Вы находитесь на странице: 1из 14

PROLOG

Sesuai dengan perkembangan zaman dan terus bertambahnya kebutuhan masyarakat di bidang jasa
hukum,saat ini tugas seorang advokat tidak hanya terbatas menjalankan fungsi beracara dimuka
hakim/pengadilan.Akan tetapi sudah merupakan bagian dari kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan
dari sebuah badan hukum. Terbukti makin maraknya tenaga Konsultan Hukum yang dipakai di
berbagai bidang usaha.
Tulisan ini sengaja saya hadirkan untuk para usahawan yang belum paham atau ingin tahu lebih jauh
lagi tentang peran dan fungsi Legal Audit & Legal Opinion di dunia usaha.
Mengingat kesibukan saya sebagai seorang advokat tentunya tulisan yang singkat ini tidak akan
mampu memuaskan para pembacanya. Harapan saya walaupun tulisan ini singkat tetapi dapat
membuka wawasan para pembaca khususnya para usahawan yang sedang mencari/mau mengajak
bekerjasama dengan konsultan hukum.
Kami juga menyediakan forum tanya jawab bagi para mahasiswa, praktisi hukum, yang ingin
berkonsultasi dengan kami.

ADVOKAT.
Advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik didalam maupun diluar pengadilan
yang memenuhi persyaratan berdasarkan ketentuan UU NO. 18 Tahun 2003 Tentang Advokat.(pasal
1 ayat 1).

Klien adalah orang, badan hukum, atau lembaga lain yang menerima jasa hukum dari Advokat.(pasal
1 ayat 3).

Jasa hukum yang diberikan Advokat berupa:

- Memberikan konsultasi hukum


- Bantuan hukum
- Menjalankan kuasa
- Mewakili
- Mendampingi
- Membela, dan
- Melakukan tindakan lain untuk kepentingan klien

ADVOKASI/KONSULTAN HUKUM
- Profesional
- Integritas
- Objektifitas
- Independensi
- Tunduk kepada kode etik Advokat
- Berpijak kepada peraturan yang berlaku

ADVOKAT/KONSULTAN HUKUM DALAM MENJALANKAN KEWAJIBANNYA HARUS MEMPERHATIKAN :


1) Melaksanakan kerjaanya secara profesional dengan memenuhi semua ketentuan dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, kode etik profesi dan harus independent.
2) Melaksanakan segala pekerjaanya sesuai dengan ruang lingkup pekerjaaanya.
3) Adanya staf dan personil yang ditugaskan mempunyai kualitas yang berpengalaman serta ahli
dibidangnya.
4) Wajib merahasiakan sepenuhnya setiap atau seluruh data dan informasi yang diberikan oleh dan
diperoleh dari klien serta tidak boleh dipergunakan untuk keperluan apapun atau diberitahukan
kepada siapapun tanpa adanya persetujuan tertulis dari klien.
5) Menjamin tidak ada benturan kepentingan(conflict of interst)antar pihak kosultan hukum dengan
klien, pemerintah dan pihak lain.

AUDIT
Adalah Suatu proses dalam arti luas, secara independen terhadap data dan fakta untuk menilai
tingkat kesesuaian, tingkat keamanan, tingkat kewajiban yang disajikan dalam laporan mengenai
opini dan saran perbaikan (Daeng Naja, 2006 :6-7)

Unsur Auditing (pemeriksaan)


1. Data dan Fakta
2. Proses Penilaian
3. Independensi
4. Menilai tingkat kesesuain, tingkat keamanan dan tingkat kewajaran
5. Opini dan saran perbaikan yang disajikan dalam laporan

PENGERTIAN LEGAL AUDIT


adalah Suatu pemeriksaan dan/atau penilaian permasalahan permasalahan hukum mengenai atau
berkaitan dengan suatu perusahaan dan masalah hukum lainnya.

Legal Audit ini dipopulerkan oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dalam rangka
memeriksa kelengkapan yuridis terhadap debitur-debitur bank yang diambil alih BPPN.

