satu waktu keduanya.” (Al Muqni’ 5/84)

Shalat yang boleh dijama’ adalah shalat Zhuhur dengan Asar serta shalat Maghrib
dengan ‘Isya’. Adapun shalat shubuh tidak boleh dijama’ dengan shalat yang
sebelumnya atau sesudahnya. Demikian pula tidak boleh menjama’ shalat asar
dengan maghrib. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

‫صلَّى‬
َ ‫ت العَص ِر ث ُ َّم يَج َم ُع بَينَ ُه َما َوإِذَا زَ اغَت‬ ُّ ‫س أ َ َّخ َر ال‬
ِ ‫ظه َر إِلَى َوق‬ َّ ‫ي إِذَا ارت َ َح َل قَب َل أَن ت َِزي َغ ال‬
ُ ‫شم‬ ُّ ِ‫َكانَ النَّب‬
ُّ ‫ال‬.
َ ‫ظه َر ث ُ َّم َر ِك‬
‫ب‬

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berangkat sebelum matahari


tergelincir maka beliau mengakhirkan shalat Zhuhur hingga Asar kemudian
menjama’ keduanya. Apabila beliau berangkat setelah Zhuhur maka beliau shalat
Zhuhur kemudian baru berangkat.” (HR. Al Bukhari:1111 dan Muslim:704)

Adapun tatacara menjama’ shalat adalah menggabungkan dua shalat dalam salah
satu waktu, baik diakhirkan maupun dikedepankan. Misalnya shalat Zhuhur dan
Asar dijama’ (digabung) dikerjakan pada waktu Zhuhur atau pada waktu Asar,
keduanya boleh. Hendaklah adzan untuk satu kali shalat dan iqomah pada setiap
shalat. yaitu satu kali adzan cukup untuk Zhuhur dan Asar dan iqomah untuk
setiap shalat (HR. Al Bukhari: 629).

3. Shalat Berjama’ah (Terutama Bagi Laki-Laki)


Shalat berjama’ah tetap disyariatkan ketika safar. Bahkan para ulama mengatakan
bahwa hukum shalat berjama’ah tidak berubah baik ketika safar maupun muqim
berdasarkan dalil-dalil berikut:

a. Al Qur’an. Allah berfirman,

‫طآ ئِفَةٌ ِمن ُهم َّم َعكَ َوليَأ ُخذ ُ ۤوا اَس ِل َحت َ ُهم‬
َ ‫صلَ ٰوة َ فَلتَقُم‬
َّ ‫)﴾ َواِذَا ُكنتَ فِي ِهم فَاَقَمتَ لَ ُه ُم ال‬

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu


hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan

30
dari mereka berdiri (sholat) besertamu dan menyandang senjata.” (Qs. An Nisa’:
102)

b. As-Sunnah

Nabi shall allahu ‘alaihi wa sallam senantiasa tetap shalat berjama’ah ketika safar
sebagaimana dalam kisah tertidurnya beliau bersama para shahabatnya ketika
safar hingga lewat waktu shubuh. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam telah bersabda,

َ ُ ‫صلُّوا َك َما َرأَيت ُ ُمونِي أ‬


‫ص ِلي‬ َ

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Al Bukhari:631.


Lihat Syarh Al Mumthi’ 4/141)

4. Shalat di Atas Kendaraan

Pada asalnya, shalat wajib tidak boleh ditunaikan di atas kendaraan. Hendaknya
dikerjakan dengan turun dari kendaraan sebagaimana perbuatan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam terkecuali dalam keadaan terpaksa seperti khawatir akan
habisnya waktu shalat. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

َ ُ‫ق فَإِذَا أ َ َرادَ أَن ي‬


‫ص ِلي ال َمكتُوبَةَ نَزَ َل‬ ِ ‫احلَتِ ِه نَح َو ال َمش ِر‬
ِ ‫علَى َر‬ َ ُ‫سلَّ َم َكانَ ي‬
َ ‫ص ِلي‬ َ ‫صلَّى هللاُ َعلَي ِه َو‬ َّ ِ‫أ َ َّن النَّب‬
َ ‫ي‬

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat (sunnah) di atas kendaraannya


ke arah timur. Apabila beliau hendak shalat wajib maka beliau turun dari
kendaraan kemudian menghadap kiblat”. (HR. Al Bukhari : 1099).

Adapun tatacara shalat di atas kendaraan, baik itu pesawat, bus, kereta, atau kapal
laut, adalah sebagai berikut:

Hendaklah shalat dengan berdiri menghadap kiblat apabila mampu. Rasulullah


shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang shalat di atas perahu. Beliau
menjawab,

31
َ‫ص ِل قَائِ ًما إِن لَم ت َخَف الغ ََرق‬
َ

“Shalatlah dengan berdiri kecuali apabila kamu takut tenggelam.” (HR. Al


Hakim 1/275, Daraqutni 1/395, Al Baihaqi dalam Sunan Kubro 3/155,
dishahihkan oleh Al Albani dalam Ashlu Shifat Shalat Nabi 1/101)

Syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan, “Hukum shalat di atas pesawat itu


seperti shalat di atas perahu. Hendaklah shalat dengan berdiri apabila mampu. Jika
tidak, maka shalatlah dengan duduk dan berisyarat ketika ruku’ dan sujud” (Ashlu
Shifat Shalat Nabi 1/102).