LEGAL AUDIT ( Daeng Naja, 2006 : 32 )


Suatu proses penilain terhadap data dan fakta antar transaksi yang dilakukan oleh perusahaan/Bank
dengan pihak lainnya utuk menilai tingkat keamanan perusahaan/bank, terutama dalam hal legal
risk aspect yang pada akhirnya akan membahayakan harta perusahaan/Bank, yang disajikan dalam
lapora hasil pemeriksaan mengenai opini dan saran perbaikan.
Hasil Legal Audit yang telah dilakukan oleh auditing/advokat harus memuat pendapat hukum (legal
opinion dan saran perbaikan yang disajika dalam suatu proses laporan tenuan hasil pemeriksaan
hukum (legal audit)

LEGAL OPINION
Adalah proses pekerjaan Advokat/konsultan hukum dalam memberikan pendapat hukum menurut
hukum Indonesia dalam pemeriksaan hukum/konflik dan masalah hukum yang dibrikan berdasarkan
laporan hasil pemeriksaan hukum (legal audit)

Legal Opini yang disampaikan atas hasil legal audit lazimnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan :

1. adanya ketidaksesuaian dengan aturan yang berlaku


2. Adanya ketidakwajaran dalam transaksi
3. Adanya ketidakamanan terhadap aset perusahaan.

Legal Opnion yang lazim disampaikan oleh Auditor/pemeriksa Hukum :


1. Perbaikan atas penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.

2. Mendorong untuk taat dan patuh terhadap pelaksanaan


aturan-aturan perusahaan, agar
penyimpangan-penyimpangan dapat dihindari.
3. Penigkatan profitability, efektivitas, dan efisiensi perusahaan serta mengamankan aset
perusahaan.
4. Menyempurnkan sistem dan prosedur perusahaan termasuk pengendalia internal.

Untuk keperluan legal Audit Dalam suatu perusahaan Diperlukan dokumen-dokumen sebagai
berikut.
1. Aggaran dasar perusahaan, antara lain berupa akta pendirian perusahaan, berita acara rapat
pemegang umum saham, daftar pemegang saham perusahaan, struktur organisasi perusahaan,
daftar bukti penyetoran modal perusahaan dan anggaran dasar perusahaan yang telah disesuaikan
dengan UU No. 1 tahun 1995 tentang perseroan terbatas

2.Dokumen-dokumen mengenai aset perusahaan, antara lain berupa sertifikat-sertifikat tanah,


surat-surat tanda bukti kepemilikan kendaraan bermotor, dokumen-dokumen kepemilikan saham
pada perusahaan lain, dan sebagainya.

3. Perjanjian-perjanjian yang dibuat dan ditandatangani oleh perusahaan dengan pihak ketiga,
antara lain berupa perjanjian hutang piutang, perjanjian kerjasama, perjanjian dengan (para)
pemegang saham, perjanjian dengan suplier, dan sebagainya.
4. Dokumen-dokumen mengenai perijinan dan persetujuan perusahaan, antara lain berupa surat
keterangan domosili perusahan, tada daftar perusahaan, perijinan dan persetujuan yang dikeluarkan
oleh instansi pemerintah, dan sebagainya.

5. Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan masalah-masalah kepegawaian perusahaan, antara


lain berupa peraturan perusahaan, dokumen mengenai jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek,
dokumen mengenai kesepakatan kerjasama, dan sebagainya.

6. Dokumen-dokumen mengenai asuransi perusahaan, antara lain berupa polis untuk pihak ketiga
(misalnya konsumen), polis koperasi, polis dana yang tersimpan, dan sebagainya

7. Dokumen-dokumen mengenai pajak perusahaan, antara lain berupa nomor pokok wajib Pajak
(NPWP) perusahaan, dokumen mengenai pajak bumi dan bangunan (PBB), dokumen mngenai pajak-
pajak terhutang dab sebagainya

8. Dokumen-dokumen yang berkenaan dengan terkait atau tidak terkaitnya perusahaan dengan
tuntutan dan/atau sengketa baik di dalam maupun diluar pengadilan.

Hal-hal yang terkait dengan legal audit:

1. Penelitian secara fisik atau penelitian area, peninjauan lapangan dan pengamatan terhadap suatu
proyek untuk memastikan kebenaran.

2. Penelitian dokumen yang berkaitan dengan proyek

3. Penelitian yang didasarkan pada sumber informasi lainnya, misalnya pengadilan, laporan
keuangan, keterangan direksi, dan sebagainya.

PENELITIAN DAN PEMERIKSAAN HUKUM (LEGAL AUDIT TERHADAP PERUSAHAAN YANG AKAN
MELAKUKAN PRIVATISASI

A. Tahap Persiapan

1. Melakukan penelitian aas dokumen perusahaan (Corporate Dokumen), anak


perusahaan dan/atau Yayasan, meliputi :
a. Anggaran dasar dan perubahannya yang telah diumumkan dalam berita negara
b. Komposisi modal terakhir
c. Dokumen penunjukan direksi dan komisaris
d. Penerbitan Sertifikat Saham
e. Daftar Pemegang Saham dan daftar pemegang saham khusus
f. Laporan Tahunan serta dokumen-dokumen lainnya yng terkait
g. Penyelenggaraan (risalah RUPS), Rapat pemegang Sham Tahunan dan luar
biasa (RUPSLB)
h. Peraturan Perusahaan, Perjanjian kerja Bersama, dan Dokumen
ketenagakerjaan lainnya.
2. Semua perjanjian-perjanjian dan kesepakatan-kesepakatan yang telah ada (termasuk
perjanjian mengenaia asuransi, perjanjian kredit/pinjaman, dan perjanjian kerjsama lainnya), serta
memberikan nasihatmengenai stiap implikasi yang mungkin timbul khususnya yang berkaitan
dengan pelaksanaan privatisasi melalui program mitra strategis.
3. Dokumen perjanjian, pendaftaraan, dan dokumen lainnya dan menjalankan kegiatan usahnya.
4. Dokumen/bukti kepemlikan atas aset-aset perusahaan
5. Dokumen-dokumen lainnya yang terkait dengan kewajiban perusahaan
6. Dokumen lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan privatisasi melalui program
mitra strategis.
7. Proses privatisasi terhadap peraturan perundang-undangan yang ada.
8. melakukan telaah atas ketentuan peraturan yang berkaitan dengan kegiatan operasional
perusahan dan memberikan konfirmasi bahwa perusahaan telah memenuhi ketentuan.
9. Memberikan pendapat hukum (legal opinion) tentang calon mira strategis dan info
memo dalam rangka privatisasi melalui metode mitra strategis perusahaan
10.Melaksanakan pengkajian tentang aspek hukum terhadap permasalahan serta hal yang
berpotesi menimbulkan masalah yang mempengaruhi eksitensi bisnis perusahaan.
11.Membantu perusahaan dan tim privatisasi dalam rangka usulan peyempurnan regulasi
yang terkait dengan usaha baik langsung maupun tak langsung.
12. Menghadiri rapat-rapat koordinasi dalam rangka pelaksanan privatisasi
13.membantu penyelesaian dari aspek hukum pembentukan anak perusahaan
14.memantu sepenuhnya penyiapan aspek hkum atas hasil kajian penasehat keuangan
dalam rangka privatisasi
15. Menerbitkan laporan legal dan legal opinion.

B. PROSEDUR PENJUALAN

1. Penyelesaian pembuatan perjanjian-perjanjian, dokumen-dokumen penjualan, memberikan


rekomendasi sehubungan dengan masalah-masalah khusus mengenai penjualan dan negosiasi, serta
berpartisipasi di dalam negosiasi kontrak-kontrak, termasuk memberi rekomendasi mengenai
masalah-masalah kebijakan dan strategis.

2. Bertanggung jawab dan menyiapkan dan menyelesaikan semua dokumen transaksi sebagaimana
butir B.1 diatas dan,

3. Membantu tim privatisasi perusahaan dalam memastikan bahwa proses penjualan telah sesuai
dengan ketentuan yang berlaku dan harapan pemegang saham.

LAPORAN PEKERJAAN KONSULTAN HUKUM/ADVOKAT :

Konsultan hukum/advokat memberikan laporan yang terjamin kerahasianny kepada tim privatisasi
yang dibuat dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang berisi mengenai:

1. Laporan pemeriksaan hukum


2. Pendapat hukum (Legal Opinion)
3. Memberikan rekomendasi sehubungan dengan tahapan pelaksanaan privatisasi program mitra
bisnis, meliputi :

a. skema dan struktur hkum atas rencana privatisasi yang akan ditwrapkan sesuai dengan ketentuan
perundang-undnagn yang berlaku, dan
b. Pengaturan kegiatan menejemen dari perseroan dalam memberikan perlindungan atas
kepentingamn stake holder dalam kurun waktu tertentu, serta cara pelaksanaanya.
4. Laporan awal maupun final atas senua dokumen yang dibuat sehubungan dengan pelaksanaan
privatisasi melalui program mitra strategis meliputi :
a. Dokumen penawaran penualan saham
b. Perjanjian jual beli saham
c. Perubahan anggaran dasar (hal-hal yang relevan)
d. Dokumen-dokumen lain sebagaiman diperlukan, sesuai dengan rekomendasi yang diberikan oleh
konsultan hukum.