Berusahalah tetap shalat berjama’ah (terutama bagi laki-laki). Apabila dalam


kendaraan ada ruang yang bisa digunakan shalat berjama’ah maka shalatlah
dengan berjama’ah walaupun hanya dua orang. Bila tidak, maka shalatlah
berjama’ah dengan duduk.

Kerjakan shalat seperti biasa: niat dalam hati, takbiratul ihram, membaca doa
iftitah, membaca Al Fatihah, membaca surat dalam Al Qur’an, ruku’, kemudian
bangkit dari ruku’, lalu sujud. Bila tidak mampu ruku’, maka cukup dengan
menundukkan kepala dan engkau dalam keadaan berdiri. Bila tidak mampu sujud,
maka cukup dengan duduk seraya menundukkan kepala. Apabila shalatnya
dikerjakan dalam keadaan duduk, maka ketika ruku’ dan sujud cukup dengan
menundukkan kepala dan jadikan posisi kepala untuk sujud itu lebih rendah.
(Majma’ Fatawa wa Rosa’il Ibnu ‘Utsaimin 15/250)

32
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

1. Al Qur’an adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,

َ ِ‫سفَ ٍر أ َ ْو َجا َء أ َ َحد ٌ ِم ْن ُك ْم ِمنَ ْالغَائِ ِط أَ ْو ََل َم ْست ُ ُم الن‬


‫سا َء فَلَ ْم ت َِجدُوا َما ًء فَتَ َي َّم ُموا‬ َ ‫ضى أ َ ْو َعلَى‬
َ ‫َو ِإ ْن ُك ْنت ُ ْم َم ْر‬
ُ‫س ُحوا ِب ُو ُجو ِه ُك ْم َوأ َ ْيدِي ُك ْم ِم ْنه‬َ ‫ط ِيبًا فَا ْم‬َ ‫ص ِعيدًا‬ َ

“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat
buang air atau berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak
memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang
baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (QS. Al
Maidah [5] : 6).

33
2. a. Berstatus safar

b. Debu yang digunakan untuk bersuci sudah memenuhi persyaratan

c. Suci dari hadats

d. Khawatir keluar waktu shalat sebelum sampai di tujuan.

e. Tidak memungkinkan baginya untuk menghentikan kendaraan sejenak


untuk shalat. Semacam orang yang naik pesawat, kereta api, dst.

3. A. Bersuci
Rasulullah pernah mengutusku untuk suatu keperluan. Ketika itu
saya sedang junub dan tidak mendapatkan air. Maka saya berguling-guling
di tanah sebagaimana berguling-gulingnya seekor binatang. Lalu saya
mendatangi Nabi shollAllahu ‘alaihi wa sallam. Saya ceritakan kejadian
itu kepada beliau. Kemudian beliau berkata, “Sebenarnya cukup bagimu
untuk menepukkan telapak tangan demikian.” Kemudian beliau
menepukkan kedua telapak tangannya ke tanah sekali tepukan, lalu beliau
tiup. Setelah itu beliau usapkan ke muka dan kedua telapak tangan beliau.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

B. Beribadah
Untuk beribadah atau shalat di atas kendaraan

‫والسماء من فوقهم والبلة من أسفل منهم فحضرت الصَلة فأمر المؤذن فأذن وأقام ثم تقدم‬
‫رسول هللا صلى هللا عليه وسلم على راحلته فصلى بهم يومئ إيماء يجعل السجود أخفض من‬
‫الركوع‬

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat berada


di sebuah daerah yang sempit ketika safar dan beliau di atas kendaraan.
Ketika itu turun hujan, dan suasana tanah becek di bawah mereka.
Kemudian datanglah waktu shalat. Beliau memerintahkan muadzin

34
untuk adzan dan iqamah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
maju dengan hewan tunggangannya dan mengimami mereka. Beliau
shalat dengan isyarat kepala, dimana sujudnya lebih rendah dari pada
rukuknya. (HR. Ahmad, dan Turmudzi. Hadis ini diperselisihkan
statusnya oleh para ulama).

Referensi: Fatawa Lajnah Daimah, 8:126


Selain beribadah seperti di atas, ada juga shalat dengan dijama’
4. Bagi orang yang sedang berada di dalam perjalanan atau safar shalat tetap
harus dilakukan. Islam sangat fleksibel dalam hal di atas. Hamba Nya
diberi kemudahan untuk bersuci dan beribadah di dalam perjalanan dan
hukum bersuci dan beribadah di dalam perjalanan adalah wajib.

Saran

Kami berharap agar makalah ini dapat dijadikan referensi dan rujukan bagi
seseorang dalam bersuci dan beribadah sebagai seorang musafir dan dapat
memperdalam ilmu agama Islam dan ruang lingkupnya serta dapat berguna bagi
kehidupan di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Ali Anwar Yusuf.2003.Studi Agama Islam untuk Perguruan Tinggi.CV. Bandung:


Pustaka Setia.

http://mujahiduna-mujahiduna.blogspot.com/2011/02/dinul-islam-agama-
islam.html

35