LAPORAN LEGAL AUDIT


Laporan legal audit yang ideal harus memenuhi paling tidak 4 hal :
1. Objektivitas, yaitu laporan yang didasrkan dengan realitas yang ada tanpa terkesan mencari-cari
kesalahan aparat pelaksanaan (auditee)
2. Kewibawaan, yaitu laporan yang dibuat dengan pemaparan yang dapat dipercaya tanpa memaksa
pihak aparat pelaksana (auditee) untuk mengakui kebenaranya.
3. Keseimbangan, yaitu laporan yang dibuat dengan memaparkan pokok-pokok permasalahan yang
ada tanpa terkesan menggurui, dan :
4. Penulisan yang propesional, yaitu laporan yang dibuat dengan bahasa yang baik dan benar
menurut kaidah yang ada tata urutan yag secara kronologis dapat dimengerti dengan cepat oleh
auditee.

OBJEK LEGAL OPINION

1. Objek dari legal opinion ini timbul dari adanya suatu fenomena polemik atau dilematis dari
implikasi hukum itu sendiri, serta mempunyai ekses yang sangat luas dalam masyarakat, sehingga
diperlukan suatu bentuk penjabaran yang kongkrit, actual, dan factual, untuk mengeliminasi topik
persoalan yang menjadi pergunjngan dalam masyarakat.

2. Timbulnya suatu perdebatan hukum (legal debate) secara umum diakibatkan oleh suatu
keputusan hakim yang bertentangan dengan pandangan masyarakat (mass opinion), kemudian
timbul berbagai ragampendapat hukum yang dikemas melalui media masa, audio visual, yang
mempunyai efek sampingan (side effect) terhadap suatu kasus tertentu yang mencuat dan menjadi
bhan berita.

KONSULTAN HUKUM DALAM MEMBERIKA PENDAPAT HUKUM

1.Ketelitian anlisis

2. Berfikir yang fundamental


3. harus pula menyampaikan pendapat yang menyangkut klemahan, kekurangan dan cacat hukum
yang terkandung dalam suatu transaksi/perusahaan.

4. Saran perbaiakan yang menyangkut penguatan/peenyempurnaan suatu data atau fakta


transaksi/perusahaan sebagai alat bukti secara yuridis formal

CARA PENYUGUHAN LEGAL OPINION

1. Bentuk laporan
2. Melalui media massa
3. Melalui media elektronika
4. Seminar/panel diskusi
5. Melalui pendidikan/pelatihan

KEGUNAAN PENDAPAT HUKUM

A. LIGITASI
- mempersiapkan gugatan
- mempersiapkan strategi dalam menghadapi gugatan perdata, dll
- mempersiapkan upaya hukum (banding,kasasi, perlawanan, PK)
- pelaksanaan putusan penadilan (eksekusi)
- dll

B.KORPORASI (CORPORATE)
- Kegiatan dipasar modal
- Restrukturisasi hutang
- Penggabungan, peleburan, Pengambilalihan (merger & akuisisi)
- Usaha Patungan (joint venture)
- Restrukturisasi
- dll

-SELESAI-
Hukum Pidana Internasional
/Artikel /Hukum Pidana Internasional

 19/09/2014
 Patrcik Burgess

Hukum pidana internasional adalah sekumpulan kaidah-kaidah dan asas-asas hukum yang
mengatur tentang kejahatan internasional yang dilakukan oleh subyek-subyek hukumnya
untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Istilah ini menunjukkan bahwa kaidah-kaidah dan
asas-asas hukum tersebut benar-benar internasional, jadi bukan nasional ataupun domestik.
Kaidah-kaidah dan asas-asas hukum pidana yang benar-benar internasional adalah kaidah-
kaidah dan asas-asas hukum yang dapat dijumpai dalam bentuk perjanjian-perjanjian
internasional yang substansinya (baik langsung ataupun tidak langsung) mengatur tentang
kejahatan internasional. Sebagai contohnya, Konvensi tentang Genosida (Genocide
Convention) 1948, Konvensi tentang Apartheid 1973, konvensi-konvensi tentang terorisme,
seperti Konvensi Eropa tentang Pemberantasan Terorisme 1977, dan lain-lain. Sedangkan
istilah kejahatan internasional menunjukkan adanya suatu peristiwa kejahatan yang sifatnya
internasional, atau yang lintas batas Negara, atau yang menyangkut kepentingan dari dua atau
lebih Negara. Kejahatan-kejahatan yang dapat digolongkan sebagai kejahatan internasional
adalah kejahatan-kejahatan yang diatur di dalam konvensi-konvensi seperti genosida,
apartheid, terorisme, dan lain-lain.

Ada beberapa kasus kejahatan internasional yang jika dilihat dari segi tempat terjadinya
adalah di dalam wilayah suatu Negara, semua pelakunya maupun korbannya adalah warga
Negara dari Negara yang bersangkutan. Demikian juga korban berupa harta benda seluruhnya
milik dari Negara atau warga Negara tersebut, jadi secara fisik dan kasat mata sama sekali
tidak ada dimensi internasionalnya. Akan tetapi karena peristiwanya sedemikian rupa
sifatnya, misalnya para korban yang jumlahnya demikian banyaknya dan adalah orang-orang
yang tidak berdosa dan tidak tahu menahu masalahnya, serta sama sekali tidak ada
hubungannya dengan motif, maksud, maupun tujuan dari si pelakunya, masyarakat
internasional baik Negara-negara maupun orang perorangan dari pelbagai Negara tanpa
memandang perbedaan-perbedaan agama atau kepercayaan, etnis, paham politik, bahasa, dan
perbedaan-perbedaan lainnya, secara spontan memberikan reaksi keras atas peristiwa
tersebut, dengan mengecam dan mengutuknya sebagai tindakan biadab, tidak
berperikemanusiaan.

Pada hakikatnya semua itu menunjukkan bahwa masyarakat internasional tidak dapat
membenarkan perbuatan seperti itu, apapun motif, maksud, ataupun tujuannya, sebab
bertentangan dengan hak-hak asasi manusia, nilai-nilai kemanusiaan universal, kesadaran
hukum, dan rasa keadilan umat manusia.

Bahan materi yang disampaikan oleh P. Burgess. pada Kursus HAM untuk Pengacara XI
yang dilaksanakan oleh Elsam pada tahun 2007.

Hukum pidana internasional


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Banyaknya kejahatan perang yang terjadi menjadi salah satu penyebab berdirinya hukum pidana
internasional

Hukum pidana internasional merupakan bagian dari aturan internasional yang dirancang
untuk melarangan kategori kejahatan tertentu.[1] Hukum pidana internasional juda dapat
dikatakan sebagai hukum pidana nasional yang memiliki aspek internasional.[2] Hukum
pidana internasional pada hakikatnya diberlakukan pada hukum antar bangsa tanpa
mengkesampingkan prinsip-prinsip internasional.[1]

Sejarah

Tuntutan internasional perihal kejahatan perang menutut antar bangsa memberlakukan


hukum yang mengatur seperangkat aturan tentang larangan-larangan kategori kejahatan
tertentu.[1] Hukum pidana internasional diberlakukan karena adanya banyak kejahatan perang
yang dikejam oleh negara internasional salah satunya kejahatan genosida pada tahun 1981
terhadap pimpinan Jerman dan Turki yang melakukan pembersihan etnis minoritas Armenia,
pembantaian Suku Kurdi di Turki, pembantaian oleh nazi Jerman.[1] Melihat banyaknya
pelanggaran-pelanggar berat tersebut membuat antar negara membentuk hukum
internasional.[1] Hukum internasional semakin sempurna setelah ditandatanganinya statuta
Roma untuk membentuk mahkamah pidana internasional yaitu sebuah pengadilan terhadap
tindak kejahatan paling berat seperti agresi genosida yaitu kejatahatan terhadap kemanusiaan
serta berbagai bentuk kejahatan perang lainnya yang dikategorikan sebagai pelanggaran
berat.[1]

Prof. Dr. Romli Atmasasmita, S.H, LL.M. )

ASPEK HUKUM NASIONAL DAN HUKUM INTERNASIONAL DALAM HUKUM


PIDANA INTERNASIONAL

Pembahasan mengenai aspek hukum dan hukum internasional di dalam kerangka pemikiran
tentang hukum pidana internasional sengaja ditempatkan tersendiri didalam karya tulisnya.
Hal ini di dasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
(1) Hukum pidana internasional sebagai sub-disiplin miliki dua sumber hukum yaitu
hokum yang berasal dari hukum pidana nasional dan hukum internasional.

(2) Kedua sumber tersebut telah membentuk kepribadian ganda ini tidak harus
dipertantangkan, tetapi justru harus harus saling mengisi dan melengkapi didalam
menghadapi masalah kejahatan internasional.

(3) Salah satu perwujudan nyata dari suatu interaksi antara hukum nasional dan hukum
internasional terdapat pada lingkup pembahasan hokum pidana internasional dengan objek
studi tindak pidana yang bersifat transional internasional.

(4) Pembahasan aspek hukum pidana nasional dan hukum internasional dalam lingkup
hukum pidana internasional akan memberikan landasan berpijak bagi analisis kritis di dalam
membahas konsepsi dan karaktereristik dari suatu tidak pidana internasional.

Lahirnya bebrapa Konvensi internasional yang menetapkan tindak pidana tertentu sebagai
tindak pidana internasional mengandung makna dimulainya perjuangan untuk menegakkan
hak dan kewajiban negara peserta konvensi atas isi ketentuan yang dituangkan didalam
konvensi internasional tersebut. Salah satu kewajiban Negara peserta (sekalipun masih
diperkenankan adanya reservation) khususnya bagi Indonesia ialah memasukannya hasil
konvensi dimaksud kedalam lingkungan nasional dalam arti antara lain melaksanakan
ritifikasi terlabih dahulu atas hasil konvensi, sebelum di tuangkan dalam bentuk suatu
undang-undang ksususnya mengenai objek yang menjadi pembahasan di dalam konvensi
tersebut.

A. HUBUNGAN ATARA HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM NASIONAL

Didalam teori hukum internasional, telah berkembang dua pandangan tentang hukum
internasional. Yaitu pandangan yang dinamakan voluntarisme, yang mendasarkan berlakunya
hukum internasional dan ada tidaknya hukum internasioonal ini pada kemauan Negara
(gemeinwille). Pandangan yang kedua adalah pandangan objektivis yang menganggap ada
dan berlakunya hukum internasional ini dilepas dari kemauan Negara (mohctar
kusumaatmadja 1989;40)

Alasan diajukannya penganut aliran dualisme bagi pandangan tersebut diatas, pada alasan
formal atau pun alasan yang didasarkan kenyataan. Diantaranya dikemukakan sebagai berikut
:

1. Kedua perangkat hukum tersebut mempunyai sumber yang berlainan hukum nasional
bersumber pada kemauan Negara, sedangkan hukum internasional bersumber pada
kemauan bersama masyarakat Negara.
2. Kedua perangkat hukum itu berlainan subjeknya. Subjek hokum nasional adalah
perorangan, baik hukum perdata maupun hukum publik, subjek hukum internasional
adalah negara
3. Sebagai tata hukum, hukum nasional dan hukum internasional menampakan pula
perbedaan dalam strukturnya.

Pandangan aliran dualisme ini, Mochtar kusumaatmajda (1989;41) telah mengemukakan


komentar dan pandangan-pandangannya sebagaiman diuraikan di bawah ini:
1. Bahwa di dalam teori dualisme tidak ada tempat bagi persoalan hirarki atara hukum
nasional dan internasional karena pada hakekatnya, kedua perangkat hukum tidak saja
berlainan dan tidak tergantungsatu sama lainnya, tapi juga lepas antara satu dan yang
lainnya.
2. Sebagai konsekuensi logis dari keadaan sebagaiman digambarkan diatas, tidak akan
mungkin ada pertentangan antara kedua perangkat hukum itu, yang mungkin hanya
penunjukan saja.
3. Bahwa ketentuan hukum internasional memerlukan tranformasi menjadi hukum
nasional sebelum berlakunya dalam lingkunga hukum nasional.

Teori dualisme tidak terlepas dari beberapa kelemahan sebagainman di ungkapkan oleh
Mochtar Kusumaatmadja (1989;41-42) sebagai berikut :

1. Teori dasar aliran dualisme yang mengemukakan bahwa sumber gejala hukum baik
hukum nasional maupun hukum internasional dadalah kemauan Negara sulit untuk
diterima kerena hukum yang ada dan berlaku itu dibutuhkan oleh kehidupan manusia
yang beradab.
2. Kebenaran argumentasi aliran mengenai ini berlainan subjek hukum nasional dan
internasional di bantah oleh kenyataan bahwa dalam suatu lingkungan hukum seperti
hukum nasional, dapat saja subjek hukum itu berlainan, seperti adanya pembagian
hukum perdata dan hukum publik.
3. Argumentasi kaum dualis yang mengemukakan adanya perbedaan strukrural antara
hukum nasional dan hukum internasional, ternyata perbedaan yang dikemukannya
hanyalah perbedaan gradual dan tidak merupakan perbedaan yang hakiki atau asasi.
4. Bahwa pemisahan mutlak antara hukum nasional dan internasional tidak dapat
menerangkan dengan cara memuaskan kenyataan bahwa dalam prakteknya sering
sekali hukum nasional itu tunduk pada atau sasuai dengan dengan hukum
internasional.

Dilain pihak, paham monisme didasarkan pemikiran kesatuan seluruh hukum yang mengatur
hidup manusia. Dalam rangka pemikiran ini hukum internasional dan hukum nasional
merupakan dua bagian dari satu kesatuan yang lebih besar yaitu hukum yang mengatur
kehidupan manusia. Akan tetapi dari pemikiran tersebut mengakibatkan bahwa dalam dua
perangkat ketentuan tersebut ada hubungan hierarki.

1. Paham Monisme Dengan Primat Hukum Nasional

Paham ini mengemukakan bahwa dalam hubungan antara hukum nasional dan hukum
internasional, yang utama adalah hukum nasional, sedangkan paham monisme dalam primat
hukum internasional mengemukakan bahwa dalam hubungan antara hukum nasional dan
internasional yang utama adalah hukum internasional.

Menurut Mochtar Kusumaatmadja(1989;43-44) mengemukakan bebrapa kelemaha paham


monisme dengan primat hokum nasional sebagai berikut :

1. kelemahan yang mendasar yang cukup gawat bahwa paham ini terlalu memandang
hukum itu sebagai hukum tertulis semata-mata sehingga hokum internasional
dianggap bahwa hukum yang bersumberkan perjanjian internasional, suatu hal
sebagaimana di ketahui tidak benar.
2. pada hakekatnya, pendirian paham kaum monisme dengan primat hukum nasional ini
merupakan penyangkalan terhadap adanya hukum internasional yang mengikat.
3. Paham Monisme Dengan Primat Hukum Internasional

Menurut paham ini, hukum nasional bersumber pada hukum internasional yang merupakan
perangkat ketentuan hukum yang hierarki lebih tinggi

Mochtar Kusumaatmadja (1989:44) pada dasarnya menyetujui pandangan paham ini, namun
demikian ia kurang setuju prihal supermasi hukum intenasional yang di kaitkan dengan
hirarki dan pendelegasian wewenang.

Terhadap persoalan pandanga monisme dan dualisme ini, Mochtar Kusumaatmadja (1989:45)
mengemukan kesimpulan bahwa kedua paham tersebut tidak mampu memberikan jawaban
yang memuaskan. Pada satu pihak, opandangan dualisme melihat hukum nasional dan hukum
internaiopnal sebagai dua perangkat ketentuan hukum yang sama sekali terpisah tidaklah
masuk akal karena pada hakikatnya pandangan tersebut merupakan penyangkalan dari hukum
internasional sebagai perangkat hukum yang mengatur kehidupan antar Negara. Dipihak lain
pandangan monisme yang mengaitkan tunduknya Negara pada hukum internasional dengan
persoalan suatu hubungan suo-ordinasi dalam arti structural juga kurang tepat karena
memang tidak sesuai dengan kenyataan.

B. PENGARUH TEORI MONISME DAN DUALISME TERHADAP


PERKEMBANGAN HUKUM PIDANA INTERNASIONAL

Sejak terbentuknya Liga Bangsa-Bangsa tahun 1928 dan dilanjutkan kemudian dengan
pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1945, masyarakat internasional sudah
sepakat bahwa teori-teori monisme dan dualisme sudah tidak sejalan dengan perkembanghan
masyarakat internasional sampai saat ini.

Dominan teori monisme dengan primat hukum nasional atas teori monisme dengan primat
hukum internasional delam praktik hukum internasonal, secara nyata tersirat dari mesalah
konflik yurisdiksi criminal antara dua Negara dalam kasus tindak pidana narkotika lintas
batas teritorial. Bahkan konflik yuridiksi criminal sering muncul sebagai akibat memuncak
dari adanya tindakan perluasan yuridiksi criminal dari salah satu Negara yang merasa
dirugikan oleh tindakan para pelaku tindak pidana narkotika baik yang dilakukan oleh
individu maupun oleh kelompok atau organisasasi kejahatan internasional.

Berikut beberapa putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang berkaitan dengan
perluasan yuridiksi kriminal :

Kasus United State v. Atuares Machain, 112 dS.Ct.21888 (5 Juni 1992).

Pada tahun 1985 seorang agen khusus Drug Enforcement Agency atau DEA dari Amerika
serikat, Enrigue Camarena-Salazar telah diculik, dianiaya dan di bunuh oleh pemasok
narkotika di mexico. DEA telah sejak lama berusaha membawa pembunuh agen ini ke
Ameriak Serikat untuk mempertanggug jawabkannya perbuatanya tersebut.

Pada tanggal 12 April 1990, Humberto Alvares Machain, seorang dokter warga Negara
mexico telah diculikdari kentornya di Guadalajara, mexico oleh bebrapa orang bersenjata dan
diterbangkan dengan pesawat terbang pribadi ke Amerika Serikat.
Menyusul penculikan Alvares ini, pemerintah mexico telah mengajukan nita protes melalui
saluran Diflomatik kepada Department Luar Negari Amerika Serikat.

Kasus United States v. Verdugo Urguidez, 110.S.Ct.1056 (tanggal 28 Febuari 1990)

Verdugo adlah warga Negara mexico yang bertempat tinggal di Meksikali, Mexico. Verdugo
termasuk salah satu anggota gang narkotika yang dicari oleh pihak DEA Amerika Serikat dan
juga diduga kuat membanu pembunuhan yang telah dilakukan terhadap agen DEA,
Camarena-Salazar pada tahun 1985.

Kasus United States v.Biermann (678 F.Supp.1473) tanggal 9 Febuari 1988

Biemann adalah warga nagara inggris dan pekerjaan terdakwa adalah operator pada kapal laut
tyang berbendera inggris dan terdaftar di inggris. Tertuduh dituntut di muka pengadilan di
distrik Utara California karena memiliki bebeapa ton mariyuana dengan niat untuk
mendistribusikannya

C. DOMINASI KEPENTINGAN NEGARA (NASIONAL) ATAS KEPENTINGAN


INTERNASIONAL (KASUS NORIEGA)

Ketiga kasus tersebut diatas, ternyata memiliki perbedaan yang besar dengan kasus”
penculikan “ atas jendral Noriega, mantan Presiden Panama yang dituuh telah memasok
heroin ke wilayah Amerika Serikat, yang dilatarbelakangi acman perang oleh Pemerintah
Panama terhadap Amerika Serikat.

Dalam praktek Hukum intrnasional, tidakan penculikan jenderal Noriega dari wilayah
teritorial Panama sebagai suatu Negara yang merdeka dan berdaulat merupakan contoh
ekstrem dan sekaaligus menunjukan pula betapa di dalam dominasi teori monisme dengan
primat hukum nasioal dapat ditapsirkan demikian rupa sehingga dapa dipandang sebagai
pelanggaran atas kedaulatan Negara lain.

Noriega dituntut oleh Grand Jury di pengadilan Miami dan pengadilan Tampa, Negara bagian
Florida dengan tuduhan sebagai pendukung lalu lintas narkotika ilegal ke wilayah Amerika
Serikat. Pengadilan Miami dan tanpa menerapkan asas perlindungan dan doctrine. Doktrin ini
berasal dari kasus Alcoa (1945) dimana Hakim ditugaskan menangani kasus tersebut.

Kasus Noniega tersebut diatas, telah menggungkapkan dengan jelas bahwa lalu lintas
perdagangan narkotik illegal pada dewasa ini sudah berkonotasi Politik dalam arti betapa
kuatnya pengaruh tindak pidana internasional dalam masalah narotika terhadap hubungan
diplomatik antara ngara-negara yang terlibat.

Penasihat Hukum Departemen Kehakiman Amerika Serikat memiliki pendekatan yang


berbeda, yaitu mengemukakan :

 Firs : (sekalipun kongres dan presiden memiliki kekuasaan untuk tidak


memperhatikan hukum internasional, pengadilan dapat bertahan pada pendiriannya
bahwa ia melakukan tanpa ragu-ragu dan dengan bebas).
 Second : (integritas teritorial adalah tonggak dari hukum internasional, tindakan
penculikan (dengan paksaan) dari suatu negara asing nyata-nyata melanggar prinsip
ini).
 Third : (akibat menentukan dari prinsi integritas teritorial pada penegak hukum di
diperlemah oleh kesediaan suatu Negara untuk memberikan izin aparatur penegak
hukum di negara lain untuk melakukan kegiatanya diwilayah Negara tersebut. Tidak
ada formalitas atau publisitas khusus yang dipersyaratkan untuk memperoleh izin agar
legal menjadi efektif, sekalipun izin khusus adalah efisian jika di berikan pihak yang
berwenang. Untuk tujuan politis, suatu Negara dapat memutuskan untuk menolak
kenyataan bahwa ia telah memberikan izin utuk kegiatan oprasi tersebut ,,, Dalam
kasus-kasus lain, suatu Negara bekerja sama dengan cara menempatkan seorang
pelaku yang di cari diatas sebuah kapal terbang atau kapal laut dimana Amerika
Serikat memiliki yurisdiksi diatasnya).
 Fourth : (prinsip integritas teritorial tidak memberikan kewenangan pembedaan
dalam hukum internasional. Setiap negara memiliki hak untuk membela dirinya. Kita
harus mengijinkan manipulasi hukum sehingga dunia bebas menjadi tidak efektif
dalam hubungan dengan mereka yang telah melanggar undang-undang).

Perkembangan praktik hukum internasional sebagaimana telah uraikan diatas menunjukan


bahwa teori monisme dengan primat hukum nasional dalam praktik telah menimbulkan
akibat yang tidak kecil dan merugikan kepentingan Negara-negara Selatan jika dibandingkan
kepentingan negar-negar Utara, khususnya Amerika Serikat.